Penelitian dilaksanakan di lahan masyarakat Desa Tongkoh Berastagi Kabupaten Karo, dengan ketinggian tempat ± 1450 meter di atas permukaan laut, penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2018 sampai Januari 2019.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan ialah setek batang ubi jalar klon lokal Dusun Bintang Meriah, Klon lokal Sirube-rube, Klon Lokal Dolok Sinumbah sebagai objek yang akan diamati, air untuk menyiram tanaman, Pupuk N, P, dan K sebagai pupuk dasar dan bahan-bahan lain yang mendukung penelitian ini.
Alat yang digunakan yaitu cangkul, pisau/cutter, pacak sampel, meteran, timbangan analitik, gembor, serta alat pendukung lainnya.
Metode Percobaan
Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor :
Faktor I: Tingkat Pemangkasan (P) dengan 4 jenis, yaitu : P0 = Tanpa Pemangkasan
P1 = Dipangkas setelah panjang batang utama 50 cm P2 = Dipangkas setelah panjang batang utama 75 cm P3 = Dipangkas setelah panjang batang utama 100 cm Faktor II: Klon Lokal Ubi jalar ada 3 jenis, yaitu :
K1 = Klon Dusun Bintang Mariah K2 = Klon Sirube-rube
K3= Klon Dolok sinumbah
Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 12 kombinasi, yaitu : K1P0 K1P1 K1P2 K1P3
K2P0 K2P1 K2P2 K2P3 K3P0 K3P1 K3P2 K3P3
Jumlah ulangan (Blok) : 3 ulangan
Jumlah plot : 36 plot
Jarak antar plot : 30 cm
Jarak antar blok : 50 cm
Jumlah tanaman/plot : 6 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 216 tanaman Jumlah sampel/plot : 4 tanaman Jumlah sampel seluruhnya : 144 tanaman
Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan model linear aditif sebagai berikut :
Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk i = 1,2,3j = 1,2,3k = 1,2,3,4 Dimana:
Yijk : Hasil pengamatan pada blok ke-i akibat perlakuan klon (V) taraf ke-i dan pemberian Bahan organic (B) ke-j dan pada ulangan ke-k
µ : Nilai tengah ρi : Efek dari blok ke-i
αj : Efek perlakuan klon pada taraf ke-j
βk : Efek perlakuan beberapa klon lokal pada taraf ke-k
13
(αβ)jk : Interaksi antara perlakuan Pemangkasan taraf ke-j dan beberapa klon lokal taraf ke-k
εijk : Galat dari blok ke-i, perlakuan pemangkasan taraf ke-j dan beberapa klon local taraf ke-k
Terhadap sidik ragam yang nyata, dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan Uji Beda Rataan Duncan Berjarak Ganda dengan taraf 5 % (Steel and Torrie, 1989).
14
Lahan penanaman yang digunakan terlebih dahulu dibersihkan dari gulma di areal tersebut. Kemudian lahan diolah dan digemburkan dengan menggunakan cangkul dengan kedalaman olah 20 cm. setelah itu dibuat bedengan dengan ukuran panjang 200 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 40 cm dengan jarak antar blok 50 cm dan jarak antar plot 30 cm. Pada sekeliling daerah dibuat parit drainase sedalam 30 cm untuk menghindari adanya genangan air di sekitar areal penelitian.
Pembuatan Bedengan
Pembuatan bedengan dilakukan pada saat setelah dilakukan persiapan lahan dengan ukuran 200 cm x 100 cm dengan jarak antar bedengan 30 cm dan jarak antar blok 50 cm.
Persiapan Bibit
Bibit yang digunakan adalah klon lokal Dusun Bintang Mariah, Klon lokal Sirube rube, dan klon lokal Dolok Sinumbah.
Pemupukan Dasar
Pemupukan dasar dilakukan satu minggu setelah tanam. Pupuk yang
diberikan sesuai dengan dosis anjuran kebutuhan pupuk ubi jalar yaitu Urea 200 kg/ha (40 g/bedengan), TSP 100 kg/ha (20 g/bedengan) dan KCL 100 kg/ha
(20 g/bedengan). Pupuk diaplikasikan secara tugal dan ditutup kembali dengan tanah.
15
Pengaplikasian Mulsa
Mulsa yang digunakan adalah mulsa plastik, untuk mencegah berkembangnya akar adventif yang akan menjadi umbi, dan mencegah tumbuhnya gulma di bedengan.
Penanaman
Stek batang ditanam tegak lurus dengan pangkal stek dibenamkan (1/3 bagian stek) sehingga tinggi 2/3 bagian stek di atas tanah, jarak tanam yang digunakan adalah 30 cm. Setiap lubang ditanami dengan 1 stek, 1 bedengan ditanam 6 stek ubi jalar.
Pemeliharaan Tanaman Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi atau sore hari tergantung kondisi cuaca. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor .
Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada saat 1 MST setelah penanaman di lapangan bertujuan untuk mengganti adanya setek yang rusak atau tidak tumbuh.
Penyiangan Dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma yang ada disekitar plot dan blok. Penyiangan dilakukan secara manual dengan mencabut gulma dan menggunakan cangkul. Penyiangan dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan dilakukan pada 2,5,7 dan 11 MST.
Pemangkasan
Pemangkasan cabang primer dilakukan setelah panjang tanaman mencapai ukuran yang sudah di tentukan.
Pengendalian Hama Dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan cara penyemprotan insektisida dan fungisida telah dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan dan terjadi serangan hama dan penyakit pada tanaman.
Panen
Panen dilakukan pada saat ubi jalar berumur 24 MST. Panen dilakukan dengan cara mencangkul guludan dan mengangkat batang tanaman hingga tercabut dari tanah. Tanaman dibersihkan dari tanah yang menempel, kemudian umbi dipotong dari pangkal batang tanaman.
Parameter Pengamatan Panjang Batang Utama (cm)
Pengamatan panjang Batang Utama diukur dari pangkal batang (diatas permukaan tanah) sampai ke titik tumbuh, dan diukur setiap minggu mulai dari 3 MST sampai 12 MST.
Panjang Umbi per Sampel (cm)
Pengukuran dilakukan dari pangkal sampai ujung umbi dengan menggunakan meteran dan dilakukan pada akhir penelitian.
Jumlah Umbi per Sampel (umbi)
Perhitungan dilakukan dengan menghitung jumlah umbi per tanaman sampel pada akhir penelitian.
Bobot Umbi per Sampel (g)
Bobot umbi per sampel diukur pada akhir penelitian dengan cara menimbang. Sebelum ditimbang, dibersihkan dari akar dan kotoran yang menempel kemudian ditimbang dengan timbangan analitik.
17
Bobot Umbi per Plot (g)
Bobot diukur pada akhir penelitian dengan menimbang seluruh umbi dalam 1 plot. Sebelum ditimbang, dibersihkan dari akar dan tanah yang menempel kemudian ditimbang menggunakan timbangan analitik.
Bobot Basah Tajuk per Sampel (g)
Bobot basah diukur pada akhir penelitian dengan menimbang tajuk tanaman. Sebelum ditimbang, tajuk tanaman dipisahkan dari umbi serta dibersihkan dari tanah yang menempel kemudian ditimbang dengan timbangan . Rataan Bobot Umbi (g)
Rataan bobot dilakukan pada akhir penelitian, dengan menggunakan rumus:
Rataan Bobot Umbi = Indeks Panen
Indek panen diukur pada akhir penelitian, dengan menggunakan rumus : Indeks Panen =
Gading Umbi Segar (umbi/plot)
Umbi di setiap plot perlakuan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik kemudian dilakukan gading umbi segar berdasarkan SNI 01-4493-1998 dengan kriteria sebagai berikut :
Kelas A : Bobot umbi > 200 g/umbi Kelas B : Bobot umbi > 100 - 200 g/umbi Kelas C : Bobot umbi 75 – 100 g/umbi
Bobot umbi per sampel
Bobot basah tanaman per sampel + Bobot umbi per sampel
Bobot umbi per sampel Jumlah umbi per sampe
18 Hasil
Panjang Batang Utama
Data pengamatan dan sidik ragam dari panjang batang utama tanaman pada 3 - 12 MST dapat dilihat pada Lampiran. Rataan panjang batang utama tanaman pada 3 - 11 MST dapat dilihat pada gambar 1 dan gambar 2, sedangkan untuk data 12 MST dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Panjang batang utama pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan pada umur 12 MST
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan beberapa klon lokal dan perlakuan beberapa tingkat pemangkasan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang batang utama. Dari data pengamatan 12 MST, data tertinggi panjang batang utama dari beberapa klon lokal diperoleh dari klon lokal Dusun Bintang Meriah, yang berbeda tidak nyata dengan klon lokal Sirube-rube dan klon lokal Dolok Sinumbah. Pada perlakuan beberapa tingkat pemangkasan, data tertinggi diperoleh dari perlakuan tanpa pemangkasan (P0), yang berbeda tidak nyata dengan P1, P2, dan P3.
Gambar 1 adalah gafik hubungan Klon local terhadap panjang batang utama pada waktu pengamatan 3 – 11 MST dengan data yang cenderung
19
meningkat dan gambar 2 adalah grafik hubungan panjang batang utama dengan beberapa tingkat pemangkasan dengan data yang cenderung meningkat.
Gambar 1. Panjang Batang Utama pada Beberapa klon Lokal Pada umur 3-11 MST
Gambar 2. Panjang Batang Utama pada beberapa tingkat pemangkasan pada umur 3-11 MST
Panjang Umbi per Sampel
Data pengamatan dan sidik ragam panjang umbi per sampel dapat dilihat pada Lampiran 29 – 30 yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar memiliki perbedaan nyata sedangkan pada beberapa tingkat pemangkasan berbeda, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Panjang umbi per sampel pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan dapat dilihat pada Tabel 2.
0 Panjang Batang Utama (cm)
MST (Minggu Setelah Tanam) Panjang Batang Utama (cm)
MST (Minggu Setelah Tanam)
P0 P1 P2 P3
Tabel 2. Panjang umbi per sampel pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan berbeda (cm)
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan
Tabel 2 menunjukkan bahwa klon lokal Dolok Sinumbah menghasilkan panjang umbi tertinggi (19.94 cm), berbeda tidak nyata dengan klon lokal Dusun Bintang meriah (19.34 cm) dan klon lokal Sirube-rube (18.56). pada beberapa tingkat pemangkasan, panjang umbi per sampel diperoleh dari pemangkasan setelah 75 cm (P2) berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan, P3.
Jumlah Umbi per Sampel
Data pengamatan sidik dan pengamatan sidik ragam jumlah umbi per sampel dapat dilihat pada lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar memiliki perbedaan tidak nyata sedangkan beberapa tingkat pemangkasan dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Jumlah umbi per sampel pada beberapa klon lokal dan beberapa tingkat pemangkasan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah umbi per sampel pada beberapa klon lokal dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan
Tabel 3 menunjukkan bahwa klon lokal Dolok Sinumbah menghasilkan jumlah umbi paling tinggi 4.60 umbi berbeda tidak nyata dengan klon lokal Dusun
21
Bintang Meriah (4.27 umbi) dan klon lokal Sirube-rube (4.42 umbi). Pada beberapa tingkat pemangkasan, perlakuan dipangkas setelah 75 cm (P2) menghasilkan jumlah umbi tertinggi 4.69 umbi, berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan, P3.
Bobot Umbi per Sampel
Data pengamatan dan sidik ragam bobot umbi per sampel dapat dilihat pada lampiran, yang menunjukkan bahwa bebrapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan berpengaruh tidak nyata sedangkan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Bobot umbi per sampel pada beberapa klon lokal ubi jalaar dan beberapa tingkat pemangkasan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Bobot umbi per sampel pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan Tanpa
pemangkasan 50 cm 75 cm 100 cm ...g...
Dusun Bintang Meriah 939.17 1128.17 1123.58 761.50 988.10
Sirube-rube 910.08 668.42 879.83 651.58 777.48
Dolok Sinumbah 616.58 1030.33 1018.92 915.83 895.42
Rataan 821.94 942.31 1007.44 776.31
Tabel 4 menunjukkan bahwa klon lokal Dusun Bintang Meriah menghasilkan bobot umbi per sampel tertinggi yaitu 988.10 g yang berbeda tidak nyata dengan klon lokal Sirube-rube (777.48 g) dan klon lokal Dolok sinumbah.
Pada beberapa tingkat pemangkasan, bobot umbi per sampel tertinggi (1007.44 g) yang diperoleh pada tingkat pemangkasan setelah 75 cm (P2) yang berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan P3.
Bobot Umbi per Plot
Data pengamatan dan sidik ragam bobot umbi per plot dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar, beberapa tingkat pemangkasan, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Tabel 5 menunjukkan bahwa klon lokal Dusun Bintang meriah menghasilkan bobot umbi per plot tertinggi yaitu 4640.75 g yang berbeda tidak nyata dengan klon lokal Sirube-rube (3914.33 g) dan klon lokal Dolok Sinumbah (4315.75 g). Pada beberapa tingkat pemangkasan, bobot umbi per plot tertinggi (4972.11 g) yang diperoleh pada tingkat pemangkasan setelah 75 cm (P2) yang berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan P3.
Bobot umbi per plot pada beberapa klon lokal ubi jalar beberapa tingkat pemangkasan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Bobot umbi per plot pada beberapa genotip lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan Tanpa
pemangkasan 50 cm 75 cm 100 cm ...g...
Dusun Bintang Meriah 4366.00 5135.67 5348.33 3713.00 4640.75
Sirube-rube 4290.33 3560.00 4545.33 3261.67 3914.33
Dolok Sinumbah 2979.67 4782.00 5022.67 4478.67 4315.75
Rataan 3878.67 4492.56 4972.11 3817.78
Bobot Basah Tajuk Per Sampel
Data pengamatan dan sidik ragam bobot basah tajuk per sampel dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar, beberapaa tingkat pemangkasan berpengaruh nyata sedangkan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Bobot basah tanaman per sampel pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan dapat dilihat pada Tabel 6.
23
Tabel 6. Bobot basah tajuk per sampel pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan Tanpa
pemangkasan 50 cm 75 cm 100 cm ...g...
Dusun Bintang Meriah 1260.67 650.33 782.42 913.75 901.79b
Sirube-rube 1059.83 698.50 790.67 909.67 864.67c
Dolok Sinumbah 1132.17 686.25 829.42 978.75 906.65a
Rataan 1150.89 678.36 800.83 934.06
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.
Tabel 6 menunjukkan bahwa klon lokal dolok sinumbah menghasilkan bobot basah tajuk per sampel tertinggi yaitu 906.65 g yang berbeda nyata dengan klon lokal Sirube-rube (864.67 g) dan klon lokal Dusun Bintang Mariah (901.79 g) pada beberapa tingkat pemangkasan, bobot basah tajuk per sampel tertinggi (1150.89 g) yang diperoleh dari tanpa pemangkasan (P0) yang berbeda tidak nyata dengan P1, P2, dan P3.
Rataan Bobot Umbi
Data pengamatan dan sidik ragam rataan bobot umbi dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan berpengaruh tidak nyata dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Rataan bobot umbi pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasandapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan bobot umbi pada beberapa klon lokal ubi jalar dan bebrapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan Tanpa
pemangkasan 50 cm 75 cm 100 cm ...g...
Dusun Bintang Meriah 232.15 245.64 249.90 192.88 230.14
Sirube-rube 180.02 158.02 216.36 149.49 175.98
Dolok Sinumbah 170.37 237.33 192.45 180.05 195.05
Rataan 194.18 213.66 219.57 174.14
Tabel 7 menujukkan bahwa klon lokal Dusun Bintang Mariah menghasilkan rataan bobot umbi tertinggi yaitu 230.14 g yang berbeda tidak nyata dengan klon lokal Sirube-rube (175.98 g) dan klon lokal Dolok Sinumbah (195.05 g). Pada beberapa tingkat pemangkasan, rataan bobot umbi tertinggi (219.57 g) diperoleh dari tingkat pemangkasan setelah 75 cm (P2) yang berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan P3.
Indeks Panen
Data pengamatan dan sidik ragam indeks panen dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar memiliki perbedaan nyata, sedangkan beberapa tingkat pemangkasan, dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Tabel 8 menunjukkan bahwa klon lokal Dusun Bintang Meriah menghasilkan indeks panen tertinggi yaitu 0,50 yang berbeda tidak nyata dengan gklon lokal Sirube-rube (0.44) dan klon lokal Dolok Sinumbah (0.47). Pada beberapa tingkat pemangkasn, indeks panen tertinggi (0,53) yang diperoleh pada tingkat pemangkasan setelah 50 cm (P1) dan dipangkas setelah 75 cm (P2) berbeda nyata dengan P0 dan P3.
Indeks panen pada beberapa Klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasandapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Indeks panen pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan
25
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.
Gading Umbi Segar Kelas A
Data pengamatan dan sidik ragam gading umbi segar kelas A dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar memiliki perbedaan yang tidak nyata, dan beberapa tingkat pemangkasan dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata.
Gading umbi segar kelas A pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasandapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Gading umbi segar kelas A pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan dengan klon lokal Dusun Bintang Meriah (8.92 umbi/plot) dan klon lokal Sirube-rube (8,83 umbi/plot). Pada beberapa tingkat pemangkasan, umbi segar kelas A tertinggi (9.44 umbi/plot) yang diperoleh pada tingkat pemangkasan dipangkas setelah 75 cm (P2) yang berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan P3.
Kelas B
Data pengamatan dan sidik ragam gading umbi segar kelas B dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar dan
beberapa tingkat pemangkasan berpengaruh tidak nyata, dan interaksi antara keduanya berpengaruh tidak nyata.
Gading umbi segar kelas B pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasandapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Gading umbi segar kelas B pada beberapa genotip lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan dengan klon lokal Dusun Bintang Meriah (5.33 umbi/plot) dan klon lokal Dolok Sinumbah (5.42 umbi/plot). Pada beberapa tingkat pemangkasan, umbi segar kelas B tertinggi (6.11 umbi/plot) yang diperoleh pada tingkat pemangkasan dipangkas setelah 75 cm (P2) yang berbeda tidak nyata dengan P0, P1, dan P3 Kelas C
Data pengamatan dan sidik ragam gading umbi segar kelas C dapat dilihat pada Lampiran yang menunjukkan bahwa beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan berpengaruh tidak nyata dan interaksi kedua faktor berpengaruh tidak nyata.
Gading umbi segar kelas C pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasandapat dilihat pada Tabel 11.
27
Tabel 11. Gading umbi segar kelas C pada beberapa klon lokal ubi jalar dan beberapa tingkat pemangkasan
Klon Lokal Ubi Jalar
Dipangkas Setelah Panjang Batang Utama (cm)
Rataan
Tabel 12 menunjukkan bahwa klon lokal Dolok Sinumbah menghasilkan umbi segar kelas C terbanyak yaitu 3.42umbi/plot yang berbeda tidak nyata dengan klon lokal Dusun Bintang Meriah (2.92umbi/plot) dan klon lokal Sirube-rube (2,75umbi/plot). Pada beberapa tingkat pemangkasan, umbi segar kelas C tertinggi (3.56umbi/plot) yang diperoleh pada tingkat pemangkasan setelah 50 cm (P1) berbeda tidak nyata dengan P0, P2, dan P3
Pembahasan
Pengaruh Perlakuan Beberapa Klon Lokal dan Beberapa Tingkat Pemangkasan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Ubi Jalar
Data yang disajikan menunjukkan bahwa klon lokal berpengaruh tidak nyata pada parameter panjang batang utama, bobot umbi per sampel, bobo tumbi per plot, rataan bobot umbi, panjang umbi, jumlah umbi, dan gading umbi.
Namun Berpengaruh nyata pada parameter bobot basah tajuk dan indeks panen.
Klon asal Dusun Bintang Meriah memiliki panjang batang utama tertinggi dibandingkan klon lokal lainnya. Klon Dolok Sinumbah menghasilkan bobot basah tajuk tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya Hal ini dikarenakan ketiga klon berasal dari daerah asal yang ketinggian tempat yang relatif sama dengan lingkungan tumbuh ubi jalar yang dibudidayakan. Kays et al. (2005) melaporkan bahwa pertumbuhan vegetatif dan hasil umbi ubi jalar lokal sangat
dipengaruhi oleh lingkungan tumbuhnya. Okogbenin et al (2013) juga menyatakan tanaman pertumbuhan tanaman akan lebih baik pada daerah yang memiliki intensitas cahaya relatif tinggi.
Pengaruh tingkat pemangkasan terhadap panjang batang utama dan bobot basah tajuk (Tabel 2) menunjukkan bahwa berpengaruh tidak nyata.
Perlakuan tanpa pemangkasan menghasilkan panjang batang utama dan bobot basah tanaman tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Penelitian Novianti (2016) juga menunjukkan hasil yang sama yaitu perlakuan pemangkasan menghasilkan pertumbuhan rata-rata panjang batang lebih pendek dari perlakuan tanpa pemangkasan, sebaliknya perlakuan pemangkasan menghasilkan pertumbuhan rata-rata panjang cabang primer yang lebih tinggi dari perlakuan tanpa pemangkasan. Jayanti et al (2016) juga menyatakan bahwa pemangkasan tanaman ubi jalar dapat mematahkan dominansi apical, sehingga menghambat perkembangan batanag tanaman.
Sejalan dengan panjang batang utama, tanaman ubi jalar yang tidak dipangkas menunjukkan bobot basah tanaman yang tertinggi yang meningkat sampai dengan 66,66% dibandingkan bobot basah tanaman yang dipangkas.
Tanaman yang dipangkas setelah panjang batang utama 50 cm memiliki bobot basah tanaman yang terendah. Hasil penelitian menunjukkan bobot basah pada tanaman ubi jalar akan semakin rendah jika tanaman dipangkas pada panjang batang utama yang semakin pendek. Yooyongwech et al (2014) juga mengaitkan penurunan produksi daun dengan usia tanaman ubi jalar dan menekankan bahwa area daun sangat penting dalam menentukan pertumbuhan dan tingkat akumulasi bahan kering di akar penyimpanan.
29
Data menunjukkan bahwa jumlah umbi dan bobot umbi pada klon-klom lokal ubi jalar tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Klon lokal Dolok Sinumbah menghasilkan jumlah umbi per sampel terbanyak dibandingkan dengan klon lokal lainnya yang berbeda 7,73% lebih tinggi dibandingkan jumlah umbi pada klon asal Dusun Bintang Meriah. Sebaliknya bobot umbi per sampel tertinggi dihasilkan oleh klon lokal Dusun Bintang Meriah dibandingkan dengan klon lokal lainnya. Villordon et al., (2009) menyatakan bahwa hasil panen ubi jalar sangat bervariasi. Perbedaan dalam hasil panen terkait dengan berbagai faktor seperti kultivar, bahan perbanyakan, lingkungan dan tanah. Bahan perbanyakan dan lingkungan budidaya yang sama pada penelitian ini diduga menyebabkan jumlah umbi dan bobot umbi per sample tidak berbeda nyata pada klon-klon lokal tersebut.
Data menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah umbi dan bobot umbi persampel. Perlakuan dipangkas setelah 75 cm menghasilkan jumlah umbi terbanyak yang meningkat 11,14%
dibandingkan tanaman yang tidak dipangkas. Astrini (2012) menyatakan bahwa perlakuan pemangkasan pada tanaman ubi jalar dapat meningkatkan hasil umbi.
Hal ini disebabkan karena berkurangnya dominasi pucuk dan meningkatnya pertumbuhan lateral. Fitohormon , auksin dan sitokinin yang banyak dihasilkan di pucuk dapat memacu pertumbuhan tunas-tunas samping, sehingga terjadi keseimbangan pertumbuhan kanopi dan umbi yang akan meningkatkan alokasi asimilat ke bagian umbi.
Bobot umbi menggambarkan kemampuan suatu tanaman dalam mentranslokasikan asimilat ke bagian organ penyimpan dari asimilat total yang
diperoleh. Tabel 4 menunjukkan bobot umbi yang tertinggi juga dihasilkan pada tanaman yang dipangkas setelah panjang batang utama 75 cm yang meningkat 42,65% dibandingkan bobot umbi terendah pada tanaman yang dipangkas setelah panjang batang utama 100 cm. Hasil yang sama juga disampaikan oleh Rahmiana et al. (2015) bahwa bobot umbi pada tanaman ubi jalar yang dipangkas meningkat
dibandingkan tanpa pemangkasan. Hal yang perlu diperhatikan pada budidaya ubi jalar adalah tingkat dan fase pemangkasan, apabila pemangkasan terlalu berlebihan atau fasenya kurang tepat maka dapat menurunkan produksi umbi.
dibandingkan tanpa pemangkasan. Hal yang perlu diperhatikan pada budidaya ubi jalar adalah tingkat dan fase pemangkasan, apabila pemangkasan terlalu berlebihan atau fasenya kurang tepat maka dapat menurunkan produksi umbi.