• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan ketinggian tempat ± 32 meter di atas permukaan laut, mulai bulan April sampai dengan Agustus 2018.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan yaitu bibit setek batang ubi jalar genotipe Beta-1, genotipe lokal Perbaungan, genotipe lokal Binjai sebagai objek yang akan diamati, Styrofoam box untuk wadah tanaman, pupuk Urea ,TSP, dan KCl untuk pemupukan dasar, top soil sebagai media tanam, plastik kaca sebagai atap rumah plastik, bambu sebagai kerangka rumah plastik, kawat untuk mengikat antara tiap bambu, plastik sebagai pembalut styrofoam box agar tanah tidak tercuci, air untuk menyiram tanaman, dan bahan-bahan lain yang mendukung penelitian ini.

Alat yang digunakan yaitu cangkul untuk membersihkan gulma, pisau/cutter untuk memotong-motong plastik dan bahan tanam, pacak sampel sebagai penanda, meteran untuk mengukur, thermohigrometer untuk mengukur kelembaban tanah, timbangan analitik untuk menimbang pupuk dan bobot, gembor untuk menyiram, selang pada media tanam untuk memudahkan penyiraman, tang untuk mengikat kawat, parang untuk memotong bambu serta alat pendukung lainnya.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor :

Faktor I : Genotipe ubi jalar (V) dengan 3 jenis, yaitu :

V2 = Genotipe Lokal Perbaungan V3 = Genotipe Lokal Binjai

Faktor II : Tingkat Penyiraman (P) dengan 3 taraf, yaitu :

P0 = Disiram sampai umur 1 bulan dengan interval 10 hari P1 = Disiram sampai umur 2 bulan dengan interval 10 hari P2 = Disiram sampai umur 4 bulan dengan interval 10 hari Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 9 kombinasi, yaitu : V1P0 V2P0 V3P0

V1P1 V2P1 V3P1

V1P2 V2P2 V3P2

Jumlah ulangan (Blok) : 3 ulangan

Jumlah plot : 27 plot

Jarak antar plot : 30 cm

Jarak antar blok : 50 cm

Jumlah tanaman/plot : 4 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 108 tanaman Jumlah sampel/plot : 4 tanaman Jumlah sampel seluruhnya : 108 tanaman

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan model linear aditif sebagai berikut :

Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk i = 1,2,3 j = 1,2,3 k = 1,2,3

Dimana:

Yijk : Data hasil pengamatan pada blok ke-i akibat perlakuan Genotipe (V) taraf ke-j dan Tingkat Penyiraman (P) ke-k

µ : Nilai tengah ρi : Efek dari blok ke-i

αj : Efek perlakuan genotipe pada taraf ke-j

βk : Efek perlakuan tingkat penyiraman pada taraf ke-k

(αβ)jk : Interaksi antara perlakuan genotipe taraf ke-j dan tingkat penyiraman taraf ke-k

εijk : Galat dari blok ke-i, perlakuan genotipe taraf ke-j dan tingkat penyiraman taraf ke-k

Jika dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Rataan berdasarkan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1995).

Pelaksanaan Penelitian Persiapan Lahan

Areal lahan yang akan digunakan, dibersihkan dari gulma yang tumbuh dan sisa-sisa akar tanaman pada areal tersebut. Lalu dibuat plot percobaan dengan dengan ukuran panjang 160 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 30 cm dengan jarak antar blok 50 cm dan jarak antar plot 30 cm pada sekeliling daerah dibuat parit drainase sedalam 30 cm untuk menghindari adanya genangan air di sekitar areal penelitian.

Pembuatan Rumah Plastik

Pembuatan rumah plastik dengan ukuran 9 m x 13 m dengan menggunakan bambu sebagai kerangkanya, kemudian dilanjutkan dengan memasang plastik kaca sebagai pelindung dan sebagai atap agar media tanam tidak tercuci dan menjaga agar tidak terjadi penambahan air pada media tanam . Pembuatan Bedengan

Pembuatan bedengan dilakukan pada saat setelah dilakukan persiapan lahan dengan ukuran panjang 160 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 30 cm dengan jarak antar plot 30 cm dan jarak antar blok 50 cm dengan media tanam yang digunakan adalah tanah top soil.

Persiapan Bibit

Bibit yang digunakan adalah genotipe Beta-1 berasal dari Balikabi Malang, genotipe lokal Perbaungan, genotipe lokal Binjai. Panjang stek batang 25 cm dan ukuran bibit relatif sama.

Persiapan Media

Media tanam yang diisi adalah tanah top soil pada styrofoam box dengan ukuran berat 30 kg dan dibalut dengan plastik dari dalam styrofoam box untuk menjaga media tanam yang ada di styrofoam box tersebut agar tidak terjadi pengurangan air.

Pemasangan Selang

Pemasangan selang yaitu dengan memasang selang sepanjang 30 cm, dengan cara menancapkannya di bagian pinggiran styrofoam box untuk mempermudah penyerapan air pada saat penyiraman.

Penanaman

Stek batang ditanam tegak lurus dengan pangkal stek dibenamkan (1/3 bagian stek) sehingga tinggi 2/3 bagian stek di atas tanah. Setiap lubang

ditanami dengan 1 stek. Penanaman dilakukan didalam styrofoam box.

Pemupukan Dasar

Pemupukan dasar dilakukan satu minggu setelah tanam. Pupuk yang

diberikan sesuai dengan dosis anjuran kebutuhan pupuk ubi jalar yaitu Urea 200 kg/ha (7,2 g/styrofoam), TSP 100 kg/ha (3,6 g/styrofoam) dan KCl 100 kg/ha (3,6 g/styrofoam). Pupuk diaplikasikan secara larikan dan ditutup

kembali dengan tanah.

Penyiraman

Penyiraman bibit dilakukan pada pagi hari sesuai perlakuan yang telah ditetapkan menurut Hapsari et al., (2011) yaitu, pertanaman diairi sejak tanam hingga umur 1 bulan dengan selang waktu 10 hari, pertanaman diairi sejak tanam hingga 2 bulan dengan selang waktu 10 hari, pertanaman diairi sejak tanam

hingga 4 bulan dengan selang waktu 10 hari. Volume penyiraman dapat dilihat pada Lampiran

Pemeliharaan Tanaman Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada saat 1 MST setelah penanaman di lapangan bertujuan untuk mengganti adanya setek yang rusak atau tidak tumbuh.

Pengangkatan Batang

Pengangkatan batang bertujuan mencegah terbentuknya umbi-umbi kecil.

Pengangkatan atau pembalikan batang dilakukan pada umur 50 HST atau pengangkatan batang dilakukan berdasarkan pengamatan adanya akar yang tumbuh pada ruas-ruas batang.

Penyiangan dan Pembumbunan

Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma sekaligus menggemburkan tanah. Tumbuhan pengganggu perlu dikendalikan agar tidak menjadi saingan bagi tanaman utama dalam hal penyerapan unsur hara serta untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Penyiangan dilakukan secara manual dengan mencabut gulma agar perakaran tanaman tidak terganggu. Pembumbunan dilakukan pada umur 4 MST hingga 8 MST dengan interval satu minggu.

Pengendalian hama dan peny akit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan cara manual dengan mencabut tanaman yang terkena penyakit dan diganti dengan tanaman transplanting, sedangkan pada tanaman yang terkena penyakit menjelang tanaman panen tidak diganti dengan tanaman transplanting. Penyemprotan insektisida dan fungisida menggunakan Antracol 70 wp dilakukan sesuai dengan kondisi

di lapangan yaitu gejala bentuk daun bolong yang disebabkan hama (belalang dan ulat) dan daun gugur dan menguning yang disebabkan penyakit pada tanaman.

Panen

Panen dilakukan pada saat ubi jalar berumur 18 MST dengan kriteria panen dapat dilihat dengan warna daun mulai menguning dan kemudian rontok.

Panen dilakukan dengan cara mencabut dan mengangkat tanaman hingga terlihat bagian umbi didalam tanah. Tanaman dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel. Kemudian umbi dipotong dari pangkal batang tanaman.

Parameter Pengamatan Panjang Sulur

Panjang sulur (cm) diukur mulai pangkal batang (di atas permukaan tanah) hingga ujung yang diluruskan, dan dilakukan pada 1 MST sampai 10 MST yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 MST.

Jumlah Umbi per sampel

Jumlah umbi dihitung dengan menghitung jumlah umbi yang didapat setelah di panen. Kriteria umbi yang dihitung adalah umbi yang sudah membengkak dan bentuknya lebih besar dari akar. Umbi yang dihitung adalah setiap umbi yang berasal dari rumpun tanaman sampel.

Panjang umbi per sampel

Panjang umbi per sampel (cm) di ukur setelah dilakukan panen pada umur 18 MST. Pengukuran panjang umbi per sampel dimulai dari pangkal atas umbi sampai dengan ujung akar tempat terjadi pembengkakan akar.

Diameter Umbi per Sampel

Diameter umbi per sampel (mm) diukur pada bagian tengah umbi/bagian yang membesar dengan menggunakan jangka sorong dan dilakukan pada akhir penelitian.

Bobot Umbi per Sampel

Bobot umbi per sampel (g) ditimbang dengan menggunakan timbangan setelah panen dengan menimbang semua umbi yang terdapat pada sampel setelah umbi dibersihkan dari akar dan kotoran-kotoran yang menempel.

Bobot Segar Tajuk per Sampel

Bobot segar tajuk per sampel (g) ditimbang dengan timbangan setelah tajuk dan akarnya dipisahkan dari umbi serta dibersihkan dari tanah yang dilakukan setelah panen.

Bobot Kering Tajuk Per sampel

Bobot kering tajuk per sampel (g) diukur setelah tanman berumur 18 MST atau setelah panen dimana tanaman dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam amplop coklat yang telah dilubangi, kemudian dikeringkan pada suhu 70 oC di dalam oven sampai beratnya konstan. Bahan kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik.

Rataan Bobot Umbi

Rataan bobot umbi di hitung dengan rumus sebagai berikut : Rataan bobot umbi = Bobot umbi

Jumlah umbi Indeks Panen

Indeks panen di hitung dengan rumus sebagai berikut : Indeks Panen = Bobot umbi per sampel

Dokumen terkait