• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan di rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl serta mulai dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2014.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah imago

Riptortus linearis, minyak lengkuas, minyak serai, jamur Metarhizium anisopliae,

insektisida kimia bahan aktif deltametrin (Decis 25 EC), benih kacang kedelai varietas Grobogan, pupuk urea, TSP, KCl, media Potato Dextrose Agar (PDA), etanol 20%, Tween-20, alkohol, aquades, polibeg, kertas label dan bahan lain yang diperlukan.

Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini adalah meteran, sungkup,

handsprayer, timbangan digital, jarum suntik, masker, sarung tangan, beaker glass, haemocytometer, pipet tetes, alat pengaduk, kamera dan alat lain yang

diperlukan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan perlakuan sebagai berikut :

T0 : kontrol

T1 : minyak lengkuas konsentrasi 1% T2 : minyak lengkuas konsentrasi 2,5% T3 : minyak lengkuas konsentrasi 5% T4 : minyak serai konsentrasi 1%

T6 : minyak serai konsentrasi 5%

T7 : minyak lengkuas + minyak serai konsentrasi 1% (1 : 1) T8 : minyak lengkuas + minyak serai konsentrasi 2,5% (1 : 1) T9 : minyak lengkuas + minyak serai konsentrasi 5% (1 : 1) T10 : suspensi jamur Metarhizium anisopliae

T11 : insektisida berbahan aktif deltametrin 1 ml/liter Dimana rumus mencari ulangan adalah sebagai berikut : (t-1) (r-1) ≥ 15 (12-1) (r-1) ≥ 15 11 (r – 1) ≥ 15 11 r - 11 ≥ 15 11 r ≥ 26 r ≥ 26/11 r ≥ 3 Jumlah ulangan : 3 Jumlah perlakuan : 12

Jumlah unit percobaan : 36 Jumlah hama per polibeg : 20 imago Jumlah hama seluruhnya : 720 imago Jumlah tanaman / polibeg : 1 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 36 tanaman

Dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linear sebagai berikut :

Yij = µ + ρi + Tj + ε ij Dimana :

Yij : Hasil pengamatan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j. µ : Nilai tengah sebenarnya.

ρi : pengaruh perlakuan ke-i. Tj : pengaruh ulangan ke-i.

ε ij : pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j.

Data dari hasil penelitian pada perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Rataan berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5% (Sastrosupadi, 2010).

Pelaksanaan Penelitian Persiapan Media Tanam

Media tanam yang digunakan adalah topsoil dan kompos dengan perbandingan 2 : 1, kemudian dimasukkan ke dalam polibeg ukuran 5 kg.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan memberi pupuk TSP sebanyak 200 kg/ha,

KCl 100 kg/ha, dan Urea 50 kg/ha, dikonversikan menjadi TSP 6 gr/polibeg, KCl 3 gr/polibeg, dan Urea 1,5 gr/polibeg. Pupuk disebar secara merata di sekitar

dekat lubang pertanaman dengan kedalaman 5 cm. Pemberian pupuk susulan disesuaikan dengan kondisi di lapangan (Sinaga, 2009).

Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam sedalam antara 1,5– 2 cm. Setiap lubang tanam diisi sebanyak 2 biji dan diupayakan 1 biji yang bisa tumbuh. Sebelum penanaman, benih direndam dengan air selama ± 15 menit. Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor.

Penyemprotan insektisida dilakukan pada tanaman berumur 5 hari setelah tanam, agar terhindar dari serangan hama lalat bibit. Aplikasi insektisida dilakukan pada pagi hari. Penyemprotan insektisida dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman di lapangan.

Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 10–20 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan untuk menggantikan tanaman yang mati atau abnormal pertumbuhannya dengan tanaman cadangan yang masih hidup.

Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh secara manual dan dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan. Selain itu, dilakukan pula penggemburan tanah.

Penyediaan Serangga Uji

Penyediaan serangga uji dilakukan dengan cara mengambil serangga dari lapangan selanjutnya serangga dipelihara di tanaman kedelai yang telah disungkup.

Pembuatan Insektisida Nabati

Rhizoma lengkuas dan daun serai dibersihkan, dipotong-potong dengan ukuran ± 1-3 cm lalu dimasukkan ke dalam kolom labu leher. Setelah itu air

dimasukkan ke bagian labu (sampai 1/3 bagian dasar), lalu diisi sekitar 75% bahan baku, kemudian kompor dinyalakan. Setelah air mendidih, uap akan keluar melalui pori-pori yang terletak di bawah bahan, minyak akan terbawa naik bersama uap menuju ke pipa yang dilengkapi pendingin dan menetes ke dalam gelas beker. Minyak disuling selama 4–6 jam atau sampai minyak tidak menetes lagi. Minyak dan air akan terpisah dengan sendirinya karena perbedaan bobot jenis. Dilakukan pengambilan minyak secara manual dengan menggunakan pipet tetes. Ditambahkan Na2SO4 anhidrat 2-5% ke dalam minyak sehingga diperoleh minyak yang bebas air. Minyak diambil dengan pipet tetes dan diisi penuh dalam botol kaca. Minyak disimpan pada tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung jika belum digunakan (Sumarni et al., 2008; Simanihuruk, 2013).

Minyak atsiri yang akan diuji diformulasikan dengan mencampurkan 3 bagian minyak dengan 6,5 bagian pelarut organik dan 0,5 bagian emulsifier.

Campuran diaduk perlahan-lahan sampai seluruh bahan terlarut dengan sempurna. Sebelum diaplikasikan ke lapangan, formula dilarutkan dengan air sesuai konsentrasi uji yang dibutuhkan. Sedangkan untuk kontrol (0%) perlakuan diberi pelarut aquades steril (Wiratno et al., 2011).

Penyediaan Jamur M. anisopliae

Jamur M. anisopliae diperoleh dari hasil isolasi serangga yang terinfeksi jamur di lapangan. Tubuh serangga dipotong-potong dengan ukuran ± 0,5 cm,

kemudian didesinfeksi dengan larutan kloroks 0,25% selama 30 detik,

kemudian dibilas dengan air steril, dikeringkan dengan kertas saring dan ditumbuhkan pada media PDA. Setelah koloni jamur berumur 7 hari

determinasi Barnett (1972).

Pembuatan Suspensi Jamur M. anisopliae

Biakan murni M. anisopliae ditambah 10 ml air steril dan diambil konidianya dengan menggunakan kuas halus pada bagian permukaan koloni sehingga hanya konidia yang terambil. Setelah itu ditambah Tween-20 (1 ml/liter) sebagai bahan perata. Konidia dihitung menggunakan haemocytometer, setelah itu dilakukan pengenceran hingga diperoleh kerapatan konidia 107/ml (Prayogo dan Suharsono, 2005).

Penyungkupan

Setiap tanaman disungkup dengan menggunakan kain kasa (40 cm x 40 cm x 80 cm). Penyungkupan bertujuan untuk menghindari

masuknya organisme lain. Aplikasi Insektisida

Aplikasi insektisida pada semua perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval 7 hari sekali pada 43, 50 dan 57 hari setelah tanam (hst). Aplikasi insektisida sebanyak 60 ml menggunakan handsprayer, kemudian disemprotkan pada seluruh bagian tanaman dan diaplikasikan pada pagi hari.

Aplikasi Hama ke Tanaman

Aplikasi hama ke tanaman dilakukan pada minggu ke-6 yaitu pada saat tanaman berumur 43 hst, jumlah imago yang diaplikasikan sebanyak 20 imago pada setiap perlakuan.

Panen

Panen dilakukan secara manual dengan mengambil polong kedelai menggunakan gunting. Adapun kriteria polong yang dipanen adalah polong telah mengalami perubahan warna hijau menjadi kecoklatan atau jika 95% polong berubah warna serta batang dan daun terlihat kering.

Peubah Amatan

Persentase Mortalitas Imago (%)

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah imago yang mati berdasarkan masing-masing perlakuan. Pengamatan dilakukan dari 44-64 hst. Mortalitas imago dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

% 100 x b a a P + =

P = Persentase mortalitas hama a = jumlah imago yang mati b = jumlah imago yang hidup (Oktarina, 2009).

Waktu Kematian Imago

Waktu kematian imago adalah rentang waktu yang diperlukan oleh masing-masing perlakuan sampai menimbulkan kematian pada imago. Waktu kematian imago sangat bervariasi, karena itu pengamatan dilakukan dengan mengamati jumlah imago yang mati pada setiap hari setelah aplikasi perlakuan. Persentase Serangan Hama (%)

Persentase serangan hama dihitung dengan cara mengamati jumlah polong yang terserang sesuai dengan gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama

menggunakan rumus : % 100 x b a P =

P = Persentase serangan hama a = jumlah polong yang terserang b = jumlah polong yang tidak terserang Bobot Basah Polong Per Tanaman (g)

Bobot basah polong diperoleh dengan menimbang semua polong segar per tanaman yang dihasilkan setelah panen menggunakan timbangan.

Bobot Kering Biji Per Tanaman (g)

Penimbangan dilakukan dengan menimbang seluruh biji dari masing- masing sampel menggunakan timbangan. Penimbangan dilakukan setelah biji dikeringkan dengan menjemur biji di bawah sinar matahari selama 2-3 hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait