• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di lahan Kebun Aek Pancur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang yang dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan November 2020.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 60%, detergen untuk menyeimbangkan konsentrasi alkohol, tanah sebagai sampel dan air sebagai pelarut.

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember plastik berukuran 12 cm sebagai wadah, atap terpal sebagai naungan, botol sampel ukuran 4 x 7cm sebagai wadah objek dan monolith kuadrat sebagai alat pengambil sampel tanah.

Metode Penelitian

Pada penelitian sebelumnya hanya terdapat 3 areal manajemen tumbangan batang kelapa sawit, yaitu manajemen batang sawit yang ditumbang, chipping dan geser, namun pada saat melakukan penelitian terdapat batang tanaman kelapa sawit yang ditumbang kemudian dibakar.

Penelitian dilaksanakan pada areal tumbangan kelapa sawit dengan 4

manajemen yang berbeda, yaitu: (i) areal replanting dengan sistem rumpukan;

(ii) areal replanting dengan sistem ditumbang lalu dicacah (chipping);

(iii) areal replanting tanpa batang sawit tua; dan (iv) areal replanting dengan sistem ditumbang lalu dibakar. Nilai karbon dan nitrogen dari batang sawit pada

manajemen tumbangan batang kelapa sawit yang berbeda setelah 1 tahun penumbangan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan C-Organik, N-Total dan C/N Batang Sawit pada Lokasi Manajemen Tumbangan Batang Sawit yang Berbeda

Manajamen Tumbangan Batang Sawit

Parameter

C-organik N-total C/N

Tumbang 47,72 0,52 92,01

Chipping 38,19 1,44 26,59

Bakar 26,53 0,76 35,07

Pada lokasi manajemen batang sawit dengan sistem rumpukan, kegiatan replanting dilakukan secara konvensional dimana batang tanaman kelapa sawit yang ditumbang selanjutnya ditumpuk di areal. Pada lokasi manajemen batang sawit dengan sistem chipping batang tanaman tua yang ditumbang selanjutnya dicacah (chipping) dengan dimensi ketebalan cacahan maksimal 20 cm. Pada areal replanting tanpa batang sawit tua, batang sawit yang ditumbang dikeluarkan dari Gambar 1. Batang sawit yang ditumbang Gambar 2. Batang sawit yang di chipping

Gambar 3. Batang sawit yang digeser Gambar 4. Batang sawit yang dibakar

areal replanting atau penelitian sedangkan pada areal replanting dengan sistem bakar, batang tanaman tua ditumbang selanjutnya dibakar. Masing-masing lokasi manajemen batang sawit pada penelitian ini diambil 6 sampel sehingga terdapat 6 areal batang kelapa sawit yang di chipping, 6 areal batang kelapa sawit yang tidak di chipping, 6 areal tanpa batang kelapa sawit dan 6 areal batang kelapa sawit yang dibakar.

Pengamatan yang dilakukan adalah dengan melihat dan mengamati makrofauna tanah yang berada pada potongan batang sawit yang non chipping, di chipping, tanpa batang sawit dan batang sawit dengan sistem bakar dengan menggunakan metode pitfall trap dan metode kuadrat dan hand sorting terhadap jenis, kepadatan populasi, keragaman makrofauna tanah serta pengamatan terhadap sifat fisik dan kimia tanah yang terdapat pada potongan batang sawit.

Metode pitfall trap (perangkap jebak) yang digunakan untuk mendapatkan makrofauna di atas permukaan tanah dan metode kuadrat dan hand sorting yang digunakan untuk mendapatkan makrofauna di dalam tanah.

Pelaksanaan Penelitian Penentuan Sampel Tanah

Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan kedalaman 0-30 cm.

Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan membersihkan serasah di atas

permukaan tanah menggunakan soil corer modifikasi PPKS dengan diameter 8 cm dan kedalaman 10 cm dari permukaan tanah. Setiap plot sampling

ditempatkan dengan jarak yang telah ditentukan, yaitu ±10 m pada lahan potongan batang sawit chipping, non chipping, tanpa batang sawit dan batang sawit dengan sistem bakar.

Pengambilan Sampel Makrofauna Tanah Metode Pitfall Trap

Metode pitfall trap adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan makrofauna di atas tanah yaitu dengan menggunakan ember yang dibenamkan dalam tanah dengan diameter 12 cm sebanyak 5 ember dengan bibir ember sejajar

pada permukaan tanah. Ember diisi dengan larutan alkohol 60% sebanyak

±250 ml sebagai pembunuh dan pengawet dan ditetesi sedikit larutan detergen untuk meniadakan tegangan permukaan pada larutan alkohol tersebut, kemudian dipasang pelindung dari terpal pada bagian atas (atap) untuk melindungi dari hujan dengan ukuran 30 x 30 cm setinggi 15 cm dari permukaan tanah. Perangkap tersebut dipasang pada pukul 08:00 WIB selama 24 jam, kemudian fauna tanah yang tertangkap dikumpulkan pada botol sampel untuk dibawa ke laboratorium (Mustika, 2019).

Gambar 5. Soil corer untuk pengambilan sampel tanah

Metode Kuadrat dan Hand Sorting

Metode kuadrat adalah metode untuk mendapatkan makrofauna di dalam tanah yang dilakukan dengan menggali tanah seluas 25 x 25 cm sampai kedalaman 30 cm sebanyak 4 plot dan jarak antara kuadrat satu dengan yang lainnya ±10 m. Tanah dimasukkan ke dalam kantong plastik berukuran ±50 x 50 cm. Pengambilan sampel dilakukan sekitar pukul 06:00-09:00 WIB. Selanjutnya makrofauna tanah yang ditemukan pada tanah tersebut diambil dengan metode hand sorting (disortir dengan tangan), kemudian dibawa ke laboratorium untuk pengambilan dan penghitungan makrofauna tanah. Makrofauna kemudian

diawetkan dalam alkohol 60% untuk diidentifikasi dan dihitung jumlahnya (Maftu’ah et al., 2005).

Gambar 6. Pengambilan sampel tanah menggunakan metode pitfall trap

Peubah Amatan

Identifikasi Sampel Makrofauna Tanah

Sampel makrofauna tanah dari lapangan dikelompokkan berdasarkan kesamaan ciri-ciri morfologi kemudian diawetkan dengan menggunakan alkohol 60%. Proses determinasi dan identifikasi dilakukan dengan memperhatikan ciri-ciri morfologi menggunakan beberapa buku acuan diantaranya Boror et al., (1992) dan Suin (2005).

Suhu Tanah, pH Tanah dan C-Organik Tanah

Pengukuran suhu tanah dilakukan di lapangan sebelum tanah diambil di plot kuadrat. Pengukuran suhu tanah menggunakan alat termometer tanah.

Pengukuran pH tanah dan C-organik tanah dilakukan di laboratorium. pH tanah diukur dengan menggunakan alat pH meter dan C-organik tanah diukur dengan menggunakan metode Walkley and Black (modifikasi) menggunakan alat spectrofotometer.

Gambar 8. Pengambilan sampel tanah menggunakan metode hand sorting Gambar 7. Pengambilan sampel

tanah menggunakan metode kuadrat

Kadar Air Tanah

Pengukuran kadar air tanah dilakukan di laboratorium. Sampel tanah diambil dari lapangan mewakili tiap titik lalu dikompositkan serta dibersihkan dari sisa tumbuhan dan fauna yang masih ada kemudian diaduk sampai rata dan diambil 10 gram sampel untuk dianalisis. Selanjutnya sampel tanah dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC selama 5 jam hingga beratnya konstan.

Analisis Data Makrofauna

Analisis data makrofauna tanah dilakukan dengan menghitung jumlah spesies makrofauna tanah dan jumlah individu masing-masing spesies yang ditemukan dihitung nilai: Kepadatan (K), Kepadatan Relatif (KR), Frekuensi Kehadiran (FK) untuk mengetahui keragaman makrofauna tanahnya dengan rumus menurut Borror (1992) dan Suin (2002).

a. Kepadatan Populasi (K)

b. Kepadatan Relatif (KR)

Jumlah Individu Suatu Jenis K =

Jumlah Plot x Luas Plot

Kepadatan suatu jenis

KR = × 100%

Jumlah kepadatan semua jenis

Gambar 9. Pengukuran suhu tanah

c. Frekuensi Kehadiran (FK)

d. Analisis Korelasi

Untuk mengetahui korelasi antara spesies tanah yang ditemukan dengan faktor fisik kimia tanahnya dilakukan Analisis Korelasi Pearson (r).

Usman dan Akbar (2000) menerangkan nilai r sebagai berikut:

a. Nilai r terbesar adalah +1 dan nilai r terkecil adalah -1.

b. r = +1 menunjukkan hubungan positif sempurna (searah), sedangkan r = 1 menunjukkan hubungan negatif sempurna (berlawanan arah).

c. r tidak mempunyai satuan atau dimensi.

d. Tanda + atau - hanya menunjukkan arah hubungan.

Intrepretasi nilai r adalah sebagai berikut:

Jika r = 0 : Tidak berkorelasi

Jika r = 0,01 - 0,20 : Korelasi sangat rendah Jika r = 0,21 - 0,40 : Korelasi rendah Jika r = 0,41 - 0,60 : Korelasi agak rendah Jika r = 0,61 - 0,80 : Korelasi cukup Jika r = 0,81 - 0,99 : Korelasi tinggi

Jika r = 1 : Korelasi sangat tinggi (korelasi sempurna).

Jumlah Plot yang ditempati Suatu Jenis

FK = × 100%

Jumlah Total Plot

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait