• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Bahan Kering Tanpa Lemak (BKTL) Susu

Nilai sebenarnya dari kualitas susu adalah terletak pada kandungan BKTL susu yaitu bahan kering yang tertinggal setelah lemak susu dihilangkan (Tillman, dkk., 1986).

Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan bungkil biji kapuk (BBK) sampai taraf 30% dalam ransum konsentrat belum nyata mempengaruhi kadar BKTL susu.

Tidak terdapatnya perbedaan yang nyata dari kadar BKTL susu dari keempat perlakuan ransum adalah sejalan dengan keadaan dimana kadar protein dan laktosa susu tidak berbeda. Hal ini disebabkan karena BKTL susu ditentukan oleh komponen protein (kasein dan alburaun) dan laktosa, disamping vitamin-vitamin, enzim-enzim dan mineral susu (Sudono, 1983).

Menurut French (1980) dan Larson (1985) kandungan BKTL susu jauh lebih kecil variasinya dibandingkan dengan variasi kandungan lemak susu. Perubahan kandungan BKTL susu umumnya disebabkan terutama karena perubahan kandungan protein susu. Produksi BKTL susu cenderung merupakan refleksi dari produk-si susu.

4.5 Berat Jenis (BJ) Susu

Berat jenis (BJ) susu merupakan parameter kualitas susu yang sangat diperlukan disamping kadar lemak susu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan berat jenis susu adalah faktor komposisi susu itu sendiri, yang terdiri dari protein, lemak, laktosa, gas dan mineral dalam susu (Jaoven, 1981). Eckles, et al. (1957) menyatakan bahwa perubahan berat jenis susu dipengaruhi berat jenis masing-masing komponen susu yaitu protein (1.346), lemak (0.93), laktosa (1.666) dan garam (4.12).

Berdasarkan hasil analisis data ternyata penggunaan BBK dalam ransum belum nyata mempengaruhi berat jenis susu.

Meskipun demikian terlihat bahwa berat jenis susu (Y) nyata (P < 0,01, R = 0.88) meningkat dengan meningkatnya BKTL susu (X,%), mengikuti persamaan Y = 0.992 + 0.0036 X.

Berat jenis susu yang dihasilkan dari keempat perlakuan ransum sesuai dengan pendapat Jaoven (1981) yaitu bahwa berat jenis susu kambing bervariasi antara 1.0260 sampai 1.0420.

4.6 Kandungan Asam Lemak Siklopropenoat Susu

Rata-rata kandungan asam lemak siklopropenoat susu selama penelitian disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 4. Rata-rata Kandungan asam Siklopropenoat Susu Selama Penelitian Taraf Bungkil biji kapuk (%)

Taraf Bungkil biji kapuk (%) Perubah

0 10 20 30

Setelah 2 minggu pemberian ransum 0 0 +(1) +(2)

Setelah 4 minggu pemberian ransum 0 0 +(3) +(5)

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sampai penggunaan 10% bungkil biji kapuk (BBK) dalam ransum ternyata belum menunjukkan adanya asam siklopropenoat yang terkandung di dalam susu, walaupun telah dikonsumsi selama 4 minggu. Keadaan ini diduga disebabkan karena asam lemak siklopropenoat yang dikonsumsi bersama BBK seluruhnya dapat terhidrogenasi di dalam rumen, sehingga tidak terdapat dalam darah dan akhirnya tidak terdapat pula dalam air susu.

Hal ini sesuai dengan pendapat Cook,et al.( 1976) yaitu bahwa asam lemak siklopropenoat yang merupakan asam lemak tidak jenuh akan terhidrogenasi di dalam rumen seperti halnya yang dialami oleh asam lemak tidak jenuh lainnya. Proses ini menghasilkan asam siklopropen yang tidak menghambat sistim kerja enzim desaturase (enzim yang bersifat dehidrogenasi pada asam lemak). Asam siklopropenoat sangat kuat menghambat sistim kerja enzim desaturase asam lemak, seperti pada anak ayam yang diberi 5-10 mg/kg bobot badan asam lemak siklopropenoat, yang terdiri dari asam malvalat dan sterkulat, sangat efektif

menghambat perubahan asam stearat menjadi oleat di dalam hati, sehingga meningkatkan kandungan asam stearat dan menurunkan kandungan asam oleat pada jaringan lemak tubuh.

Sedangkan pada taraf penggunaan 20 dan 30% BBK di dalam ransum, asam siklopropenoat sudah terdapat dalam susu pada minggu ke dua dan meningkat jumlahnya pada minggu keempat setelah pemberian ransum. Keadaan ini kemungkinan disebabkan karena asam lemak siklopropenoat yang dikonsumsi tidak seluruhnya dapat terhidrogenasi di dalam rumen, karena kemungkinan konsentrasinya cukup banyak sejalan dengan meningkatnya konsumsi ransum, sehingga masih diekresikan dalam air susu bersama-sama dengan asam lemak yang lainnya.

Seperti diketahui BBK komersil yang dianalisa ternyata mengandung asam sterkulat (senyawa asam siklopropenoat) sebanyak 60 ppm dan jika BBK ini dicampur dalam ransum sebanyak 30%, kadar asam sterkulatnya turun menjadi sepertiganya. Sedangkan kandungan asam siklopropenoat (asam sterkulat) pada minyak biji kapuk komersil adalah 1400 ppm. Batas ambang berbahaya pada ternak non ruminansia seperti ayam untuk asam sterkulat adalah pada tingkat ransum 30 % BBK dimana kadar asam sterkulatnya adalah 20 ppm (Zahirma, 1986) .

5.1 Kesimpulan

1. Penggunaan bungkil biji kapuk sampai taraf 30% dalara konsentrat kambing perah belum memberikan pengaruh terhadap kualitas susu. 2. Penggunaan bungkil biji kapuk sampai taraf 10% dalaro konsentrat

kambing perah sampai dengan empat minggu, cukup aman karena tidak menyebabkan terdapatnya asam siklopropenoat di dalam susu.

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tehnik pemberian bungkil biji kapuk pada ternak ruminansia untuk mendapat-kan produk ternak yang tidak mengandung racun asam siklopropenoat, sehingga aman untuk dikonsumsi. Hal ini disebab-kan karena pengaruh biologis dari asam siklopropenoat akan cepat menghilang setelah dihentikannya pemberian ransum yang mengandung asam siklopropenoat.

Ariani, E. , 1981. "Uji banding bungkil biji kapuk (Ceiba petandra, GAERTN) terhadap dedak, bungkil kelapa dan bungkil kedelai sebagai sumber protein lemak ruminansia". Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Battacharya, A.N. 1980. Research on Goat Nutrition and Management in Mediteranean Midle East and Adjacent Arab Countries.J. Dairy Sci. 63 : 1681 - 1700

Broderick, G.A., L.D. Satter and A.E. Harper. 1974. Use of plasma amino acid concentration to identify limiting amino acid for milk production. J.Dairy Sci 58: 1015 -1023.

Brody, S. 1945. Bioenergetics and Growth. Reinhold Publishing Corp. New York. USA.

Cook, L. J., T. W. Scott and S. C. Mills. 1976. Effect of protected cyclopropene fatty acid on the composition of ruminant milk fat. Lipids 11 : 705 - 711. Devendra, C. and C.B. Mc.Leroy. 1982. Goat and Sheep Production in the

Tropics. Intermediate Tropical Acgriculture Series. First Publ. Longman. London. New York. Singapore.

Djanah, D. 1984. Beternak Kambing. Penerbit C.V. Jasaguna, Jakarta.

Dukes, H.H. 1955. The Physiology of Domestic Animals. 7th Ed. Comstock Publishing Associates. Ithaca. New York.

Eckles, C.H., W.R. Combs and H. Macy. 1957. Milk and Milk Product. Mc.Graw-Hill Book Co. New York.

Edey, T. N. 1983. Tropical Sheep and Goat Production. AUIDP Canberra.

Emery, R. S. 1969. Lipids and Adipose Tissue. In E.S.E. Hafez and L. D. Dyer. 1969. Animal Growth and Nutrition. Lea and Febriger, Philadelphia. Ernawati. 1990. Pengaruh Tata Laksana Pemerahan Terhadap Kualitas Susu

Kambing Dan Hasil Olahannya. Thesis. Fakultas Pascasarjana. IPS. Bogor.

Isbandi dan E. Santosa. 1984. Usaha Kambing Peranakan Etawah Sebagai Sumber Peningkatan Pendapatan dan Kemungkinan Pengembangannya. Proceeding Domba dan Kambing di Indonesia. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.

Hafez, E.S.E. 1962. The Behaviour of Domestic Animals. The Williams and Wilking Company. Baltimore,

Hidajati, N. dan B. Siregar. 1989. Penggunaan Bungkil Biji Kapuk Sebagai Pengganti Bungkil Kedelai dalam Ransum Sapi Perah yang Sedang Tumbuh. Presiding Simposium I. Hasil Penelitian dan Pengembangan tanaman Industri. Buku V. Tanaman Serat Buah . Bogor.

Jennes, R. 1980. Composition and Characteristics of Goat Milk. Review. 1968 - 1979. J. Dairy Sci. 63 : 1605 -1630.

Kadirvel, R. , R. Natanam and K. Udasurian. 1984. Use of kapok as a poultry feed. Poultry Sci. 65 : 2363.

Larson , B. L., 1978. The Dairy Goat as a model in Lactation Studies. J. Dairy Sci. 61 : 1023.1985. Lactation. The Iowa State University Press/Ames. First Ed. Ames. Iowa.

Lawrence, T.L.J. 1990. Influence of palatability on diet assimilation in non-ruminants. In J. Wiseman and D.J.A. Cole. ed. Feedstuff Evaluation. Butterworths. London.

Lubis, D. A., 1963. Ilmu Makanan Ternak. PT Perabangunan Jakarta.

Martawidjaja, M. dan M. Rangkuti. 1989. Pengaruh Suplementasi Bungkil Biji Kapuk Dengan Hijauan Dasar Rumput Gajah pada Anak Domba. Proceeding Pertemuan llmiah Ruminansia. Jilid 2.

Mayne, C. S. and F. J. Gordon. 1984. The Effect of Type of Concentrate andLevel of Concentrate Feeding on Milk Production., Anim. Prod. 39 : 65 - 76. Morand-Fehr, P. and D. Sauvant. 1980. Composition and yield of goat milk as

affected by nutritional manipulation. J. Dairy Sci. 63 : 1671 - 1680.

——————————————. 1981. Nutrition and feeding of goats : Application to temperate climatic conditions. In C. Gall. Ed Goat production. Academic Press Inc. London.

NRC. 1981. Nutrient Requirements of Goats : Angora, Dairy and Meat Goat in Temperate and Tropical Countries. National Academy Press, Washington, D. C.

Osche, J. J., M. J. Soule Jr., M. J. Dijkman and C. Wehlberg. 1961. Tropical and Subtropical Agriculture. Vol II. The Macmillan Company. New York. Parakkasi, A. 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa,

Bandung.

Phelps, R. A., F. S. Shenstone, A. R. Kemmerer and R. J. Evans. 1964. A Review of cyclopropenoid compounds : biological effectof some derivatives. Poultry Sci., 44: 358.

Prakash, S. and R. Jenness. 1968. The Composition and Characteristics of Goat~s Milk. A Review. Dairy Sci.

Preston, T.R. and R.A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production Systems With Available Resources in The Tropics and Sub Tropics. Penambul Books. Armidale. New South Wales. Australia.

Sudarmadji. S., B. Haryono . dan Suhardi. 1984. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Edisi ketiga. Liberty Yogyakarta.

Setiadi. 1983. Bertanam Kapuk Randu. Penebar Swadaya. Anggota IKAPI. Sihombing, D. T. H. 1974. Pemanfaatan Bungkil Biji Kapuk dan Bungkil Biji

Jarak sebagai Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

———————————————— dan S. Simamora. 1979. Penelitian Bungkil Biji Kapuk untuk Makanan Ternak Babi. Seminar Penelitian dan Penunjang Pengembangan Peternakan II. Bogor, 5-8 November.

Siregar A. P. dan M. Sabrani. 1970. Tehnik Modern Beternak Ayam. Cet. pertama. Penerbit C.V. Yasaguna. Jakarta.

Sudarwanto, M. dan D. W. Lukman. 1993. Petunjuk Laboratorium. Pemeriksaan Susu dan Produk Olahannya. PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.

Sudono, A. 1985. Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Suherman, F. 1973. Pengaruh Bungkil Biji Kapuk terhadap Pertumbuhan Anak Ayam Tipe Dwiguna. Thesis. Fakultas Peternakan, IPB.

Sunarlim, R. , Triyantini, Bambang, S. dan Hadi, S. Upaya Mempopulerkan dan Meningkatkan Penerimaan Susu Kambing dan Domba. Presiding Sarasehan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT II. ISPI dan PDHI. Bogor.

Sutardi, T. 1978. Iktisar Ruminologi. Badan Penataran Kursus Peternakan Sapi Perah Kayu Arabon Lembang. Departemen Ilmu Makanan Fakultas Peternakan.

__________. 1981. Sapi Perah dan Pemberian Makanannya.Fakultas Peternakan, IPB.

Sumoprastowo, C. D. A. 1980 Beternak Kambing Yang Berhasil Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fak. Peternakan UGM.

Triwulanningsih, E. 1986. Beberapa Parameter Genetik Sifat Kwantitatif Kambing Peranakan Etawah (PE) . Thesis . Fakultas Pascasarjana. IPB. Bogor. Zahirma , U. 1986. Analisa Asam Siklopropenoat Dari Biji Kapuk Dengan Tehnik

Kromatografi Gas. Skripsi Sarjana Kimia. Fakultas MIPA Universitas Indonesia. Jakarta.

Dokumen terkait