• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Mengajar: Menjadi Reporter

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 111-116)

"Kita dapat menceritakan sesuatu kepada siswa dengan cepat. Namun, siswa akan melupakan apa yang kita ceritakan itu dengan lebih cepat."

—(Melvin L. Siberman)—

Tepat sekali! Karena otak kita dirancang BUKAN sekadar untuk menerima informasi, melainkan untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang berarti secara pribadi kepada pemiliknya. Proses belajar bukanlah sekadar mendengar atau melihat sesuatu, melainkan mengolahnya. Seorang guru tidak dapat serta merta menjejalkan segala informasi kepada murid-muridnya. Tetapi, si murid sendirilah yang harus mengunyah dan mencerna segala bentuk informasi yang diterimanya, sehingga menjadi sesuatu yang BERMAKNA bagi dirinya.

Dalam model pembelajaran pasif, di mana anak-anak diharapkan untuk sekadar duduk manis dan mendengarkan guru bercerita (jika si guru tidak pandai membawa suasana), biasanya mereka mengikuti pelajaran tanpa semangat dan tanpa minat. Sebaliknya, saat mereka dilibatkan dalam proses pembelajaran aktif, maka mereka akan mengupayakan sesuatu dan ini membuat otaknya yang semula "off" (mati) menjadi "on" (menyala), karena mereka dilibatkan dalam proses belajar yang sesungguhnya, yaitu membuat otaknya berpikir.

Salah satu tips praktis untuk membuat murid-murid sekolah minggu Anda aktif -- terutama saat Anda harus menyampaikan perikop atau cerita Alkitab yang sudah sangat dikenal -- adalah menantang mereka untuk menjadi seorang REPORTER TELEVISI. Perhatikan contoh berikut.

Tema: Gembala-Gembala Bacaan Alkitab: Lukas 2:8-20

Prosedur:

1. Jelaskan kepada anak-anak bahwa hari ini Anda akan mengajak mereka untuk meliput sebuah berita. Mungkin Anda perlu mengajak mereka sedikit melakukan "warming up" (pemanasan), bagaimana dan apa yang dilakukan oleh seorang reporter televisi. Misalnya, Anda bisa memperagakan kepada anak-anak bagaimana sikap duduk, gaya bicara, dan bahasa tubuh seorang reporter televisi yang profesional. Berikut adalah contoh seorang reporter televisi mengawali dan mengakhiri beritanya.

"Selamat malam Pemirsa. Dari studio 7 kami melaporkan sebuah peristiwa aneh yang terjadi di sebuah kota kecil yang bernama Betlehem. Beberapa gembala melaporkan apa yang mereka lihat dan alami pada malam itu .... (Isi selengkapnya).

112

Demikian laporan singkat yang kami terima. Nantikan sajian selengkapnya dalam Berita Petang hari ini, disertai dengan rekaman eksklusif yang kami terima langsung dari lokasi kejadian. Terima kasih atas kebersamaan Anda, dan selamat malam."

2. Sebelum meminta anak-anak membaca bacaan dari Alkitab, sekali lagi tekankan bahwa mereka saat ini berperan sebagai seorang reporter yang hendak meliput berita yang paling spektakuler sepanjang sejarah. Dorong mereka untuk mulai membayangkan, seandainya mereka hadir pada peristiwa itu (saat malaikat memberi tahu para gembala tentang kelahiran Yesus), maka berita seperti apa yang ingin mereka sajikan kepada para pemirsa.

3. Setelah semua anak siap, minta anak-anak untuk membaca bahan Alkitab tersebut secara pribadi, dan kemudian berikan waktu kepada mereka untuk mulai menuangkan isi pikiran mereka dalam bentuk liputan berita. Saya sarankan agar Anda memberi pilihan pada anak-anak untuk bekerja sendiri, bekerja berpasangan, atau bekerja kelompok (maksimal 3 orang, jangan lebih).

4. Pada bagian akhir acara, siapkan sebuah meja dan beberapa kursi seperti layaknya tayangan siaran berita di stasiun televisi. Minta anak-anak secara bergantian untuk membacakan naskah liputannya, berikan pujian serta semangat kepada mereka semua.

5. Jika ada pesan-pesan tertentu yang ingin Anda sampaikan atau tekankan, lakukanlah di akhir sesi acara, saat Anda dan anak-anak telah mengakhiri sesi liputan berita sebagai reporter tersebut.

Teknik mengajar ala reporter ini memang sedikit berbeda dengan teknik mengajar pada umumnya. Biasanya, guru mengawali pengajaran dengan bercerita atau menyampaikan materi dengan metode ceramah, baru kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas yang melibatkan siswa aktif. Adapun sajian ala reporter ini, siswalah yang harus terlebih dahulu melakukan perannya sebagai reporter (aktif), baru setelah itu, guru menutup dengan pembahasan atau penekanan beberapa poin penting yang menjadi tujuan pembelajaran. Dengan demikian, pengalaman aktif siswa dimaknai secara lebih mendalam dan diikat menjadi kesatuan pesan oleh guru pada akhir acara.

Jika waktunya memungkinkan, Anda bisa mengadakan "talk show" di sela-sela berita atau liputan reporter tersebut. Misalnya, setelah berita pembukaan selama 3 menit, si reporter melanjutkannya dengan "talk show" yang menghadirkan bintang tamu para gembala yang menjadi saksi mata kehadiran para malaikat, yang menyampaikan berita Natal. Aturlah agar "talk show" berlangsung singkat -- sekitar 2-3 menit saja -- agar anak-anak tidak kehilangan antusiasmenya dan memiliki cukup waktu untuk menampilkan setiap kelompok yang ada. Khusus jika ada "talk show", maka setiap kelompok bisa beranggotakan lebih dari 3 orang, misalnya 4-5 orang, atau tergantung dari jumlah anak yang ada dalam kelas dan waktu yang tersedia.

113

Pak Gembala, boleh kami tahu, tepatnya kapan Anda melihat kedatangan malaikat?

Waktu itu, apakah benar hanya ada seorang malaikat yang menyampaikan berita kelahiran bayi Anda?

Apa yang dikatakan malaikat itu kepada Anda?

Kami menerima laporan bahwa kemudian ada pasukan malaikat yang memuji Tuhan, sehingga langit bersinar terang, padahal waktu itu peristiwanya terjadi di malam hari. Bisakah Anda menceritakannya pada pemirsa di rumah?

Bagaimana perasaan Anda pada waktu itu?

Apa yang Anda lakukan setelah mendapat berita tersebut?

Beberapa perikop lain di Alkitab yang bisa disajikan dengan teknik ini, antara lain: Perjanjian Lama:

1. Kain dan Habel (Kejadian 4:1-16) 2. Ular Tembaga Musa (Bilangan 21:4-9) 3. Tembok Yerikho (Yosua 6:1-27)

4. Daniel di Goa Singa (Daniel 6:1-29)

5. Nabi Elia Melawan Baal (1 Raja-Raja 18:20-46) Perjanjian Baru:

1. Simeon dan Hana Berjumpa Bayi Yesus (Lukas 2:21-40) 2. Pencobaan di Padang Gurun (Matius 4:1-11, Lukas 4:1-13)

3. Yesus Mengusir Roh Jahat dari Orang Gerasa (Markus 5:1-20, Lukas 8:26-39) 4. Pertobatan Saulus (Kisah Para Rasul 9:1-19)

5. Kepala Penjara Filipi (Kisah Para Rasul 16:19-40)

Selamat menjadi REPORTER TELEVISI! Siapa tahu Anda dan anak-anak bisa

114 firman Tuhan.

Diambil dari:

Judul buku : Creative Teaching di Sekolah Minggu Penulis : Meilania

Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2009 Halaman : 38 -- 40

115

e-BinaAnak 585/Mei/2012: Aktivitas Liburan

Sekolah (III)

Salam dari Redaksi:

Shalom,

Rencana untuk mengadakan kegiatan liburan di sekolah minggu terkadang terhalang oleh beberapa hal. Salah satunya adalah para pelayan anak merasa tidak punya ide yang kreatif mengenai acara dalam kegiatan tersebut.

Minggu ini, redaksi mengajak Rekan-Rekan semua untuk tidak menyerah ketika kebuntuan ide datang menyerang. Banyak hal di sekitar kita yang dapat menjadi sumber ide. Tidak ada kata "buntu" jika kita selalu mencari dan menggali sumber-sumber ide. Edisi e-BinaAnak kali ini dapat menjadi salah satu tempat kita menemukan ide-ide untuk kegiatan liburan di sekolah minggu. Harapan redaksi, kita justru dapat menemukan ide-ide lain setelah membaca sajian minggu ini. Jangan lupa untuk dibagikan kepada rekan-rekan pelayanan yang lain, ya.

Selamat berkreasi!

Pemimpin Redaksi e-BinaAnak, Davida Welni Dana

evie(at)in-christ.net

116

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 111-116)