Hewan uji yang digunakan ialah larva udang vannamei yang diperoleh dari PT Central Pertiwi Bahari. Bakteri uji yang digunakan ialah isolat bakteri asal bak pemeliharaan larva, Vibrio sp. yang berwarna kuning, hijau, dan yang berluminesen dalam media Thiosulfate
Citrate Bile-salt (TCBS). Probiotik yang
digunakan ialah isolat bakteri asal tambak udang Bacillus sp. IRVE01, IRVE02, dan IRVE03 serta P. stutzeri IRNAE01 koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi IPB. Probiotik pembanding yang digunakan ialah probiotik komersial Epicin-D. Bahan yang digunakan antara lain media untuk pertumbuhan bakteri seperti Sea
Water Complete Agar (SWC-Agar 50%),
TSA (Trypticase Soy Agar), TCBS, Molase
dan Fishmeal. Pakan buatan yang diberikan
ialah BP Eguchi, CP Star 100 dan 200, dan Lanzy ZM serta MPL. Pakan alami yang diberikan ialah alga Skeletonema sp. dan
Artemia. Obat yang diberikan ialah Iodine, EDTA, Formalin, dan Treflan. Alat yang digunakan terdiri atas 6 bak berkapasitas 3.5 ton, 6 set lampu neon, selang aerasi, batu aerasi, timah aerasi, neraca analitik, ORP (Oksidation Reduction Potential)meter tipe RM-12P, Hand Refraktometer, spektrofotometer DR 4000, Erlenmeyer, dan saringan pakan mesh 100 dan 200 µl. Metode
Uji Tantang Vibrio sp. Skala
Laboratorium
Isolat P. stutzeri IRNAE01 dan tiga calon probiotik, yaitu Bacillus sp. IRVE01, IRVE02, dan IRVE03 diremajakan terlebih dahulu dalam media agar SWC 50%, kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 35 0C. Selanjutnya, tiga isolat Vibrio
yang berwarna kuning, hijau, dan berluminesen dalam media TCBS dipindahkan sebanyak satu lup secara aseptik masing-masing ke dalam tiga erlenmeyer yang berisi 50 ml media cair SWC 50%, kemudian dihomogenkan selama 24 jam pada suhu ruang. Ketiga kultur
Vibrio tersebut disuspensikan ke dalam 50
ml media SWC semi padat sebanyak 50 μl, kemudian dihomogenkan. Setelah homogen, media tersebut dituang pada permukaan agar SWC 50 %, lalu didiamkan beberapa saat hingga beku. Isolat Bacillus sp. IRVE01, IRVE02, dan IRVE03 serta P. stutzeri
IRNAE01 hasil peremajaan 48 jam diinokulasikan pada agar tersebut menggunakan tusuk gigi steril, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35 0C.
Bacillus yang menghasilkan senyawa
antimikrob atau memiliki indeks penghambatan terhadap Vibrio ditunjukkan oleh adanya zona bening di sekitar koloni
Bacillus. Salah satu Bacillus yang memiliki indeks penghambatan Vibrio terbesar digunakan sebagai probiotik untuk larva udang. Probiotik terpilih diperkaya ke dalam 300 ml media molase dan fishmeal, kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 35 0C.
Penyiapan Bak Mini Hatchery
Enam bak mini Hatchery dicuci dahulu dengan larutan detergen yang dicampur dengan iodine 100 ppm kemudian dibilas dengan air tawar. Dinding dan lantai bak serta lantai ruang pemeliharaan dibilas lagi dengan larutan kaporit 1000 ppm dan dibiarkan hingga kering. Batu aerasi dan timah pemberat direndam dengan larutan
detergen selama 24 jam, selanjutnya
dilakukan pencucian dan dibilas dengan air tawar. Selang aerasi dicuci dengan detergen
yang dicampur dengan iodine 100 ppm dan dibilas dengan air tawar.
Bak yang sudah kering diisi 2.5 ton air laut yang kadar salinitasnya 30-33 ppt dan sudah difiltrasi serta diozonisasi. Air laut yang masuk ke dalam bak disaring menggunakan saringan air yang terbuat dari bahan khusus. Selang yang sudah dimasukkan timah pemberat dan batu aerasi pada salah satu ujungnya dipasangkan ke bak secara teratur. Semua bak ditutup dengan plastik transparan (Gambar 1).
Sumber kontaminan yang mengganggu kesehatan larva dicegah dengan disediakannya tempat cuci tangan dan cuci kaki menggunakan klorin atau iodin bagi
kesehatan larva, dan SR larva udang dengan jumlah Vibrio sebagai parameter utama.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2007 hingga April 2007 di Laboratorium Scientific Study
(Biotechnology aquaculture), PT Central
Pertiwi Bahari, Kalianda, Lampung.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan AlatHewan uji yang digunakan ialah larva udang vannamei yang diperoleh dari PT Central Pertiwi Bahari. Bakteri uji yang digunakan ialah isolat bakteri asal bak pemeliharaan larva, Vibrio sp. yang berwarna kuning, hijau, dan yang berluminesen dalam media Thiosulfate
Citrate Bile-salt (TCBS). Probiotik yang
digunakan ialah isolat bakteri asal tambak udang Bacillus sp. IRVE01, IRVE02, dan IRVE03 serta P. stutzeri IRNAE01 koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi IPB. Probiotik pembanding yang digunakan ialah probiotik komersial Epicin-D. Bahan yang digunakan antara lain media untuk pertumbuhan bakteri seperti Sea
Water Complete Agar (SWC-Agar 50%),
TSA (Trypticase Soy Agar), TCBS, Molase
dan Fishmeal. Pakan buatan yang diberikan
ialah BP Eguchi, CP Star 100 dan 200, dan Lanzy ZM serta MPL. Pakan alami yang diberikan ialah alga Skeletonema sp. dan
Artemia. Obat yang diberikan ialah Iodine, EDTA, Formalin, dan Treflan. Alat yang digunakan terdiri atas 6 bak berkapasitas 3.5 ton, 6 set lampu neon, selang aerasi, batu aerasi, timah aerasi, neraca analitik, ORP (Oksidation Reduction Potential)meter tipe RM-12P, Hand Refraktometer, spektrofotometer DR 4000, Erlenmeyer, dan saringan pakan mesh 100 dan 200 µl. Metode
Uji Tantang Vibrio sp. Skala
Laboratorium
Isolat P. stutzeri IRNAE01 dan tiga calon probiotik, yaitu Bacillus sp. IRVE01, IRVE02, dan IRVE03 diremajakan terlebih dahulu dalam media agar SWC 50%, kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 35 0C. Selanjutnya, tiga isolat Vibrio
yang berwarna kuning, hijau, dan berluminesen dalam media TCBS dipindahkan sebanyak satu lup secara aseptik masing-masing ke dalam tiga erlenmeyer yang berisi 50 ml media cair SWC 50%, kemudian dihomogenkan selama 24 jam pada suhu ruang. Ketiga kultur
Vibrio tersebut disuspensikan ke dalam 50
ml media SWC semi padat sebanyak 50 μl, kemudian dihomogenkan. Setelah homogen, media tersebut dituang pada permukaan agar SWC 50 %, lalu didiamkan beberapa saat hingga beku. Isolat Bacillus sp. IRVE01, IRVE02, dan IRVE03 serta P. stutzeri
IRNAE01 hasil peremajaan 48 jam diinokulasikan pada agar tersebut menggunakan tusuk gigi steril, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35 0C.
Bacillus yang menghasilkan senyawa
antimikrob atau memiliki indeks penghambatan terhadap Vibrio ditunjukkan oleh adanya zona bening di sekitar koloni
Bacillus. Salah satu Bacillus yang memiliki indeks penghambatan Vibrio terbesar digunakan sebagai probiotik untuk larva udang. Probiotik terpilih diperkaya ke dalam 300 ml media molase dan fishmeal, kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 35 0C.
Penyiapan Bak Mini Hatchery
Enam bak mini Hatchery dicuci dahulu dengan larutan detergen yang dicampur dengan iodine 100 ppm kemudian dibilas dengan air tawar. Dinding dan lantai bak serta lantai ruang pemeliharaan dibilas lagi dengan larutan kaporit 1000 ppm dan dibiarkan hingga kering. Batu aerasi dan timah pemberat direndam dengan larutan
detergen selama 24 jam, selanjutnya
dilakukan pencucian dan dibilas dengan air tawar. Selang aerasi dicuci dengan detergen
yang dicampur dengan iodine 100 ppm dan dibilas dengan air tawar.
Bak yang sudah kering diisi 2.5 ton air laut yang kadar salinitasnya 30-33 ppt dan sudah difiltrasi serta diozonisasi. Air laut yang masuk ke dalam bak disaring menggunakan saringan air yang terbuat dari bahan khusus. Selang yang sudah dimasukkan timah pemberat dan batu aerasi pada salah satu ujungnya dipasangkan ke bak secara teratur. Semua bak ditutup dengan plastik transparan (Gambar 1).
Sumber kontaminan yang mengganggu kesehatan larva dicegah dengan disediakannya tempat cuci tangan dan cuci kaki menggunakan klorin atau iodin bagi
orang yang ingin keluar masuk ruang pemeliharaan, disediakannya peralatan untuk masing-masing bak, dan disediakannya tempat cuci peralatan di samping bak sebelum dan sesudah peralatan digunakan.
Gambar 1 Bak yang ditutup dengan plastik transparan.
Penerimaan Nauplii
EDTA sebanyak 10 ppm dimasukkan ke dalam bak sekitar 7-8 jam sebelum nauplii
masuk. Selanjutnya, dua bak perlakuan IRVE01+IRNAE01 diberi penambahan 500 ml suspensi Bacillus sp. IRVE01 dengan konsentrasi ±108 sel/ml dalam media molase
dan fishmeal yang telah diinkubasi selama
48 jam, sedangkan bak lainnya tidak diberi probiotik sama sekali. Pada saat nauplii
diterima, kantong plastik nauplii dicuci dengan larutan Formalin 200 ppm sebelum masuk ke bak. Kantong plastik nauplii
dibuka di dalam bak, kemudian dilakukan aklimatisasi minimal 15 menit sebelum dituang ke dalam bak. Selama proses tersebut, air laut yang ada di dalam bak ditambahkan ke dalam kantong setiap 5 menit, agar suhu dan kadar salinitas mendekati kondisi air di dalam bak. Kepadatan nauplii yang ditebar ke setiap bak ialah 100 ekor per liter (300.000 ekor dalam 3 ton air).
Manajemen Probiotik
Sebanyak 300 ml suspensi Bacillus sp. IRVE dalam media molase dan fishmeal
dengan konsentrasi ±108 sel/ml ditambahkan masing-masing ke dalam dua bak perlakuan IRVE pada masa perantaraan stadia zoea dan
mysis. Pada masa perantaraan stadia mysis
dan PL ditambahkan 300 ml suspensi P.
stutzeri IRNAE01 dalam media molase dan
fishmeal dengan konsentrasi ±108 sel/ml.
Pada PL 5 diberi penambahan lagi suspensi
Bacillus sp. IRVE dan P. stutzeri IRNAE01
dalam media molase dan fishmeal masing-masing 300 ml. Probiotik komersial, Epicin-D diberikan setiap hari dengan jumlah tertentu ke dalam dua bak perlakuan pembanding (Tabel 1).
Manajemen Pakan dan Obat-obatan Pemberian pakan setiap hari dilakukan sebanyak tiga kali untuk pakan alami dan enam kali untuk pakan buatan. Pakan buatan diberikan pada pagi (05.30 dan 10.00), siang (14.00), sore (17.00), dan malam hari (20.00 dan 00.00). Pakan alami diberikan pada pagi (08.00), sore (16.00), dan malam hari (22.00). Pakan alami Skeletonema sp.
diberikan dari stadia nauplii hingga PL 1. Pakan alami Artemia mulai diberikan pada stadia PL 1 hingga PL 9. Obat-obatan seperti EDTA, Treflan, dan Formalin diberikan pada stadia tertentu. Manajemen pakan buatan, pakan alami, dan obat-obatan dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 1 Jadwal pemberian beberapa jenis probiotik
Manajemen Air Laut
Penambahan 0.17 ton air laut yang kadar salinitasnya sama dengan air di bak dilakukan pada stadia zoea 3, mysis 1, dan
mysis 3. Pengurangan 0.17 ton air laut
dilakukan pada stadia mysis 3, PL 5, dan menjelang panen.
Parameter yang Diamati
Selama uji ini berlangsung, dilakukan pengamatan terhadap kualitas air, kesehatan larva, dan tingkat kelangsungan hidup (SR) larva. Pengamatan kualitas air, seperti analisa parameter fisik, kimia, maupun
Hari Stadia Larva
IRVE IRNAE01 Pembanding
Volume (ml) Volume (ml) ppm gram 0 Persiapan 500 1 N 4-6 2 6 2 Zoea 1 2 6 3 Zoea 1-2 2.5 7.5 4 Zoea 2 2.5 7.5 5 Zoea 3 3 9 6 Zoea /Mysis 300 3 9 7 Mysis 1 3 9 8 Mysis 2 3 9 9 Mysis 3 300 3 9 10 PL 1 4 12 11 PL 2 4 12 12 PL 3 4 12 13 PL 4 4 12 14 PL 5 300 300 4 12 15 PL 6 4 12 16 PL 7 4 12 17 PL 8 4 12 18 PL 9 4 12
mikroba dilakukan sebanyak enam kali, yaitu pada tahap air persiapan, zoea 2, mysis
2, PL 2, PL 5, dan PL 8. Parameter fisik dan kimia kualitas air yang diamati ialah alkalinitas, oksigen terlarut (DO), pH, potensial oksidasi reduksi, salinitas, suhu,
dan Total Ammonia Nitrogen (TAN).
Pengukuran alkalinitas menggunakan indikator fenolftalein (PP), indikator Brom
Cresol Green (BCG), dan indikator Methil
Red (MR), kemudian dititrasi dengan larutan asam sulfat 0.04 N. Pengukuran potensial oksidasi reduksi menggunakan alat ORP meter tipe RM-12P. Pengukuran salinitas menggunakan Hand Refraktometer. TAN diukur berdasarkan metode Phenate, yaitu menggunakan reagen fenol, reagen sodium nitroprusid, dan oxidizing reagent, kemudian konsentrasinya diukur menggunakan spektrofotometer DR 4000 pada panjang gelombang 640 nm (Greenberg et al. 1992).
Pemeriksaan mikroba yang dilakukan ialah analisa total bakteri dan total Vibrio
dari media pemeliharaan larva dan tubuh larva menggunakan media TSA dan TCBS. Selain itu, dilakukan juga pengamatan terhadap jumlah bakteri probiotik Epicin-D
dan Bacillus sp. IRVE di setiap bak
perlakuan dengan metode heat shock, yaitu memanaskan media pemeliharaan larva dan tubuh larva di atas suhu 70 0C selama 10 menit, kemudian dikulturkan dalam media TSA dan TCBS. Pengamatan kesehatan larva, seperti panjang, lebar, bobot larva, dan sebagainya dilakukan setiap 3 hari, yaitu sejak penerimaan nauplii hingga PL 8. SR larva diperoleh dengan membagi jumlah larva yang hidup saat panen dengan jumlah larva yang hidup pada awal perlakuan, kemudian dikalikan 100%.
HASIL
Aktivitas Penghambatan Isolat Bacillus sp. Terhadap Vibrio sp. Secara In Vitro
Vibrio asal bak pemeliharaan larva
udang yang diuji dalam penelitian ini merupakan jenis Vibrio yang berluminesen, yaitu Vibrio sp. H1B14W, H1B14B, H1B13W, H1B13B, H3B21B, dan H3B23B. Umumnya, Bacillus sp. IRVE01 memiliki indeks penghambatan terhadap Vibrio yang lebih besar dibandingkan Bacillus sp. IRVE02 (Lampiran 2). Namun, tidak semua
Vibrio dihambat oleh Bacillus sp. IRVE01.
Dalam penelitian ini, Bacillus sp. IRVE01 hanya menghambat Vibrio sp. H1B13W,
H1B13B, dan H3B23B. Nilai indeks penghambatan Bacillus sp. IRVE01 terbesar ialah sebesar 1.125 terhadap koloni Vibrio
sp. H3B23B (Gambar 2).
Gambar 2 Uji tantang Bacillus sp. IRVE01 terhadap Vibrio sp. H3B23B.
P. stutzeri IRNAE01 dan Bacillus sp.
IRVE03 sama sekali tidak menghambat
Vibrio. Gambar 3 menunjukkan bahwa P.
stutzeri IRNAE01 tidak menghambat Vibrio.
Gambar 3 Uji tantang P. stutzeri IRNAE01 terhadap Vibrio.
Selain itu, P. stutzeri IRNAE01 dapat dihambat oleh Bacillus sp. IRVE01 dan
Bacillus sp. IRVE02. Gambar 4
menunjukkan bahwa P. stutzeri IRNAE01 dapat dihambat oleh Bacillus sp. IRVE01.
Gambar 4 Uji tantang Bacillus sp. IRVE01 terhadap P. stutzeri IRNAE01. Suhu Air Pemeliharaan Larva
Suhu air pemeliharaan dari stadia
nauplii hingga PL 8 berada dalam kisaran
Vibrio sp. H3B23B IRVE02 IRVE03 IRVE01 Zona Bening Vibrio sp. IRNAE01 IRNAE01 IRVE01 Zona Bening
mikroba dilakukan sebanyak enam kali, yaitu pada tahap air persiapan, zoea 2, mysis
2, PL 2, PL 5, dan PL 8. Parameter fisik dan kimia kualitas air yang diamati ialah alkalinitas, oksigen terlarut (DO), pH, potensial oksidasi reduksi, salinitas, suhu,
dan Total Ammonia Nitrogen (TAN).
Pengukuran alkalinitas menggunakan indikator fenolftalein (PP), indikator Brom
Cresol Green (BCG), dan indikator Methil
Red (MR), kemudian dititrasi dengan larutan asam sulfat 0.04 N. Pengukuran potensial oksidasi reduksi menggunakan alat ORP meter tipe RM-12P. Pengukuran salinitas menggunakan Hand Refraktometer. TAN diukur berdasarkan metode Phenate, yaitu menggunakan reagen fenol, reagen sodium nitroprusid, dan oxidizing reagent, kemudian konsentrasinya diukur menggunakan spektrofotometer DR 4000 pada panjang gelombang 640 nm (Greenberg et al. 1992).
Pemeriksaan mikroba yang dilakukan ialah analisa total bakteri dan total Vibrio
dari media pemeliharaan larva dan tubuh larva menggunakan media TSA dan TCBS. Selain itu, dilakukan juga pengamatan terhadap jumlah bakteri probiotik Epicin-D
dan Bacillus sp. IRVE di setiap bak
perlakuan dengan metode heat shock, yaitu memanaskan media pemeliharaan larva dan tubuh larva di atas suhu 70 0C selama 10 menit, kemudian dikulturkan dalam media TSA dan TCBS. Pengamatan kesehatan larva, seperti panjang, lebar, bobot larva, dan sebagainya dilakukan setiap 3 hari, yaitu sejak penerimaan nauplii hingga PL 8. SR larva diperoleh dengan membagi jumlah larva yang hidup saat panen dengan jumlah larva yang hidup pada awal perlakuan, kemudian dikalikan 100%.
HASIL
Aktivitas Penghambatan Isolat Bacillus sp. Terhadap Vibrio sp. Secara In Vitro
Vibrio asal bak pemeliharaan larva
udang yang diuji dalam penelitian ini merupakan jenis Vibrio yang berluminesen, yaitu Vibrio sp. H1B14W, H1B14B, H1B13W, H1B13B, H3B21B, dan H3B23B. Umumnya, Bacillus sp. IRVE01 memiliki indeks penghambatan terhadap Vibrio yang lebih besar dibandingkan Bacillus sp. IRVE02 (Lampiran 2). Namun, tidak semua
Vibrio dihambat oleh Bacillus sp. IRVE01.
Dalam penelitian ini, Bacillus sp. IRVE01 hanya menghambat Vibrio sp. H1B13W,
H1B13B, dan H3B23B. Nilai indeks penghambatan Bacillus sp. IRVE01 terbesar ialah sebesar 1.125 terhadap koloni Vibrio
sp. H3B23B (Gambar 2).
Gambar 2 Uji tantang Bacillus sp. IRVE01 terhadap Vibrio sp. H3B23B.
P. stutzeri IRNAE01 dan Bacillus sp.
IRVE03 sama sekali tidak menghambat
Vibrio. Gambar 3 menunjukkan bahwa P.
stutzeri IRNAE01 tidak menghambat Vibrio.
Gambar 3 Uji tantang P. stutzeri IRNAE01 terhadap Vibrio.
Selain itu, P. stutzeri IRNAE01 dapat dihambat oleh Bacillus sp. IRVE01 dan
Bacillus sp. IRVE02. Gambar 4
menunjukkan bahwa P. stutzeri IRNAE01 dapat dihambat oleh Bacillus sp. IRVE01.
Gambar 4 Uji tantang Bacillus sp. IRVE01 terhadap P. stutzeri IRNAE01. Suhu Air Pemeliharaan Larva
Suhu air pemeliharaan dari stadia
nauplii hingga PL 8 berada dalam kisaran
Vibrio sp. H3B23B IRVE02 IRVE03 IRVE01 Zona Bening Vibrio sp. IRNAE01 IRNAE01 IRVE01 Zona Bening
suhu yang aman bagi pertumbuhan udang, yaitu 27.4-30.6 0C (Gambar 5). Suhu rata-rata terendah terdapat pada kontrol saat stadia PL 2, yaitu 27.7 0C dan tertinggi terdapat pada perlakuan Bacillus sp. IRVE01
dan P. stutzeri IRNAE01 dan pembanding
saat stadia zoea 2, yaitu 30.55 0C.
25,00 26,00 27,00 28,00 29,00 30,00 31,00 Air p ersi apan Z2 M2 PL2 PL5 PL8 Stadia Su h u ( C )
kontrol IRVE01+IRNAE01 Pembanding Gambar 5 Grafik nilai suhu air pemeliharaan
larva pada kontrol dan probiotik. pH Air Pemeliharaan Larva
Nilai rata-rata pH air pemeliharaan kontrol dan perlakuan relatif tidak berbeda nyata, yaitu tiap perlakuan mengalami penurunan pH dari air persiapan hingga stadia PL 8 (Gambar 6). Umumnya, nilai pH di setiap air pemeliharaan berada dalam kondisi optimum (6-9), yaitu pH terendah 7.68 dan pH tertinggi 8.36. 7,20 7,50 7,80 8,10 8,40 8,70 Air p ersi apan Z2 M2 PL2 PL5 PL8 Stadia p H
kontrol IRVE01+IRNAE01 Pembanding Gambar 6 Grafik nilai pH air pemeliharaan
larva pada kontrol dan probiotik. Alkalinitas Air Pemeliharaan Larva
Nilai rata-rata alkalinitas kontrol dan tiap perlakuan dalam penelitian ini berada dalam kisaran alkalinitas yang ideal. Nilai rata-rata alkalinitas terendah terdapat dalam perlakuan pembanding saat air persiapan, yaitu sebesar 82.4 ppm dan nilai tertinggi 188 ppm terdapat dalam perlakuan probiotik
Bacillus sp. IRVE01 dan P. stutzeri
IRNAE01 saat stadia PL 5. Grafik nilai
alkalinitas pada tiap air pemeliharaan larva ditampilkan pada Gambar 7.
0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 Air pe rsiap an Z2 M2 PL 2 PL5 PL8 Stadia A lk a lin it a s ( m g /L )
Kontrol IRVE01+IRNAE01 Pembanding
Gambar 7 Grafik nilai alkalinitas air
pemeliharaan larva pada
kontrol dan probiotik. Oksigen Terlarut (DO)
DO masing-masing air pemeliharaan relatif sama, yaitu di atas 3 ppm dan tidak berbeda nyata (Gambar 8). Nilai rata-rata DO terendah sebesar 3.16 ppm terdapat pada pembanding saat stadia PL 8 dan tertinggi sebesar 3.71 ppm pada pembanding juga saat air persiapan.
2,80 3,00 3,20 3,40 3,60 3,80 Air p ersiap an Z2 M 2 PL2 PL5 PL8 Stadia DO (p p m )
kontrol IRVE01+IRNAE01 Pembanding Gambar 8 Grafik nilai DO air pemeliharaan
larva pada kontrol dan probiotik. Total Ammonia Nitrogen (TAN)
Semenjak awal pemeliharaan larva, TAN semakin meningkat hingga stadia PL 8. Namun, kadar TAN pada setiap air pemeliharaan tidak melebihi 3 ppm, yaitu nilai TAN tertinggi sebesar 2.48 pada perlakuan Bacillus sp. IRVE01 dan P.
stutzeri IRNAE01 dan pembanding saat
stadia PL 8, sehingga masih relatif aman bagi larva tersebut. Grafik yang menunjukkan kadar TAN air pemeliharaan larva dapat dilihat pada Gambar 9.
0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 Z2 M2 PL2 PL5 PL8 Stadia T AN (m g /L )
kontrol IRVE01+IRNAE01 Pembanding Gambar 9 Grafik nilai TAN air
pemeliharaan larva pada kontrol dan probiotik. Sisa Pakan Larva (Klekap)
Ada perbedaan yang nyata antara bak kontrol dan perlakuan dalam pembentukan klekap (sisa pakan yang tidak terdegradasi dan berlendir) di permukaan dasar bak pada saat panen. Gambar 10 menunjukkan bahwa pada kontrol masih banyak terbentuk klekap yang menggumpal dan hampir 60% menutupi seluruh permukaan dasar bak. Pada pembanding juga terlihat adanya gumpalan-gumpalan klekap di permukaan dasar bak, tetapi lebih sedikit jumlahnya dibandingkan kontrol. Pada perlakuan
Bacillus sp. IRVE01 dan P. stutzeri
IRNAE01 hanya menutupi kurang dari 10% dari permukaan dasar bak atau hampir tidak terdapat klekap.
Gambar 10 Klekap pada kontrol dan
perlakuan probiotik.
Populasi Bakteri
Saat menjelang panen, nilai Total
Bacteria Count (TBC) tertinggi dalam air
pemeliharaan larva terdapat pada kontrol, yaitu sebesar 3.000.000 Colony Forming
Unit (CFU)/ml, dan terendah pada Bacillus
sp. IRVE01 dan P. stutzeri IRNAE01, yaitu sebesar 22.100 CFU/ml (Gambar 11). Nilai TBC tertinggi dalam tubuh larva terdapat pada kontrol dan pembanding, yaitu sebesar 300.000 CFU/ml, dan terendah pada
Bacillus sp. IRVE01 dan P. stutzeri
IRNAE01, yaitu sebesar 114.900 CFU/ml saat stadia PL 8 (Gambar 12).
0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 Stadia T BC (CF U/ m L )
kontrol Pembanding IRVE01+IRNAE01
kontrol 2.880 5.900 1.500 44.000 223.000 3.000.000 Pembanding 2.200 2.700 6.200 6.100 6.100 166.000 IRVE01+IRNAE01 5.150 800 2.400 13.000 13.000 22.100
Air
Persiapan Z2 M2 PL2 PL5 PL8
Gambar 11 Jumlah bakteri pada air
pemeliharaan larva. 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 Stadia TB C (CFU /m L )
Kontrol Pembanding IRVE01+IRNAE01
Kontrol 51.800 33.000 42.000 112.000 139.000 300.000 Pembanding 78.000 67.000 105.000 155.000 66.000 300.000 IRVE01+IRNAE01 78.000 43.000 56.000 127.000 56.000 114.900
Air
Persiapan Z2 M2 PL2 PL5 PL8
Gambar 12 Jumlah bakteri pada tubuh larva. Saat stadia PL 8, nilai TVC (Total
Vibrio Count) pada air pemeliharaan kontrol
sebesar 1.470.000 CFU/ml, sedangkan pembanding sebesar 17.500 CFU/ml dan probiotik Bacillus sp. IRVE01 dan P.
stutzeri IRNAE01 sebesar 2.440 CFU/ml
(Gambar 13). -100.000 100.000 300.000 500.000 700.000 900.000 1.100.000 1.300.000 1.500.000 1.700.000 Stadia TV C ( CFU/ m L )
kontrol Pembanding IRVE01+IRNAE01 kontrol 1.400 2.040 8.500 44.000 80.000 1.470.000 Pembanding 600 1.630 3.600 31.000 4.100 17.500 IRVE01+IRNAE01 700 1.570 1.250 4.800 4.200 2.440
Air
Persiapan Z2 M2 PL2 PL5 PL8
Gambar 13 Grafik nilai TVC dalam air
pemeliharaan larva.
Saat stadia PL 2 terjadi kenaikan nilai TVC dalam tubuh larva pada kontrol dan probiotik Bacillus sp. IRVE01 dan P.
stutzeri IRNAE01, sedangkan pembanding
mengalami penurunan (Gambar 14). Nilai TVC tertinggi dalam tubuh larva sebelum dipanen terdapat pada kontrol, yaitu 76.000 CFU/ml 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 Stadia TV C ( CFU /m L )
Kontrol Pembanding IRVE01+IRNAE01 Kontrol 13.900 24.300 36.000 67.000 67.000 76.000 Pembanding 17.600 7.900 63.000 42.000 35.000 37.900 IRVE01+IRNAE01 8.700 6.000 24.900 51.000 34.500 19.600
Air
Persiapan Z2 M2 PL2 PL5 PL8
Gambar 14 Grafik nilai TVC dalam tubuh larva.
Jumlah Bacillus di air pemeliharaan maupun di tubuh larva pada perlakuan
Bacillus sp. IRVE01 dan P. stutzeri
IRNAE01 maupun pembanding diamati menggunakan metode heat shock. Jumlah
Bacillus pada air pemeliharaan larva yang
diberi probiotik pembanding cenderung lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan Bacillus sp. IRVE01 dan P.
stutzeri IRNAE01 (Gambar 15).
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 Stadia T o tal B aci ll u s ( CFU /m L ) Pembanding IRVE01+IRNAE01 Pembanding 990 8000 1970 1370 18300 IRVE01+IRNAE01 1300 1200 315 240 1450 Z2 M2 PL2 PL5 PL8
Gambar 15 Grafik jumlah Bacillus dalam air pemeliharaan larva . Sama halnya dengan jumlah Bacillus di air pemeliharaan, di tubuh larva perlakuan pembanding pun cenderung lebih banyak mengandung Bacillus bila dibandingkan perlakuan Bacillus sp. IRVE01 dan P.
stutzeri IRNAE01. Saat stadia PL 2, jumlah