• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan, Sampel, dan Lokasi

Penelitian menggunakan rancangan cross sectional (potong lintang) yang

mengukur variabel- variabel bebas yaitu: tinggi lutut, panjang depa, tinggi duduk; osteoporosis dan faktor- faktor risikonya yakni wilayah tinggal, umur, jenis kelamin, ekonomi, aktivitas fisik, beban pekerjaan fisik harian, dan asupan kalsium; serta lemak tubuh (persen lemak tubuh dan lemak viseral) dan faktor- faktor risikonya yaitu: wilayah tinggal, umur, jenis kelamin, ekonomi, aktivitas fisik, beban pekerjaan fisik harian, asupan energi, dan asupan lemak dengan variabel terikat yaitu tinggi badan prediksi pada satu waktu.

Besar minimal sampel yang digunakan untuk analisis Multiple Regression

menggunakan formula berikut ini (Denise 1996):

? = R2 R2 = koefisien determinan (digunakan 1-R2 nilai 0,08 untuk menghasilkan

efek size yang cukup besar) = 0,08 1 – 0,08 = 0,087 N = [ L ] + k + 1 ? = [ 15,41 ] + 4 + 1

0,087 N = jumlah responden yang dibutuhkan

= 182 L = kekuatan uji pada a = 0,05, power

0,90, dan 4 prediktor dari tabel

k = jumlah variabel prediktor

= 200 (setelah ditambahkan 10%)

Untuk tiap jenis kelamin lansia dibutuhkan 200 lansia setelah ditambahkan 10% dari jumlah minimal lansia yang dibutuhkan. Total dibutuhkan sebanyak 400 lansia untuk Suku Jawa di 6 lokasi penelitian yaitu:

1. Wilayah perkotaan: Surabaya, Semarang, dan DI Yogyakarta

2. Wilayah pedesaan : Kabupaten Magetan, Wonogiri, dan Gunung Kidul. Untuk menyeleksi lansia yang tidak menderita osteoporosis, maka dari 400 lansia ditambahkan 30% yaitu rata-rata prevalensi osteoporosis lansia usia di atas 55 tahun (Abas & Sri 2006) sehingga total seluruhnya adalah 522 lansia.

Pemilihan Kabupaten Magetan, Gunung Kidul, dan Wonogiri yang mewakili wilayah pedesaan di Propinsi Jatim, DI Yogyakarta, dan Jateng karena ketiganya memiliki proporsi penduduk lansia terbesar di antara kabupaten lain akibat rendahnya angka fertilitas dan tingginya angka out- migrasi (Aris & Evi 2004).

Metode Two Stages Stratified Random Sampling digunakan untuk memilih

lokasimelalui 2 tahap seleksi yaitu di tingkat kecamatan dan kelurahan. Pemilihan kecamatan dan kelurahan dilakukan secara acak dari seluruh daftar kecamatan dan kelurahan yang ada di tingkat propinsi. Sampel penelitian diambil secara acak

dengan menggunakan metode Simple Random Sampling dari tiap-tiap kelurahan

terpilih. Pengumpulan data telah dilakukan oleh ahli gizi terlatih pada bulan Desember 2007– Pebruari 2008.

Kriteria inklusi penelitian adalah lansia yang tinggal/berada di masyarakat baik pria maupun wanita dengan usia lebih dari 55 tahun, memiliki kedua orang tua berasal dari Suku Jawa asli, tinggal sendiri atau bersama keluarga, kondisi tubuh sehat atau masih mampu berdiri tegak, memiliki status densitas massa tulang normal atau osteopenia atau menderita osteoporosis, tidak mengidap stroke atau gangguan ingatan (masih dapat mengingat kejadian lampau dengan cukup baik), serta dapat berkomunikasi dengan baik. Adanya gangguan ingatan dapat dideteksi dari konsistensi informasi yang diberikan oleh responden ketika menjawab pertanyaan kebiasaan makan dan aktivitas fisik usia 25 dan 55 tahun, dan ekspressi wajah responden yang menunjukkan kepastian atau tidak ragu-ragu dalam mengingat kembali kebiasaan makan dan aktivitas fisik. Bila ditemukan keraguan dalam menjawab atau jawaban tidak konsisten, maka responden akan di drop dalam penelitian. Selanjutnya akan dicari responden pengganti yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.

Kriteria eksklusi lansia yang tidak masuk dalam penelitian adalah: lansia memiliki salah satu tangan yang tidak dapat direntangkan karena patah atau akibat tertentu, mengalami patah tulang/kaki palsu, menderita stroke atau gangguan ingatan, dan gangguan berkomunikasi.

Alasan pemilihan lansia penelitian pada Suku Jawa karena suku ini menempati urutan etnis terbesar dari seluruh total populasi Indonesia (41,7%).

Kelompok ini paling banyak menempati wilayah Propinsi Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bahkan proporsi penduduk lansia Suku Jawa sebesar 48,6% berada pada urutan terbesar di antara 4 suku lainnya di Indonesia yaitu Sunda, Melayu, Batak, dan Madura (Aris & Evi 2004).

Pengumpulan Data

Sebelum dilakukan pengumpulan data, peneliti telah melaksanakan 2 hari training bagi 2 tenaga pengukur dari Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dan 4 tenaga lapangan dari Akademi Gizi wilayah setempat.

Materi training meliputi teknik prosedur pengukuran tinggi badan, berat badan, tinggi lutut, tinggi duduk, panjang depa, risiko osteoporosis, persen lemak tubuh, dan lemak viseral. Selanjutnya validasi alat ukur dilakukan dengan mengevaluasi kesalahan intra dan inter-observer 3 tenaga pengukur tersebut menggunakan sub-sampel sebanyak 50 lansia di wilayah Cibubur, Jakarta Timur.

Pada saat training, tiap observer melakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, tinggi lutut, panjang depa, tinggi duduk, persen lemak tubuh, dan lemak viseral masing- masing sebanyak 3 kali. Untuk memelihara kualitas data, seluruh parameter diukur sebanyak 3 kali saat pengumpulan data. Nilai yang diambil adalah nilai tengah bila ketiga nilai itu berbeda atau nilai yang seringkali muncul dari ketiga hasil pengukuran tersebut.

Uji reliabilitas kuesioner pengukuran konsumsi makanan dan aktivitas fisik responden usia 25 dan 55 tahun dilakukan dengan Kappa statistik dan koefisien korelasi Spearman rank. Sebanyak lima puluh lansia yang tinggal di Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur telah diwawancarai sebanyak 1 kali dengan rentang waktu 2 minggu setelah dilakukan wawancara pertama. Materi wawancara adalah frekuensi konsumsi makanan (FFQ semi kuantitatif) dan aktivitas fisik saat usia 25 dan 55 tahun. Selanjutnya dihitung nilai Kappa statistik dan Korelasi Spearman rank. Nilai Kappa statistik berkisar antara 0,39 sampai 0,47. Korelasi Spearman rank ditentukan tiap kali wawancara dan berkisar dari 0,69 (periode pertama) hingga 0,85 (periode kedua).

Berikut adalah serangkaian kegiatan pengukuran antropometri dan data konsumsi makanan lansia yaitu:

1. Berat badan dan tinggi badan. Pengukuran berat badan lansia dilakukan penimbangan dengan timbangan injak merk SECA dengan ketelitian 0,1 kg. Setiap lansia yang akan ditimbang diminta untuk menggunakan pakaian seringan mungkin. Setelah timbangan siap, lansia diminta berdiri di atas timbangan sekitar 1 menit hingga angka hasil penimbangan muncul dan dicatat petugas. Sedangkan pengukuran tinggi badan lansia dilakukan dengan menggunakan alat pengukur tinggi badan mikrotoa dengan ketelitian 0,1 cm. 2. Tinggi lutut. Tinggi lutut diukur dengan caliper berisi mistar pengukuran

dengan mata pisau menempel pada sudut 900. Alat yang digunakan adalah alat

ukur tinggi lutut terbuat dari kayu. Lansia yang diukur dalam posisi duduk atau berbaring/tidur. Pengukuran dilakukan pada kaki kiri antara tulang tibia

dengan tulang paha membentuk sudut 900. Alat ditempatkan di antara tumit

sampai bagian proksimal dari tulang platela. Pembacaan skala dilakukan pada alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm.

3. Panjang depa. Pengukuran panjang depa dilakukan dengan alat mistar panjang 2 meter. Panjang depa biasanya menggambarkan hasil pengukuran yang sama denga n tinggi badan normal dan dapat digunakan untuk menggantikan pengukuran TB. Lansia yang diukur harus memiliki kedua tangan yang dapat direntangkan sepanjang mungkin dalam posisi lurus lateral dan tidak dikepal. Jika salah satu kedua tangan tidak dapat diluruskan karena sakit atau sebab lainnya, maka pengukuran ini tidak dapat dilakukan. Lansia berdiri dengan kaki dan bahu menempel melawan tembok sepanjang pita pengukuran ditempel di tembok. Pembacaannya dilakukan dengan skala 0,1 cm mulai dari bagian ujung jari tengah tangan kanan hingga ujung jari tengah tangan kiri. Panjang depa juga dapat diukur dengan posisi telentang/berbaring, tetapi menimbulkan beberapa kesulitan sehingga hasilnya kurang akurat (WHO 1995).

4. Risiko osteoporosis. Pemeriksaan Densitas Massa Tulang (DMT) dilakukan

dengan alat Sahara Clinical Bone Sonometer bekerjasama dengan PT.

sensitivitas cukup tinggi (highly predictive) dalam memprediksi fraktur osteoporosis atau individu dengan risiko tinggi terpapar fraktur tulang di masa yang akan datang sehingga validitasnya cukup tinggi. Dua studi terdahulu menemukan bahwa ha sil test ultrasound Sahara Bone Sonometer hampir mendekati risiko fraktur pinggang seperti hasil yang ditunjukkan dengan alat DXA yang menggunakan sinar X-Ray (WHO Tanpa Tahun).

5. Persen lemak tubuh dan lemak viseral dengan alat ukur Omron Body Fat

Analyzer HBF 352 .

6. Tinggi duduk dengan alat ukur antropometer terdiri dari bangku duduk sepanjang 44 cm bagi lansia pria dan 40 cm bagi lansia wanita.

7. Responden juga diwawancara riwayat konsumsi makanan dengan alat ukur

semi kuantitatif FFQ (Food Frequency Questionnaire) saat usia 25 dan 55

tahun.

Tabel 5 Distribusi jumlah penduduk lansia 55-65 tahun di 6 lokasi penelitian Tahun 2005

Propinsi Lokasi Penelitian Jumlah Penduduk (jiwa) Proporsi Lansia (%) Laki-Laki Perempuan Laki-laki Perempuan

Jatim Kota Surabaya 65.330 74.392 14,5 16,4 Total 139.722 30,9 Kab. Magetan 29.783 30.389 6,6 6,7 Total 60.172 13,3

Jateng Kota Semarang 23.256 29.463 5,1 6,5 Total 52.719 11,6 Kab.Wonogiri 51.844 55.272 11,4 12,2 Total 107.116 23,6 DI Yogyakarta Yogyakarta 9.836 11.702 2,2 2,6 Total 21.538 4,8 Gunung Kidul 34.186 37.579 7,5 8,3 Total 71.765 15,8 Grand Total 214.235 238.797 47,3 52,7 453.032 100,0 Sumber:

SUPAS (Survey Penduduk Antar Sensus) 2005

Pertanyaan dalam kuesioner meliputi frekuensi konsumsi nasi sebagai makanan pokok/utama per hari, kebiasaan konsumsi makanan sumber kalsium saat berusia 25 tahun dan 55 tahun, aktivitas fisik (kegiatan fisik harian, waktu

luang, dan olahraga) yang dilakukan saat berusia 25 tahun dan 55 tahun. Bagi lansia yang terdeteksi menderita osteoporosis (memiliki nilai skor T > -2,5 SD), maka dilanjutkan dengan pertanyaan seputar keluhan yang diderita antara lain: sakit di bagian leher, tulang, retak/patah tulang, sakit punggung; tindakan yang dilakukan setelah mengalami gejala/keluhan tersebut; perubahan pola makan, dan aktivitas fisik termasuk olahragaPerbandingan kebiasaan makan dan aktivitas fisik pada kedua periode usia muda (25 tahun), dan usia lanjut dini (55 tahun) dapat mencerminkan gambaran kondisi kepadatan tulang saat ini. Pemilihan kelompok usia 25 dan 55 tahun berdasarkan fakta bahwa usia 25 tahun termasuk pada usia dewasa muda (Koesmanto 2007). Rata-rata usia menikah laki- laki di Indonesia adalah 25 tahun, dan wanita usia 22 tahun. Diduga ada perubahan pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik sejak menikah sampai lanjut. Usia 55 tahun merupakan batasan usia pensiun bagi pegawai negeri sipil (PNS) sesuai UU No. 4 Tahun 1965 yang menyatakan bahwa seseorang dikatakan orang jompo atau usia lanjut bila telah mencapai usia 55 tahun tidak mampu mencari nafkah sendiri untuk keebutuhan hidupnya sehari- hari. Menurut Depkes (2006), batasan usia lanjut dini atau mulai memasuki masa usia lanjut pada usia 55 tahun.

Tabel 6 Jumlah populasi lansia berdasarkan jenis kelamin di 6 lokasi penelitian

Kabupaten/Kota Jenis Kelamin Total Laki- laki Perempuan

n % n % n % Surabaya 412 47,5 455 52,5 867 100 Magetan 110 35,4 201 64,6 311 100 Semarang 106 34,9 198 65,1 304 100 Wonogiri 356 45,5 426 54,5 782 100 Yogyakarta 105 35,9 187 64,1 292 100 Gunung Kidul 122 36,3 211 63,7 333 100 Total 1211 41,9 1678 58,1 2889 100 Proporsi lansia perempuan lebih besar dibandingkan laki- laki dari hasil

pencatatan data lansia usia 55-65 tahun di puskesmas, posbindu lansia, dan ketua RW setempat (Tabel 6). Gambaran yang sama ditemukan pada distribusi lansia usia 55-65 tahun di 6 lokasi penelitian berdasarkan Survey Penduduk Antar

Sensus Tahun 2005 (Tabel 5). Hasil penelitian juga menggambarkan jumlah lansia perempuan lebih besar daripada laki- laki.

Tabel 7 Distribusi lansia di 6 lokasi penelitian berdasarkan tingkat kecamatan dan kelurahan terpilih

Lokasi Penelitian Kecamatan Kelurahan/Desa Jumlah Responden (Orang)

Surabaya 211 Simokerto Simokerto Tambakrejo Bubutan Gundih Tembok Dukuh Sawahan Kupangkrajan Banyu Urip Magetan 81 Barat Rejomulyo Purwodadi Magetan Tawang Anom

Kepolorejo

Plaosan Plaosan Pacalan

Semarang 158 Semarang Barat Panggung Lor

Bulu Lor

Semarang Utara Gisikdrono Kembang Arum Candisari Jomblang Tegalsari Wonogiri 149 Pracimantoro Pracimantoro Suci

Jat iroto Jatiroto Jatirejo Wonogiri Giritirto Giripurwo Yogyakarta 79 Ngampilan Notoprajan Ngampilan Gedongtengen Pringgokusuman Sosromeduran Gondomanan Ngupasan Prawirodirjan Gunung Kidul 131 Wonosari Wonosari Ngeposari Tepus Tepus Sidoharjo Semanu Semanu Baleharjo TOTAL 812

Tabel 7 menggambarkan distribusi jumlah responden penelitian di 6 lokasi penelitian. Jumlah responden lansia terbesar di Kota Surabaya, dan terendah di Kota Yogyakarta.

Salah satu kriteria inklusi lansia penelitian adalah usia 55-65 tahun, tetapi banyak lansia yang sebelumnya tidak terpilih secara acak dan usianya tidak sesuai kriteria inklusi datang ke tempat penelitian minta diukur dan diwawancarai. Mereka tahu kegiatan pengukuran itu dari teman-temannya maupun dari aparat desa/kelurahan setempat. Kumpulan lansia yang tidak memenuhi kriteria usia inklusi, tetapi sepanjang masih mampu berdiri tegak dan memenuhi kriteria inklusi lainnya, mereka tetap diukur dan dan diwawancarai. Tempat pengukuran antropometri dan wawancara di balai desa/posbindu/kantor kelurahan/ rumah kader posbindu. Total terkumpul 812 lansia (612 lansia usia 55-65 tahun dan 200 lansia usia 66-84 tahun).

Gambar 4 Skema pemilihan responden di tingkat kecamatan dan kelurahan/desa. Pemilihan lansia penelitian dilakukan secara acak dari data jumlah dan nama-nama lansia di tiap kelurahan/desa. Data-data lansia dikumpulkan dari kader posbindu, bidan puskesmas, dan ketua/pengurus RW setempat. Setelah nama-

PROPINSI IBUKOTA PROPINSI KECAMA- TAN A KECAMA- TAN B KECAMA- TAN C KECAMA- TAN D KECAMA- TAN E • LANSIA WANITA

• LANSIA LAKI-LAKI • LANSIA WANITA

• LANSIA LAKI-LAKI

KEL. / DESA KEL. / DESA

nama lansia terpilih secara acak, selanjutnya mereka diberikan undangan untuk menghadiri acara kegiatan pengukuran di lokasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti dan kader/pengurus RW setempat. Undangan itu dikirimkan secara langsung ke rumah-rumah mereka oleh kader/pengurus RW. Pada 6 lokasi penelitian di Kota Semarang dilakukan kegiatan minum susu Produgen bersama setelah peneliti berhasil melakukan kerjasama dengan Produgen DI Yogyakarta. Penetapan lokasi penelitian dilakukan dengan teknis sebagai berikut: di tiap kota/kabupaten dipilih 3 kecamatan secara acak dari seluruh kecamatan yang ada. Di tiap kecamatan terpilih, selanjutnya diambil 2 kelurahan/desa secara acak pula. Dari 1 kelurahan/desa terpilih, dilakukan seleksi sejumlah lansia yang memenuhi kriteria inklusi untuk diukur tinggi badan, berat badan, tinggi lutut, panjang depa, tinggi duduk, skor T, persen lemak tubuh, dan lemak viseral. Skema pengumpulan data di lapangan disajikan pada Gambar 4.

Pengolahan Data

Semua data yang diperlukan setelah dicatat dalam formulir khusus, dipindahkan ke dalam lembaran data di komputer dan dilakukan pengkodean untuk ditabulasi atau dianalisis. Data yang terkumpul diolah dengan Program SPSS versi 13. Data yang bersifat deskriptif disajikan dalam bentuk tabel atau gambar. Proses manajemen data yang dilakukan sebelum data dianalisis adalah sebagai berikut:

1. Editing terhadap kuesioner yang telah terisi. Bila ditemukan kejanggalan (in-konsistensi informasi dan kelengkapan data) segera dilakukan pengecekan ulang di lapangan.

2. Entry data, dilakukan melalui perangkat lunak komputer.

3. Cleaning data, dilakukan setelah entry data dengan melihat distribusi

frekuensi data mentah (raw data). Bila terdapat kesalahan, dilakukan

Data berat badan, tinggi badan, tinggi lutut, panjang depa, tinggi duduk, skor T, persen lemak tubuh, dan lemak viseral dikelompokkan menjadi data numerik/kontinyu. Wilayah tinggal, jenis kelamin, usia, ekonomi (tingkat pendidikan), tingkat aktivitas fisik, osteoporosis, tingkat persen lemak, dan tingkat lemak viseral dikelompokkan menjadi data kategori.

Persen lemak tubuh pada awalnya dibuat menjadi data numerik. Selanjutnya data persen lemak tubuh diubah menjadi data kategori sebagai berikut (Omron 20060):

• Normal : 20-30% (wanita)

10-20% (pria)

• Mendekati tinggi: 30-35% (wanita)

20-25% (pria)

• Tinggi : > 35% (wanita) 25% (pria)

Sementara pengelompokan tingkat lemak viseral dilakukan dengan memenuhi kriteria dari Omron (2006) yaitu:

• Normal : 1 - 9

• Mendekati tinggi : 10-14

• Tinggi : > 15

Data kebiasaan makan dan aktivitas fisik saat usia 25 tahun dan 55 tahun dikumpulkan dari hasil wawancara seluruh lansia yang telah diukur antropome trinya. Rata-rata jumlah makanan sumber karbohidrat, protein, dan lemak yang dikonsumsi oleh responden diperoleh dari wawancara frekuensi konsumsi jenis makanan yang dimakan. Selanjutnya porsi/ukuran makanan yang dikonsumsi (gram) dikalikan dengan frekuens i konsumsi/hari. Bila frekuensi konsumsi makanan dalam satuan minggu sebanyak 2 kali, maka 2 dibagi 7 dan dikalikan dengan berat porsi makanan tersebut dalam satuan gram. Bila frekuensi dalam satuan bulan dibagi 30, dan satuan tahun dibagi 365 hari. Berikut adalah illustrasi pengalian tersebut:

Jenis Makanan Frekuensi Konsumsi URT (gram) > 1 x perhari 1 x perhari 3 – 5 x per- mg 1-2 x Per mg 2 – 3 x per bln 1 x per- bln 1-2 x per- thn Tidak pernah Karbohidrat a. Nasi 8 7 6 5 4 3 2 1 2 / 7 x berat nasi b. Biskuit crackers/ marie 8 7 6 5 4 3 2 1 2/365 x berat biskuit

Data aktivitas fisik meliputi kegiatan fisik harian, waktu luang harian, dan olahraga dikumpulkan dalam 2 periode yaitu saat usia 25 tahun dan 55 tahun. Bila responden menjawab ya pada pertanyaan ketiga kegiatan itu, maka diberikan nilai 1 dan bila tidak mendapat nilai 0.

Untuk olahraga, terdapat 3 item penilaian yaitu jenis olahraga, lama/durasi/minggu, dan frekuensi/minggu. Jenis olahraga dibagi menjadi menjadi 3 tingkat yaitu ringan (bobot 3,5), sedang (5,5), dan berat (7,5)

berdasarkan kategori dari Durnin dan Passmore (1955) ---à skor untuk

daftar kegiatan terlampir. Lama olahraga/minggu dalam satuan jam terdiri dari 5 skor yaitu:

• Skor 1 bila < 1 jam

• Skor 2 bila 1-2 jam

• Skor 3 bila 2-3 jam

• Skor 4 bila 3-4 jam

• Skor 5 bila > 4 jam

Frekuensi melakukan olahraga per minggu diberikan skor 1-5 yaitu:

• Skor 1 bila 1 kali

• Skor 2 bila 2 kali

• Skor 3 bila 3 kali

• Skor 4 bila 4 kali

• Skor 5 bila > 4 kali

Skor lama olahraga dikalikan dengan skor frekuensi/minggu, lalu dibagi 7 dan dikalikan 60 untuk diubah ke menit. Hasil perkalian ini dikalikan bobot jenis olahraga untuk memperoleh energi yang dikeluarkan per menit.

Jenis kegiatan fisik harian disesuaik an dengan jenis pekerjaan yang ditekuni saat usia 25 tahun dan 55 tahun. Pemberian bobot dilakukan pada tiap-tiap kegiatan fisik harian yang dilakukan pada kedua periode tersebut (FAO/WHO/UNU 1985, dan Durnin & Passmore 1955). Bila terdapat lebih dari 1 kegiatan yang dilakukan, maka dihitung bobotnya masing- masing. Bobot tiap kegiatan dikalikan lama kegiatan/hari dan dikalikan 60 menit untuk mengubahnya ke satuan menit. Lama kegiatan fisik harian terdiri dari 5 skor yaitu:

• Skor 1 bila < 1 jam

• Skor 2 bila 1-2 jam

• Skor 3 bila 2-3 jam

• Skor 4 bila 3-4 jam

• Skor 5 bila > 4 jam

Tiap kegiatan dihitung perkalian bobot dan skornya. Bila terdapat lebih dari satu kegiatan, maka dijumlahkan seluruhnya untuk memperoleh total energi yang dikeluarkan per hari.

Kegiatan waktu luang harian diberikan bobot berdasarkan tingkat berat ringannya (FAO/WHO/UNU 1985, dan Durnin & Passmore 1955). Bobot dikalikan dengan skor lama kegiatan/hari. Nilai skor lama kegiatan waktu luang /hari adalah sama dengan skor kegiatan fisik harian di atas. Perhitungan jumlah energi pengeluaran harian untuk kegiatan waktu luang sama dengan perhitungan energi pengeluaran kegiatan fisik harian di atas.

Penjumlahan nilai skor olahraga dengan kegiatan fisik harian, dan waktu luang dilakukan untuk memperoleh total nilai energi yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik. Tingkat aktivitas fisik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: ringan, sedang, dan tinggi berdasarkan rata-rata pengeluaran energi total tersebut. Makin tinggi nilai SKOR menunjukkan tingkat aktivitas yang semakin tinggi (bobot kegiatan terlampir)

Analisis Data Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk menjelaskan atau menggambarkan karakteristik masing- masing varaibel yang diteliti dalam bentuk distribusi frekuensi. Tujuannya adalah untuk melihat seberapa besar proporsi tiap-tiap variabel yang diteliti atau dengan kata lain untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi variabel berskala nominal atau ordinal. Variabel berskala interval atau ratio dieksplorasi dengan melihat Rata-rata, median, standard deviasi, dan range.

Variabel yang memiliki data numerik/kontinyu digambarkan dengan nilai Rata-rata (jika distribusi data bersifat normal), dan standard deviasi, sedangkan variabel dengan data ordinal/nominal didistribusikan dalam satuan persen.

Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk memeriksa kenormalan distribusi data variabel numerik yaitu tinggi badan, berat badan, tinggi lutut, panjang depa, tinggi duduk, skor T, persen lemak tubuh, dan lemak viseral.

Analisis Bivariat

Analisis hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan terikat melalui uji statistik disebut analisis bivariat. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat hubungan dan besarnya hubungan antara variabel bebas dan terikat serta faktor-

faktor lain yang diduga sebagai variabel perancu yang potensial (potential

confounding variable).

Perbedaan rata-rata antropometri berdasarkan tinggi badan, berat badan, tinggi lutut, panjang depa, dan tinggi duduk dengan faktor- faktor penentunya yaitu wilayah, tingkat pend idikan, beban pekerjaan fisik harian pada usia 25 dan 55 tahun dianalisis dengan uji-t independen (independent-t test). Uji yang sama juga dilakukan untuk memperoleh perbedaan rata-rata status densitas massa tulang (DMT) dengan faktor- faktor risikonya yait u: wilayah tinggal; jenis kelamin; kelompok umur; tingkat pendidikan akhir; beban kerja usia 25 dan 55 tahun; dan tingkat aktivitas fisik usia 25 dan 55 tahun;

Uji t independen dilakukan juga untuk menilai perbedaan rata-rata tingkat persen lemak tubuh dan lemak viseral dengan faktor-faktor risiko yang sama dengan di atas.

Uji Kai Kuadrat digunakan untuk memperoleh hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang keduanya bersifat kategori dengan batas kemaknaan (p) < 0,05 atau p < 0,01 pada tingkat kepercayaan 95%. Status osteoporosis terdiri dari 3 kelompok yaitu normal, osteopenia, dan osteoporosis. Tingkat persen lemak tubuh dan lemak viseral masing- masing dibagi dalam 3 kategori: normal, mendekati tinggi, dan tinggi. Hubungan antara faktor-faktor risiko dengan osteoporosis dan lemak tubuh dianalisis dengan uji Kai Kuadrat.

Analisis Multivariat

Tujuan analisis multivariat adalah untuk menggambarkan beberapa variabel bebas dengan variabel terikat secara simultan dalam populasi. Analisis multivariat akan menghasilkan:

1. Variabel bebas yang berisiko paling besar (paling dominan) terhadap

variabel terikat.

2. Hubungan variabel bebas dengan variabel terikat dipengaruhi oleh variabel lain atau tidak (confounding factors).

3. Bentuk hubungan yang terjadi, apakah langsung atau tidak langsung. Variabel-variabel bebas yang dianalisis secara multivariat dalam penelitian ini adalah:

1. Tinggi lutut, panjang depa, dan tinggi duduk dengan variabel terikat

tinggi badan.

2. Faktor-faktor risiko: wilayah tinggal, jenis kelamin, kelompok usia,

tingkat pendidikan akhir, beban kerja fisik harian, tingkat aktivitas fisik, dan ekonomi (tingkat pendidikan akhir ) dengan variabel terikat osteoporosis.

3. Faktor-faktor risiko: wilayah tinggal, jenis kelamin, kelompok usia,

tingkat pendidikan akhir, beban kerja fisik harian, tingkat aktivitas fisik, dan ekonomi (tingkat pendidikan akhir) dengan lemak tubuh