• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian di laksanakan di Laboratorium Keteknikan Kayu dan Laboratorium Kayu Solid, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor serta kawasan Konservasi Sumberdaya Alam Pulau Rambut. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 6 bulan, terhitung dari bulan Juli 2006 sampai dengan bulan Desember 2006.

Bahan dan Alat

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu karet (Hevea

brasiliensis Muell. Arg), rasamala (Altingia excelsa Noronha), nangka

(Artocarpus heterophyllus Lamk.) dan batang kelapa (Cocos nucifera L.). Batang kelapa dibedakan menjadi tiga bagian yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung. Bagian pangkal, tengah dan ujung batang kelapa yang digunakan adalah 33%, 33%-66% dan 66%-99% bagian batang di atas tanah dari panjang batang total. Pembagian batang kelapa dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

66%-99%

33%-66%

33%>

Bahan pembantu yang diperlukan untuk merakit contoh uji adalah tali plastik dan pipa paralon sebagai penyekat antar contoh uji

Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Universal Testing

Machine (UTM) merk Instron, UTM merk Baldwin, gergaji mesin, circular saw,

mesin bor, mesin serut, oven, moisture meter, caliper, mikroskop berkamera, timbangan, meteran, software pengolah data statistik SPSS 11.5 for Windows, alat tulis, hand counter dan kalkulator.

Metode Penelitian

Pembuatan Contoh Uji

Contoh uji yang tidak direndam di laut (kontrol). Metode pengujian sifat fisis yang meliputi berat jenis, kerapatan, kadar air dan sifat mekanik yang meliputi kekakuan lentur, kekuatan lentur dan keteguhan tekan sejajar serat didasarkan pada standar Amerika yaitu, American Society for Testing and

Materials (ASTM) D 143-94 (Reapproved 2000) Standard Test Methods for Small Clear Specimens of Timber. Ukuran contoh uji sifat fisik dan mekanik dapat

dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Contoh uji yang tidak direndam 5 cm

5 cm 76 cm

Contoh uji MOE & MOR

5 cm 5 cm 5 cm Contoh uji BJ, Kerapatan dan KA 20 cm 5 cm Contoh uji

keteguhan tekan sejajar serat

17

Contoh uji yang direndam di laut. Ukuran contoh uji yang direndam di laut merupakan penyesuaian antara standar (ASTM) D 143-94 (Reapproved 2000) dengan standar Keawetan 200 Jenis Kayu Indonesia Terhadap Penggerek di Laut yang disusun oleh Muslich dan Sumarni (2005). Penyesuaian ukuran contoh uji ini dimaksudkan agar dapat dilakukan pengujian sifat fisik mekanik dan sekaligus untuk penghitungan intensitas serangan penggerek kayu di laut. Ukuran contoh uji yang dipasang di laut ini dibagi menjadi dua potong balok dengan ukuran masing-masing 5 x 5 x 76 cm3 untuk pengujian kekakuan lentur dan kekuatan lentur serta 5 x 5 x 20 cm3 untuk pengujian keteguhan tekan sejajar arah serat. Pengujian sifat fisik menggunakan ukuran 5 x 5 x 5 cm3 yang diambil dari sisa pengujian kekakuan dan kekuatan lentur.

Penyusunan contoh uji menjadi rakit sesuai yang dilakukan oleh Muslich dan Sumarni (1987). Ukuran contoh uji dan susunan rakit yang direndam di laut dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Contoh uji yang direndam di laut

selang plastik tali plastik 5 cm 5 cm Lubang bor ø 1 cm 76 cm 20 cm 5 cm

Contoh uji yang sudah dirakit dipasang di perairan Pulau Rambut secara horizontal dan terletak di bawah garis surut air laut, seperti yang telah dilakukan oleh Muslich dan Sumarni (1987). Setelah 3 bulan, contoh uji diambil dan dilakukan penilaian terhadap intensitas serangan penggerek kayu di laut. Setelah dilakukan pengujian sifat fisik dan mekanik kayu, kemudian contoh uji dibelah menjadi tiga bagian seperti Gambar 4 di bawah ini untuk menghitung intensitas serangan penggerek kayu laut.

Gambar 4. Contoh uji penghitungan intensitas serangan

Intensitas serangan dapat diperoleh melalui rumus sebagai berikut :

total kayu permukaan luas kayu permukaan pada serangan luas IS _ _ _ _ _ _ _ = x 100%

Intensitas serangan dalam satu contoh uji dihitung dengan rumus :

n IS IS IS IS n total + + + = 1 2 ... Dimana :

IStotal = intensitas serangan total dalam satu contoh uji ISn = intensitas serangan kedalaman bagian kayu ke-n n = jumlah pembagian kedalaman kayu

Untuk identifikasi jenis penggerek yang menyerang contoh uji dilakukan pengamatan struktur cangkuk dan bentuk palet dari penggerek serta bekas lubang gerek pada contoh uji. Identifikasi jenis penggerek tersebut dilakukan sesuai dengan klasifikasi yang disusun oleh Turner (1966 dan 1971).

dibelah

1,5 cm 5 cm

19

Pengujian Sifat Fisis

Kadar air. Contoh uji berukuran 5 x 5 x 5 cm3 ditimbang untuk mengetahui berat kering udara. Kemudian contoh uji dimasukkan oven pada suhu 103 ± 2 oC selama 24 jam. Setelah 24 jam, contoh uji dimasukkan ke dalam desikator selama kurang lebih 15 menit kemudian ditimbang untuk mengetahui berat kering tanur kayu.

Kadar air kayu yang diuji pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : % 100 x BKT BKT BKU KA − = Dimana : KA = Kadar air (%)

BKU = Berat kering udara (gram) BKT = Berat kering tanur (gram)

Kerapatan dan berat jenis kayu. Contoh uji berukuran 5 x 5 x 5 cm3 ditimbang untuk mengetahui berat kering udara dan diukur volumenya. Kemudian contoh uji dimasukkan oven pada suhu 103 oC selama 24 jam. Setelah 24 jam, contoh uji dimasukkan ke dalam desikator selama kurang lebih 15 menit kemudian ditimbang untuk mengetahui berat kering tanur kayu.

Nilai kerapatan pada kondisi kering udara dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

VKU BKU = ρ Dimana : Ρ = Kerapatan (g/cm3) BKU = Berat kering udara (g) VKU = Volume kering udara (cm3)

Sedangkan nilai berat jenis pada kondisi kering udara dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :

BVKU BKT BJ =

Dimana :

BJ = Berat Jenis

BKT = Berat kering tanur (g)

BVKU = berat air yang dipindahkan oleh volume kering udara (g)

Pengujian Sifat Mekanis

Kekakuan lentur dan kekuatan lentur. Pengujian kekakuan dan kekuatan lentur menggunakan metode one point loading. Metode ini meletakkan beban di tengah-tengah contoh uji yang terletak horizontal. Nilai kekakuan lentur dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

3 3 ) ( 4 ) )( ( bh d L P MOE Δ Δ = Dimana :

MOE = Kekakuan lentur (kg/cm2) Δd = selisih defleksi (cm) ΔP = selisih beban pada daerah proporsi (kg) b = lebar contoh uji (cm) L = jarak sangga (cm) h = tebal contoh uji (cm) Sedangkan nilai kekuatan lentur dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : 2 2 3 bh PL MOR= Dimana :

MOR = Kekuatan lentur (kg/cm2) b = lebar contoh uji (cm) P = Beban maksimum saat kayu rusak (kg) h = tebal contoh uji (cm) L = Jarak sangga (cm)

Keteguhan tekan sejajar serat. Contoh uji berukuran 5 x 5 x 20 cm3 diatur secara vertikal dan diberikan beban secara perlahan-lahan kepadanya hingga terjadi kerusakan. Arah beban yang diberikan searah dengan arah serat kayu. Nilai keteguhan tekan sejajar serat dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

σ tekan sejajar serat =

A

21

Dimana :

P maks = beban maksimum sampai terjadi kerusakan (kg) A = luas penampang contoh uji yang ditekan (cm2)

Rancangan Percobaan

Analisis data menggunakan software SPSS 11.5 for Windows dengan uji anova (rancangan acak lengkap) dilanjutkan dengan uji lanjutan Duncan untuk mengetahui pengaruh faktor jenis kayu dalam pendugaan kekuatan kayu. Serta menggunakan uji-t saling bebas untuk mengetahui perbandingan nilai tengah yang menyatakan perubahan kekuatan kayu dalam satu jenis kayu pada tiap jenis rendaman. Untuk rancangan acak lengkap, model umum yang digunakan adalah sebagai berikut :

Yij = µ + τi + εij Dimana :

Yij : Nilai kekuatan kayu pada uji ke-i ulangan ke-j

µ : Nilai rata-rata kekuatan kayu berdasarkan uji coba kekuatan τi : Pengaruh jenis kayu ke-i terhadap kekuatan kayu

i : rasamala; nangka; karet; batang kelapa bagian pangkal, tengah dan ujung

j : 1, 2, 3, 4, 5

εij : Galat satuan percobaan pada uji ke-i ulangan ke-j Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :

Kekuatan kayu dari beberapa jenis kayu yang diuji pada masing-masing tipe perendaman mempunyai kekuatan yang berbeda.

H0 : τi = 0, artinya bahwa tidak ada perbedaan kekuatan antar jenis kayu H1 : τi ≠ 0, artinya bahwa paling tidak terdapat satu pasang jenis kayu yang

berbeda kekuatannya.

Untuk Uji-T, hipotesis yang diuji adalah :

H0 : μi = μi, artinya bahwa tidak terdapat perubahan kekuatan kayu setelah direndam di laut

H1 : μi ≠ μi, artinya bahwa terdapat perubahan kekuatan kayu setelah direndam di laut

Sifat fisik empat jenis kayu tanpa perendaman di laut

Sifat fisik kayu sangat berpengaruh dan mempunyai hubungan yang positif terhadap sifat mekanik kayu. Oleh karena itu perhitungan sifat fisik kayu tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sifat mekanik dalam pendugaan kelas kuat kayu.

Data hasil pengukuran dan perhitungan mengenai sifat fisik keempat jenis kayu yang tidak direndam secara lengkap disajikan pada Lampiran 1, sedangkan secara ringkas dapat dilihat dalam Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3. Sifat fisik empat jenis kayu tanpa perendaman di laut

Jenis kayu Sifat fisik

Rasamala Nangka Karet (pangkal) Kelapa (tengah) Kelapa (ujung) Kelapa

Min. 12.61 11.43 12.13 13.53 12.96 14.36 Maks. 14.21 12.86 12.77 14.67 13.29 15.76 Kadar Air (%) Rata-rata 13.10 12.18 12.52 14.26 13.12 15.10 Min. 0.77 0.44 0.47 0.43 0.43 0.24 Maks. 0.87 0.58 0.59 0.79 0.64 0.37 BJ Rata-rata 0.84 0.53 0.53 0.60 0.54 0.29 Min. 0.87 0.49 0.53 0.50 0.49 0.28 Maks. 0.99 0.65 0.67 0.90 0.73 0.43 Kerapatan (g/cm3) Rata-rata 0.96 0.60 0.60 0.69 0.61 0.33

Kadar Air. Berdasarkan Tabel 3 diatas, empat jenis kayu yang diteliti memiliki kadar air dengan kisaran nilai rata-rata antara 11,43% hingga 15,76%. Kadar air yang dimiliki oleh kayu berfluktuatif, hal ini dikarenakan kayu memiliki sifat higroskopis dimana sifat ini mempengaruhi kemampuan kayu untuk melepas dan mengikat kandungan air dari udara sekitar. Sifat ini dimiliki kayu untuk menyesuaikan keadaan dengan keadaan lingkungan sekitar. Faktor yang mempengaruhi sifat ini adalah suhu dan kelembaban relatif dari udara sekitar. Kadar air sangat mempengaruhi kekuatan kayu.

Kadar air empat jenis kayu yang diteliti berada dalam keadaan kadar air kesetimbangan (KAK), yaitu suatu keadaan dimana rongga sel kayu tidak terisi air dan sebagian dinding sel kayu terisi oleh air terikat. Selain itu KAK menunjukkan

23

bahwa kayu berada dalam keadaan setimbang dengan kelembaban relatif dan suhu yang terdapat disekitarnya. KA kayu pada keadaan ini relatif tidak melepas ataupun mengikat uap air yang ada di sekitarnya kecuali terjadi perubahan kelembaban relatif dan suhu pada tempat kayu digunakan.

Keadaan empat jenis kayu dalam kadar air kesetimbangan ini dikarenakan oleh pengeringan dengan cara diangin-anginkan pada suhu kamar dan dikondisikan semua contoh uji mendapat perlakuan yang sama. Pengkondisian ini dimaksudkan agar kayu mempunyai dimensi dan sifat fisik mekanik yang stabil pada saat diuji. Keempat jenis kayu diharapkan dan diperkirakan stabil nilai KA yang dimilikinya karena KA kayu dapat mempengaruhi sifat-sifat lain yang dimiliki kayu. Sifat-sifat yang dipengaruhi oleh KA kayu diantaranya adalah berat, kembang susut dan yang paling penting adalah kekuatan atau sifat mekanik kayu. Nilai rata-rata KA keempat jenis kayu dikatakan stabil karena rata-rata KAK kayu di daerah Bogor berkisar antara 12-19%.

Berdasarkan uji statistik (Lampiran 9 dan Lampiran 12), jenis kayu berpengaruh sangat nyata terhadap perbedaan kadar air kayu. Kayu nangka dan kayu karet merupakan jenis kayu yang memiliki KA paling rendah, sedangkan kayu karet, rasamala dan batang kelapa bagian tengah memiliki KA yang tidak berbeda nyata, batang kelapa bagian pangkal memiliki KA yang lebih besar daripada batang kelapa bagian tengah dan batang kelapa bagian ujung memiliki KA yang paling besar. Perbedaan ini dapat diakibatkan oleh hubungan antara komponen kimia nonstruktural penyusun kayu dengan sifat kayu serta hubungan komponen kimia struktural penyusun kayu dengan sifat kayu.

Komponen kimia nonstruktural penyusun kayu yang dapat mempengaruhi sifat kayu adalah terdapatnya zat ekstraktif kayu. Persentase jumlah dan jenis zat ekstraktif kayu bervariasi antar jenis kayu. Zat ekstraktif kayu sebagian besar terdapat dalam lumen sel dan sebagian kecil merembesi dinding sel kayu. Salah satu kelompok jenis zat ekstraktif adalah berupa lilin dimana lilin berfungsi sebagai water repellent yang menolak atau tidak bisa mengikat air. Komponen struktural penyusun kayu yang mempengaruhi sifat kayu diantaranya adalah tebal dinding sel. Keadaan KAK menunjukkan bahwa air yang terdapat dalam kayu

berada pada dinding sel kayu. Tebal dinding sel kayu yang berbeda antar jenis kayu menyebabkan daya tampung air dalam dinding sel kayu juga berbeda.

Kerapatan kayu juga mempengaruhi cepat lambatnya perubahan kadar air yang terjadi. Semakin tinggi kerapatan kayu maka semakin lambat perubahan kadar air, hal ini dikarenakan oleh energi untuk melepaskan uap air yang terkandung dalam dinding sel semakin besar jika dibandingkan kayu dengan kerapatan rendah.

Nilai rata-rata KAK empat jenis kayu berbeda nyata, namun demikian nilai ini masih dalam kisaran nilai KAK. Kadar air kayu pada keadaan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil kesimpulan bahwa kadar air bukan penyebab perbedaan sifat mekanik yang dimiliki keempat jenis kayu tersebut.

13,10 12,18 12,52 14,26 13,12 15,57 0,00 4,00 8,00 12,00 16,00 20,00 RA S A M A LA NA NG K A KA R ET KE L AP A (PAN G K AL ) KE L AP A (T E N G A H ) KE L AP A (UJ UNG ) Jenis Kayu Ka d a r A ir ( % )

Gambar 5. Rata-rata kadar air kesetimbangan empat jenis kayu tanpa perendaman di laut

Berat Jenis dan Kerapatan. Dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-3527-1994 mengenai mutu dan ukuran kayu bangunan terdapat klasifikasi kekuatan kayu bangunan dalam keadaan kering udara. Empat jenis kayu yang tidak direndam di laut berdasarkan berat jenisnya dapat diklasifikasikan kekuatannya berdasarkan SNI 03-3527-1994.

Dari data hasil pengujian di atas (Tabel 3), berat jenis kayu rasamala tanpa perendaman berkisar antara 0,77 hingga 0,87 dengan nilai rata-rata sebesar 0,84. Kayu rasamala ini dapat digolongkan kedalam kelas kuat (KK) II yang memiliki kisaran nilai BJ antara 0,6-0,9. Nilai ini juga sesuai dengan Martawijaya et

al.(1989) yang menyatakan bahwa BJ kayu rasamala adalah sebesar 0,81

25

0,44 hingga 0,58 dengan nilai rata-rata sebesar 0,53 sehingga kayu nangka dapat digolongkan kedalam KK III yang memiliki kisaran nilai BJ antara 0,4-0,6. Begitu juga halnya dengan kayu karet yang termasuk ke dalam kelas kuat III. Untuk batang kelapa bagian tengah dan pangkal sama-sama dapat digolongkan menjadi kelas kuat II-III. Batang kelapa bagian tengah dan pangkal termasuk ke dalam dua kelas kuat. Sesuai aturan yang ada, maka kelas kuat ditentukan pada nilai terendah sehingga batang kelapa bagian tengah dan pangkal termasuk ke dalam kelas kuat III. Nilai berat jenis terkecil dimiliki oleh batang kelapa bagian ujung dengan kisaran nilai antara 0,24-0,37 dengan nilai rata-rata sebesar 0,29. Batang kelapa bagian ujung berdasar berat jenis termasuk dalam KK V.

Uji statistik (Lampiran 9, Lampiran 10 dan Lampiran 11), menunjukkan bahwa jenis kayu berpengaruh sangat nyata terhadap berat jenis dan kerapatan empat jenis kayu yang digunakan dalam penelitian ini pada taraf kepercayaan 95%. Oleh karena itu dilakukan uji lanjut Duncan untuk melihat perbedaan empat jenis kayu tersebut.

Uji Duncan tersebut memperlihatkan bahwa urutan kayu yang memiliki nilai rata-rata BJ dan kerapatan dari tertinggi hingga terendah adalah kayu rasamala, batang kelapa bagian pangkal, batang kelapa bagian tengah, kayu karet, kayu nangka dan batang kelapa bagian ujung. Kayu rasamala memiliki nilai berat jenis dan kerapatan yang tertinggi dan berbeda nyata dengan jenis lainnya. Kayu yang tidak berbeda nyata berat jenis dan kerapatannya adalah batang kelapa bagian pangkal dan tengah, kayu karet, kayu nangka. Batang kelapa bagian ujung memiliki berat jenis dan kerapatan yang terkecil dan berbeda nyata dengan jenis kayu lainnya.

Kerapatan kayu adalah perbandingan antara massa atau berat kayu terhadap volumenya. Kerapatan kayu ini dipengaruhi oleh kerapatan struktur dasar penyusun kayu, kadar air serta mineral dan zat ekstraktif. Dengan kata lain, kerapatan kayu adalah perbandingan antara massa atau berat kayu terhadap volumenya yang dipengaruhi oleh kadar air. Kerapatan kayu identik dengan berat jenis kayu. Berat jenis kayu adalah perbandingan antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada suhu 4oC. Untuk mengurangi kesimpangsiuran, dipakai berat

kering tanur sebagai standar perhitungan BJ, sedangkan volumenya pada keadaan kering udara. 0,84 0,53 0,53 0,60 0,54 0,29 0,00 0,30 0,60 0,90 R A SA MA L A NA N G K A KAR ET KE L APA (PAN G KA L ) KEL AP A (T E N G A H ) K EL APA (U J U N G ) Jenis Kayu Ber a t J e n is

Gambar 6. Rata-rata berat jenis empat jenis kayu tanpa perendaman di laut

Berat jenis dan kerapatan kayu berbeda antar jenis kayu. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi kerapatan kayu yaitu kerapatan struktur dasar kimia struktural penyusun kayu serta sedikit banyaknya struktur dasar kimia nonstruktural penyusun kayu yang berupa mineral dan zat ekstraktif yang terkandung dalam kayu. Faktor ini berbeda antar jenis kayu yang disebabkan oleh proses metabolisme yang berbeda antar tanaman, kondisi tempat tumbuh, iklim dan cuaca. Faktor ini sangat berpengaruh pada keragaman sifat antar jenis maupun dalam satu jenis kayu.

Kerapatan struktur dasar kimia struktural penyusun kayu merupakan faktor pemberi kekuatan pada kayu. Selulosa, holoselulosa dan lignin adalah penyusun sel kayu yang termasuk dalam hal ini. Sel yang paling besar jumlahnya dalam kayu adalah sel serabut dimana sel inilah yang memberikan kekuatan kayu. Susunan antar sel yang semakin rapat akan menyebabkan berat jenis dan kerapatan semakin meningkat karena hal ini berarti rongga sel dalam kayu semakin kecil. Setelah itu, dimensi sel seperti tebal dinding sel serabut, panjang sel serabut juga turut menentukan dalam kekuatan kayu.

Sedangkan struktur dasar kimia nonstruktural adalah faktor yang mempengaruhi berat jenis dan kerapatan kayu tetapi tidak memberikan fungsi

27

kekuatan pada kayu. Termasuk dalam hal ini adalah mineral dan zat ekstraktif kayu.

Keragaman sifat fisik dalam satu batang pohon kelapa disebabkan oleh kerapatan struktur penyusun batang yang berbeda pada tiap bagian. Sudarna (1990) menyatakan bahwa penampang lintang batang kelapa terdiri dari tiga bagian. Bagian paling luar setebal 0,5 cm adalah kulit, di bagian dalam dari kulit terdapat jaringan perifer yang terbagi menjadi dua lapisan yaitu endoperifer dan eksoperifer. Eksoperifer setebal 0,5-1 cm terdiri dari sejumlah besar jaringan serabut, sedangkan endoperifer merupakan lapisan yang berwarna hitam dan keras yang sebagian besar terdiri dari sejumlah ikatan pembuluh, bagian paling dalam adalah jaringan sentral yang berwarna putih kecoklatan dan agak lunak, sebagian besar terdiri dari jaringan parenkim.

Tebal jaringan perifer ternyata bervariasi menurut ketinggian dalam batang, semakin ke arah vertikal jaringan perifernya semakin tipis. Selain itu, tebal jaringan perifer antara pohon cenderung berbeda dimana pohon yang berdiameter kecil mempunyai jaringan perifer yang lebih tebal dibandingkan dengan pohon berdiameter besar.

Secara makroskopis tampak adanya perbedaan kerapatan ikatan pembuluh baik antar kedalaman maupun antar ketinggian dalam batang, di mana semakin ke arah sentral kerapatan ikatan pembuluh semakin berkurang, sedangkan semakin ke arah vertikal batang kerapatan ikatan pembuluh ini bertambah. Diameter ikatan pembuluh juga bervariasi antar kedalaman dan ketinggian batang. Meskipun frekuensi ikatan pembuluh meningkat searah vertikal batang tetapi diameter ikatan pembuluh berkurang semakin ke arah atas batang. Hal inilah yang mengakibatkan kekuatan batang kelapa semakin menurun dari bagian pangkal ke bagian ujung batang dan dari bagian tepi ke bagian dalam batang.

Sifat fisik empat jenis kayu dengan perendaman di laut

Data hasil pengukuran dan perhitungan mengenai kadar air, berat jenis dan kerapatan keempat jenis kayu setelah direndam di laut selama tiga bulan secara lengkap disajikan pada Lampiran 2. Sedangkan nilai rata-rata sifat fisik keempat jenis kayu setelah diserang oleh penggerek kayu laut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Sifat fisik empat jenis kayu setelah direndam di laut

Jenis kayu Sifat fisik

Rasamala Nangka Karet (pangkal) Kelapa (tengah) Kelapa (ujung) Kelapa Min. 15.56 13.03 18.10 18.67 17.80 25.87 Maks. 19.52 14.85 21.37 36.26 24.37 39.01 Kadar Air (%) Rata-rata 17.09 14.20 19.50 26.24 21.82 32.01 Min. 0.71 0.48 0.30 0.26 0.36 0.22 Maks. 0.83 0.54 0.49 0.55 0.52 0.30 BJ Rata-rata 0.79 0.51 0.39 0.41 0.43 0.27 Min. 0.82 0.55 0.36 0.36 0.45 0.30 Maks. 1.00 0.61 0.59 0.66 0.62 0.38 Kerapatan (g/cm3) Rata-rata 0.92 0.58 0.47 0.52 0.52 0.35

Kadar Air. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kayu rasamala, kayu nangka dan kayu karet berada dalam keadaan kadar air kesetimbangan. Kadar air kesetimbangan ini menandakan bahwa kayu memiliki stabilitas dimensi yang tinggi dan kekuatannya optimal karena kadar airnya sudah sesuai dengan kelembaban relatif dan suhu lingkungan sekitarnya. Kadar air tiga jenis kayu tersebut berada di bawah kadar air Titik Jenuh Serat yang berarti bahwa rongga sel sudah tidak berisi air dan sebagian dinding sel terisi air. Kekuatan kayu meningkat jika terjadi penurunan kadar air di bawah kadar air titik jenuh serat hingga batas tertentu, begitu juga sebaliknya, kekuatan kayu akan menurun seiring dengan bertambahnya kadar air hingga kadar air titik jenuh serat. Perubahan kadar air di atas titik jenuh serat tidak akan mempengaruhi perubahan kekuatan kayu. Ketiga bagian batang kelapa memiliki kadar air yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan ketiga jenis kayu lainnya. Batang kelapa bagian pangkal, tengah dan ujung termasuk dalam kayu basah karena kadar airnya berada di atas 20%. Hal ini berarti kadar air mempengaruhi kekuatan kayu pada saat pengujian.

Uji statistik (Lampiran 16), menunjukkan bahwa jenis kayu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air kayu dengan perendaman di laut pada taraf nyata 95%. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji statistik lanjutan untuk melihat perbedaan rata-rata kadar air kayu antar jenis kayu yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan uji lanjut Duncan (Lampiran 19), urutan kadar air paling tinggi hingga paling rendah adalah batang kelapa bagian ujung yang berbeda nyata dengan jenis kayu lainnya, kemudian diikuti batang kelapa bagian

Dokumen terkait