Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di penangkaran rusa milik Universitas Sumatera Utara yang berlokasi di depan Gedung Rektorat Universitas Sumatera Utara, Padang Bulan, Medan. Penelitian dilakukan mulai bulan Maret 2010 sampai Agustus 2011.
Penelitian Tahap I Daya Makan Sukarela
Bahan dan Alat Penelitian Bahan
Hewan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: sembilan ekor rusa betina yang telah dikawinkan dengan kisaran umur 2 – 4 tahun. Rusa betina digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi syarat: pernah beranak satu kali, sehat dan mempunyai proporsi tubuh seimbang. Bahan lain yang digunakan adalah pakan terdiri atas hijauan (campuran rumput dan legume. Obat-obatan yang digunakan selama penelitian untuk menjaga dan mengobati rusa antara lain: obat cacing, obat kutu, cipper killer (obat untuk membasmi serangga), hematophan, biosalamin dan antibiotik pennicilin.
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: sembilan unit kandang individual masing-masing dengan ukuran panjang 7 m dan lebar 2,5 m.
Kontruksi dinding kandang terbuat dari kawat yang diperkuat dengan bambu dengan kerangka kayu pada semua sudut kandang dan lantai kandang dari tanah yang dilapisi pasir. Masing-masing kandang individu dilengkapi tempat pakan hijauan yang terbuat dari kayu diletakkan menempel pada dinding kandang, ember untuk tempat konsentrat dan ember untuk tempat minum, timbangan salter untuk menimbang hijuan dengan ketelitian sebesar 0,1 kg, timbangan digital yang biasa dilakukan untuk menimbang sapi digunakan untuk menimbang rusa dengan ketelitian 0,05 kg.
Peubah Penelitian
Peubah yang diukur selama penelitian tahap I adalah konsumsi pakan sukarela hijuan:
a. Konsumsi hijauan segar yaitu selisih antara jumlah pakan hijauan yang diberikan dengan jumlah pakan hijauan yang tersisa.
b. Konsumsi hijauan dalam bahan kering, yaitu perkalian antara persenstase bahan kering dalam pakan (berdasarkan hasil analisis bahan kering) dengan konsumsi hijuan segar.
Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan Kandang
Kandang individu terdiri atas 9 unit masing-masing dengan ukuran 2.5 x 7 m. Kontruksi kandang terbuat dari kawat dengan kerangka kayu, lantai kandang tanah. Masing-masing kandang dilengkapi tempat pakan dari kayu menempel pada dinding kandang, tempat minum.
2. Rusa Betina Dewasa
Rusa yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 9 ekor rusa betina dewasa setelah dilakukan perkawinan dengan rusa pejantan. Rusa betina pada tahap penelitian ini diperoleh dari perkawinan rusa betina dewasa dengan rusa jantan pada tahap ranggah keras.
Cara memasukkan rusa bunting ke dalam kandang diupayakan dengan cara yang tidak menimbulkan stres yaitu memancing rusa menggunakan hijauan di dalam kandang dan dibiarkan masuk satu per satu ke dalam kandang individu. Setelah rusa bunting masuk ke dalam kandang dilakukan labelling pada setiap kandang individu.
3. Analisis Proksimat.
Untuk mengetahui kandungan dan penghitungan bahan kering dilakukan analisis proksimat di laboratorium pakan ternak.
4. Pemberian Pakan dan Minum.
Rusa diberi pakan hijauan berupa campuran rumput lapangan dan legume secara adlibitum. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum. Air minum diganti setiap hari dan tempatnya dicuci dengan bersih.
5. Penimbangan rusa
Rusa ditimbang dengan menggunakan timbangan digital dengan sistem bongkar-pasang yang memiliki sekat/pagar di sekeliling timbangan untuk memudahkan timbangan masuk kedalam kandang. Penimbangan dilakukan dengan memberi umpan/konsentrat pada salah satu bagian ujung timbangan dan salah satu ujung timbangan lainya di biarkan terbuka untuk jalan masuk rusa kedalam timbangan. Kemudian setelah timbangan selesai dipasang dan umpan/konsentrat telah dimasukan kemudian timbangan di kalibrasi, dan setelah rusa masuk kedalam timbangan dengan keempat kakinya berada diatas timbangan dicatat bobot rusa tersebut.
Penelitian Tahap II Perlakuan Pakan
Bahan dan Alat Penelitian Bahan
Hewan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: enam ekor rusa betina bunting dengan kisaran umur 2 – 4 tahun. Rusa betina bunting yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi syarat: pernah beranak satu kali, saat dimulai penelitian dinyatakan bunting dengan setelah pengamatan Non Return Rate (tidak menunjukkan estrus kembali setelah dikawinkan), sehat dan mempunyai proporsi tubuh seimbang. Bahan lain yang digunakan adalah pakan terdiri atas hijauan (campuran rumput dan legume), konsentrat (campuran dari bungkil inti sawit, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dedak halus, onggok, tepung ikan, urea dan mineral) dan air minum yang diberikan ad libitum. Obat-obatan yang digunakan selama penelitian untuk menjaga dan mengobati rusa antara lain:
obat cacing, obat kutu, cipper killer (obat untuk membasmi serangga), hematophan, biosalamin dan antibiotik pennicilin.
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: enam unit kandang individual masing-masing dengan panjang 7m dan lebar 2,5m. Kontruksi dinding kandang terbuat dari kawat yang diperkuat dengan bambu dengan kerangka kayu pada semua sudut kandang dan lantai kandang dari tanah yang dilapisi pasir.
Masing-masing kandang individu dilengkapi tempat pakan hijauan yang terbuat
dari kayu diletakkan menempel pada dinding kandang, ember untuk tempat konsentrat dan ember untuk tempat minum.
Peralatan lain: timbangan salter untuk menimbang anak rusa dengan ketelitian sebesar 0,1 kg, timbangan digital gantung untuk menimbang bahan pakan penyusun konsentrat dengan ketelitian 0,05 kg, timbangan digital yang biasa dilakukan untuk menimbang sapi digunakan untuk menimbang rusa dengan ketelitian 0,05 kg.
Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 3 (tiga) perlakuan dan 2 (dua) kelompok dengan jarak bobot badan antar kelompok 22 kg dimana:
Kelompok 1 = 52,5 - 74,5 Kg Kelompok 2 = 74,6 - 96,6 Kg Susunan perlakuan terdiri dari :
P1 = Konsentrat dengan kandungan protein kasar (PK) 16% + hijauan.
P2 = Konsentrat dengan kandungan protein kasar (PK) 19% + hijauan.
P3 = Konsentrat dengan kandungan protein kasar (PK) 22% + hijauan.
Kandungan bahan pakan yang digunakan dalam penyusunan ransum dapat dilihat pada Tabel 5.
Sumber: 1-7: Hasil analisis proksimat laboratorium prodi peternakan fakultas pertanian USU.
8:Ultra mineral produksi Ekafarma Semarang.
Berdasarkan kandungan bahan pakan Tabel 5 disusun komposisi ransum dan perhitungan kandungan nutrisi sesuai perlakuan penelitian (Tabel 6).
Tabel 6. Komposisi dan kandungan nutrisi konsentrat perlakuan
No. Susunan Bahan Pakan Perlakuan
P 1 P 2 P 3
Penggunaan Bahan (%)
1 Bungkil Inti Sawit 29 31 33
2 Bungkil Kelapa 10 12 15
3 Bungkil Kedelai 5 11.8 18.78
4 Dedak Padi 33 27.2 19.22
5 Tepung Ikan 1 1 1
6 Ultra Mineral 1 1 1
7 Urea 1 1 1
8 Onggok 20 15 11
Kandungan Nutrisi (%)
1 Protein Kasar 16.00 19.00 22.00
2 Total digestible nutrient 62.47 63.52 65.19
3 Lemak Kasar 5.52 5.25 4.86
4 Serat Kasar 10.50 9.90 9.26
5 Kalsium 0.42 0.43 0.44
6 Fosfor 0.82 0.81 0.77
Susunan pengacakan perlakuan didalam penelitian adalah sebagai berikut : P1K1 P2K1 P3K1 P3K2 P1K2 P2K2
Model rancangan acak lengkap (RAK) menurut Hanafiah (2002) adalah : Yij = μ + αi + βj + ε ij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan ke –i yang memperoleh perlakuan ke-j μ = nilai tengah populasi
αi = pengaruh aditif dari perlakuan ke-i βj = pengaruh aditif dari kelompok ke-j
εij = galat percobaan dari perlakuan ke-i pada kelompok ke-j
Peubah Penelitian
Peubah yang diukur selama penelitian adalah:
1. Konsumsi pakan selama masa kebuntingan.
c. Pakan (hijauan dan konsentrat) segar, yaitu selisih antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah pakan yang tersisa.
d. Konsumsi bahan kering pakan, yaitu perkalian antara persentase bahan kering dalam pakan (berdasarkan hasil analisis bahan kering) dengan konsumsi ransum segar.
2. Pertambahan bobot badan rusa betina selama masa kebuntingan, yaitu selisih antara bobot badan akhir dan bobot badan awal. Penimbangan bobot badan rusa dilakukan secara rutin setiap 30 hari selama masa kebuntingan. Masa kebuntingan diakhiri dengan kelahiran anak rusa.
3. Konversi pakan rusa betina selama masa kebuntingan, yaitu perbandingan antara konsumsi pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan.
4. Bobot lahir anak rusa: bobot badan anak rusa ditimbang sesaat setelah kelahiran. Penimbangan diusahakan tidak mengganggu kemampuan mothering ability induk.
5. Morfometri lahir anak rusa yaitu pengukuran proporsi tubuh anak setelah dilahirkan. Pengukuran dilakukan bersamaan dengan penimbangan awal anak rusa. Pengukuran dilakukan setelah anak rusa ditimbang, pengukuran yang dilakukan adalah panjang badan diukur dari pangkal ekor sampai pangkal leher, tinggi badan di ukur mulai ujung kaki sampai pundak, pengukuran lingkar dada dengan mengukur panjang lingkar dada.
6. Persentase bobot lahir anak terhadap bobot induk yaitu perbandingan antara bobot induk sebelum melahirkan dengan bobot lahir anak.
Analisis Data
Pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati diketahui dari hasil
analisis varian. Uji lanjut dilakukan dengan uji beda nyata terkecil (Steel dan Torrie, 1995).
Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan Kandang
Kandang individu terdiri atas 6 unit masing-masing dengan ukuran 2,5 m x 7 m. Kontruksi kandang terbuat dari kawat dengan kerangka kayu, lantai kandang tanah. Masing-masing kandang dilengkapi tempat pakan dari kayu menempel pada dinding kandang, tempat minum.
2. Seleksi Rusa Betina Bunting
Rusa yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 ekor rusa betina bunting. Kebuntingan rusa diperoleh dari penelitian tahap I dimana rusa telah dinyatakan bunting. Rusa dinyatakan bunting apabila tidak menunjukkan estrus kembali (Non Return Rate) setelah dikawinkan. Rusa betina yang telah bunting dan memenuhi syarat sebagai hewan percobaan dimasukkan dalam kandang individu.
Cara memasukkan rusa bunting ke dalam kandang diupayakan dengan cara yang tidak menimbulkan stres yaitu memancing rusa menggunakan hijauan di dalam kandang dan dibiarkan masuk satu per satu ke dalam kandang individu. Setelah rusa bunting masuk ke dalam kandang dilakukan labelling pada setiap kandang individu.
3. Analisis Proksimat.
Untuk mengetahui kandungan gizi pakan dan penghitungan bahan kering dilakukan analisis proksimat di laboratorium pakan ternak.
4. Pencampuran Konsentrat
Proses pencampuran konsentrat yaitu mencampur bahan yang penggunaanya sedikit terlebih dahulu dimasukkan kedalam wadah atau ember kemudian bahan tersebut di aduk sampai homogen dengan proses manual (dengan menggunakan tangan), kemudian dicampur bahan dengan persentase penggunaaan yang banyak, kemudian diaduk kembali sampai semua bahan homogen dalam wadah atau ember.
5. Pemberian Pakan dan Minum.
Rusa diberi pakan hijauan berupa campuran rumput lapangan dan legume secaraadlibitum. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Pemberian konsentrat 2 kali sehari sesuai perlakuan dan diberikan
sebanyak 1 % dari bobot badan (jumlah konsentrat yang diberikan dihitung berdasarkan bobot badan terakhir penimbangan setiap periodenya). Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum. Air minum diganti setiap hari dan tempatnya dicuci dengan bersih.
6. Penimbangan rusa
Rusa ditimbang dengan menggunakan timbangan digital dengan sistem bongkar-pasang yang memiliki sekat/pagar di sekeliling timbangan untuk memudahkan timbangan masuk kedalam kandang. Penimbangan dilakukan dengan memberi umpan/konsentrat pada salah satu bagian ujung timbangan dan salah satu ujung timbangan lainya di biarkan terbuka untuk jalan masuk rusa kedalam timbangan. Kemudian setelah timbangan selesai dipasang dan umpan/konsentrat telah dimasukan kemudian timbangan di kalibrasi, dan setelah rusa masuk kedalam timbangan dengan keempat kakinya berada diatas timbangan dicatat bobot rusa tersebut.
7. Pengukuran kelahiran dan kinerja reproduksi induk (Toelihere et al., 2005).
a. Angka kelahiran (%) yaitu banyaknya anak yang dilahirkan dibagi jumlah induk yang diberi perlakuan pakan.
b. Bobot lahir (kg) yaitu bobot badan anak saat lahir (diukur dengan mengunakan timbangan salter).
c. Tinggi badan (cm) diukur dari lantai tegak lurus ke titik tertinggi gumba, yaitu pada ruas tulang pungung ketiga atau keempat.
d. Lingkar dada (cm) diukur tepat dibelakang bahu atau dibelakng siku kaki depan dengan melingkar dada, tegak lurus dengan sumbu tubuh.
e. Panjang badan (cm) di ukur mulai dari tonjolan bahu (Tuberositas lateralis os humerus) sampai pada tulang duduk.