Penelitian ini dilaksanakan di lahan penduduk Pasar 1 Tanjung Sari Medan, mulai bulan Mei 2012 sampai Agustus 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit bawang merah varietas Kuning asal Lembang sebagai objek pengamatan, kompos tandan kosong kelapa sawit asal Dr. Mansyur, kompos jerami asal Percut, vermikompos asal Perbaungan, sludge asal Pekanbaru, dan kompos sampah kota asal Tuntungan sebagai perlakuan,air untuk menyiram tanaman, serta fungisida Fungstop.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gembor, meteran, timbangan, pacak sampel, alat tulis, tali plastik, kayu tugal, handsprayer, oven, kalkulator.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Non Faktorial dengan 6 perlakuan sebagai berikut :
1. P0 = Tanpa Bahan Organik (kontrol)
2. P1 = 2000 g Kompos TKKS/plot (20 ton/ha) 3. P2 = 2000 g Sludge/plot (20 ton/ha)
4. P3 = 2000 g Vermikompos/plot (20 ton/ha) 5. P4 = 2000 g Kompos Jerami/plot (20 ton/ha) 6. P5 = 2000 g Kompos Sampah Kota/plot (20 ton/ha) Jumlah ulangan : 5 ulangan
Ukuran plot : 100 cm x 100 cm Jarak antar plot : 30 cm
Jarak antar blok : 50 cm Jumlah tanaman/plot : 25 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 750 tanaman Jumlah sampel/plot : 5 tanaman Jumlah sampel seluruhnya : 150 tanaman Luas lahan : 8,5 m x 8 m
Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan model linear aditif sebagai berikut :
ŷij = μ + ρi + αj + εij i = 1,2,3,4,5 j = 1,2,3,...,6
Dimana:
ŷij : Hasil pengamatan pada ulangan ke-i akibat perlakuan beberapa bahanorganik (P) pada taraf ke-j
µ : Nilai tengah
αj : Efek perlakuan pemberian beberapa bahanorganik (P) pada taraf ke-j εij : Galat dari ulangan ke-i, pemberian beberapa bahanorganik (P) pada taraf
ke-j
Terhadap sidik ragam yang nyata, maka dilanjutkan dengan menggunakan
Uji Beda Rata – Rata Duncan Berjarak Ganda dengan taraf 5 % (Steel dan Torrie, 1993).
Pelaksanaan Penelitian Pengolahan Tanah
Areal pertanaman terlebih dahulu dibersihkan dari rerumputan, sisa-sisa tanaman, dan batu-batuan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Kemudian lahan diolah dan digemburkan menggunakan cangkul dengan kedalaman 20 cm. Kemudian dibuat plot – plot dengan ukuran 100 x 100 cm serta jarak antar plot 30 cm dan jarak antar blok 50 cm.
Aplikasi Bahan Organik
Pengaplikasian bahan organik (kompos TKKS, sludge, vermikompos, kompos sampah kota, dan kompos jerami) dilakukan pada saat seminggu sebelum penanaman. Aplikasi bahan organik diberikan 80 g per lubang tanam (2000 g/plot).
Persiapan Bibit
Bibit yang dipakai, dipilih umbi dengan kriteria besar dan beratnya relatif sama lalu dibersihkan umbi dari akar dan daun yang kering serta dipotongbagian atas umbi agar mempercepat pertumbuhan tunas.
Penanaman
Sebelum dilakukan penanaman terlebih dahulu dibuat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm. Penanaman dilakukan dengan cara memasukkan umbi bibit 1 per lubang tanam yang telah di tentukan. Umbi atau bibit ditanam dengan cara membenamkan setengah bagian umbi ke dalam tanah.
Pemeliharaan Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor pada awal pertumbuhan sampai tanaman berumur ± 4 MST, dimana pada awal tanam air hujan kurang sehingga dilakukan penyiraman pada sore hari dan minggu selanjutnya tidak dilakukan penyiraman karena curah hujan tinggi.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada awal pertumbuhan sampai umur 7 hari setelah tanam (HST) dengan mengganti umbi busuk atau mati dengan umbi yang sehat.
Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan apabila ada gulma yang tumbuh di plot perlakuandan sekitar areal percobaan. Penyiangan pada plot perlakuan dilakukan secara manual dan penyiangan pada areal sekitar lahan percobaan dilakukan dengan menggunakan cangkul. Pembumbunan dilakukan sekali setiap minggu mulai pada tanaman berumur 4 MST hingga 7 MST yang bertujuan untuk menjaga tanaman agar tidak mudah rebah, menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan umbi, dan untuk merangsang pertumbuhan tanaman.
Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit dilakukan dengan fungisida Fungstop, dosis 7 g/l. Pengendalian penyakit dilakukan setiap 2 kali setiap minggu sampai tanaman berumur 7 MST dengan cara di semprot padaseluruh bagian tanaman. Penyemprotan dilakukan untuk mengendalikan dan mencegah tanaman bawang merah terserang penyakit yang dapat menyebabkan tanaman membusuk ataupun mati karena curah hujan yang tinggi pada saat penanaman dilakukan.
Panen
Panen dilakukan pada umur 70 hari setelah tanam (HST) pada saat tanah kering agar terhindar dari penyakit dengan cara mencabut seluruh tanaman dengan menggunakan tangan lalu akar dan tanahnya dibersihkan. Pemanenan dilakukan dengan kriteria panen antara lain adalah 60 - 70% leher daun lemas, daun menguning, umbi padat tersembul sebagian di atas tanah, dan warna kulit mengkilap.
Pengeringan
Pengeringan dilakukan selama 2 minggu dengan cara menghamparkan dilantai lalu dikeringanginkan pada suhu ruangan di Laboratorium Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian USU. Pengeringan dilakukan sampai penyusutan bobot umbi berkisar ± 20%, dilakukan dengan cara menimbang bobot kering secara berulang sampai didapat penyusutan bobot umbi sekitar ± 20%.
Pengamatan Parameter Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari leher umbi sampai ke ujung daun tertinggi. Tinggi tanaman dihitung mulai 2 MST sampai7MST, yang dilakukan dengan interval 1 minggu sekali.
Jumlah Anakan per Rumpun (anakan)
Dihitung jumlah anakan yang terbentuk dalam satu rumpun, dilakukan pada umur 2 MST sampai 7 MST, yang dilakukan dengan interval 1 minggu sekali.
Rasio Tajuk Akar
Ratio tajuk akar (shoot / root ratio) diperoleh dengan membagi bobot kering tajuk dengan bobot kering akar.Bobot kering tajuk dan akar diperoleh dengan menimbang bobot kering 3 sampel tanaman destruktif yang diambil pada akhir vegetatif (7 MST). Bobot kering tajuk termasuk didalamnya bobot kering umbi yang didapat setelah diovenkan dengan suhu 34 – 350 C selama ± 12 jam dan bobot kering daun yang didapat setelah diovenkan dengan suhu 600 C selama 2x24 jam sedangkan bobot kering akar didapat setelah akar diovenkan suhu 105oC selama 1x24 jam.
Bobot Segar Umbi per Sampel ( g )
Bobot segar umbi per sampel ditimbang setelah dipanen. Sebelum ditimbang umbi dibersihkan dan dipisahkan dari daun dan akar tanaman.
Bobot Kering Umbi per Sampel ( g )
Bobot kering umbi per sampel ditimbang setelah dikeringanginkan pada suhu ruang selama 2 minggu sampai susut bobot ± 20%.
Jumlah Siung per Sampel
Jumlah siung dihitung setelah tanaman dipanen. Jumlah siung dihitung dengan cara mengupas bagian kulit luar umbi dan dihitung jumlah siungnya. Jumlah siung dihitung pada setiap tanaman sampel.