• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan Oktober 2011.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman yang digunakan berupa benih komersial tanaman cabai merah kriting hibrida TM88. Media yang digunakan adalah MS (Murashige dan Skoog). Komposisi media MS terdapat pada lampiran 1. Zat pengatur tumbuh meliputi BAP dan IAA. Bahan lain yang digunakan adalah agar-agar, gula, bahan kimia komponen media MS, aquadest dan spritus. Bahan untuk sterilisasi adalah deterjen, alkohol, betadine, sodium hypoklorit, bakterisida, fungisida, dan air steril.

Metode Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan ini yang terdiri dari satu faktor tunggal (pemberian zat pengatur tumbuh).

Metode rancangannya :

Yij = µ + τi + έij (i = 1,...p; j = 1,...r) Yij = Respon pengamatan perlakuan kombinasi ZPT µ = Nilai tengah umum

τi = Kombinasi zat pengatur tumbuh (BAP dan IAA)

έij = Pengaruh galat percobaan (experimental error) perlakuan ke-i, ulangan ke-j Rancangan dalam penelitian terdapat 20 kombinasi (5 taraf konsentrasi BAP dan 4 taraf konsentrasi IAA) dengan 10 ulangan dari setiap perlakuan. Satu unit percobaan terdiri atas 1 tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F, apabila berpengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%.

Berikut adalah kombinasi zat pengatur tumbuh (BAP dan IAA) dalam beberapa taraf konsentrasi:

P0 : 0 mg/L BAP + 0 mg/L IAA P1 : 0 mg/L BAP + 0.2 mg/L IAA P2 : 0 mg/L BAP + 0.5 mg/L IAA P3 : 0 mg/L BAP + 1 mg/L IAA P4 : 1 mg/L BAP + 0 mg/L IAA P5 : 1 mg/L BAP + 0.2 mg/L IAA P6 : 1 mg/L BAP + 0.5 mg/L IAA P7 : 1 mg/L BAP + 1 mg/L IAA P8 : 2 mg/L BAP + 0 mg/L IAA P9 : 2 mg/L BAP + 0.2 mg/L IAA P10 : 2 mg/L BAP + 0.5 mg/L IAA P11 : 2mg/L BAP + 1 mg/L IAA P12 : 3 mg/L BAP + 0 mg/L IAA P13 : 3 mg/L BAP + 0.2 mg/L IAA P14 : 3 mg/L BAP + 0.5 mg/L IAA P15 : 3 mg/L BAP + 1 mg/L IAA P16 : 4 mg/L BAP + 0 mg/L IAA P17 : 4 mg/L BAP + 0.2 mg/L IAA P18 : 4 mg/L BAP + 0.5 mg/L IAA P19 : 4 mg/L BAP + 1 mg/L IAA Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian diawali beberapa tahap pekerjaan yang saling berkesinambungan : 1) Sterilisasi alat-alat gelas, alat-alat diseksi dan aquadest, (2) Pembuatan larutan stok dan media, (3) Sterilisasi Sumber Eksplan.

Sterilisasi alat-alat kultur jaringan. Alat tanam (pinset, scalpel), cawan petri dan pipet yang sudah dicuci dibungkus dengan aluminium foil serta botol kultur disterilkan dengan autoklaf selama 1 jam pada suhu 121oC tekanan 17,5 – 20 psi. Pada saat tanam, scalpel, pisau kultur dan pinset juga disterilkan dengan perendaman dalam alkohol 95% dan nyala api lampu spritus. Permukaan tempat

9

kerja (ruang laminar air flow cabinet) sebelum digunakan disterilkan dengan menyemprot alcohol 70% dan dilap dengan tissue steril.

Pembuatan larutan stok dan pembuatan media. Media kultur jaringan yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS). Larutan stok digunakan untuk mempermudah kelarutan unsur yang digunakan dan untuk mendapatkan ketelitian yang tinggi. Pembuatan larutan stok media MS dikelompokkan ke dalam kelompok larutan stok A, B, C, D, E, F, G, vitamin, myo inositol dan stok zat pengatur tumbuh.

Pembuatan media dilakukan dengan cara memipet larutan stok media dasar sebanyak volume yang dibutuhkan dan ditambah zat pengatur tumbuh sesuai perlakuan serta gula 30 g/l , kemudian campuran larutan tersebut ditera dengan menambahkan aquadest menjadi satu liter kedalam labu takar dan diaduk menggunakan magnetic stirrer. Selanjutnya di ukur pH dengan menggunakan pH meter menjadi 5,8. Untuk menaikkan pH dapat ditambahkan dengan KOH atau HCl 0,1 N. kedalam larutan media ditambah 8 gram agar-agar, dimasak sampai mendidih. Media yang telah mendidih dimasukkan ke dalam botol steril sebanyak 15 ml/botol dan ditutup dengan plastik dan diikat dengan karet. Kemudian disterilkan selama 20 menit dengan autoklaf dengan suhu 121oC dan tekanan 17,5-20 psi. setelah disterilkan media disimpan selama 3-6 hari untuk melihat ada atau tidaknya kontaminasi.

Penyiapan bahan tanaman, media dan sterilisasi bahan tanam. Benih yang dipakai disterilkan dalam larutan 15% (v/v) Clorox dengan bahan aktif NaOCl (0.7%). Sterilisasi dalam larutan Clorox dilakukan selama 10 menit. Benih tersebut dibilas dua kali dengan aquades steril. Selanjutnya benih cabai direndam lagi dengan Clorox 10% selama 15 menit. Kemudian benih dibilas dengan air steril sebanyak dua kali. Benih yang sudah dibilas diberi betadine 20% kemudian benih ditanam pada media MS0 dalam botol kultur. Bahan tanaman yang digunakan adalah eksplan berupa tunas pucuk tanaman cabai yang telah di sterilkan.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan intensitas waktu satu kali setiap minggu. Tolok ukur pengamatan dari perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh (BAP dan IAA) dalam penelitian ini adalah :

1. Jumlah akar

Pengamatan dilakukan dengan menghitung akar primer yang tumbuh dari pangkal eksplan yang telah di kultur.

2. Tinggi eksplan

Pengamatan dilakukan dengan mengukur tinggi eksplan dari pangkal eksplan sampai dengan titik tumbuh.

3. Jumlah daun

Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung semua jumlah daun yang tumbuh pada eksplan.

4. Kalus yang berkembang

Pengamatan dilakukan adalah menghitung persentase kalus yang tumbuh pada eksplan dari setiap perlakuan yang diberikan.

5. Multiplikasi tunas

Pengamatan dilakukan dengan menghitung persentase multiplikasi tunas yang tumbuh pada eksplan dari setiap perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbanyakan tanaman cabai secara in vitro dapat dilakukan melalui organogenesis ataupun embriogenesis. Perbanyakan in vitro melalui organogenesis dilakukan dalam media MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh dan bahan suplemen lainnya.

Benih cabai

Gambar 1. Pengecambahan benih cabai menjadi eksplan untuk perlakuan Mikroba yang menyerang kultur tanaman saat penelitian adalah cendawan putih, cendawan hitam, dan bakteri. Mikroba tersebut menyerang hanya pada saat sterilisasi bahan tanaman dan tidak menyerang pada saat perlakuan. Kondisi ruangan kultur yang kurang steril dan benih yang kurang steril yang menyebabkan adanya mikroba yang menyerang.

Cendawan hitam

Bakteri

Gambar 2. Candawan hitam dan bakteri yang menyerang saat pengecambahan benih

Cendawan putih

13

Pengaruh Kombinasi BAP dan IAA terhadap Induksi Akar

Tolok ukur dari induksi akar merupakan salah satu parameter dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Induksi akar dapat dipengaruhi dengan adanya penambahan zat pengatur tumbuh, khususnya pemberian zat pengatur tumbuh berupa auksin (IAA). Auksin (IAA) ini dapat menginduksi pertumbuhan akar dengan cepat.

Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan pengaruh dari pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh (BAP dan IAA) terhadap induksi akar. Pemberian zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap induksi akar. Tabel 1 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah akar dari awal perlakuan sampai dengan akhir pengamatan.

Pada minggu pertama, perlakuan yang terbaik adalah perlakuan P1, yaitu kombinasi 0 mg/L BAP dan 0.2 mg/L IAA. Pada minggu kedua sampai dengan minggu keempat, perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan P2 dengan kombinasi 0 mg/L BAP dan 0.5 mg/L IAA. Pada minggu keempat sampai dengan minggu terakhir pengamatan (12MSK), perlakuan yang terbaik adalah pada P3 yaitu kombinasi antara 0 mg/L BAP dan 1 mg/L IAA. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi auksin yang tinggi pada perlakuan ini. Secara umum, perlakuan yang terbaik dalam menginduksi akar adalah perlakuan P3 (0 mg/L BAP + 1 mg/L IAA).

Penambahan auksin pada media tanam memberikan pengaruh sangat nyata terhadap induksi akar. Jika diberikan dengan penambahan sitokinin (BAP), maka induksi akar akan tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena sitokinin berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang dapat menginduksi pembelahan sel, mendorong proliferasi tunas dan diferensiasi tunas adventif dari organ tanaman dan sintesa protein (George dan Sherington, 1984). Adanya penambahan sitokinin (BAP) yang semakin tinggi tidak akan meningkatkan induksi akar dan melainkan akan mengakibatkan pembelahan sel yang membentuk kalus pada eksplan cabai tersebut.

Tabel 1. Rata-rata jumlah akar cabai pada berbagai perlakuan BAP dan IAA

Perlakuan Waktu Pengamatan

1MSK 2MSK 3MSK 4MSK 5MSK 6MSK 7MSK 8MSK 9MSK 10MSK 11MSK 12MSK P0 1.8 bc 3.1 bc 3.7 b 4.3 c 4.9 c 5.2 d 5.5 def 5.8 def 6 de 6.5 d 7.1 cd 7.7 cd P1 3.6 a 4.8 a 5.4 a 6.1 ab 6.7 ab 7.4 bc 7.9 bc 8.2 bc 8.5 bc 9.3 bc 9.6 b 9.6 bc P2 3.5 a 5.1 a 5.9 a 6.9 a 8a 8.2 ab 9.2 b 9.3 b 9.6 b 10.2 b 10.4 b 10.6 b P3 2.1 bc 4.1 bc 5.8 a 6.7 a 8.3 a 9.6 a 11.8 a 13.5 a 15 a 17 a 18 a 19.5 a P4 2.1 bc 2.8 bc 3.4 b 3.9 c 4.9 c 5.7 cd 7.2 cd 7.7 bcd 8.1 bcd 9.3 bc 9.8 b 10.3 b P5 2 bc 2.9 bc 3.5 b 3.6 c 4.4 c 4.6 d 4.8 ef 5.4 ef 6 de 6.7 d 7.1 cd 7.2 d P6 2.8 ab 4 ab 4.5 ab 4.7 bc 5.1 bc 5.7 cd 6 cde 6.2 cde 6.5 cd 7.8 cd 8.2 bc 8.4 bcd P7 1.3 cd 1.9 c 2 c 2.1 d 2.2 d 2.7 e 3.6 fg 4 f 4 e 5.6 d 5.7 d 6.1 d P8 0.2 d 0.2 d 0.2 d 0.7 de 1.3 de 1.6 ef 1.8 gh 1 g 1.9 f 2.2 e 2.5 e 2.8 ef P9 0.3 d 0.5 d 0.6 d 0.6 de 0.9 de 1 ef 1.1 h 1.1 g 1.1 f 1.2 e 1.3 e 1.4 efg P10 0 d 0 d 0.1 d 0.8 de 0.8 d 0.9 ef 1.3 h 1.4 g 1.8 f 2 e 2.6 e 3.3 e P12 0 d 0 d 0 d 0.1 e 0.5 de 0.7 f 0.9 h 0.9 g 1.1 f 1.1 e 1.1 e 1.2 efg P13 0 d 0 d 0 d 0.1 e 0.4 de 0.5 f 0.5 h 0.5 g 0.6 f 0.8 e 0.8 e 0.8 fg P14 0 d 0 d 0.1 d 0.1 e 0.3 e 0.3 f 0.5 h 0.5 g 0.5 f 0.6 e 0.8 e 0.6 fg P15 0 d 0 d 0.1 d 0.1 e 0.2 e 0.3 f 0.4 h 0.4 g 0.4 f 0.4 e 0.4 e 0.4 fg P16 0 d 0 d 0 d 0 e 0.2 e 0.2 f 0.5 h 0.5 g 0.6 f 0.6 e 0.6 e 0.7 fg P17 0 d 0.1 d 0.1 d 0.2 e 0.3 e 0.3 f 0.3 h 0.3 g 0.3 f 0.3 e 0.3 e 0.3 fg P18 0 d 0 d 0.1 d 0.2 e 0.2 e 0.2 f 0.2 h 0.2 g 0.3 f 0.3 e 0.3 e 0.3 fg P19 0 d 0 d 0 d 0 e 0.2 e 0.1 f 0.1 h 0.1 g 0.1 f 0.1 e 0.1 e 0.1 g

15 Rataan jumla h akar

Minggu Setelah Kultur

Gambar 4. Pemberian kombinasi BAP dan IAA terhadap induksi akar. Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan akar pada setiap perlakuan mengalami peningkatan. Laju jumlah akar pada bulan pertama tidak jauh berbeda antara setiap perlakuannya. Setelah memasuki bulan kedua, peningkatan yang sangat nyata terlihat pada perlakuan P3. Pada perlakuan P3 ini dapat dilihat bahwa pertumbuhan induksi akar yang terjadi sangat signifikan.

Penambahan kombinasi zat pengatur tumbuh BAP dan IAA ini memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap induksi akar. Perlakuan yang terbaik dalam menginduksi akar yaitu dengan perlakuan P3 (0 mg/L BAP dan 1 mg/L IAA).

Pengaruh Kombinasi BAP dan IAA terhadap Pertumbuhan Tinggi Eksplan

Pertumbuhan tinggi merupakan salah satu tolok ukur dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertambahan tinggi dapat dipengaruhi dengan adanya penambahan zat pengatur tumbuh, khususnya pemberian zat pengatur tumbuh berupa sitokinin (BAP) yang dapat merangsang pertumbuhan tinggi eksplan cabai dengan cepat.

Tabel 2 menunjukkan pengaruh dari pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh (BAP dan IAA) terhadap tolok ukur pertumbuhan tinggi. Pemberian zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan tinggi. Dilihat dari tabel 2, terjadi peningkatan tinggi eksplan cabai dari awal perlakuan sampai dengan akhir pengamatan. Pada minggu pertama, perlakuan yang terbaik adalah perlakuan P8, yaitu kombinasi 2 mg/L BAP dan 0 mg/L IAA. Selanjutnya dapat dilihat, pada minggu kedua hingga minggu ke-11 bahwa perlakuan yang terbaik adalah perlakuan P9 yaitu kombinasi antara 2 mg/L BAP dan 0,2 mg/L IAA. Namun perlakuan P19 (4 mg/L BAP dan 1 mg/L IAA) tidak mengalami pertumbuhan yang cepat, hal ini dapat disebabkan oleh konsentrasi dari BAP dan IAA yang tinggi, sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan tanaman cabai secara in vitro ini. Jika dilihat pada akhir pengamatan terjadi perubahan, perlakuan terbaik pada perlakuan P4.

17

Tabel 2. Rata-rata tinggi eksplan cabai pada berbagai perlakuan BAP dan IAA Perlakuan 

Waktu Pengamatan 

1MSK  2MSK  3MSK  4MSK  5MSK  6MSK  7MSK  8MSK  9MSK  10MSK  11MSK  12MSK 

P0  0.64 bcd  0.91 ab  0.99 abcd  1.17 abc  1.32 

abcde  1.52 abcd  1.66 abcd  1.79 abcde  1.85 abcd  2.11 abcd  2.23 abcd  2.36 abcd  P1  0.67 bcd  0.84 abc  0.96 abcde  1.04 bcde  1.19 bcdef  1.56 abcd  1.73 abcd  1.78 abcde  1.86 abcd  2.05 abcd  2.18 abcd  2.26 abcd 

P2  0.63 bcd  0.73 abcd  0.8 cdef  0.92 bcde  0.94 cdef  1.1 bcde  1.11 bcd  1.15 cde  1.24 cd  1.35 cd  1.47 cd  1.55 bcd 

P3  0.66 bcd  0.83 abc  1.03 abc  1.22 abc  1.43 abcd  1.57 abcd  1.67 abcd  1.78 abcde  1.85 abcd  2.02 abcd  2.11 abcd  2.22 abcd 

P4  0.61 dc  0.76 abcd  0.86 bcdef  1.01 bcde  1.2 bcdef  1.43 abcde  1.76 abcd  1.92 abc  2.05 abc  2.54 ab  2.86 ab  3.22 a 

P5  0.76 abc  0.91 ab  1.06 abc  1.3 ab  1.58 ab  1.74 ab  1.91 abc  1.95 abc  2 abc  2.24 abcd  2.35 abcd  2.46 abc 

P6  0.73 abcd  0.83 abc  1.14 ab  1.3 ab  1.44 abc  1.65 abc  1.77 abcd  1.82 abcd  1.85 abcd  1.94 abcd  2.03 abcd  2.07 abcd 

P7  0.59 dc  0.71 bcd  0.81 cdef  0.87 cde  1.01 cdef  1.11 bcde  2.01 ab  1.26 bcde  1.31 bcd  1.4 cd  1.52 cd  1.6 bcd 

P8  0.87 a  0.95 a  1.02 abcd  1.12 bcd  1.2 bcdef  1.28 bcde  1.48 abcd  1.56 abcde  1.66 abcd  2.23 abcd  2.32 abcd  2.41 abcd 

P9  0.81 ab  0.96 a  1.19 a  1.53 a  1.79 a  2.05 a  2.26 a  2.33 a  2.37 a  2.89 a  3.05 a  3.12 a 

P10  0.64 bcd  0.69 bcd  0.74 def  0.87 cde  0.98 cdef  1.07 bcde  1.11 bcd  1.22 bcde  1.3 bcd  1.4 cd  1.47 cd  1.51 bcd 

P11  0.73 abcd  0.82 abc  0.96 abcde  1.2 abc  1.57 ab  1.78 ab  1.95 abc  2.09 ab  2.19 ab  2.46 abc  2.57 abc  2.65 ab 

P12  0.74 abcd  0.83 abc  0.95 abcde  1.03 bcde  1.08 bcdef  1.14 bcde  1.3 abcd  1.33 bcde  1.36 bcd  1.45 bcd  1.61 cd  1.66 bcd 

P13  0.62 cd  0.64 cd  0.69 ef  0.72 de  0..81 ef  0.88 de  0.95 cd  1.05 cde  1.17 cd  1.27 d  1.36 d  1.48 bcd 

P14  0.73 abcd  0.79 abcd  0.87 bcdef  1.02 bcde  1.11 bcdef  1.19 bcde  1.22 bcd  1.28 bcde  1.37 bcd  1.48 bcd  1.55 cd  1.63 bcd 

P15  0.67 bcd  0.74 abcd  0.81 cdef  0.88 cde  0.98 cdef  1.1 bcde  1.15 bcd  1.26 bcde  1.34 bcd  1.43 cd  1.48 cd  1.54 bcd 

P16  0.62 cd  0.64 cd  0.65 f  0.72 de  0.77 f  0.86 de  0.93 cd  1 de  1.06 d  1.12 d  1.24 d  1.3 cd 

P17  0.72 abcd  0.84 abc  0.98 abcd  1.1 bcd  1.16 bcdef  1.28 bcde  1.38 abcd  1.4 bcde  1.44 bcd  1.65 bcd  1.75 bcd  1.8 bcd 

P18  0.69 bcd  0.76 abcd  0.79 cdef  0.85 cde  0.9 def  0.97 cde  1.04 bcd  1.08 cde  1.14 cd  1.26 d  1.27 d  1.36 cd 

Rataan jumla

h

akar

Minggu Setelah Kultur

Gambar 5. Pemberian kombinasi BAP dan IAA terhadap tinggi eksplan Gambar menunjukkan rata-rata tinggi eksplan yang diberi dengan perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh pada beberapa taraf konsentrasi. Dilihat dari laju pertumbuhannya, antara masing-masing perlakuan tidak terdapat petumbuhan yang sangat mencolok. Jika dibandingkan, terdapat satu perlakuan yang terbaik dalam menginduksi pertambahan tinggi yaitu pada perlakuan P9 ( 2 mg/L BAP dan 0,2 mg/L IAA ).

Perlakuan yang terbaik dalam menginduksi pertumbuhan tinggi eksplan cabai secara in vitro ini adalah perlakuan P9 (2 mg/L BAP dan 0,2 mg/L IAA). Kombinasi antara BAP dan IAA pada media perlakuan ini cenderung menginduksi tunas dengan baik dibandingkan media dengan BAP saja, sehingga pertambahan tinggi eksplan pun sangat nyata terlihat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang sudah dilaporkan (Fari dan Czako 1981; Hyde dan Philips 1996) bahwa konsentrasi BAP yang digunakan untuk induksi tunas dan pertambahan tinggi bervariasi antara 2-5 mg/L dan tergantung dari varietas cabai yang digunakan.

19

Pengaruh Kombinasi BAP dan IAA terhadap Jumlah Daun pada Eksplan

Jumlah daun dapat menandakan pertumbuhan dan perkembangan suatu eksplan yang ditanam. Tabel 3 menjelaskan tentang pengaruh dari pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh (BAP dan IAA) dengan beberapa taraf terhadap perkembangan jumlah daun pada eksplan tanaman cabai ini.

Pada minggu pertama pengamatan, tidak terjadi perubahan pada setiap perlakuan. Pada minggu kedua, terjadi peningkatan rataan jumlah daun. Perlakuan yang terbaik pada minggu kedua ini adalah perlakuan P6 yaitu 1 mg/L BAP dan 0,5 mg/L IAA. Pada minggu ketiga sampai dengan minggu keenam, terjadi perubahan peningkatan jumlah daun. Perlakuan yang terbaik adalah perlakuan P1 (0 mg/L BAP dan 0,2 mg/L IAA). Pada minggu ketujuh sampai dengan akhir pengamatan, peningkatan jumlah daun yang lebih signifikan pada perlakuan P4 (1 mg/L BAP dan 0 mg/L IAA).

Peningkatan jumlah daun yang cepat pada perlakuan P4 ini dapat dipengaruhi dengan sitokinin yang diberikan pada perlakuan. Adanya sitokinin, dapat menginduksi terbentuknya tunas dengan pertambahan jumlah daun (George dan Sherington, 1984).

Perlakuan yang terbaik untuk perkembangan jumlah daun pada eksplan cabai ini adalah pada perlakuan P4. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan yang sangat nyata dengan kenaikan yang signifikan pada gambar 6. Kombinasi zat pengatur tumbuh antara BAP dan IAA ini, memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan jumlah daun. Peningkatan jumlah daun berpengaruh terhadap fotosintesis yang akan terjadi saat tanaman diaklimatisasi.

Tabel 3. Rata-rata jumlah daun cabai pada berbagai perlakuan BAP dan IAA

Perlakuan Waktu Pengamatan

1MSK 2MSK 3MSK 4MSK 5MSK 6MSK 7MSK 8MSK 9MSK 10MSK 11MSK 12MSK

P0 2 a 2 a 2.8 ab 4 b 4.1 bcd 4.6 abcd 4.6 bcde 5.4 bcd 5.4 bcde 6.4 bcde 7.9 bcde 8.3 bcd

P1 2 a 2.4 a 3.3 a 5.3 a 5.6 a 5.9 a 6.6 ab 7.1 ab 7.6 b 8.6 bc 9.6 bc 10.5 b

P2 2 a 2 a 2.4 b 3.5 bcd 3.8 bcd 4 bcde 4 cde 4.1 cde 4.1 cde 4.7 de 6.8 cdefg 6.9 cdef

P3 2 a 2 a 2.7 ab 3 bcd 3.4 bcd 4.1 bcde 4.2 cde 4.4 cde 4.8 cde 5.5 cde 6.1 defg 6.4 cdef

P4 2 a 2 a 2.4 b 3.6 bc 4.2 abc 5.6 ab 7.4 a 8.6 a 10 a 11.4 a 12.7 a 14 a

P5 2 a 2.1 a 2.4 b 3.2 bcd 3.7 bcd 4.1 bcde 4.8 bcde 5.4 bcd 6.1 bc 7.2 bcd 8.5 bcd 8.8 bc

P6 2 a 2.4 a 2.8 ab 3.1 bcd 3.4 bcd 3.9 bcde 4.6 bcde 5.6 bcd 5.9 bcd 9.2 ab 10.2 ab 10.7 b

P7 2 a 2.2 a 2.3 b 2.9 bcd 3.2 bcd 3.7 bcde 3.9 cde 4.1 cde 4.6 cde 5.6 cde 6.2 defg 6.4 cdef

P8 2 a 2 a 2.1 b 2.3 d 2.6 d 2.8 e 3 e 3 e 3.1 e 3.5 e 3.9 g 4.3 f

P9 2 a 2.4 a 2.6 ab 2.8 bcd 2.8 cd 3.2 de 3.3 de 3.4 de 3.5 de 3.8 e 4.1 fg 4.6 ef

P10 2 a 2 a 2.1 b 2.4 cd 3.1 bcd 4.1 bcde 6.1 abc 6.3 bc 6.4 bc 6.6 bcde 7.1 cdef 7.5 cde

P11 2 a 2.3 a 2.3 b 2.5 cd 2.8 cd 3.9 bcde 4.4 bcde 4.4 cde 4.5 cde 4.9 de 5.2 efg 6.2 cdef

P12 2 a 2.3 a 2.3 b 2.5 cd 2.7 cd 3.3 de 3.8 de 4.6 cde 4.7 cde 5.7 cde 6 defg 6.5 cdef

P13 2 a 2.1 a 2.2 b 2.4 cd 3 bcd 4.6 abcd 4.8 bcde 5.4 bcd 5.5 bcde 6.3 bcde 6.5 defg 6.6 cdef

P14 2 a 2 a 2.2 b 2.6 cd 4.1 bcd 4.6 abcd 4.9 bcde 5.6 bcd 5.8 bcd 6.3 bcde 7 cdef 7.5 cdee

P15 2 a 2.4 a 2.6 ab 2.8 bcd 3.9 bcd 4.7 abcd 5 bcde 5.8 bc 5.9 bcd 6.1 cde 6.4 defg 6.8 cdef

P16 2 a 2.1 a 2.4 b 2.4 cd 3.8 bcd 4.5 abcde 4.8 bcde 5.4 bcd 5.6 bcd 5.7 cde 5.7 defg 5.9 cdef

P17 2 a 2 a 2.6 ab 2.6 cd 4.5 ab 5.3 abc 5.4 abcd 5.6 bcd 5.7 bcd 5.8 cde 6.1 defg 6.2 cdef

P18 2 a 2.1 a 2.6 ab 2.7 cd 3.6 bcd 4.4 abcde 4.7 bcde 5 bcde 5.3 bcde 5.6 cde 5.5 defg 5.5 def

21

Rataan jumla

h

akar

Minggu Setelah Kultur

Pengaruh Kombinasi BAP dan IAA terhadap Pertumbuhan Kalus dan Multiplikasi Tunas

Tabel 4. Persentase kalus dan multiplikasi tunas

Perlakuan 

Frekuensi Eksplan (%)

Berkalus  Multiplikasi  Rata‐rata jumlah  tunas multiplikasi P0 0  0 0 P1 0  0 0 P2 0  0 0 P3 0  0 0 P4 50  0 0 P5 60  0 0 P6 50  0 0 P7 50  0 0 P8 60  0 0 P9 60  0 0 P10 70  0 0 P11 60  0 0 P12 70  20 2 P13 80  10 3 P14 80  10 2 P15 70  10 4 P16 100  30 5 P17 90  20 3 P18 80  20 4 P19 90  20 3

Pengaruh sitokinin dalam kultur jaringan tanaman antara lain berhubungan dengan proses pembelahan sel, perbesaran sel dan dominansi apikal (George dan Sherington, 1984). BAP berperan dalam mendorong proses pembelahan sel, proliferasi tunas dan penghambatan pertumbuhan akar (Pierik, 1987). Dalam penelitian ini diduga terdapat hubungan sinergis antara BAP dan IAA dalam mendorong pembelahan dan pembesaran sel yang mengakibatkan terjadinya pengkalusan dan multiplikasi pada eksplan yang di tanam.

Tabel 4 dapat dilihat semakin tinggi kosentrasi BAP yang diberikan, semakin tinggi juga frekuensi eksplan yang berkalus dan semakin tinggi pula yang mengalami multiplikasi. Pada tabel juga dapat dilihat bahwa perlakuan terbaik untuk pengkalusan dan multiplikasi adalah perlakuan P16. Perlakuan P16

23

(4 mg/L BAP dan 0 mg/L IAA) sangat nyata dalam menginduksi kalus dan multiplikasi.

Jika dilihat dari rata-rata jumlah tunas multiplikasi, perlakuan P16 memiliki rata-rata jumlah tunas yang lebih banyak. Hal ini juga disebabkan oleh penambahan zat pengatur tumbuh berupa sitokinin (BAP) yang memberikan pengaruh nyata terhadap proliferasi tunas dan diferensiasi tunas adventif. Dapat disimpulkan, dengan kombinasi zat pengatur tumbuh yang sesuai dapat meningkatkan jumlah eksplan yang berkalus dan eksplan yang mengalami multiplikasi yang dapat dilihat pada perlakuan P16.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kombinasi zat pengatur tumbuh BAP dan IAA berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan cabai secara in vitro. Perlakuan P3 (0 mg/L BAP dan 1 mg/L IAA) menginduksi akar dengan baik. Kombinasi perlakuan P9 (2 mg/L BAP dan 0,2 mg/L IAA) berpengaruh sangat nyata dalam induksi tunas yang menyebabkan tinggi eksplan yang meningkat dengan baik. Perlakuan P4 (1 mg/L BAP dan 0 mg/L IAA) merupakan perlakuan yang terbaik. Sedangkan dalam pengkalusan dan multiplikasi eksplan, semakin tinggi konsentrasi zat pengatur tumbuh yang diberikan (khususnya konsentrasi sitokinin yang tinggi), semakin tinggi pula persentase kalus dan multiplikasi yang terjadi. Perlakuan yang terbaik untuk pengkalusan dan multiplikasi adalah perlakuan P16 ( 4 mg/L BAP dan 0 mg/L IAA). Perlakuan P16 merupakan perlakuan terbaik dalam perbanyakan tanaman untuk selanjutnya karena memiliki persentase multiplikasi tertinggi.

Saran

Pada penelitian selanjutnya lebih disarankan untuk menggunakan bahan tanam yang steril dan larutan zat pengatur tumbuh yang baru agar tidak mengganggu hasil akhir dari pengamatan. Selain itu, untuk perbanyakan tanaman cabai secara in vitro selanjutnya lebih disarankan menggunakan perlakuan P16 karena dapat menginduksi multiplikasi tunas denga persentase yang lebih baik.

PENG

Dokumen terkait