Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), sejak awal Oktober 2007 hingga akhir Juni 2008.
Isolat Ganoderma boninense
Isolat Ganoderma boninense diperoleh dari kultur murni hasil isolasi tubuh buah pada tanaman sakit asal Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat-Pematang Siantar, Sumatera Utara. Perbanyakan cendawan dilakukan pada media selektif yang dimodifikasi pada suhu 26 oC selama 14 hari. Komposisi media selektif sebagai berikut; bagian A: Bacto-pepton (5 g), Agar (20 g), MgSO4.7H2O (0,25 g), K2HPO4 (0,5 g), dan air destilata (900 ml); bagian B:
Streptomisin sulfat (0,05 g), Chloramphenicol (100 g), Etanol (3 ml), Ridomil 25% WP (0,3 ml), dan Asam Laktat (0,3 ml). Setelah dilakukan perbanyakan cendawan selama 14 hari, hingga koloni hifa menebal, maka koloni ini yang digunakan sebagai sumber inokulum awal.
Persiapan Sumber Inokulum
Medium tumbuh yang diuji untuk sumber inokulum terdiri atas kayu akasia, kayu karet, pelepah sawit yang berukuran 5 cm x 5 cm x 2 cm, media PDA, dan campuran serbuk gergaji + dedak 1:1 (w/w). Semua bahan kemudian dipindahkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 40 oC. Selanjutnya direndam dengan air steril selama 12 jam, setelah itu ditiris hingga tidak ada air yang menetes, kemudian dimasukkan ke dalam plastik polipropilen tahan panas berukuran 15 cm x 20 cm. Untuk medium tumbuh patogen dalam bentuk campuran serbuk gergaji + dedak 1:1 (w/w), semua bahan dicampur hingga merata kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan dipadatkan. Bagian mulut plastik diberi cincin poly vinil clorida dan ditutup dengan kapas, setelah itu disterilisasi dalam autoklaf pada 15 Psi selama 60 menit pada suhu 121 oC. Setelah dingin dipindahkan ke dalam laminar air flow untuk melakukan infestasi dengan
inokulum. Infestasi inokulum dilakukan pada sisi kanan dan kiri. Untuk medium tumbuh patogen dalam bentuk media PDA digunakan cawan petri berdiameter 9 cm dan dilakukan infestasi inokulum di tengah cawan. Inokulum berupa sepotong biakan patogen berdiameter 0,5 cm pada media selektif yang telah berumur 14 hari. Selanjutnya biakan diinkubasi selama 2 bulan dengan suhu 27 oC, kecuali pada medium tumbuh patogen dalam bentuk media PDA, biakan diinkubasi selama 14 hari. Biakan selanjutnya siap untuk digunakan sebagai sumber inokulum awal G. boninense.
Persemaian Bibit Kelapa Sawit
Benih kelapa sawit berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat-Pematang Siantar, Sumatera Utara. Persemaian bibit kelapa sawit sehat dilakukan pada media semai yang dicampur dengan pasir steril perbandingan 1:1 (w/w). Campuran media tanam steril dimasukkan ke dalam polibag kecil berukuran 5 cm x 12 cm (pre-nursery). Masing-masing polibag diisi 1 kg media.
Benih kelapa sawit yang digunakan adalah tipe Tenera (hasil persilangan tipe Dura dengan Pisifera). Benih yang telah memiliki plumula dan radikula ditanam pada lubang sedalam 5 cm di dalam polibag dengan posisi mata tunas di atas.
Pemupukan awal dengan NPK dilakukan 1 bulan setelah persemaian dengan dosis satu butir pupuk per tanaman. Bibit ditumbuhkan pada tempat yang diberi naungan secukupnya hingga umur 3 bulan. Pemeliharaan bibit kelapa sawit meliputi penyiraman yang dilakukan satu kali sehari, penyiangan dilakukan dengan cara pencabutan secara periodik 2 minggu sekali atau tergantung keadaan lingkungan.
Setelah bibit kelapa sawit berumur 3 bulan dipindahkan ke polibag besar berukuran 25 cm x 25 cm (main-nursery). Media tanam yang digunakan berupa tanah, sebelumnya tanah disterilkan dengan fumigan vapam 90 mg/kg. Vapam ditambahkan ke media tanam dan diaduk rata, setelah itu media tanam disungkup plastik selama 2 minggu. Selanjutnya sungkup dibuka, media dikeringanginkan selama 1 minggu. Sebanyak 5 kg tanah steril dimasukkan ke dalam polibag untuk menanam bibit kelapa sawit hasil pre-nursery.
Inokulasi Buatan
Setelah bibit kelapa sawit berumur 4 bulan (dihitung dari tahap persemaian), individu tanaman yang sehat dipilih untuk diinokulasi dengan 5 macam sumber inokulum awal. Semua sumber inokulum diinokulasikan dengan cara kontak langsung pada akar tanaman. Sumber inokulum dalam bentuk media PDA dibagi menjadi 6 bagian tiap cawan, sebanyak 2 bagian diinokulasikan pada setiap tanaman. Sumber inokulum dalam bentuk campuran serbuk gergaji + dedak dibagi menjadi 6 potong tiap kantong plastik, setiap potong berdiameter 8 cm dan tebal 1 cm, diinokulasikan pada setiap tanaman. Pengamatan dilakukan pada 3 bulan setelah inokulasi (bsi) dengan mengukur persentase bercak nekrotik akar.
Polibag diatur sesuai dengan perlakuan dan diberikan naungan.
Rancangan Percobaan
Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap.
Sumber inokulum awal yang digunakan terdiri atas (i) kontrol, tanpa inokulum patogen 0); (ii) sumber inokulum pada medium tumbuh kayu akasia (INO-1); (iii) sumber inokulum pada medium tumbuh kayu karet (INO-2); (iv) sumber inokulum pada medium tumbuh PDA (INO-3); (v) sumber inokulum pada medium tumbuh campuran serbuk gergaji + dedak (INO-4); (vi) sumber inokulum pada medium tumbuh pelepah sawit (INO-5). Penempelan sumber inokulum dilakukan di perakaran tanaman. Masing-masing perlakuan dengan 4 ulangan dan tiap ulangan terdiri atas 2 tanaman, sehingga terdapat 48 unit perlakuan.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan setelah 3 bulan perlakuan dengan peubah yang diamati adalah tingkat keparahan penyakit (%KpP), bobot akar, dan vigor tanaman.
1. Tingkat Keparahan Penyakit
Pengamatan keparahan penyakit dilakukan setelah pembongkaran bibit kelapa sawit, yaitu 7 bulan sejak persemaian atau 3 bsi berbagai sumber inokulum G. boninense. Hal ini dilakukan karena gejala awal BPB pada tajuk secara umum terjadi (7-12) bsi. Persentase bercak nekrotik pada akar digunakan untuk
menentukan tingkat keparahan penyakit dengan menggunakan metode skor 0 hingga 4, dengan kriteria skoring seperti tercantum dalam Tabel 1.
Tabel 1 Kriteria skor kerusakan nekrotik akar (Sinaga 30 September 2007, komunikasi pribadi)
Nilai Skor Area Nekrosis
0 1 2 3 4
0 ≤ x < 1% nekrotik yang ada bukan karena infeksi G. boninense 1 < x < 20% nekrotik yang terjadi berkembang hingga kurang dari 20%
20 ≤ x < 40% nekrotik yang terjadi berkembang 20 – 40%
40 ≤ x < 60% nekrotik yang terjadi berkembang 40 – 60%
x > 60% nekrotik yang terjadi berkembang hingga lebih dari 60%
Nekrotik pada akar ditunjukkan oleh;
Keterangan:
0 = nekrotik yang ada bukan karena infeksi G. boninense 1 = nekrotik yang terjadi berkembang hingga kurang dari 20%
2 = nekrotik yang terjadi berkembang 20 – 40%
3 = nekrotik yang terjadi berkembang 40 – 60%
4 = nekrotik yang terjadi berkembang hingga lebih dari 60%
Gambar 1 Kriteria penentuan keparahan penyakit (%KpP) berdasarkan skoring nekrotik pada akar kelapa sawit
Keparahan penyakit dihitung menggunakan rumus Townsen & Hüberger dalam
v = nilai skor dari masing-masing kategori N = jumlah akar yang diamati
Z = nilai skor tertinggi
3. Bobot Akar
Perhitungan bobot akar dilakukan dengan menimbang akar bibit kelapa sawit yang telah dibongkar menggunakan timbangan digital. Tanaman yang telah dibongkar, dipotong sampai mendekati pangkal batang, kemudian dicuci bersih.
4. Vigor Tanaman
Pengamatan terhadap vigor tanaman dilakukan dengan melihat peubah kuantitaif seperti tinggi tanaman dan jumlah daun, juga dilakukan pengamatan terhadap peubah kualitatif seperti warna daun (kebugaran tanaman). Pengamatan vigor tanaman dilakukan dengan melihat perbandingan akhir antar perlakuan.
Pengamatan dilakukan pula terhadap laju pertumbuhan tanaman (r). Laju pertumbuhan tanaman (r) dihitung tiap 3 minggu dengan menggunakan rumus;
( ln Nt ln Ni ) r =
( t 1)
Keterangan :
r = laju pertumbuhan tanaman (cm) Ni = tinggi tanaman (cm) pada hari ke-0
Nt = tinggi tanaman (cm) setelah waktu ke-t
t = selang waktu pengukuran antara Ni dan Nt
Analisis Data
Data diolah dengan menggunakan paket program Statistical Analysis System (SAS) for windows ver 6.12 (SAS Institute 1990). Pengaruh perlakuan dianalisis dengan sidik ragam. Apabila terdapat perlakuan yang berpengaruh nyata dilakukan uji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan dengan taraf = 0.05 (Mattjik & Sumertajaya 2002). Untuk mengklarifikasi bercak nekrotik pada akar disebabkan oleh Ganoderma maka perlu dilakukan re-isolasi patogen. Jaringan akar yang terkena bercak nekrotik dipotong kecil (5 mm), kemudian didisinfeksi dengan clorox (NaOCl) 1% selama 2 menit, dibilas dengan aquades steril sebanyak dua kali. Setelah ditiriskan pada kertas saring, kemudian ditumbuhkan pada media selektif dalam petridish pada suhu 26 oC selama 14 hari.