Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di enam kecamatan di wilayah kota Bogor, dan di laboratorium Biosistematika serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung mulai bulan Mei 2006 sampai Agustus 2006.
Metode
Pengambilan Sampel Kutu Putih
Pengamatan dan pengambilan sampel dilakukan di 15 perumahan yang terdapat di enam kecamatan yaitu kecamatan Bogor Barat; kecamatan Tanah Sareal; kecamatan Bogor Utara; kecamatan Bogor Tengah; kecamatan Bogor Timur; dan kecamatan Bogor Selatan (Gambar 2). Perumahan yang dipilih adalah perumahan-perumahan yang banyak ditanami palem hias jenis V. merillii.
Tanaman palem ini biasanya ditanam secara bejajar dalam satu baris yang terdiri dari 2-13 tanaman dengan jarak tanam sekitar 1-1,5 m, atau ditanam dengan tanaman penutup tanah seperti rumput atau LCC (Legume Cover Crop) (Lampiran 4). Umumnya tanaman yang diamati dalam keadaan berbuah. dengan kriteria perumahan yang diamati yaitu perumahan yang banyak menanam jenis palem V. merillii (Famili: Arecaceae). Adapun kriteria tanaman palem yang diamati yaitu tanaman yang memiliki tinggi antara 100-250 cm dan yang sedang berbuah.
Pengambilan sampel kutu putih dan semut simbionnya dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor kutu dari koloninya dan beberapa ekor semut yang berasosiasi dengan kutu tersebut dengan menggunakan kuas atau jarum mikro.
Kemudian kutu dan semut tersebut dimasukkan kedalam botol sampel yang telah diisi alkohol 80%. Cara ini dilakukan untuk setiap tanaman palem yang diamati.
Kutu putih yang didapat kemudian dibuat preparat mikroskop untuk diidentifikasi.
Pada saat pengambilan sampel dicatat pula bagian tanaman yang dihuni oleh kutu putih tersebut.
Penghitungan Persentase Tanaman yang Dihuni Kutu Putih
Banyaknya tanaman yang dihuni di tiap-tiap kecamatan dihitung dengan menggunakan rumus
n I =
N x 100%
I : Persentase Tanaman yang Dihuni (%) n : Jumlah Tanaman yang Dihuni Kutu Putih N : Jumlah Tanaman yang Diamati
Besarnya persentase hunian bagi tiap-tiap kecamatan ini kemudian dicari hubungannya dengan jumlah spesies yang ditemukan di tiap-tiap kecamatan tersebut (Steel & Torrie 1993).
Gambar 2 Peta Kota Bogor tempat pengambilan sampel
13 Pembuatan Preparat Mikroskop
Kutu putih yang dipreparasi dalam preparat mikroskop merupakan imago betina yang telah dewasa. Kemudian dilakukan tahapan pembuatan preparat mikroskop dengan menggunakan metode Williams & Watson (1988) yang telah dimodifikasi oleh Sartiami (1999). Pewarna yang digunakan dalam pembuatan perparat mikroskop ini adalah acid Fuchsin.
Identifikasi Semut
Semut yang didapat dari hasil pengamatan pada saat pengambilan kutu putih diidentifikasi dengan cara pengamatan morfologi dan penentuan genus semut.
Identifikasi semut menggunakan kunci identifikasi Bolton (1997).
Kondisi Umum Pertanaman
Pada umumnya tanaman palem ditanam secara berjajar. Di beberapa perumahan ditanam secara tunggal atau di tanam dengan tanaman hias lain, sehingga tajuk tanaman ini ada yang saling bersentuhan baik itu dengan tanaman lain maupun sesama tanaman palem. Beberapa tanaman di perumahan Yasmin (kecamatan Bogor Barat) tajuk tanamannya menempel dengan tanaman hias lainnya. Di perumahan Cimanggu Permai Indah (kecamatan Tanah Sareal) tanaman palem ini ditanam dengan tanaman hias lainnya. Kondisi umum pertanaman palem di beberapa perumahan ditampilkan pada Lampiran 3.
Spesies Kutu Putih dan Semut Simbionnya pada Tanaman Palem
Berdasarkan Tabel 1 ditemukan enam spesies kutu putih Famili Pseudococcidae yang terdapat pada palem hias V. merrillii yaitu Dysmicoccus brevipes, D. neobrevipes, Exallomochlus hispidus, Planococcus lilacinus, P.
minor dan Pseudococcus cryptus. da Luz et al (2005) melaporkan untuk pertama kalinya Famili Pseudococcidae yaitu spesies D. brevipes menyerang tanaman palem jenis Rhapis excelsa di negara Brazil dan ditemukan pada bagian akar tanaman itu. Selain itu kutu putih lain yang menyerang palem yaitu spesies Palmicultor palmarum dan E. hispidus (Morrison) (Mariau 1998; Williams &
Martin 2003; Williams 2004).
Spesies kutu putih yang paling banyak ditemukan adalah D. brevipes, kutu ini dijumpai di 12 perumahan yang tersebar di lima kecamatan yaitu Perumahan Dosen IPB, Yasmin, Bogor Raya Permai, Tanah Sareal, Cimanggu Permai Indah, Budi Agung, Indara Prasta II, Villa Bogor Indah, Villa Duta, Bogor Nirwana Resident, Villa Intan Pakuan, dan KPP Pakuan II. Hal ini menunjukkan bahwa kutu putih D. brevipes memiliki daerah penyebaran yang paling luas karena dapat ditemukan di hampir semua wilayah yang diamati. Menurut Mau & Kessing (1992) serta CABI (2002), penyebaran kutu putih D. brevipes sangat luas mulai
15 dari daerah subtropika sampai tropika. Ben-Dov (1994) melaporkan bahwa kutu ini telah tersebar di 131 negara termasuk Indonesia.
Tabel 1 Spesies Kutu Putih dan Semut Simbionnya pada Tanaman Palem di Kota Bogor
Kecamatan/Perumahan Bogor
Barat Tanah Sareal Bogor Utara
Bogor
Tengah Bogor Timur Bogor Selatan Spesies Kutu 2 : Perumahan Yasmin 11 : Padjadjaran Indah 3 : Bogor Raya Permai 12 : Villa Duta
4 : Tanah Sareal 13 : Bogor Nirwana Resident
5 : Cimanggu Permai Indah 14 : KPP Pakuan I (Villa Intan Pakuan)
6 : Budi Agung 15 : KPP Pakuan II
7 : Indra Prasta II
Spesies kutu putih lain yang cukup banyak dijumpai adalah spesies E.
hispidus yang tersebar di sebelas perumahan yaitu perumahan Dosen IPB Darmaga, Yasmin, Tanah Sareal, Cimanggu Permai Indah, Budi Agung, Bogor Baru, Pulo Armin, Padjadjaran Indah, Bogor Nirwana Resident, KPP Pakuan 1 (Villa Intan Pakuan) dan KPP Pakuan II. D. neobrevipes ditemukan di tujuh
perumahan yaitu Perumahan Dosen IPB Darmaga, Bogor Raya Permai, Tanah Sareal, Cimanggu Permai Indah, Budi Agung, Villa Bogor Indah dan Bogor Baru.
P. lilacinus dapat ditemukan di empat perumahan yaitu Perumahan Cimanggu Permai Indah, Indara Prasta II, Padjadjaran Indah dan Villa Duta. P. minor ditemukan hanya di perumahan Dosen Darmaga IPB dan Bogor Raya Permai sedangkan P. cryptus hanya di temukan di satu perumahan yaitu di perumahan Bogor Raya Permai.
E. hispidus dilaporkan terdapat di enam negara di Asia yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Philipina. D. neobrevipes dilaporkan terdapat di 32 negara dan di Indonesia spesies ini baru ditemukan pada tanaman nanas (Sartiami, komunikasi pribadi 2006); P. lilacinus dilaporkan terdapat di 40 negara termasuk Indonesia; P. minor dilaporkan terdapat di 63 negara termasuk Indonesia; dan P. cryptus terdapat di 37 negara termasuk Indonesia (Ben-DoV 1994; Williams 2004; Sihombing 2006).
Berikut adalah gambar dari spesies kutu putih yang masih hidup. Gambar di bawah ini (3a, 4a, 5a dan 6a) merupakan gambar dari empat spesies kutu putih yang masih hidup yang ditemukan pada tanaman palem hias ini.
Gambar 3 Spesies D. brevipes (a) Dalam keadaan hidup, (b) Sketsa tubuh
Foto oleh Kikin HM
(a) (b)
17
Gambar 4 Spesies D. neobrevipes (a) Dalam keadaan hidup dan baru ganti kulit, sehingga lapisan lilinnya terlihat tipis; (b) Sketsa tubuh
Gambar 5 Spesies E. hispidus (a) Dalam keadaan hidup; (b) Sketsa tubuh
(a) (b)
Foto oleh N. Yuanita
(a) (Foto oleh Kikin H.M.) (b)
Gambar 6 Spesies P. lilacinus (a) Dalam keadaan hidup (b) Sketsa tubuh
Gambar 7 Sketsa tubuh (a) P. minor (b) P. cryptus
Dari gambar di atas tampak perbedaan bentuk lilin antara spesies yang satu dengan spesies yang lain (Williams 2004). Lilin-lilin ini umumnya dapat di gunakan untuk mengidentifikasi kutu putih tersebut. Masing-masing genus dari kutu putih ini biasanya memiliki bentuk-bentuk lilin yang berbeda. Lilin-lilin ini
(a) (b)
(a) (b)
19 dihasilkan oleh pori-pori yang terdapat pada permukaan tubuhnya. Identifikasi yang lebih akurat adalah dengan melihat ciri-ciri lain setelah kutu putih ini dipreparasi pada preparat mikroskop. Gambar 3b, 4b, 5b, 6b, 7a dan 7b merupakan gambar sketsa dari masing-masing spesies. Bagian ventral dicirikan dengan tungkai yang terlihat jelas (Gambar b bagian kanan) dan bagian dorsal dicirikan dengan gambar yang tidak ada tungkainya (Gambar b bagian kiri).
Pada saat kutu putih baru saja ganti kulit, lilin yang melapisi tubuhnya masih sangat tipis seperti pada Gambar 4a. Seringkali bila ada gangguan lilin yang menempel pada tubuhnya dapat patah sehingga identifikasi tidak mungkin dilakukan hanya dengan melihat lapisan lilinnya.
D. brevipes dicirikan dengan adanya pori diskoidal di sekitar mata, antena delapan segmen, serari 17 pasang, seta bagian dorsal lebih pendek jika dibandingkan dengan seta bagian ventral, kecuali di daerah lobus anal dan segmen VII. Pada bagian ventral terdapat pori multilokular di sekitar vulva dan di segmen VII tetapi tidak mencapai tepi.
D. neobrevipes memiliki ciri yang hampir sama dengan D. brevipes, hanya saja pada D. neobrevipes memiliki seta yang lebih pendek di segmen VII pada bagian dorsal jika dibandingkan dengan D. brevipes.
E. hispidus dicirikan dengan 18 pasang serari, 7-8 segmen antena, seta pada serari lobus anal berjumlah 4-6 seta konikal, seta bagian dorsal meruncing, seta bagian ventral normal, pori multilokular sedikit dan biasanya hanya di sekitar vulva tetapi kadang-kadang ada juga di segmen VII.
P. lilacinus dicirikan dengan adanya bar seta yaitu bagian pada lobus anal yang berbentuk garis. Bar seta ini merupakan ciri khas dari genus ini. Ciri lainnya yaitu memiliki delapan segmen antena, 18 pasang serari, seta pada daerah cisanal lebih panjang dibandingkan dengan seta di daerah cincin anal, pori dikoidal multilokularnya terdapat di ventral bagisn tengah dari abdomen dan biasanya terdiri dari satu sampai dua baris dari mulai segmen V -VII.
P. minor memiliki ciri yang hampir sama perbedaannya terletak pada seta di daerah cisanal lebih pendek dari pada seta di daerah cincin anal, pori diskoidal
multilokular terdiri dari dua baris atau lebih dan ada di sekitar vulva serta abdomen segmen V-VII.
P. cryptus dicirikan dengan delapan segmen antena, 17 pasang serari, pada bagian lobus analnya memiliki dua seta konikal, tidak memiliki pori diskoidal sekitar mata, seta bagian dorsal biasanya lebih panjang dibandingkan dengan seta bagian ventral, dan mempunyai oral collar tubular ducts pada bagian dorsal yang berdekatan dengan serari. Pada bagian ventral jumlah oral collar tubular ducts hanya sedikit.
Pada umumnya spesies-spesies kutu putih yang ditemukan bersifat polifag dan dapat menyerang lebih dari satu jenis tanaman baik dari famili yang berbeda maupun dari famili yang sama. D. brevipes memiliki inang sebanyak 146 tanaman yang termasuk dalam 51 famili; E hispidus memiliki 51 tanaman inang yang termasuk dalam 29 famili; D neobrevipes memiliki 53 tanaman inang yang termasuk dalam 31 famili; P. lilacinus memiliki 94 tanaman inang yang termasuk dalam 36 famili; P. minor memiliki 194 tanaman inang yang termasuk kedalam 70 famili; dan P. cryptus memiliki 86 tanaman inang yang termasuk dalam 42 famili. Spesies-spesies kutu putih yang ditemukan ini dapat menjadikan tanaman famili palmae sebagai tanaman inangnya (Ben-Dov 1994; Venete & Davis 2004;
Williams 2004)
Berdasarkan hasil pengamatan, kutu putih yang ditemukan pada umumnya merupakan koloni tunggal, tetapi ada koloni yang bercampur dengan spesies lain (Lampiran 2). Hal ini diketahui setelah kutu-kutu yang diambil dibuat preparat mikroskop dan diidentifikasi. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dalam satu tanaman palem dapat dihuni oleh satu sampai tiga spesies. Populasi campuran ditemukan di perumahan Yasmin, Tanah Sareal, Bogor Nirwana Residence, dan KPP Pakuan II dalam satu tanaman dihuni oleh D. brevipes, dan E. hispidus;
Bogor Raya Permai dalam satu tanaman dihuni oleh tiga spesies yaitu D brevipes, D neobrevipes, dan P. minor; Indra Prasta II dan Villa Duta dalam satu tanaman dihuni oleh P. lilacinus dan D. brevipes; Padjadjaran Indah dalam satu tanaman dihuni oleh P. lilacinus dan E. Hispidus. Hal ini sama dengan hasil pengamatan
21 Sartiami (1999) populasi E. hispidus ditemukan bercampur dengan populasi Maconellicoccus multipori pada tanaman sirsak di lokasi Cibeuteung Udik.
Keragaman spesies dari kutu-kutu ini tergantung pada kemampuan memencarnya, semakin luas daerah pemencarannya maka semakin besar kemungkinan untuk kutu putih ini ditemukan. Pemencaran kutu putih ini bisa terjadi secara aktif maupun secara pasif. Pemencaran secara aktif terjadi pada fase nimfa instar I dan II atau disebut crawler, sedangkan pemencaran secara pasif terjadi dengan bantuan semut atau angin (Williams 1985; Mau & Kessing 1992;
Williams & de Willink 1992; Williams & Watson 1998; Sartiami 1999; Williams 2004).
Umumnya kutu putih famili Pseudococcidae selalu berasosiasi dengan semut, dan asosiasinya bersifat simbiosis mutualisma. Simbiosis ini terjadi karena umumnya semua spesies kutu putih ini menghasilkan embun madu yang merupakan sumber makanan bagi semut. Sebagai imbalannya semut-semut ini melindungi kutu putih tersebut dari serangan musuh alaminya dan membantu pemencaran kutu ini dari satu tanaman ke tanaman lain (Kalshoven 1981; Mau &
Kessing 1992; Sartiami 1999).
Simbiosis antara semut dan kutu putih ini ditemukan pada saat pengamatan yaitu dengan adanya koloni kutu putih yang ada di dalam sarang semut (semut melindungi koloni kutu ini dengan sarangnya) (Gambar 8). Pada Gambar 8b terlihat koloni kutu putih yang ada di dalam sarang semut setelah sarang dibuka.
Pada saat pengambilan sampel kutu, semut-semut yang ada pada koloni kutu yang sedang diamati berusaha melindungi koloni kutu ini dengan cara melakukan penyerangan kepada pengganggu.
Gambar 8 Sarang semut (a) Yang belum dibuka (b) Yang telah dibuka
Berdasarkan Tabel 1 genus semut yang ditemukan bersimbiosis dengan kutu putih Famili Pseudococcidae pada palem hias V. merrillii ada delapan genus yaitu:
Dolichoderus, Technomyrmex, Tapinoma, Iridomyrmex, Anoplolepis, Pheidole, Myrmicaria, dan Paratrechina. Genus-genus ini termasuk dalam tiga subfamili yaitu: Dolichoderinae (Dolichoderus, Taphynoma, Iridomyrmex, dan Technomyrmex), Formicinae (Anoplolepsis dan Paratrechina), dan Myrmicinae (Pheidole dan Myrmicaria). Semua semut yang ditemukan dari hasil pengamatan merupakan semut-semut pekerja. Ketiga Subfamili ini merupakan semut-semut yang sebagian besar sudah diketahui sering mengunjungi serangga dari Subordo Homoptera (Ordo: Hemiptera) (Sartiami 1999; Asbani 2005).
Berbeda dengan kutu putih, untuk semut pada satu tanaman hanya dihuni oleh satu koloni genus semut (Lampiran 2). Umumnya semut genus Dolichoderus merupakan genus semut yang banyak ditemukan bersimbiosis dengan kutu putih pada palem hias V. merrillii ini. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sifat semut genus ini yaitu hidup di pohon dan bersifat arboreal (Chung 1995).
(a) (b)
23 Bagian Tanaman yang Dihuni
Kutu putih merupakan serangga hama yang cukup sensitif terhadap cahaya, sehingga kebanyakan dari kutu putih ini menyukai tempat-tempat yang tersembunyi seperti pada bagaian akar tanaman atau bagian bawah daun.
Tabel 2 Bagian Tanaman yang Banyak Dihuni oleh Kutu Putih
Kecamatan Bagian Tanaman yang dihuni*
Bogor Barat Dasar tandan buah, tangkai buah, buah, pelepah, dan daun Tanah Sareal Dasar tandan buah, tangkai buah, dan buah
Bogor Tengah Dasar tandan buah, tangkai buah, dan buah Bogor Utara Dasar tandan buah, tangkai buah, dan buah Bogor Timur. Dasar tandan buah, tangkai buah, dan buah Bogor Selatan Dasar tandan buah, tangkai buah, dan buah Keterangan: * Tanaman yang diamati berjumlah 573 tanaman
Berdasarkan Tabel 2, kutu putih Famili Pseudococcidae umumnya banyak ditemukan pada bagian dasar dari tandan buah, tangkai buah, dan buah dari tanaman palem hias V. merrillii (Gambar 8). Hal ini dikarenakan bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang terlindungi dari sinar matahari dan merupakan bagian yang tersembunyi. Keadaan ini sesuai dengan perilaku kutu putih pada umumnya yaitu menyukai bagian tanaman yang tersembunyi atau yang tidak langsung terkena sinar matahari. Contohnya seperti D. brevipes menyukai bagian pangkal batang dan akar tanaman nenas (Mau & Kessing 1992). Hal yang sama diteliti oleh Widiyanto (2005), bahwa D. brevipes pada tanaman nanas lebih banyak ditemukan di pelepah daun.
Gambar 9 Bagian-bagian tanaman palem yang dihuni kutu putih (a) Bagian dasar tandan buah (luar); (b) Bagian dasar tandan buah (dalam);
(c) Bagian tandan buah; (d) Bagian buah; dan (e) Bagian daun
Kutu putih Famili Pseudococcidae sangat sedikit bahkan hampir tidak ada yang menyerang bagian daun, batang, dan pelepah, sedangkan menurut Sartiami
(c) (d)
(a) (b)
(e)
25 (1999) bagian tanaman yang banyak dihuni oleh kutu putih bervariasi, mulai dari daun, ranting, batang pohon, dan buah. Bagian yang paling banyak dihuni adalah bagian permukaan bawah daun, sedangkan bagian yang paling sedikit adalah pada kayu cabang dan pucuk. Pada penelitian ini tampaknya morfologi palem hias V. merrillii dengan tanaman yang diteliti Sartiami mempunyai perbedaan. Palem V. merrillii merupakan tanaman monokotiledon dan tidak memiliki cabang.
Tanaman yang di teliti Sartiami merupakan tanaman buah-buahan yang termasuk kedalam tanaman dikotiledon yang memiliki cabang dan ranting, sehingga mempunyai lebih banyak tempat bersembunyi.
Persentase Tanaman Palem yang Dihuni oleh Kutu putih
Dalam Tabel 3 mencantumkan persentase tanaman yang dihuni kutu putih Famili Pseudococcidae pada palem V. merrillii yang dibagi berdasarkan kecamatan. Berdasarkan Tabel 3 persentase tanaman yang dihuni kutu putih di enam kecamatan cukup beragam. Persentase tertinggi terjadi di kecamatan Bogor Timur yaitu sebesar 20,73% dan persentase terendah terjadi di kecamatan Bogor Utara yaitu sebesar 7,5%. Adanya perbedaan persentase tanaman yang dihuni kutu putih pada tiap-tiap perumahan ini mungkin disebabkan perbedaan kondisi di sekitar tanaman. Di kecamatan Bogor Timur banyak tanaman palem V. merrillii yang ditanam secara berjajar sehingga tajuk tanamannya saling bersentuhan dan juga banyak tanaman palem sedang berbuah. Tajuk tanaman yang saling bersentuhan mempermudah kutu putih untuk berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain. Pemencaran kutu putih bisa dilakukan secara aktif maupun pasif.
Secara aktif dilakukan oleh kutu putih itu sendiri, secara pasif bisa dilakukan dengan bantuan semut atau angin (Mau & Kessing 1992).
Palem hias yang ditanam secara berjajar berkisar 2-13 tanaman dalam satu barisan dengan jarak tanam antara 1-1,5 m. Adanya simbiosis antara semut dan kutu putih ini dapat mempermudah pemencaran bagi kutu putih itu sendiri. Semut dapat memindahkan kutu putih dari bagian lain dari tanaman itu atau dari satu tanaman ke tanaman yang lain dengan cara menjepit kutu putih ini dengan menggunakan mandibel dan kemudian dipindahkan ke bagian lain dari tanaman
itu atau ke tanaman lain. Di tempat yang baru kutu dapat berkembang dengan baik karena dilindungi oleh semut. Kutu putih yang dapat memencar dengan aktif adalah nimfa instar I yang disebut crawler, sedangkan fase imago kutu putih merupakan serangga yang tidak aktif bergerak (Kalshoven 1981; Mau & Kessing 1992).
Tabel 3 Persentase Tanaman yang Dihuni Kutu Putih Jumlah Tanaman D . neobrevipes E. hispidus P. minor
Tanah Sareal 227 30 14,09
D. brevipes D. neobrevipes E. hispidus D. neobrevipes P. lilacinus Keterangan: * merupakan jumlah total dari tanaman yang diamati pada 15 perumahan sebanyak
573 tanaman.
Berdasarkan Tabel 3, besarnya persentase hunian kutu putih dan jumlah spesies yang ditemukan pada tanaman palem di tiap-tiap kecamatan hubungannya sangat kecil. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi (r) yang sangat kecil yaitu sebesar r = 0,059. Pada persentase hunian tertinggi sebesar 20,73%
yakni ditemukan di kecamatan Bogor Timur hanya ditemukan tiga spesies kutu putih sedangkan di kecamatan Bogor Barat dengan persentase hunian sebesar
27 16,88% ditemukan empat spesies kutu putih dan Tanah Sareal dengan persentase hunian sebesar 14,09% ditemukan lima spesies kutu putih. Pada persentase hunian terendah sebesar 7,50% yaitu di kecamatan Bogor Utara ditemukan tiga spesies kutu putih.
Kesimpulan
Kutu putih Famili Pseudococcidae yang ditemukan pada palem hias Veitchia
merrillii di kota Bogor berjumlah enam spesies yaitu: D. brevipes, D. neobrevipes, E. hispidus, P. lilacinus, P. minor, dan P. cryptus. Spesies kutu
putih yang banyak ditemukan adalah D. brevipes dan E. hispidus. Dalam satu pohon palem dapat dihuni oleh 1-3 spesies kutu putih. Genus semut pekerja yang ditemukan bersimbiosis dengan kutu putih pada palem hias V. merrillii adalah berjumlah delapan. Genus-genus tersebut yaitu Dolichoderus, Technomyrmex, Tapinoma, Iridomyrmex, Anoplolepis, Pheidole, Myrmicaria, dan Paratrechina.
Genus semut yang banyak ditemukan adalah genus Dolichoderus. Dalam satu pohon palem hanya dihuni oleh satu genus semut.
Kutu putih ini banyak menyerang bagian dasar tandan buah, tangkai buah, dan buah dari palem hias ini. Persentase tanaman yang dihuni oleh kutu putih tertinggi terjadi di kecamatan Bogor Timur yaitu sebesar 20,37% dengan tiga spesies kutu putih yang berbeda, sedangkan persentase terendah terjadi di kecamatan Bogor Utara yaitu sebesar 7,5% dengan jumlah spesies yang ditemukan sama yaitu tiga spesies. Jumlah spesies yang ditemukan tidak mempengaruhi besar kecilnya nilai persentase tanaman yang dihuni (r = 0,059).
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat kelimpahan spesies kutu putih serta semut simbionnya di kota lain di Indonesia.