• Tidak ada hasil yang ditemukan

KADAR OKSIGEN TERLARUT

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu

Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK, dan Laboratorium Fisiologi FKH IPB. Waktu pelaksanaan dimulai bulan Februari sampai dengan Maret 2011.

Bahan dan Alat Ikan Uji

Sebanyak 540 ekor ikan mas berukuran 5-7 cm telah digunakan dalam penelitian ini. Ikan mas ini berasal dari salah satu panti pembenihan di daerah Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Ikan uji dipelihara dalam akuarium berukuran 60x45x35 cm3, yang diisi air sebanyak 60L, dengan padat tebar satu ekor L-1, dan diberi aerasi. Air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan uji terlebih dahulu diberi perlakuan agar terbebas dari mikroorganisme patogen, yaitu pertama dimasukkan larutan hipoklorid 30 ppm dan diaerasi selama 24 jam kemudian ditambahkan 10-15 ppm natriumtiosulfat setelah satu minggu baru air tersebut dapat dipergunakan. Sebelum diinfeksi, ikan uji terlebih dahulu dibebaskan dari mikroorganisme patogen lainnya dengan cara merendam di dalam larutan kalium permanganat (5 ppm) selama 15-20 menit. Untuk memastikan bahwa ikan uji tidak ada terinfeksi oleh I. multifiliis adalah dengan cara menyampling ikan stok sebanyak 15 ekor, kemudian diperiksa lendir yang ada di permukaan tubuh dan insang di bawah mikroskop. Selama penelitian ikan diberi pakan tiga kali sehari sampai kenyang (ad libitum).

Kultur Theront dari Ichthyophthirius multifiliis (Ich)

Stadia theront diperoleh dari kultur trophozoid. Trophozoid adalah ich

stadia dewasa yang berasal dari 200 ekor ikan sakit yang positif terinfeksi ich (Lampiran 1). Trophozoid didapatkan dengan cara mengerik lendir yang ada pada permukaan tubuh dengan menggunakan pisau scalpel. Kemudian lendir hasil

kerikan dimasukkan ke dalam petridis yang telah diisi akuades, dan selanjutnya diinkubasi pada suhu ruang selama18-24 jam sehingga didapatkan stadia theront (Syawal et al. 2007).

Penginfeksian

Ikan diinfeksi dengan ich stadia theront. Kepadatan theront yang diinfeksikan 5.000 selL-1 (Lampiran 2). Penginfeksian dilakukan selama 30 menit, dengan cara merendam ikan uji dalam wadah (bervolume 30 L) yang berisi theront dan selama penginfeksian tetap diberi aerasi. Setelah dilakukan penginfeksian, ikan dikembalikan ke dalam akuarium sesuai perlakuan, dan dipelihara selama satu minggu.

Pengambilan Sampel Darah

Darah diambil dari vena caudalis dengan menggunakan syringe (1 mL) yang diberi heparin sebagai antikoagulan. Sebelum darah diambil, ikan terlebih dahulu dibius dengan phenoxyethanol dosis 0.3 mLL-1 air (Rigal et al. 2008). Sebagian darah yang didapat, langsung digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin, nilai hematokrit, total eritrosit, dan total leukosit. Sisanya, diambil plasmanya dengan menggunakan sentrifuse dan plasma tersebut digunakan untuk mengukur kadar kortisol, kadar glukosa, dan nilai osmolaritas.

Parameter yang Diukur

Pengukuran parameter dilakukan tiga kali, yaitu pada hari ke-0 sebelum dilakukan penginfeksian, pada hari ke-3 pascainfeksi, dan pada hari ke-5 pascainfeksi. Adapun parameter yang diukur adalah gambaran darah (meliputi: hemoglobin, hematokrit, total eritrosit, dan total leukosit), diferensial leukosit, kadar kortisol, kadar glukosa, nilai osmolaritas, histologi jaringan insang, dan prevalensi, serta sintasan. Kadar hemoglobin diukur dengan metode Cyanmethemoglobin modifikasi dari Merck, dengan kit produksi Human. Nilai hematokrit, total eritrosit, total leukosit, dan diferensiasi leukosit diukur dengan mengikuti prosedur Johnny et al. (2003). Kadar kortisol diukur dengan meng-gunakan metode RIA (radio immune assay) kit (CORTISOL[125I] RIA KIT (Ref: RK-240CT) IZOTOP, kadar glukosa diukur dengan metode enzimatis

colorimetric kit GLUCOSE liquicolor GOD-PAP produksi Human, nilai osmolaritas plasma diukur langsung dengan menggunakan OSMOTAT 030. Persentase prevalensi ich pada ikan didapat dengan menggunakan rumus P = Jt/ Jo x 100. P adalah prevalensi, Jt adalah jumlah ikan yang terinfeksi dan Jo adalah jumlah ikan yang diperiksa. Persentase sintasan ditentukan dengan rumus: S = Nt / No x 100, Effendi (1979). S adalah sintasan, Nt adalah jumlah ikan yang hidup pada akhir pengamatan, dan No adalah jumlah ikan pada awal pemeliharaan. Gambaran jaringan insang dianalisis melalui preparat histologis yang diwarnai dengan Hematoksilin dan Eosin (HE).

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Faktorial dalam Waktu, dan yang menjadi perlakuan adalah suhu media pemeliharaan (20⁰C, 24⁰C, dan 28⁰C) dan waktu pengamatan adalah (hari ke-0, hari ke-3,dan hari ke-5 pascainfeksi). Masing-masing perlakuan memiliki tiga ulangan.

Analisis Data

Data yang didapatkan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Data diuji secara statistik dengan analisis ragam (ANOVA) menggunakan perangkat lunak software SAS 9.1,.3 dan minitab 16 (Mattjik dan Sumertajaya 2006). Gambaran histologi dibahas secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL

Gambaran Darah Ikan Mas yang Diinfeksi dengan Ich

Hasil pengamatan terhadap gambaran darah, mencakup hemoglobin, hematokrit, total eritrosit, dan total leukosit disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan data pada Tabel 4 terlihat bahwa kadar hemoglobin ikan mas setelah diinfeksi dengan ich (stadia theront) mengalami peningkatan selama pengamatan, baik berdasarkan waktu (hari) pengamatan maupun suhu media pemeliharaan (p< 0.01). Peningkatan kadar hemoglobin tertinggi terjadi pada hari ke-5 pada suhu 20⁰C, yakni sebesar 138.14% bila dibandingkan dengan hari ke-0, sedangkan

rata-rata kadar hemoglobin tertinggi berdasarkan suhu media pemeliharaan diperoleh pada suhu 28⁰C hari kelima. Untuk lebih jelasnya, perubahan kadar hemoglobin hasil interaksi antara hari pengamatan dan suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 17.

Tabel 4. Rataan nilai gambaran darah ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu yang berbeda

Respons Waktu Suhu media pemeliharaan Nilai P 20⁰C 24⁰C 28⁰C Hemoglobin H0 3.72 ±0.57 4.71 ± 1.31 6.13 ± 2.39 B (gdL-1) H3 9.68 ±1.95 11.14 ± 1.64 10.98 ± 1.22 A 0.0005 H5 10.57 ± 3.06 11.83 ± 1.64 12.26 ± 0.72 A B AB A Hematokrit (%) H0 15.00 ± 1.20 18.25 ± 0.95 18.90 ± 3.48 A H3 8.45 ± 1.84 12.63 ± 2.66 13.94 ± 3.51 B 0.006 H5 24.75± 3.72 9.17 ± 4.17 20.50 ± 2.27 A A A A T. eritrosit (x106selmm-3) H0 2.95 ± 0.30 3.93 ± 0.61 3.05 ± 1.06 A 0.0111 H3 2.21 ± 0.51 2.60 ± 0.51 2.22 ± 0.94 B H5 2.57 ± 1.24 2.56 ± 0.62 2.96 ± 0.92 AB A A A T. Leukosit (x103sel mm-3) H0 5.74 ± 1.64 8.53 ± 4.26 1.87 ± 1.26 A 0.0016 H3 4.11 ± 0.69 4.60 ± 1.76 5.05 ± 0.07 A H5 10.50 ± 2.16 2.60 ± 0.63 3.90 ± 1.31 A A AB B Keterangan:

Data yang ditampilkan merupakan nilai rataan ± standar deviasi. Huruf yang sama pada baris yang sama atau kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata, P< 0.05.

Gambar 17. Kadar hemoglobin ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

0 5 10 15 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 H EMOG LOBIN g/d L HARI SUHU a a b ab a b

Berdasarkan Gambar 17 terlihat bahwa kadar hemoglobin dipengaruhi oleh hari pengamatan (p<0.01) dan suhu media pemeliharaan (p<0.01). Kadar hemoglobin meningkat sejalan dengan lamanya masa pemeliharaan dan meningkatnya suhu media pemeliharaan. Hal ini diduga ada hubungannya dengan kondisi yang dialami oleh ikan akibat diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda. Meningkatnya suhu media pemeliharaan dapat menu-runkan kandungan oksigen terlarut di dalam air sehingga dapat menyebabkan ikan kekurangan oksigen. Selain itu, kekurangan oksigen di jaringan juga bisa dise-babkan oleh keberhasilan ich menginfeksi insang ikan. Kekurangan oksigen ini dapat memicu pembentukan darah merah yang salah satunya ditandai dengan meningkatnya kadar hemoglobin.

Berdasarkan Tabel 4, nilai hematokrit ikan mas setelah diinfeksi dengan ich dipengaruhi oleh suhu media pemeliharaan dan lama pengamatan (p<0.05). Nilai hematokrit mengalami penurunan pada hari ketiga dan kembali meningkat pada hari kelima pada ikan yang dipelihara pada suhu 20 dan 28⁰C, namun pada suhu 24⁰C mengalami penurunan hingga akhir pengamatan, yakni sebesar 49.75% dari nilai awal (H-0). Penurunan nilai hematokrit ini diduga ada hubungan antara terjadinya infeksi pada ikan akibat invasi sel theront. Untuk melihat perubahan nilai hematokrit hasil interaksi antara hari pengamatan dan suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 18. Dari data terlihat bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh hari pengamatan (p< 0.01) namun tidak dipengaruhi oleh suhu media pemeliharaan.

Gambar 18. Nilai hematokrit ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

0 5 10 15 20 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 HEMATOKR IT % HARI SUHU a b a

Pada Tabel 4 terlihat bahwa total eritrosit ikan mas dipengaruhi oleh infeksi ich dan suhu media pemeliharaan (p<0.05). Pengaruh infeksi ich terhadap total eritrosit hasil interaksi antara level hari pengamatan atau suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 19.

Gambar 19. Total eritrosit ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

Berdasarkan Gambar 19 terlihat bahwa total eritrosit hanya level waktu pengamatan yang memberikan beda nyata (p<0.05). Total eritrosit pada hari ketiga mengalami penurunan yang berarti bila dibandingkan dengan H-0. Hal ini diduga pada hari ketiga sudah terjadi infeksi pada ikan yang disebabkan oleh ich sehingga menyebabkan turunnya total eritrosit, dan pada hari kelima kembali meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa ikan sudah mampu mengatasi terjadinya infeksi.

Perubahan nilai total leukosit ikan mas setelah diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda selama pengamatan ditampilkan pada Tabel 4. Dari data pada Tabel 4 terlihat bahwa total leukosit ikan yang dipelihara pada suhu 20⁰C mengalami peningkatan hingga akhir pengamatan. Hal ini menandakan terjadi infeksi yang berat sebagai akibat dari kondisi stres ikan pada suhu rendah. Untuk lebih jelasnya perubahan total leukosit berdasarkan interaksi antara level hari pengamatan atau suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 20. Berdasarkan Gambar 20 terlihat bahwa total leukosit ikan mas yang diinfeksi dengan ich hanya berpengaruh nyata berdasarkan waktu pengamatan (p<0.05). Pada hari ketiga, total leukosit mengalami peningkatan sebesar 214.31%

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 E R IT R OSI T x 1 0 6selm m -3 HARI SUHU a b ab

bila dibandingkan dengan hari ke-0 yang diduga merupakan reaksi pertama dari infeksi ich.

Gambar 20.Total leukosit ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

Diferensiasi Sel Leukosit Ikan Mas yang Diinfeksi dengan Ich

Hasil pengamatan terhadap diferensiasi sel leukosit, mencakup limfosit, monosit, dan neutrofil ikan mas yang telah diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan data pada Tabel 5 terlihat bahwa infeksi ich mempengaruhi persentase limfosit (p<0.05). Nilai limfosit ikan yang dipelihara pada suhu 20⁰C mengalami penurunan hingga hari kelima, demikian juga pada ikan yang dipelihara pada suhu 28⁰C. Nilai limfosit dari ikan yang dipelihara pada suhu 24⁰C mengalami peningkatan pada hari ketiga dan kembali menurun pada hari kelima. Untuk lebih jelasnya, perubahan nilai limfosit hasil interaksi antara level hari pengamatan atau suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 21. Dari gambar terlihat bahwa penurunan limfosit hanya terjadi pada hari kelima (p<0.01). Semua tingkatan suhu media pemeliharaan mempengaruhi jumlah limfosit (p<0.05).

Perubahan nilai persentase monosit ikan mas setelah diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan data pada Tabel 5 terlihat bahwa terjadi peningkatan nilai persentase monosit untuk semua kelompok ikan yang dipelihara (p<0.05). Peningkatan ini sehubungan dengan fungsi sel monosit, yaitu berperan dalam proses fagositosis. Dengan demikian, perubahan nilai persentase monosit ini erat hubungannya

0 5 10 15 20 25 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 LE U KOSIT x 10 3selm m -3 HARI SUHU a ab b

dengan keberhasilan ich menimbulkan infeksi pada ikan. Untuk lebih jelasnya perubahan nilai monosit berdasarkan interaksi antara level hari pengamatan atau suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 22. Nilai monosit meningkat hanya pada hari kelima (p<0.05) dan pada suhu media pemeliharaan 28⁰C (p<0.05).

Tabel 5. Persentase nilai diferensiasi sel leukosit ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu yang berbeda

Respons Waktu Suhu media pemeliharaan

20⁰C 24⁰C 28⁰C Nilai P Limfosit H0 54.75 ± 3.86 53.05 ± 3.86 52.85 ± 3.86 A 0.0005 % H3 51.25 ± 5.50 56.50 ± 1.91 38.00 ± 3.37 A H5 45.75 ± 3.10 44.75 ± 2.75 38.00 ± 0.82 B B A C Monosit % H0 38.50 ± 4.93 37.05 ± 4.93 37.75 ± 4.93 B 0.0001 H3 41.75 ± 4.65 37.25 ± 0.96 51.25 ± 4.57 B H5 42.50 ± 5.00 48.25 ± 2.63 50.25 ± 3.50 A B B A Neutrofil % H0 7.50 ± 3.70 8.50 ± 3.70 7.50 ± 3.70 A 0.0412 H3 10.00 ± 1.63 6.25 ± 2.06 10.75 ± 2.22 A H5 11.75 ± 2.63 7.00 ± 4.16 9.25 ± 3.77 A A B A Keterangan:

Data yang ditampilkan merupakan nilai rataan ± standardeviasi. Huruf yang sama pada baris yang sama atau kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata, P< 0.05

Gambar 21. Persenase limfosit ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

0 10 20 30 40 50 60 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 LIM FOS IT % HARI SUHU a b b a c

.

Gambar 22. Persentase monosit ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

Persentase neutrofil ikan mas setelah diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa nilai neutrofil dipengaruhi oleh infeksi ich (p<0.05). Pada suhu 20⁰C nilai neutrofil mengalami peningkatan terus hingga hari ke-5, mencapai 56.66%. Demikian juga dengan ikan yang dipelihara pada suhu 24⁰C mengalami peningkatan hingga hari ke-5, sebesar 42.30%. Selanjutnya untuk melihat perubahan nilai neutrofil hasil interaksi level hari atau suhu lingkungan ditampilkan pada Gambar 23.

Gambar 23. Persentase neutrofil ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

Berdasarkan Gambar 23 terlihat bahwa peningkatan nilai neutrofil pada ikan mas yang diinfeksi ich hanya dipengaruhi oleh suhu media (p<0.05).

0 10 20 30 40 50 60 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 MO NOS IT % HARI SUHU b b a b b a 0 2 4 6 8 10 12 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 N EUTR OFI L % HARI SUHU a b a

Kadar Kortisol dan Kadar Glukosa Ikan Mas yang Diinfeksi dengan Ich

Hasil pengukuran kadar kortisol dan glukosa ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda disajikan pada Tabel 6. Dari data pada Tabel 6 terlihat bahwa infeksi ich dapat mempengaruhi kadar kortisol (p<0.01). Berdasarkan data tersebut di atas terlihat bahwa kadar kortisol ikan pada hari ketiga pascainfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu 20°C memiliki kadar tertinggi. Selanjutnya untuk melihat perubahan kadar kortisol ha-sil interaksi antara level hari pengamatan atau suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 24.

Tabel 6. Rataan kadar kortisol dan glukosa ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu yang berbeda

Waktu Suhu media pemeliharaan Nilai P 20⁰C 24⁰C 28⁰C Kortisol* (nmolL-1) H0 434.38 402.44 350.89 B 0.000 H3 657.58 547.98 439.19 A H5 293.95 279.32 488.25 C A C B Glukosa (mgdL-1) H0 48.12 ± 2.65 48.57 ± 5.14 45.71 ± 9.16 A 0.5317 H3 77.44 ± 2.89 59.51 ± 9.78 50.89 ± 7.87 A H5 60.06 ± 8.77 51.96 ± 7.23 61.14 ± 9.95 A A A A

Keterangan: * kadarkortisol berasaldari plasma yang dipool

Data yang ditampilkan merupakan nilai rataan, ± standar deviasi. Huruf yang sama pada baris yang sama atau kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata P < 0.05

Gambar 24. Kadar kortisol ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

0 100 200 300 400 500 600 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 K OR T ISOLnm ol L -1 HARI SUHU b a c a c b

Bedasarkan Gambar 24 terlihat bahwa penginfeksian ich mempengaruhi kadar kortisol berdasarkan hari pengamatan (p<0.01) dan suhu media (p<.0.01) Tingginya kadar kortisol ini menandakan ikan dalam kondisi stres berat karena diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu rendah. Seiring dengan perubahan kadar kortisol juga akan diikuti oleh perubahan kadar glukosa. Namun demikian pada penelitian ini kadar glukosa tidak berpengaruh nyata

Nilai Osmolaritas Ikan Mas yang Diinfeksi dengan Ich

Hasil pengukuran nilai osmolaritasikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu media yang berbeda disajikan pada Tabel 7. Dari data pada Tabel 7 terlihat bahwa nilai osmolaritas dipengaruhi oleh hari pengamatan dan suhu media pemeliharaan (p<0.05). Nilai osmolaritas terendah didapatkan dari ikan yang dipelihara pada suhu 20⁰C pada hari ketiga. Rendahnya nilai osmolaritas ini diduga disebabkan karena keberhasilan ich menginfeksi ikan terutama pada organ insang dan kulit. Kedua organ tersebut berfungsi sebagai osmoregulator. Terjadinya kerusakan pada insang akibat ich menyebabkan banyaknya air yang masuk ke dalam tubuh sehingga konsentrasi zat-zat terlarut akan berkurang, dengan demikian nilai osmolaritas menjadi rendah. Selanjutnya untuk melihat perubahan nilai osmolaritas hasil interaksi level hari pengamatan dan suhu media pemeliharaan ditampilkan pada Gambar 25. Berdasarkan Gambar 25 terlihat bahwa nilai osmolaritas dipengaruhi oleh hari pengamatan (p<0.05) dan suhu media pemeliharaan (p< 0.05). Pada hari ketiga nilai osmolaritas mengalami penurunan yang signifikan pascadiinfeksi dengan ich.

Tabel 7. Nilai osmolaritas ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu yang berbeda

Respons Waktu Suhu media pemeliharaan Nilai P 20⁰C 24⁰C 28⁰C Osmolaritas mMolkg-1 H2O H-0 303.33 ± 5.51 302.00 ± 4.36 320.33 ± 11.55 A 0.0008 H-3 247.50 ± 24.78 284.17 ± 19.53 283.50 ± 22.50 B H-5 287.50 ± 16.53 366.83 ± 10.37 325.83 ± 23.23 A B A A Keterangan:

Data yang ditampilkan merupakan nilai rataan ± standar deviasi.Huruf yang berbeda pada baris yang sama atau kolom yang sama menunjukkan beda nyata P < 0.05

Gambar 25. Kadar osmolaritas ikan mas hasil interaksi pada level hari pengamatan dan suhu media setelah diinfeksi dengan ich

Gambaran Histologi Insang Ikan Mas yang Diinfeksi dengan Ich

Gambaran histologi insang ikan 72 jam pascainfeksi dengan ich pada suhumedia pemeliharaan yang berbeda ditampilkan pada Gambar 26. Gambar 26a adalah preparat histologis insang ikan pada suhu media pemeliharaan 20⁰C yang menunjukkan adanya perbesaran sel (hiperseluler), banyaknya sel-sel goblet, dan adanya infiltrasi sel limfosit. Disimpulkan bahwa insang ikan mengalami inflamasi. Selanjutnya pada Gambar 26b terlihat bahwa infiltrasi sel limfosit yang ditemukan sangat sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan Gambar 26a, dan tidak ditemukan adanya perbesaran sel, sedangkan pada Gambar 26c juga ditemukan infiltrasi sel limfosit, namun jumlahnya juga tidak sebanyak pada Gambar 26a. Dapat disimpulkan bahwa insang ikan pada suhu media air pemeliharaan 24⁰C dan 28⁰C tidak mengalami inflamasi.

Prevalensi Ich dan Sintasan Ikan Mas yang Diinfeksi dengan Ich

Persentase prevalensi ich pada ikan mas disajikan pada Tabel 8. Berdasarkan Tabel 8 terlihat bahwa prevalensi ich dipengaruhi oleh suhu media pemeliharaan (p<0.05). Pada suhu 20⁰C prevalensi ich lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan yang dipelihara pada suhu media 24 dan 28⁰C. Tingginya prevalensi ich menandakan bahwa patogenitas ich tinggi pada suhu 20⁰C. Selain itu juga diduga bahwa ikan yang dipelihara pada suhu 20⁰C sudah mengalami stres sehingga mudah terinfeksi.

Sintasan ikan mas yang diinfeksi dengan ich dipengaruhi oleh suhu media pemeliharaan (p<0.01). Rendahnya sintasan yang dihasilkan menandakan bahwa

50 100 150 200 250 300 350 H-0 H-3 H-5 S-20 S-24 S-28 O sm o larit as m M o lkg -1HO2 HARI SUHU a b a b a a

kisaran suhu 20⁰C sampai 28⁰C merupakan kisaran suhu yang baik untuk ich melakukan invasi pada ikan.

Gambar 26a.Preparat histologis insang ikan mas 72 jam pascainfeksi pada suhu 20⁰C (Pewarnaan H&E, Bar 200 μm)

Keterangan: (a) hiperseluler : (b) infiltrasi sel limfosit : (c) sel goblet

Gambar 26b. Preparat histologis insang ikan mas 72 jam pascainfeksi pada suhu 24⁰C(Pewarnaan H&E, Bar 200μm)

Keterangan: (1) hiperseluler : (2) sel goblet: (3) infiltrasi sel limfosit. 3 2 1 2 3 1

Gambar 26c. Preparat histologis insang ikan mas 72 jam pascainfeksi pada suhu 28⁰C (Pewarnaan H&E, Bar 200 μm)

Keterangan: (1) hiperseluler : (2) sel goblet : (3) infiltrasi sel limfosit

Tabel 8. Rataan Persentase prevalensi ich dan sintasan ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu yang berbeda

Renpons Suhu media pemeliharaan Nilai P

20⁰C 24⁰C 28⁰C

Prevalensi (%) 62.77±5.17a 55.09±2.94b 53.48±1.76b 0.0402

Sintasan (%) 58.11±2.16a 73.88±1.62b 74.10±4.18b 0.000

Data yang ditampilkan merupakan nilai rataan ± standar deviasi.Huruf yang sama pada baris yang sama atau kolom yang sama menunjukkan tidak beda nyata , P < 0.05

PEMBAHASAN

Stres yang diakibatkan oleh suhu dan infeksi ich dapat mempengaruhi gambaran darah ikan. Rendahnya kadar hemoglobin pada hari ke-0 dan suhu 20⁰C bila dibandingkan dengan suhu 24⁰C, dan 28⁰C menandakan bahwa suhu mempengaruhi kadar hemoglobin. Pada suhu rendah, laju metabolisme rendah sehingga mempengaruhi laju pembentukan eritrosit. Rendahnya jumlah total eritrosit pada suhu rendah diikuti pula dengan rendahnya kadar hemoglobin. Sebaliknya pada suhu tinggi, laju metabolisme tinggi dan diikuti oleh

1

2 3

pembentukan eritrosit. Rendahnya laju metabolisme juga erat kaitannya dengan ketersediaan oksigen di lingkungan. Hal ini dapat dimengerti bahwa pada suhu rendah ketersediaan oksigen terlarut lebih tinggi bila dibandingkan pada suhu tinggi (Wedemeyer 2001). Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut pada su-hu 20⁰C adalah 6.3 mgL-1, sedangkan pada suhu 24⁰C dan 28⁰C adalah 4.5 mgL-1. Dengan demikian, ikan mas yang dipelihara pada suhu 24⁰C dan 28⁰C mengalami kekurangan oksigen (hipoksia). Untuk mengatasi kekurangan oksigen di jaringan maka produksi eritrosit meningkat atau disebut juga eritropoiesis. Dengan meningkatnya jumlah total eritrosit maka kadar hemoglobin juga me-ningkat, karena hemoglobin terkandung di dalam eritrosit dan berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan. Hal ini terbukti bahwa kadar hemoglobin pada suhu tinggi nilainya lebih besar bila dibandingkan dengan suhu rendah.

Peningkatan kadar hemoglobin pada hari ketiga dan kelima erat kaitannya dengan keberhasilan ich menginfeksi ikan. Ich yang berhasil menempel pada epitel insang ikan akan berkembang menjadi dewasa. Akibatnya, terjadi kerusakan pada organ insang, seperti yang terlihat pada hasil preparat histologis (Gambar 26). Mekanisme infeksi ich telah memicu terjadinya hiperplasia pada sel-sel epitel insang, sehingga interlamela insang mengecil ukurannya dengan demikian tempat pertukaran oksigen menjadi terbatas. Akibatnya, proses respirasi terganggu (Dang et al. 2000).

Peningkatan kadar kortisol juga diikuti oleh peningkatan kadar glukosa pada hari ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa ikan mengalami stres akibat suhu dan diinfeksi dengan ich. Terjadinya peningkatan kadar kortisol ini disebabkan oleh adanya stresor suhu dan infeksi ich sehingga merangsang bagian hipothalamus untuk melepaskan hormon adrenocorticosteroid (ACTH). Hormon ini merangsang korteks adrenal untuk menghasilkan kortisol dan hormon kortikosteroid lainnya. Kadar kortisol yang tinggi dapat menekan sistem imunitas ikan, karena kortisol dapat menghambat terbentuknya interleukin-1 dan interleukin-2, sehingga dapat mempengaruhi atau menghambat sel limfosit T dalam membantu sel B untuk mengasilkan antibodi (Berne dan Levy 1988; Isnaeni 2006). Dengan demikian, kekebalan ikan menurun dan mudah terinfeksi oleh ich.

Tingginya kadar kortisol pada hari ketiga pascainfeksi menandakan ikan dalam kondisi stres berat akibat dipelihara pada suhu rendah dan diinfeksi dengan ich. Dengan demikian, ikan akan mudah terinfeksi (Kubilay dan Ulukoy 2002 ; Varsamos et al. 2006). Hal yang sama juga terjadi pada hasil penelitian yang dilaporkan oleh Jorgensen dan Buchmann (2007) bahwa peningkatan kadar kortisol terjadi baik pada kondisi kronis maupun akut pada ikan rainbow trout yang terinfeksi Ichthyophthirius multifiliis dan diperlakukan dengan formalin. Akibat stres ini, ikan membutuhkan energi yang besar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (Costas et al. 2008). Dengan demikian, hormon stres ini akan merangsang peningkatan produksi glukosa melalui jalur glukoneogenesis dan glikogenolisis untuk mengatasi kebutuhan energi yang disebabkan oleh stres.

Tingginya kebutuhan energi untuk mempertahankan hidup oleh ikan yang mengalami stress akan merangsang terjadinya mobilisasi glukosa ke dalam darah. Pada kondisi ini, sel-sel chromaffin melepaskan hormon katekolamin, adrenalin, dan noradrenalin ke sirkulasi darah (Porchas et al. 2009). Hal ini terbukti dengan meningkatnya kadar glukosa plasma pada semua suhu pemeliharaan pascainfeksi ich. Perubahan kadar glukosa dalam plasma sering digunakan sebagai indikator kedua dari respons metabolik terhadap stres pada ikan (Evans dan Claiborne 2006).

Stres pada ikan mas yang diinfeksi dengan ich dan dipelihara pada suhu air media yang berbeda tidak hanya meningkatkan kadar kortisol dan glukosa plasma, tetapi juga dapat menurunkan nilai osmolaritas plasma pada hari ke-3 pascainfeksi. Penurunan nilai osmolaritas plasma berkaitan dengan kerusakan organ insang akibat invasi ich. Keberhasilan ich (sel theront) menginvasi ikan

Dokumen terkait