Kegiatan penelitian dilaksanakan di lahan tanaman tebu PT. PG. Rajawali II Unit PG. Subang yang terletak di blok Cidangdeur, desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Perusahaan ini memiliki pabrik dengan jarak sekitar 22 km kearah Utara kota Subang dan 12 km kearah Selatan dari Kecamatan Sukamandi, dengan ketinggian 31-33 m dpl, dan rata-rata curah hujan sebesar 1 858. 22 mm per tahun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai Maret 2011.
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah klon tebu yang sering digunakan di perkebunan PG. Rajawali II, dan herbisida diuron 500 g/l SC yang telah diperiksa kadar bahan aktifnya oleh laboratorium Batan dan disegel.
Alat
Alat yang digunakan adalah sprayer knapsack semi automatik dengan nozel T-jet sebagai alat penyemprot herbisida yang digunakan, ember, gelas ukur, pengaduk, timbangan, spidol, oven, dan kuadran dengan ukuran 0.5 m x 0.5 m.
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap teracak (RKLT) dengan satu faktor. Penelitian ini menggunakan enam perlakuan dengan empat ulangan. Perlakuan pertama adalah menggunakan herbisida dengan dosis 0.5 l/ha, perlakuan kedua dengan dosis 1.0 l/ha, perlakuan ketiga menggunakan dosis 2.0 l/ha, perlakuan keempat menggunakan dosis 3.0 l/ha. Perlakuan kelima tidak menggunakan herbisida tetapi dengan cara penyiangan manual dengan teknik babat dempes, yang dilakukan sekali pada pengamatan enam minggu setelah aplikasi (6 MSA). Perlakuan keenam merupakan kontrol yang digunakan sebagai pembanding tanpa penyiangan dan perlakuan apapun.
Model rancangan yang digunakan adalah :
Yijk = µ + τi + βj + εij Keterangan :
Yijk = Pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j µ = Rataan umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i βj = Pengaruh kelompok ke-j
εij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j
Pengolahan data dilakukan dengan metode analisis ragam. Apabila perlakuan menunjukan pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut terhadap perbedaan nilai rata-rata pada kepercayaan 5 % dengan prosedur uji yang sesuai dengan rancangan percobaan. Satuan petak terdiri atas gulma yang terdapat pada lima guludan tebu atau dengan luas 7 m x 10 m. Jarak antar satuan petak perlakuan adalah satu barisan tebu di dalam barisan dan jarak antar setiap petak ulangan adalah satu guludan tebu. Penentuan tata letak satuan perlakuan di dalam suatu kelompok dilakukan sedemikian rupa sehingga sebaran gulma relatif merata.
Pelaksanaan Penelitian
Analisis vegetasi dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan aplikasi untuk mengetahui jenis gulma yang dominan. Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan alat kuadrat berukuran 0.5 m x 0.5 m, dengan mengambil contoh gulma secara sistematis pada areal disekitar areal bercobaan yang diasumsikan memiliki kondisi lahan yang sama dengan lahan percobaan. Sebelum melakukan aplikasi herbisida, terlebih dahulu dilakukan pembagian petak percobaan yang disesuaikan berdasarkan perlakuan yang akan diberikan yang semuanya berjumlah 24 petak percobaan. Setiap petak berukuran 7 m x 10 m dengan jarak antar ulangan adalah 1.3 m dan jarak antara petak dalam satu ulangan adalah 0.5 m.
Kondisi pertanaman yang harus diperhatikan yaitu pertumbuhan tanamannya yang relatif seragam dimana umur tanaman tebu pada saat aplikasi adalah berumur lima hari. Kondisi gulma di lokasi percobaan pada saat aplikasi terlihat masih belum tumbuh atau hanya sekitar 5 % gulma yang sudah tumbuh di
14
petak percobaan tersebut. Cara aplikasi herbisida dan alat yang digunakan disesuaikan dengan sifat fisik, cara kerja dan bentuk formulasi herbisida yang diuji. Untuk formulasi yang larut dalam air, digunakan alat semprot punggung semi automatik (semi automatik knapsack sprayer) dan nozel T-jet dengan tekanan 1 kg/cm2 (15-20 psi). Aplikasi herbisida yang diuji dilakukan hanya satu kali, waktunya adalah setelah tanah diolah sempurna dan telah ditanami namun kondisi gulma di lahan percobaan belum tumbuh.
Pengamatan
Pengamatan gulma 1. Jumlah contoh
Jumlah contoh yang digunakan adalah data contoh biomassa gulma pada setiap satuan petak perlakuan, diamati sebanyak dua kuadran per petak perlakuan, menggunakan metode kuadrat berukuran 0.5 m x 0.5 m. Letak petak kuadrat ditetapkan secara sistematis.
2. Waktu pengambilan contoh
Pengambilan contoh pada saat sebelum aplikasi dilakukan dengan cara pengambilan gulma untuk data biomassa kerapatan dan frekuensi dilakukan sebelum aplikasi, dimaksudkan untuk menganalisis vegetasi menggunakan teknik
sum dominance ratio (SDR) yaitu proses perhitungan jumlah dominansi gulma
yang ada di sekitar areal percobaan tersebut. Pengambilan contoh setelah aplikasi dilakukan dengan cara pengambilan contoh gulma untuk data biomasa dan untuk data persentase penutupan gulma yang dilakukan 2 minggu sekali setelah aplikasi, dilakukan selama 3 bulan, berarti terdapat 6 kali pengamatan yaitu pada 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 MSA. Kemudian pada akhir pengamatan dilakukan juga pengambilan contoh gulma untuk analisis vegetasi akhir pada 12 MSA.
3. Cara pengambilan contoh
Contoh gulma yang diambil adalah gulma sasaran yang menjadi target herbisida yang diuji yang diperoleh menggunakan teknik pelemparan alat kuadran berukuran 0.5 m x 0.5 m sebanyak dua kuadran per petak perlakakuan. Gulma yang masih segar dipotong tepat setinggi permukaan tanah, kemudian dipisahkan setiap spesies. Selanjutnya gulma tersebut dikeringkan dalam oven pada
temperatur 800 C selama 48 jam atau sampai mencapai bobot kering konstan, kemudian ditimbang untuk menghitung biomassa gulma. Proses pengovenan dan penimbangan contoh gulma dilakukan di Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Kemudian untuk pengamatan persentase penutupan gulma dilakukan secara visual terhadap setiap petak perlakuan yang nantinya akan dinilai dalam satuan persen (%) pada 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 MSA.
Pengamatan tebu 1. Jumlah contoh
Jumlah contoh tanaman tebu untuk pengamatan fitotoksisitas adalah sebanyak 10 tanaman dalam satuan petak perlakuan dan ditentukan sacara acak.
2. Fitotoksisitas
Tingkat keracunan dinilai secara visual terhadap populasi kultivar dalam satuan petak perlakuan, diamati pada 4, 6, dan 8 minggu setelah aplikasi (MSA). Skoring keracunan yang diberikan sebagai berikut :
0 = Tidak ada keracunan, 0 – 5% bentuk atau warna daun dan atau pertumbuhan tanaman tebu tidak normal.
1 = Keracunan ringan, >5 – 20% bentuk atau warna daun dan atau pertumbuhan tanaman tebu tidak normal.
2 = Keracunan sedang, > 20 – 50% bentuk atau warna daun dan atau pertumbuhan tanaman tebu tidak normal.
3 = Keracunan berat, > 50 – 75% bentuk atau warna daun dan atau pertumbuhan tanaman tebu tidak normal.
4 = Keracunan sangat berat, > 75% bentuk atau warna daun dan atau pertumbuhan tanaman tebu tidak normal.
Kriteria efikasi
1. Efektifitas herbisida yang diuji dibandingkan dengan perlakuan penyiangan manual dan kontrol.
16
2. Efikasi herbisida yang diuji disimpulkan berdasarkan analisis statistik data biomassa spesies gulma sasaran dan persen penutupan gulma.
3. Sebagai data penunjang adalah keracunan dan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tebu.
Kondisi Umum
Perusahaan
PT. PG. Rajawali II Unit PG. Subang terletak di blok Cidangdeur, desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Perusahaan ini memiliki pabrik dengan jarak sekitar 22 km kearah Utara kota Subang dan 12 km kearah Selatan dari Kecamatan Sukamandi. Lokasi ini dipilih sebagai tempat pabrik karena 75 % areal kebun tebu terletak didaerah ini sehingga akan lebih melancarkan proses transportasi tebu ke pabrik. Secara geografis, kedudukan PG. Rajawali II Unit Subang dan areal perkebunannya terletak diantara 107° 41°16° BT sampai 107° 41°18° BT dan 6° 24° 46° LS sampai 6° 24° 48° LS, dengan ketinggian 31-33 m di atas permukaan laut. Daerah PG. Subang merupakan daerah datar sampai bergelombang dengan kemiringan 3-10%. Jenis tanah pada areal perkebunan ini umumnya merupakan tanah latosol merah.
Berdasarkan SK menteri No. 68/Menteri-X/1978 tanggal 14 Oktober 1978 pengelolaan PG. Subang yang terdiri dari kebun Pasir Bungur, Pasir Muncang, dan Manyingsal sepenuhnya diserahkan kepada PT. Perkebunan XIV. Pada tahun 1981, dimulailah pembangunan fisiknya yang ditegaskan dalam surat menteri pertanian No. 667/KPTS/8/1981 tertanggal 11 Agustus 1981. Giling pertama PG. Subang adalah pada tanggal 3 Juli 1984 dan berakhir tanggal 18 Oktober 1984, dengan total tebu sejumlah 1 122 716 kuintal dari keseluruhan jumlah tebu 2 135 628 kuintal. Pada saat pabrik berdiri atau produksi belum lancar, tebu PG. Subang digiling di PG lain di PTP XIV.
Penelitian
Kondisi pertanaman tebu pada awal dimulainya penelitian di areal percobaan terlihat cukup baik (Gambar 2). Aplikasi herbisida dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2010, pada pagi hari yang diperkirakan tidak turun hujan atau maksimal turun hujan 6 jam setelah aplikasi. Aplikasi dilakukan pada pagi hari untuk menghindari penguapan herbisida oleh sinar matahari yang dapat mengurangi efektifitas herbisida yang diaplikasikan.
18 Selama penelitian berlangsung, tingkat curah hujan di sekitar areal perkebunan tidak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan tingkat curah hujan bulan-bulan sebelumnya. Namun tingkat curah hujan yang terjadi di sekitar areal perkebunan akan mempengaruhi populasi gulma yang ada. Pengaruh tersebut dapat berupa peningkatan pertumbuhan kembali gulma (re-growth) dan mempercepat pertumbuhan biji gulma. Menurut Tjitrosoedirdjo et al. (1984), bahwa pemakaian herbisida pra tumbuh kurang efektif saat kurang hujan karena herbisida tersebut memerlukan kelembaban tanah untuk mengaktifkan senyawanya.
Waktu (MSA) Peubah Pengamatan PPG BKT BKRT BKDT BKD BKB BKCL BKBR 2 ** ** tn ** tn * ** tn 4 ** ** tn ** tn ** ** tn 6 ** ** tn ** tn * ** tn 8 ** ** tn ** tn tn ** tn 10 ** ** tn ** * tn ** tn 12 tn tn tn tn tn tn tn * Keterangan:
* = Berpengaruh nyata pada taraf 5 % BKBR = Bobot Kering Brachiaria distachya
** = Berpengaruh nyata pada taraf 1 % PPG = Persentase Penutupan Gulma
+ = Berpengaruh nyata pada taraf 10 % BKT = Bobot Kering Gulma Total
tn = Tidak berpengaruh nyata BKRT = Bobot Kering Rumput Total
BKD = Bobot Kering Digitaria adscendes BKDT = Bobot Kering Daun Lebar Total
BKB = Bobot Kering Borreria alata BKCL= Bobot Kering Cleome rutidosperma
Gulma Dominan
Vegetasi gulma menggambarkan perpaduan berbagai jenis gulma disuatu wilayah atau daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran gulma yang ada baik secara ruang maupun waktu. Vegetasi gulma dapat diketahui dengan melakukan suatu teknik yang dinamakan anilisis vegetasi. Analisis vegetasi dilakukan sebelum dan sesudah aplikasi herbisida untuk mengetahui jenis gulma dominan di lahan percobaan. Spesies gulma dominan ditunjukan oleh besarnya Nisbah Jumlah Dominansi (NJD) dalam % pada areal percobaan. Nisbah Jumlah Dominansi merupakan rata-rata jumlah kerapatan nisbi, nilai frekuensi nisbi, dan nilai berat kering nisbi gulma yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi pada areal percobaan.
Data-data yang diperoleh dari analisis vegetasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Analisis vegetasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Hasil analisis vegetasi gulma sebelum aplikasi herbisida diuron 500 g/l SC disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis vegetasi sebelum apikasi herbisida diuron 500 g/l SC didapatkan empat spesies gulma dominan yaitu Cleome rutidosperma, Borreria alata,
20 sebelum aplikasi herbisida adalah Cynodon dactylon, Urena lobata, Cyperus
rotundus, dan Croton monanthogynus.
Tabel 2. Nisbah Jumlah Dominansi (NJD) Gulma Sebelum Aplikasi Herbisida.
No Jenis Gulma NJD (%) 1 Cleome rutidosperma 35.60 2 Borreria alata 24.98 3 Digitaria adscendens 14.41 4 Brachiaria distachya 8.53 5 Gulma lain 16.48
Analisis vegetasi juga dilakukan pada akhir percobaan untuk mengetahui apakah ada perubahan dari jumlah gulma yang dominan ketika sebelum aplikasi dengan setelah aplikasi herbisida. Hasil analisis vegetasi akhir pada 12 Minggu Setelah Aplikasi (MSA) disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Nisbah Jumlah Dominansi (NJD) Gulma Setelah Aplikasi Herbisida.
No Jenis Gulma NJD (%) 1 Borreria alata 23.67 2 Cleome rutidosperma 22.57 3 Digitaria adscendens 22.38 4 Brachiaria distachya 18.81 5 Gulma lain 12.57
Hasil analisis vegetasi akhir yang dilakukan pada lahan percobaan memberikan gambaran umum tentang dominansi gulma setelah aplikasi herbisida. Data yang didapatkan pada Tabel 3 menunjukan bahwa terjadi perubahan dominansi gulma yang terjadi pada akhir percobaan setelah aplikasi herbisida. Hal ini terlihat dari perubahan dominansi gulma Cleome rutidosperma yang digantikan oleh gulma Borreria alata pada akhir percobaan. Pada Tabel 3 dapat dilihat juga bahwa terjadi penurunan nilai NJD pada gulma Cleome
rutidosperma, dan gulma Borreria alata yang merupakan gulma daun lebar.
Sedangkan nilai NJD pada gulma Digitaria adscendens, dan Brachiaria
distachya yang tergolong gulma rumput mengalami peningkatan.
Hal ini menunjukan bahwa herbisida diuron 500 g/l SC yang memiliki bahan aktif diuron 500 g/l lebih efektif untuk mengendalikan gulma golongan
golongan rumput menunjukan bahwa herbisida diuron 500 g/l SC kurang efektif dalam mengendalikan gulma rumput seperti Digitaria adscendens dan Brachiaria
distachya. Moenandir (1990) menyatakan bahwa ada empat peranan penting yang
mempengaruhi keselektifan ialah peran-peran tumbuhan, herbisida, lingkungan, dan cara aplikasi.
Gambar 3. Cleome rutidosperma (kiri atas), Borreria alata (kanan atas),
Digitaria adscendens (kiri bawah), Brachiaria distachya (kanan
bawah)
Perbedaan jenis gulma yang terdapat pada areal pertanaman, menunjukan beda kepekaan terhadap herbisida yang sangat ditentukan oleh faktor dalam dan faktor luar. Perbedaan yang terjadi dari pengaruh faktor dalam adalah karena setiap jenis gulma akan memiliki respon morfologi dan fisiologi yang berbeda
22 terhadap efek herbisida yang diberikan. Selain jenis gulma dan sifat herbisida, faktor lingkungan yang merupakan faktor luar juga sangat berpengaruh terhadap efektifitas suatu herbisida. Barus (2003) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi efektifitas herbisida yang diaplikasikan adalah cahaya, suhu, curah hujan, kandungan bahan faktor, kelembaban, dan pH.
Curah hujan yang terjadi di sekitar areal penelitian disaat penelitian berlangsung cukup tinggi. Curah hujan yang cukup tinggi tersebut dapat menyebabkan berkurangnya konsentrasi herbisida tersebut yang terkandung di dalam tanah yang terbawa oleh erosi tanah dan pencucian. Moenandir (1990) menyatakan bahwa herbisida yang diformulasikan dalam bentuk minyak atau emulsi sedikit dipengaruhi hujan dibandingkan dengan yang diformulasikan dalam bentuk larutan air. Hal ini dapat mempengaruhi efektivitas herbisida yang diaplikasikan. Data curah hujan selama percobaan terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Data Curah Hujan Selama Percobaan
Bulan Curah Hujan
(mm/bulan)
Desember 247.7
Januari 125.0
Februari 163.6
Maret 142.6
Sumber : PT. PG. Rajawali II Unit Subang
Curah hujan merupakan suatu faktor lingkungan yang juga erat kaitannya dengan tingkat kelembaban tanah. Semakin tinggi curah hujan maka akan semakin tinggi tingkat kelembaban tanah. Kelembaban tanah nantinya akan mempengaruhi tingkat proses pengecambahan gulma yang ada dalam tanah. Semakin tinggi tingkat kelembaban tanah maka akan semakin membantu proses pengecambahan gulma yang ada dalam tanah.
Persentase Penutupan Gulma
Persentase penutupan gulma (PPG) merupakan suatu nilai yang menunjukan seberapa besar vegetasi gulma tersebut menutupi areal pertanaman. Nilai persentase penutupan gulma yang di peroleh dari pengamatan pada
potensi gulma yang ada dalam tanah. Aplikasi herbisida dengan beberapa perlakuan yang diberikan menunjukan bahwa perlakuan pengendalian memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase penutupan gulma pasa 2, 4, 6, 8, dan 10 MSA. Sedangkan pengamatan pada 12 MSA tidak menunjukan perbedaan yang nyata terhadap perlakuan herbisida yang diberikan. Hal ini diakibatkan karena faktor lingkungan dan juga konsentrasi herbisida yang hanya memiliki efektifitas pengendalian sampai 10 MSA. Hasil dari perhitungan sidik ragam persentase penutupan gulma disajikan pada Lampiran 1.
Aplikasi herbisida diuron 500 g/l SC dengan beberapa perlakuan dosis ternyata memberikan respon yang nyata hingga 10 MSA, akan tetapi pengaruh ulangan yang diberikan tidak menunjukan berbeda nyata. Pada pengamatan 12 MSA tidak menunjukan perbedaan yang nyata dari setiap perlakuan herbisida dengan kontrol dan penyiangan manual, hal ini dikarenakan konsentrasi herbisida sudah menurun pada lapisan tanah. Penyebab penurunan konsentrasi herbisida dalam tanah adalah karena pencucian, diserap oleh tumbuhan, mengalami penguraian dan mengalami perpindahan fisik (Zaenudin, 1986).
Kemudian faktor lain adalah karena pada pengamatan 12 MSA ada beberapa petak percobaan yang rusak akibat ada proses turun tanah yang dilakukan oleh Karyawan Harian Lepas (KHL) yang tidak mengetahui bahwa petak tersebut merupakan petak percobaan. Adapun beberapa petak percobaan yang rusak pada pengamatan 12 MSA adalah petak 0.5 l/ha (ulangan 1), 1.0 l/ha (ulangan 2), penyiangan manual (ulangan 3), 3.0 l/ha (ulangan 4). Hasil dari uji perbedaan pengaruh antar perlakuan yang diberikan terhadap persentase penutupan gulma dapat dilihat pada Tabel 5 dengan bentuk grafiknya pada Gambar 4.
Hasil yang didapat dari pengamatan persen penutupan gulma setiap waktu pengamatan menunjukan tingkat persentase penutupan gulma terkecil terjadi pada petak percobaan dengan dosis perlakuan herbisida 3.0 l/ha sebesar 6.25 pada saat 2 MSA, kemudian dengan dosis 2.0 l/ha sebesar 9.25 pada 2 MSA. Diantara perlakuan dosis 2.0 l/ha dan dosis 3.0 l/ha tidak memiliki perbedaan yang nyata dalam persen penutupan gulma secara perhitungan statistik, kecuali pada
24 pengamatan 4 MSA yang menunjukan perbedaan. Pada perlakuan diantara dosis 0.5 l/ha, dan 1.0 l/ha terdapat perbedaan yang nyata pada taraf 5 % hingga pengamatan pada 8 MSA, sedangkan pada 10 MSA, dan 12 MSA tidak menunjukan perbedaan yang nyata.
Tabel 5. Pengaruh Pengendalian Gulma terhadap Persentase Penutupan Gulma
Perlakuan Dosis Minggu Setelah Aplikasi (MSA)
2 4 6 8 10 12 ---(%)--- Kontrol - 51.75 a 68.75 a 84.25 a 87.00 a 90.00 a 93.25 a Manual - 48.75 a 67.00 a 81.25 a 68.50 b 80.50 a 64.25 ab Diuron 500 g/l SC 0.5 l/ha 32.50 b 43.75 b 51.25 b 43.25 c 62.75 b 60.00 ab Diuron 500 g/l SC 1.0 l/ha 23.75 c 30.00 c 34.75 c 30.00 d 54.50 b 60.00 ab Diuron 500 g/l SC 2.0 l/ha 9.25 d 19.75 d 24.75 cd 22.00 d 35.50 c 49.00 ab Diuron 500 g/l SC 3.0 l/ha 6.25 d 10 75 e 13.75 d 18.75 d 28.50 c 35.00 b
Keterangan : Angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % uji duncan.
Gambar 4. Grafik Persentase Penutupan Gulma
Perlakuan herbisida diuron 500 g/l SC dengan dosis 0.5 l/ha sudah cukup untuk menurunkan persentase penutupan gulma dibandingkan dengan perlakuan Kontrol dan Penyiangan manual, sedangkan penambahan herbisida ke tingkat dosis yang lebih tinggi mampu menekan persentase penutupan gulma lebih tinggi dari mulai 2 MSA hingga 10 MSA. Perlakuan herbisida diuron 500 g/l SC dengan
menekan pertumbuhan gulma. Namun bila dilihat dari segi efisiensi biaya dan toksisitas terhadap tanaman budidaya, penggunaan herbisida diuron 500 g/l SC dengan dosis 0.5 l/ha lebih efisien diaplikasikan karena sudah mampu menekan pertumbuhan gulma dibandingkan perlakuan kontrol.
Grafik persentase penutupan gulma diatas, menunjukan bahwa formulasi herbisida yang diberikan tampak menunjukan hasil yang cenderung lebih baik pada tingkat dosis yang lebih tinggi. Semakin tinggi dosis yang digunakan akan senderung semakin baik menekan pertumbuhan gulma. Namun nantinya akan berpengaruh pada tingkat toksisitas dan dampak lingkungan serta efisiensi biaya apabila dosis yang digunakan terlalu banyak. Jumlah dari konsentrasi herbisida dapat menentukan terjadinya hambatan atau pemacauan pada suatu pertumbuhan, pada umumnya dengan semakin meningkatnya konsentrasi maka akan semakin meningkat pula penekanannya (Moenandir, 1990).
Gambar 3 menunjukan bahwa terjadi penurunan tingkat persentase penutupan gulma pada pengamatan 8 MSA untuk beberapa perlakuan khususnya perlakuan penyiangan manual. Perlakuan penyiangan manual dilakukan setelah pengamatan 6 MSA, sehingga pada saat 8 MSA terjadi penurunan. Namun terjadi peningkatan kembali pada 10 MSA dan kembali mengalami penurunan ketika 12 MSA yang diakibatkan terjadi kerusakan petak percobaan penyiangan manual pada blok ulangan tiga. Dari Gambar 3 terlihat bahwa semua perlakuan memiliki persentase penutupan gulma (PPG) terendah pada 2 MSA. Untuk perlakuan kontrol dan perlakuan herbisida dosis 3.0 l/ha mengalami peningkatan terus hingga 12 MSA, sedangkan untuk pelakuan penyiangan manual, 0.5 l/ha, 1.0 l/ha, dan 2.0 l/ha mengalami penurunan pada 8 MSA.
Bobot Kering Gulma
Bobot Kering Gulma Total
Bobot kering gulma total merupakan jumlah bobot kering gulma secara keseluruhan pada setiap petak perlakuan dan setiap ulangan. Penentuan berat kering gulma total dilakukan dengan cara menimbang tiap spesies gulma yang telah dioven yang merupakan hasil pengambilan sampel gulma setiap perlakuan
26 dan setiap ulangan. Hasil sidik ragam bobot kering gulma total diperlihatkan pada Lampiran 2. Perlakuan herbisida diuron 500 g/l SC dengan beberapa dosis berpengaruh sangat nyata pada 2, 4, 6, 8, dan 10 MSA. Pengaruh dari perlakuan terhadap bobot kering gulma total ditunjukan pada Tabel 6 dan gambar grafiknya pada Gambar 5.
Tabel 6. Pengaruh Perlakuan Pengendalian Gulma terhadap Bobot Kering Gulma Total
Perlakuan Dosis Minggu Setelah Aplikasi (MSA)
2 4 6 8 10 12 ---(g/0.25m2)--- Kontrol - (8.40) 2.95 a (136.5) 11.69 a (61.75) 7.88 a (56.22) 7.53 a (91.04) 9.59 a (139.07) 11.78 a Manual - (6.46) 2.62 a (50.57) 7.00 b (48.30) 6.98 b (44.32) 6.66 ab (46.23) 6.83 bc (74.57) 7.76 a Diuron 500 g/l SC 0.5 l/ha (2.37) 1.80 b (27.96) 4.99 c (19.78) 4.14 cd (39.20) 6.25 abc (55.05) 7.40 bc (69.95) 7.52 a Diuron 500 g/l SC 1.0 l/ha (1.09) 1.43 b (6.54) 2.66 d (16.89) 4.41 c (22.60) 4.79 bcd (64.47) 7.91 b (55.88) 6.76 a Diuron 500 g/l SC 2.0 l/ha (0.26) 1.11 b (7. 57) 2.73 d (11.60) 3.29 de (18.35) 4.36 cd (36.73) 6.03 cd (56.00) 7.53 a Diuron 500 g/l SC 3.0 l/ha (0.59) 1.21 b (4.55) 2.15 d (5.29) 2.43 e (15.1) 3.68 d (23.69) 4.89 d (45.13) 6.09 a Keterangan : - Angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf 5 % uji duncan.
- Angka dalam kurung merupakan data asli, sedangkan angka di luar kurung merupakan data hasil transformasi √(x+1)
Dilihat dari hasil perhitungan statistik bahwa perlakuan herbisida pada dosis 0.5 l/ha efektif menekan gulma hingga 6 MSA, kemudian pada 8, 10, dan 12 MSA nilai bobot kering gulma total dari perlakuan herbisida dengan dosis 0.5 l/ha tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dan penyiangan manual. Secara perhitungan statistik dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dalam menekan pertumbuhan gulma total diantara perlakuan dosis 2.0 l/ha dan 3.0 l/ha, namun dari setiap perlakuan dapat dilihat bahwa perlakuan herbisisda diuron 500 g/l SC dengan dosis 3.0 l/ha lebih besar menekan pertumbuhan gulma secara total. Bobot kering gulma total terendah terdapat pada perlakuan herbisida dengan dosis
terdapat pada perlakuan Kontrol pada pengamatan 12 MSA sebesar 139.07 gram. Secara umum dari setiap perlakuan terjadi peningkatan bobot kering gulma total yang sangat drastis pada 4 MSA, kemudian setelah itu tingkat bobot kering gulma total mengalami pertumbuhan yang konstan dan stabil hingga 8 MSA. Tidak terjadi perubahan bobot kering gulma total yang signifikan pada setiap perlakuan pada pengamtan 4 MSA hingga 8 MSA kecuali perlakuan Kontrol. Setelah pengamatan pada 8 MSA terjadi penigkatan bobot kering gulma total pada setiap perlakuan hingga pengamatan 12 MSA. Sastroutomo (1990) menyatakan bahwa secara umum hampir semua biji gulma yang ada dalam tanah berkecambah dalam waktu yang relatif singkat (2 minggu). Rata-rata perkecambahan gulma dimulai setelah 2 minggu dan meningkat jumlahnya setelah 2 bulan (8 MSA).
Gambar 5. Grafik Bobot Kering Gulma Total