• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Desember 2013. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pertanian dan Kelautan. Pusat Informasi dan Pengembagan Ikan Hias. Jl. Karya Wisata, Kec. Medan-Johor, Sumatera Utara.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian adalah kertas lakmus, termometer, DO meter, aerator, bak fiber berukuran 237 cm x 108 cm x 50 cm sebagai wadah aklimatisasi ikan, kertas milimeter, penggaris, timbangan analitik, timbangan analitik, gelas ukur 3 buah, Micropipet (Lampiran.1) dan 15 unit akuarium berukuran 30 x 30 x 30 cm3 (Gambar. 3) Bahan yang digunakan yaitu air tawar, ikan mas berukuran 5 – 6 cm sebanyak 700 ekor, pelet dan deterjen cair (Lampiran. 2).

Persiapan Penelitian

Akuarium yang digunakan sebelumnya dicuci bersih dan dikeringkan selama 1 hari. Selanjutnya akuarium diisi dengan air sebanyak 10 liter dan diaerasi selama 1 hari untuk suplai O2.

Sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi pada ikan. Aklimatisasi hewan uji dilakukan selama 1 minggu untuk mengkondisikan hewan uji pada kultur media air dan memberikan waktu hewan uji beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Selama aklimatisasi hewan uji diberi pakan pelet sebanyak 3x sehari serta diberi aerasi yang cukup agar dapat mempertahankan kadar oksigen terlarut.

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini terdiri atas 3 tahap yaitu uji pendahuluan, uji definitif, dan uji sublethal. Masing masing tahap dengan perlakuan dan pengulangan yang berbeda.

Uji Pendahuluan

Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan batas kisaran kritis (critical range test) yang menjadi dasar dari penentuan konsentrasi untuk menentukan ambang batas atas (N) dan ambang batas bawah (n) yang digunakan dalam uji definitif atau uji toksisitas sesungguhnya. Konsentrasi ambang batas atas adalah konsentrasi terendah dari bahan uji yang dapat menyebabkan semua ikan uji mati pada periode waktu pemaparan 24 jam, sedangkan konsentrasi ambang batas bawah adalah kosentrasi tertinggi dari bahan uji yang dapat menyebabkan semua hewan uji hidup setelah pemaparan 48 jam. Jumlah konsentrasi bahan uji sebanyak 4 konsentrasi dan 1 kontrol masing masing dengan 2 x pengulangan.

Prosedur uji pendahuluan:

Air tawar dimasukan ke dalam akuarium diendapkan dan diberi aerasi selama 1 hari untuk mensuplai oksigen. Ikan yang telah diaklimatisasi dimasukan ke dalam akuarium sebanyak 10 ekor untuk masing masing akuarium. Pemberian deterjen cair sehari setelah ikan dimasukan ke dalam akuarium agar ikan dapat beradaptasi. Selama pengamatan tidak dilakukan pergantian air dan setiap perlakuan tidak diberi aerasi. Konsentrasi deterjen cair yang dimasukan pada uji pendahuluan ini terdiri atas 4 konsentrasi yang berbeda dan 1 perlakuan tanpa pemberian deterjen cair sebagai kontrol. Parameter yang diamati selama uji pendahuluan adalah mortalitas ikan yang dihitung pada jam ke- 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22 dan 24, pengamatan berikutnya dilakukan setiap 6 jam sekali sampai jam ke- 48, sedangkan pengukuran Kualitas air dilakukan setiap hari.

Dengan penentuan konsentrasi:

Perlakuan 1: 0 ppm ( Tanpa Deterjen)

Perlakuan 2: 1 ppm (0,01 ml deterjen cair, 999.99ml air) Perlakuan 3: 10 ppm ( 0,1 ml deterjen cair, 9999.9ml air) Perlakuan 4: 100 ppm ( 1 ml deterjen cair, 9.999 ml air) Perlakuan 5: 1000 ppm ( 10 ml deterjen cair, 9.990 ml air) Uji Definitif

Konsentrasi perlakuan uji definitif diperoleh dari hasil uji penentuan selang konsentrasi nilai ambang atas dan bawah digunakan untuk mengetahui toksisitas akut, menentukan nilai LC50–96 jam. Nilai LC50 yang dilihat adalah nilai

yang dapat mematikan ikan pada jam ke 96. Jumlah konsentrasi bahan uji sebanyak 4 buah dan 1 kontrol dengan 3 x pengulangan.

Prosedur uji definitif:

Air tawar dimasukan ke dalam akuarium diendapkan dan diberi aerasi selama 1 hari untuk mensuplai oksigen. Ikan yang telah diaklimatisasi dimasukan ke dalam akuarium sebanyak 10 ekor untuk masing masing akuarium. Pemberian deterjen cair sehari setelah ikan dimasukan ke dalam akuarium agar ikan dapat beradaptasi. Konsentrasi pada uji definitif yaitu 0 ppm, 17.78 ppm, 31,62 ppm, 56,23 ppm, dan 100 ppm, parameter yang diukur adalah mortalitas ikan yang dihitung pada jam ke- 0, 6, 12, 18, 24 dan selanjutnya dilakukan perhitungan setiap 12 jam sekali sampai jam ke- 96. Sedangkan pengukuran Kualitas air dilakukan setiap hari.

Penentuan konsentrasi menggunakan rumus menurut (Syakti et al, 2012) sebagai berikut:

Log N/n = k (log a – log n) a/n = b/a = c/b = d/c = N/d Keterangan:

N : Konsentrasi ambang atas n : Konsentrasi ambang bawah k : Jumlah konsentrasi yang diuji

a,b,c,d : Konsentrasi yang diuji dengan nilai a sebagai konsentrasi terkecil Analisis data

Untuk dapat menentukan nilai konsentrasi LC50 dilakukan dengan analisis probit dengan Metode Hubbert. Analisis probit adalah suatu cara transformasi statistik dari data presentase kematian ke dalam varian yang disebut probit dan

kemudian digunakan untuk menentukan fungsi regresi probit dengan log konsentrasi agar dapat mengestimasi LC50.

Uji Toksisitas Sublethal

Uji Toksisitas Sublethal dilakukan selama 43 hari, bertujuan untuk mengetahui pengaruh deterjen cair terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas.

Prosedur uji toksisitas sublethal:

Air tawar dimasukan ke dalam akuarium diendapkan dan diberi aerasi selama 1 hari untuk mensuplai oksigen. Ikan yang telah diaklimatisasi dimasukan ke dalam akuarium sebanyak 10 ekor untuk masing masing akuarium. Pemberian deterjen cair sehari setelah ikan dimasukan ke dalam akuarium agar ikan dapat beradaptasi. Selama pengamatan 43 hari dilakukan pergantian air dan diberi aerasi untuk mensuplai oksigen. Sebelum dimasukan kedalam akuarium ikan ditimbang sebagai data awal. Konsentrasi deterjen cair yang dimasukan adalah 3%, 6%, 9% dari nilai LC50 yang di dapat melalui uji definitive yaitu 0 ppm, 1.3 ppm, 2.7 ppm, 4.0 ppm. Selama pengamatan ikan diberi pakan berupa pellet dan diberikan sebanyak 3% dari berat tubuh ikan per hari, sedangkan pengukuran kualitas air dilakukan setiap hari.

Analisis data yang dilakukan pada uji ini adalah :

Laju Pertumbuhan (GR)

Data laju pertumbuhan ikan uji diperoleh dengan melakukan pengambilan ikan uji awal dan akhir penelitian, kemudian ditimbang beratnya. Laju

pertumbuhan harian ikan dianalisa dengan menggunakan rumus berdasarkan (Effendie, 1979):         t 1 Wo Wt  x 100

Keterangan: α = laju pertumbuhan bobot rerata harian (%) Wt = bobot rata-rata individu pada waktu t (g) Wo = bobot rata-rata individu pada waktu t0 (g)

t = lama percobaan (hari) Kelangsungan hidup

Kelangsungan hidup ikan uji diperoleh dengan mengikuti rumus (Darmansah, 2011). :

SR = Ntx 100 %

No

Keterangan: SR: Kelangsungan hidup hewan Uji (%).

Nt : Jumlah ikan uji pada akhir penelitian (ekor). No : Jumlah ikan uji pada awal penelitian (ekor). Efisiensi pakan

Efisiensi pakan dihitung dengan menggunakan rumus menurut (Huisman, 1976) sebagai berikut:

EP % Bt BdF B x

Keterangan:

EP = Efisiensi pakan (%)

Bt = Biomasa mutlak ikan pada akhir percobaan (g)

Bd = Biomasa mutlak ikan yang mati selama percobaan (g) B0 = Biomasa mutlak ikan pada awal percobaan (g)

Analisis Data

Data pengaruh konsentrasi deterjen cair terhadap perlakuan, pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pakan akan dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA). Apabila terdapat pengaruh nyata maka akan dilanjutkan dengan uji beda nilai terkecil (BNT). Selanjutnya data kualitas air akan dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan tabel, gambar dan grafik

Dokumen terkait