Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih IV Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan yang dimulai bulan Maret 2008 sampai Juni 2008.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas Anjasmoro dan varietas Kaba (Deskripsi terlampir), pasir dan bahan-bahan pendukung lainnya (Lampiran 1 dan 2).
Peralatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah ruang penyimpanan benih, refrigerator, oven, pinset, desikator, kantong plastik polietilen, kaleng, kantong terigu, boks plastik.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di tiga ruang simpan yang berbeda, yaitu ruang refrigerator (suhu 10 – 150C dan kelembaban 44 – 70%); ruang AC (suhu 20 – 250C dan kelembaban 48 – 70%); dan pada ruang suhu kamar (suhu 30 - 350C dan kelembaban 60 – 80%) (Lampiran 40, 41 dan 42).
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 2 faktor yaitu varietas (V) dan kemasan (K) dengan 3 ulangan.
Adapun faktor perlakuannya terdiri dari : - Faktor A (varietas)
V1 : Varietas Anjasmoro V2 : Varietas Kaba
K1 : Kantong plastik polietilen (ukuran 15 cm x 15 cm) K2 : Kantong Terigu (ukuran 15 cm x 15 cm)
K3 : Kaleng (ukuran tinggi 8 cm x diameter 7,5 cm)
Dengan demikian diperoleh 6 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, maka diperoleh keseluruhan 18 kombinasi perlakuan pada setiap ruang simpan. Jika pengaruh perlakuan berbeda nyata pada sidik ragam (ANOVA) maka dilakukan uji lanjutan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (UJGD).
Metode analisis
Rancangan Percobaan yang dilakukan menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan model matematis sebagai berikut :
Yij = µ + Vi + Kj + (VK)ij + €ij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan pada perlakuan varietas taraf ke-i, perlakuan kemasan taraf ke-j.
µ = nilai tengah umum.
Vi = pengaruh perlakuan varietas taraf ke – i. Kj = pengaruh perlakuan kemasan taraf ke – j.
(VK)ij = pengaruh interaksi perlakuan varietas taraf ke – i dan perlakuan kemasan taraf ke – j.
€ij = pengaruh galat perlakuan varietas taraf ke – i, perlakuan kemasan taraf ke – j.
Pelaksanaan Penelitian
Benih
Benih yang digunakan adalah benih yang mempunyai kelas Benih Dasar (BD) dan berasal dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Tegalgondo – Malang, Jawa Timur. Benih yang digunakan adalah varietas
Penyimpanan
Benih yang akan digunakan untuk penelitian dilakukan penyimpanan benih sesuai dengan perlakuan yang akan diberikan. Pada penyimpanan, baik suhu maupun kelembaban udara mengikuti suhu dan kelembaban udara ruangan, hal ini dilakukan karena setelah penelitian selesai diharapkan hasil penelitian dapat diaplikasikan oleh penangkar benih kedelai untuk mempertahankan viabilitas benih kedelai tetap baik selama penyimpanan. Adapun tahapan kegiatan penyimpanan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Benih yang akan digunakan untuk penelitian dibagi untuk masing-masing perlakuan. Pembagian dilakukan secara acak. Untuk masing-masing perlakuan digunakan 200 gram benih untuk pengujian daya kecambah, vigor atau kekuatan tumbuh dan kadar air dan uji Tetrazolium.
b. Benih diletakkan dalam kemasan-kemasan yaitu K1: kantong plastik polietilen berukuran 15 cm x 15 cm; K2: kantong terigu berukuran 15 cm x 15 cm; dan K3: kaleng berukuran tinggi 8 cm, diameter 7,5 cm.
c. Benih disimpan pada tiga kondisi ruang yang berbeda yaitu 1) ruang refrigerator (suhu 10 – 150C dan kelembaban 44 – 70%); 2) ruang ber AC (suhu 20 – 250C dan kelembaban 48 – 70%); dan 3) pada ruang suhu kamar (suhu 30 - 350C dan kelembaban 60 – 80%).
Perkecambahan
Perkecambahan benih dilakukan di dalam boks plastik yang berukuran 34 cm x 25 cm x 10 cm dengan menggunakan media pasir dan diletakkan di screen house. Untuk tiap satu perlakuan menggunakan empat ratus (400) butir benih yang diambil secara acak dari masing-masing perlakuan dan ditanam dalam pasir dengan 4 ulangan, dan setiap satu ulangan sebanyak 100 butir. Benih ditanam pada pasir dengan kedalaman 2 cm.
Peubah yang Diamati
Kadar air
Penetapan kadar air dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 Minggu. Penetapan kadar air dilakukan dua kali untuk setiap ulangan perlakuan. Berat contoh kerja diambil masing-masing 5 gram untuk setiap ulangan dan benih dihancurkan menggunakan grinder dengan skala 1. Metode yang digunakan adalah Metode Oven Suhu Rendah Konstan (103 ± 2)0C selama 17 jam. Berat kering benih diperoleh dengan cara menimbang benih setelah dioven dan dibiarkan dalam desikator selama 45 menit.
Kadar air (KA) dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA Rules
(2005), yaitu sebagai berikut: (M2 – M3)
KA = x 100% (M2 – M1)
Keterangan :
M1 = berat wadah + tutup dalam gram
M2 = berat wadah + tutup + isi dalam gram sebelum dikeringkan M3 = berat wadah + tutup + isi dalam gram setelah dikeringkan
Daya berkecambah
Pengujian daya berkecambah dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 Minggu. Daya berkecambah diukur berdasarkan persentase kecambah nomal pada hari ke – 7 setelah benih dikecambahkan. Kriteria kecambah normal berdasarkan pada kriteria kecambah normal benih kedelai yaitu: akar primer tumbuh panjang dan ramping, hipokotil lurus dan langsing, kotiledon berkembang seperti daun berwarna hijau, daun berkembang baik berwarna hijau. Daya Berkecambah (DB) akhir dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam metode Burris (1975)
dalam Copeland dan McDonald (2001) yaitu sebagai berikut :
benih yang berkecambah normal
DB = x 100%
Kecepatan perkecambahan (KP)
Pengujian Kecepatan Perkecambahan dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 Minggu. Kecepatan perkecambahan benih diukur berdasarkan jumlah tambahan persentase kecambah normal setiap hari. Pengamatan dilakukan dalam kurun waktu 7 hari setelah benih dikecambahkan. Kecepatan tumbuh benih dinyatakan dalam satuan unit persentase per etmal (etmal – 24 jam). Kecepatan perkecambahan (KP) dihitung dengan menggunakan rumus Maguire (1985) dalam
Fauzan (2004). X1 X2 Xn KP = + + … + E1 E2 En Keterangan : KP = kecepatan perkecambahan
Xn = persentase kecambah normal pengamatan ke – n En = pengamatan hari ke – n
Laju pertumbuhan kecambah (LPK)
Pengujian Laju Pertumbuhan Kecambah dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 Minggu. Laju pertumbuhan kecambah (LPK) diukur dengan menimbang kecambah normal yang telah dioven pada suhu 800C sampai mencapai berat konstan dibagi jumlah kecambah normal. Pengamatan dilakukan pada hari ke – 7 setelah benih dikecambahkan. Perhitungan berdasarkan metode Burris (1975)
dalam Copeland dan McDonald (2001).
Bobot kering kecambah normal (g) LPK =
Kecambah normal
Bobot kering kecambah normal
Pengujian Bobot Kering Kecambah Normal dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 3, 6, 9, 12 dan 15 Minggu. Pengukuran dilakukan pada akhir pengamatan (7 hari setelah benih dikecambahkan). Seluruh kecambah normal dicabut kemudian
dibungkus dengan alumunium foil dan dioven pada suhu 800C sampai mencapai berat konstan kemudian dimasukkan kedalam desikator selama 45 menit kemudian ditimbang dalam satuan gram (g).
Uji Tetrazolium (TZ)
Uji Tetrazolium dilakukan pada saat penyimpanan benih 0, 3, 6, 9,12 dan 15 Minggu. Benih yang diuji sejumlah 4 x 100 butir untuk setiap perlakuan. Prosedur uji Tetrazolium adalah sebagai berikut, benih dilembabkan dengan media di antara kertas (kertas daya kecambah) selama 10 - 15 jam, setelah benih selesai diperlakukan kemudian direndam selama 2 – 4 jam dengan larutan Tetrazolium 1,0% dengan pH 6,5 – 7,0 pada suhu 400C. Kulit benih dikupas dan kotiledon dibelah dua. Pengamatan dilakukan dengan melihat jaringan hidup yang berwarna merah (ISTA, 2005).