• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Bahan dan Alat Penelitian

3.1.1 Bahan Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan bahan sebagai berikut : 1. Arang Tempurung Kelapa

Arang tempurung kelapa diolah menggunakan alat shaker mills selama kurang lebih dua juta siklus hingga berukuran nanometer. Pada penelitian ini arang tempurung kelapa menjadi bahan tambahan material PCM campuran minyak jagung dan air.

Gambar 3.1 Arang Tempurung Kelapa 2. Air

Pada penelitian ini air digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan material PCM. Air tergolong dalam jenis PCM organik yang sering digunakan sebagai penelitian karena air mudah didapat dan biaya yang relatif terjangkau.

Gambar 3.2 Air

3. Minyak Jagung

Pada penelitian ini minyak jagung digunakan sebagai bahan campuran dalam air. Minyak jagung memiliki kandungan metil ester yang dapat memicu terjadinya nukleasi pada air.

Gambar 3.3 Minyak Jagung 3.1.2 Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Mesin Shaker Mills

Mesin shaker mills digunakan untuk mengolah arang tempurung kelapa menjadi berukuran nanometer. Pada penelitian ini, putaran yang digunakan sebesar 150 rpm, dan ukuran bola baja (ball mills) yang digunakan 5/32 inchi. Prinsip kerja dari alat ini yaitu menggunakan metode top-down dimana arang tempurung kelapa dipecah-pecah selama kurang lebih 2 juta siklus hingga berukuran nanometer.

Gambar 3.4 Mesin Shaker Mills

2. Conductivity Meter CT – 303

Gambar 3.6 adalah alat Conductivity Meter CT – 303 yang digunakan untuk menguji konduktivitas listrik material PCM. Prinsip kerja dari alat ini yaitu menggunakan 2 sensor yang berada pada ujung alat untuk mendeteksi arus yang mengalir pada material PCM.

Gambar 3.5 Conductivity Meter CT – 303 3. Mesin uji Fourier Transform Infrared

Gambar 3.7 adalah mesin Fourier Transform Infrared yang diigunakan untuk mengetahui gugus molekul pada material PCM.

Mesin ini memanfaatkan sinar inframerah yang dilewatkan pada material PCM yang kemudian dapat diketahui gugus maolekul apa saja yang terdapat pada material PCM

Gambar 3.6 Mesin uji Fourier Transform Infrared

Mulai

Konduktivitas Listrik Phase Change Material (PCM)

Studi Literatur 3.2 Parameter yang divariasikan

3.2.1 Variabel yang divariasikan:

 Konsentrasi minyak jagung

 Konsentrasi karbon nano 3.2.2 Variabel yang diteliti:

 Konduktivitas PCM

 Gugus fungsional PCM

3.3. Diagram Alir Penelitian

Tahapan dari alur penelitian ini adalah sebagai berikut :

A1

Phase Change Material Organik

Phase Change Material (PCM) Karbon Nano

Komposisi Phase Change Material

Fourier Transform Infrared Conductivity Meter

Gugus Molekul Konduktivitas Listrik

Kesimpulan Analisis dan Pembahasan

Selesai

Gambar 3.7 Diagram alir penelitian A1

Kajian Pustaka

3.4 Prosedur Penelitian

Arang tempurung kelapa diolah terlebih dahulu menggunakan mesin shaker mills hingga berukuran nano sebelum dicampurkan pada material PCM air dan minyak jagung. Hasil dari mesin shaker mills tersebut berupa karbon tempurung kelapa berukuran nano yang diolah selama 2 juta siklus. Pada penelitian ini akan dilakukan variasi penambahan nano karbon tempurung kelapa sebesar 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm pada masing-masing PCM. Karena setiap sampel memerlukan 100ml sehingga perlunya dilakukan konversi pada perhitungan nano karbon agar mampu dicampurkan pada material PCM dengan komposisi yang sesuai.

3.4.1 Preparasi sampel

Untuk tahap awal dalam penelitian ini disiapkan 3 material yang akan digunakan yaitu air sebagai bahan terdispersi kemudian minyak jagung sebagai bahan pemicu nukleasi dan nano karbon tempurung kelapa sebagai karbon aktif. Kemudian disiapkan komposisi 35% dan 40% minyak jagung menggunakan gelas ukur, setelah itu disiapkan karbon nano 50ppm, 100ppm,150ppm untuk dicampurkan pada setiap sampel yang memiliki volume 100ml. Dalam penelitian ini akan menggukan 8 sampel dengan komposisi yang dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3. 1 Sampel Meterial Kode

Sampel Air Minyak Jagung Nano Karbon Jumlah

A1 65ml 35ml - 100ml

3.4.2 Penggabungan material

Pertama campurkan komposisi 35% dan 40% minyak jagung dan air dengan volume 100 ml. Kedua dilakukan pengenceran 1 gram karbon nano kedalam 1000 ml air, sehingga menjadi cairan 1000 ppm. Untuk mencari 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm menggunakan persamaan 3.1. Setelah semua sampel siap dengan komposisi masing-masing sampel diaduk selama 60 second agar material dapat bercampur secara merata.

v1 . m1 = v2 . m2 (3.1)

3.4.3 Pengujian Konduktivitas Listrik

Konduktivitas listrik dari masing masing material dapat diketahui dengan menggunakan alat conductivity meter dengan ketelitian 0 – 19,99 mS/cm.

Cara kerja conductivity meter yaitu dengan mencelupkan sensor yang terdapat pada bagian bawah alat kedalam sampel PCM yang akan diuji. Alat ini bertujuan untuk mengetahui nilai konduktivitas listrik dari sampel yang dapat dilihat pada monitor.

3.4.4 Pengujian Fourier Transform Infrared (FTIR)

Pengujian FTIR dilakukan untuk mengetahui gugus molekul yang terdapat dalam material yang nantinya akan diperoleh ikatan-ikatan molekul yang terdapat pada material. Pada pengujian FTIR ini dilakukan pengujian pada komposisi material minyak jagung murni, sampel 35% minyak jagung tanpa karbon nano, dan sampel 35% minyak jagung dengan penambahan 150 ppm karbon nano.

3.5 Tempat Penelitian

Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan data pada 2 tempat yang berbeda. Persiapan sampel mulai dari pembuatan nano karbon tempurung kelapa menggunakan mesin shaker mill hingga penggabungan material dilakukan di laboraturium Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma.

Pengujian FTIR untuk mengetahui gugus molekul dari material dilakukan di laboraturium Pendidikan Kimia Universitas Sanata Dharma.

3.6 Rencana Analisis Data

Sifat termal dari material PCM dapat diperbaiki dengan menambahkan karbon nano yang memiliki karbon bersifat aktif. Material baru yang akan dikembangkan dan dioptimalkan (sifat termal) harus mampu diketahui secara tepat. Namun, data yang disajikan oleh produsen PCM bisa salah ataupun kurang kredibel. Sehingga pengukuran harus dilakukan dengan tepat agar mendapatkan hasil perkembangan material PCM yang benar. Dalam penelitian ini untuk mengetahui perkembangan PCM akan menggunakan alat conductivity meter untuk mengetahui konduktivitas listrik dan pengujian Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk mengetahui ikatan-ikatan gugus moleku pada material.

Pengujian dengan conductivity meter akan mendapatkan hasil konduktivitas listrik dari masing-masing material. Seluruh material yang diuji kemudian dibuat grafik untuk mengetahui hasil dengan jelas. Dari grafik tersebut kemudian dikorelasikan dengan teori konduktivitas termal dari penelitian sebelumnya. Sehingga dapat diketahui perkembangan material PCM dengan penambahan karbon nano.

Pengujian dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) adalah metode sederhana untuk mengetahui gugus molekul yang terdapat pada material.

Pengujian ini memanfaatkan interaksi radiasi inframerah terhadap material.

Hasil dari pengujian FTIR adalah grafik yang membentuk puncak berupa peak yang memiliki nilai tertentu, kemudian dicari mengunakan tabel 2.6 untuk mengetahui gugus molekul yang terdapat dalam material. Gugus molekul yang terdapat dalam material akan dijadikan analasis berdasarkan teori sebelumnya.

4.1 Data Penelitian

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini pengambilan data pada material dilakukan dengan menggunakan dua metode. Metode pertama yaitu dilakukan pengujian konduktivitas listrik yang disajikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui nilai konduktivitas listrik material PCM. Metode yang kedua yaitu pegujian FTIR untuk mengetahui gugus molekul yang terdapat pada material PCM. Hasil perolehan data dari dua metode tersebut digunakan sebagai dasar pembahasan penelitian.

4.1.1 Data konduktivitas listrik

Data konduktivitas listrik yang diperoleh dari conduktivity meter dapat dilihat pada tabel 4.1 dan tabel 4.2. Tabel dibawah menyajikan hasil data dari variasi penambahan karbon nano tempurung kelapa pada PCM minyak jagung dan air. Variasi dilakukan pada konsentrasi karbon nano 50ppm, 100ppm, 150ppm, dan 35%, 40% minyak jagung.

Tabel 4. 1 Data pengujian konduktivitas listrik material PCM dengan 35%

minyak jagung Waktu

(Menit)

35% Minyak Jagung

Tanpa Nano 50 ppm 100ppm 150ppm

0 0,05 0,05 0,06 0,07

5 0,05 0,05 0,06 0,07

10 0,05 0,06 0,06 0,07

Rata-rata 0,050 0,053 0,060 0,070

Tabel 4. 2 Data pengujian konduktivitas listrik material PCM dengan 40% untuk dapat diuraikan menggunakan tabel 2.6 daerah gugus fungsi FTIR. Hasil dari penguraian tersebut merupakan gugus molekul yang terdapat pada material yang diuji.

Tabel 4. 3 Data pengujian FTIR minyak jagung murni No. Angka

Tabel 4. 4 Data pengujian FTIR 35 % Minyak jagung No. Angka

Gelombang Intensity Area

1 922,71 76,41 385,424

2 990,56 80,85 401,733

3 1040,55 63,41 1286,005

4 1080,54 78,7 311,473

5 1136,96 80,6 548,551

6 1641,88 74,14 54,909

7 3292,33 49,73 107,511

Tabel 4. 5 Data pengujian FTIR 35% Minyak jagung + Karbon nano No. Angka

Gelombang Intensity Area

1 922 77,99 378,639

2 990,56 82,5 321,876

3 1040,55 67,89 1109,45

4 1079,83 80,96 80,38

5 1137,68 82,88 301,245

6 1632,6 75,45 138,73

7 1648,31 73,88 124,567

8 1700,44 65,58 57,871

9 3303,76 53,79 98,788

4.2 Analisis Konduktivitas Listrik

Hasil pengukuran konduktivitas selanjutnya dibuat suatu grafik hubungan antara konsentrasi karbon nano dan angka konduktivitas seperti terlihat pada Gambar 4.1. Dari gambar 4.1 terlihat bahwa penambahan konsentrasi karbon nano dapat meningkatkan konduktivitas listrtik material PCM.

0,08

35% Minyak Jagung 40% Minyak Jagung

Gambar 4. 1 Grafik hubungan konduktivitas listrik dan konsentrasi karbon nano Gambar 4.1 adalah hubungan konduktivitas listrik dan konsentrasi karbon nano pada material PCM. Pada konsentrasi 35% minyak jagung tanpa karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,05 mS/cm. Material PCM komposisi 35%

minyak jagung dengan penambahan 50 ppm karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,053 mS/cm. Material PCM komposisi 35% minyak jagung dengan penambahan 100 ppm karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,06 mS/cm. Material PCM komposisi 35% minyak jagung dengan penambahan 150 ppm karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,07 mS/cm. Penambahan karbon nano 50 ppm , 100 ppm, 150 ppm mengakibatkan konduktivitas listrik meningkat 7%, 20%, dan 40%.

Material PCM komposisi 40% minyak jagung tanpa karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,03 mS/cm. Pada komposisi 40% minyak jagung dengan penambahan 50 ppm karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,037 mS/cm.

Pada komposisi 40% minyak jagung dengan penambahan 100 ppm karbon nano

0,06

C – H

C – O

O – H

C – H

memiliki konduktivitas listrik 0,04 mS/cm. Pada komposisi 40% minyak jagung dengan penambahan 150 ppm karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,05 mS/cm. Penambahan karbon nano 50 ppm , 100 ppm, 150 ppm mengakibatkan konduktivitas listrik meningkat 22%, 33%, dan 67%

Dari grafik diatas bisa dilihat bahwa setiap penambahan konsentrasi karbon nano meningkatkan nilai konduktivitas listrik material PCM. Hal ini terjadi karena penambahan partikel karbon nano meningkatkan jumlah ion di dalam PCM sehingga material bermuatan. Karbon aktif yang merupakan kelompok carboxylic acid dapat membantu penyebaran ion dalam material PCM. Semakin tinggi konsentrasi karbon nano akan membuat struktur semakin rapat sehingga arus listrik dapat bergerak dengan baik dan menghasilkan konduktivitas listrik yang tinggi.

4.3 Analisis FTIR

Hampir setiap senyawa yang memiliki ikatan kovalen baik senyawa organik atau anorganik, akan menyerap berbagai frekuensi radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang (λ) 0,5 – 1000 μm). Dalam kimia organik, fungsi utama dari spektrometri inframerah adalah mengenal struktur molekul, kususnya gugus fungsional seperti OH, C = O, C = C. daerah yang paling berguna untuk mengenal struktur suatu senyawa adalah pada daerah 1-25 μm atau 10.000 cm-1 – 400 cm-1

Gambar 4. 2 Grafik spektrum FTIR minyak jagung murni

Grafik 4.2 menunjukan spektrum FTIR dari material minyak jagung murni.

Pada grafik diatas puncak peak minyak jagung berada pada 3313, 76 cm-1. Material yang memiliki nilai puncak peak antara 2500 – 3650 cm-1 menunjukkan gugus O – H dengan tipe senyawa Fenol, Manomer Alkohol, Alkohol ikatan hidrogen, Fenol, manomer asam karboksilat, ikatan hidrogen asam karboksilat.

Menurut tabel daerah gugus fungsi nilai puncak peak minyak jagung menunjukkan gugus O – H dengan intesitas mampu berubah-ubah. Dari hasil yang diperoleh terjadi penurunan puncak gelombang, hal ini terjadi karena penguraian gugus molekul dimana air terabsorsi.

Pada puncak absorsi antara 2850 cm-1 – 2970 cm-1 mengindikasi adanya gugus molekul C – H. Gugus molekul C – H menunjukkan senyawa alkana.

Gugus ini memiliki intensitas yang kuat. Pada area puncak antara 1300 cm-1 - 1050 cm-1, terdapat empat puncak yang menunjukkan nilai masing-masing 1287,65 cm-1, 1227,66 cm-1, 1135,53 cm-1, dan 1077,69 cm-1. Nilai puncak di area ini menunjukan keberadaan gugus molekul C – O. Gugus ini memiliki ciri- ciri membentuk dua atau lebih pita absorsi peregangan getaran. Gugus C – O merupakan kelompok senyawa alkohol, eter, asam karboksilat, dan ester. Gugus ini memiliki intensitas yang kuat. Gugus ini mengindikasi adanya kandungan metil ester pada minyak jagung. Metil ester dapat memicu kelarutan minyak jagung didalam air. Pada puncak absorsi 675 cm-1 - 995 cm-1 membentuk tiga puncak yang berbeda, mengindikasi adanya gugus molekul C – H (C = C – H).

Gugus molekul C – H (C = C – H) memiliki intensitas yang kuat dan tergolong dalam tipe senyawa alkena.

Gambar 4. 3 Grafik spektrum FTIR bahan PCM dengan 35% minyak jagung tanpa karbon nano.

Grafik 4.3 menunjukan spektrum FTIR dari material minyak jagung tanpa penambahan karbon nano. Grafik diatas menunjukan adanya tiga area puncak peak yang memiliki bentuk yang berbeda. Daerah ulur hidrogen (3700 cm-1 - 2700 cm-1). Puncak terjadi karena vibrasi ulur dari atom hidrogen dengan atom lainnya. Puncak absorpsi timbul pada daerah 3700 cm-1 - 3100 cm-1 karena vibrasi ulur dari O - H. Pada komposisi ini material dapat mentransfer energi maksimal sebesar 3292,33 cm-1. Pada puncak absorsi tersebut material memiliki gugus O – H, dimana terjadi ikatan hidrogen yang kuat. Selain dapat mentransfer energi material PCM juga mampu menyimpan energi sebesar 707,67 cm-1.

Puncak absorsi dengan nilai antara nilai 1641,88 cm-1 menunjukan adanya gugus Cicin Aromatik (C = C), puncak absorsi pada nilai antara 1000-1300 cm-1 menunjukan adanya gugus C – O. Pada area puncak antara 675 cm-1 - 995 cm

-1, terdapat dua puncak yang menunjukkan nilai 922,71 cm-1, dan 990,56 cm-1. Nilai puncak di area ini menunjukan gugus molekul alkena C – H (C = C – H).

C – H

O – H C = C

C – O

Gambar 4. 4 Grafik spektrum FTIR bahan PCM dengan 35% minyak jagung ditambah 150 ppm karbon nano.

Grafik 4.4 adalah hasi uji FTIR 35% minyak jagung yang ditambah karbon nano 150ppm. Grafik diatas membentuk 3 area puncak peak yang memiliki struktur yang berbeda. Puncak peak dengan nilai antara 1000-1300 cm-1 menunjukan adanya gugus ester (C – O). Gugus ini memiliki ciri-ciri membentuk dua atau lebih pita absorsi peregangan getaran pada kisaran 1000- 1300 cm-1. Pada kisaran nilai 1150 cm-1 terindikasi terjadi absorsi ester dari asam jenuh. Selanjutnya muncul nilai puncak absorsi pada 1641,31 cm-1. Puncak absorsi dengan nilai antara 1630-1740 cm-1, menunjukan adanya gugus karbonil (C = O). Pada gugus karbonil ditemukankan adanya karbon aktif dalam material PCM. Pada puncak absorsi sekitar 1700 cm-1, merupakan kelompok carboxylic acid. Kelompok ini membantu karbon nano menyebar secara merata dalam material PCM. Penyebaran partikel nano secara merata dapat meningkatkan konduktivitas listrik material PCM. Puncak peak dengan nilai antara 3000-3500 cm-1 menunjukan gugus hidroksil (O – H) stretching (peregangan). Dari hasil yang didapat terjadi penguraian gugus hidroksil dan air yang terabsorsi, hal tersebut menunjukkan adanya ikatan hidrogen yang kuat.

Material PCM yang diuji mampu mentransfer energi maksimal 3303,76 cm-1 dan menyerap energi sebesar 696,24 cm-1. Dari ke tiga grafik diatas dapat dilihat pola gelombang yang terbentuk dari uji FTIR tidak jauh berbeda. Hal tersebut

C – H C – O

O – H C = O

C = C

menunjukan bahwa penambahan karbon nano tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur material PCM. Semakin banyak gugus molekul yang terbentuk akan memudahkan energi dapat mengalir secara vibrasi dalam sebuah material. Penambahan karbon nano menyebabkan munculnya gugus karbonil (C

= O) berupa karbon aktif yang dapat meningkatkan konduktivitas listrik PCM.

Dapat dilihat pada grafik 4.1 menunjukan dengan penambahan konsentrasi karbon nano dapat meningkatkan nilai konduktivitas listrik material PCM.

5.1 Kesimpulan

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada penelitian ini telah dilakukan uji konduktivitas listrik terhadap material PCM air dan 35%, 40% minyak jagung. Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Material PCM komposisi 35% minyak jagung tanpa karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,05 mS/cm. Pada komposisi 40%

minyak jagung tanpa karbon nano memiliki konduktivitas listrik 0,03 mS/cm. Material PCM komposisi 35% minyak jagung dengan penambahan 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm karbon nano memiliki persentase peningkatan konduktivitas listrik sebesar 7%, 20%, 30%.

Sedangkan, pada material PCM komposisi 40% dengan penambahan 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm karbon nano memiliki persentase peningkatakan konduktivitas listrik sebesar 22%, 33%, 67%.

2. Dari hasil pengujian FTIR minyak jagung murni mengandung empat gugus molekul yaitu: Gugus Hidroksil (O – H), Alkana (C – H), Ester (C – O), dan Alkena C – H (C = C – H).

3. Dari hasil uji FTIR menunjukan bahwa penambahan karbon nano tidak berpengaruh besar terhadap struktur material PCM. Penambahan karbon nano menyebabkan munculnya gugus molekul karbonil (C = O) yang mengandung karbon aktif.

Dengan penambahan karbon nano pada material PCM dapat disimpulkan bahwa karbon nano dapat meningkatkan konduktivitas listrik dan termal material PCM.

5.2 Saran

Saran dari penulis untuk memperbaiki penelitian berikutnya, antara lain:

1. Material PCM memiliki berbagai jenis yang digunakan untuk kebutuhan manusia. Untuk itu perlu dicari dan dikembangkan jenis-jenis material sebagai PCM yang memiliki karakteristik baik, aman, dan ramah lingkungan.

2. Dalam penelitian ini masih menggunakan pendekatan untuk mengetahui konduktivitas termal dari material PCM, untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan alat uji yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, R., Singh, K. D. P., & Paswan, M. K. (2019). Review on Enhancement of Thermal Conductivity of Phase Change Materials with Nano-Particle in Engineering Applications. Materials Today: Proceedings, 22, 1617–1627.

https://doi.org/10.1016/j.matpr.2020.02.159

Baby, T. T., & Ramaprabhu, S. (2010). Investigation of thermal and electrical conductivity of graphene based nanofluids. Journal of Applied Physics, 108(12). https://doi.org/10.1063/1.3516289

Baetens, R., Jelle, B. P., & Gustavsen, A. (2010). Phase change materials for building applications: A state-of-the-art review. In Energy and Buildings.

https://doi.org/10.1016/j.enbuild.2010.03.026

Herlina, H., & Law, A. W. K. (2002). Measurements of turbulent mass transport of a circular wall jet. International Journal of Heat and Mass Transfer.

https://doi.org/10.1016/S0017-9310(02)00177-1

Khadiran, T., Hussein, M. Z., Zainal, Z., & Rusli, R. (2015). Encapsulation techniques for organic phase change materials as thermal energy storage medium: A review. In Solar Energy Materials and Solar Cells.

https://doi.org/10.1016/j.solmat.2015.06.039

Nyoman Suamir, I., Made Rasta, I., Sudirman, & Tsamos, K. M. (2019b).

Development of corn-oil ester and water mixture phase change materials for food refrigeration applications. Energy Procedia, 161(Icst), 198–206.

https://doi.org/10.1016/j.egypro.2019.02.082

Pari, G., Santoso, A., Hendra Buchari, D., & Maddu, A. (2016). POTENSI STRUKTUR NANO KARBON DARI BAHAN LIGNOSELULOSA KAYU JATI DAN BAMBU (The Potency of Nano Carbon Structure Made from Bamboo and Teak Wood Lignocellulose). 34(4), 309–322.

https://doi.org/10.20886/jphh.2016.34.4.309-322

Rampe, M. J., Setiaji, B., Trisunaryanti, W., & Triyono, T. (2011). FABRICATION AND CHARACTERIZATION OF CARBON COMPOSITE FROM COCONUT SHELL CARBON. Indonesian Journal of Chemistry.

https://doi.org/10.22146/ijc.21398

Rasta, I. M., & Suamir, I. N. (2018). The role of vegetable oil in water based phase change materials for medium temperature refrigeration. Journal of Energy Storage. https://doi.org/10.1016/j.est.2017.12.014

Ruiz, V., Blanco, C., Santamaría, R., Ramos-Fernández, J. M., Martínez-Escandell, M., Sepúlveda-Escribano, A., & Rodríguez-Reinoso, F. (2009). An activated carbon monolith as an electrode material for supercapacitors. Carbon.

https://doi.org/10.1016/j.carbon.2008.09.048

Sari, A., Alkan, C., Karaipekli, A., & Uzun, O. (2009). Microencapsulated n- octacosane as phase change material for thermal energy storage. Solar Energy, 83(10), 1757–1763. https://doi.org/10.1016/j.solener.2009.05.008

Septiadi, W. N., Sukadana, I. G. K., Astawa, K., Nyoman, N. P. I. A., Trisdadewi, T., & Iswari, G. A. (2017). Konduktivitas Termal Hybrid Nanofluid Al 2 O 3 -TiO 2 -Air pada Fraksi Volume Rendah. Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhotelan VIII - 2017.

Shafie-khah, M., Kheradmand, M., Javadi, S., Azenha, M., de Aguiar, J. L. B., Castro-Gomes, J., Siano, P., & Catalão, J. P. S. (2016). Optimal behavior of responsive residential demand considering hybrid phase change materials.

Applied Energy. https://doi.org/10.1016/j.apenergy.2015.11.013

Sharma, A., Tyagi, V. V., Chen, C. R., & Buddhi, D. (2009). Review on thermal energy storage with phase change materials and applications. In Renewable and Sustainable Energy Reviews. https://doi.org/10.1016/j.rser.2007.10.005 Tiwari, A., & Snure, M. (2008). Synthesis and characterization of ZnO nano-plant-

like electrodes. Journal of Nanoscience and Nanotechnology.

https://doi.org/10.1166/jnn.2008.299

Yasuda, E. ichi, Inagaki, M., Kaneko, K., Endo, M., Oya, A., & Tanabe, Y. (2003).

Carbon Alloys: Novel Concepts to Develop Carbon Science and Technology.

In Carbon Alloys: Novel Concepts to Develop Carbon Science and Technology. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-044163-4.X5000-1

LAMPIRAN

Dokumen terkait