• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap 5. Monitor dan Pengendalian

2.4. Baitul Maal wa Tamwil (BMT) 1. Pengertian BMT

Rasyid (2001) mendefinisikan BMT sebagai kelompok swadaya masyarakat sebagai lembaga ekonomi rakyat yang berupaya mengembangkan usaha produktif dan investasi dengan sistem bagi hasil untuk meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha bawah dan kecil dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Lembaga Keuangan

Bank

Non Bank

BPR/BPRS

Pengaturan: UU Perbankan No. 7/92 jo UU No.10/98

Perizinan: Bank Indonesia Pengawasan: Bank Indonesia

BRI Unit

Pengaturan: UU Perbankan No. 7/92 jo UU No.10/98

Perizinan: Bank Indonesia Pengawasan:*BRI Cabang

*Bank Indonesia untuk BRI keseluruhan

Badan Kredit Desa (BKD)

Pengaturan: UU Perbankan No.10/98 Perizinan: Bank Indonesia

Pengawasan: BRI atas nama Bank Indonesia

Formal

Non Formal

Koperasi Simpan Pinjam (KSP)/Syariah

Pengaturan: UU. Koperasi No. 25/1992/Kepmen tahun 2004

Perizinan: Kementrian negara Koperasi dan UKM Pengawasan: Kementrian negara

Koperasi dan UKM

Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan (LDKP)

Pengaturan: Peraturan Daerah Perizinan : Gubernur setiap

provinsi Pengawasan : Pemda Tk. I LSM BMT UEDSP UPPKS

Ridwan (2004) menyatakan bahwa BMT merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Peran sosial BMT akan terlihat pada definisi baitul maal yaitu pengumpulan dana seperti zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sumber dana sosial yang lain. Sedangkan peran bisnis BMT terlihat dari definisi baitul tamwil yaitu lembaga bisnis yang bermotif laba.

BMT (Baitul Maal wa Tamwil) atau padanan kata Balai Usaha Mandiri Terpadu adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin (Aziz, 2004).

BMT melaksanakan dua jenis kegiatan yaitu Baitul Tamwil dan Baitul Maal.

a. Baitul Tamwil (Bait = rumah, at-Tamwil = pengembangan

harta), melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam rangka meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil terutama mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya.

b. Baitul Maal (bait = rumah, Maal = harta), menerima titipan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanah.

2.4.2. Cara Kerja BMT

Basil= bagi hasil

Gambar 6. Cara kerja BMT (Aziz, 2004)

2.4.3. Prinsip Operasional BMT

Aziz (2004) menyatakan pada BMT terdapat tiga prinsip operasional yaitu:

a. Penumbuhan

1. Tumbuh dari masyarakat sendiri dengan dukungan kuat tokoh masyarakat, orang berada dan kelompok usaha muamalah yang berada pada daerah tersebut.

2. Modal awal (20-30juta) dikumpulkan oleh para pendiri dalam bentuk simpanan pokok dan simpanan pokok khusus.

3. Jumlah pendiri minimum 20 orang.

4. Landasan sebaran keanggotaan yang kuat sehingga BMT tidak dikuasai perseorangan dalam jangka panjang.

5. BMT adalah lembaga bisnis, membuat keuntungan, tetapi juga memiliki komitmen yang kuat untuk membela kaum yang lemah dalam penanggulangan kemiskinan.

b. Profesionalitas

1. Pengelolaan profesional, bekerja penuh waktu, pendidikan S-1 dan minimum D-3, mendapat pelatihan pengelolaan BMT oleh

Anggota Pemrakarsa Min 20 pendiri BMT PENGURUS PENGELOLA A N G G O T A PEMINJAM A N G G O T A PENYIMPAN SHU Modal awal Simpanan Pembiayaan Basil Basil

PINBUK paling sedikit dua minggu, memiliki komitmen kerja penuh waktu, penuh hati dan perasaannya untuk mengembangkan BMT.

2. Menjemput bola, aktif membaur dengan masyarakat.

3. Pengelolaan profesional berlandaskan sifat-sifat amanah, siddiq, tabligh, fatonah, shobar dan istiqomah.

4. Berlandaskan sistem dan prosedur: SOP, Computerized

Software Sistem Akuntansi.

5. Bersedia mengikat kerja sama dengan PINBUK untuk menerima dan membayar (secara cicilan) jasa manajemen dan teknologi informasi (termasuk on-line system).

6. Pengurus mampu melaksanakan fungsi pengawasan yang efektif.

7. Akuntabilitas dan transparansi dalam pelaporan. c. Prinsip Islamiyah

1. Menerapkan cita-cita Islam (salaam: keselamatan berkeadilan, kedamaian dan kesejahteraan) dalam kehidupan ekonomi masyarakat banyak.

2. Akad yang jelas.

3. Rumusan penghargaan dan sanksi yang jelas dan penerapannya yang tegas atau lugas.

4. Berpihak pada yang lemah

5. Menerapakan nilai-nilai Islam (salaam: keselamatan berkeadilan, kedamaian dan kesejahteraan) dalam semua hubungan sosial.

6. Program pengajian atau penguatan ruhiyah yang teratur dan berkala secara berkelanjutan sebagai bagian dari program

tazkiah Da’i Fi-ah Qaliilah (DFQ).

2.5. Koperasi

2.5.1. Pengertian Koperasi

Undang Undang No. 25 tahun 1992 koperasi didefinisikan sebagai “badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan

hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan” (Widjaya, 2000).

International Cooperative Alliance mendefinisikan koperasi

sebagai kumpulan orang-orang atau badan hukum, yang bertujuan untuk perbaikan sosial ekonomi anggotanya dengan memenuhi kebutuhan ekonomi anggotanya dengan jalan berusaha bersama-sama saling membantu satu sama lainnya dengan cara membatasi keuntungan, usaha tersebut harus didasarkan prinsip-prinsip koperasi (Hendar dan Kusnadi, 1999).

Hatta mendefinisikan koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong. Semangat tolong-menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan ‘seorang buat semua dan semua buat seorang’ (Sitio dan Tamba, 2001)

2.5.2. Unsur-unsur Organisasi Koperasi

Sitio dan Tamba (2001) menyatakan unsur-unsur organisasi yang ada pada koperasi pada umumnya adalah rapat anggota, pengurus, pengawas, dan pengelola

1. Rapat Anggota

Rapat anggota merupakan suatu wadah dari para anggota koperasi yang diorganisasikan oleh pengurus koperasi, untuk membicarakan kepentingan organisasi maupun usaha koperasi, dalam rangka mengambil suatu keputusan dengan suara terbanyak dari anggota yang hadir. Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi yang berwewenang untuk menetapkan:

a. Anggaran dasar

b. Kebijaksanaan umum di bidang organisasi, manajemen dan usaha koperasi.

c. Pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus dan pengawas

d. Rencana kerja, rencana anggaran pendapatan, dan belanja koperasi serta pengesahan laporan keuangan.

e. Pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugasnya.

f. Pembagian sisa hasil usaha

g. Penggabungan, peleburan, pendirian dan pembubaran koperasi.

2. Pengurus

Pengurus adalah perwakilan anggota koperasi yang dipilih melalui rapat anggota yang bertugas mengelola organisasi dan usaha.

3. Pengawas

Adalah perangkat organisasi yang dipilih dari anggota dan diberi mandat untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya roda organisasi dan usaha koperasi.

4. Pengelola

Adalah orang yang diangkat dan diberhentikan oleh pengurus untuk mengembangkan usaha koperasi secara efisien dan professional.

2.5.3. Prinsip-prinsip Koperasi Indonesia

Widjaya (2000) mengamukakan bahwa prinsip-prinsip koperasi menurut Undang Undang No. 25 tahun 1992 yang berlaku di Indonesia saat ini adalah sebagai berikut:

1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka 2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis

3. Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota

4. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal 5. Kemandirian

6. Pendidikan perkoperasian 7. Kerja sama antar koperasi

2.5.4. Fungsi dan Peran Koperasi

Menurut Widjaya (2000), koperasi mempunyai fungsi dan peran:

1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.

2. Berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan katahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.

4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Dokumen terkait