• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Baitul Mal wat-Tamwil (BMT)

1. Sejarah BMT

Istilah baitu tamwil (BT), namanya pernah popular lewat BT

Teksona di Bandung dan BT Ridho Gusti di Jakarta. Keduanya kini

tidak ada lagi, setelah itu walapun dengan bentuk berbeda namun

memiliki persamaan daalam tata kerjanya, pada bulan Agustus 1991

berdiri sebuah Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) di Bandung. Kelahirannya terus diikuti dengan beroperasinya Bank Muamalat

Indonesia (BMI) pada bulan Juni 1992. Semakin menjamurnya BT

dan istilah BMT pada tahun-tahun itu didukung oleh Syariah Banking

Institute (SBI), Institute for Shari’ah Economic Development (ISED), serta Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bank Syari’ah (LPPBS).

Dalam konteks Indonesia, keinginan tersebut nampaknya

sejalan dengan kebijakan pemerintah, yang memberikan respon positif

terhadap usulan pendirian bank Syariah. Dengan disahkannya II No. 7

Tahun 1992 tentang Perbankan yang mencantumkan kebebasan

penentuan imbalan dan sistem keuangan bagi hasil, juga dengan

terbitnya Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1992 yang memberikan

batasan tegas bahwa bank diperbolehkan melakukan kegiatan usaha

dengan berdasarkan prinsip bagi hasil, maka mulailah bermunculan

60

Muamalat Indonesia (BMI), BNI Syari’ah, BPRS-BPRS, dan Baitul Mal wat Tamwil (BMT).

Perkembangan ekonomi Islam tidak hanya berhenti pada

tingkatan ekonomi makro, tetapi telah mulai menyentuh sektor paling

bawah yaitu mikro.Lahirnya lembaga keuangan mikro Islam yang

berorientasi sebagai lembaga sosial keagamaan, kemudian popular

dengan istilah BMT.Munculnya BMT sebagai lembaga keuangan

mikro Islam yang bergerak pada sector riil masyarakat bawah dan

menengah sejalan dengan lahirnya Bank Muamalat Indonesia

(BMI).Karena BMI sendiri secara operasional tidak dapat menyentuh

masyarakat kecil ini, maka BMT menjadi salah satu lembaga

keuangan mikro Islam yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat

(Sumiyanto, 2008:20-23).

Kelahiran BMT sangat menunjang sistem perekonomian pada

masyarakat yang berada di daerah karena di samping sebagai lembaga

keuangan Islam, BMT juga memberikan pengetahuan-pengetahuan

agama pada masyarakat yang tergolong mempunyai pemahaman

agama yang rendah.Dengan demikian, fungsi BMT sebagai lembaga

ekonomi dan social keagamaan betul-betul terasa dan nyata

hasilnya.Lahirnya BMT ini diantaranya dilatarbelakangi oleh beberapa

alasan sebagai berikut.

a. Agar masyarakat dapat terhindar dari pengaruh sistem ekonomi

61

mereka yang mempunyai modal banyak. Sehingga ditawarkan

sebuah sistem ekonomi yang berbasis syari’ah.

b. Melakukan pembinaan dan pendanaan pada masyarakat menengah

kebawah secara intensif dan berkelanjutan.

c. Agar masyarakat terhindar dari rentenir-rentenir yang memberikan

pinjaman modal dengan sistem bunga yang sangat tidak

manusiawi.

d. Agar ada alokasi dana yang merata pada masyarakat, yang

fungsinya untuk menciptakan keadilan sosial.

Realitas menunjukkan, adanya BMT didaerah sangat

membantu masyarakat dalam rangka pmenuhan kebutuhan ekonomi

yang saling menguntungkan dengan memakai sistem bagi

hasil.Disamping itu juga ada bimbingan yang bersifat pemberian

pengajian kepada masyarakat dengan tujuan sebagai sarana

transformatif untuk lebih mengakrabkan diri pada nilai-nilai agama

Islam yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial

masyarakat. (Sumiyanto, 2008:23-24).

BMT mempunyai beberapa komitmen yang harus dijaga

supaya konsisten terhadap perannya, komitmen tersebut adalah:

a. Menjaga nilai-nilai syariah dalam operasi BMT.

b. Memperhatikan permasalahan-permasalahan yang berhubungan

dengan pembinaan dan pendanaan usaha kecil.

62

d. Ikut terlibat dalam memelihara kesinambungan usaha masyarakat.

Perkembangan BMT cukup pesat, hingga akhir 2001 Pinbuk

mendata ada 2938 BMT terdaftar dan 1828 BMT yang melaporkan

kegiatannya (Sudarsono, 2003:85).

2. Pengertian BMT

BMT merupakan kependekan dari Baitul Mal wat-Tamwil atau

dapat juga ditulis Baitul Maal wa baitu Tamwil. Secara

harfiah/llughowi Baitul Maal berarti rumah dana dan baitul Tamwil

berarti rumah usaha. Kedua pengertian tersebut memiliki makna dan

dampak yang berbeda.Baitul Maal dengan segala konsekuensinya

merupakan lembaga sosial yang berdampak pada tidaknya profit atau

keuntungan duniawi atau material didalamnya, sedangkan baitul

Tamwil merupakan lembaga bisnis yang karenanya harus dapat

berjalan sesuai prinsip bisnis yakni efektif dan efisien.

Kesimpulannya, BMT merupakan organisasi bisnis yang juga

berperan sebagai sosial. Sebagai lembaga sosial, Baitul Maal memiliki

kesamaan fungsi dan peran dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) atau

Badan Amil Zakat milik pemerintah, oleh karenanya, Baitul Maal ini

harus didorong untuk mampu berperan secara profesional menjasi

LAZ yang mapan. Fungsi tersebut paling tidak meliputi upaya

pengumpuan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sumber dana-dana

sosial yang lain, serta upaya pentsyarufan zakat kepada golongan yang

63

1999). Sebagai lembaga bisnis, BMT lebih memfokuskan kegiatan

usahanya pada sektor keuangan, yakni simpan-pinjam dengan pola

syariah.

Dalam perspektif hukum di Indonesia, sampai sekarang badan

hukum yang paling mungkin untuk BMT adalah koperasi, baik serba

usaha (KSU) maupun simpan-pinjam Syari’ah (KSPS).Bagi BMT yang berbadan hukum KSU, diharuskan membentuk Unit

Simpan-Pinjam Syari’ah (USPS). Sistem operasional BMT tidak sama persis dengan koperasi, oleh sebab itu sebelum beroperasi BMT harus segera

mengurus badan hukum, supaya lembaganya menjadi legal. Sambil

menunggu turunnya badan hukum dari instansi yang berhak, BMT

dapat mengajukan sertifikat operasional dari lembaga yang berhak

seperti PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) (Ridwan,

2006:01-03).

3. Dasar Hukum BMT

Pesatnya aktivitas ekonomi masyarakat berbasis syari’ah membuat kehadiran regulasi yang mandiri menjadi sebuah

keniscayaan.Bank-bank Syari’ah dan BPRS tunduk pada peraturan Bank Indonesia.Sedangkan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

daalam bentuk BMT hingga saat ini belum ada regulasi yang mandiri

dan realitasnya berbadan hukum koperasi sehingga tunduk terhadap

peraturan perkoperasian.Sedangkan ditinjau dari segmen usahanya

peraturan-64

peraturan terkait pembinaan dan pengembangan usaha kecil (Amalia,

2009:242).

Hingga saat ini status kelembagaan atau badan hukum yang

memanyungi keabsahan BMT adalah Koperasi, hal ini berarti

kelembagaan BMT tunduk pada Undang-Undang Perkoperasian

Nomor 17 tahun 2012 dan secara spesifik diatur dalam Keputusan

Menteri Negara Koperasi dan UKM RI Nomor

91/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang petunjuk pelaksanaan Kegiatan

Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS) (Amalia, 2009:243). 4. Visi BMT

Visi BMT harus mengarah pada upaya untuk mewujudkan

BMT menjadi lembaga yang mampu meningkatkan kualitas Ibadah

anggota (Ibadah dalam arti luas), sehingga mampu berperan sebagai

wakil-pengabdi Allah SWT, memakmurkan kehidupan anggota pada

khususnya dan msyarakat pada umumnya. Titik tekan perumusan visi

BMT adalah mewujudkan lembaga yang profesional dan dapat

meningkatkan kualitas Ibadah (Ridwan, 2006:03).

5. Misi BMT

Misi BMT adalah membangun dan mengembangkan tatanan

perekonomian dan struktur masyarakat madani yang adil dan

berkemakmuran-berkemajuan, berlandaskan Syari’ah dan ridha Allah SWT.Dapat dipahami bahwa misi BMT semata-mata mencari

65

saja, tetapi lebih berorientasi pada pendistribusian laba yang merata

dan adil sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam (Ridwan,

2006:04).

6. Tujuan dan Sifat BMT a. Tujuan

Untuk meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk

kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada

umumnya.

b. Sifat

BMT bersifat usaha bisnis, mandiri ditumbuhkembangkan

secara swadaya dan dikelola secara profesional.Sifat usaha BMT

yang berorientasi pada bisnis (core bisnis) dimaksudkan supaya

pengelolaan BMT dapat dijalankan secara professional, sehingga

mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Aspek bisnis BMT menjadi

kunci sukses mengembangkan BMT, dari sinilah BMT akan

mampu memberikan bagi hasil yang kompetitif kepada para

shahibul maal serta mampu meningkatkan kesejahteraan para

pengelolanya sejajar dengan lembaga lain (Ridwan, 2006:5-6).

7. Asas dan Landasan BMT

BMT berazaskan Pancasila dan UUD 1945 serta berlandaskan

prinsip Syari’ah Islam, keimanan, keterpaduan (kaffah), kekeluargaan/koperasi, kebersamaan, kemandirian dan

66 8. Prinsip, Fungsi dan Peranan BMT

a. Prinsip

Dalam melaksanakan usahanya BMT, berpegang teguh

pada prinsip utama sebagai berikut:

1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan

mengimplementasikan pada prinsip-prinsip Syari’ah dan muamalah Islam ke dalam kehidupan nyata.

2) Keterpaduan, yakni nilai-nilai spiritual dan moral

menggerakkan dan mengarahkan etika bisnis yang dinamis,

proaktif, progresif adil dan berakhlaq mulia.

3) Kekeluargaan, yakni mengutamakan kepentingan bersama

diatas kepentingan pribadi.

4) Kebersamaan, yakni kesatuan pola pikir, sikap dan cita-cita

antar semua elemen BMT.

5) Kemandirian, yakni mandiri diatas semua golongan politik.

6) Profesionalisme, yakni semangat kerja yang tinggi, dilandasi

dengan dasar keimanan.

7) Istiqomah; konsisten, konsekuen, kontinyuitas/berkenjutan

tanpa henti dan tanpa pernah putus asa (Sudarsono, 2003:89).

b. Fungsi dan Peranan

Dalam rangka mencapai tujuannya, BMT berfungsi:

1) Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisir, mendorong

67

ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat (Pokusma) dan

daerah kerjanya.

2) Meningkatkan kualitas SDI (sumber daya insani anggota dan

Pokusma menjadi lebih profesional dan Islami sehingga

semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan

global.

3) Menggalang dan memobilisir potensi masyarakat dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan anggota.

4) Menjadi perantara keuangan (Financial Intermediary) antara

aghniya sebagai shahibul maal dengan du’afa sebagai Mudharub, terutama untuk dana-dana sosial.

5) Menjadi perantara keuangan (Financial Intermediary), antara

pemilik dana (shahibul maal), baik sebagai pemodal maupun

penyimpan dengan pengguna dana (mudharib) untuk

68 BAB III

BMT AMAL MULIA SURUH KABUPATEN SEMARANG

A. Gambaran Umum BMT Amal Mulia

Dokumen terkait