BAB II UJI BAKTERI SECARA SEROLOGI
B. BAKTERI SALMONELLA SP
BAB II
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
15
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Gambar : Secara Mikroskopis kuman Salmonella sp.
Salmonella sp adalah bakteri berbentuk batang lurus, gram negatif, tidak berspora, bergerak dengan flagel peritrik, berukuran 2-4 μm x 0.5-0,8 μm.
Salmonella terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) manusia dan hewan.
Salmonella sp pertama ditemukan (diamati) pada penderita demam tifoid pada tahun 1880 oleh Eberth dan dibenarkan oleh Robert Koch dalam budidaya bakteri pada tahun 1881.
Salmonella merupakan penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui makanan (Foodborne Disease). Suhu pertumbuhan salmonella sp ialah 37˚C dan pada pH 6-8 serta salmonella sp bersifat aerob dan anaerob fakultatif.
Isolasi dan Identifikasi dari Salmonella sp
Adapun contoh isolasi dan identifikasi Salmonella sp dengan sampel berupa bahan pangan (makanan).
Ada beberapa metoda yang direkomendasikan untuk digunakan oleh industri maupun laboratorium analisa lainnya. Salah satunya adalah metoda yang diterbitkan oleh Badan Standarisasi Internasional, yaitu Standar ISO 6579 : 2002 Microbiology of food and animal feeding stuffs -- Horizontal method for the detection of Salmonella sp.
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
16
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Gambar : Metoda ISO 6579:2002 untuk Deteksi Salmonella.
Dalam metoda ISO 6579 : 2002 ini terdiri dalam tiga tahapan, tahap pertama adalah pre-enrichment, tahap kedua adalah selective enrichment, dan tahap ketiga adalah isolasi pada media agar selektif.
Alat dan Bahan serta Media dalam Isolasi dan Identifikasi Salmonella sp
Gambar : Alat dan bahan sebagian dalam isolasi dan identifikasi salmonella sp.
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
17
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Alat yang digunakan pada pengujian ini adalah timbangan, autoklaf, Erlenmeyer, gelas ukur, beaker glass, cawan petri, tabung reaksi, botol vial, pipet volume 1 ml, inkubator, pengaduk, waterbath, magnetic stirrer, mortar, alu, kapas, alumunium foil, bunsen, dan jarum ose.
Bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah biakan bakteri Salmonella sp. Yaitu sampel berupa bahan pangan.
Adapun media yang digunakan yaitu : Media Buffered Peptone Water (BPW), Media Rappaport Vassiliadis Salmonella Enrichment Broth (RVS) dan Muller Kaufman Tetrathionate Novobiocin Broth, dan Media Xylose-Lysine-Desoxycholate Agar (XLD agar) serta Rambach Agar.
Cara Mengisolasi dan Mengidentifikasi Bakteri Salmonella sp Adapun tahapan dalam pengujian ini yaitu sebagai berikut : 1. Tahap Pra-Pengkayaan Bakteri
Tahap pra-enrichment menggunakan media kultur cair yaitu Buffered Peptone Water (BPW). Pra-enrichment pada media kultur cair berfungsi untuk memperbaiki kondisi bakteri yang injured.
Metode ini diawali dengan pengambilan sampel seberat 25 gr atau 225 ml dengan perbandingan 1 : 9 untuk sampel dan media pengkayaan (lactose broth).
Selanjutnya contoh yang akan diuji dimasukkan ke dalam wadah plastik yang telah disterilkan dan ditambahkan 225 ml larutan Lactose Broth (LB). Selanjutkan homogenkan sampel selama 2 menit untuk dianalisa. Secara aseptis, pindahkan larutan contoh dalam wadah steril yang sesuai. Inkubasi 24 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C. Lanjutkan pengujian sesuai dengan prosedur.
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
18
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Gambar : Sebelum dan Sesudah Proses Pra-Pengkayaan.
2. Tahap Pengkayaan Bakteri
Tahapan kedua adalah melakukan selective enrichment pada 2 jenis media kultur cair, yaitu Rappaport Vassiliadis Salmonella Enrichment Broth (RVS) dan Muller Kaufman Tetrathionate Novobiocin Broth. Pada tahapan selective enrichment ini terjadi optimalisasi pertumbuhan Salmonella dan dihambatnya pertumbuhan bakteri-bakteri penyerta lainnya yang dapat menggangu pertumbuhan Salmonella, sehingga dapat semakin meminimalkan hasil false negatif. Tahap ini menggunakan 2 jenis media selektif yang bertujuan untuk memaksimalkan pertumbuhan dari berbagai spesies Salmonella yang mungkin terdapat pada sampel. Sebab, terkadang beberapa jenis spesies Salmonella dapat tumbuh baik pada media kultur RVS namun tidak dapat tumbuh pada MKTTn, maupun sebaliknya.
Tahap pengkayaan diawali dengan mengencangkan tutup wadah dan mengkocok perlahan contoh yang diinkubasi. Untuk produk perikanan dengan tingkat kontaminasi tinggi, Selanjutnya pindahkan 0,1 ml larutan contoh ke dalam 10 ml Rappaport-Vassiliadis (RV) medium dan 1 ml larutan contoh ke dalam 10 ml Tetrathionate Broth (TTB), Untuk jenis produk perikanan lain, pindahkan 1 ml larutan contoh ke dalam masing-masing 10 ml SCB dan 10 ml TTB.
Inkubasi media pengkayaan selektif yaitu diantaranya sebagai berikut :
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
19
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM 1) Inkubasi pada RV medium selama 24 jam± 2 jam pada suhu 42°C ± 0,2°C
(Waterbath)
2) Inkubasi pada TTB selama 24 jam ± 2 jampada suhu 43°C ± 0,2°C (Water bath)
3) Inkubasi pada TTB dan SCB selama 24 jam ± 2 jam pada suhu 35°C ± 1°C (Inkubator).
Gambar : Isolasi bakteri dari media pra-pengkayaan ke media pengkayaan
3. Tahap Isolasi dan Inkubasi Bakteri
Tahapan ketiga adalah melakukan isolasi atau plating pada media agar selektif yaitu XLD agar dan Rambach Agar dengan metoda streak/gores menggunakan jarum ose. Pada media XLD agar, Salmonella akan menggunakan kandungan xylose, laktosa, dan sukrosa menjadi zat asam yang menyebabkan phenol red berubah menjadi kekuningan atau orange. Salmonella juga akan menghasilkan hydrogen sulfit sebagai hasil dari pemanfaatan thiosulfate dan garam besi (III) yang menyebabkan koloni Salmonella berwarna hitam.
Pada media Rambach Agar, Salmonella akan tumbuh dan tampak sebagai koloni berwarna merah. Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan propylene glycol dan reaksinya dengan pH indikator yang menghasilkan warna merah. Media Rambach Agar mengandung substrat chromogenic untuk mendeteksi aktifitas
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
20
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM pemecahan β-galactosidase oleh Coliform, sehingga dapat dibedakan antara Salmonella dengan bakteri Coliform lainnya. Pertumbuhan coliform pada media Rambach Agar akan tampak sebagai koloni yang berwarna kehijauan atau biru-violet. Sedangkan bakteri dari kelompok Gram-negatif lainnya akan tampak sebagai koloni yang tak berwarna, misalnya Proteus dan Shigella.
Tahap ini diawali dengan mengocok tabung (dengan vortex) dan dengan mengggunakan jarum ose (3mm) gores TTB yang diinkubasi ke dalam media HE, XLD dan BSA. Siapkan BSA sehari sebelum digunakan dan simpan di tempat gelap pada suhu ruang. Gores ke dalam media yang sama dari RV Broth atau SCB. Inkubasi cawan BSA, HE dan XLD selama 24 jam pada suhu 35°C ± 1°C.
Amati kemungkinan adanya koloni Salmonella.
4. Tahap Pengamatan Morfologi Salmonella
Pengamatan morfologi Salmonella dilakukan dengan mengambil 2 atau lebih koloni Salmonella dari masing-masing media Agar selektif setelah 24 jam±
2 jam inkubasi.
Koloni-koloni Salmonella yang khas (typical) adalah sebagai berikut :
Pada Hectoen Enteri (HE) Agar. Koloni hijau kebiruan sampai biru dengan atau tanpa inti hitam.
Umumnya kultur Salmonella membentuk koloni besar, inti hitam mengkilat atau hampir seluruh koloni terlihat berwarna hitam.
Pada XLD Agar. Koloni merah jambu (pink) dengan atau tanpa inti hitam. Umumnya kultur Salmonella membentuk koloni besar, inti hitam mengkilat atau hampir seluruh koloni terlihat berwarna hitam.
Pada Bismuth Sulphite Agar (BSA). Koloni coklat, abu-abu atau hitam, kadang-kadang metalik. Biasanya media di sekitar koloni pada awalnya berwarna coklat, kemudian berubah menjadi hitam (haloeffect) dengan makin lamanya waktu inkubasi.
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
21
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Gambar : Koloni positif pada media selektif HE (atas), BSA (kiri), dan XLD (kanan) (gambar kanan) dan koloni negatif pada media yang sama (gambar kiri).
Metode lain dalam pengujian adalah dengan uji biokimia dan uji serologi.
Dalam pengujian ini dibuat kontrol positif yaitu sampel yang telah diberi biakan kultur Salmonella sebagai pembanding. Dari pengkayaan selektif, biakan dari MKTTn dan RVS diinokulasikan pada media BGA dan XLD untuk tahap inokulasi dan identifikasi. Pada tahap ini hanya biakan dari BGA yang berasal dari MKTTn yang menunjukkan pertumbuhan koloni. Sedangkan pada media XLD tidak ada pertumbuhan koloni. Selanjutnya koloni dari biakan BGA dilakukan uji identifikasi yaitu uji biokimia dan uji serologi.
Penyakit yang disebabkan oleh salmonella disebut Salmonellosis. Diantara jenis dari salmonella ini yaitu bagian Salmonella Enterica sebagai berikut :
I. Salmonella Typhi
II. Salmonella Typhimurium
I. Salmonella Typhi
Salmonella typhi (S. typhi) disebut juga Salmonella choleraeszls serovar typhi, Salmonella serovar typhi , Salmonella enterica serovar typhi merupakan kuman patogen penyebab demam tifoid, yaitu suatu penyakit infeksi sistemik
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
22
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM dengan gambaran demam yang berlangsung lama, adanya bakteremia disertai inflamasi yang dapat merusak usus dan organ-organ hati.
Demam tifoid merupakan penyakit menular yang tersebar di seluruh dunia, dan sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan terbesar di negara sedang berkembang dan tropis seperti : Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin.
Insiden penyakit ini masih sangat tinggi dan diperkirakan sejumlah 21 juta kasus dengan lebih dari 700 kasus berakhir dengan kematian.
Salmonella typhi dapat menyebabkan penyakit yang parah di suatu wilayah tetapi hanya menimbulkan gejala penyakit yang ringan pada wilayah yang lain, berarti ada hubungan antara perbedaan wilayah dengan tingkat keparahan penyakit.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di kawasan Asia Tenggara dengan konsekuensi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang cepat, menimbulkan dampak terjadinya urbanisasi dan migrasi pekerja antar negara yang berdekatan seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Mobilisasi antar pekerja ini memungkinkan terjadinya perpindahan atau penyebaran galur (S.
typhi) antar negara endemis.
Salmonella typhi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid Fever), karena invasi bakteri kedalam pembuluh darah dan gastroenteritidis, yang disebabkan oleh keracunan makanan atau intoksikasi.
Strategi pencegahan yang dipakai adalah untuk selalu menyediakan makanan dan minuman yang tidak terkontaminasi, higiene perorangan terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang baik, dan tersedianya air bersih sehari-hari.
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
23
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Gambar : Bakteri Salmonella typhi pada Pewarnaan Gram.
Salmonella typhi merupakan bakteri berbentuk batang gram negatif, yang tidak memiliki spora, bergerak dengan flagel peritrik, bersifat intraseluler fakultatif dan anerob fakultatif. Ukurannya berkisar antara 0,7-1,5 × 2-5 μm memiliki antigen somatik (O), antigen flagel (H) dengan 2 fase dan antigen kapsul (Vi).
Bakteri ini tahan terhadap selenit dan natrium deoksikolat yang dapat membunuh bakteri enterik lain, menghasilkan endotoksin, protein invasin dan MRHA (Mannosa Resistant Haemaglutinin). Salmonella typhi mampu bertahan hidup selama beberapa bulan sampai setahun jika melekat dalam, tinja, mentega, susu, keju dan air beku.
Salmonella typhi adalah parasit intraseluler fakultatif, yang dapat hidup dalam makrofag dan menyebabkan gejala-gejala gastrointestinal hanya pada akhir perjalanan penyakit biasanya sesudah demam yang lama, bakteremia dan akhirnya lokalisasi infeksi dalam jaringan limfoid submukosa usus kecil.
Penularan Salmonella typhi sebagian besar jalur fekal oral, yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari penderita atau pembawa kuman, biasanya keluar bersama dengan feses. Dapat juga terjadi transmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada pada keadaan bakterimia kepada bayinya.
Taksonomi
Adapun klasifikasi Salmonella Typhi yaitu : Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Salmonella
Spesies : Salmonella typhi
Gejala
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
24
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Penyakit demam tifoid merupakan infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam lebih dari satu minggu, mengakibatkan gangguan pencernaan dan dapat menurunkan tingkat kesadaran.
Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella typhi. Gejala klinis dari demam tifoid yaitu demam berkepanjangan, bakterimia, serta invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel-sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe, usus dan peyer‟s patch.
Penyakit ini mudah berpindah dari satu orang ke orang lain yang kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungannya yaitu penularan secara langsung jika bakteri ini terdapat pada feses, urine atau muntahan penderita dapat menularkan kepada orang lain dan secara tidak langsung melalui makanan atau minuman.
Salmonella typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat bakteri berkembang biak dan merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang sehingga terjadi demam.
Jumlah bakteri yang banyak dalam darah (bakteremia) menyebabkan demam makin tinggi. Penyakit typoid ini mempunyai hubungan erat dengan lingkungan terutama pada lingkungan yang penyediaan air minumnya tidak memenuhi syarat kesehatan dan sanitasi yang buruk pada lingkungan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Seseorang Terkena Bakteri Salmonella Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit typoid tersebar diantaramya, yaitu :
Beberapa penelitian diseluruh dunia menemukan bahwa laki-laki lebih sering terkena demam tifoid, karena laki-laki lebih sering bekerja dan makan di luar rumah yang tidak terjamin kebersihannya. Tetapi berdasarkan dari daya tahan tubuh, wanita lebih berpeluang untuk terkena dampak yang lebih berat atau mendapat komplikasi dari demam tifoid. Salah satu teori yang menunjukkan hal
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
25
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM tersebut adalah ketika Salmonella typhi masuk ke dalam sel-sel hati, maka hormon estrogen pada wanita akan bekerja lebih berat.
Kebiasaan host (kebiasaan cuci tangan, penggunaan jamban), Konsumsi makanan (kebiasaan mengkonsumsi makanan, pengolahan sumber makanan, dan tempat makan), Faktor lingkungan (adanya vektor penyakit yaitu lalat). Dimana dari faktor resiko yang paling dominan dan signifikan untuk terjadinya penyakit pada penderita dengan Demam Tifoid.
Resiko penularan mikroorganisme dapat terjadi, apabila pengolahan makanan yang tidak bersih, hal ini dapat menjadi awal mula terdapatnya mikroba pada makanan. Berdasarkan UU Makanan No. 7 tahun 1996, keamanan makanan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah makanan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Bakteri dalam makanan/minuman diakibatkan oleh penjualan makanan yang tidak memperhatikan kebersihan dan keamanannya.
Struktur Antigen
Struktur antigen S. typhi terdiri dari 3 macam antigen, yaitu :
1. Antigen O (Antigenik somatik) merupakan bagian terpenting dalam menentukan virulensi kuman. Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida disebut endotoksin dan terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Antigen ini bersifat hidofilik, tahan terhadap pemanasan suhu 1000C selama 2-5 jam dan tahan alkohol 96 % dan etanol 96% selama 4 jam pada suhu 370C tetapi tidak tahan terhadap formaldehid. Antibodi yang dibentuk adalah IgM. Namun antigen O kurang imunogenik dan aglutinasi berlangsung lambat.
Maka kurang bagus untuk pemeriksaan serologi karena terdapat 67 faktor antigen, tiap-tiap spesies memiliki beberapa faktor (Todar, 2008). Oleh karena itu titer antibodi O sesudah infeksi lebih rendah dari pada antibodi H.
2. Antigen H (Antigen flagella) yang terletak pada flagella dan fimbria (pili) dari kuman. Flagel ini terdiri dari badan basal yang melekat pada sitoplasma dinding sel kuman, struktur kimia ini berupa protein yang tahan terhadap formaldehid
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
26
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol pada suhu 60 0C, selain itu flagel juga terdiri dari the hook dan filamen yang terdiri dari komponen protein polimerase yang disebut flagelin dengan BM 51-57 kDa yang dipakai dalam pemeriksaan asam nukleat kuman S. typhi. Antigen H pada Salmonella sp. dibagi dalam 2 fase yaitu fase I : spesifik dan fase II : non spesifik. Antigen H sangat imunogenik dan antibodi yang dibentuk adalah IgG.
3. Antigen Vi (permukaan) yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap fagositosis. Struktur kimia proteinnya dapat digunakan untuk mendeteksi adanya karier dan akan rusak jika diberi pemanasan selama 1 jam pada suhu 60 0C dan pada pemberian asam serta fenol.
Antigen Vi adalah polimer dari polisakarida yang bersifat asam. Terdapat dibagian paling luar dari badan kuman bersifai termolabil. Kuman yang mempunyai antigen Vi bersifat virulens pada hewan dan mausia. Antigen Vi juga menentukan kepekaan terhadap bakteriofaga dan dalam laboratorium sangat berguna untuk diagnosis cepat kuman S. typhi. Adanya antigen Vi menunjukkan individu yang bersangkutan merupakan pembawa kuman (carrier).
Ketiga komponen antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut agglutinin.Salmonella diklasifikasikan berdasarkan Kauffman dan White berdasarkan struktur antigen somatik nya dan antigen flagellanya.
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
27
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Uji Serologis
1) Tes Widal
Gambar. Widal Test
Pemeriksaan serologi ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap antigen kuman Samonella typhi / paratyphi (reagen).Pemeriksaan ini sebagai dikategorikan pemeriksaan penunjang dalam hal menegakkan diagnosis.Pemeriksaan dengan uji widal dilakukan dengan mendeteksi adanya antibodi aglutinin dalam serum pasien yang terinfeksi bakteri Salmonella pada antigen yang berada pada flagela (H) dan badan bakteri (O).
Hasil positif dengan pemeriksaan ini lebih spesifik dengan ditunjukkannya titer aglutinin sebesar sebesar ≥1/200 (Meta,S.,2013). Karena mempergunakan reaksi aglutinasi, maka akan tidak bermakna apabila dilakukan secara single test. Akan lebih bermakna bila dilakukan pemeriksaan widal sebanyak dua kali yaitu pada fase akut dan 7-10 hari setelah fase tersebut.Sebab, aglutinin O dan H secara 13 signifikan meningkat kurang lebih 8 hari setelah onset demam hari pertama. Jika
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
28
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM peningkatan titer terjadi sebanyak empat kali, maka hasilnya positif secara signifikan(Meta,S.,2013).
Dalam praktiknya, hal tersebut akan sulit ditemukan karena penggunaan terapi antibiotik pada awal penyakit dapat mengurangi peningkatan titer aglutinin. Berbeda dengan uji thypidot yang mendeteksi IgM lebih awal daripada IgG, dalam pemeriksaan widal didapat antibody total yaitu IgM dan IgG sekaligus. Sering terjadi cross-reaction dengan Salmonella lainnya sehingga terkadang menimbulkan hasil positif palsu. Uji widal juga dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit paratifus, paratifus disebabkan bakteri Salmonella paratyphi (Meta,S.,2013). Pengerjaan yang relative murah dan mudah untuk dikerjakan (Choerrunisa,dkk.,2014) Namun, belum ada kesepakatan nilai standar aglutinasi (cut-off point) (Septiawan,I.,dkk.,2013).
2) Uji Tubex
Gambar.Tubex
Tes tubex adalah salah satu dari uji serologis yang menguji aglutinasi kompetitif semikuantitatif untuk mendeteksi adanya antibodi IgM terhadap antigen lipopolisakarida (LPS) O-9 S.typhi dan tanpamendeteksi IgG. Tes tubex memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji widal (Keddy,K,et al.2011). Sensitivitasnya dapat ditingkatkan dengan mempergunakan partikel berwarna, sedangkan spesifisitasnya ditingkatkan dengan penggunaan antigen O-9. Antigen ini spesifik dan khas pada Salmonella serogrup D yakni Salmonella typhi (Pratama, I. dan Lestari, A.,2015).
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
29
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Tes ini dikategorikan pemeriksaan yang ideal dan dapat dipergunakan untuk pemeriksaan rutin karena prosesnya cepat, akurat, mudah dan sederhana (Septiawan,I.,dkk.,2013). Respon terhadap antigen O-9 terjadi secara cepat dikarenakan antigen O-9 bersifat imunodominan yang dapat merangsang respon imun, sehingga deteksi antigen O-9 dapat dilakukan mulai dari hari ke-4 hingga ke-5 (infeksi primer) dan hari ke- 2 hingga ke-3 (infeksi sekunder) ( Pratama, I.
dan Lestari, A.,2015).
Tes tubex menggunakan pemisahan partikel-partikel untuk mendeteksi antibodi IgM dari seluruh serum pada antigen serotypetyphi O-9 lipopolisakarida.Namun, antibodi pasien menghambat pengikatan antara partikel indikator yang dilapisi dengan antibodi monoklonal anti-O9 dan lipopolisakarida yang dilapisi partikel magnetik (Kawano, R.et al., 2007). Spesimen yang digunakan adalah sampel serum atau plasma heparin (Marleni,M.,dkk.,2014).
3) Uji Thypidot
Gambar. Prinsip dan Interpretasi untuk Uji Thypidot
Uji Typhidot atau Metode dot enzyme immunoassay ialah sebuah pemeriksaan serologi yang mendeteksi adanya antibody spesifik IgM maupun IgG terhadap Salmonella typhi.Tes ini mempergunakan membrane nitroselulosa yang berisi 50kDa spesifik protein dan antigen control.Tahap awal infeksi bakteri Salmonella ditunjukkan dengan ditemukannya antibody IgM, sedangkan infeksi lebih lanjut ditandai dengan peningkatan IgG.(Sudoyo, 2009).
MODUL BANTERIOLOGI IV
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV)
30
INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM Kultur bakteri memang gold standar untuk identifikasi bakteri Salmonella , namun kepekaan atau sensitivitas thypidot lebih besar kurang lebih 93% daripada kultur. Oleh karena itu, uji thypidot dapat digunakan sebagai diagnosis cepat di daerah endemis demam tifoid (WHO, 2003; Marleni, 2012).Dibandingkan dengan pemeriksaan widal, uji thypidot memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik. Hal ini karena dalam uji thypidot tidak perlu adanya reaksi silang dengan salmonellosis nontifoid (Meta,S.,2013).
Bahkan kemungkinan thyphidot IgM untuk terjadinya reaksi silang sangat kecil karena berdasarkan mekanisme kerjanya typhidot mendeteksi IgM tidak pada O, H dan Vi melainkan pada Outer Membran Protein (OMP) (Meta,S.,2013).
4) IgM Disptik
Tes dipstick Salmonella adalah tes untuk mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen lipopolisakarida (LPS) dari Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Tes ini didasarkan atas ikatan antara IgM spesifik Salmonella typhi dengan LPS tanpa membutuhkan peralatan dan keterampilan khusus serta dapat diterapkan di daerah perifer (WHO,2003). Dipstick terdiri dari dua pita yang tersusun secara horizontal: pita tes antigen (bawah) mengandung antigen reaktif yang spesifik dan pita internal control (atas) mengandung anti-human IgM antibodi. Uji didasarkan atas ikatan antibodi IgM spesifik S. typhi terhadap antigen S. typhi. Ikatan antibodi IgM secara spesifik dideteksi dengan konjugat IgM antihuman(WHO,2003).
Uji dilakukan dengan membuat dilusi 1:50 dari serum (4 µL) pada reagen deteksi (200 µL) dan dipstick diinkubasi selama 3 jam pada temperatur ruangan. Pewarnaan dari pita antigen menyatakan adanya antibodi IgM spesifik dalam sampel serum.Kekuatan pewarnaan penting dalam interpretasi hasil tes.Referensi warna strip digunakan untuk membandingkan intensitas pewarnaan dengan rentangan dari 0 (tidak ada reaksi) sampai +4 (reaksi baik). Pada uji dengan dipstick ini hasil dapat diinterpretasi dengan terbentuknya warna pada pita kontrol sehingga dianggap positif dan jika tidak terbentuk warna pada pita kontrol
Uji dilakukan dengan membuat dilusi 1:50 dari serum (4 µL) pada reagen deteksi (200 µL) dan dipstick diinkubasi selama 3 jam pada temperatur ruangan. Pewarnaan dari pita antigen menyatakan adanya antibodi IgM spesifik dalam sampel serum.Kekuatan pewarnaan penting dalam interpretasi hasil tes.Referensi warna strip digunakan untuk membandingkan intensitas pewarnaan dengan rentangan dari 0 (tidak ada reaksi) sampai +4 (reaksi baik). Pada uji dengan dipstick ini hasil dapat diinterpretasi dengan terbentuknya warna pada pita kontrol sehingga dianggap positif dan jika tidak terbentuk warna pada pita kontrol