• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bakune pernggelluh berrumu i peldang enda ,

Enggo mo sampe naing dom tahun berrumu I peldang enda da nange…… ! Namun silalap buah kayu cibon-ciceggen.

Mertunjang ngaleen buah kayu,

Keppe lalap ngo kidah murung berrumu i peldang enda….nina. Kade maingken mak merung sai lalap mak mercabing.

Kono irumah sendah meddem mercabing ngo nange……! Galang-gumale bekkas pe mbellang ,

Amak belagen,kundul kono sendah mengoge ucang……..

‘Bagaimana kehidupan putrimu di bukit ini,

Sudah hampir penuh tahun putrimu di bukit ini oh ibu….. ! Namun selalu buah kayu malam pagi.

Penuh buah kayu,

Dan putrimu selalu murung dibukit ini….. Bagaimana tidak kurus selalu tak berselimut. Mungkin engkau dirumah tidur berselimut ibu… ! Tiduran dengan tempat yang luas,,

Dengan tikar, mungkin engkau makan sirih…..’

a. Diksi

Diksi atau pilihan kata yang digunakan pada teks 11 di atas keseluruhannya adalah pilihan kata denotatif karna menyatakan makna yang sebenarnya sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami arti dari teks tersebut. Seperti misalnya pada kata ‘cibon-ciceggen’ (malam pagi) pada baris -3 merupakan kata nyata. Malam pagi akan mencitrakan makna bahwa tidak ada sedikitpun memakan makanan selain makan buah kayu. Pagi, siang, sore dan malam selalu yang ada hanya makan buah kayu.

b. Imaji (pencitraan atau daya bayang)

Imaji yang digunakan pada teks 11 di atas adalah inajivisual, yangterdapat pada kata ‘peldang’ (bukit) pada baris -1, -2 dan -4. kata‘buah kayu’ (buah kayu) pada baris -3 dan -4, kata ‘merung’ (kurus) pada baris -6,kata ‘cibon-ciceggen’ (malam pagi) pada baris -3, kata ‘bekkas pe mbellang’ (tempat yang luas) pada baris -8, kata ‘belagen’ (tikar) pada baris -9 dan pada kata‘napuren’ (sirih) pada baris -9.

Selain itu penulis juga menemukan imaji gerak, yangterdapat pada kata ‘kundul (duduk)’ pada baris -9.

c. Kata nyata atau kata konkret

Kata nyata atau kata konkret yang digunakan pada teks 11 di atas terdapat pada kata ‘peldang’ (bukit) pada baris -1, -2 dan -4 yang menguatkan imaji pembaca yang benar-benar melihat suasana sebuah bukit yang sepi.

Penulis juga menemukan kata nyata pada beberapa kata yaitu pada kata ‘buah kayu’ (buah kayu) pada baris -3 dan -4, kata‘merung’ (kurus) pada baris -6, kata

yang luas) pada baris -8, kata ‘belagen’ (tikar) pada baris -9 dan pada kata ‘napuren’ (sirih) pada baris -9 yang semakin menguatkan imaji pembaca pada suasana kesepian dan kesedihan di sebuah bukit di tengah hutan sehingga pembaca dapat membayangkan langsung melihat Nan Tampuk Emas kurus karna hanya memakan buah kayu siang malam. Pada kata ‘Cibon ciceggen’ (malam pagi) pada baris -3 juga merupakan kata nyata. Malam pagi akan mencitrakan makna bahwa tidak ada sedikitpun memakan makanan selain makan buah kayu. Pagi, siang, sore dan malam selalu yang ada hanya makan buah kayu.

d. Majas atau gaya bahasa

Majas atau gaya bahasa yang digunakan pada teks 11 di atas adalah majas

repetisi, yangterdapat pada kata ‘berrumu’ (putrimu) pada baris -1 dan -2, kata ‘peldang’ (bukit) pada baris -1, -2 dan -5, kata‘buah kayu’ (buah kayu) pada baris -3 dan -4, kata ‘kono’ (engkau) pada baris -7 dan -9 dan pada kata‘sendah’ (mungkin) pada baris -7 dan -9..

e. Rima

Rima yang digunakan pada teks 11 di atas adalah sajak atau rima ahir “abcd”. Jenis rima yang digunakan adalah rima onomatope, yang terdapatpada vokal u pada baris -4 dan vocal e pada baris -2 dan -7, yang merupakan bunyi yang berat menekan, menyeramkan dan mengerikan seolah-olah seperti desau atau bunyi burung hantu yang disebut cachophony.Selain itu penulis juga menemukan rima onomatope

konsonan /n/ pada baris -3 dan konsonan /ng/ pada baris -6, -8 dan -9 yang memberikan efek dengungan (echo), nyanyian, musik dan kadang-kadang bersifat sinis.

Teks 12.Tagan Dera : ….Aaah…tah ! aku bagi kessa mo nanguda-namberru, Pokokna ulang ko mendelles.

Kum pangan ndai dahko, dapet aku ing kutaruh kata si Tagan Dera. Manusia kin pe muat ko,

Si lot dapetsa kes Sa ibreken.

Aku silot dapet aku buah kayu ngo

Idike nai pe kukabari ngo nanguda-namberru. Enggo ibettoh ko kesayangenku.

Kademo dapet aku selain …………buah kayu,…….

‘Tagan Dera: ….….Aaah…tah ! aku jika begininya tante-bibi, Yang penting janganlah kamu bunuh diri.

Kalau makanannya, apa yang aku dapat itu juga yang aku beri Manusiapun ya begitulah,

Yang didapatlah, Yang diberikan

Aku yang kudapat hanya buah kayu Darimana pun kucarinya tante-bibi. Engkau sudah tahu kesayanganku.

Apalah yang kudapat selain buah kayu……. ‘

a. Diksi

Diksi atau pilihan kata yang digunakan pada teks 12 di atas keseluruhannya merupakan pilihan kata yang termasuk kedalam pilihan kata denotatif seperti

misalnya, diksi atau pilihan kata pada kata ‘mendelles’ (bunuh diri) pada baris 2, kata ‘kutaruh’ (kuantar) pada baris -3, kata ‘ibreken’(diberikan) pada baris -5, dan pada kata ‘ibettoh’ (diketahui) pada baris -8, yang merupakan kata denotatif yang mnyatakan makna sebenarnya sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami apa maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya.

Diksi dari pilihan kata ‘nanguda-namberru’ (tante-bibi) pada baris -1 dan -8 juga merupakan pilihan kata denotatif yang berarti tutur kata panggilan masyarakat pada waktu jaman dahulu kepada seorang wanita yang belum menikah.

b. Imaji (pencitraan atau daya bayang)

Imaji yang terdapat pada teks 12 di atas adalah pencitraan gerak (movement

imaji) pada kalimat ‘ulang ko mendelles’ (janganlah kamu bunuh diri) pada baris -2, dan pada kata‘kutaruh’ (kuantar) pada baris -3.

Selain itu penulis juga menemukan imaji visual, yang terdapat pada kata ‘buah kayu’ (buah kayu) pada baris -7 dan -10.

c. Kata nyata atau kata konkret

Kata nyata atau kata konkret yang digunakan pada teks 12 di atas terdapat pada kata ‘ulang ko mendelles’ (janganlah kamu bunuh diri) pada baris -2 yang menguatkan imaji pembaca pada seseorang yang bergerak pada suatu tempat untuk mengakhiri hidupnya, misalnya menceburkan diri ke sungai besar.Kemudian pada kata‘kutaruh’ (kuantar) pada baris -3 menguatkan imaji pembaca pada Si Tagan Dera yang bergerak membawa sesuatu untuk diberikan pada Nan tampuk Emas. Selain itu penulis juga menemukan kata konkret pada kata ‘buah kayu’ (buah kayu) pada baris -7 dan -10 yang dapat menguatkan imaji pembaca pada suatu benda yang dapat dilihat dengan mata yaitu buah kayu.

d. Majas atau gaya bahasa

Majas atau gaya bahasa yang digunakan pada teks 12 di atas adalah gaya bahasa

repetisi, yang terdapat pada kata ‘si’ (yang) pada baris -5 dan -7, kata‘dapet’ (dapat) pada baris -3, -5, -7 dan -10 , dan pada kata‘buah kayu’ (buah kayu) pada baris -7 dan -10.

e. Rima

Rima yang digunakan pada teks 12 di atas adalah sajak atau rima akhir “abcd”.Jenis rima yang dipakai pada teks 12 di atas adalah rima onomatope, yang terdapatpada vokal u pada baris -1, -8, -9 dan -10 dan vokal o pada baris -4 dan -7, yang merupakan bunyi yang berat menekan, menyeramkan dan mengerikan seolah-olah seperti desau atau bunyi burung hantu yang disebut cachophony.Selain itu penulis juga menemukan rima onomatope konsonan /n/ pada baris -6 yang memberikan efek dengungan (echo), nyanyian, musik dan kadang-kadang bersifat sinis, dan pada konsonan /s/ pada baris -5 menyugesti timbulnya suasana mengejek, lembut, lancar dan kadang-kadang menimbulkan perasaan yang menyejukkan.

Teks 13. Enggomok keppe jelma asa mberru ,