C. Pengembangan Profesi, terdiri dari:
5.3.3. Balai Laboratorium Kesehatan (BALAPKES)
Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta berdiri sejak tanggal 25 Januari 1950. Pada awalnya, laboratorum ini merupakan Laboratorium Assaineering DIY yang berada di bawah fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1950 laboratorium ini menerima gabungan dari bagian Kimia Laboratorium Pusat Klaten dan disebut Laboratorium Umum atau Laboratorium Kesehatan Yogyakarta (SK Kem.Kes Nomor : 126/Secr.Dj/64 tanggal 25 Januari 1950), beralamat di Jl. Polowijan, Ngasem, Yogyakarta.
Pada tanggal 1 Januari 1952 nama laboratorium diubah menjadi Laboratorium Kesehatan Daerah Yogyakarta (Labkesda) dengan wilayah kerja meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Bagian Selatan.
Berdasarkan SK Men.Kes.RI Nomor 142/Menkes/SK/IV/1978, pada tanggal 28 April 1978 Laboratorium Kesehatan Yogyakarta berubah menjadi Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta (BLK Yogyakarta). Sesuai Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai Daerah Otonomi, maka Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta yang semula dikelola oleh Pusat melalui Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi DIY diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DIY (sekarang Pemda DIY).
Draft Laporan Akhir
Kajian Potensi Retribusi Pelayanan Pendidikan DIY Tahun 2018
29
Draft Laporan Akhir
Kajian Potensi Retribusi Pelayanan Pendidikan DIY Tahun 2018
30 5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. KESIMPULAN
1. Kontribusi retribusi pelayanan pendidikan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Daerah Istimewa Yogyakarta selama periode tahun 2012 – 2017 secara rata berkisar 17% , angka ini termasuk dalam kriteria CUKUP BAIK dengan rata-rata hanya mencapai 36,87 persen.
2. Pendapatan realisasi dari retribusi pelayanan pendidikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) pada tahun periode 2016 dan 2017 berbanding jauh dengan tahun sebelumnya.
3. Potensi Retribusi Pelayanan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta berkisar antara 41.242.693.456 pertahun.
6.2. REKOMENDASI
Dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Klaten, pada dasarnya dapat ditempuh melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi.
6.2.1. Intensifikasi
Intensifikasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), adalah suatu tindakan atau usaha-usaha untuk memperbesar penerimaan dengan cara melakukan pemungutan yang lebih giat, ketat dan teliti.
Upaya intensifikasi akan mencakup aspek kelembagaan, aspek ketatalaksanaan dan aspek personalianya, yang pelaksanaannya melalui kegiatan sebagai berikut:
a. Menyesuaikan/memperbaiki aspek kelembagaan/organisasi pengelola Pendapatan Asli Daerah (PAD) (Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah), berikut perangkatnya sesuai dengan kebutuhan yang terus berkembang, yaitu dengan cara menerapkan secara optimal sistem dan prosedur administrasi pajak daerah, retribusi daerah dan penerimaan pendapatan lain-lain yang diatur dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999. Dengan berlakunya sistem dan prosedur tersebut, organisasi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang merupakan unsur pelaksana pemerintah daerah dalam bidang pendapatan daerah, tidak lagi berorientasi pada sektor atau bidang pungutan tetapi berorientasi pada fungsi-fungsi dalam organisasinya yaitu fungsi pendaftaran dan pendataan, fungsi
Draft Laporan Akhir
Kajian Potensi Retribusi Pelayanan Pendidikan DIY Tahun 2018
31 penetapan, fungsi pembukuan dan pelaporan, fungsi penagihan serta fungsi perencanaan dan pengendalian operasional, sehingga:
Dengan orientasi pada kegiatan pada fungsi-fungsi dalam organisasi dapat memberikan informasi yang cepat dan akurat, sehingga pola koordinasi dapat lebih terarah.
Sistem pengawasan menjadi lebih baik.
b. Memberikan dampak ke arah peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), karena sistem ini dapat mendorong terciptanya:
Peningkatan jumlah wajib pajak dan wajib retribusi daerah.
Peningkatan cara-cara penetapan pajak dan retribusi.
Peningkatan pemungutan pajak dan retribusi dalam jumlah yang benar dan tepat pada waktunya.
Peningkatan sistem pembukuan, sehingga memudahkan dalam hal pencarian data tunggakan pajak maupun retribusi yang pada akhirnya dapat mempermudah penagihannya.
b. Memperbaiki/menyesuaikan aspek ketatalaksanaan, baik administrasi maupun operasional yang meliputi:
Penyesuaian/penyempurnaan administrasi pungutan.
Penyesuaian tarif.
Penyesuaian sistem pelaksanaan pungutan.
b. Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian yang meliputi:
Pengawasan dan pengendalian yuridis
Dalam hal ini perlu diteliti apakah pungutan Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah berdasarkan undang-undang atau peraturan daerah, serta tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
Pengawasan dan pengendalian teknis
Menitikberatkan pada pelaksanaan pemungutan dengan sasaran menyempurnakan sistem dan prosedur pungutan dan pembayaran.
Pengawasan dan pengendalian penata usahaan menitikberatkan pada kegiatan para pelaksana dan ketertiban administrasi.
c. Peningkatan sumber daya manusia pengelola Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Draft Laporan Akhir
Kajian Potensi Retribusi Pelayanan Pendidikan DIY Tahun 2018
32 Meningkatkan mutu sumber daya manusia/ aparatur pengelola pendapatan daerah dapat dilakukan dengan mengikutsertakan aparatnya dalam Kursus Keuangan Daerah (KKD), juga program-program pendidikan dan latihan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah.
d. Meningkatkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat membayar retribusi.
6.2.2. Ekstensifikasi
Ekstensifikasi adalah usaha-usaha untuk menggali sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru, namun dalam upaya ekstensifikasi ini khususnya yang bersumber dari pajak daerah dan retribusi daerah tidak boleh bertentangan dengan kebijaksanaan pokok nasional.
Secara eksplisit kemungkinan ekstensifikasi telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa jenis pajak yang memenuhi kriteria adalah yang bersifat sebagai pajak dan bukan retribusi, dengan penjelasan sebagai berikut:
a. obyek pajak terletak di wilayah daerah yang bersangkutan;
b. obyek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum;
c. obyek pajak bukan merupakan obyek pajak provinsi/pusat;
d. potensinya memadai;
e. tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
f. memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat;
7. menjaga kelestarian lingkungan.
Berdasarkan telaah kondisi eksisting, kebijakan peraturan yang berlaku serta analisis yang dilakukan, maka dapat disusun suatu program alternatif dalam upaya peningkatan Retribusi Pelayanan Pendidikan. Berikut ini adalah penyajian dalam bentuk poin:
Draft Laporan Akhir
Kajian Potensi Retribusi Pelayanan Pendidikan DIY Tahun 2018
33 1. Badan Diklat, Badan Kepegawaian Daerah maupun Balai Laboratorium Kesehatan harus lebih berperan aktif dalam menjemput bola, dalam arti lebih aktif dalam merancang program-program kegiatan untuk masa yang akan datang. Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan target dan realisasi penerimaan Retribusi Pelayanan Pendidikan. Sehingga dengan begitu pendapatan terhadap retribusi pelayanan pendidikan dapat meningkat secara sangat efektif dan pastinya akan meningkatkan kontribusi retribusi pelayanan pendidikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Diperlukan usaha yang sangat sistematis bagi Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk meningkatkan efektifitas penerimaan retribusi khususnya retribusi pelayanan pendidikan sehingga potensi yang digali tersebut dapat maksimal.
3. Pemerintah dengan Lembaga-lembaga serta Instansi-instansi terkait diharapkan mampu untuk bekerjasama dalam melakukan peningkatan terhadap Pendatapan Asli Daerah (PAD) khususnya terhadap retribusi pelayanan pendidikan.
4. Meningkatkan kualitas pelayanan pemungutan retribusi terhadap mereka yang wajib dikenakan pungutan retribusi agar tercipta ketertiban dan kesadaran suatu masyarakat terhadap perekonomian di daerahnya. Serta melakukan pembenahan pada fasilitas dan infrastruktur bangunan guna memberikan kenyamanan dan kelayakan kepada siapa saja yang menggunakannya, yang nantinya juga akan sangat berkontribusi terhadap pembangunan dan perekonomian daerah.
5. Mengoptimalkan objek-objek retribusi baik yang ada pada Badan Diklat, Badan Kepegawaian Daeah dan Balai Laboratorium Kesehatan, sehingga dapat terlihat pertumbuhan yang nyata setiap tahunnya. Dengan lebih berperan aktif dengan menjemput bola pada setiap objeknya.