BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Bangkitan dan Tarikan Pergerakan
Bangkitan pergerakan adalah tahapan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. Pergerakan lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan pergerakan lalu lintas. Bangkitan ini membahas lalu lintas yang meninggalkan dan menuju ke suatu lokasi (Tamin, 2000).
Pergerakan yang berasal dari zona i Pergerakan yang menuju dari zona d
(Sumber : Perencanaan & Pemodelan Transportasi (Tamin, 2000)) Gambar 2.5 Bangkitan dan tarikan pergerakan
Hasil keluaran dari perhitungan bangkitan dan tarikan lalu lintas berupa jumlah kendaraan, orang atau angkutan barang per satuan waktu, misalnya kendaraan/jam. Kita dapat dengan mudah menghitung jumlah orang atau kendaraan yang masuk atau keluar dari suatu luas tanah tertentu dalam satu hari (atau satu jam) untuk mendapatkan bangkitan dan tarikan pergerakan. Bangkitan dan tarikan lalu lintas tersebut tergantung pada dua aspek tata guna lahan, yaitu jenis tata guna lahan dan jumlah aktivitas pada tata guna lahan tersebut.
Dalam tujuan pergerakan ada lima kategori yang sering digunakan (Tamin, 2000) yaitu :
2. Pergerakan ke sekolah atau universitas 3. Pergerakan ke tempat belanja
4. Pergerakan untuk kepentingan social dan rekreasi 5. Lain-lain
Dalam sistem perencanaan transportasi terdapat empat langkah yang saling terkait satu dengan yang lain (Tamin, 2000), yaitu :
1. Bangkitan pergerakan (Trip generation) 2. Distribusi perjalanan (Trip distribition) 3. Pemilihan moda (Moda split)
4. Pembebanan jaringan (Trip assignment)
Tujuan dasar bangkitan pergerakan adalah menghasilkan model hubungan yang mengaitkan parameter tata guna lahan dengan jumlah pergerakan yang meninggalkan suatu zona. Zona asal dan tujuan pergerakan biasanya juga menggunakan istilah trip end. Tahapan bangkitan pergerakan ini meramalkan jumlah pergerakan yang akan dilakukan oleh seseorang pada setiap zona asal dengan menggunakan data rinci mengenai tingkat bangkitan pergerakan, atribut, social ekonomi, serta tata guna lahan.
Tempat Belanja Tarikan Bangkitan Tempat Kerja Bangkitan Tarikan
Gambar 2.6 Bangkitan dan tarikan pergerakan (Sumber : Perencanaan & Pemodelan Transportasi (Tamin, 2000)) Rumah Bangkitan Bangkitann Tempat Kerja Tarikan Tarikan
2.7.1 Pemodelan Bangkitan Pergerakan
Model dapat didefinisikan sebagai alat bantu atau media
yang dapat digunakan untuk mencerminkan dan
menyederhanakan suatu realita (dunia sebenarnya) secara terukur (Tamin, 2000) termasuk diantaranya :
1. Modal fisik (model arsitek, model teknik dan lain-lain) 2. Peta dan diagram
3. Model statistika dan matematika (fungsi atau persamaan)
Semua model tersebut merupakan penyederhanaan realita untuk tujuan tertentu. Seperti memberikan penjelasan, pengertian, serta peramalan. Pemodelan transportasi hanya merupakan salah satu unsur dalam perencanaan transportasi.
2.8 TEORI PERPARKIRAN 2.8.1 Parkir
Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara karena ditinggalkan oleh pengemudinya. Secara hukum dilarang untuk parkir di pinggir jalan raya, namun parkir di sisi jalan utamanya seringkali terjadi.Fasilitas parkir dibangun bersama-sama dengan kebanyakan gedung, untuk memfasilitasi kendaraan pemakai gedung. Termasuk dalam pengertian parkir adalah setiap kendaraan yang berhenti pada tempat-tempat tertentu baik yang dinyatakan dengan rambu lalu-lintas ataupun tidak, serta tidak semata-mata untuk kepentingan menaikkan dan/atau menurunkan orang dan/ atau barang. (Dirjen Perhubungan Darat, 1998)
(Sumber: Dirjen Perhubungan Darat, 1998)
Keterangan:
a = Jarak garden d = Lebar
b = Depan tergantung h = Tinggi total
c = Belakang tergantung L = Panjang total B = Lebar total
Tabel 2.19 Lebar Bukaan Pintu Kendaraan
Jenis Bukaan Pintu Pengguna dan/ atau Peruntukan
Fasilitas Parkir Gol
Pintu depan/ belakang terbuka tahap awal 55 cm
Karyawan/ pekerja kantor
Tamu/ pengunjung kegiatan perkantoran, perdagangan, pemerintahan, universitas
I
Pintu depan/ belakang terbuka penuh 75 cm
Pengunjung tempat olahraga, pusat hiburan/ rekreasi, hotel, pusat perdagangan eceran/ swalayan, rumah sakit, bioskop
II
Pintu depan terbuka penuh dan ditambah untuk pergerakan kursi roda
Orang cacat III
(Sumber: Dirjen Perhubungan Darat, 1998)
(Sumber: Dirjen Perhubungan Darat, 1998) Gambar 2.8 Ruang parkir pada badan jalan
Keterangan:
A = Lebar ruang parkir D = Ruang parkir alternatif M = Ruang manufer
J = Lebar pengurangan ruang manufer W = Lebar total jalan
L = Lebar jalan efektif
2.8.2 Tata Letak dan Jenis Parkir
Tata letak dan jenis parkir dapat dikelompokkan sebagai berikut (Dirjen Perhubungan Darat, 1998):
1. Menurut Cara Penempatannya
Menurut cara penempatannya terdapat dua cara pergantian parkir yakni:
Parkir di tepi jalan (on-street parking)
Parkir di tepi jalan ini mengambil tempat disepanjang badan jalan. Parkir di tepi jalan ini jika ditinjau dari segi kelancaran lalu-lintas kurang baik sebab dapat menggangu arus lalu-lintas dengan berkurangnya lebar jalan yang digunakan untuk berkendara, sehingga pada akhirnya akan timbul kemacetan lalu-lintas. Posisi parkirnya bias sejajar dengan sumbu jalan ataupun bersudut 30O, 45O, 60O, dan 90O.
Parkir diluar jalan (off-street parking)
Parkir ini menempati pelataran tertentu diluar badan jalan, baik halaman terbuka maupun di dalam bangunan khusus untuk parker. Bila ditinjau posisi parkirnya, maka dapat dibedakan seperti pada on-street parking.
2. Menurut Statusnya
Menurut statusnya parkir dapat dikelompokkan sebagai berikut:
tanah-tanah, jalan-jalan, lapangan yang dimiliki/ dikuasai pengelolanya oleh pemerintah daerah
Parkir khusus
Parkir khusus adalah perparkiran yang menggunakan tanah-tanah, jalan-jalan, tanah yang dimiliki/ dikuasai oleh pihak ketiga
Parkir darurat
Perparkiran di tempat umum baik yang menggunakan tanah-tanah, jalan-jalan, lapangan-lapangan milik pemerintah daerah atau swasta untuk kegiatan insidentil
Taman parkir
Taman parkir yang dibuat didaerah terbuka di pusat kota maupun di pinggiran kota yang harus sesuai dengan peruntukkan tanahnya, dan harus berfungsi sebagai penghijauan kota
Gedung parkir
Gedung parkir adalah bangunan yang dimanfaatkan untuk tempat parkir kendaraan yang menyelenggarakan oleh pemerintah daerah atau pihak ketiga yang telah mendapatkan ijin dari pemerintah daerah
3. Menurut Jenis Kendaraan
Parkir kendaraan beroda dua tidak bermesin
Parkir kendaraan beroda dua bermesin
Parkir kendaraan beroda tiga, empat atau lebih 4. Menurut Jenis Tujuan Parkir
Parkir untuk menaikkan dan menurunkan penumpang
Parkir untuk bongkar muat barang
5. Menurut Jenis Tujuan Parkir digolongkan menjadi
Parkir milik swasta, pengoperasiannya juga oleh pihak swasta
Parkir milik pemerintah daerah sedangkan pengoperasiannya oleh pihak swasta
Parkir milik pemerintah daerah dan pengoperasiannya juga oleh pemerintah daerah
2.8.3 Kapasitas Lahan Parkir
Adanya parkir pada sisi jalan maka akan mengakibatkan pengurangan lebar efektif jalan yang dikarenakan dipakai sebagai ruang parkir dan manufer. Untuk mengetahui kapasitas parkir, pengukuran dilakukan saat survey. Kapasitas parkir dapat dikatakan juga sebagai kapasitas normal yang terdapat pada ruas sepanjang area yang di studi. Berdasarkan Suwardjoko Warpani, 2002, untuk kapasitas normal sesuai dengan sudut parkir di lapangan dan panjan lahan yang di studi. Posisi parkirnya bias sejajar dengan sumbu jalan atau pun bersudut 30O, 45O, 60O, dan 90O. (Dirjen Perhubungan Darat, 1998)
1. Paralel
(2.22)
Keterangan:
N = SRP (Satuan Ruas Parkir) L = Batas tepi jalan
2. Menyudut30O
( )
(2.23) Keterangan:
N = SRP (Satuan Ruas Parkir) L = Batas tepi jalan
3. Menyudut 45O
( )
(2.24) Keterangan:
N = SRP (Satuan Ruas Parkir) L = Batas tepi jalan
4. Menyudut 60O
( ) (2.25) Keterangan:
N = SRP (Satuan Ruas Parkir) L = Batas tepi jalan
(2.26) Keterangan:
N = SRP (Satuan Ruas Parkir) L = Batas tepi jalan