• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bangunan Lokasi Pengolahan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Bangunan Lokasi Pengolahan

Lokasi insinerator di dekat kantin sekitar 10 m dan diluar area insinerator adalah parkir mobil dan tempat trolley yang akan digunakan petugas pengumpul limbah medis. Gerbang bangunan insinerator dilengkapi berbagai peringatan mulai dari peringatan bahaya hingga area khusus trolley agar mobil tidak parkir sembarangan dan menghambat pengangkutan limbah medis. Berikut pada Tabel 5.32 kondisi dan kesesuaian pengolahan limbah medis padat RSUD Kabupaten Sidoarjo.

110

Tabel 5.32 Kondisi dan Kesesuaian Pengolahan Limbah Medis Padat RSUD Kabupaten Sidoarjo

Gambar Kondisi Eksisting Kepbapedal No. 3 Tahun 1995 PP No. 101 Tahun 2014 dan Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 Sesuai/Tidak Sesuai

RSUD Kabupaten Sidoarjo mengelola limbah medis padat yang dihasilkannya dengan insinerator dan lokasi pengolahan bukan daerah banjir. Namun lokasi pengolahan dekat kantin RSUD Kabupaten Sidoarjo

Pengolahan limbah B3 dilakukan dengan cara termal, stabilisasi, dan solidifikasi, dan cara lain sesuai

perkembangan teknologi(PP No. 101 Tahun 2014) Lokasi pengolahan darah bebas banjir dan jarak dengan fasilitas umum minimal 50 meter(Kepbapedal No. 3 Tahun 1995)

Teknologi

pengolahan/pemusna han limbah medis disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dan jenis limbah yang ada, dengan menggunakan otoklaf/ insinerator.

Limbah medis padat tidak diperbolehkan membuang langsung ke tempat

pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan -Sesuai dengan PP No. 101 Tahun 2014 dan Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 -Tidak sesuai dengan Kepbapedal No. 3 Tahun 1995

111

Memiliki fasilitas pagar pengaman dan dilengkapi dengan simbol dan peringatan “’Yang Tidak

Berkepentingan Dilarang Masuk” dipasang pada tiap pintu serta penerangan sekitar lokasi

Mempunyai fasilitas pagar pengaman dengan dilengkapi tanda bahaya serta

penerangan yang memadai sekitar lokasi - Sesuai dengan Kepbapedal No. 3 Tahun 1995 RSUD Kabupaten Sidoarjo melakukan pemusnahan limbah medis setiap hari menggunakan insinerator

-

Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam Sesuai dengan Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004

112

-Limbah medis padat diletakkan di dalam bangunan insinerator, namun penempatannya sering tidak rapi. Semua limbah medis padat kecuali limbah infeksius benda tajam dimusnahkan dengan insinerator namun belum pernah dilakukan pengukuran efisiensi pembakaran dan telah dilakukan uji emisi. Hasil pengukuran efisiensi pembakaran sebesar 90,56 % dan parameter partikel melebihi baku mutu yaitu 78 mg/Nm3

-Untuk pengolahan limbah B3 yang dilakukan dengan cara termal efisiensi pembakaran dengan nilai paling sedikit mencapai 99,99% dan sesuai standar emisi udara (PP No. 101 Tahun 2014)

- Menata jarak antar kontainer yang berisi limbah B3 minimum 60 cm(Kepbapedal No. 3 Tahun 1995)

Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan, dan dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya Tidak sesuai dengan PP No. 101 Tahun 2014 dan Kepbapedal No. 3 Tahun 1995

113

Abu yang dihasilkan diangkut dan disimpan di TPS limbah B3. Abu hasil insinerasi dikirim ke PPLi untuk diolah dan ditimbun

Dalam hal pengolahan limbah B3 dengan cara termal, pemegang izin wajib melakukan penyimpanan residu dan atau sisa

pembakaran berupa abu dan cairan. Pengemasan limbah B3 terbuat dari bahan sesuai karakteristik limbah B3 yang disimpan, memiliki penutup yang kuat, kondisi baik, tidak bocor, tidak berkarat, dan tidak rusak. Setelah insinerasi/ desinfeksi, residunya dapat dibuang ke tempat pembuangan B3 atau dibuang ke landfill jika residunya sudah aman. Sesuai dengan PP No. 101 Tahun 2014 dan Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 -

Khusus limbah infeksius benda tajam dikirim dan diolah ke PT PRIA

Dalam hal setiap orang menghasilkan limbah B3 tidak mampu melakukan sendiri pengolahan limbah B3 yang dihasilkannya diserahkan kepada Pengolah limbah B3 disertai bukti penyerahan limbah B3 - Sesuai dengan PP No. 101 Tahun 2014

114

Operator insinerator menggunakan helm, masker, sarung tangan khusus, pelindung dada, sepatu boot, kacamata pelindung selama menangani limbah medis padat

Tersedianya peralatan dan baju pelindung bagi staf (Kepbapedal No. 3 Tahun 1995)

Petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat pelindung diri yang terdiri topi/helm, masker, pelindung mata, pakaian panjang, sepatu boot, sarung tangan khusus

Sesuai dengan Kepbapedal No. 3 Tahun 1995 dan Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 - RSUD Kabupaten Sidoarjo telah memiliki izin kegiatan pengolahan limbah B3

Setiap orang yang

menghasilkan limbah B3 yang akan melakukan pengolahan wajib memiliki izin pengelolaan limbah B3 untuk kegiatan pengolahan limbah B3(PP No. 101 Tahun 2014) - Sesuai dengan PP No. 101 Tahun 2014 Operator insinerator memiliki APAR sebagai alat pemadam

kebakaran yang masih berfungsi dan selalu dilakukan pengecekan tiap sebulan sekali

-Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3, pengumpul, pemanfaat, pengangkut, pengolah, dan atau penimbun Limbah B3 wajib memiliki sistem tanggap darurat (PP No. 101 Tahun 2014)

-Tersedianya sistem pemadam kebakaran (Kepbapdal No. 3 Tahun 1995) - Sesuai dengan PP No. 101 Tahun 2014 dan Kepbapedal No. 3 Tahun 1995

115

5.3.5 Pengangkutan Limbah Medis Padat

Pengangkutan limbah medis padat milik RSUD Kabupaten Sidoarjo bekerjasama dengan PT PRIA dan PPLi. Berikut pada Tabel 5.33 kondisi dan kesesuaian alat angkut dan pengangkutan limbah medis padat dengan peraturan yang berlaku.

116

Tabel 5.33 Kondisi dan Kesesuaian Alat Angkut dan Pengangkutan Limbah Medis Padat dengan Peraturan yang Berlaku

Kondisi Eksisting Kepbapedal No. 1 Tahun 1995 PP No. 101 Tahun 2014 Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 Sesuai/Tidak Sesuai Abu pasca insinerasi

dimasukkan dalam drum yang telah dilengkapi simbol dan label. Kondisi drum dalam keadaan baik, kuat, anti bocor, dan memiliki penutup

Kemasan memiliki penutup yang kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan saat dilakukan pemindahan atau pengangkutan -

Limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup Sesuai dengan Kepbapedal No. 1 Tahun 1995 dan PP No. 101 Tahun 2014 Petugas pengangkut menggunakan masker, sarung tangan, pakaian panjang, dan sepatu selama proses pengangkutan

- -

Alat pelindung diri terdiri dari: topi/helm, masker, pelindung mata, pakaian panjang, sepatu boot, dan sarung tangan khusus Sesuai dengan Kepbapedal No. 1 Tahun 1995 dan PP No. 101 Tahun 2014 Kendaraan pengangkut telah mendapatkan lisensi dan pada alat angkut telah dilenkapi simbol. Alat angkut yang digunakan jenis van yag tertutup dan mampu menampung limbah yang diangkut

-

Pengangkutan limbah B3 wajib dilakukan dengan menggunakan alat angkut yang tertutup

Setiap kendaraan pengangkut harus melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang dan pengangkutan limbah medis padat ke luar rumah sakit

menggunakan kendaraan khusus Sesuai dengan Kepbapedal No. 1 Tahun 1995 dan PP No. 101 Tahun 2014

117

5.3.6 Evaluasi Kelembagaan Pengelola Limbah Medis Padat