II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)
Berdasarkan Undang-Undang No.10 Tahun 1998, bank di Indonesia dibedakan atas dua jenis, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Perbedaan utama BPR dengan Bank Umum adalah dalam hal ruang lingkup kegiatan dan wilayah operasional. BPR tidak diizinkan melakukan transaksi kliring sehingga, BPR tidak dapat menciptakan uang giral. Dengan demikian, BPR tidak dapat dikelompokkan ke dalam bank pencipta uang giral. Selain ruang lingkup usaha yang terbatas, wilayah operasional BPR juga dibatasi pada tingkat kecamatan dan pedesaan-pedesaan.
Sesuai dengan kebijakan otoritas moneter, BPR sebagai lembaga keuangan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pergerakan perekonomian melalui pengucuran kredit untuk mendanai pembangunan daerah. BPR adalah bank yang dalam melaksanakan kegiatan usahanya terbagi menjadi dua, yaitu secara konvensional dan berdasarkan prinsip syariah. Menurut Colter dan Suharto (1991), fungsi pokok BPR selain menghimpun dana dari masyarakat berupa tabungan dan deposito berjangka. Dalam pelaksanaannya, BPR dapat berperan dalam membantu pemerintah untuk mendidik masyarakat pedesaan agar mau menabung dan mengusahakan agar uang yang berada di pedesaan tidak mengalir ke kota-kota. Selain itu, manfaat BPR adalah untuk menambah pendapatan asli daerah.
Berdirinya BPR Syariah di Indonesia, telah diatur dalam Undang-Undang Perbankan No.10 Tahun 1998, yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah. BPRS didirikan berdasarkan dari tuntutan
bermu malah secara Islam yang merupakan keinginan kuat dari sebagian besar umat Islam di Indonesia. Selain itu, berdirinya BPRS merupakan langkah aktif dalam rangka restrukturisasi perekonomian Indonesia secara umum. Secara khusus adalah mengisi peluang terhadap kebijakan yang membebaskan bank dalam penetapan tingkat suku bunga (rate interest), yang kemudian dikenal dengan bank tanpa bunga.
Pada tanggal 16 Juli 2008, pemerintah membuat undang-undang baru tentang perbankan syariah. Undang undang No. 21 tahun 2008 yang disahkan memiliki beberapa ketentuan umum yang menarik untuk dicermati. Ketentuan umum dimaksud (Pasal 1) adalah merupakan sesuatu yang baru dan akan memberikan implikasi tertentu, meliputi:
a. Istilah Bank Perkreditan Rakyat yang diubah menjadi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Perubahan ini untuk lebih menegaskan adanya perbedaan antara kredit dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.
b. Definisi Prinsip Syariah. Dalam definisi dimaksud memiliki dua pesan penting yaitu (1) prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dan (2) penetapan pihak/lembaga yang berwenang mengeluarkan fatwa yang menjadi dasar prinsip syariah. Penetapan Dewan Pengawas Syariah sebagai pihak terafiliasi seperti halnya akuntan publik, konsultan dan penilai.
c. Definisi pembiayaan yang berubah secara signifikan dibandingkan definisi yang ada dalam UU sebelumnya tentang perbankan (UU No. 10 tahun 1998).
Dalam definisi terbaru, pembiayaan dapat berupa transaksi bagi hasil, transaksi sewa menyewa, transaksi jual beli, transaksi pinjam meminjam dan transaksi sewa menyewa jasa (multijasa).
Konsep dasar operasional BPRS sama dengan konsep dasar operasional pada Bank Muamalat Indonesia, yaitu simpanan murni (al-wadiah), sistem bagi hasil, sistem jual beli dan marjin keuntungan, sistem sewa, dan sistem upah.kegiatan-kegiatan operasional BPRS adalah sebagai berikut (Sumitro, 2002): 1. Mobilisasi dana masyarakat
BPRS akan mengerahkan dana masyarakat dalam berbagai bentuk, seperti simpanan wadiah, fasilitas tabungan, dan deposito berjangka. Fasilitas ini dapat digunakan untuk menitip infak, shodaqoh dan zakat, ONH, merencanakan qurban, aqiqah, khitanan, mempersiapkan pendidikan, pemilikan rumah, kendaraan, serta dapat juga dimanfaatkan untuk menitipkan dana yayasan, masjid, sekolah, pesantren, organisasi, badan usaha lainnya.
a) Simpanan Amanah
BPR menerima titipan amanah (trustee Account) berupa dana infaq, zakat, shodaqoh. Akad penerimaan titipan ini adalah Wadiah yaitu titipan yang tidak mengandung risiko, bank akan memberikan profit dari bagi hasil yang didapat melalui pembiayaan kepada masyarakat.
b) TabunganWadiah
BPR menerima tabungan (saving account), baik pribadi maupun badan usaha dalam bentuk tabungan bebas. Akad penerimaan berdasarkanwadiah. Bank akan memberikan profit kepada penabung sejumlah tertentu dari bagi hasil yang
diperoleh bank dalam pembiayaan kredit pada nasabah, yang dihitung secara harian dan dibayar setiap bulan.
c) DepositoWadiah atau DepositoMudharabah
BPR menerima deposito berjangka (time and investment account) baik pribadi atau lembaga. Akad berdasarkan wadiah atau mudharabah dimana bank menerima dana masyarakat berjangka waktu satu, tiga, enam dan dua belas bulan dan seterusnya, sebagai peyertaan sementara pada bank. Deposan yang akad depositonya wadiah mendapat nisbah bagi hasil yang ditetapkan bank dalam pembiayaan atau kredit nasabah, dibayar setiap bulan. Deposito, bank akan menerbitkan Warkat Deposito atas nama deposan.
2. Penyaluran Dana
a) PembiayaanMudharabah
Pembiayaan ini merupakan suatu perjanjian pembiayaan antara BPR dengan pengusaha, dimana pihak bank menyediakan pembiayaan modal usaha yang dikelola oleh pihak pengusaha, atas dasar perjanjian bagi hasil.
b) PembiayaanMusyarakah
Pembiayaan ini merupakan suatu perjanjian pembiayaan antara BPR dengan pengusaha, dimana kedua belah pihak secara bersama-sama membiayai suatu usaha atau proyek yang dikelola secara bersama pula, atas dasar bagi hasil. c) PembiayaanBai u Bitsaman Ajil
Pembiayaan ini merupakan suatu perjanjian yang disepakati antara BPR dengan nasabahnya, dimana BPR menyediakan dana untuk pembelian barang atau aset yang dibutuhkan nasabah untuk mendukung proyek. Nasabah membayar
secara mencicil dengan mark-up yang didasarkan atas Opportunity Cost Project
(OCP).
d) PembiayaanMurabahah
Pembiayaan ini merupakan suatu perjanjian yang disepakati antara BPR dengan nasabah, dimana BPR menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah, akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank plus marjin keuntungan pada saat jatuh tempo).
e) PembiayaanQardhul Hasan
Pembiayaan ini merupakan perjanjian pembiayaan antara BPR dengan nasabah, menganggap layak menerima yang diprioritaskan bagi pengusaha kecil pemula yang potensial dan tidak memiliki modal selain kemampuan berusaha. Penerimaan kredit hanya diwajibkan mengembalikan pokok pinjaman pada waktu jatuh tempo dan bank hanya mengenakan biaya administrasi yang benar-benar untuk keperluan proses.
3. Jasa Perbankan lainnya
Secara bertahap BPRS juga menyediakan jasa untuk memperlancar pembayaran dalam bentuk proses transfer dan inkaso, pembayaran rekening listrik, air, telepon, angsuran KPR, dan lain sebagainya. Selain itu juga mempersiapkan bentuk pelayanan berupa talangan dana (bridging financing) yang didasarkan atas pembiayaanBai Salam (proses jual beli dengan pembayaran yang dilakukan secaraadvance, manakala penyerahan barang dilakukan kemudian).