2.8.1 Pengertian Bank Syariah
Pengertian Bank Syariah menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah adalah:
“Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah”.
Menurut Institut Manajemen Bina Mulia Consulting Centre (2008: 4), “Bank syariah ialah bank yang berasaskan, antara lain, pada asas kemitraan, keadilan, transparansi dan universal serta melakukan kegiatan usaha perbankan berdasarkan prinsip syariah”.
Menurut Edy Wibowo dan Untung Hendy Widodo (2005: 33):
“Bank syariah atau bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam”.
Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam maksudnya adalah bank yang dalam operasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata-cara bermuamalah secara Islam. Dalam tata cara bermuamalah itu dijauhi praktik-praktik yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba, untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan atau praktik-praktik usaha yang dilakukan di zaman Rasulullah atau bentuk-bentuk usaha yang telah ada sebelumnya, tetapi tidak dilarang oleh beliau.
Falsafah dasar beroperasinya bank syariah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efisiensi, keadilan, dan kebersamaan. Efisiensi mengacu pada prinsip saling membantu secara sinergis untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin. Keadilan mengacu pada hubungan yang tidak dicurangi, ikhlas, dengan persetujuan yang matang atas proporsi masukan dan keluarannya. Kebersamaan mengacu pada prinsip saling menawarkan bantuan dan nasihat untuk saling meningkatkan produktivitas.
Bisnis berdasarkan syariah di negeri ini tampak mulai tumbuh. Pertumbuhan itu tampak jelas pada sektor keuangan. Di mana kita telah mencatat tiga bank umum syariah, 78 BPR Syariah, dan lebih dari 2.000 unit Baitul Maal wa Tamwil (Lembaga Keuangan Mikro Syariah seperti BMT). Lembaga ini telah mengelola berjuta bahkan bermiliar rupiah dana masyarakat sesuai dengan prinsip syariah. Lembaga keuangan tersebut harus beroperasi secara ketat berdasarkan
prinsip-prinsip syariah. Prinsip ini sangat berbeda dengan prinsip yang dianut oleh lembaga keuangan non-syariah.
Menurut Muhamad (2000: 25):
“Adapun prinsip-prinsip yang dirujuk adalah:
1. Larangan menerapkan bunga pada semua bentuk dan jemis transaksi. 2. Menjalankan bisnis dan perdagangan berdasarkan pada kewajaran dan
keuntungan yang halal.
3. Mengeluarkan zakat dari hasil kegiatannya. 4. Larangan menjalankan monopoli.
5. Bekerjasama dalam membangun masyarakat, melalui aktivitas bisnis dan perdagangan yang tidak dilarang oleh Islam”.
Tabel 2.1 Perbedaan Bank Syarih dan Bank Konvensional
No. Perbedaan Bank Syariah Bank Konvensional
1 Falsafah Tidak berdasarkan bunga (riba), spekulasi (maisir), dan ketidakjelasan (ghanar)
Berdasarkan bunga
2 Operasionalisasi - Dana masyarakat berupa titipan dan investasi yang baru akan mendapatkan hasil jika “diusahakan” terlebih dahulu
- Penyaluran pada usaha yang halal dan menguntungkan
- Dana masyarakat berupa simpanan harus dibayar bunganya pada saat jatuh tempo
- Penyaluran pada sektor yang menguntungkan tanpa memperhitungkan aspek halal atau tidaknya sektor tersebut 3 Aspek Sosial Dinyatakan secara eksplisit
dan tegas yang tertuang dalam visi dan misi
Tidak diketahui secara tegas
4 Organisasi Harus memiliki Dewan Pengawas Syariah
Tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah
Sumber: Rifki Muhammad (2008: 53)
2.8.2 Dasar Hukum Bank Syariah
Menurut Edy Wibowo Dkk. (2005: 35), “Akomodasi peraturan perundang-undangan Indonesia terhadap ruang gerak perbankan syariah terdapat pada beberapa peraturan perundang-undangan berikut ini.
1. undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
2. Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Sentral. Undang-undang ini memberi peluang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
3. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/33/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Umum dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/34/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah. Kedua peraturan perundang-undangan ini mengatur kelembagaan bank syariah yang meliputi pengaturan tata cara pendirian, kepemilikan, kepengurusan, dan kegiatan usaha bank.
4. Peraturan Bank Indonesia No. 2/7/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000 tentang Giro Wajib Minimum Peraturan Bank Indonesia No. 2/4/PBI/2000 tanggal 11 Februari tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No. 1/3/PBI/1999 tanggal 13 Agustus 1999 tentang Penyelenggaraan Kliring Lokal dan Penyelesaian Akhir Transaksi Pembayaran Antarbank atas Hasil Kliring Lokal, Peraturan Bank Indonesia No.2/8/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000 tentang Pasar Uang Antarbank berdasarkan Prinsip Syariah, dan Peraturan Bank Indonesia No.2/9/PBI/2000 tanggal 23 Februari 2000 tentang Sertifikat Wadi’ah Bank Indonesia. Peraturan perundang-undangan tersebut mengatur tentang likuiditas dan instrumen moneter yang sesuai dengan prinsip syariah.
5. Ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS) yang berkedudukan di Basel, Swiss yang dijadikan acuan oleh perbankan Indonesia untuk mengatur Pelaksanaan Prinsip Kehati-hatian (Prudential Banking Regulations).
6. Peraturan lainnya yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan lembaga lain sebagai pendukung operasi bank syariah yang meliputi ketentuan berkaitan dengan pelaksanaan tugas bank sentral, ketentuan standar akuntansi dan audit, ketentuan pengaturan perselisihan perdata antara bank dengan nasabah (arbitrase muamalah), standardisasi fatwa produk bank syariah, dan peraturan pendukung lainnya.”
2.8.3 Tujuan Bank Syariah
Bank syariah memiliki tujuan yang lebih luas dibandingan dengan bank konvensional, berkaitan dengan keberadaannya sebagai institusi komersial dan kewajiban moral yang disandangya.
Menurut Amin Aziz (9), “Bank syariah bertujuan berusaha bahwa metode bagi hasil pada bank syariah dapat beroperasi, tumbuh, dan berkembang melebihi bank-bank dengan metode lain”.
Kemudian selain bertujuan meraih keuntungan sebagaimana layaknya bank konvensional pada umumnya, bank syariah juga bertujuan sebagai berikut:
1. Menyediakan lembaga keuangan perbankan sebagai sarana meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pengumpulan modal dari masyarakat dan pemanfaatannya kepada masyarakat diharapkan dapat mengurangi kesenjangan sosial guna tercipta peningkatan pembangunan nasional yang semakin mantap. Metode bagi hasil akan membantu orang yang lemah permodalannya untuk bergabung dengan bank syariah untuk mengembangkan usahanya. Metode bagi hasil ini akan memunculkan usaha-usaha baru dan dan pengembangan usaha yang telah ada sehingga dapat mengurangi pengangguran.
2. Meningkatnya partisipasi masyarakat banyak dalam proses pembangunan karena keengganan sebagian masyarakat untuk berhubungan dengan bank yang disebabkan oleh sikap menghindari bunga telah terjawab oleh bank syariah. Metode perbankan yang efisien dan adil akan menggalakan usaha ekonomi kerakyatan.
3. Membentuk masyarakat agar berpikir secara ekonomis dan berperilaku bisnis untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
2.8.4 Fungsi dan Peran Bank Syariah
Menurut AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions):
“Fungsi dan peran bank syariah dijabarkan oleh adalah sebagai berikut: a. Manajer investasi, yaitu bank syariah dapat mengelola investasi dana
nasabah.
b. Investor, yaitu bank syariah dapat menginvestasikan dana yang dimiliki maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.
c. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, bank syariah dapat melakukan kegiatan-kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya.
d. Pelaksana kegiatan sosial, sebagai ciri yang melekat pada entitas keuangan syariah, bank syariah juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya”.
2.8.5 Karakteristik Bank Syariah
Bank syariah memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan bank konvensional. Menurut Warkum Sumitro yang dikutip Rifqi Muhammad (2008: 52) :
“Adapun karakteristiknya antara lain sebagai berikut :
a. Beban biaya disepakati bersama pada waktu akad dan diwujudkan dalam bentuk nominal, yang besarnya tidak kaku serta fleksibel untuk dilakukan negoisasi dalam batas yang wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak.
b. Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk pembayaran selalu dihindari, karena persentase bersifat melekat pada sisa hutang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir.
c. Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti ditetapkan dimuka, karena pada hakikatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu proyek yang dibiayai bank hanyalah Allah semata. d. Penyerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan oleh
penyimpan dianggap sebagai titipan (Al Wadiah) sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dana pada proyek-proyek yang dibiayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpan tidak dijanjikan imbalan yang pasti.
e. Dewan Pengawas Syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi operasionalisasi bank dari sudut syariahnya. Selain itu, segenap jajaran pimpinan bank syariah harus menguasai dasar-dasar muamalah.
f. Fungsi kelembagaan bank syariah selain menjembatani antara pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana, juga mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah, artinya berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-waktu apabila dana diambil pemiliknya”.
Menurut Wibowo Dkk.. (2005: 37):
“Bank syariah memiliki beberapa karakeristik tertentu yang membedakannya dengan bank konvensional, yaitu sebagai berikut:
1. Prohibition against the payment and receipt of a fixed or predetermined rate of interest. Metode bunga digantikan dengan metode bagi hasil (profit and loss sharing, disingkat PLS).
2. Requirement to operate through Islamic modes of financing.
3. Investment deposits. Such deposits are not guaranteed in capital value and not yield any fixed or guaranteed rate of return. Dalam hal bank mengalami kerugian, nasabah penyimpan dana mungkin kehilangan dananya, menurut perbandingan pembagian laba/rugi.
4. Beban biaya atas pelayanan bank syariah disepakati bersama pada saat akad pinjaman atau pembiayaan, dinyatakan dalam bentuk nominal dengan istilah sesuai dengan produk yang ditawarkan. Besarnya beban biaya tersebut tidak kaku dan masih dapat dilakukan tawar-menawar dalam batas yang wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan selama masa berlakunya kontrak. Penyelesaian sisa utang setelah kontrak berakhir dilakukan dengan membuat kontrak baru.
5. Dihindarkannya penggunaan persentase atas pinjaman kredit dalam menentukan biaya utang karena akan mengikat dan membebani sisa utang, walaupun masa berlakunya kontrak telah selesai. Hal ini berarti menghindari berlipatnya beban biaya dan produk pinjaman yang mungkin terlambat dibayar.
6. Proporsi bagi hasil didasarkan atas jumlah keuntungan usaha yang diperoleh debitur. Bank syariah tidak menentukan keuntungan pasti (fixed return) yang ditetapkan di awal perjanjian. Keuntungan di muka hanya dimungkinkan untuk akad-akad jual beli melalui kredit kepemilikan barang atau aktiva.
7. Bank syariah tidak menjanjikan jumlah keuntungan yang pasti kepada nasabah penyimpan dana yang menyimpan dananya dalam giro wadi’ah maupun tabungan/deposito mudharabah. Nasabah penyimpan dana pemegang giro wadi’ah akan mendapatkan keuntungan berupa bonus, sedangkan pemegang tabungan/deposito mudharabah akan mendapatkan proporsi bagi hasil.
8. Prinsip penjaminan (collateral) tidak dominan dalam pemberian kredit di bank syariah. Hal ini terlibat pada pembiayaan pembelian barang modal bahwa barang yang dibeli masih milik bank – dapat dianggap sebagai jaminan sendiri – selama belum dilunasi oleh debitur.
9. Bank syariah tidak menjadikan uang sebagai komoditi. Hal ini berimplikasi pada pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah pada dasarnya berupa uang, melainkan pembiayaan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh debitur”.
Menurut Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia:
“Kegiatan bank syariah merupakan implementasi dari prinsip ekonomi Islam dengan karakteristik, antara lain, sebagai berikut:
1. Pelarangan riba dalam berbagai bentuknya.
2. Tidak mengenal konsep nilai waktu dari uang (time value of money). 3. Konsep uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas.
4. Tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang, dan 5. Tidak diperkenankan dua transaksi dalam satu akad”.
2.8.6 Organisasi Bank Syariah
Bank Syariah memiliki karakteristik yang hampir sama dengan bank konvensional karena bentuk badan hukum yang digunakan sebagian besar adalah Perseroan Terbatas (PT). Badan hukum PT memungkinkan ada pihak yang mendominasi atau pemegang saham mayoritas. Perbedaan yang signifikan dalam organisasi bank syariah adalah adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) dimana DPS diharapkan sebagai penyeimbang Dewan Komisaris sehingga kebijakan Dewan Komisaris harus sejalan dengan kebijakan DPS karena bank syariah tidak sekedar beroperasi untuk mencari keuntungan semata namun lebih jauh berupaya menjalankan usaha dengan mengharapkan hasil yang halal dan thoyib.
Pemegang otoritas tertinggi dalam organisasi bank syariah adalah RUPS, namun demikian RUPS tetap harus memperhatikan ketentuan syariah serta pendapat yang disampaikan oleh DPS sehingga walaupun posisi DPS dibawah RUPS, bukan berarti DPS mengikuti apa yang diinginkan para pemegang saham. DPS akan bersikap independen karena DPS hakekatnya adalah kesenjangan tangan dari DPS sehingga norma-norma yang dibangun oleh DPS harus sejalan dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN.
Gambar 2.3. Organisasi Bank Syariah
Sumber: Rifki Muhammad (2008: 54)
2.8.7 Produk-Produk Bank Syariah
Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanmkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.
Secara garis besar, pengembangan produk bank syariah dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu :