• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAPAK EMPAT PILAR NEGARA

Dalam dokumen MENGENANG TAUFIQ KIEMAS NEGARAWAN PARIPURNA (Halaman 147-152)

HAJRIYANTO Y. THOHARI  

Dimuat Majalah Leader, edisi juli 2013

S

AYA ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah testimoni: 

bahwa Taufiq Kiemas adalah perintis sosialisasi Empat Pilar Negara.  Lengkapnya: dia adalah penggagas, penemu, perumus, dan perumus  istilah Empat Pilar dalam kehidupan Berbangsa dan bernegara.  Lebih dari pada itu dia adalah penggerak dan pelaksana sosialisasi Empat Pilar Negara. Dan saya mempertaruhkan kredibiltas serta integritas intelektual saya untuk mengatakan hal ini: secara otentik dan original Pak Taufiq Kiemas adalah Bapak Gerakan Sosialisasi Empat Pilar, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik  Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai seorang penggagas, pemrakarsa, dan penggerak sosialisasi Empat Pilar, Taufiq Kiemas sangat bergembira ketika saya menambahkan kata gerakan: Gerakan Sosialisasi Empat Pilar.  Kata gerakan (movement, al-harakah) —demikian saya men jelaskan kepada beliau untuk  memperkuat, memper-kokoh, dan menyempurnakan ide originalnya itu—harus lah mengandung dua hal sebagai kesatuan yang integral: mobilisasi dan sistematisasi. Gerakan sosialisasi Empat Pilar harus bersifat masif sekaligus sistematis. Artinya, gerakan sosialisasiEmpat Pilar harus dilakukan secara masif dan sistematis.  Walhasil, harus ada mobilisasi dalam skala masif  tetapi dilakukan secara

sistematis. Dengan kata lain mobilisasi yang sistematisasi sekaligus sistematisasi yang dinamis.

Sebagai sebuah gerakan yang dinamis dan sistematis maka sosialisasi Empat Pilar Negara memerlukan perangkat  sistem,teori,  metode dan metodologi, serta sumber daya dan dana yang memadai. Pak Taufiq Kiemas berhasil meya-kinkan semua pihak, terutama Presiden dengan seluruh jajaran eksekutif  dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mendukungnya. Bahkan beberapa bulan sebelum wafatnya, Taufiq Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), berhasil mendatangkan seluruh Gubernur, Bupati, Walikota, ketua DPRD Provinsi, Ketua DPRD Kabupaten/

Kota, untuk menanda tangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk secara bersama-sama melaksanakan gerakan sosialisasi Empat Pilar Negara.

Semua partai politik (tak peduli partai-partai koalisi atau oposisi, partai nasionalis atau partai Islam), organisasi kemasya-rakatan Muhammadiyah, NU, MUI, PGI, MAWI, Walubi, Matakin, dan lain-lain, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, perguruan tinggi, Badan Eksekutif  Mahasiswa, Lembaga Swa-daya Masyarakat (LSM/LPSM), Majelis-majelis Taklim, Kepala Desa/lurah, paguyuban-paguyuban atau patembayan-patem-bayan dalam masyarakat, para seniman, dalang, sinden, bahkan pemusik Melayu/Dangdut, PAMMI dan Rocker muda seperti Power Slaves, media massa cetak, elektronik, dan online, semuanya tanpa terkecuali mendukung dan mengambil bagian dalam Gerakan Sosialisasi Empat Pilar Negara!  Alih-alih kalangan koalisi pendukung pemerintah, bahkan perlu dicatat tebal-tebal bahwa kalangan oposan yang  paling oposisif terhadap pemerintahan sekarang ini sekalipun, datang ke MPR memberikan dukungan penuh terhadap gerakan sosialisasi Empat Pilar Negara yang diprakarsai oleh MPR di bawah pimpinan Ketuanya Haji Mohammad Taufiq Kiemas! Sungguh

sebuah suasana dan pemandangan yang sangat mengesankan, mengharukan, dan membahagiakan.  

Mungkin kata-kata saya tersebut di atas tampak terlalu dramatis dan exegerate. Tetapi ketika kita menyaksikan fenomena semakin banalnya korupsi, kolusi  (kini: kongkalingkong), dan nepotisme (sekarang: politik dinasti) di kalangan penyelenggara negara di legislative, eksekutif, dan yudikatif, sekarang ini, serta semakin maraknya fenomena intoleransi dan konflik bernuansa SARA seperti yang terjadi akhir-akhir ini terutama sejak reformasi, dukungan terhadap gerakan sosialisasi Empat Pilar itu sungguh benar-benar membahagiakan. Betapa benarnya hal itu terlebih lagi bagi kita semua sebagai satu bangsa yang mendambakan kuatnya dasar-dasar dan sendi-sendi  bangsa/

Negara sehingga segera terwujud kerukunan dan integrasi nasional, persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan kuat  untuk tercapainya cita-cita nasional demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang maju, berjaya, dan dihormati dunia Internasional. Dengan kewibawaan politik yang luar biasa besar berkat senioritas dan relasi sosial politiknya yang sangat luas yang lintas golongan dan ideologi politik, fakta menunjukkan Pak Taufiq Kiemas telah berhasil memobilisasi dukungan terhadap gerakan sosialisasi Empat Pilar tersebut.

Mengapa dan bagaimana Pak Taufiq Kiemas berhasil menda patkan dukungan sekaligus sukses meletakkan dasar-dasar dan sendi-sendi yang sangat penting dan strategis dalam gerakan sosialisasi Empat Pilar Negara? Jawaban terhadap pertanyaan ini tentulah sangat banyak karena memang banyak sekali factor-faktornya. Tetapi sulit untuk dibantah bahwa salah satunya adalah factor Taufiq Kiemas.  Benar MPR bukan lagi lembaga tertinggi Negara seperti dulu, tetapi MPR tetaplah merupakan lembaga Negara dengan kewenangan tertinggi di negiri ini: merubah dan menetapkan UUD; memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam jabatannya menurut

UUD 1945; melantik Wakil Presiden menjadi Presiden jika terjadi kekosongan jabatan Presiden baik karena mengundurkan diri, diberhentikan, atau mengundurkan diri; memilih wakil presiden dari dua calon yang diajukan oleh Presiden jika terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden; memilih Presiden dan wakil Presiden jika terjadi kekosongan jabatan Presiden dan Wakil Presiden secara bersamaan. Kewenangan-kewenangan yang sangat tinggi ini hanyalah dimiliki oleh MPR saja. Tidak ada yang lain!

Tetapi bukan hanya karena kewenangan kelembagaan MPR yang sangat tinggi itu semata gerakan sosialisasi Empat Pilar berhasil mendapatkan apresiasi dan dukungan, melainkan sekali lagi karena faktor ketokohan Taufiq Kiemas.  Beliau berhasil dengan gemilang meyakinkan semua pihak bahwa gerakan sosialisasi Empat Pilar sangat relevan,  aktual, dan urgen untuk dilaksanakan. Pak Taufiq Kiemas selalu meyakinkan semua pihak bahwa untuk dasar dan ideologi Negara kita tidak boleh terlalu menghitung factor uang atau financial.

Jangan dilupakan, demikian katanya berulang-ulang, bahwa apa saja yang kita bangun bertahun-tahun, bahkan beberapa dasawarsa sekalipun, dan menghabiskan dana ratusa atau ribuan trilyun, bisa habis dalam hitungan hari, bahkan jam saja, jika dasar-dasar negara dan ideologi kebangsaan  kita rapuh dan keropos. Lihat saja jika sebuah negara yang mengalami suasana yang kaotik secara social dan politik (political chaos), apalagi jika sudah anarkis dan rusuh, bangunan-bangunan  itu akan musnah dalam sekejap saja!

Taufiq Kiemas seorang yang sangat mencintai Negara dan bangsa ini. Dia menyantuni semua golongan di negeri ini. Perbedaan ideologi politik (apalagi sekadar perbedaan partai politik), suku, agama, dan aliran, sudah tidak lagi tampak di matanya.  Semuanya adalah bangsa yang satu: bangsa Indonesia. Dia menyantuni putra-putri “pemberontak”,

anak-anak muda “bandel” secara politik, bahkan tertuduh “terorisme”

sekalipun dia datangi dengan santun dan kasih sayang. Dia hormat kepada yang tua, dan penuh sayang kepada yang muda. Beliau orang yang mau belajar dan mendengar dari siapa saja. Dia tidak sungkan-sungkan menelpon saya setiap pagi untuk bicara apa saja tentang Empat Pilar. Bahkan sehari ketika beliau sadar dari koma di tanggal 5 Juni 2013 di National Hospital Singapore, beliau menelpon saya untuk menanyakan kesehatan dan palaksanaan tugas yang dilimpahkan kepada saya. Menjelang akhir hayatnya, Pak Taufiq Kiemas benar-benar mencerminkan kepribadian Empat Pilar par excellence! Kita telah kehilangan beliau, tetapi yang jauh lebih penting lagi kita harus melanjutkan perjuangan beliau. Semoga!

TAUFIQ KIEMAS

Dalam dokumen MENGENANG TAUFIQ KIEMAS NEGARAWAN PARIPURNA (Halaman 147-152)