Dalam propagandanya, Barat berupaya memberikan pembenaran akan perang terhadap Irak dengan menjadikan tindakan represif Irak terhadap rakyatnya sendiri sebagai alasan. Akan tetapi ketika kita menengok dunia Barat, kita pun akan menyaksikan rakyat yang tertindas dalam beragam masalah kehidupan. Bab ini menegaskan bahwa dunia tidak lagi terpikat oleh Amerika dan pandangan hidup kapitalisnya. Selain itu, bab ini juga menyatakan bahwa seandainya warga Amerika tidak termakan propaganda Goebbels-esq yang dijejalkan pada mereka, niscaya mereka akan memiliki sikap yang sama terhadap pemerintahnya. Banyak pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia terjadi di Barat, terutama di Amerika. Sayangnya masyarakat tidak menyadarinya. Rupanya mantra Washington DC dan Trendy London telah membuat orang-orang buta akan aktivitas tak berperikemanusiaan yang terjadi di depan pelupuk mata mereka. Lebih jauh lagi dapat dikatakan bahwa jika saja orang Amerika terbangun dari impian Amerika (American dream) mereka, George W. Bush tidak hanya akan bertanya mengapa mereka (non-Amerika) membenci kita, tetapi ia akan bertanya mengapa warga kami sendiri membenci kita (pemerintahan Bush)?
1. Robbie Burns menulis, ‘I would that God gift would give us, to see ourselves as other see us’. Di sini, sang pujangga Skotlandia itu menyampaikan pandangannya bahwa kemampuan untuk melihat kekurangan dan kelemahan seseorang merupakan suatu anugerah. Kebanyakan dari kita menghargai pentingnya evaluasi diri dalam proses peningkatan diri. Ketika evaluasi diri yang jujur dan adil tidak ada maka yang muncul adalah arogansi. Bagi suatu negara yang tidak memandang dirinya sebagaimana negara lain di dunia memandangnya, hal ini akan membawa negara itu ke arah penguatan mitos dan persepsi diri yang tidak tepat. Ketika ini terjadi pada suatu negara kuat, yang
terjadi adalah beragam kecaman terhadap negara lain sementara dirinya terlena akan masalah yang dibuatnya sendiri. Ketika ini terjadi dalam suatu negara adidaya, yang memiliki senjata pemusnah massal, maka hasilnya adalah dunia yang penuh masalah, terendam dalam lautan darah manusia dan ketidakseimbangan, serta berada di jurang kehancuran.
2. Ketidakmampuan AS untuk melihat dirinya sendiri sebagaimana negara lain di dunia melihatnya, terilustrasikan ketika seorang wanita berlari menuju sebuah mikrofon kru film, dari awan debu di kota Manhattan pada bulan September 2001 dan berkata, ‘Mengapa?’ Sejak itu frase ‘Mengapa mereka membenci kita?’ sering diulang-ulang. Kita sampai bosan melihatnya di koran-koran, siaran televisi, dan mendengarnya dalam komentar radio. Bagi kita yang berada di luar lingkungan pergaulan Amerika, satu-satunya perkara yang membuat kita terperangah dengan pertanyaan ‘mengapa’ itu adalah fakta betapa kagetnya AS ketika mengetahui bahwa orang-orang membenci mereka. Kita mampu berkata seperti ini karena kita melihat Amerika sebagai orang luar. Kebanyakan dari kita, mungkin secara naïf, berpikir tentang adanya indikator yang luas tentang sentimen dunia terhadap Amerika.
Kontrol Pemikiran
3. Kami bermaksud menegaskan bahwa keadaan sulit yang umumnya menimpa warga Amerika benar-benar mengerikan. Tetapi sebelum membahas tentang hal itu, penting untuk dibuat sketsa tentang bagaimana pemikiran kebanyakan orang Amerika telah terbentuk melalui cara-cara tertentu yang membuat mereka mampu menerima keadaan ini. Baik kaum Ba’ath maupun AS bersikeras bahwa sistem mereka membuat iri negara-negara lain di dunia. Mereka sama-sama bersikukuh bahwa warga Irak dan AS harus bersyukur dengan kenyataan bahwa mereka adalah orang Irak dan Amerika. Teknik-teknik propaganda yang AS gunakan sama seperti yang digunakan oleh rezim Ba’ath.
4. Hal itu terlihat dalam komentar yang dimuat media Amerika pada tahun lalu. Misalnya kolomnis Richard Brookhiser dalam The New York Observer (17
September 2001) menggambarkan AS sebagai ‘… sebuah imperium kapitalisme dan demokrasi. New York City juga dipersepsikan sebagai pusat salah satu subsistem itu, mesin uang yang bergemuruh. Siapapun di dunia ini yang mencari nasibnya dan tidak bahagia, lihatlah kami —negara dan kota— carilah alternatif yang ada. Jika ia memiliki kerangka pemikiran yang bercita-cita tinggi, ia akan datang ke sini atau meniru kita. Jika ia memiliki kerangka pemikiran yang murung, ia akan meminta tanggung jawab kita. Jika ia adalah negara yang bermusuhan, atau semacamnya, ia akan mencoba membunuh kita … Para pecundang di dunia ini membenci kita karena kita kuat, kaya dan baik (atau sekurang-kurangnya lebih baik dari mereka). Bila mereka yang beraksi dalam kebencian itu telah dibalas, tujuh kali lipat, kita akan membangun kembali Menara World Trade Centre, ditambah satu lantai, hanya untuk mengulangnya kembali’.
5. Anggapan keliru tentang irinya dunia kepada AS adalah sesuatu yang digembar-gemborkan media dan politisi AS secara terus-menerus. Sejarawan militer, Victor Davis Hanson menulis dalam City Journal (25 Februari 2002), ‘mereka membenci kita karena kultur mereka terbelakang dan korup’ dan karena ‘mereka iri dengan kekuatan dan prestise kita’. Pemeo tentang ‘dunia cemburu pada kita’ ini jelas sekali hanya berlaku untuk tingkat domestik. Jenis propaganda seperti ini membantu terciptanya iklim kepuasan yang statis. Lagipula, tidak ada satu orangpun di luar orang AS yang cukup bodoh untuk mempercayai hal itu.
6. Setelah peristiwa 11 September 2001, hanya ada sedikit tulisan yang berbeda melawan arus para pejabat Amerika. Siapapun yang tidak mengekspresikan rasa hormat secara utuh terhadap sikap mereka, ia akan menjadi orang yang terancam. The Guardian (17 Januari 2002) menyimpulkannya dengan tepat, ‘Dalam hari-hari berkabung di New York dan Washington, tampaknya, siapapun yang pernah bersikap kritis secara terangan-terangan kepada Amerika tiba-tiba mendapati diri mereka dituduh terlibat dengan Osama bin Laden –atau lebih buruk lagi. Di kalangan pers Inggris, mereka digambarkan sebagai ‘pecundang dan tidak patriotis’, ‘nihilis dan masokistis’, dan ‘Stalinis
dan fasis’; sebagai ‘gerombolan Baader Meinhof’, ‘tangan kanan Osama’, dan ‘pembantu para diktator’; sebagai ‘si pincang’, ‘mudah goyah’, ‘tidak punya hati dan tolol’; dan ‘cacing yang termakan propaganda Soviet’; sebagai yang penuh dengan ‘omong kosong’, ‘pengkhayal’ dan ‘dekadensi intelektual’; sebagai kumpulan ‘idiot-idiot berguna’, ‘zombi yang buta’; dan ‘manusia yang membenci manusia’.’
7. Kembali ke gaya pembedaan media AS, ada ribuan contoh yang bisa dikutip untuk menggambarkan bagaimana AS menyamarkan dirinya sebagai kekuatan demi kebaikan di dunia padahal ia sebenarnya adalah kekuatan jahat yang mendatangkan kematian dan kehancuran. Ada satu contoh khusus dari omong kosong jingoistis yang benar-benar menyuarakan tabiat pemerintah, rakyat dan media AS. Rich Lowry menulis artikel di situs National Review Online —‘situs utama kaum konservatif Amerika’— dengan judul ‘Lots of sentiment for nuking Mecca’. Di dalamnya ia menulis: ‘Ini hal yang berat, saya tidak tahu betul apa yang harus saya pikirkan. Mekah terlihat ekstrim, tentu saja, tetapi kemudian beberapa orang akan mati dan akan menjadi suatu pertanda. Agama sebelumnya telah mengalami kemerosotan yang merupakan bencana besar … Dan, sebagai masalah umum, sekaranglah waktunya untuk serius, bukan setelah jatuh korban orang Amerika yang jumlahnya ribuan lebih—termasuk memikirkan apa yang akan kita lakukan untuk membalas dendam, jadi mungkin sentimen memiliki efek yang kecil terhadap pencegahan’ [R. Lowry, ‘Lots of
sentiment for nuking Mecca’, National Review Online,
www.nationalreview.com/thecorner].
8. Apakah itu sebuah ancaman? Apakah itu sebuah janji? Ataukah hanya mulut besar belaka? Apapun itu, kita harus diam sesaat dan merenungkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan pembahasan kita tentang senjata pemusnah massal. Harus diingat bahwa AS memiliki senjata itu, dan suara sayap kanan AS telah terdengar. Mulut besar atau bukan, bahasa emotif seperti itu seharusnya menjadi seruan kebangkitan bagi penduduk dunia ini, Muslim dan non-Muslim. Barangkali itu bukan sekadar pandangan orang jalanan. Rata-rata orang Amerika lebih tertarik pada olahraga serta film dan tidak berminat membaca
halaman situs yang berisi bualan sayap kanan. Ketika Hollywood mengeluarkan film berjudul Rules of Engagement, banyak kelompok Arab-Amerika mengutuknya. Salah satu kelompok mengomentarinya sebagai ‘mungkin inilah film rasis anti-Arab paling keji yang pernah dibuat oleh studio besar Hollywood’. Dalam ulasan yang muncul dalam film.com, Peter Brunette mengatakan, ‘para penonton yang bersama saya menonton film ini terlihat gembira ketika marinir membantai warga sipil’ [‘Down Right Offensive’,
film.com]. Robert Bowman, seorang veteran Vietnam dan sekarang menjabat
uskup United Catholic Churc di Melbourne Beach, Florida mengatakan, ‘Kita tidak dibenci karena mempraktekkan demokrasi, menjunjung kebebasan, atau menegakkan hak-hak asasi manusia. Kita dibenci karena pemerintah kita menyangkal hal ini pada masyarakat negara–negara dunia ketiga yang sumber-sumber alamnya diincar perusahaan-perusahaan multinasional kita. Kebencian yang kita taburkan telah kembali membayangi kita dalam bentuk terorisme dan di masa yang akan datang, akan menjadi terorisme nuklir’ [The
National Catholic Reporter, 2 Oktober 1998].
‘Kita membutuhkan musuh bersama untuk mempersatukan kita’ –Condoleeza Rice, Maret 2000
9. AS membutuhkan cara untuk menangani permasalahan internal yang begitu banyak. Ternyata cara yang dipilih untuk menyelesaikan setumpuk permasalahan itu bukanlah dengan menghadapinya, melainkan dengan mengalihkan perhatian dari masalah tersebut. Hal itu terlihat pada kasus-kasus seperti kematian bayi, usia pengharapan hidup pria kulit hitam dan kondisi pemukiman di wilayah tertentu masyarakat AS. Tiga puluh enam juta penduduk AS mengalami kekurangan pangan dan jumlah itu kian bertambah. Hampir setengah dari mereka harus antri di dapur umum memiliki satu atau lebih anggota keluarga yang bekerja. Begitu miskinnya mereka sampai makanan pun tak terbeli. Golongan kaya (the have’s) tidak mengakui golongan miskin (the have-not’s) dengan mengatakan, ‘Why don’t you get a job’. Hanya sedikit yang
menyadari, bahwa hanya kurang dari 1,1% orang-orang yang dihapus dari daftar nama sejahtera, menurut reformasi kesejahteraan tahun 1996, yang mampu mendapatkan pekerjaan dengan upah yang mencukupi biaya hidup mereka. Dengan upah minimum US$ 5,15/jam mereka tidak bisa memenuhi biaya sewa rumah dan menghidupi keluarga yang tinggal di kota utama manapun di AS, walaupun bekerja sampai 50 jam seminggu. Belum termasuk masalah sandang dan kebutuhan yang lain. Ini baru masalah kemiskinan. Masalah lain seperti kriminal, ketergantungan obat dan alkohol, hancurnya tatanan keluarga serta semua masalah sosial lain semakin menjauhkan masyarakat AS dari sistem Thomas Jefferson yang berdasarkan pursuit of happiness (upaya mengejar kebahagiaan).
10. Instrumen utama yang digunakan untuk menyembunyikan permasalahan AS adalah media massa. Memang terkesan klise, tetapi efektivitas propaganda merupakan sesuatu yang tidak bisa dibantah. Pada masa perang, seperti Perang melawan Teror, realitas slogan ini menjadi sangat nyata. Seperti yang dikatakan Jenderal Douglas Mac Arthur, ‘Seseorang tidak bisa berperang dalam kondisi sekarang ini tanpa dukungan opini publik dan opini itu terbentuk dengan hebat melalui pers dan bentuk-bentuk propaganda yang lain’. Selain sentimen yang meluas ke seluruh AS ini, masih banyak efek-efek lain industri media terhadap negara. Efek sampingnya seperti ketamakan dan konsumerisme massal adalah masalah-masalah yang menimbulkan penindasan publik oleh korporasi AS dengan restu sepenuh hati dari pemerintah.
11. Kita perlu mengulas secara singkat tentang industri media untuk menggambarkan bagaimana industri ini mengabdi pada dirinya sendiri dan pada pemerintah pusat yang korup. Pada tahun 1983, kepemilikan media terkonsentrasi di tangan 50 konglomerat trans-nasional [Ben Bagdikian: The
Media Monopoly]. Sekarang berkurang menjadi 9 perusahaan yang
mendominasi media AS dan internasional. Mereka adalah AOL-Time-Warner, Disney, Bertelsmann, Viacom, News Corporation, TCI, General Electric (pemilik NBC), Sony (pemilik Columbia dan Tri Star Pictures dan perusahaan rekaman besar lain), dan Seagram (pemilik Universal, perusahaan film dan
musik). Jadi, satu industri-super global sekarang menyediakan segala sesuatu yang dapat dilihat dan didengar oleh orang-orang Amerika melalui layar kaca, gelombang udara, dalam bentuk media cetak dan melalui internet. Perusahaan-perusahaan itu berfungsi sebagai sebuah lobi politik yang kuat di tingkat nasional, regional, maupun global. Di Washington, mereka menghabiskan sekira US$ 125 juta per tahun untuk upaya lobi melawan pembatasan kepemilikan. Mereka tidak hanya memiliki pengaruh yang besar dalam membuat rancangan hukum dan peraturan nasional, melainkan juga memegang peran penting dalam membentuk dan mengarahkan hukum dan peraturan internasional. Pada tahun 2000, misalnya, raksasa media melobi untuk menginisiasi perdagangan dengan Cina, dan mengabaikan mereka yang mengangkat keprihatinan terhadap masalah kebebasan berbicara dan kebebasan pers (di Cina). Mereka juga menggunakan AS untuk membuka pasar India terhadap televisi satelit.
12. Yang diberikan oleh mafia media massa itu kepada AS hanya propaganda semata. Termasuk di dalamnya berita, versi lain dari hiburan yang ditawarkan kartel media. Program-program itu bukan untuk kebaikan manusia. Mereka pun ada harganya, dan harganya tidak hanya berupa uang. ‘Kita perlu mengetahui kebenaran tentang perusahaan-perusahaan seperti itu sedangkan mereka seringkali berkepentingan untuk menutupinya (sebagaimana juga para pengiklan). Selagi dibutuhkan waktu dan biaya yang banyak untuk mengungkap kebenaran, perusahaan induk lebih memilh untuk memotong anggaran jurnalisme yang diperlukan, mereka lebih memilih sesuatu yang bisa mengarahkan obrolan agitasi yang tak berujung (sebelum peristiwa 11 September, ada kasus Monica, kemudian Survivor dan Chandra Levy, sedangkan setelah hari naas itu, kita punya kasus anthraks ditambah langkah heroik Pentagon). Pemirsa yang disukai kartel adalah yang kelas sosialnya paling diminati para pengiklan – dengan demikian media telah mengabaikan kaum pekerja dan orang-orang miskin. Dan ketika pers seharusnya membantu melindungi kita melawan mereka yang akan menyalahgunakan kekuasaan pemerintah, oligopoli media begitu intim dengan Gedung Putih dan Pentagon,
yang tentu tidak mau kesalahan dan kejahatannya diekspos. Para bos besar media menginginkan bantuan dari negara, sedangkan para wartawan tidak berani mengambil resiko mengecewakan sumber berita mereka. Media yang mengabdikan diri pada kepentingan publik akan menyelidiki buruknya prestasi CIA, FBI, FAA, dan CDC, sehingga kinerja keempat lembaga itu bisa ditingkatkan untuk melindungi kita –tetapi tim berita (begitu pun Kongres) belum pernah tergerak untuk meninjaunya. Begitu pula, demi kepentingan publik, media seharusnya melaporkan semua yang dapat mengancam keamanan kita –termasuk golongan kanan yang membidik masalah klinik aborsi dan, tampaknya, melakukan terorisme biologis, tetapi wartawan televisi tidak menaruh minat terhadap hal ini… Media pun seharusnya menyoroti, bukannya membiarkan, serangan pemerintah terhadap kebebasan sipil –penahanan massal, bukti rahasia, peningkatan pengawasan, peniadaan hak klien-pengacara, dorongan untuk memata-matai, ancaman untuk tidak berbeda pendapat, gambar-gambar yang disensor, tulisan-tulisan publik yang disita, kunjungan tak terduga dari Secret Service dan sebagainya. Dan media seharusnya tidak membeo terhadap apa yang dikatakan Pentagon tentang perang sekarang ini, karena laporan yang diperhalus telah membuat kita terlena dan melindungi kita dari kebodohan fatal tentang apa yang sesungguhnya orang, dari negara lain, pikirkan tentang kita –dan mengapa. Dan masih banyak lagi –tentang eksploitasi tragedi yang menghebohkan, terutama oleh kubu Republik; tentang hubungan keluarga Osama bin Laden dan Bush; tentang kegilaan yang sedang berlangsung di Florida –media seharusnya memberitakan itu kepada masyarakat, jika mereka… peduli terhadap kepentingan publik’ [Mark C. Miller., ‘The Nation’., 7 Januari
2001].
Paradigma Demokrasi
13. Pemilihan umum terakhir di Irak menjadi bahan cemoohan pers Barat dan dunia internasional. Rezim Ba’ath memang konyol dan layak mendapatkan kecaman apapun yang diarahkan terhadap tipu daya murahan yang mereka lakukan.
Akan tetapi, tipu daya murahan bukan monopoli Saddam semata. Salah satu masalah penting yang masih menjadi misteri bagi orang Amerika adalah proses demokrasi itu sendiri. Sangat sedikit orang di seluruh AS yang memahami sistem Electoral College. Demikian halnya ketika sistem itu berjalan lancar, tak ada yang mempertanyakannya dan ketika tidak berjalan lancar, tak satu orang pun yang peduli. Pemilihan presiden tahun 2000 menggambarkan dengan tepat betapa tidak demokratisnya sistem Amerika. Terlebih lagi pemilihan umum tahun 2000 itu menunjukkan bagaimana orang Amerika ditipu serta bagaimana raksasa media dan pemerintah memandang rendah masyarakat awam.
14. Di dunia ini terdapat berbagai bentuk demokrasi, yang setiap bentuk diimplementasikan dengan coraknya masing-masing. Dalam sistem pemilihan presiden AS, seorang kandidat yang mendapatkan jumlah suara pemilih individual terbanyak di seluruh daerah pemilihan belum tentu menjadi presiden. Karena suara individu tidak langsung untuk memilih presiden melainkan untuk menentukan Electoral College yang diatur secara proporsional sesuai negara bagian masing-masing. Jumlah Elector (orang yang tergabung dalam Electoral College) untuk setiap negara bagian diproporsionalkan dengan jumlah penduduk negara bagian bersangkutan. Tiap-tiap negara bagian memiliki pengaturan yang berbeda-beda dalam hal menentukan para Elector mereka. Di beberapa negara bagian para kandidat mendapati jumlah Elector sesuai jumlah suara yang mereka peroleh, sedangkan di negara bagian lain, pemenang mengambil seluruhnya. Maka untuk terpilih menjadi presiden, seorang kandidat harus memiliki dukungan di beberapa negara bagian. Meraih mayoritas suara popular vote di daerah tertentu, atau bahkan di beberapa negara bagian, bisa jadi tidak berpengaruh terhadap hasil pemilu secara keseluruhan. Manakala terjadi masalah, yang memilih presiden adalah perwakilan pemilih, yakni para politisi profesional di Kongres. Pada tahun 2000, keputusan Mahkamah Agung mengakhiri prosedur yang begitu rumit dan menetapkan George W. Bush sebagai pemenang pemilu. Pada musim panas tahun 1999, Katherine Harris, Ketua Bersama kampanye pemilihan presiden George W. Bush dan sekretaris negara bagian Florida untuk pemilihan umum, membayar
US$ 4 juta kepada Database Technologies untuk memeriksa daftar pemilih di Florida dan menghapus setiap orang yang ‘dicurigai’ sebagai mantan narapidana. Hal itu dilakukan dengan persetujuan Gubernur Florida, Jeb Bush, yang notabene adalah saudara dari George W. Bush. Hukum Florida menyatakan bahwa mantan narapidana tidak punya hak pilih –sehingga 31% dari semua penduduk pria berkulit hitam di Florida dilarang mengikuti pemilu karena mereka memiliki catatan kriminal. Rupanya, kaum kulit hitam Florida adalah golongan demokrat. Ini terlihat ketika Al Gore mendapat suara lebih dari 90% dari mereka pada tanggal 7 November 2000. Yaitu 90% dari mereka yang memiliki hak pilih. Ini menunjukkan terjadinya kecurangan massal elektoral di Florida. Tim kampanye Bush tidak hanya menghapus ribuan mantan narapidana kulit hitam dari daftar nama pemilih, melainkan juga menghapus ribuan warga kulit hitam yang sepanjang hidupnya tidak pernah terlibat tindak kriminal –serta ribuan pemilih yang sah yang hanya pernah melakukan tindak pidana ringan.
15. Walhasil, sejumlah 173.000 pemilih yang terdaftar di Florida dihapus secara permanen dari daftar pemilih. Di Miami-Dade, wilayah terbesar Florida, 66% dari pemilih yang dihapus namanya adalah mereka yang berkulit hitam. Di daerah Tampas, 54% dari pemilih yang hak pilihnya ditolak juga berasal dari kulit hitam. Tak perlu dikatakan lagi betapa banyaknya praktek-praktek tipu muslihat yang terjadi di Florida, barangkali terlalu banyak untuk disebutkan. Akan tetapi hasil akhirnya menunjukkan bahwa seseorang yang memenangkan minoritas suara telah terpilih menjadi presiden. Surat kabar New York Times merangkum olok-olok yang terjadi di Florida; sebanyak 344 kertas suara tidak jelas diberikan kepada pemilih, apakah pada saat atau sebelum hari pemilihan, 183 kertas suara diberi stempel pos AS, 96 kertas suara tidak memiliki keterangan saksi yang memadai, 169 kertas suara berasal dari pemilih yang tak terdaftar, dengan amplop yang tidak ditandatangani sebagaimana mestinya, atau berasal dari orang yang tidak meminta kertas suara, 5 kertas suara masuk setelah tanggal batas akhir penyerahan yaitu 17 November, 19 pemilih dari luar negeri memilih dalam 2 kertas suara –dan keduanya dihitung. Semua kertas
suara di atas melanggar hukum Florida, tetapi tetap dihitung. Singkatnya, Amerika tidak memiliki paradigma demokrasi.
Impian Amerika
16. Selain demokrasi, ada aspek lain dari cara hidup orang Amerika yang mereka klaim telah membuat negara-negara lain iri kepada AS. Woodrow Wilson (1919) mengatakan, ‘terkadang orang-orang menyebut saya seorang idealis, memang begitulah adanya selaku orang Amerika. Karena Amerika adalah satu-satunya negara yang idealis.’ Pasca 11 September, AS tidak juga sadar bahwa selama ini mereka tidur sambil berjalan. Akan tetapi, kini AS telah terbangun dari tidur pulas dan mimpinya. Enron, WorldCom dan realitas pertumpahan darah di ibu pertiwinya telah membuat AS menjadi negara yang mencemaskan aspirasinya menjadi rapuh. Mungkin untuk kali pertama sejak Great Depression, para orangtua berbicara secara terbuka tentang anak-anak mereka yang tumbuh di sebuah negeri yang keadaannya lebih buruk daripada negara tempat orangtua mereka dilahirkan.
17. Impian Amerika telah berada jauh di luar jangkauan tujuh juta muslim yang tinggal di antara Los Angeles dan New York. Hampir dua pertiganya