Makam Ke Tiga 3
P
ENDEKAR 212 tidak dapat menyembunyi-kan rasa terkejutnya sementara Gondoru-wo Patah Hati tetap tenang-tenang saja.Yang mengurung tempat itu ternyata adalah orang-orang Kerajaan dan para tokoh silat Istana. Tetapi anehnya dalam rombongan tersebut bergabung pula beberapa tokoh yang tidak dikenal atau belum pernah dilihat oleh Wiro.
Di bawah bayang-bayang gelap pohon besar berdiri Selo Kaliangan, Patih Kerajaan y a n g kudanya dilarikan Wiro. Di sebelah kirinya kelihatan si jubah kelabu berenda kuning Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Dia memandang pada Wiro seperti mau menerkam dan mengunyah murid Sinto Gendeng.
Dendam k e s u m a t n y a t e r h a d a p Pendekar 212 memang tidak terkirakan. Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya ( G o n d o r u w o Patah Hati) ketika terjadi perkelahian antara Wiro dengan Hantu Muka L i c i n , u n t u k m e n y e l a m a t k a n d i r i d a r i s e r a n g a n W i r o , H a n t u M u k a L i c i n t e r p a k s a melompat dan bergelantungan di cabang sebuah pohon. Saat itulah sebuah benda kecil melesat, menyambar putus celana hitam yang dikenakan Hantu Muka Licin. Begitu tali celana putus dan celana itu merosot jatuh ke tanah, lak ampun lagi
Hantu Muka L i c i n t e r s i n g k a p b u g i l t u b u h n y a sebatas pinggang ke bawah! Walau bukan Wiro yang berlaku jahil memutus tali celana Hantu Muka Licin, tapi Hantu Muka Licin menganggap Wirolah yang jadi biang kerok membuatnya malu besar begitu rupa.
Di samping kanan Patih Kerajaan berdiri tokoh silat istana bernama Jalak Kumboro berjuluk Pendekar Keris Kembar. T o k o h s i l a t Istana berikutnya adalah si muka merah dikenal dengan julukan Sanca Merah Bengawan Solo. Lalu di situ tampak pula Tumenggung Cokro Pambudi.
Wiro memandang ke belakang. Di sana berdiri tokoh silat Istana Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Manusia satu ini berdiri sambil senyum-senyum memandang pada Wiro. Dia tersenyum-senyum mungkin masih ingat kejadian bagaimana Hantu Muka Licin berbugil ria menggelantung di atas cabang pohon. Di kiri kanan tokoh bisu ini ada beberapa tokoh silat yang belum pernah dilihat Wiro sebelumnya. Salah satu diantaranya adalah seorang kakek berpakaian serba hitam, berpipi sangat cekung. Bibirnya tak bisa dirapatkan karena giginya tonggos menjorok keluar. Di tangan kanan k a k e k i n i m e m e g a n g s e b i l a h t o m b a k y a n g ujungnya digelantungi dua ekor ular hitam bertotol kuning! Jelas dua ekor binatang itu sangat berbisa.
Di kalangan para t o k o h silat Istana kakek ini dikenal dengan julukan Setan Bertongkat Ular.
Sebenarnya dia sendiri bukan tokoh silat Istana.
K a l a u d i a m u n c u l d i s i t u b e r a r t i a d a y a n g mengundang atau meminta bantuannya.
D i b e l a k a n g p a r a t o k o h s i l a t I s t a n a i t u , m e n g u r u n g dalam b e n t u k l i n g k a r a n p u l u h a n perajurit.
" H e b a t , m e r e k a b e r h a s i l m e n g e j a r d a n memergoki diriku dalam waktu sangat cepat..."
kata Wiro dalam hati.
Di jurusan lain tegak satu sosok tinggi besar berjubah putih menjeia tanah. Di atas kepalanya ada sebuah t u d u n g t i n g g i berlapis kain hitam hingga kepala dan sebagian wajahnya tertutup tidak terlihat, tidak bisa dikenali. Sambil menduga-duga siapa adanya o r a n g ini Wiro m e l i r i k ke samping kiri. Darahnya tersirap. Yang tegak disitu ternyata adalah Luhjahilio, t o k o h jahat Negeri Latanahsilam. Rambutnya yang hitam riap-riapan m e n u t u p i s e b a g i a n w a j a h n y a y a n g h a n c u r menyeramkan. Potongan tangan kanannya masih menempel di atas keningnya.
"Jahanam satu ini ternyata ikut terpesat ke Tanah J a w a . Dia m u n c u l s e n d i r i a n , d i m a n a gendaknya bernama L a j a h i l i o . " Wiro sempat-s e m p a t n y a berkata dalam h a t i . W i r o m e l i r i k kembali pada si t i n g g i besar bertudung t i n g g i dengan lapisan kain hitam. "Aku rasa-rasa bisa menerka bangsat satu ini. Jangan-jangan...."
Masih ada satu orang lagi yang tidak dikenal Wiro. Orang ini berdiri di sisi kanan Luhjahilio. Dia a d a l a h s e o r a n g k a k e k b e r w a j a h b e r s i h ,
mengenakan pakaian ringkas serba b i r u . Wiro tidak mengenal orang ini. Dia menganggap kakek berpakaian serba biru ini adalah salah satu tokoh silat kaki tangan Istana. Sebaliknya dengan si nenek muka setan Gondoruwo Patah Hati. Kalau sebelumnya dia tenang-tenang saja tapi darahnya jadi tersirap ketika melihat kakek berpakaian biru itu. Orang ini bukan lain adalah Rana Suwarte, lelaki yang dimasa mudanya menyukai dirinya.
Bahkan belum lama ini muncul bersama ayah angkatnya Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sang Kiai meminta agar si nenek mau menikah dengan kakek bernama Rana Suwarte itu,
"Heran, mengapa dia bisa muncul bersama-sama orang Kerajaan?" pikir Gondoruwo Patah Hati. Si nenek tidak mengetahui, sejak niat baiknya ditolak, Rana Suwarte telah menanam kebencian teramat besar terhadap Gondoruwo Patah Hati. Dia s u d a h punya niat jahat. Kalau dia t i d a k bisa mendapatkan Ning Intan Lestari alias Gondoruwo Patah Hati, maka orang lain yang dicintai Ning Intan Lestari akan dicelakainya hingga tidak dapat pula memiliki si nenek. (Baca Episode sebelumnya b e r j u d u l " G o n d o r u w o Patah H a t i " ) S e p e r t i diketahui, orang yang diincar dan hendak dicelakai Rana Suwarte adalah Naga Kuning. Ketika dia m e n d e n g a r kabar p a s u k a n Kerajaan h e n d a k menangkap Pendekar 212 yang d i k e t a h u i n y a adalah sahabat dekat Naga Kuning, maka untuk menyirap kabar dimana beradanya Naga Kuning
dia bergabung dengan pasukan Kerajaan.
B a g a i m a n a p u n s i n e n e k t e r k e j u t m e l i h a t munculnya Rana Suwarte di tempat itu namun dia segera dapat m e n g u a s a i d i r i . B e r d i r i s a l i n g m e m u n g g u n g dengan Pendekar 212 si nenek berbisik.
"Aku tidak ada permusuhan dengan orang-or-ang i n i . Lebih baik aku orang-or-angkat kaki dari s i n i . Apakah kau sanggup menghadapi mereka seorang diri?"
"Nek, aku tak mau melibatkan dirimu dalam urusanku. Orang-orang Kerajaan ini rupanya keras kepala. Mereka pasti datang dengan segudang fitnah tuduhan. Apalagi sebeiumnya aku telah membunuh dua orang pentolan mereka. Momok Dempet Tunggul Gono dan Iblis Batu Hitam. Kalau kau mau pergi cepatlah berlalu. Aku ucapkan selamat jalan padamu. Jika umurku panjang aku akan mencarimu untuk mendengar kelanjutan kisahmu yang tadi terputus. Kalau umurku pendek, harap kau mau m e n u n g g u d i r i k u di e m p e r a n neraka. Terus terang aku belum tentu bakalan masuk sorga! Ha... ha... ha!"
Si nenek Gondoruwo Patah Hati ikut tertawa mengekeh mendengar ucapan Pendekar 212 itu.
Lalu dia berkata. "Wiro, tadi aku hanya bergurau.
Kau jangan khawatir. Waiau kita baru saja bertemu tapi kita telah m e n j a l i n persahabatan. Ketika seorang sahabat dalam kesulitan dan bahaya besar, m a s a k a n a k u t i d a k tahu d i r i
m e n i n g g a l k a n m u b e g i t u saja. A k u akan tetap bersamamu di sini."
"Terima kasih Nek. Wajahmu memang seperti setan. Tapi seperti yang aku bilang hatimu putih bersih, tu!us dan lebih baik dari seorang bidadari!
Walau cuma bidadari kesasar!"
" S i a l a n k a u ! " S i n e n e k m e m a k i t a p i dia keluarkan suara tawa panjang mengikik. "Anak sableng, kau dengar baik-baik. Dalam menghadap orang-orang ini, kalau mau sama-sama selamat kau harus ikuti apa yang aku bilang."
"Cepat bilang Nek. Patih Kerajaan kulihat sudah memberi isyarat pada beberapa t o k o h silat di dekatnya. Agaknya mereka segera akan bergerak,"
kata Wiro pula.
"Keluarkan kapak dan batu saktimu! Begitu mereka menggebrak hantam dua kali dengan lidah api. Arahkan serangan pertama pada kakek yang memegang tombak ular. Saat ini dia yang paling berbahaya. Serangan kedua terserah kau mau melabrak siapa saja tapi usahakan lidah apimu melewati atas bahu kananku!"
"Aku akan lakukan Nek," kata Wiro walau dalam hati dia bertanya mengapa si nenek meminta dia m e l a k u k a n hal y a n g t e r a k h i r d i u c a p k a n n y a . Dengan cepat Wiro mengeluarkan Kapak Maut Naga Geni 212 dan batu hitam.
"Satu lagi, dengar apa yang aku bilang. Kita tidak perlu berlaku bodoh menghadapi orang-or-ang gila ini sampai hidup mati di tempat ini. Kita
yang hidup, mereka yang mati! Begitu aku melihat kesempatan aku akan membawamu keluar dari t e m p a t celaka i n i . Tapi k a u h a r u s m e m b e r i pelajaran pada salah satu dari mereka. Siapa yang akan kau pilih?"
"Patih Kerajaan. Selo Kaliangan!" jawab Wiro.
"Tepat!" kata si nenek. "Apa yang hendak kau lakukan terhadapnya?"
"Akan kubuat dia malu seperti kejadian dengan Hantu Muka Licin. Akan kutanggalkan celananya!"
jawab Wiro.
Si nenek tersenyum.
"Boleh juga! Tapi pekerjaan itu biar aku yang melakukan. Kau lihat saja apa yang akan aku perbuat. Hik... hik.. hik!" Si nenek tertawa cekikikan seolah ada yang sangat lucu bakal terjadi.
Sebenarnya sejak tadi Patih Selo Kaliangan dan para tokoh silat Istana merasa sangat jengkel, merasa dianggap remeh. Wiro dan si nenek mereka lihat saling bisik lalu tertawa-tawa. Seolah-olah keduanya tidak takutkan bahaya dan menganggap mereka tidak ada di tempat itu.
Patih Selo K a l i a n g a n m e n g a n g k a t t a n g a n kanan. Para tokoh silat di kedua sisinya segera b e r s i b a k , m e m b e r i j a l a n s a m b i l s e k a l i g u s memperciut lingkar kurungan.
"Pendekar 212!" Sang Patih berseru dengan suara besar parau membahana. "Sekali ini kami tidak akan memintamu menyerahkan diri hidup-h i d u p . K e r a j a a n t e l a hidup-h m e m u t u s k a n u n t u k
menghabisimu dimana saja kami menemuimu!
Namun sebelum riwayatmu kami tamatkan, kami melihat ada seorang tokoh bersamamu. Kalau aku tidak salah menduga, orang disampingmu adalah nenek berjuluk Gondoruwo Patah Hati. Benar?!"
"Tanya saja sendiri langsung pada orangnya!
Mengapa m a l u - m a l u k u c i n g . Dia kan b u k a n s e o r a n g g a d i s c a n t i k ! Mengapa b e r t a n y a padaku?!" Wiro menyahuti setengah mengejek.
"Hik... hik... hik!" Gondoruwo Patah Hati tertawa cekikikan mendengar ucapan Wiro barusan.
Merah padam muka Patih Kerajaan.
" G o n d o r u w o Patah H a t i , kami m a s i h mau menghormati dirimu. Harap kau segera tinggalkan tempat i n i ! "
" A k u m e m i l i h t e t a p berada d i t e m p a t i n i . Agaknya di sini akan banjir darah. Ini memang yang aku tunggu. Gondoruwo sudah lama tidak minum darah segar! Hik... hik... hik!"
"Kau rupanya sengaja memilih mati! Jangan menyesal kalau nasibmu lebih buruk dari pemuda i t u ! " kata Patih Kerajaan.
" I n t a n ! " t i b a - t i b a Rana S u w a r t e b e r s e r u .
"Jangan jadi orang t o l o i ! Lekas tinggalkan tempat i n i ! "
Si nenek menyeringai, memandang pada kakek bermuka jernih itu lalu menjawab.
"Rana Suwarte!" si nenek berucap.
Wiro kaget. Tidak mengira kalau kakek yang ditegur itu adalah Rana Suwarte yang sebelumnya
ditanyakan si nenek. Dalam hati Wiro menduga, bukan mustahil memang kakek satu ini adalah kekasih di masa muda Gondoruwo Patah Hati.
Sementara itu dengan tenang si nenek lanjutkan ucapannya.
"Aku tidak tahu sejak kapan kau jadi kaki tangan Kerajaan. Kau akan lihat! Siapa yang toloi antara kami berdua dengan kalian semua!" Habis berkata b e g i t u si nenek t u s u k k a n s i k u t kanannya ke punggung Wiro. Inilah tanda yang ditunggu mu-rid Sinto Gendeng.
Pendekar 212 serta merta berbalik. Dua tangan yang memegang batu dan kapak bergerak cepat.
Begitu dua benda sakti itu beradu keras, lidah api menyembur dahsyat, berkiblat ke arah Setan Bertongkat Ular. Tidak mengira akan dijadikan korban serangan mendadak begitu rupa kejut kakek berpipi cekung ini bukan alang kepalang.
Tapi sebagai seorang tokoh silat luas pengalaman dia cepat menguasai diri.
" W u s s s ! " L i d a h api m e n y a m b a r d i bawah k a k i n y a , n y a r i s m e n g h a n g u s k a n u j u n g k a k i celananya. Sambil melompat ke udara si kakek bergigi tonggos ini berteriak marah. Dia tusukkan tongkatnya ke arah Wiro. Dua ekor ular hitam bertotol kuning yang sejak tadi meiingkar di ujung tombak keluarkan suara mendesis lalu laksana anak panah melesat ke arah Pendekar 212.
Pada saat itu pula dibawah pimpinan Patih Selo K a l i a n g a n , para t o k o h s i l a t Istana s e g e r a
menggebrak menyerbu ke arah dua orang musuh di tengah kalangan pertempuran. Kebanyakan dari mereka mengandalkan tangan k o s o n g . Hanya Pendekar Keris Kembar Jalak K u m b o r o yang menghunus dua bilah kerisnya. Sepasang senjata ini memancarkan sinar hitam angker pertanda mengandung kekuatan hebat serta racun jahat.
"Serangan k e d u a ! " G o n d o r u w o Patah Hati berteriak.
Wiro tahu apa yang harus dilakukannya. Untuk ke dua kali batu hitam dipukulkan ke mata kapak sakti. Seperti yang diminta si nenek, Wiro sengaja mengarahkan d e m i k i a n rupa hingga lidah api menyambar dua jengkal di atas bahu Gondoruwo Patah Hati. Wiro yang tidak tahu apa maksud si nenek meminta dia berbuat begitu jadi melengak besar ketika melihat apa yang kemudian terjadi.
Pada saat lidah api tepat di atas bahunya, tanpa menoleh Gondoruwo Patah Hati angkat tangan kanannya. Saat itulah Wiro melihat bagaimana lima jari tangan kanan si nenek sampai ke kuku berubah menjadi sangat merah seperti bara api. Seolah m e n y a m b u t s e b u a h b o l a y a n g d i l e m p a r k a n Gondoruwo Patah Hati menyambar ujung lidah api.
Dia kini seolah memegang pangkal sebuah cemeti.
D i d a h u l u i p e k i k a n k e r a s s i n e n e k m e m u t a r tangannya. Lidah api yang keluar dari gesekan batu dan kapak, melesat ke udara, mengeluarkan ledakan-ledakan dahsyat, berputar ganas dalam bentuk lingkaran lalu menyambar ke arah
orang-orang yang datang menyerang.
Para penyerang mengeluarkan seruan kaget t e r t a h a n . P e n d e k a r K e r i s K e m b a r t e r p a k s a lepaskan salah satu kerisnya yang dihantam api dan berubah menjadi besi bangkok mengepuikan asap. Ketika diperhatikan tangannya t e r n y a t a merah melepuh. Patih Kerajaan melompat mundur selamatkan diri. Setan Bertongkat Ular yang pal-ing kaget dan kecut diantara semua penyerang.
Ketika dua ekor ularnya melesat ke arah Wiro, ular pertama terpental dihantam lidah api yang d a t a n g berputar. Si kakek b e r m u l u t t o n g g o s menggerung ketika melihat bagaimana ularnya itu kemudian jatuh menggeletak di tanah, berubah menjadi daging dan tulang kering hangus! Belum habis kejut amarahnya, di atas sana si nenek melayang menyambar ular kedua dengan tangan kiri. Lalu dengan tiga kali berjungkir balik di udara, ketika sampai di tanah tahu-tahu dia sudah berada di depan sosok Patih Selo Kaiiangan. Dengan tangan kanannya si nenek menarik p i n g g a n g celana merah sang putih sementara tangan kirinya k e m u d i a n m e m a s u k k a n ular hitam ke d a l a m celana. Karuan saja Patih Selo Kaiiangan menjerit-jerit dan lari menghambur pontang panting tidak karuan. Carut marut ikut berhamburan dalam jeritannya.
"Celaka!" ujar Setan Bertongkat Ular. Melihat apa yang terjadi dengan Patih Kerajaan kakek tonggos ini segera berteriak. "Selamatkan Patih!
Ular itu berbisa mematikan! Selamatkan Patih!"
Para tokoh silat Istana yang masih belum hilang kaget masing-masing k i n i jadi tersentak kaget mendengar teriakan Setan Bertongkat Ular dan m e n y a k s i k a n apa y a n g t e r j a d i dengan Patih Kerajaan.
Saat itu mereka melihat, dalam takutnya Patih Kerajaan tidak sadar lagi apa yang dilakukannya.
Sang p a t i h m e m b u k a c e l a n a n y a . Lalu dalam keadaan t e l a n j a n g di sebelah bawah dia lari melompat-Iompat tak perduli lagi arah yang dituju sementara ular hitam bertotol kuning ternyata m a s i h m e l i n g k a r d i p i n g g a n g n y a . Ini y a n g membuat sang patih terus lari sambil berteriak-t e r i a k . Di sebelah b e l a k a n g para berteriak-t o k o h s i l a berteriak-t mengejar, berusaha menolong. Setan Bertongkat Ular paling depan. Dia sangat khawatir. Kalau sampai Patih Kerajaan mati dipatuk ular berbisa i t u , s e d i k i t b a n y a k d i a a k a n d i m i n t a k a n pertanggungan jawab! Para tokoh silat itu tidak lagi memperdulikan Wiro dan si nenek muka setan s a k i n g t a k u t n y a a k a n m a l a p e l a k a b e s a r mengancam sang Patih Kerajaan,
G o n d o r u w o Patah Hati tertawa c e k i k i k a n . H a t i n y a puas m e n y a k s i k a n s e m u a i t u . Dia memandang pada Wiro. "Anak muda malam ini aku gembira sekali, Cuma sayang w a k t u n y a singkat. Lain hari aku akan mencarimu lagi untuk meneruskan berbincang-bincang!"
Nek, kau mau kemana! Tunggu d u l u ! " Wiro
memanggil.
Si nenek sudah berbalik, berkelebat ke kanan.
Saat i t u j u g a d e l a p a n o r a n g p r a j u r i t s e g e r a menghadang.
"Kalian mencari mati!" teriak Gondoruwo Patah Hati. Tangan dan k a k i n y a bergerak. Delapan prajurit terpekik, mental dan berkaparan di tanah.
Wiro masih berusaha mengejar. Tapi si nenek sudah lenyap ditelan kegelapan.
Wiro menggaruk kepala. "Dari pada urusan jadi panjang lebih baik aku juga minggat saja dari s i n i ! "
L a l u m u r i d S i n t o G e n d e n g b e r k e l e b a t p u l a m e n i n g g a l k a n tempat i t u . Di satu tempat dia hentikan larinya, tertegun sejenak sambil usap-usap dagunya. Wiro ingat sesuatu dan bicara sendiri dalam hati.
"Ketika nenek itu berbalik hendak berkelebat pergi, jubahnya sebelah bawah tersingkap sedikit.
Aku sempat memperhatikan. Sepasang betis itu.
Bagus dan putih. Nenek seperti dia mana mungkin punya betis seperti itu. Ah...." Wiro garuk-garuk kepala. "Dia m e n a n y a k a n Naga K u n i n g . Apa hubungan si muka setan ini dengan bocah konyol sialan itu?"
Beberapa hari kemudian tersiar kabar bahwa Patih Kerajaan berada dalam keadaan sakit keras.
Kalaupun dia bisa disembuhkan maka dia akan cacat seumur hidup. Cacatnya ini ialah berupa derita lemah syahwat seumur hidup akibat patukan ular berbisa yang bersarang sejengkal di bawah
pusarnya. Setan Bertongkat Ular yang memiliki ular lenyap entah kemana. Sementara Pendekar 212 Wiro Sableng dan Gondoruwo Patah Hati menjadi orang buronan yang dicari sampai ke pelosok Kerajaan, ditangkap hidup atau mati!
* *