• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III MAXIM ELIT LOKAL DESA WONOSARI

10. Jer Basuki Mawa Beya

Bila ditinjau dari gaya bahasa yang dipakai, maximjer basuki mawa beya menggunakan gaya bahasa metafora. Pengertian gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa yang memakai analogi untuk membandingkan dua hal secara langsung dalam bentuk singkat.72Pada maxim jer basuki mawa beya, pembanding yang dipakai adalahjer basuki ‘untuk selamat’ yang dibandingkan denganmawa beya‘dengan biaya.’

Bila dilihat dari jumlah kata dalam jer basuki mawa beya, jumlah katanya ada 4, yakni jer ‘untuk’, basuki ‘selamat’, mawa ‘dengan’, dan beya ‘biaya.’ Apabila diartikan menurut masing-masing katanya,jer basuki mawa beya berarti ‘untuk selamat harus ada biaya.’ Jadi, untuk mencapai kesejahteraan maka dibutuhkan dana, pengorbanan, dan usaha.Jer basuki mawa beyadisukai oleh staf pemerintahan, sesepuh masyarakat, pengurus kampung dan pamong desa. Mereka memakai maxim ini dalam sarasehan, arisan, rembug desa dan peresmian sarana pemerintahan, sedangkan untuk konteks sosial budaya, mitos butuh pengorbanan dalam jer basuki mawa beya muncul dalam konteks bersih dusun, rasulan, ketoprak, dan wayang.

Untuk pengalaman masyarakat sendiri, realitas kehidupan mereka mengenai mitos butuh pengorbanan terjadi dalam pemerintahan, paguyuban dan ekonomi. Dalam pemerintahan, sebagian warga merasa tidak setuju dengan mitos pengorbanan yang diterapkan. Mitos ini semakin memberatkan mereka. Pemerintah ternyata masih membebani mereka dengan berbagai macam biaya. Seperti yang dituturkan oleh dua orang warga yang sekaligus sebagai pengurus dusun, dimana pemerintah pertama kali memang menuruti kemauan masyarakat untuk tidak membayar apapun ternyata ujung-ujungnya juga bayaran yang diminta.

Lebih lanjut, menurut seorang ketua RW Gadungsari, bapak tersebut mengaku keberatan dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi. Menurutnya, pendidikan gratis artinya benar-benar gratis. Dalam prakteknya, gratisan ini tidak diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarananya. Banyak gedung sekolah yang tidak layak pakai dan jalan ke sekolah yang rusak. Persoalan ini kemudian dibebankan kepada orang tua murid lewat sekolah antara lain dengan pengadaan pungutan-pungutan. Pungutan diadakan dengan alasan kemajuan anak didik. Padahal, pungutan ini membuat orang tua menjadi semakin menderita.73

Pendapat berbeda diutarakan oleh seorang pengurus RT di Dusun Tawarsari, seorang pamong desa Pandansari dan Gadungsari.74 Mereka setuju dengan mitos pengorbanan yang harus dikeluarkan warga. Ini sesuai dengan Peraturan Desa Wonosari sehingga warga sepatutnya melaksanakan kebijaksanaan itu. Berkaitan dengan hal ini, seorang pengurus RT di dusun Tawarsari secara 73) Wawancara dengan Bapak Kasmin (Ketua RW 11 Dusun Gadungsari) pada tanggal 12 Januari 2009.

74) Wawancara dengan Bapak Darto (Ketua RT 1 RW 18 Dusun Tawarsari) pada tanggal 11 Januari 2009, Bapak Amrih (Kepala Dusun Gadungsari) pada tanggal 15 Januari 2009 dan Bapak Suyana (Kepala Dusun Pandansari) pada tanggal 6 Januari 2009.

khusus mengungkapakan pendapatnya mengapa pengorbanan disetujui. Sebagai seorang pengurus RT, bapak tersebut mendukung pengorbanan yang berlaku. Baginya, orang harus berkorban untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sebagai contoh adalah pengurusan KTP. Mahalnya pengurusan KTP sebenarnya bukan persoalan. Pengurusan KTP menjadi mahal karena ada Peraturan Desa yang disetujui BPD yang standarnya sebesar Rp. 12.500,00 pada Kepala Dusun masing-masing. Jadi, bagi pengurus dusun itu, semua urusan mempunyai biayanya sendiri.75

Pendapat lain mengenai pengorbanan juga diberikan oleh seorang pengurus RT dari Dusun Ringinsari dan seorang pengurus RT dari Dusun Tawarsari. Keduanya mengungkapkan bahwa penerapan nilai pengorbanan itu tergantung pada konteksnya. Apabila ada kegiatan yang membutuhkan biaya sebagai prasaratnya, warga harus membayarnya. Sebaliknya, bila kegiatan itu tidak membutuhkan biaya, warga tidak usah mengeluarkan uang untuk membayarnya. Misalnya pengobatan gratis di Puskesmas.76

Selanjutnya, praktik pengorbanan dalam paguyuban masyarakat desa Wonosari. Ada satu orang yang memberikan pendapatnya terhadap praktik pengorbanan. Pengurus RT Dusun Gadungsari menyatakan bahwa pengorbanan itu perlu. Dasarnya adalah semua harus ada sarananya sehingga tanpa sarana kegiatan dalam paguyuban tidak bisa berjalan. Contohnya dana dari setiap RT untuk biaya rasulan. Dana ini wajib diberikan oleh warga masyarakat agar rasulan 75) Wawancara dengan Bapak Darto (Ketua RT 01 RW 18 Dusun Tawarsari) pada tanggal 11 Januari 2009.

76) Wawancara dengan Bapak Suyasno (Ketua RT 02 RW 04 Dusun Ringinsari) pada tanggal 8 Januari 2009 dan Bapak Sutardjo (Ketua RT 06 RW 18 Dusun Tawarsari) pada tanggal 11 Januari 2009.

berjalan lancar. Untuk mengatasi masalah dana ini, maka ada kegiatan tabungan khusus biaya rasulan yang harus dipenuhi oleh setiap warga masyarakat. Uang setorannya pun sama antara warga yang satu dengan warga lainnya. Misalnya uang setoran Rp 5000,00 rupiah maka lima ribu itu yang berlaku bagi semua warga.77

Praktik selanjutnya adalah dalam bidang ekonomi/dagang. Untuk masalah ekonomi, seorang pengurus RT di Madusari dan Jeruksari menuturkan pendapat yang berbeda. Pengurus RT Madusari mengungkapkan bahwa pengorbanan harus diterapkan dalam kegiatan usaha. Ibarat jer basuki mawa bathok bila orang mempunyai usaha namun tidak ada serep modalnya. Oleh karena itu, orang membutuhkan pengorbanan berupa cadangan modal agar usahanya terus berjalan.78

Lain halnya dengan pengurus RT Jeruksari. Pengurus ini mengungkapkan bahwa pengorbanan tidak tepat diterapkan dalam kegiatan ekonomi. Pengorbanan mempersulit usaha orang untuk mendapatkan penghasilan. Dalam kasus ini, pengurus itu mencontohkan sulitnya warga mencari penghasilan dengan usaha ternak mereka. Sebelum adanya kenaikan harga BBM, perekonomian warga cukup baik. Mereka mampu untuk memenuhi keperluan ternak mereka, seperti vaksin dan pakannya. Setelah harga BBM naik, mereka merasa kesulitan untuk memeuhi pakan ternak mereka bahkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan kondisi seperti ini, mereka harus mengeluarkan biaya

77) Informasi diperoleh dari Bapak Mugiyono (Ketua RT 07 RW 12 Dusun Gadungsari) pada tanggal 14 Januari 2009.

78) Informasi dari Bapak Sumargito (Ketua RT 08 RW 03 Dusun Madusari) pada tanggal 18 Januari 2009.

2 kali lipat dibandingkan pengeluaran sebelum kenaikan BBM terjadi. Dari contoh ini, pengurus di atas sebenarnya mau menuturkan bahwa pemerintah seharusnya jangan ngendas-dasi warga dalam mencari makan.79Pemerintah seharusnya juga tidak mengeluarkan aturan baru yang diikuti aturan-aturan lainnya. Bagi warga, berbagai aturan itu hanya menambah penderitaan saja.80

Dalam pemakaiannya, jer basuki mawa beya diucapkan dengan lantang, menggebu-gebu dan penuh semangat sehingga audiens tertarik dengan pembicaraan selanjutnya. Respon terhadap maxim ini sangat baik dan perlu untuk dilestarikan keberadaannya. Respon lainnya adalah baik dan tidaknya tergantung pada kondisi yang ada.

Dengan jer basuki mawa beya, sesungguhnya ada nilai pengorbanan dalam memperjuangkan cita-cita yang diinginkan para elit. Mereka sebenarnya meminta kepada warga masyarakat bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada mereka tidak secara gratis. Semua pemberian itu ada harganya sehingga warga juga harus menggantinya. Seperti dalam pengurusan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Pengurusan kartu ini tidak berikan secara cuma-cuma kepada warga. Kartu ini diberikan kepada warga yang bersangkutan apabila mereka tertib membayar biaya administrasinya. Kalaupun warga ingin mendapatkan kartu itu secepatnya, mereka harus membayar sedikit lebih mahal dari biasanya.

Bagi warga sendiri, kepatuhan dan penolakan mereka terhadap harapan para elit dapat dikelompokkan ke dalam dua sisi, yaitu mereka yang patuh dan mereka yang menolak. Untuk warga yang patuh terhadap harapan elit ini,

79)Ngendas-endasi: mempersulit dan membahayakan.

kepatuhan disebabkan aturan main yang berjalan di wilayah Gunung Kidul khususnya serta Indonesia pada umumnya. Misalnya iuran untuk angkutan sampah Rp. 3000,00 maka warga harus membayar biaya sebesar Rp. 3000,00.

Kepatuhan lainnya disebabkan adanya warga yang berusaha menjaga hubungan baik dengan perangkat desa yang telah terjalin baik. Hal-hal yang dianjurkan oleh pemerintah desa akan mereka laksanakan. Seandainya mereka harus membayar berbagai macam iuran, mereka memenuhinya dengan harapan keinginan mereka dikabulkan oleh perangkat desa itu.

Kemudian, bagi yang menolak, harapan para elit dinilai tidak wajar. Nilai pengorbanan yang mereka inginkan justru menindas warga. Warga berpikir bahwa dengan mengganti biaya, artinya pemerintah Desa tidak memperhatikan penderitaan warganya. Lalu, apakah dengan mengganti biaya tersebut maka kesejahteraan mereka akan meningkat? Bagi warga, yang muncul bukannya kesejahteraan melainkan beban keuangan yang semakin bertambah.

Dokumen terkait