Bab III: Kedudukan Wilayah Negara Menurut Hukum Internasional
B. Batas dan Wilayah Negara Menurut Hukum Internasional
Seperti telah dibahas sebelumnya, menurut Pasal 1 Konvensi Montevideo yang berjudul “Convention on The Right and Duty of The States” tahun 1993 mengatakan bahwa untuk suatu negara dapat dianggap sebagai suatu kesatuan negara, maka negara tersebut harus memenuhi empat unsur atau persyaratan yang telah disebutkan dalam konvensi tersebut. Suatu negara harus memiliki penduduk yang tetap, wilayah yang jelas, pemerintahan yang berdaulat dan kemampuan untuk mengadakan hubungan secara internasional dengan negara-negara lain. Dari persyaratan tersebut dapat dimengerti mengenai salah satu permasalahan penting menyangkut kedaulatan sebuah negara, yaitu mengenai wilayah negara yang dan dimana penegasan batas wilayah negara merupakan hasil serta perwujudan dari kedaulatan sebuah negara. Dalam batas-batas tersebut sebuah negara memiliki hak kedaulatan yang penuh dan eksklusif dalam upaya mewujudkan visi dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh suatu negara. Hal inilah yang menjadikan mengapa suatu perbatasan menjadi sangat penting bagi suatu negara, dikarenakan perbatasan tersebut menentukan kejelasan mengenai wilayah dari suatu negara yang berdaulat secara penuh atas wilayahnya.
Pengertian perbatasan secara umum adalah sebuah garis pemisah antara dua negara yang berdaulat. Menurut Roxing Guo, kata border atau perbatasan mengandung pengertian sebagai pembatasan suatu wilayah politik dan wilayah pergerakan. Sedangkan wilayah perbatasan, mengandung pengertian sebagai suatu area yang memegang peranan penting dalam persaingan politik antara dua negara yang berbeda yang saling berdampingan. Maka dari itu, wilayah perbatasan
sebenarnya tidak hanya terbatas pada dua atau lebih negara yang berbeda, namun dapat pula ditemui dalam suatu negara, seperti kota atau desa yang berada di bawah dua yurisdiksi yang berbeda. Pada dasarnya, wilayah perbatasan merupakan area, baik kota maupun wilayah, yang membatasi antara dua kepentingan yurisdiksi yang saling berbeda.
Perbatasan yang didasari secara politik dapat terbentuk dimana saja, baik dalam negeri manapun dengan negeri lain. Oleh karena itu, wilayah perbatasan dapat digambarkan sebagai suatu faktor pemisahan karena adanya halangan dua sistem kekuasaan politik, sehingga pemerintahan di masing-masing wilayah politik yang berbeda tersebut dapat mengatur dirinya sendiri, seperti terkait dengan ekspor dan impor, apakah yang digunakan instrumen tarif atau non tarif, serta terkait dengan penggunaan visa atau izin imigrasi bagi orang yang ingin memasuki suatu wilayah di perbatasan.
Berdasarkan sejarah, perbatasan sebuah negara atau state’s border, dikenal dengan bersamaan lahirnya suatu negara. Negara dalam pengertian modern sudah mulai dikenal sejak abad ke-18 di Eropa Kontinental. Perbatasan negara merupakan sebuah ruang geografis yang sejak semula merupakan wilayah perebutan kekuasaan antarnegara yang terutama ditandai oleh adanya peperangan antarbangsa yang bertujuan untuk memperluas batas-batas antarnegara. Sebagai bagian dari sejarah dan eksistensi negara, riwayat daerah perbatasan tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelahiran dan berakhirnya sebagai negara.
Suatu perbatasan sering didefinisikan sebagai sebuah imaginary line di atas permukaan bumi, yang memisahkan wilayah suatu negara dari negara lain,
namun menurut pakar perbatasan lainnya yaitu Jones, bahwa suatu perbatasan bukan semata-mata sebuah garis pada suatu tanah perbatasan.
Menurut pendapat ahli geografi politik, pengertian perbatasan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu boundaries dan frontier. Kedua pengertian ini mempunyai arti dan makna yang berbeda meskipun keduanya saling melengkapi dan mempunyai nilai yang strategis bagi kedaulatan wilayah negara. Perbatasan disebut frontier karena posisinya yang terletak di depan atau front, atau dibelakang atau hinterland, dari suatu negara. Oleh karena itu, frontier dapat juga disebut dengan istilah foreland, borderland ataupun march. Sedangkan istilah
boundary digunakan karena fungsinya yang mengikat atau membatasi, bounding or limiting, suatu unit politik, dalam hal ini adalah negara. Semua yang terdapat di
dalamnya terikat menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh serta saling terintegrasi satu dengan yang lain. Boundary paling tepat dipakai apabila suatu negara dipandang sebagai unit spasial yang berdaulat.
Beberapa pendapat para ahli geopolitik tentang boundaries dan frontier antara lain sebagai berikut:
a. Menurut A. E. Moodie:
Dalam bahasa Inggris, perbatasan memiliki dua istilah, yaitu
boundaries dan frontier. Dalam bahasa sehari-hari, kedua istilah tersebut
tidak ada bedanya. Tetapi, dalam perspektif geografi politik, kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan makna. Menurut A. E. Moodie, boundaries diartikan sebagai garis-garis yang mendemarkasikan batas-batas terluar dari wilayah suatu negara. Sementara frontier merupakan zona atau jalur
dengan lebar yang berbeda yang berfungsi sebagai pemisah dua wilayah yang berlainan negaranya.
b. Menurut Hans Weiger pada tahun 1951 dalam bukunya yang berjudul
Principles of Political Geography:
Boundaries dapat dibedakan menjadi boundaries zone dan boundaries line. Boundaries line adalah garis yang mendemarkasikan
batas terluar, sedangkan boundaries zone mempunyai pengertian yang tidak jauh berbeda dengan frontier. Boundaries zone diwujudkan dalam bentuk kenampakan ruang yang terletak antara dua wilayah. Ruang tersebut menjadi pemisah kedua wilayah negara dan merupakan wilayah yang bebas. Boundary line diwujudkan dalam bentuk garis, wooden
barrier, a grassy path between field, jalan setapak rumput yang
memisahkan dua atau lebih lapangan, jalan setapak di tengah hutan, dan lain-lain.
Selanjutnya melengkapi pendapat Weiger dan Moodie, Kristof seorang ahli geografi politik dalam tulisannya yang berjudul The Nature of
Frontiers and Boundaries pada tahun 1982, membedakan boundaries dan frontier sebagai berikut:
Frontier mempunyai orientasi keluar, sedangkan boundaries lebih
berorientasi ke dalam. Frontier merupakan sebuah manifestasi dari kekuatan sentrifugal, sedangkan boundaries merupakan manifestasi kekuatan sentripetal. Perbedaan ini bersumber pada perbedaan orientasi antara frontier dan boundaries. Frontier merupakan suatu faktor integrasi antara negara-negara tersebut di satu pihak, sedangkan boundaries
merupakan suatu faktor pemisah. Boundaries berupa suatu zone transisi antara suasana kehidupan yang berlainan, yang juga mencerminkan kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dari negara yang saling berbatasan. Sedangkan frontier masih memungkinkan terjadinya saling interpenetrasi pengaruh antar dua negara yang berbatasan/bertetangga. c. Sedangkan menurut D. Whittersley:
Boundary adalah batas wilayah negara atau perbatasan dimana
secara demarkasi letak negara dalam rotasi dunia yang telah ditentukan, dan mengikat secara bersama-sama atas rakyatnya di bawah suatu hukum dan pemerintah yang berdaulat. Frontier adalah daerah perbatasan dalam suatu negara yang mempunyai ruang gerak terbatas akan tetapi karena lokasinya berdekatan dengan negara lain, sehingga pengaruh luar dapat masuk ke negara tersebut yang berakibat munculnya masalah pada sektor ekonomi, politik dan sosial budaya setempat yang kemudian berpengaruh pula terhadap kestabilan dan keamanan serta integritas suatu negara. Berdasarkan pendapat para ahli sebagaimana diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perbatasan adalah suatu kawasan yang berbatasan dengan wilayah negara lain sebagaimana sebelumnya telah ditetapkan garis batasnya melalui sebuah kesepakatan/perjanjian antar dua atau lebih negara yang bertetangga, dimana kawasan perbatasan tersebut merupakan tanda berakhirnya kedaulatan suatu negara terhadap wilayah yang dikuasainya.
2. Fungsi Perbatasan
Berdasarkan pengertian perbatasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perbatasan mempunyai beberapa fungsi. Fungsi perbatasan juga mengikuti perkembangan zaman. Pada zaman dahulu fungsi perbatasan umumnya sebagai berikut:
a. Garis pertahanan: Garis pertahanan digunakan untuk mengetahui batas yurisdiksi setiap masing-masing negara. Sehingga negara yang satu dengan negara yang lain tidak mengambil alih atau melanggar yurisdiksi dari suatu wilayah yang bukan merupakan bagian wilayahnya.
b. Batas wilayah kekuasaan negara: Perbatasan sebagai batas wilayah kekuasaan negara agar suatu pemerintahan negara mengetahui sampai dimana kedaulatan wilayahnya dan kewenangannya untuk mengelola wilayahnya.
c. Untuk melindungi industri di dalam wilayah: Hal ini dilakukan agar pemerintah suatu negara dapat mengadakan pajak-pajak tarif tertentu, seperti tarif lintas batas. Hal yang demikian akan mempengaruhi pemasaran bagi hasil-hasil produksi industri tersebut. Jadi perbatasan disini mempunyai fungsi perdagangan.
d. Fungsi legal atau hukum: Perbatasan merupakan batas berlakunya hukum suatu negara. Penduduk yang tinggal di wilayah perbatasan, hendaknya mematuhi hukum-hukum yang berlaku bagi negara dimana mereka tinggal walaupun penduduk tersebut mungkin mempunyai adat istiadat yang sama dengan adat-istiadat penduduk di seberang garis perbatasan negaranya. Akan tetapi dengan timbulnya supranasionalisme yang didasarkan atas
kepentingan ekonomi dan kebudayaan, beberapa negara mau melepaskan sebagian dari kekuasaannya untuk kepentingan bersama mereka.
Sekarang, fungsi perbatasan secara umum bagi masing-masing negara yaitu:
a. Fungsi pertahanan dan keamanan: Fungsi ini sangat terkait dengan pemahaman perbatasan secara geostrategis yang diyakini sebagai penjelmaan kedaulatan politik suatu negara. Makna yang terkait di dalamnya sangat luas, tidak hanya memberikan kepastian hukum atas yurisdiksi wilayah teritorial Indonesia, akan tetapi juga berkaitan dengan aspek-aspek lain seperti kewenangan administrasi pemerintahan nasional dan lokal, kebebasan navigasi, lalu lintas perdagangan, serta eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam. Sebagai wilayah batas antar negara, perbatasan juga merupakan sabuk pengaman atau security belt, yang berada pada lingkaran prioritas pertama dalam strategi pertahanan keamanan Indonesia terhadap segala bentuk potensi ancaman dari luar, baik dalam bentuk idiologi, politik serta sosial budaya dan pertahanan keamanan. b. Fungsi kesejahteraan: Sebagai pintu gerbang negara, wilayah perbatasan
tentu memiliki keuntungan lokasi geografis yang sangat strategis untuk berhubungan dengan negara tetangga. Dalam konteks ini, wilayah perbatasan dipandang dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktifitas ekonomi perdagangan. Sehingga perbatasan dapat dilihat sebagai daerah kerja sama antar negara bersebelahan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat di daerah perbatasan kedua negara. Fungsi ini sangat penting mengingat realitas kondisi sosial ekonomi masyarakat di
wilayah perbatasan darat masih terbelakang , dengan kondisi wilayah yang umumnya terpencil, tingkat pendidikan dan kesehatan rendah dan seringjkali dijumpai penduduk yang tergolong dalam kategori miskin. Apabila fungsi kesejahteraan dapat diwujudkan akan berdampak positif terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat perbatasan. Terciptanya kesejahteraan masyarakat akan berdampak langsung terhadap daya tangkal terhadap berbagai kegiatan illegal maupun provokasi pihak lawan yang dapat membahayakan kedaulatan negara. Dengan kata lain, terlaksananya fungsi kesejahteraan di wilayah perbatasan dapat secara efektif membantu menciptakan suatu kekuatan pertahanan dan keamanan.
c. Fungsi lingkungan: Fungsi ini terkait dengan karakteristik di wilayah perbatasan sebagai pintu gerbang negara yang mempunyai keterkaitan saling mempengaruhi dengan kegiatan di wilayah lainnya yang berbatasan baik dalam lingkup nasional maupun regional.17
Pada tahun 2005, fungsi perbatasan menurut hukum internasional oleh Jean Marc F. Blanchard dalam bukunya yang berjudul, “Linking Border Disputes and War: An Instutional Statist Theory,” perbatasan memiliki 7 fungsi yaitu:
a. Fungsi militer strategis: Dalam konteks ini perbatasan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan militer strategis suatu negara, terutama pembangunan sistem pertahanan laut, darat dan udara untuk menjaga diri dari ancaman eksternal.
b. Fungsi Ekonomis: Perbatasan berfungsi sebagai penetapan wilayah tertentu dimana suatu negara melakukan kontrol terhadap arus modal,
17
perdagangan antarnegara, investasi asing, pergerakan barang antarnegara. Fungsi ekonomis perbatasan juga memberikan patokan bagi suatu negara untuk melakukan eksplorasi sumber-sumber alam secara legal pada wilayah tertentu.
c. Fungsi Konstitutif: Berdasarkan konsep hukum internasional modern suatu negara berdaulat wajib memiliki wilayah perbatasan yang terdefinisikan dengan jelas. Artinya, perbatasan menetapkan posisi konstitutif negara tertentu di dalam komunitas international. Suatu negara memiliki kedaulatan penuh atas wilayah yang merupakan teritorialnya sebagaimana ditetapkan oleh perbatasan yang ada.
d. Fungsi identitas nasional: Sebagai pembawa identitas nasional, perbatasan memiliki fungsi pengikat secara emosional terhadap komunitas yang ada dalam teritori tertentu. Kesamaan pengalaman dan sejarah, secara langsung maupun tidak langsung telah mengikat masyarakat secara emosional untuk mengklaim identitas dan wilayah tertentu.
e. Fungsi persatuan nasional: Melalui pembentukan identitas nasional perbatasan ikut menjaga persatuan nasional. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan nasional, para pemimpin negara biasanya mengombinasikan simbol dan jargon dengan konsep teritori dan perbatasan. Konsep-konsep seperti kekuatan maritim dan kekuatan darat biasanya dipakai untuk mendorong warga agar menjadi persatuan dan kesatuan nasional.
f. Fungsi pembangunan negara bangsa: Perbatasan sangat membantu dalam pembangunan dan pengembangan negara bangsa karena memberikan kekuatan bagi negara untuk menentukan bagaimana sejarah bangsa
dibentuk, menentukan simbol-simbol apa yang dapat diterima secara luas, dan menentukan identitas bersama secara normatif maupun kultural. g. Fungsi pencapaian kepentingan domestik: Perbatasan berfungsi untuk
memberikan batas geografis bagi upaya negara untuk mencapai kepentingan nasional di bidang politik, sosial, ekonomi, pendidikan, pembangunan infrastruktur, konservasi energi dan sebagainya. Perbatasan juga menetapkan sampai sebatas mana negara dapat melakukan segala upayanya untuk mencapai kepentingan nasionalnya.18
3. Jenis-jenis Perbatasan
Berkaitan dengan fungsi-fungsi perbatasan tersebut, maka setiap negara perlu untuk melakukan tindakan yang dapat menjamin keamanan di wilayah perbatasan. Karena kawasan perbatasan identik dengan kebijakan politik yang berbeda-beda pada dua atau lebih wilayah yang saling berbatasan tersebut, sehingga hal ini sangat penting karena kemampuan negara untuk menjaga keamanan perbatasannya dapat menjamin kelangsungan hidup negara tersebut untuk kedepannya.
Berdasarkan pada jenis interaksi, situasi atau keadaan yang terjadi di suatu wilayah perbatasan negara, pada tahun 1994 Oscar J. Martinez mengkategorikan perbatasan menjadi 4 jenis, dimana setiap jenis perbatasan menggambarkan
18
Jean Marc Blanchard, Linking Border Disputes and War: An Institutional-Statist Theory , Geopolitics, Vol. 10, No. 4, Winter 2005. Hal. 688-711.
keadaan yang berbeda-beda dan suatu perbatasan umumnya akan berada dalam salah satu keadaan yang digolongkan oleh Martinez.19
a. Alienated borderland
Yaitu suatu perbatasan yang tidak terjadi aktivitas lintas batas karena penutupan perbatasan, sebagai akibat keadaan buruk atau ekstrim di perbatasan tersebut. Di perbatasan tersebut sedang terjadi konflik, dimana konflik tersebut bisa berupa peperangan, dominasi nasionalisme, kebencian ideologis, permusuhan agama, perbedaan kebudayaan, serta persaingan etnik yang mempengaruhi juga kehidupan penduduk, dimana penduduk kedua perbatasan di masing-masing wilayah saling mengasingkan satu sama lain meskipun atau umumnya, mereka berasal dari satu grup etnis atau kesatuan sosial yang sama.
b. Coexistent borderland
Yaitu suatu perbatasan dimana keadaan tidak terlalu panas, dimana kestabilan masih bisa terganggu, namun konflik lintas batas masih bisa ditekan sampai ke tingkat yang bisa dikendalikan. Persoalan yang muncul umumnya berkaitan dengan masalah kepemilikan sumber daya alam yang strategis di perbatasan. Di wilayah perbatasan tersebut kerja sama internasional kedua wilayah masih terbatas dan penduduk masing-masing wilayah masih perlu bantuan untuk berhubungan dengan baik satu dengan yang lain.
c. Interdependent borderland
19
Oscar J. Martinez, Border People: Life and Society in the U.S.-Mexico Borderlands. The University of Arizona Press. 1994. Hal. 6
Yaitu suatu perbatasan yang umunya berada dalam situasi stabil, dimana kedua sisinya secara simbolik dihubungkan oleh hubungan internasional yang baik. Penduduk di kedua bagian daerah perbatasan, juga di kedua negara terlibat dalam hubungan yang baik secara sosial dan saling bekerja sama, terutama dalam berbagai kegiatan perekonomian yang saling menguntungkan dan kurang lebih dalam tingkat yang setara, dimana perluasan daerah perbatasan memungkinkan dikarenakan hubungan baik kedua belah pihak wilayah perbatasan.
d. Integrated borderland
Yaitu suatu perbatasan dimana stabilitas sangat kuat dan permanen, dimana kegiatan ekonominya merupakan sebuah kesatuan, bergabung secara fungsional dan dimana nasionalisme jauh menyurut pada kedua negara dan keduanya tergabung dalam sebuah persekutuan yang erat, dimana tidak ada larangan untuk saling keluar masuk dan saling berhubungan antara masing-masing penduduk yang mendiami perbatasan tersebut.
Perbatasan negara sangatlah penting karena perbatasan tersebut yang menentukan wilayah suatu negara dan seperti telah dibahas sebelumnya, menentukan dimana Yurisdiksi dari suatu negara akan mulai berlaku dan berakhir, dan juga memberi kejelasan mengenai wilayah dari suatu negara. Untuk mempertahankan kedaulatan dan hak-hak berdaulat antar negara serta menyelesaikan semua persoalan yang berkaitan dengan hubungan internasional, negara perlu menetapkan perbatasan wilayah baik dimensi perbatasan darat maupun perbatasan laut dan udara. Penetapan perbatasan wilayah tersebut dapat
dilakukan sesuai ketentuan hukum internasional agar dapat memberikan kepastian hukum, kemanfaatan hukum dan keadilan bagi masyarakat yang mendiami wilayah perbatasan suatu negara. Batas wilayah suatu negara menurut hukum internasional dapat ditentukan melalui perjanjian dengan negara yang berbatasan dan keadaan alam suatu negara.
4. Pengertian Wilayah Negara
Daerah atau wilayah adalah tempat berlakunya susunan kekuasaan negara, dimana batas-batas daerah negara ini ditentukan dengan perjanjian. Perjanjian dengan negara-negara tetangganya baik perjanjian yang tertulis maupun yang tidak tertulis Menurut I Wayan Parthiana di dalam bukunya, wilayah negara adalah merupakan suatu ruang dimana orang yang menjadi warga negara atau penduduk negara bersangkutan hidup serta menjalankan segala aktivitasnya. Pengertian wilayah negara menurut Rebecca M.Wallace adalah merupakan atribut yang nyata dari kenegaraan dan dalam wilayah geografis tertentu yang ditempatnya, suatu negara menikmati dan melaksanakan kedaulatan. Dalam Ensiklopedia Umum, yang dimaksud dengan wilayah negara adalah bagian muka bumi daerah tempat tinggal, tempat hidup dan sumber hidup warga negara dari negara tersebut. Wilayah negara terdiri dari tanah, laut dan udara dan pada dasarnya semua sungai dan danau dibagian wilayah tanah suatu negara termasuk wilayah negara. Dari pengertian tersebut maka jelashlah bahwa yang dinamakan wilayah dari suatu negara itu terdiri dari tiga dimensi, yaitu wilayah daratan wilayah perairan dan wilayah udara.20
20
5. Batas dan Wilayah Negara Menurut Hukum Internasional
Hingga saat ini, belum ada konvensi internasional yang secara khusus mengatur mengenai wilayah suatu negara, namun bukan berarti bahwa wilayah suatu negar tidak diatur menurut hukum internasional. Dapat ditemukan berbagai konvensi yang memuat mengenai pengaturan wilayah suatu negara, seperti Konvensi Paris 1919, Konvensi Chicago 1944, Konvensi Montevideo 1933, Piagam PBB atau UN Charter, Konvensi Havana 1928, Konvensi Jenewa 1958, Konvensi PBB 1982 atau dikenal sebagai UNCLOS dan Konvensi Wina 1961. Menurut hukum internasional, wilayah suatu negara terbagi menjadi 3, yaitu wilayah darat, wilayah laut dan atau perairan dan wilayah udara.21
a. Batas Wilayah Daratan
Dalam hukum internasional, batas wilayah daratan biasanya diatur dalam perjanjian internasional timbal-balik dengan negara tetangga. Berbagai perjanjian perbatasan dibuat dengan negara tetangga karena perbatasan wilayah sering menjadi sumber sengketa, misalnya perjanjian perbatasan antara Indonesia dengan Australia mengenai Garis-Garis Batas Tertentu Antara Indonesia dengan Papua Nugini, kemudian perjanjian antara Amerika dengan Kanada. Batas wilayah dapat dibatasi secara alamiah dengan menggunakan Sungai Niagara atau batas buatan yang berupa garis yang menghubungkan antara satu titik dengan titik yang lain. Batas tersebut berlaku ke atas secara vertikal ke udara atau ke bawah
21
Prof. Dr. H. K. Martono, S.H., LLM., Dr. Amad Sudiro S.H. M.H., M.M., Hukum Udara Nasional dan Internasional Publik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2012. Hal. 55.
sampai sumber-sumber mineral di bawah tanah negara tersebut. Penentuan batas suatu negara semula diatur dalam dokumen, kemudian diikuti dengan titik atau spot. Penentuan dalam dokumen disebut delimitation termasuk uraian tanda-tanda batas, garis-garis batas dan tanda-tanda dalam peta, sedangkan penandaan batas pada titik di lokasi disebut demarcation. b. Batas Wilayah Perairan
Dalam hukum internasional, batas wilayah perairan terdapat dalam Bagian 2 dari Pasal 3 sampai Pasal 16 Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS 1982. Menurut Pasal 3 tersebut, setiap negara berhak menetapkan lebar laut teritorialnya hingga suatu batas yang tidak melebihi ndua belas mil laut, diukur dari garis air rendah sepanjang pantai sebagaimana terlihat pada peta skala besar yang diakui resmi oleh negara pantai yang ditentukan sesuai dengan Konvensi PBB, sedangkan batas luar laut teritorial adalah garis yang jarak setiap titiknya dari titik yang terdekat garis pangkal, sama dengan lebar laut teritorial. Dalam bagian tersebut juga diatur garis pangkal biasa, karang, garis pangkal lurus, perairan pedalaman, mulut sungai, teluk, pelabuhan tempat berlabuh di tengah laut, elevasi surut, kombinasi cara-cara penetapan garis pangkal, penetapan garis batas laut teritorial antara negara-negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan dan peta daftar kordinat geografis.
c. Batas Wilayah Udara
Ada dua batas wilayah udara yang dikenal menurut hukum internasional, batas wilayah udara secara horizontal dan secara vertikal. Batas wilayah udara secara horizontal mengacu pada Pasal 2 Konvensi
Chicago 1944 lebih menjelaskan lagi bahwa untuk keperluan Konvensi Chicago 1944 yang dimaksudkan wilayah adalah batas wilayah negara, walaupun tidak secara tegas disebutkan, semua negara mengakui bahwa tidak ada negara mana pun yang berdaulat di laut lepas atau high seas, demikian dapat meminjam penafsiran Mahkamah Internasional atau
Permanent Court of International Justice dalam kasus sengketa Eastern