HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN
A. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Posisi Perempuan Dalam UU Perkawinan
4. Batas Usia Perkawinan
Pasal 7 Undang-Undang Perkawinan juga ternyata telah menyebabkan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak perempuan. Penetapan batas usia bagi perempuan yang lebih rendah daripada usia laki-laki pada dasarnya mempertegas subordinasi perempuan terhadap laki-laki.10 Batas usia minimal 16 tahun untuk perempuan yang boleh melangsungkan perkawinan adalah bertentangan dengan batas usia dalam Konvensi Internasional Tentang Hak Anak (Convention on the Right of the Child). Dalam konvensi tersebut diatur batas usia anak sampai
8Siti Musdah Mulia, Muslimah Perempuan Pembaru Keagamaan Reformis,
h. 373.
9Siti Musdah Mulia, Muslimah Perempuan Pembaru Keagamaan Reformis,
h. 373.
10Siti Musdah Mulia, Muslimah Perempuan Pembaru Keagamaan Reformis,
dengan usia 18 tahun sehingga perkawinan di bawah usia 18 tahun merupakan pelanggaran terhadap hak anak11. Melegalkan
perkawinan dalam usia 16 tahun berarti pemerintah telah melegalkan perkawinan anak-anak.
Hasil penelitian Pusat Studi Wanita Universitas Islam Negeri (PSW UIN) Jakarta sebagaimana dikemukakan Musdah Mulia dalam bukunya Muslimah Reformis bahwa pada Tahun 2000 ada temuan yang menarik. Yakni bahwa rata-rata usia ideal perempuan untuk menikah adalah berkisar 19,9 tahun dan usia laki-laki 23,4 tahun. Kematangan usia perkawinan yang ideal harus terakumulasi pada kesiapan fisik, ekonomi, social, mental dan kejiwaan, agama dan budaya. Perkawinan membutuhkan kematangan yang bukan hanya bersifat biologis, melainkan juga kematangan psikologis dan sosial. Batas minimal usia nikah bagi laki-laki dan perempuan sebaiknya 20 tahun. Tidak perlu ada perbedaan batas usia minimal antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini. Perkawinan pada usia dini bagi perempuan menimbulkan berbagai resiko, baik bersifat biologis seperti kerusakan organ-organ reproduksi, kehamilan muda, maupun resiko psikologis berupa ketidakmampuan mengemban fungsi- fungsi reproduksi dengan baik. Kehidupan keluarga menuntut adanya peran dan tanggung jawab yang besar bagi laki-laki dan perempuan.12
11Lies S. Kasno, Banyak Produk Hukum yang Menyudutkan,
Perlindungan Hak Perempuan Rendah, PIKIRAN RAKYAT, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0703/10/0311.htm, diakses tanggal 28 Juni 2007)
12Siti Musdah Mulia, Muslimah Perempuan Pembaru Keagamaan Reformis
5.
Poligami
Persoalan poligami diatur dalam pasal 3, 4 dan 5 UU Perkawinan. Pasal 3 : (1) Pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. (2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
Pasal 4 : (1) Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Undang- undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. (2) Pengadilan dimaksud pada ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila : a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Pasal 5 : (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang- undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri; b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak- anak mereka; c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka. (2) Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.
Peraturan-peraturan pada pasal 3 ayat 1 dan 2 terjadi inkonsistensi. Ayat (1) menegaskan azas monogami, sedangkan pada ayat (2) memberikan kelonggaran kepada suami untuk berpoligami hingga batas 4 orang isteri. Dan salah satu syarat
yang harus dipenuhi suami yang akan mengajukan permohonan poligami adalah persetujuan isteri. Penjelasan terhadap persetujuan isteri dijabarkan dalam pasal 59 Kompilasi Hukum Islam Dalam ayat selanjutnya disebutkan bahwa dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan salah satu alas an yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan pasal 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin memeriksa dan mendengar isteri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.
Pada pasal-pasal ini sangat jelas menunjukkan betapa lemahnya posisi isteri. Sebab, seandainya isteri menolak memberikan persetujuannya, Pengadilan Agama dengan serta merta dapat mengambil alih kedudukannya sebagai pemberi izin, meski ada kewenangan untuk mengajukan banding atau kasasi. Dalam realitas, umumnya para isteri merasa malu dan berat hati mengajukan banding terhadap keputusan pengadilan menyangkut perkara poligami, apalagi jika isteri berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Alasan-alasan yang digunakan Undang-Undang Perkawinan dalam memberikan izin poligami kepada suami juga sangat diskriminatif dan mendudukkan kesalahan lebih banyak kepada perempuan. Dalam Pasal 4 ayat 2 UU RI. Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan (UUP) yang berbunyi “Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: (a) isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; (b) isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; (c) isteri tidak dapat melahirkan keturunan.”13
Realitas sosial di masyarakat menunjukkan bahwa hampir semua poligami yang dilakukan di kalangan masyarakat tidak mengacu kepada tiga alasan tersebut. Meski hal ini masih perlu diteliti, akan tetapi fakta yang terjadi di masyarakat bahwa poligami semata-mata dilakukan untuk pemenuhan nafsu biologis laki-laki. Padahal, legitimasi hukum yang sering dijadikan dasar adalah poligami Rasulullah saw. Sementara, realitas poligami yang dilakukan Rasulullah saw dijadikan dasar dengan setengah hati. Misalnya, Rasulullah saw. berpoligami dengan janda-janda yang ditinggal mati oleh suaminya di medan perang, Rasulullah saw. berpoligami dengan janda-janda tua yang membutuhkan santunan kasih sayang, dan lain sebagainya. Di sisi lain, semua alasan yang membolehkan suami berpoligami hanya dilihat dari perspektif kepentingan suami, dan sama sekali mengabaikan kepentingan perempuan. Tidak pernah dipertimbangkan, misalnya, soal andaikata suami tidak mampu menjalankan kewajibannya sebagai suami, atau suami mendapat cacat atau penyakit, atau suami mandul, apakah pengadilan juga akan memberikan izin kepada isteri untuk menikah lagi? Ketentuan poligami ini jelas menunjukkan posisi perempuan yang terlemahkan.