• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PELAKSANAAN PEMBERIAN DAN PENGGUNAAN

A. Ruang Bangunan dan Lahan Tanah yang Dimiliki Bandara

2. Batas Ruang Bangunan dan Lahan Tanah yang Dimiliki

Luasnya bangunan serta lahan yang dimiliki oleh PT. Angkasa Pura II Bandara Kuala Namu seluruh tanah yang diatasnya berdiri bangunan-bangunan pendukung atas operasional kinerja PT. Angkasa Pura II Bandara Kuala Namu serta lahan-lahan kosong seperti taman, landasan pacu atas maskapai yang menggunakan jasa Bandara Kuala Namu. Berdasarkan gambaran umum luas tanah dan bangunan yang dimiliki oleh Bandara Kuala Namu Berdasarkan hitungan nominal luas dapat dilihat melalui proses pembangunan Bandara Kuala Namu dimulai dari tahap I pembangunan Bandara tersebut kurang lebih seluas 1.367 Hektare.

Tahap I bandara dapat menampung 8,1 juta-penumpang dan 10.000 pergerakan pesawat per tahun, sementara setelah selesainya tahap II bandara ini rencananya akan menampung 25 juta penumpang per tahun. Luas terminal penumpang yang akan dibangun adalah sekitar 6,5 hektaree dengan fasilitas area komersial seluas 3,5 hektaree & fasilitas kargo seluas 1,3 hektare.47

Bandara Internasional Kualanamu memiliki panjang landas pacu 3,75 km yang cocok untuk didarati pesawat sebesar Boeing 747 & mempunyai 8 garbarata.

Walaupun fasilitasnya belum terpasang, bandara ini sanggup didarati oleh pesawat

46(http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-pengertian-tanah.html)

47Bandara Kuala Namu,

https://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Udara_Internasional_Kualanamu diakes pada tanggal 17 Juni 2015.

penumpang Airbus A380. Bandara ini juga adalah bandara keempat di Indonesia yang bisa didarati Airbus A380 selain Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai & Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

B. Obyek dan Subyek Hak Pengelolaan 1. Obyek Hak Pengelolaan

Dengan berpedoman pada Pasal 2 UUPA, maka obyek dari hak pengelolaan seperti juga hak-hak atas tanah lainnya, adalah tanah yang dikuasai oleh negara.

Penjelasan umum II angka (2) UUPA menyatakan bahwa:

“Kekuasaan negara atas tanah yang tidak dipunyai dengan sesuatu hak oleh seseorang atau pihak lainnya adalah lebih luas dan penuh. Dengan berpedoman pada tujuan yang disebutkan di atas negara dapat memberikan tanah yang demikian itu kepada seseorang atau badan hukum dengan sesuatu hak menurut peruntukan dan keperluannya, misalnya, Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai atau memberikannya dalam pengelolaan kepada sesuatu badan penguasa (departemen, jawatan atau daerah swatantra) untu diperlukan bagi pelaksanaan tugasnya masing-masing.”

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa obyek Hak Pengelolaan adalah tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Kesimpulan yang sama juga akan diperoleh, apabila ditelusuri sejarah Hak Pengelolaan yang berasal dari hak penguasaan tanah negara yang diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953.48 2. Subyek Hak Pengelolaan

Yang dapat menjadi pemegang Hak Pengelolaan menurut pasal 67 ayat (1) Permenag/KBPN No. 9/1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan adalah:

48Ramli Zein, Op. Cit halaman 44.

1. Instansi Pemerintah termasuk Pemerintah Daerah.

2. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

3. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

4. PT. Persero.

5. Badan Otorita.

6. Badan-badan hukum pemerintah lainnya yang ditunjuk Pemerintah.

Dalam ayat (2) disebutkan bahwa: “Badan-badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan Hak Pengelolaan sepanjang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya berkaitan dengan pengelolaan tanah”.

3. Pendaftaran Hak Pengelolaan

Tata cara pemberian Hak Pengelolaan diatur dalam Pasal 67 dan Pasal 71 Permenag/KBPN No. 9/1999. Secara garis besar proses pemberian Hak Pengelolaan diawali dengan permohonan tertulis yang berisi tentang keterangan mengenai permohonan, keterangan mengenai tanahnya yang meliputi data fisik dan data yuridis dan keterangan lain yang dianggap perlu.

Permohonan diajukan kepada Menteri (dalam hal ini kepada BPN) melalui Kepala Kantor Pertanahan setempat yang akan memeriksa kelengkapan data yuridis dan data fisik untuk dapat diproses lebih lanjut. Bila tanah yang dimohon belum ada surat ukurnya, dilakukan pengukuran dan selanjutnya kelengkapan berkas permohonan disampaikan oleh Kepala Kantor Pertanahan kepada Kepala Kantor

Wilayah. Setelah permohonan memenuhi syarat, Kepala Kantor Wilayah menyampaikan berkas permohonan kepada Menteri (Kepala BPN).49

Dalam SK pemberian Hak Pengelolaan dicantumkan pemberian Hak Pengelolaan dicantumkan persyaratan yang harus dipenuhi antara lain tentang kewajiban untuk mendaftarkan tanah. Sertifikat Hak Pengelolaan ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan.50

C. Hak Pengelolaan Wujud Penguasaan Negara

Hak Pengelolaan atas tanah yang merupakan wujud delegasi wewenang dari Hak Menguasai Negara, tidak tercantum sebagai salah satu diantara hak-hak atas tanah di dalam Pasal 61 UUPA. Namun hak pengelolaan itu melalui proses yang unik dengan subyek yang tidak diberikan kepada orang perorangan, masih perlu dikembangkan lebih lanjut terutama untuk mengisi pemberian otonomi daerah dan pemberdayaan serta optimalisasi ekonomi maysarakat ada pedesaan.51

Pasal 1 angka 2 Per. Pemerintah No. 40 Tahun 1996:

“Hak Pengelolaan adalah Hak Menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya”.

Pasal 2 ayat 4 UUPA:

“Hak Menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada Daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat,

49Maria S. W. Sumardjono, Op. Cit halaman 207.

50Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No/1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No. 24/1997 tentang Pendaftaran Tanah.

51 Tampil Ansahri Siregar, Undang-undang Pokok Agraria dalam Bagan, (Medan: USU Press, 2004), hal 266.

sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah”.

Penjelasan Umum II (2) UUPA:

“Dengan berpedoman pada tujuan yang disebutkan di atas negara dapat memberikan tanah yang demikian itu kepada seseorang atau badan hukum dengan sesuatu hak menurut peruntukan dan keperluannya, misalnya Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai atau memberikannya dalam pengelolaan kepada sesuatu Badan Penguasa (Departemen, Jawatan atau Daerah Swatantra ) untuk dipergunakan bagi pelaksanaan tugasnya masing-masing (Pasal 2 ayat 4)”.

Penjelasan Pasal 2 UUPA:

“Ketentuan dalam ayat 4 adalah bersangkutan dengan azas otonomi dan medebewind dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.

Soal agraria menurut sifatnya dan pada azasnya merupakan tugas Pemerintah Pusat (Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar). Dengan demikian maka pelimpahan wewenang untuk melaksanakan Hak Penguasaan dari Negara atas tanah itu adalah merupakan medebewind. Segala sesuatunya diselenggarakan menurut keperluannya dan sudah barang tentu tidak boleh bertentangan dengan kepentingan nasional. Wewenang dalam bidang agraria dapat merupakan sumber keuangan bagi daerah itu”.

1. Sebelumnya Hak Pengelolaan itu berasal dari Hak Penguasaan (beher). Hak Penguasaan diberikan kepada Departemen, Jawatan, atau Daerah Swatantra

guna memenuhi kebutuhan hukum terutama bagi lembaga-lembaga tersebut yang tidak dimungkinkan lagi sebagai pemilik (subyek hak milik) atas tanah sesuai dengan pendapat yang dimajukan Panitia Agraria Yogya (Tahun 1951) bahwa azas domein harus hapus, padahal sebagai negara yang baru merdeka sangat memerlukan dana untuk melaksanakan tugas-tugasnya.

Pada pasal 2, 3 dan 4 Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 ditegaskan:

a. Kecuali jika penguasaan atas tanah negara dengan Undang-Undang atau peraturan lain pada waktu berlakunya Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 tanggal 27 Januari 1953, tidak diserahkan kepada sesuatu Kementerian, Jawatan atau Daerah Swatantra maka penguasaan atas tanah negara ada pada Menteri Dalam Negeri.

b. Dalam hal penguasaan yang ada pada Menteri Dalam Negeri maka ia berhak untuk menyerahkan penguasaan itu kepada sesuatu Kementerian, Jawatan atau Daerah Swatantra untuk keperluan melaksanakan kepentingan tertentu dari kementerian atau jawatan atau untuk menyelenggarakan kepentingan daerahnya bagi sesuatu Daerah Swatantra, tetapi tetap mengindahkan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri.

Pasal 9 Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 menegaskan bahwa Kementerian, Jawatan dan Daerah Swatantra sebelum menggunakan tanah hak penguasaannya sesuai dengan peruntukannya dapat memberi izin kepada pihak lain untuk memakainya dalam waktu yang pendek.

Pada pasal 12 Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 menetapkan bahwa Daerah Swatantra yang diberi Hak Penguasaan dapat diberikan kepada pihak lain dengan sesuatu hak.

Penjelasan Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953:

“Pada azasnya Kementerian, Jawatan atau Daerah Swatantra bebas di dalam melaksanakan dan menyelenggarakan penguasaan tanah-tanah negara yang telah diserahkan kepada mereka itu, demikian juga untuk memberi peruntukan pada tanah-tanah itu hingga sesuai dengan tugas mereka masing-masing”.

Penjelasan Pasal 12 dan 13 Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953:

“Ketentuan ini bermaksud memberi kemungkinan bagi Daerah-daerah Swatantra untuk berusaha memperbaiki perumahan rakyat”.

“…Daerah Swatantra itu sendiri yang membuat perumahannya untuk selanjutnya dijual atau disewakan”.

Dari berbagai ketentuan yang tercakup di dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 itu dapat di simpulkan sebagaimana dinyatkaan oleh A.P.

Parlindungan dalam komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria (1998:268) bahwa:

“Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953, menetapkan suatu Hak Penguasaan yang berisikan:

a. Merencanakan peruntukan, penggunaan tanah tersebut.

b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan tugasnya.

c. Menerima uang pemasukan/ganti rugi atau uang wajib tahunan”.

Pasal 1 Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965:

“Hak Penguasaan Atas Tanah Negara sebagai dimaksud dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 yang diberikan kepada Departemen-departemen, Direktorat-direktorat dan Daerah-daerah Swatantra sebelum berlakunya Peraturan ini (PMA No. 9/1965-pen.) sepanjang tanah-tanah tersebut hanya dipergunakan untuk kepentingan instansi-instansi itu sendiri dikonversi menjadi Hak Pakai, … yang berlangsung selama tanah tersebut dipergunakan untuk keperluan itu (Hak Pakai publik/khusus – pen.) oleh instansi yang bersangkutan”.

Pasal 2 Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965:

“Jika tanah Negara … (di bawah Hak Penguasaan itu – pen.), selain dipergunakan untuk kepentingan instansi-instansi itu sendiri, dimaksudkan juga untuk dapat diberikan dengan sesuatu hak kepada pihak ketiga, maka Hak Penguasaan tersebut di atas dikonversi menjadi hak Hak Pengelolaan .. yang berlangsung selama tanah tersebut dipergunakan untuk keperluan itu oleh instansi yang bersangkutan”.

Pasal 6 Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965:

“1. Hak Pengelolaan …. Memberi wewenang kepada pemegangnya untuk:

a. Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah tersebut;

b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan tugasnya.

c. Menyerahkan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dengan hak pakai yang berjangka waktu 6 (enam) tahun.

2. Wewenang untuk menyerahkan tanah kepada pihak ketiga … terbatas pada:

a. Tanah yang luasnya maksimum 1. 000 m2(seribu meter persegi);

b. Hanya kepada warga negara Indonesia dan berkedudukan di Indonesia;

c. Permohonan hak untuk yang pertama kali saja dengan ketentuan bahwa perubahan, perpanjangan dan penggantian hak tersebut akan dilakukan oleh instansi agraria yang bersangkutan, dengan pada azasnya tidak mengurangi penghasilan yang diterima sebelumnya oleh pemegang hak”.

Pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1974:

“… Hak Pengelolaan … berisikan wewenang untuk:

a. Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan;

b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan usahanya;

c. Menyerahkan bagian-bagian dari pada tanah itu kepada pihak ketiga menurut persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan pemegang hak tersebut, yang meliputi segi-segi peruntukan, penggunaan, jangka waktu dan keuangannya, dengan ketentuan bahwa pemberian hak atas tanah kepada pihak ketiga yang bersangkutan dilakukan oleh pejabat-pejabat yang berwenang … sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku”.

1. Oleh karena cakupan Hak Penguasaan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 adalah sama dengan cakupan Hak Pengelolaan, yang juga merupakan salah satu dari konversi Hak Penguasaan tersebut (PMA No. 9/1965 jo PMDN No. 5/1974), maka dapat disebut bahwa Hak Pengelolaan itu pada

hakekatnya lembaganya telah ada sejak ditetapkannya Hak Penguasaan jauh sebelum UUPA lahir.

Kemudian Hak Pengelolaan tersebut diatur kesempurnaannya terutama hak-hak atas tanah yang dapat diberikan kepada pihak ketiga dengan penegasan perbedaannya dengan hak-hak sejenis, subyeknya dan hapusnya Hak Pengelolaan tersebut.

Pasal 1 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977:

“Yang dimaksud dengan ‘Hak Pengelolaan’ dalam peraturan ini adalah:

a. Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan;

b. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan usahanya;

c. Menyerahkan bagian-bagian daripada tanah itu kepada pihak ketiga menurut persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan pemegang hak tersebut, yang meliputi segi-segi peruntukan, penggunaan, jangka waktu dan keuangannya, dengan ketentuan bahwa pemberian Hak Atas Tanah kepada pihak ketiga yang bersangkutan dilakukan oleh pejabat-pejabat yang berwenang, sesuai dengan peraturan perundangan yang beraku”.

Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977:

“Bagian-bagian tanah Hak Pengelolaan yang diberikan kepada Pemerintah Daerah, Lembaga, Instansi dan atau Badan/Badan Hukum (milik) Pemerintah untuk pembangunan wilayah pemukiman, dapat diserahkan kepada pihak ketiga dan diusulkan kepada Menteri Dalam Negeri atau Gubernur Kepala Daerah yang bersangkutan untuk diberikan dengan Hak Milik, Hak Guna Bangunan atau Hak

Pakai, sesuai dengan rencana peruntukan dan penggunaan tanah yang telah dipersiapkan oleh pemegang Hak Pengelolaan yang bersangkutan”.

Pada pasal 3, 4, 5 dan 9 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977 ditegaskan bahwa setiap penyerahan bagian dari tanah Hak Pengelolaan kepada pihak ketiga wajib dibuat perjanjian tertulis antara pihak pemegang Hak Pengelolaan dan pihak ketiga yang menerimanya. Isi perjanjian tersebut terutama adalah mengenai hak apa yang diberikan, jangka waktunya, jumlah uang pemasukan, syarat-syarat pembayarannya dan lain-lain yang dipandang perlu.

Permohonan haknya harus diajukan oleh pihak ketiga melalui perantaraan pemegang Hak Pengelolaan.

Hubungan hukum antara pemegang Hak Pengelolaan terhadap tanah Hak Milik, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai itu tidak menjadi hapus dengan didaftarkannya hak-hak yang diberikan kepada pihak ketiga itu.

Demikian juga jika jangka waktunya berakhir (hapusnya Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai – pen.) maka tanah yang bersangkutan kembali ke dalam penguasaan sepenuhnya dari pemegang Hak Pengelolaan yang bersangkutan.

Pasal 6 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977:

“Hak Milik, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai (yang diberikan dari tanah Hak Pengelolaan itu – pen. ) … tunduk pada ketentuan-ketentuan tentang hak-hak tersebut, sebagaimana termuat di dalam Undang-Undang pokok Agraria dan peraturan pelaksanaannya yang mengenai hak-hak itu serta syarat-syarat khusus yang tercantum di dalam surat perjanjian…”.

Pada Pasal 7 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 1977 dinyatakan bahwa di dalam rangka pembangunan dan pengembangan wilayah industri dan pariwisata atas bagian-bagian tanah hak pengelolaan yang seluruh modalnya dimiliki oleh Pemerintah Pusat atau Daerah dapat diberikan dengan Hak Guna Bangunan atau hak Pakai yang sesuai dengan rencana peruntukan dan penggunaan tanah tersebut.

1. Pemberian Hak Pengelolaan kepada Departemen, Jawatan dan Daerah Swatantra (versi UUPA) atau departemen-departemen, direktorat-direktorat dan Daerah Swatantra (versi PMA No. 9/1965) atau Pemerintah Daerah, Lembaga, Instansi dan Badan Hukum (milik) Pemerintah (versi PMDN No.

1/1977) semestinya diimbangi dengan pemberian hak yang sama kepada masyarakat hukum adat sebagaimana amanat UUPA.

Hal ini sangat mendukung pemberian otonomi daerah yang seluas-luasnya kepada setiap daerah untuk membangun daerahnya terutama di dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

2. Delegasi wewenang agraria kepada masyarakat hukum adat sebagaimana pemberian Hak Pengelolaan itu harus tetap di dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia terutama tidak membedakan setiap warga negara Indonesia di manapun ia berada di wilayah Indonesia untuk mendapatkan Hak Atas Tanah. Dengan kata lain pemberian Hak Pengelolaan dimaksud harus dapat mencegah tumbuh dan berkembangnya benih-benih disintegrasi bangsa.

Hak pengelolaan secara eksplisit, tidak disebutkan dalam konsideran, diktum, batang tubuh maupun penjelasan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, atau lebih dikenal dengan sebutan Undang-Undang Pokok Agraria (selanjutnya disingkat UUPA). UUPA hanya menyebut pengelolaan dalam Penjelasan Umum Angka II No. 2, yaitu:

“Negara dapat memberikan tanah yang demikian itu kepada seseorang atau badan hukum dengan sesuatu hak menurut peruntukan dan keperluannya, misalnya Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai atau memberikannya dalam pengelolaan kepada suatu badan penguasa (Departemen, Jawatan, atau daerah Swatantra) untuk dipergunakan bagi pelaksanaan tugasnya masing-masing”.

Maria S. W. Sumardjono menyatakan bahwa dalam praktik terdapat berbagai jenis hak pengelolaan, yaitu: Hak Pengelolaan Pelabuhan, Hak Pengelolaan Otorita, Hak Pengelolaan Perumahan, Hak Pengelolaan Pemerintah Daerah, Hak Pengelolaan Transmigrasi, Hak Pengelolaan Instansi Pemerintah, Hak Pengelolaan industri/pertanian/pariwisata/perkeretaapian.52 Hak pengelolaan, dalam realita dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (Persero), PT Pasuruan Industrial Estate Rembang (Persero), Badan Otorita Batam, PD Pasar Surya Surabaya, PD Pasar Jaya DKI Jakarta, PD Sarana Jaya DKI Jakarta, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas), Pemerintah Kabupaten/Kota.

52Maria S. W. Sumardjono, Hak Pengelolaan: Perkembangan, Regulasi, dan Implementasinya, Jurnal Mimbar Hukum, Edisi Khusus, September 2007, Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, hal 9.

Hak Pengelolaan muncul sebagai jenis hak penguasaan atas tanah yang baru pada tahun 1965 melalui Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan Atas Tanah Negara dan Kebijaksanaan selanjutnya. Ketentuan Pasal 2 Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 menetapkan konversi hak penguasaan atas tanah-tanah negara, yaitu:

“Jika Hak Penguasaan Atas Tanah Negara yang diberikan kepada Departemen-Departemen, Direktorat-Direktorat, dan daerah-daerah Swatantra, selain dipergunakan untuk kepentingan instansi-instansi itu sendiri, dimaksudkan juga untuk dapat diberikan dengan sesuatu hak kepada pihak ketiga, maka Hak Penguasaan Atas Tanah tersebut dikonversi menjadi Hak Pengelolaan”.

Hak Pengelolaan sebagai jenis Hak Penguasaan Atas Tanah lahir tidak didasarkan pada Undang-Undang, melainkan berdasarkan Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965. Hak Pengelolaan lahir dari konversi Hak Penguasaan Atas Tanah Negara. Hak Pengelolaan dapat dikuasai oleh Departemen-Departemen, Direktorat-Direktorat, dan daerah-daerah Swatantra. Meskipun Hak Pengelolaan diatur dengan Peraturan Menteri Agraria, namun Hak Pengelolaan mempunyai kekuatan mengikat, baik bagi pemegang Hak Pengelolaan maupun pihak lain yang menggunakan bagian-bagian tanah Hak Pengelolaan.53 Eksistensi Hak Pengelolaan mendapatkan pengakuan dalam bentuk Undang-Undang, yaitu UU No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. Dalam kedua Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa rumah susun hanya dapat dibangun di atas tanah Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai

53Urip Santoso, Pengaturan Hak Pengelolaan, Jurnal Media Hukum, Vol. 15 No. 1, Juni 2008, Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah hal 11.

Atas Tanah Negara, dan Hak Pengelolaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pertama kali pengertian Hak Pengelolaan disebutkan pada Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah, yaitu Hak Menguasai Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya. Pengertian yang lebih lengkap tentang Hak Pengelolaan tertuang dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (3) huruf f Undang No. 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan jo Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 112 Tahun 2000 tentang Pengenaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan karena Pemberian Hak Pengelolaan, Hak Menguasai Negara atas tanah yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya untuk merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah, mempergunakan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya dan menyerahkan bagian-bagian tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.

Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965, pada mulanya Hak Pengelolaan diberikan kepada Departemen, Direktorat, dan daerah Swatantra.

Perkembangan terakhir, berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan, Hak Pengelolaan diberikan kepada: Instansi Pemerintah, termasuk Pemerintah Daerah, Bahan Usaha

Miliki Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT Persero, Badan Otorita, dan Badan-Badan Hukum Pemerintah lainnya yang ditunjuk oleh Pemerintah.

Arie S. Hutagalung menyatakan bahwa perusahaan yang berstatus badan hukum Indonesia dapat menguasai tanah sesuai dengan peruntukkannya dengan, hak antara lain Hak Pengelolaan Khusus untuk Badan Milik Negara yang sahamnya 100%

dimiliki Negara yang penguasaan tanahnya tidak terbatas pada penggunaan untuk keperluan sendiri, akan tetapi dimaksudkan untuk menyerahkan tanah kepada pihak ketiga menurut persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan pemegang Hak Pengelolaan, meliputi segi-segi penggunaan jangka waktu dan keuangan.54 Hak Pengelolaan yang diberikan Kepada Badan Usaha Milik Negara, tanahnya dapat dipergunakan untuk kepentingannya sendiri, juga dapat diserahkan kepada pihak ketiga.

Eman menyatakan bahwa subjek atau pemegang Hak Pengelolaan adalah sebatas pada hukum pemerintah baik yang bergerak dalam pelayanan publik (pemerintahan) atau yang bergerak dalam bidang bisnis, seperti Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, PT Persero, badan hukum swasta tidak mendapatkan peluang untuk berperan sebagai subyek atau pemegang Hak Pengelolaan.55 Hak Pengelolaan diberikan kepada badan hukum yang seluruh atau

54 Arie S Hutagalung, Kebijakan Pertanahan Dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Tahun Ke 38 No. 3, Juli-September 2008, Jakarta: Fakultas Hukum Universita Indonesia hal 24.

55 Eman, Hak Pengelolaan Setelah Berlakunya Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 Tahun 1999, Majalah Yuridika, Vol. 15 No. 3, Mei-Juni 2006, Surabaya: Fakultas Hukum Universitas Airlangga hal 13.

sebagian modalnya berasal dari pemerintah atau pemerintah daerah dan badan hukum tersebut mempunyai tugas pokok dan fungsinya berkaitan dengan pengelolaan tanah.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan, ditetapkan bahwa Hak Pengelolaan dapat terjadi melalui beberapa cara. Pertama, konversi. Konversi adalah perubahan status Hak Atas Tanah menurut hukum yang alam sebelum berlakunya UUPA yaitu Hak Atas Tanah yang tunduk pada hukum barat (BW), hukum adat, dan

Berdasarkan peraturan perundang-undangan, ditetapkan bahwa Hak Pengelolaan dapat terjadi melalui beberapa cara. Pertama, konversi. Konversi adalah perubahan status Hak Atas Tanah menurut hukum yang alam sebelum berlakunya UUPA yaitu Hak Atas Tanah yang tunduk pada hukum barat (BW), hukum adat, dan

Dokumen terkait