3 PRAKTEK DAN PROSEDUR
3.4 Peranan Hakim Investigasi
3.4.5 Batas Waktu 72 Jam
Seperti disebut di atas, Bagian 20.1 dari Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi menentukan bahwa sebelum lewat 72 jam setelah tersangka ditangkap, Hakim Investigasi
harus melakukan Pemeriksaan Peninjauan Kembali guna meninjau kembali sah tidaknya
penangkapan dan penahanan tersangka. Bagian 30(2) dari Konstitusi RDTL menyatakan bahwa:
Tidak seorangpun dapat ditangkap atau ditahan, kecuali menurut ketentuan yang secara jelas ditetapkan dalam hukum yang berlaku, dan surat perintah penangkapan ataupun surat perintah penahanan selalu harus diajukan kepada
hakim yang berwenang untuk mempertimbangkannya, dalam batas waktu yang sah.
Maka sangat jelas bahwa Pemeriksaan Peninjauan Kembali di depan Hakim Investigasi wajib dilakukan sebelum lewat 72 jam setelah tersangka ditangkap. Ada beberapa kasus pada bulan November 2002 di mana tersangka dihadapkan kepada Hakim Investigasi setelah lewat batas waktu 72 jam. Hal ini terjadi bilamana kurun waktu 72 jam berakhir pada hari Sabtu dan Minggu atau pada hari libur atau karena tersangka dibawa ke pengadilan pada hari Jumat sore saat tidak ada Hakim Investigasi yang rela melakukan Pemeriksaan Peninjauan Kembali menjelang akhir pekan.
Seorang Hakim Investigasi memberitahukan JSMP bahwa keadaan hakim, jaksa dan pembela umum sangat sulit karena gajinya rendah dan tidak dibayar lembur. Maka semua petugas bersangkutan tidak ada insentif untuk masuk kerja pada hari Sabtu Minggu dan hari libur. Walaupun begitu, seorang Hakim Investigasi yang ditugaskan memeriksa perkara Kejahatan Berat pernah melakukan Pemeriksaan Peninjauan Kembali pada hari Sabtu karena tidak bisa diadakan sesuai dengan jadwal pada hari Jumat. Hakim yang sama juga pernah mendengar permohonan surat perintah penangkapan pada akhir pekan karena polisi datang dari Same untuk mengurusi surat tersebut.
Berdasarkan pengamatan JSMP, kelihatannya tiga Hakim Investigasi (satu untuk kejahatan berat dan dua untuk tindak pidana biasa) mempunyai waktu lebih dari cukup selama jam kerja hari Senin sampai Jumat untuk melakukan tugasnya. JSMP menganjurkan agar Hakim Investigasi di Pengadilan Distrik Dili bekerja dengan sistem rotasi lima hari kerja secara bergiliran supaya selalu ada Hakim Investigasi yang bertugas pada hari Sabtu dan Minggu.
JSMP juga mengamati ada banyak kasus pelanggaran ringan di mana tersangka tidak bisa dihadapkan kepada Hakim Investigasi sebelum lewat 72 jam setelah ditangkap, sehingga pihak kepolisian membebaskan tersangka dengan pengertian bahwa tersangka akan datang ke pengadilan di kemudian hari untuk pemeriksaan di depan Hakim Investigasi. Akan tetapi praktek tersebut bertentangan dengan Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi. Pertama, apabila tersangka ditangkap dengan dikeluarkan surat perintah penangkapan, maka hanya Hakim Investigasi yang berwenang memerintahkan pembebasannya.35 Jaksa tidak berwenang membebaskan tersangka “untuk sementara”. Pemeriksaan Peninjauan Kembali mutlak harus diadakan sebelum lewat 72 jam setelah
penangkapan. Administrasi serta tenaga kerja pengadilan harus diatur sedemikian rupa
hingga ketentuan tersebut dapat dipastikan.
Dalam hal tersangka ditangkap tanpa adanya surat perintah penangkapan,36 jaksa mempunyai tiga pilihan. Pertama, jaksa boleh mengajukan permohonan surat perintah yang terkait kepada Hakim Investigasi. Kedua, apabila jaksa memutuskan untuk tidak mengajukan permohonan surat perintah yang terkait kepada Hakim Investigasi, jaksa
35
Bagian 19A.7 Regulasi UNTAET 2000/30 yang diamandemen dengan Regulasi UNTAET 2001/25.
36 Bagian 19A.4 Regulasi UNTAET 2000/30 yang diamandemen dengan Regulas i UNTAET 2001/25 menentukan keadaan yang memperolehkan tersangka ditangkap tanpa surat perintah penangkapan.
berwenang membebaskan tersangka dan melanjutkan investigasi. Ketiga, jaksa berwenang membebaskan tersangka dan menolak perkaranya.37 Dalam semua kasus, salah satu dari tiga pilihan tersebut harus dilakukan sebelum lewat 72 jam setelah tersangka ditangkap.
Sebagaimana disebut di atas, jaksa tidak memerlukan surat perintah dari Hakim Investigasi untuk membebaskan tersangka yang ditangkap tanpa ada surat perintah penangkapan. Akan tetapi, setelah diambil keputusan untuk membebaskan tersangka, tersangka itu tidak lagi dalam penangkapan dan tid ak boleh dipaksakan dihadapkan kepada Hakim Investigasi di kemudian hari. Hal ini tetap berlaku apabila keputusan untuk membebaskan tersangka hanya diambil karena tidak ada pilihan lain pada saat tersangka dibebaskan.
Seandainya tersangka yang tidak ditahan lagi dibawa untuk dihadapkan kepada Hakim Investigasi, hakim tersebut tidak berwenang menangani perkara tersangka yang tidak ditahan. Sulit membayangkan surat perintah seperti apa yang dapat dikeluarkan secara sah oleh Hakim Investigasi berhubungan dengan tersangka yang tidak dalam penahanan. Seandainya tersangka yang tidak ditahan dihadapkan kepada Hakim Investigasi, kehadiran tersangka kiranya sudah menunjukkan bahwa dia tidak berisiko melarikan diri atau menganggu saksi atau korban dll.
Praktek menghadapkan tersangka yang telah dibebaskan kepada Hakim Investigasi menunjukkan salah kaprah yang memandang pemeriksaan di depan Hakim Investigasi seolah-olah menjadi “persidangan mini” untuk mengadili kasus tindak pidana ringin. Misalnya, pada tanggal 7 November 2002 seorang laki-laki dihadapkan kepada Hakim Investigasi dengan dinyatakan melakukan penganiayaan. Orang tersebut ditangkap pada tanggal 22 Oktober 2002 tetapi dibebaskan agar perselisihan yang berkaitan dengan kasusnya dapat diselesaikan di tingkat desa. Yang dinyatakan korban adalah sanak keluarganya. Setelah upaya informal gagal, orang yang dinyatakan melakukan penganiayaan itu dihadapkan kepada Hakim Investigasi dan “dibebaskan” dengan tindakan yang membatasi kebebasannya termasuk kewajiban melaporkan diri ke kantor kepolisian dua kali seminggu. Ini adalah penyalahgunaan peran Hakim Investigasi. Apabila Kejaksaan berniat melanjutkan perkaranya, seharusnya diterapkan prosedur yang dijelaskan di bagian bawah dalam laporan ini untuk menuntaskan perkara dengan cepat.
Rekomendasi 7: Tanpa memandang berat ringannya pelanggaran, penahanan tersangka hanya boleh diperintahkan apabila ada resiko tersangka melarikan diri, atau mengganggu barang bukti yang masih dicari atau menggangu saksi, atau berisiko melakukan pelanggaran lagi atau membahayakan keselamatan umum DAN apabila tindakan yang membatasi kebebasan tersangka tidak cukup untuk menanggulangi risiko tersebut. Dalam setiap perkara diperintahkan penahanan tersangka, Hakim Investigasi harus menyediakan keterangan tertulis yang menjelaskan dasar dan alasan penahanan sesuai dengan ketentuan Bagian 20.7 dan 20.8 dari Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi.
37
Rekomendasi 8: Agar menjamin tersangka tidak “hilang” dalam sistem setelah surat perintah penahanan pertama dikeluarkan, prosedur-prosedur yang jelas dan terperinci perlu ditetapkan untuk mengatur apa yang harus dilakukan apabila surat perintah penahanan pertama kedaluwarsa dan tidak diperpanjang. Mungkin prosedur tersebut termasuk pihak penjara membebaskan tersangka secara otomatis tanpa diperlukan surat perintah lebih lanjut dari pengadilan. Mungkin prosedur tersebut mewajibkan Hakim Investigasi mencatat di buku harian waktu berakhirnya berlakunya surat perintah penahanan dan apabila jaksa tidak mengajukan permohonan perpanjangan penahanan atau surat perintah lain sebelum berakhirnya jangka surat perintah penahanan pertama, maka secara otomatis Hakim Investigasi mengeluarkan surat perintah pembebasan. Semestinya pembebasan tersangka setelah lewat jangka waktu surat perintah penahanan tidak tergantung pada langkah pro-aktif dari pihak jaksa atau pembela, meskipun langkah tersebut tetap menjadi tanggung jawab pihak jaksa dan pembela.
Rekomendasi 9: Apabila orang dalam penahanan dituduh melakukan tindak pidana yang diancam hukuman penjara yang tidak lebih dari lima tahun, maka jaksa wajib mengajukan surat dakwaan dan memohon pemeriksaan/persidangan yang cepat (expedited hearing) sebelum lewat 48 jam setelah tersangka ditangkap. Agar memastikan kewajiban tersebut dipenuhi, sebaiknya Hakim Investigasi hanya berwenang mengeluarkan surat perintah penahanan yang berlaku selama 48 jam dalam kasus tindak pidana yang diancam hukuman yang tidak lebih dari lima tahun.
Rekomendasi 10: Pemeriksaan Peninjauan Kembali seharusnya tidak disalahgunakan menjadi semacam “persidangan mini” yang berfungsi mengadili tersangka. Pada khususnya, sesuai dengan Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi, pada saat Pemeriksaan Peninjauan Kembali, hakim atau jaksa hanya boleh menanyakan tersangka apabila tersangka memilih memberi pernyataan. Hakim harus menjelaskan kepada tersangka bahwa tersangka tidak harus memberi pernyataan. Hakim juga harus menjelaskan kepada tersangka bahwa apabila tersangka memilih untuk tidak memberi pernyataan, maka tersangka tidak akan ditanyakan lagi dan pengadilan tidak akan mengambil kesimpulan tertentu apabila tersangka memilih untuk tidak memberi pernyataan. Tersangka hanya boleh ditanyakan tentang hal yang berkaitan dengan isi pernyataan tersangka. Tersangka tidak boleh ditanyakan secara umum tentang pelanggaran yang dituduhkan kepadanya.
Rekomendasi 11: Saksi hanya dipanggil ke Pemeriksaan Peninjauan Kembali dalam keadaan luar biasa, yaitu apabila pernyataan saksi yang dicatat sebelumnya kurang memadai untuk Hakim Investigasi mengambil keputusan yang berkaitan dengan hal-hal yang ditentukan dalam Bagian 20.7 dan Bagian 20.8 dari Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi. Rekomendasi ini dibuat dengan catatan bahwa korban berhak hadir atau diwakili dalam Pemeriksaan Peninjauan Kembali.
Rekomendasi 12: Hakim Investigasi hanya memerintahkan tindakan yang membatasi kebebasan tersangka apabila tindakan pembatas diperlukan untuk menjamin integritas barang bukti dan keselamatan saksi dan korban. Tindakan pembatas seharusnya tidak digunakan sebagai mekanisme sewenang-wenang untuk menghukum tersangka yang
dinyatakan melakukan pelanggaran ringan tetapi belum dituntut dengan surat dakwaan apalagi belum divonis bersalah. Perlu diterapkan prosedur sebagaimana ditentukan dalam Aturan Acara Pidana Pada Masa Transisi untuk pemeriksaan/persidangan yang dipercepat (expedited hearing) dalam kasus pelanggaran ringan.
Rekomendasi 13: Diperlukan klarifikasi mengenai peraturan yang menentukan apakah dan bagaimana Hakim Investigasi boleh memproses pengakuan bersalah yang diberikan tersangka pada saat Pemeriksaan Peninjauan Kembali. Jika ternyata Hakim Investigasi berwenang untuk mendengar pengakuan bersalah dan menentukan apakah pengakuan bersalah diterima atau ditolak, maka perlu ditingkatkan perlindungan atas hak-hak tersangka dengan menjamin tersangka mempunyai waktu cukup untuk berkonsultasi bersama penasehat hukumnya sebelum Pemeriksaan Peninjauan Kembali dilakukan. Juga diperlukan upaya untuk meningkatkan pengertian tersangka tentang haknya untuk tetap diam.
Rekomendasi 14: Untuk menjamin agar tersangka tidak ditahan lebih lama dari batas waktu 72 jam sebelum dibawa ke pengadilan, hari kerja Hakim Investigasi perlu dijadwalkan dengan sistem rotasi lima hari bekerja secara bergiliran supaya selalu ada hakim yang bertugas pada hari Sabtu dan Minggu. Juga diperlukan sistem rotasi kerja serupa untuk jaksa penuntut umum dan pembela umum supaya selalu ada jaksa dan penuntut umum yang siap bertugas pada hari Sabtu dan Minggu.
Rekomendasi 15: Apabila tersangka ditangkap tanpa surat perintah penangkapan dan kemudian dibebaskan oleh jaksa dengan alasan apapun, tersangka tidak boleh diharuskan datang ke pengadilan di kemudian hari untuk dihadapkan kepada Hakim Investigasi. Dalam keadaan demikian Hakim Investigasi tidak mempunyai yuridiksi untuk melakukan Pemeriksaan Peninjauan Kembali terhadap tersangka yang telah dibebaskan.