• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batasan-batasan aurat bagi muslimah dalam Islam

Yang membedakan antara perempuan Islam dengan perempuan kafir dan batas-batas antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Dalam syariat Islam menurut Syaikh al-Albâni dalam kitabnya Irwâ’ 1/297-298, dan Fatwa al-Lajnah ad-Dâimah, no. 2252, sebagai berikut:

1. Pertama aurat sesama lelaki

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para orang Ulama tentang batasan aurat sesama lelaki, baik dengan kerabat atau lain. Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah pendapat jumhur Ulama yang mengatakan bahwa aurat sesama lelaki adalah antara pusar sampai lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat sedangkan paha dan yang lainnya adalah aurat. [Lihat perkataan Syaikh al-Albâni

dalam kitabnya Irwâ’ 1/297-298, dan Fatwa al-Lajnah ad-Dâimah, no.

2252].

2. Aurat perempuan di hadapan laki-laki

menurut pendapat yang shahih, seluruh tubuh perempuan adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan. karena denganmulianya seorang perempuan adalah dengan menjaga auratnya dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Oleh karena agama Islam memberikan rambu-rambu batasan aurat perempuan yang harus di tutup dan tidak boleh ditampakkan. Para Ulama sepakat bahwa seluruh anggota tubuh perempuan adalah aurat yang harus di tutup, kecuali wajah dan telapak tangan.karena dengan berbusana muslimah secara sempurna maka dapat terhindar dari fitnah laki-laki.

Fenomena kehidupan manusia menetapkan hal ini. Sehingga anda akan mendapati seorang laki-laki yang berhias dengan berbagai busana dan hampir-hampir yang terlihat hanya wajah dan kedua telapak tangannya. Sedangkan perempuan berhias dengan ketelanjangan. Dengan berpakaian sesuai syariat Islam maka dengan pakaian tersebut mengangkat derajat manusia karena mengandung kemuliaan dan fitrah seorang perempuan.

D

. Hukum menutup aurat perempuan muslimah dalam Islam

Seorang perempuan wajib menutup aurat dan seluruh anggota tubuhnya. Kewajiban tersebut di tunjukkan dalam Al qur’an dan hadits yang suci. Di antara dalil-dalil Al qur’an yang menunjukkan wajibnya hijab adalah:

1. Q.S. An Nur[24] :30-31

“Dan katakanlah kepada para perempun yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganla menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya(auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka,

atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para relawan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keingina (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar di ketahui perhiasan yaang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(Kementrian Agama RI, :2013 :354)

Menurut Asy-Syahhat Ahmad Ath-Thahhan Wala’ Muhammad ayat di atas menunjukkan wajibnya hijab dari lima sisi, yaitu:

a. Apabilah seorang perempuan di perintahkan untuk menutupkan kain kerudung kedadanya, maka iapun di perintahkan untuk menutup wajahnya. Sebab hal tersebut menjadi salah satu konsekwensinya.

Apabilah seorang perempuan wajib mentup leher dan dadanya, maka ia lebih di perintahkan untuk menutup wajahnya. Sebab, wajah adalah pusat kecantikan dan fitnah. Orang-orang yang mencari kecantikan penampilan, maka ia pasti bertanya tentang kecantikan wajah. Jika wajahnya cantik, maka ia tidak melihat yang lainnya.

b. Firman Allah swt dalam terjemahnya: “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” yakni sesuatu yang pasti nampak, seperti bagian luar baju.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman.”kecuali yang (biasa) nampak daripadanya,” dan tidak berfirman, “kecuali yang mereka tampakkan,”

c. Larangan menampakkan perhiasan, kecuali di hadapan mahramnya. Hal ini menunjukkan bahwa hanya perhiasan zatiya bukanlah hal yang

pertama. Perhiasan yang pertama adalah perhiasan yang nampak bagi semua orang. Sedangkan perhiasan yang kedua adalah batiniyah yang hanya boleh di tampakkan bagi orang-orang khusus, mereka adalah suami dan karib kerabat.

d. Apabila seorang perempuan di larang menghentakkan kakinya karena khawatir menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki lantaran suara yang muncul dari gelang kakinya.

e. Pengkhususan pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan dengan di bolehkannya menampakkan perhiasan di hadapan mereka.

E

. Hadits-hadits tentang Menutup Aurat

Seorang perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa mengenakan jilbab karena hal itu bisa mengundang fitnah dan nafsu laki-laki.

Aurat perempuan kehormatan yang wajib di jaga, Rasulullah saw melakukan perjalanan safar selama sehari semalam kecuali jika di sertai mahramnya.”(HR al-Bukhari).

Hadis di atas mencerminkan betapa Islam melindungi dan menjaga kehormatan para perempuan. Hal ini semata-mata bertujuan untuk melindungi dan menjaga kehormatan perempuan, bukan mengekang kebebasan para perempuan sebagaimana yang di tuduhkan.

Allah swt telah menetapkan dalam berbagai nash syariah bahwa perempuan adalah barang berharga yang wajib di jaga. Penetapan ini sejatinya adalah penganugrahan martabat yang tinggi dan kedudukan yang mulia bagi perempuan. Bahkan Allah swt memandang perempuan tentu perempuan shalihah sebagai perhiasan yang amat berharga yang tidak ada tandingannya. ‘Abdullah ibn Amr ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“ Dari Abu Hurairah ra., berkata, Rasulullah Saw bersabda: dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah”(HR.

Muslim, an Nasa’i dan Ibnu Majah).

Hukum-hukum Islam terkait perempuan, sesungguhnya di tetapkan dengan maksud agar para perempuan menjadi para perempuan shalihah sehingga mereka menjadi perhiasan dunia terbaik sekaligus agar mereka menjadi terhormat. Salah satu tanda seorang muslim di katakan shalih atau shalihah adalah saat mereka menutup aurat secara sempurna. Ini karena

Islam memang telah mewajibkan seorang muslim, laki-laki maupun perempuan, untuk menutup aurat mereka rapat-rapat. Kewajiban menutup aurat ini telah di sebutkan di dalam Al qur’an Surah (07) :26 Allah swt berfirman:





َ

Terjemahnya:

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepada kaian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang leih baik.

Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat (Kementrian Agama RI, 20013 :154)

Pakaian perempuan muslimah yang merupakan bagian dari kepribadian perempuan muslimah itu sendiri dengan akal dan hatinya sehingga ia tetap sadar dan menyuburkan kebaikan, pakaian perempuan muslimah akan menjaga kemuliaan perempuan di setiap tempat. Menurut Ibnu Athiyah 1978 dalam kitabnya Tafsir Al Qurthubi (XII/229) Al Qurthubi berkata, ayat ini merupakan dalil atas kewajiban menutup aurat. Dalam hal ini, Allah swt telah menurunkan kepada para perempuan pakaian yang di gunakan untuk menutup aurat. Para ulama tidak berbeda pendapat dalam hal bagian tubuh mana yang termasuk aurat.

Menurut Imam asy- syaukani, fath al-Qadir, juz 2/200; kutub wa Rasaail, wa fatwa Ibnu Taimiyyah fi al-Fiqh,juz 21/174. jumhur ulama berpendapat bahwa ayat ini merupakan dalil atas kewajiban menutup aurat dalam setiap keadaan, walaupun dia seorang diri, sebagaimana yang tersebut di dalam sejumlah hadis shahih.

Dalam kitab Al muhadzdzab juga di nyatakan bahwa menutup aurat (satr al-‘awrat) dari pandangan mata adalah wajib.

Selain dalil al Qur’an (firman Allah swt di atas), dalam as-Sunnah juga terdapat sejumlah hadis yang menunjukkan kewajiban menutup aurat baik atas laki-laki maupun perempuan. Rasulullah saw pernah bersabda:

َهنَأ

“sesungguhnya Rasulullah saw penah bersabda:” janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah seorang wanita melihat aurat wanita lain. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki lain dalam satu selimut. Jangan pula seorang perempuan tidur dengan perempuan lain dalam satu selimut.” (HR Muslim, Abu dawud dan at Tirmidzi).

Imam al-Mubarakfuri 1989, Tuhfat al-Ahwadzi, syarh hadis no.2717.

Menyatakan bahwa hadis ini merupakan dalil atas keharaman seorang laki-laki melihat aurat laki-laki-laki-laki lain dan keharaman seorang perempuan melihat

aurat perempuan lain. Sebaliknya, seorang laki-laki haram melihat aurat perempuan dan perempuanpun haram melihat aurat laki-laki.

Selain itu, ada beberapa hadis berikut yang juga menjelaskan aurat dan batasannya. Aisya ra. Juga bersabda:

َ

“Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar pernah datang menemui Rasulullah saw., sedangkan ia mengenakan pakaian tipis. Rasulullah saw. Segera berpaling dari dia seraya bersabda,”Asma’, jika seorang wanita telah akil baligh, tidak boleh tampak dari dirinya kecuali ini dan ini beliau menunjuk pada wajah dan kedua telapak tangan”. (HR Abu Dawud)

Dari ayat di atas yang oleh nampak hanya muka dan kedua telapak tangan, tidak tipis dan transparan.

Bahkan al-Syāfi’iy mengeluarkan tesis sebagaimana dikutip Daniel W. Brown bahwa sunnah berdiri sejajar dengan Al-qur’an dalam hal otoritas karena “perintah Rasulullah adalah perintah Allah.”

Berbicara masalah jilbab tidak akan pernah lepas dari pembicaraan masalah perempuan dan kedudukannya. Sedangkan kajian tentang kedudukan perempuan dalam Islam termasuk dalam bidang yang sensitif;

karena persoalan perempuan adalah persoalan masyarakat, persoalan

masyarakat adalah persoalan umat dan negara. Pandangan masyarakat terhadap perempuan dari masa ke masa tidak lepas dari tiga macam, yakni:

pertama, masyarakat yang menghinakan kaum perempuan sebagaimana yang terjadi pada masyarakat jahiliyah, masyarakat Mesir kuno, dan lain-lain.

Kedua, masyarakat yang selalu memanjakan kaum perempuan, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat zaman kolonial Belanda di mana para perempuan cantik pada saat itu dipenuhi semua kebutuhannya yang dapat menambah kecantikannya, namun mereka hanya dijadikan sebagai barang permainan yang tidak boleh dinikahi serta tidak mendapatkan hak apapun. Ketiga adalah masyarakat yang menghendaki emansipasi yakni masyarakat yang menghendaki persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan.Di antara penghormatan Islam terhadap perempuan adalah dengan disyaria’atkannya berbusana bagi para muslimah, karena dengan demikian para perempuan tidak menjadi bahan “tontonan” kaum lelaki yang bukan mahram.

Namun akibat perkembangan zaman, terjadilah perubahan standar moral dalam kehidupan masyarakat sehingga dekadensi moral dan rusaknya perilaku umat tidak dapat dihindari. Salah satu kerusakan yang semakin hari semakin tampak adalah semakin jauhnya perilaku kehidupan wanita dari nilai-nilai keislaman. Dalam hal kewajiban berhijab atau berjilbab, banyak di antara muslimah dibuat rancu dengan penafsiran-penafsiran yang muncul

baik dari kalangan Islam sendiri maupun dari luar Islam. Sehingga benarlah perkataan az-Żahabi dalam kitab Siyar A’lamin Nubala, sebagaimana dikutip Salim bin I’d al-Hilaliy bahwa hati itu lemah sedang syubhat adalah pencuri.

Banyak sekali tulisan yang mengulas masalah hijab ataupun jilbab perempuan muslimah dengan berbagai pendekatan dari berbagai latar belakang intelektual dan mażhab penulisnya.

Di sebutkan oleh ar-Rafi’i dalam syarh-nya (IV/92,105 syarhul muhadzdzab) Syaikh al-Albāniy mengatakan bahwa: Pembahasan seputar jilbab muslimah merupakan hal yang sangat penting karena telah banyak wanita yang notabene muslimah terpedaya dengan peradaban Eropa. Para muslimah ini akhirnya bersolek dengan cara “jahiliyah pertama” dan menampakkan anggota tubuh mereka yang sebelumnya mereka malu untuk menampakkannya kepada bapak dan mahramnya. Fenomena inilah yang mendorong penulis untuk melakukan kajian tentang pakaian muslimah (baca: jilbab) dengan membuat beberapa syarat jilbab yang sesuai dengan syariat. Syarat-syarat tersebut beliau buat agar muslimah mempunyai pegangan yang jelas tentang pakaian yang sesuai dengan maksud syar’i meskipun sebagian syarat yang beliau buat tidaklah mutlak hanya untuk para perempuan muslimah tetapi juga bagi laki-laki muslim.

Adapun turunnya ayat mengenai kewajiban berjilbab bagi wanita muslimah sendiri dikarenakan semasa dakwah Nabi di Madinah, banyak

sekali para perempuan yang digoda serta diganggu oleh orang-orang fasik,ketika mereka diperingatkan mengenai perlakuan mereka tersebut, maka mereka menjawab, “kami mengira mereka adalah para budak perempuan (Jaman itu perbudakan masih ada, meski Islam telah menyerukan persamaan hak bagi kaum perempuan).”Allah swt berfirman dalam Qur’an surat (33) :59.





Terjemahnya:

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.“(Kementrian Agama RI, 2013 :427)

Ayat ini terletak dalam al-qur’an bertepatan setelah larangan menyakiti orang-orang mukminyang berarti sangat selaras dengan ayat sesudahnya, sebab dengan berjilbab paling tidak dapat meminimalisir pandangan laki-laki kepada perempuan bukan mahramnya atau yang boleh dinikahi olehnya. Dan juga sudah menjadi fitrah manusia, baik itu laki-laki dan perempuan bahwa dipandang dengan baik oleh orang lain adalah lebih menyenangkan hati, ketimbang dipandang dengan keburukan yang

berorientasi kepada keburukan pula. Namun seiring dengan adanya sifat manusiawi ini, Islam datang membawa norma serta ajaran-ajarannya untuk mengarahkan sifat manusiawi para manusia ini agar menjadi lebih manusiawi dengan seluruh kebenarannya.

Pada akhirnya yang terpenting bagi umat Islam terlebih khusus umat muslim dan para muslimah Indonesia adalah ketika telah rela segenap jiwa raga untuk memeluk agama Islam, maka disitu terletak dipundak kita sebuah kewajiban untuk mengamalkan ajaran agama Islam. Kadang mungkin terpikir keraguan oleh sebagian kaum muslimah Indonesia untuk mengenakan jilbab, karena apa yang terlihat pada kenyataannya di masyarakat, bahwa tidak sedikit perempuan yang telah memakai jilbab malah bersikap buruk kepada lingkungan sekitarnya atau memiliki kepribadian yang tidak baik.

Di sinilah dibutuhkan sikap kebijaksanaan kita sebagai penganut agama Islam agar tidak menilai sesuatu dari luarnya saja, akan tetapi juga dari sisi batiniyahnya. Kalau kita yakin Islam adalah yang benar, lantas jangan menyalahkan ajaran agamanya sementara pribadi kita sendiri masih belum sesuai dengan ajaran agama Islam. Keimanan manusia berbeda-beda juga ketika memeluk suatu agama, demikian juga konsistensi umat dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing bermacam-macam tingkatnya. Ada yang taat, ada yang sering melalaikan, ada yang

setengah-setengah, dan lain sebagainya, itu semua kembali kepada pribadi manusianya, bukan agamanya. Memang untuk menjadi ini dan itu tidak diperlukan simbol-simbol, cukup apa yang tersimpan dalam hati yaitu kepercayaan kepada Allah yang haq. Tetapi seharusnya kita juga menyadari bahwa berdirinya agama tidak hanya berdasar pada satu pondasi saja, selain pondasi keimanan tetapi di sana terdapat rukun serta tiang-tiang agama yang lain yang wajib di laksanakan. Jangan biarkan prasangka buruk yang menguasai, sehingga curiga kepada sang Ilahi. Yakinlah dibalik segala perintahnya terdapat hikmah besar yang dapat kita raih.

BAB III

Dokumen terkait