• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PENDEKATAN STUDI

4.6. Batasan dan Pengukuran

(1) Kemandirian perempuan pengolah hasil perikanan adalah perwujudan

kemampuan perempuan pengolah untuk memanfaatkan potensi dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang dicirikan oleh kemampuan dan kebebasan mereka dalam menentukan pilihan terbaik. Tingkat kemandirian dalam penelitian ini diukur berdasarkan :

ϖ Pengontrolan terhadap usahanya (mengontrol harga produk, proses pengolahan dan pengawasan keamanan), akses terhadap sumberdaya (informasi, input dan kredit), keterlibatan dalam perencanaan kegiatan usaha (adanya sumberdaya manusia dan upah), keterlibatan dalam pengambilan keputusan (pembelian input, proses pengolahan dan pemasaran), kemampuan teknis pengolahan ikan, dan manfaat yang diperoleh dari usaha penolahan ikan. Klasifikasi tingkat kemandirian ditentukan berdasarkan hasil deskriptif statistik dengan menggunakan nilai minimum 29 sebagai skor terendah dan nilai maksimum 35 sebagai skor tertinggi, sehingga dapat diketahui mean (nilai tengah) dan standar deviasinya, kemudian dibagi menjadi tiga ketegori, yaitu :

(a) Rendah (skor 29-30) (b) Sedang (skor 31-34) (c) Tinggi (skor 35)

ϖ Kemampuan perempuan pengolah dalam mengontrol terhadap usahanya

dijabarkan dalam 3 pertanyan, baik mengontrol harga produk, proses pengolahan dan pengawasan keamanan. Nilai minimum 7 sebagai skor terendah dan nilai maksimum 9 sebagai skor tertinggi dengan mean 8,73, kemudian dibagi ke dalam 3 kategori :

(a) Rendah (skor 7,00-8,45) (b) Sedang (skor 8,46-8,99) (c) Tinggi (skor 9,00)

ϖ Kemampuan perempuan pengolah terhadap akses sumberdaya

dijabarkan dalam 3 pertanyaan, baik akses informasi, input maupun kredit. Kemampuan dalam mengakses informasi dilihat dari keaktifan perempuan pengolah dalam mencari informasi yang dibutuhkan dalam

usahanya, kemampuan dalam mengakses input dilihat dari seberapa dekat atau jauh jarak antara tempat tinggal responden dengan sumber input (dalam hal ini ikan), dan kemampuan perempuan pengolah dalam mengakses atau memperoleh kredit terutama mendapatkan bantuan dari bank keliling. Kemampuan dalam mengakses sumberdaya dengan nilai minimum 5 sebagai skor terendah dan nilai maksimum 8 sebagai skor tertinggi dengan mean 6,54, kemudian dibagi menjadi 3 kategori : (a) Rendah (skor 5,86-5,95)

(b) Sedang (skor 5,96-7,13) (c) Tinggi (skor 7,14-8,00)

ϖ Keterlibatan perempuan pengolah dalam perencanaan kegiatan usaha

dijabarkan dalam 2 pertanyaan yang terdiri dari pengadaan sumberdaya manusia dan upah. Dalam hal ini, keterlibatan perempuan pengolah dalam perencanaan kegiatan usaha dengan nilai minimum 5 sebagai skor terendah dan nilai maksimum 6 sebagai skor tertinggi dengan mean 5,96, kemudian dibagi ke dalam 3 kategori :

(a) Rendah (skor 5,00-5,85) (b) Sedang (skor 5,86-5,99) (c) Tinggi (skor 6,00)

ϖ Keterlibatan perempuan pengolah dalam pengambilan keputusan

dijabarkan dalam 3 pertanyaan, untuk pembelian input, proses pengolahan dan pemasaran dilihat dari seberapa besar campur tangan mereka terhadap pengelolaan usahanya dalam mengambil keputusan tersebut. Keterlibatan perempuan pengolah dalam pengambilan keputusan dengan nilai mnimum 6 sebagai skor terendah dan nilai maksimum 9 sebagai skor tertinggi dengan mean 8,81, kemudian dibagi ke dalam 3 kategori :

(a) Rendah (skor 6,00-8,49) (b) Sedang (skor 8,50-8,89) (c) Tinggi (skor 9,00)

ϖ Kemampuan teknis dalam pengolahan ikan diukur berdasarkan

ikan menjadi produk baru, dengan nilai minimum sama dengan nilai maksimum yaitu 3 dengan skor tinggi.

ϖ Manfaat yang diperoleh dari usaha pengolahan ikan diukur berdasarkan hasil yang diperoleh perempuan pengolah untuk meningkatkan

pendapatan rumah tangganya, dengan nilai minimum sama dengan nilai maksimum yaitu 3 dengan skor tinggi.

(2) Faktor internal dan faktor eksternal perempuan pengolah hasil perikanan. Faktor internal adalah berbagai indikator yang berasal dari dalam diri perempuan pengolah yang berasal dari faktor-faktor yang berhubungan dengan demografi. Sedangkan faktor eksternal adalah berbagai indikator yang dapat dijadikan sebagai acuan yang dapat mempengaruhi kemandirian perempuan pengolah yang berasal dari luar dirinya. Faktor internal

perempuan pengolah hasil perikanan yaitu :

ϖ Umur adalah usia responden pada saat penelitian dilakukan yang dihitung sejak lahir hingga saat penelitian dilaksananakan dan dinyatakan dalam tahun, dengan umur minimum 25 tahun dan umur maksimum 60 tahun dengan mean (nilai tengah) 38,23 tahun, kemudian dikategorikan ke dalam 3 kategori :

(a) Rendah (skor 25,00-34,12) (b) Sedang (skor 34,13-42,33) (c) Tinggi (skor 42,34-60,00)

ϖ Lamanya pendidikan adalah jenjang pendidikan yang pernah ditempuh

oleh responden, yang dihitung dari 0 tahun yang berarti ada sebagian dari perempuan pengolah yang tidak pernah sekolah (buta huruf) sampai jenjang pendidikan SLTA/MA selama 12 tahun, dengan mean 4,27 yang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

(a) Rendah (skor 0,00-2,53) (b) Sedang (skor 2,54-6,00) (c) Tinggi (skor 6,01-12,00)

ϖ Jumlah anggota keluarga adalah jumlah seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggungan suami perempuan pengolah termasuk dirinya, sehingga dia mau bekerja membantu suaminya dalam mencari tambahan

penghasilan dengan penghitungan jumlah anggota keluarga mulai 2 orang sampai 14 orang dengan mean 5,35 yang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

(a) Rendah (skor 2,00-4,00) (b) Sedang (skor 4,01-6,69) (c) Tinggi (skor 6,70-14,00)

ϖ Motivasi berusaha perempuan pengolah adalah usaha yang dapat

membangkitkan dorongan tingkah laku untuk mengikuti kegiatan pengolahan ikan. Motivasi berusaha perempuan pengolah dengan nilai minimum 2 dan nilai maksimum 3, dengan mean 2,31, kemudian dibagi menjadi tiga kategori :

(a) Rendah (skor 2,00-2,06) (b) Sedang (skor 2,07-2,55) (c) Tinggi (skor 2,56-3,00)

ϖ Pengalaman berusaha adalah lamanya perempuan pengolah dalam

menjalankan usahanya di bidang perikanan yang dinyatakan dalam tahun, mulai dari yang paling sebentar 0,16 tahun (2 bulan) sampai pengalaman usaha yang paling lama selama 35 tahun, dengan mean 9,37 tahun dan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

(a) Rendah (skor 0,16-5,16) (b) Sedang (skor 5,17-13,56) (c) Tinggi (skor 13,57-35,00)

ϖ Tingkat kekosmopolitan adalah keterbukaan perempuan pengolah

terhadap dunia luas yang diukur berdasarkan jumlah kegiatan perempuan pengolah dalam mendengar/melihat siaran radio/TV, bepergian ke luar kecamatan dan kabupaten atau provinsi serta frekuensi perempuan pengolah untuk berkomunikasi dengan lingkungannya di sela-sela kesibukannya. Tingkat kekosmopolitan dijabarkan dalam 4 pertanyaan, dengan nilai minimum 4 dan nilai maksimum 10 dengan mean 6,04 dan dibagi menjadi tiga kategori :

(a) Rendah (skor 4,00-5,30) (b) Sedang (skor 5,31-6,77) (c) Tinggi (skor 6,78-10,00)

ϖ Pendapatan perempuan pengolah hasil perikanan merupakan nilai yang

diperoleh dari hasil usahanya secara bersih yang telah dikurangi dengan modal usaha yang dihitung dalam rupiah/tahun, yang diambil dari data primer responden dengan pendapatan yang terendah Rp1.440.000,00 per tahun sampai yang tertinggi sebesar Rp54.000.000,00 per tahun dengan mean Rp15.000.000,00 per tahun dan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu : (a) Rendah (Rp1.440.000,00 - Rp7.682.900,00)

(b) Sedang (Rp7.682.930,88 - Rp29.634.138,23) (c) Tinggi (Rp29.634.200,00 - Rp54.000.000,00) Faktor eksternal perempuan pengolah hasil perikanan yaitu :

ϖ Dukungan sarana dan prasarana usaha adalah berbagai sarana yang dapat dimanfaatkan perempuan pengolah dalam menunjang usahanya seperti dukungan teknologi pengolahan dan keterjangkauannya,

penyerapan pasar terhadap komoditi dan dukungan serta keterjangkauan transportasi. Dukungan ini dijabarkan dalam 6 pertanyaan, masing-masing diberi skor 1-3, dengan skor terendah 10 dan skor tertinggi 15 dengan mean 12,08 dan diklasifikasi dengan kategori :

(a) Rendah (skor 10,00-11,42) (b) Sedang (skor 11,43-12,73) (c) Tinggi (skor 12,74-15,00)

ϖ Dukungan kelembagaan adalah berbagai bentuk kelembagaan yang

dapat dimanfaatkan perempuan pengolah untuk menunjang kegiatan usahanya, misalnya lembaga penyedia sarana produksi dan

keterjangkauan terhadap lembaga tersebut, dukungan dari bank terutama bank keliling yang berfungsi memberikan pinjamaan dan

keterjangkauannya, serta dukungan lembaga kesehatan dan keterjangkauannya. Dukungan kelembagaan dijabarkan dalam 6 pertanyaan, dengan skor 1-3, dengan skor terendah 8 dan skor tertinggi 16 dengan mean 12,15, dan diklasifikasi dengan kategori :

(a) Rendah (skor 8,00-10,98) (b) Sedang (skor 10,99-13,31) (c) Tinggi (skor 13,32-16,00)