• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.4 Defenisi dan Batasan Operasional

3.4.2 Batasan Operasional

1. Daerah penelitian adalah di Sumatera Utara.

2. Sampel penelitian adalah data bawang merah yakni data time series bulanan dari tahun 2010-2014.

3. Waktu penelitian adalah Februari 2017.

BAB IV

DESKRIPSI PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah

4.1.1 Kondisi Geografis Provinsi Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara berada di bagian Barat Indonesia, terletak pada garis 1°-4° Lintang Utara dan 98°-100° Bujur Timur. Luas daratan Provinsi Sumatera Utara adalah 71.680,68 km2. Secara administratif, Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 25 Kabupaten dan 8 Kota dan memiliki batas wilayah sebagai berikut :

Utara : Provinsi Aceh

Selatan : Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat Barat : Samudera Hindia

Timur : Negara Malaysia di Selat Malaka

Berdasarkan topografi wilayah Provinsi Sumatera Utara dibagi atas 3 daerah, yaitu :

1. Pantai Barat terdiri dari Kabupaten : Nias, Nias Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Padang Sidempuan.

2. Dataran Tinggi Bukit Barisan terdiri dari Kabupaten : Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, Dairi, Karo, Humbang Hasundutan dan Pakpak Barat.

3. Pantai Timur terdiri dari Kabupaten : Labuhan Batu, Asahan, Deli Serdang, Langkat, Kota Medan dan Kota Binjai.

Karena terletak dekat dengan garis Khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai 34,6 °C, sebagian daerah

berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada di daerah ketinggian yang suhunya minimal bisa mencapai 13,7 °C.

Sebagaimana Provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara mempunyai musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Juni sampai dengan September, dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Maret, diantara kedua musim itu diselingi dengan musim pancaroba.

Kelembapan udara rata-rata 79%-90% dengan curah hujan (800-4000) mm/tahun dan penyinaran matahari 56%.

4.1.2 Rasio Kepadatan Penduduk

Provinsi Sumatera Utara memiliki luas wilayah 71.680,68 km2. Pada tahun 2014 jumlah penduduk untuk wilayah Sumatera Utara mencapai 13.766.851 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 189 jiwa/km2. Berikut terdapat tabel mengenai luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Utara tahun 2014.

33

Tabel 4.1 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Provinsi Sumatera Utara Tahun 2014 Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Berdasarkan Tabel 4.1, wilayah terluas di Provinsi Sumatera Utara berada di daerah Langkat sebesar 6.262,00 km2, dengan jumlah penduduk 1.005.965 jiwa.

Kepadatan penduduk di daerah Langkat mencapai 161 jiwa/km2. Sedangkan wilayah terkecil untuk Provinsi Sumatera Utara dimiliki oleh Kota Tebing Tinggi dengan luas

wilayah 31,00 km2, dengan jumlah penduduk 154.804 jiwa. Kepadatan penduduk untuk Kota Tebing Tinggi mencapai 4.994 jiwa/km2.

Perkembangan penduduk untuk wilayah Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat dari jumlah penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin. Berikut terdapat tabel mengenai jumlah penlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin tahun 2014. Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Berdasarkan Tabel 4.2, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk tertinggi untuk wilayah Provinsi Sumatera Utara terdapat jenis kelamin perempuan sebesar 6.898.264 jiwa. Jumlah penduduk tertinggi berada pada golongan umur 0-4 tahun sebesar 1.576.245 jiwa dengan jumlah laki-laki sebesar 802.375 jiwa dan jumlah perempuan sebesar 773.870 jiwa. Sedangkan untuk jumlah penduduk terendah terdapat pada golongan umur 60-64 tahun sebesar 359.193 jiwa dengan jumlah laki-laki 174.601 jiwa dan jumlah perempuan 184.592 jiwa.

35

4.1.3 Perekonomian Provinsi Sumatera Utara

Perkembangan ekonomi daerah adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja dan pemerataan pembagian masyarakat. Peranan dan konstribusi sektor ekonomi dalam menciptakan nilai tambah dan menggambarkan kemampuan produksi barang dan jasa dari masing-masing sektor ekonomi. Untuk mengetahui struktur ekonomi Provinsi Sumatera Utara, maka dapat dilihat kontribusi dari setiap sektor dalam pembentukan PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga yang berlaku.

Tabel 4.3 Struktur Perekonomian Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2014 (persen)

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Berdasarkan Tabel 4.3, menyatakan kondisi Provinsi Sumatera Utara dari segi ekonomi pada tahun 2010-2014 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setiap

tahun terus meningkat. Provinsi Sumatera Utara mampu menghasilkan PDRB sebesar 275.700 persen pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 448.332 persen pada tahun 2014. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan pemberi konstribusi terbesar kedua terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara sebesar 63.182 persen di tahun 2010 dan meningkat menjadi 105.119 persen pada tahun 2014. Berdasarkan struktur ekonomi yang dilihat dari lapangan usaha, industri pengelohan merupakan lapangan usaha yang memberikan konstribusi terbesar dibandingkan dengan lapangan usaha lainnya yaitu mencapai 63.293 persen pada tahun 2010 dan terus meningkat hingga tahun 2014 menjadi 104.224 persen. Sedangkan untuk kontribusi rendah diberikan oleh listrik, gas dan air bersih sebesar 2.610 persen pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 3.916 persen pada tahun 2014.

4.2 Deskripsi Variabel Penelitian

Berdasarkan judul penelitian yang akan diteliti, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga bawang merah di Sumatera Utara yaitu produksi bawang merah, jumlah impor bawang merah, permintaan bawang merah dan harga bawang merah sebelumnya. Adapun perkembangan dari setiap faktor-faktor yang digunakan yaitu :

4.2.1 Harga Bawang Merah

Harga bawang merah di Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus meningkat.

Hal ini dikarenakan tingkat konsumsi yang terus meningkat sedangkan pasokan bawang merah masih rendah sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan bawang merah bagi masyarakat. Peningkatan harga bawang merah dapat dilihat pada tabel harga bawang merah di Sumatera Utara pada tahun 2010-2014.

37

Tabel 4.4 Harga Bawang Merah di Sumatera Utara Tahun 2010-2014

Tahun Harga

(Rp/Kg)

2010 11.340

2011 12.650

2012 11.257

2013 24.194

2014 38.499

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Berdasarkan Tabel 4.4, dapat dilihat bahwa harga bawang merah tertinggi di Sumatera Utara terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar Rp 38.499/kg. Sedangkan untuk harga terendah terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar Rp 11.257/kg. Perkembangan harga bawang merah juga dapat dilihat pada gambar 4.1, dimana terjadi peningkatan harga bawang merah di Sumatera Utara dari tahun 2008 sampai tahun 2014.

Harga Bawang Merah

Gambar 4.1 Perkembangan Harga Bawang Merah di Sumatera Utara 2008-2014

Dimana harga bawang merah di Sumatera Utara terus meningkat dari tahun 2008 hingga tahun 2014, walaupun terjadi penurunan harga bawang merah pada tahun

2009 dan tahun 2012. Puncak kenaikan harga bawang merah terjadi pada tahun 2014 sebesar Rp 38.499/kg.

4.2.2 Produksi Bawang Merah

Menurut Sugeng (2000), produktivitas bawang merah di Indonesia sebagai salah satu sumber yang belum memenuhi kebutuhan karena jumlahnya masih jauh dibawah target yang diperlukan konsumen. Faktor penentu ketersediaan bawang merah adalah produksi bawang merah. Sebagian besar produksi di Indonesia sekitar 50 % masih dilakukan oleh petani rakyat.

Tabel 4.5 Produksi Bawang Merah di Sumatera Utara Tahun 2010-2014 Tahun Produksi Bawang Merah

(Ton/Tahun)

2010 9.413

2011 12.449

2012 14.156

2013 8.305

2014 7.810

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Produksi bawang merah yang meningkat setiap tahunnya dipengaruhi oleh luas panen yang dihasilkan, jumlah penduduk serta tingkat konsumsi bawang merah di suatu wilayah. Sedangkan produksi bawang merah yang menurun setiap tahunnya juga dipengaruhi oleh luas panen yang dihasilkan maupun faktor lain yang mempengaruhinya seperti iklim, cuaca maupun serangan hama dan penyakit. Untuk di Sumatera Utara produksi tertinggi berada di dengan jumlah sebesar pada tahun 2014.

Berdasarkan Tabel 4.5, produksi bawang merah tertinggi untuk wilayah Sumatera Utaraterjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 14.156 ton. Sedangkan untuk produksi terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 7.810 ton.

39

4.2.3 Jumlah Impor Bawang Merah

Kebutuhan bawang merah di setiap daerah khususnya Sumatera Utara setiap tahunnya terus meningkat. Kebutuhan bawang merah di Sumatera Utara terus berfluktuasi dan produksi bawang merah masih belum mampu memenuhi konsumsi bawang merah. Kebutuhan ini tidak hanya mengandalkan petani bawang merah. Jadi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah melakukan kebijakan dengan mengimpor bawang merah.

Tabel 4.6 Impor Bawang Merah di Sumatera Utara Tahun 2010-2014

Tahun Impor Bawang Merah

(Ton)

2010 26,9

2011 734,3

2012 8.931,9

2013 21.876,5

2014 15.684,5

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Berdasarkan Tabel 4.6, adapun jumlah pasokan impor bawang merah yang tertinggi untuk wilayah Sumatera Utara terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 21.876,5 ton/tahun. Sedangkan untuk jumlah pasokan impor bawang merah yang terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 26,9 ton/tahun.

4.2.4 Permintaan Bawang Merah

Bawang merah merupakan bahan makanan yang mengandung zat gizi serta bermanfaat sebagai vitamin, mineral dan antioksidan. Bawang merah memiliki citarasa yang khas yang tidak dimiliki jenis bawang lainnya. Permintaan bawang merah meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk, pendapatan seseorang serta kesadaran konsumen terhadap kandungan yang dimiliki bawang merah.

Tabel 4.7 Permintaan Bawang Merah di Sumatera Utara Tahun 2010-2014 Tahun Permintaan Bawang Merah

(Ton)

2010 35.771

2011 38.681

2012 41.670

2013 42.580

2014 44.935

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2014

Berdasarkan Tabel 4.7, dapat dilihat bahwa jumlah konsumsi bawang merah tertinggi pada Provinsi Sumatera Utara terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 44.935 ton/tahun. Sedangkan untuk konsumsi terendah terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 35.771 ton/tahun.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Bawang Merah di Sumatera Utara

Dalam teori ekonomi, harga keseimbangan terjadi jika jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta. Penawaran menunjukkan jumlah barang yang bersedia dijual oleh produsen pada tingkat harga yang diterimanya di pasar. Sedangkan permintaan menyatakan berapa banyak konsumen bersedia membeli karena harga per unit berubah. Perubahan penawaran akan menyebabkan berubahnya harga dalam arah yang berlawanan dengan asumsi permintaan tetap. Apabila permintaan tetap, kenaikkan penawaran akan menyebabkan penurunan harga (Pyndick, 2003).

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis produksi bawang merah, impor bawang merah, permintaan bawang merah dan harga bawang merah tahun sebelumnya berpengaruh terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara. Tingkat penawaran ditentukan dari jumlah produksi bawang merah dan impor bawang merah.

Sedangkan permintaannya ditentukan dari tingkat permintaan bawang merah berdasarkan jumlah konsumsi bawang merah dengan jumlah penduduk di Sumatera Utara.

Tabel 5.1 Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Bawang Merah di Sumatera Utara

Penduga Koefisien Signifikan Signifikan Regresi T F

Constant 51,465 0,726

X1 = Produksi Bawang Merah - 0,137 0,854 X2 = Jumlah Impor Bawang Merah 0 0 X3 = Permintaan Bawang Merah 0,028 0,972 X4 = Harga Bawang Merah Bulan Sebelumnya 1,018 0,000

R2 = 0,999 0,000

Sumber : Diperoleh dari hasil analisis regresi Lampiran 6 dan 7

Berdasarkan persamaan pada metode analisis data yang digunakan sebagai variabel bebas terdiri dari produksi bawang merah (X1), jumlah impor bawang merah (X2), permintaan bawang merah (X3) dan harga bawang merah bulan sebelumnya (X4). Variabel-variabel independen (bebas) tersebut akan dilihat seberapa besar pengaruhnya terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara sebagai variabel dependen (terikat).

Berdasarkan Tabel 5.1, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut : Ŷ = 51,465 – 0,137 X1 + 0 X2 + 0,028 X3 + 1,018 X4 + e

Dari persamaan diperoleh nilai konstanta sebesar 51,465, nilai ini

menunjukkan bahwa harga bawang merah di Sumatera Utara sebesar Rp 51,465/kg apabila tidak dipengaruhi oleh produksi bawang merah (X1), jumlah

impor bawang merah (X2), permintaan bawang merah (X3) dan harga bawang merah bulan sebelumnya (X4).

Berdasarkan persamaan tersebut, maka diinterpretasikan pengaruh produksi bawang merah, impor bawang merah, permintaan bawang merah dan harga bawang merah bulan sebelumnya terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara adalah sebagai berikut :

1. Produksi Bawang Merah (X1)

Berdasarkan hasil penelitian produksi bawang merah memiliki nilai koefisien regresi sebesar – 0,137, artinya nilai ini menunjukkan ketika produksi meningkat sebesar 1 ton, maka harga bawang merah di Sumatera Utara akan menurun sebesar Rp 1 per kg, dimana faktor lain dianggap tetap. Dalam teori ekonomi, produksi berpengaruh negatif terhadap harga. Ketika produksi bawang merah meningkat, maka harga bawang merah akan menurun. Berarti jumlah ketersediaan bawang merah di

43

Sumatera Utara mampu memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat. Sebaliknya, ketika produksi bawang merah menurun, maka harga bawang merah akan meningkat.

2. Jumlah Impor Bawang Merah (X2)

Untuk jumlah impor bawang merah nilai koefisien regresi sebesar 0, artinya nilai ini menunjukkan ketika impor bawang merah naik sebesar 1 ton, maka harga bawang merah di Sumatera Utara akan meningkat sebesar Rp 0 per kg, dimana faktor lain dianggap tetap. Dalam teori ekonomi, jumlah impor berpengaruh negatif terhadap harga. Dengan melakukan impor bawang merah berarti jumlah bawang merah tersedia dan ini mempengaruhi ketersediaan bawang merah di Sumatera Utara. Ketika jumlah impor bawang merah meningkat, maka harga bawang merah akan menurun.

Sebaliknya ketika jumlah impor bawang merah menurun, maka harga bawang merah akan meningkat. Adanya kebijakan impor bawang merah membuat harga bawang merah juga ikut meningkat. Namun, ketersediaan bawang merah impor belim mampu mengendalikan kenaikan harga bawang merah. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan kuota impor bawang merah. Pembatasan kuota diharapkan dapat melindungi petani rakyat dari bawang merah impor dengan kualitas bawang merah yang lebih baik. Harga bawang merah terus menigkat setelah memberlakukan penurunan kuota impor.

3. Permintaan Bawang Merah (X3)

Pada permintaan bawang merah nilai koefisien regresi sebesar 0,028, artinya nilai ini menunjukkan ketika permintaan bawang merah meningkat sebesar 1 ton, maka harga bawang merah akan meningkat sebesar Rp 28 per kg, dimana faktor lain dianggap konstan. Dalam teori ekonomi, permintaan memiliki pengaruh positif terhadap harga. Ketika permintaan bawang merah meningkat, maka harga bawang

merah juga akan meningkat. Sebaliknya ketika permintaan bawang merah menurun, maka harga bawang merah juga akan menurun. Umumnya, permintaan bawang merah meningkat pada hari-hari besar keagamaan seperti menjelang bulan puasa dan hari raya.

4. Harga Bawang Merah Bulan Sebelumnya (X4)

Pada harga bawang merah tahun sebelumnya nilai koefisien regresi sebesar 1,018, artinya nilai ini ketika harga bawang merah bulan sebelumnya meningkat sebesar 1 ton, maka harga bawang merah di Sumatera Utara juga akan meningkat sebesar Rp 1,018 per kg, dimana faktor lain dianggap tetap.

5.1.1 Uji Koefisien Determinasi

Dari tabel (Lampiran 5) diperoleh nilai R-square (R2) sebesar 0,999. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas (produksi bawang merah, impor bawang merah, permintaan bawang merah dan harga bawang merah bulan sebelumnya) mampu menjelaskan variabel terikat (harga bawang merah di Sumatera Utara) sebesar 99,9 persen, sedangkan 0,5 persen dipengaruhi oleh faktor lain di luar dari model persamaan.

5.1.2 Uji F (Uji Simultan)

Berdasarkan Lampiran 6, diperoleh nilai signifikan F sebesar 0,000 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian, H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas secara serempak memiliki pengaruh secara nyata terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara.

5.1.3 Uji t (Uji Parsial)

Berdasarkan Lampiran 7, diperoleh nilai signifikan t :

45

1. Produksi Bawang Merah (X1)

Produksi bawang merah (X1) diperoleh sebesar 0,137 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian H1 diterima dan H0

ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh produksi bawang merah terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara adalah tidak nyata.

2. Impor Bawang Merah (X2)

Impor bawang merah (X2) diperoleh sebesar 0 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh impor bawang merah terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara adalah nyata. Impor bawang merah mempengaruhi jumlah produksi bawang merah. Berarti semakin meningkatnya impor bawang merah mempengaruhi ketersediaan bawang merah.

3. Permintaan Bawang Merah (X3)

Permintaan bawang merah (X3) diperoleh sebesar 0,028 yaitu lebih besar dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian H0 diterima dan H1

ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh permintaan bawang merah terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara adalah nyata.

4. Harga Bawang Merah Bulan Sebelumnya (X4)

Berdasarkan hasil penelitian harga bawang merah tahun sebelumnya (X4) sebesar 1,018 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh harga bawang merah bulan sebelumnya terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara adalah nyata.

5.2 Uji Asumsi Klasik 5.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah variabel pengganggu (e) memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dapat dilihat dari posisi normal sebaran data dengan menggunakan standart deviasi dari histogram, Normal P-P Plot Regression Standardized Residual dan menggunakan uji One-Sample Kolmogorof-Smirnov.

Gambar 5.1 Histogram

Berdasarkan histogram di atas, terlihat bahwa rata-rata residual sama dengan nol. Kemudian variabel mendekati 1 dan histogram memiliki kurva yang simetris, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa model terdistribusi normal.

47

Gambar 5.2 Normal P-P Plot Regression Standardized Residual

Jika dilihat dari Gambar 5.2, plot (gradient antar probabilitas kumulatif observasi dan probabilitas kumulatif harapan) berada di sepanjang garis, maka residual mengikuti distribusi normal.

5.2.2 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi adalah keadaan dimana variabel pengganggu pada periode tertentu berkorelasi dengan variabel pengganggu pada waktu lain. Uji autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Dawson (DW). Berdasarkan hasil regresi, maka diperoleh nilai DW (Durbin Dawson) sebesar 1,742. Untuk melihat apakah dalam model regresi tersebut terjadi gejala autokorelasi atau tidak. Cara yang dilakukan yaitu dengan membandingkan antara nilai DW dengan nilai dU (nilai batas atas) dan dL (nilai batas bawah). Penentuan nilai dL dan dU dilakukan berdasarkan jumlah sampel dan jumlah variabel bebas yang digunakan dalam model regresi. Dalam penelitian ini model regresi 60 sampel data dan 4 variabel bebas, maka diperoleh nilai dL sebesar 1,44 dan nilai dU sebesar 1,73.

Berdasarkan hasil perolehan nilai DW, dL, dan dU diketahui bahwa nilai DW terletak diantara 4-dU dan 4-dL. Dengan demikian, maka tidak dapat ditarik kesimpulan yang pasti.

5.2.3 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan VIF dari masing-masing variabel di bawah ini :

Tabel 5.2 Nilai Coefficient dan VIF

Variabel Tolerance VIF

Produksi Bawang Merah 0,012 81.081 Impor Bawang Merah 0 0 Permintaan Bawang Merah 0,011 88.056 Harga Bawang Merah Tahun Sebelumnya 0,521 1.920 Sumber : Diperoleh dari hasil analisis regresi Lampiran 7

Berdasarkan Tabel 5.2, nilai Tolerance dari masing-masing variabel lebih besar dari 0,1 dan korelasi antara variabel independen (bebas) juga dapat dilihat dari nilai VIF (variance-inflating factor) yaitu lebih kecil dari 10. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas di dalam model persamaan.

5.3 Pembahasan

Ketersediaan bawang merah dipengaruhi oleh jumlah produksi tani. Dimana 70 persen kebutuhan bawang merah dilakukan oleh pertanian rakyat. Usaha pertanian bawang merah masih dilakukan secara tradisional dengan penggunaan modal dan lahan yang terbatas. Begitu juga dengan penggunaan bibit atau umbi bawang merah yang kualitas dan kuantitasnya masih kurang baik. Secara serempak, produksi bawang merah mempengaruhi harga bawang merah di Sumatera Utara. Semakin tinggi produksi bawang merah (barang yang ditawarkan), maka harga bawang merah di

49

Sumatera Utara akan menurun. Begitu juga sebaliknya, jika produksi bawang merah menurun, maka harga bawang merah di Sumatera Utara juga akan meningkat.

Kebutuhan bawang merah juga dilakukan dengan mengimpor bawang merah.

Impor bawang merah dilakukan untuk meningkat produksi bawang merah. Namun, ketersediaan bawang merah belum mampu mengendalikan kenaikkan harga bawang merah. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan kuota impor. Pembatasan kuota diharapkan dapat melindungi pertanian rakyat dari bawang merah impor dengan kualitas bibit atau umbi bawang merah yang lebih baik. Harga bawang merah terus meningkat setelah pemerintah memberlakukan penurunan kuota impor. Menurut Depdag (2008) dalam Ilham (2009), laju permintaan bawang merah yang tinggi dari laju pasokan bawang merah domestik menyebabkan harga bawang merah terus meningkat, hingga pasokan impor juga terus membesar. Dimana harga impor yang lebih murah justru menyesuaikan dengan harga yang cenderung naik.

Permintaan bawang merah setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk maupun kebutuhan terhaap pangan.

Permintaan bawang merah pada umumnya meningkat pada hari-hari besar keagamaan seperti mejelang bulan puasa, hari raya idul fitri maupun perayaan natal. Dimana jumlah permintaannya lebih besar daripada yang disediakan. Hal ini mempengaruhi terjadinya kenaikkan harga bawang merah. Berdasarkan cita rasa, bawang merah sangat melengkapi dalam pembuatan masakan. Menurut Ilham (2009), ketersediaan bawang merah selalu dibutuhkan baik pada masyarakat berpendapatan tinggi, sedang maupun rendah. Perilaku tersebut menyebabkan harga bawang merah terus meningkat.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Marisa (2014), harga berpengaruh positif terhadap impor di Indonesia. Jika harga konsumen meningkat

maka impor juga akan meningkat. Sedangkan menurut Yoga (2013), harga dalam negeri secara parsial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volume impor.

Hukum permintaan menyatakan hubungan negatif dalam harga dengan jumlah barang . Jika harga suatu barang meningkat dan hal-hal lain dianggap tidak berubah (ceteris paribus), pembeli cenderung membeli lebih sedikit barang tersebut, sebaliknya jika harga turun (ceteris paribus), jumlah barang yang dibeli akan meningkat. Hukum tersebut rupanya tidak berlaku pada kasus ini.

Sedangkan penelitian yang dilakukan di Sumatera Utara yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi harga bawang merah di Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis bagaimana pengaruh produksi bawang merah, impor bawang merah, permintaan bawang merah dan harga bawang merah bulan sebelumnya terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara. Data yang digunakan adalah data tahunan dari tahun 2010-2014. Penelitian ini menggunakan metode Regresi Linier Berganda. Hasil dari penelitian ini secara simultan bahwa produksi bawang merah, impor bawang merah, permintaan bawang merah dan harga bawang merah bulan sebelumnya berpengaruh nyata terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara.

Secara parsial produksi bawang merah tidak berpengaruh nyata terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara, sedangkan impor bawang merah, permintaan

Secara parsial produksi bawang merah tidak berpengaruh nyata terhadap harga bawang merah di Sumatera Utara, sedangkan impor bawang merah, permintaan

Dokumen terkait