BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Defenisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dalam penelitian ini yaitu :
1. Daerah penelitian adalah Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.
2. Waktu Penelitian adalah pada Bulan April hingga Juni 2017.
3. Responden adalah petani yang menanam sayuran hidroponik ataupun petani yang pernah mengikuti sosialisasi mengenai sayuran hidroponik.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian 4.1.1 Georgrafi dan Iklim
a. Keadaan Geografi
Kota Medan terletak antara 3º.27’-3º.47’Lintang Utara dan 98º.35’-98º.44’
Bujur Timur dengan ketinggian 2,5–37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah Utara, Selatan, Barat dan Timur. Kota Medan merupakan salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah utara, selatan, barat dan timur. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.
Kota Medan memiliki luas wilayah 265,10 km2 yang terdiri dari 21 kecamatan. Kecamatan Medan Labuhan merupakan kecamatan yang terluas dengan luas wilayah 36,67 km2 yaitu 13,83% dari luas wilayah Kota Medan.
Kecamatan Medan Maimun merupakan kecamatan yang memiliki luas wilayah terendah yaitu 2,98 km2 yaitu 1,13% dari luas wilayah Kota Medan.
Tabel 4.1 Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan Tahun 2015
Sumber : Kota Medan Dalam Angka, 2016
b. Iklim
Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun BBMKG Wilayah I pada tahun 2015 yaitu 21,20C dan suhu maksimum yaitu 35,10C serta menurut Stasiun Sampali suhu minimumnya yaitu 21,80C dan suhu maksimum yaitu 34,30C. Kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata 81-82%, dan kecepatan angin rata-rata-rata-rata sebesar 2,3m/sec, sedangkan rata-rata-rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 108,2 mm. Hari hujan di Kota Medan pada tahun 2015 per bulan 14 hari dengan rata-rata curah hujan menurut Stasiun Sampali per bulannya 141 mm.
No. Kecamatan Luas (km2) Persentase (%) Medan Helvetia Medan Petisah
4.1.2 Keadaan Penduduk
Adapun jumlah penduduk di Kota Medan adalah sebanyak 2.210.624 jiwa yang terdiri dari 1.091.937 laki-laki dan 1.118.687 perempuan.
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan di Kota Medan, 2015
No. Kecamatan Medan Helvetia Medan Petisah
Jumlah 1.091.937 1.118.687 2.210.624
Sumber : Kota Medan Dalam Angka, 2016
Pada tahun 2015, penduduk Kota Medan mencapai 2.210.624 jiwa.
Dibanding hasil proyeksi Penduduk pada tahun 2014, terjadi pertambahan penduduk sebesar 19.484 jiwa (0,89%). Dengan luas wilayah mencapai 265,10 km2, kepadatan penduduk mencapai 8.339 jiwa/ km2.
Tabel 4.3 Luas Lahan Tegal/Kebun, Ladang/Huma dan Lahan yang Sementara Tidak Diusahakan Menurut Kecamatan di Kota Medan (hektar) Tahun 2015
No. Kecamatan Tegal/Kebun Ladang/Huma
Sementara Medan Helvetia Medan Petisah
Sumber : Kota Medan Dalam Angka, 2016
Luas lahan untuk tanaman hortikultura di Kota Medan sangat terbatas, hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.3. Kota Medan tidak memiliki lahan ladang/huma.
Luas lahan tegal/kebun yang terdapat di Kota Medan sebesar 1.260 hektar dan luas lahan sementara yang tidak diusahakan hanya sebesar 159 hektar.
Sebagian besar penduduk di Kota Medan tergolong dalam usia produktif.
Hal ini bisa kita lihat dalam Tabel 4.4
Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan Tahun 2015
Kelompok Umur Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 0-4
Sumber: Kota Medan Dalam Angka Tahun 2016
Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang terbanyak terdapat pada kelompok umur 15-64 tahun yaitu kelompok usia produktif sebanyak 1.547.359 jiwa dengan persentase 70 % dan yang terendah adalah kelompok umur manula >64 tahun sebanyak 81.974 dengan persentase 3,7 %.
Sedangkan jumlah kelompok umur 0-14 tahun yaitu usia non produktif adalah sebanyak 581.291 jiwa dengan persentase 26,3%.
4.2 Karakteristik Responden
4.2.1 Karakteristik Petani Sayuran Hidroponik
Dari hasil wawancara dengan petani sampel di daerah penelitian di dapat data karakteristik petani sayuran hidroponik sebagai berikut:
Tabel 4.5 Karakteristik Petani Sayuran Hidroponik (n=14)
No Karakteristik Satuan Rentang Rataan
1 Sumber: Data Primer (2017)
Umur petani sampel berkisar antara 23-50 tahun dengan rataan 38,42 tahun. Dari rataan tersebut petani sampel berada dalam usia produktif sehingga petani dapat bekerja dengan baik dan maksimal
Tingkat pendidikan formal seluruh petani hidroponik yang menjadi sampel di daerah penelitian adalah 16 tahun yang berarti seluruh petani sampel yang mengusahatanikan sayuran hidroponik tamat dari perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa wawasan, pengetahuan, dan daya kreativitas dalam berfikir dan bertindak dalam rangka mengelola usahataninya sudah tergolong tinggi.
Lama usahatani petani sampel berkisar antara 1-5 tahun dengan rataan 2,71 tahun. Dari rataan tersebut pengalaman bertani sayuran hidroponik oleh petani sampel sudah cukup lama sehingga memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup baik dalam mengelola usahataninya.
Jumlah tanggungan petani sampel berkisar antara 0-4 jiwa dengan rataan 2 jiwa. Dari rataan ini dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan petani ampel yang melakukan usahatani saturan hidroponik tidak begitu besar.
Tingkat kosmopolitan petani sampel berkisar antara 6-16 dengan rataan sebesar 10,93. Dari rataan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kosmopolitan atau keterbukaan petani sampel terhadap inovasi atau pengetahuan tergolong tinggi.
Luas lahan petani sampel berkisar antara 6,25-937,5 m2 dengan rataan sebesar 146,38 m2. Dari rataan tersebut dapat diketahui bahwa luas lahan yang di gunakan petani dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik tidak begitu besar.
Pendapatan yang di terima petani sampel berkisar antara Rp 700.000 - Rp 24.000.000 dengan rataan sebesar Rp 6.195.000. Dari rataan tersebut dapat
diketahui bahwa pendapatan petani sampel yang mengusahatanikan sayuran hidroponik tergolong tinggi.
4.2.2 Karakteristik Petani Sayuran Konvensional
Dari hasil wawancara dengan petani sampel di daerah penelitian di dapat data karakteristik petani sayuran hidroponik sebagai berikut:
Tabel 4.6 Karakteristik Petani Sayuran Konvensional (n=16)
No Karakteristik Satuan Rentang Rataan
1 Sumber: Data Primer (2017)
Umur petani sampel berkisar antara 22-49 tahun dengan rataan 35,81 tahun. Dari rataan tersebut petani sampel berada dalam usia produktif sehingga petani dapat bekerja dengan baik dan maksimal
Tingkat pendidikan formal petani konvensional yang menjadi sampel di daerah penelitian adalah 12-16 tahun dengan rataan 13,25 yang berarti petani sampel yang mengusahatanikan sayuran konvensional memiliki pendidikan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa wawasan, pengetahuan, dan daya kreativitas dalam berfikir dan bertindak dalam rangka mengelola usahataninya sudah tergolong tinggi.
Lama usahatani petani sampel berkisar antara 0,5-6 tahun dengan rataan 2,93 tahun. Dari rataan tersebut pengalaman bertani sayuran konvensional oleh petani sampel sudah cukup lama sehingga memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup baik dalam mengelola usahataninya.
Jumlah tanggungan petani sampel berkisar antara 0-4 jiwa dengan rataan 2,25 jiwa. Dari rataan ini dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan petani ampel yang melakukan usahatani sayuran konvensional tidak begitu besar.
Tingkat kosmopolitan petani sampel berkisar antara 6-13 dengan rataan sebesar 7,6. Dari rataan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kosmopolitan atau keterbukaan petani sampel terhadap inovasi atau pengetahuan tergolong sedang.
Luas lahan petani sampel berkisar antara 200-3600 m2 dengan rataan sebesar 1137,5 m2. Dari rataan tersebut dapat diketahui bahwa luas lahan yang di gunakan petani dalam melakukan usahatani sayuran konvensional cukup besar.
Pendapatan yang di terima petani sampel berkisar antara Rp 1.000.000 - Rp 4.000.000 dengan rataan sebesar Rp 2.718.000. Dari rataan tersebut dapat diketahui bahwa pendapatan petani sampel yang mengusahatanikan sayuran konvensional tergolong sedang.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan terhadap petani sayuran sistem hidroponik dan petani sayuran sistem konvensional yang pernah mengikuti sosialisasi sistem hidroponik di Kota Medan. Pada penelitian ini ditetapkan 30 sampel.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya, faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan keputusan petani yaitu umur petani, tingkat pendidikan petani, lama berusahatani, jumlah tanggungan petani, luas lahan, tingkat kosmopolitan, dan pendapatan petani. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana hubungan dari semua faktor-faktor tersebut terhadap pengambilan keputusan untuk melakukan usahatani sayuran hidroponik maka digunakan pengujian dengan Uji Chi-Square.
Untuk lebih jelas mengetahui hubungan faktor umur petani, tingkat pendidikan petani, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan petani, luas lahan, tingkat kosmopolitan, dan pendapatan petani terhadap pengambilan keputusan petani dalam memilih untuk melakukan usahatani sayuran hidroponik dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.
5.1 Hasil Uji Hipotesis 1, terdapat hubungan antara variabel umur petani, tingkat pendidikan petani, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan petani, luas lahan, tingkat kosmopolitan, dan pendapatan petani terhadap pengambilan keputusan petani dalam memilih untuk melakukan usahatani sayuran hidroponik
Tabel 5.1 Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Keputusan Petani Dalam Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Sumber: Data Hasil Output SPSS
Rendah Sedang Tinggi Total umur Petani Keputusan
Petani
Luas Lahan Keputusan Petani
Pada variabel umur, dari output crosstabs diketahui bahwa sebanyak 4 sampel dengan kelompok umur rendah (21-30 tahun) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 5 sampel dengan kelompok umur rendah (21-30 tahun) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 3 sampel dengan kelompok umur sedang (31-40 tahun) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 7 sampel dengan kelompok umur sedang (31-40 tahun) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 7 sampel dengan kelompok umur tinggi (41-50 tahun) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 4 sampel dengan kelompok umur tinggi (41-50 tahun) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Pada variabel pendidikan petani, dari output crosstabs diketahui bahwa sebanyak 0 sampel berpendidikan sedang (tamat SMA) yang memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 11 sampel berpendidikan sedang (tamat SMA) yang memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 14 sampel berpendidikan tinggi (tamat Perguruan Tinggi) yang memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, dan 5 sampel berpendidikan tinggi (tamat Perguruan Tinggi) yang memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Pada variabel lama usahatani, dari output crosstabs diketahui bahwa sebanyak 8 sampel dengan pengalaman usahatani rendah (0-2 tahun) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 9 sampel dengan pengalaman usahatani rendah (0-2 tahun) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 6 sampel dengan pengalaman usahatani sedang (3-5 tahun) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 5 sampel dengan pengalaman usahatani
sedang (3-5 tahun) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 0 sampel dengan pengalaman usahatani tinggi (6-8 tahun) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 2 sampel dengan pengalaman usahatani tinggi (6-8 tahun) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Pada variabel jumlah tanggungan, dari output crosstabs diketahui bahwa sebanyak 6 sampel dengan jumlah tanggungan 1 orang memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 10 sampel dengan jumlah tanggungan 1 orang memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 6 sampel dengan jumlah tanggungan 2-3 orang memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 4 sampel dengan jumlah tanggungan 2-3 orang memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 2 sampel dengan jumlah tanggungan 4-5 orang memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 2 sampel dengan jumlah tanggungan 4-5 orang memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Pada variabel luas lahan, dari output crosstabs diketahui bahwa sebanyak 12 sampel dengan luas lahan rendah (kurang dari 400 m2) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 3 sampel dengan luas lahan rendah (kurang dari 400 m2) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 2 sampel dengan luas lahan sedang (kurang dari 400-1000 m2) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 7 sampel dengan luas lahan sedang (kurang dari 400-1000 m2) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 0 sampel dengan luas lahan tinggi (lebih dari 1000 m2) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 6 sampel dengan luas tinggi (lahan lebih dari 1000 m2) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Pada variabel pendapatan, dari output crosstabs diketahui bahwa sebanyak 8 sampel dengan pendapatan rendah (kurang dari Rp 7.000.000) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 13 sampel dengan pendapatan rendah (kurang dari Rp 7.000.000) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 3 sampel dengan pendapatan sedang (Rp 7.000.000 – Rp 14.000.000) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 3 sampel dengan pendapatan sedang (Rp 7.000.000 – Rp 14.000.000) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik, 3 sampel dengan pendapatan tinggi (lebih besar dari Rp 14.000.000) memutuskan melakukan usahatani sayuran hidroponik, 0 sampel dengan pendapatan tinggi(lebih besar dari Rp 14.000.000) memutuskan tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Tabel 5.2 Uji Chi-Square dan Uji Koefisien Kontingensi (n=30)
Variabel Nilai
Chi-Square
Nilai koefisien kontingensi
Asymp. Sig.
(2-sided)
Umur Petani 2.407a .273 .300
Pendidikan Petani 15.197a .580 .000
Lama Usahatani 2.025a .251 .363
Jumlah Tanggungan 1.272a .202 .529
Luas Lahan 14.107a .566 .001
Tingkat Kosmopolitan 6.467a .421 .039
Pendapatan 19.850a .631 .000
Sumber: Data Hasil Output SPSS (diolah)
Uji Chi-Square
(Siegel, 1988)
𝜒2 = 𝑛𝑖𝑗− 𝐸𝑖𝑗 2 𝐸𝑖𝑗
𝑘
𝑗=1 𝑟
𝑖=1
Dimana:
2
= nilai Chi-Square
= banyak kasus yang di observasi yang di kategorikan dalam baris ke-i pada kolom ke-j
= banyak kasus yang di harapkan di bawah H0 yang yang di kategorikan dalam baris ke-i pada kolom ke-j
Kriteria Uji:
Sig. > 0,05 ; tolak H1, terima H0 Sig. ≤ 0,05 ; terima H1, tolak H0
H0: Tidak ada hubungan antara variabel yang di uji dengan pengambilan keputusan petani dalam melakukan atau tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik
H1: Terdapat hubungan antara variabel yang di uji dengan pengambilan keputusan petani dalam melakukan atau tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik
Nilai koefisien kontingensi
(Newsom, 2016)
Dimana :
n = jumlah sampel
𝑃𝑒𝑎𝑟𝑠𝑜𝑛′𝑠 𝐶 = 𝜒2 𝜒2+ 𝑛
Standar koefisien kontingensi dihitung sebagai rasio yang bervariasi antara 0 dan 1 dengan 0 menunjukkan ketidakeratanan dan 1 menunjukkan keteratan.
Nilai Keeratan :
0,00<C<0,30 ; hubungan antar variabel kurang erat 0,31<C<0,60 ; hubungan antar variabel cukup erat 0,61<C<1,00 ; hubungan antar variabel sangat erat
5.1.1 Hubungan Umur Petani Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Berdasarkan lampiran kita dapat melihat petani sampel berusia di antara 22-50 tahun. Dalam hal ini sebagian besar petani sampel sedang dalam usia tenaga kerja dan produktif, hal ini seperti yang dijelaskan dalam undang-undang no 13 tahun 2003 bab 1 pasal 1 ayat 2 disebutkan tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk bermasyarakat. Batas usia yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15-64 tahun.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 2,407 dengan signifikansi sebesar 0,30. Nilai signifikansi lebih besar dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima. Artinya tidak ada hubungan antara variabel umur dengan keputusan petani dalam melakukan atau tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik. Dari output Contingency Coefficient pada variabel umur petani diperoleh nilai koefisien kontingensi adalah sebesar 0,273, artinya
keeratan hubungan antara umur petani dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik tidak begitu kuat.
Menurut Suratiyah (2008), umur seseorang menentukan prestasi kerja atau kinerja orang tersebut. Semakin berat pekerjaan secara fisik, apabila umur tenaga kerja semakin tua maka semakin turun pula prestasinya. Namun usahatani sayuran hidroponik bukanlah pekerjaan yang berat secara fisik, sehingga umur tidak mempengaruhi keputusan petani.
5.1.2 Hubungan Tingkat Pendidikan Petani Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Variabel ini adalah variabel yang menunjukkan pendidikan formal yang dimiliki oleh petani. Variabel ini dihitung berdasarkan tingkatan pendidikan formal petani.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 15,197 dengan signifikansi sebesar 0,00. Nilai signifikansi lebih kecil dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya ada hubungan antara variabel pendidikan dengan keputusan petani dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik. Dari output Contingency Coefficient diperoleh nilai koefisien kontingensi adalah sebesar 0,580, artinya keeratan hubungan antara umur petani dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran cukup kuat.
Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2008) yang menyatakan bahwa pendidikan petani memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan keputusan petani. Menurut Kartasapoetra (1994), pada umumnya tingkat
pendidikan manusia menunjukkan daya kreativitas manusia dalam berfikir dan bertindak.
5.1.3 Hubungan Pengalaman Berusahatani Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Variabel ini mencerminkan lamanya petani sampel bergelut dalam usahatani yang dijalaninya yang diukur dengan menggunakan satuan tahun.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 2,025 dengan signifikansi sebesar 0,363. Nilai signifikansi lebih besar dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima. Artinya tidak ada hubungan antara lama usahatani dengan keputusan petani dalam melakukan atau tidak melakukan usahatani sayuran hidroponik. Dari output Contingency Coefficient diperoleh nilai koefisien kontingensi adalah sebesar 0,251, artinya keeratan hubungan antara lama usahatani dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik tidak begitu kuat.
Menurut Soekartawi (1999), pengalaman seseorang dalam berusaha berpengaruh dalam menerima inovasi dari luar. Bagi yang mempunyai pengalaman yang sudah cukup lama akan lebih mudah menerapkan inovasi dari pada pemula. Usahatani sayuran hidroponik cenderung mudah untuk dilakukan juga bahan yang digunakan mudah untuk di dapatkan. Selain itu umur semai hingga panen sayuran hidroponik relatif singkat yaitu berkisar antara 20-30 hari.
Hal ini membuat petani dapat menerapkan teknik budidaya hidroponik dengan waktu yang tidak begitu lama.
5.1.4 Hubungan Jumlah Tanggungan Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Variabel ini mencerminkan banyak nya jumlah tanggungan yang harus ditanggung petani dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini memacu petani untuk memikirkan usahatani apa yang cocok untuk dilakukan agar tidak mengalami kerugian.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 1,272 dengan signifikansi sebesar 0,529. Nilai signifikansi lebih besar dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima. Artinya tidak ada hubungan antara jumlah tanggungan dengan keputusan petani dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik. Dari output Contingency Coefficient diperoleh nilai koefisien kontingensi sebesar 0,202, artinya keeratan hubungan antara jumlah tanggungan petani dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik tidak begitu kuat.
Banyaknya jumlah tanggungan keluarga akan mendorong petani untuk melakukan banyak aktifitas dalam mencari dan menambah pendapatan keluarganya. Sebagian besar responden petani sayuran hidroponik di daerah penelitian memiliki pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Beberapa diantaranya berprofesi sebagai guru, pegawai negeri, dan usaha lain sebagai pekerjaan utama mereka, sedangkan usahatani sayuran hidroponik merupakan hobi atau usaha sampingan mereka. Hal ini membuat variabel jumlah
tanggungan keluarga tidak berpengaruh kuat terhadap pengambilan keputusan petani.
5.1.5 Hubungan Luas Lahan Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Variabel ini mencerminkan luas lahan yang digunakan dalam berusahatani. Jumlah lubang tanam yang digunakan dalam usahatani hidroponik di konversikan ke dalam satuan m2, dimana 1 m2 setara dengan 16 lubang tanam.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 14,107 dengan signifikansi sebesar 0,001. Nilai signifikansi lebih kecil dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya ada hubungan antara luas lahan dengan keputusan petani dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Dari output Contingency Coefficient diperoleh nilai koefisien kontingensi sebesar 0,566, artinya keeratan hubungan antara luas lahan usahatani dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik cukup kuat.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fardiaz (2008) yang menjelaskan bahwa variabel luas lahan memiliki hubungan yang nyata terhadap keputusan inovasi.
5.1.6 Hubungan Tingkat Kosmopolitan Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Variabel ini adalah variabel yang mencerminkan sikap keterbukaan responden terhadap informasi-informasi yang berkembang di masyarakat.
Variabel ini dihitung dengan menggunakan skor di setiap pertanyaan. Dimana pembagian skor tersebut terdiri dari rendah, sedang dan tinggi.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 6,467 dengan signifikansi sebesar 0,039. Nilai signifikansi lebih kecil dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya ada hubungan antara tingkat kosmopolitan dengan keputusan petani dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik. Dari output Contingency Coefficient diperoleh nilai koefisien kontingensi sebesar 0,421, artinya keeratan hubungan antara tingkat kosmopolitan usahatani dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik tidak begitu erat.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siagian (2003) yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan di pengaruhi oleh tingkat kosmopolitan. Mosher (1978) menjelaskan bahwa keterbukaan seseorang berhubungan dengan penerimaan perubahan-perubahan seseorang untuk meningkatkan usahatani mereka.
5.1.7 Hubungan Pendapatan Petani Terhadap Pengambilan Keputusan Petani Untuk Memilih Melakukan Atau Tidak Melakukan Usahatani Sayuran Hidroponik
Variabel ini mencerminkan pendapatan petani dalam satu bulan. Variabel ini diukur menggunakan satuan mata uang rupiah. Rata-rata petani sampel yang memiliki pendapatan tinggi adalah petani yang melakukan usahatani sayuran hidroponik.
Dari output diperoleh nilai Chi-Square sebesar 19,850 dengan signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi lebih besar dari α0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dan H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya ada hubungan antara pendapatan dengan keputusan petani dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik. Dari output Contingency Coefficient diperoleh nilai koefisien kontingensi sebesar 0,631, artinya keeratan hubungan antara pendapatan dengan keputusan dalam melakukan usahatani sayuran hidroponik cukup kuat.
Jumlah pendapatan sangat berhubungan erat dengan pengambilan keputusan petani karena perbedaan harga yang signifikan antara harga komoditi sayuran hidroponik dan harga sayuran konvensional. Misalnya sayur sawi hidroponik dijual dengan harga Rp 25.000 per kilo sedangkan sayur sawi kovensional dijual dengan harga Rp 6.000 per kilo. Perbedaan harga jual tersebut sangat mempengaruhi besarnya pendapatan petani.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siagian (2003) dan Siregar (2016) yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan di pengaruhi oleh pendapatan. Pendapatan usahatani merupakan sumber motivasi bagi petani dan
merupakan faktor kuat yang mendorong timbulnya kemauan, kemampuan serta terwujudnya kinerja partisipasi petani (Sahidu, 1998).
Dari hasil uji Chi-Square dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel pendidikan, tingkat kosmopolitan, luas lahan, dan pendapatan memiliki hubungan terhadap keputusan petani dalam mengusahakan usahatani sayuran hidroponik, sedangkan variabel umur, lama usahatani, dan jumlah tanggungan tidak
Dari hasil uji Chi-Square dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel pendidikan, tingkat kosmopolitan, luas lahan, dan pendapatan memiliki hubungan terhadap keputusan petani dalam mengusahakan usahatani sayuran hidroponik, sedangkan variabel umur, lama usahatani, dan jumlah tanggungan tidak