BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Definisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dari penelitian adalah
1. Daerah penelitian adalah Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang.
2. Sampel penelitian adalah petani dan pedagang yang terlibat dalam proses pemasaran jagung.
3. Penelitian dilakukan pada tahun 2017 dan 2018
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kota Medan dan Kec.Percut Sei Tuan Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kec. STM Hilir dn Kec.Biru-biru
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kec. STM Hilir dn Kec.Tanjung Morawa Sebelah Barat : berbatasan dengan Kec. Deli Tua dan Kota Medan
Kecamatan terdiri dari 8 (delapan) desa. Secara rinci luas desa dan persentasenya terhadap luas kecamatan dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 7. Luas Desa dan Persentase Terhadap Luas Kecamatan Patumbak
No. Desa Luas Desa (Km²) % Terhadap Luas
paling sedikit adalah Desa Lantasan Lama yaitu 1,86 Km² atau sebesar 3,98% dari total luas Kecamatan Patumbak.
4.1.2 Kependudukan
Jumlah penduduk Kecamatan Patumbak tahun 2016 sebanyak 102.470 jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 51.952 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 50.518 jiwa Jumlah penduduk menurut desa di Kecamatan Patumbak dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun 2016
No Desa Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Patumbak I 3.534 3.497 7.031
2 Lantasan Baru 1.247 1.93 2.440
3 Lantasan Lama 1.859 1.785 3.644
4 Patumbak II 3.523 3.408 6.931
5 Sigara-gara 6.211 6.160 12.371
6 Marindal I 17.637 16.849 34.486
7 Marindal II 9.264 9.140 18.404
8 Patumbak kampung 8.677 8.486 17.163
Total 51.952 50.518 102.470
Sumber : Kecamatan Patumbak Dalam Angka 2017.
4.1.3 Pertanian
Kegiatan pertanian di Desa Lantasan Baru didukung oleh tersedianya lahan pertanian.
Para petani menanam komoditi padi sawah, jagung, kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar. Komoditi hasil pertanian yang diperoleh hasil panen petani di Kecamatan Patumbak dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 9. Jenis Hasil Pertanian Tanaman Pangan di Kecamatan Patumbak, 2016
No Jenis Tanaman Luas Panen
(Ha)
Produksi (Ton)
1 Padi Sawah 1.055 6.306
2 Jagung 760 17.803
3 Kacang Tanah 9 9,57
4 Ubi Kayu 529 16.987
5 Ubi Jalar 6 106,41
Sumber : Kecamatan Patumbak Dalam Angka 2017.
4.1.4 Sarana dan Prasarana
Untuk mencapai wilayah Kecamatan Patumbak dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua yang biasanya dapat ditemui di Desa. Adanya sarana dan prasarana lembaga pendidikan, lembaga kesehatan dan sarana ibadah akan semakin mampu untuk menunjang peningkatan sumberdaya yang ada di Kecamatan Patumbak, sehingga desa-desa dapat berkembang menjadi desa yang lebih baik dan maju dengan potensi yang dimilikinya. Berikut dijelaskan dalam tabel 9. sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan masyarakat di Kecamatan Patumbak.
Tabel 10. Sarana dan Prasana Penunjang di Kecamatan Patumbak Tahun 2016
No Sarana dan Prasarana Jumlah
(unit)
1. Pendidikan :
TK 18
SD 58
SMP 18
SMA 5
SMK 3
2. Kesehatan
Puskesmas 1
Pustu 4
Poliklinik 12
Balai Pengobatan Umum 2
Posyandu 53
3. Tempat Ibadah
Mesjid 56
Musholla 39
Gereja 31
Sumber : Kecamatan Patumbak Dalam Angka 2017.
4.2 Karakteristik Sampel Penelitian
Sampel (responden) yang diteliti dalam penelitian ini terdiri 86 petani jagung dan 10 lembaga pemasaran (pedagang) di Kecamatan Patumbak.
4.2.1. Petani Responden
Karakteristik petani responden meliputi umur, pendidikan terakhir, lama berusahatani, jumlah tanggungan, luas lahan dan produksi jagung sebagaimana disajikan pada tabel 10 berikut ini.
Tabel 11. Karakteristik Petani Responden
No. Keterangan Frekuensi (F) Persentase (%)
1. Umur
6. Produksi jagung per musim panen
0,3 - 1 ton 56 65.1
1,2 - 5 ton 24 27.9
6 - 15 ton 6 7.0
Jumlah 86 100
Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa kelompok umur petani responden dengan jumlah terbanyak untuk usahatani jagung adalah kelompok umur 41-50 tahun yaitu 53 orang (61,6%) dan minoritas berumur 23-31 tahun ada 8 orang (9,15). Pendidikan terakhir petani responden terbanyak adalah berpendidikan SMP sebanyak 47 orang (54,7%) dan yang paling sedikit adalah berpendidikan SD ada 7 orang (8,15%). Mayoritas petani jagung yaitu sebanyak 42 orang (48,8%) memiliki pengalaman berusahtani antara 6 - 10 tahun dan minoritas memiliki
pengalaman berusahatani 1-5 tahun sebanyak 13 orang (15,1%). Untuk jumlah tanggungan keluarga terbanyak ada pada kelompok 0 - 3 orang yaitu sebanyak 58 orang (67,4) dan yang terkecil pada kelompok > 3 orang yaitu sebanyak 28 orang(32,6%). Luas lahan petani responden mayoritas memiliki luas lahan 0,04 s/d 0,12 ha yaitu sebanyak 51 orang (59,3%), dan minoritas dengan luas lahan 1-2 ha yaitu sebanyak 4 orang (4,7%). Adapun produksi jagung yang dihasilkan petani per musim tanam mayoritas rata-rata 0,3-1 ton yaitu sebanyak 56 orang (65,1%) sedangkan yang minoritas adalah dengan jumlah produksi 6-15 tahun yaitu sebanyak 6 orang atau 7%.
4.2.2. Lembaga Pemasaran (Pedagang)
Karakteristik lembaga pemasaran disajikan adalah sebagai berikut :
Tabel 12. Karakteristik Lembaga Pemasaran (Pedagang Perantara)
No Uraian
Beradasarkan tabel 12 di atas diketahui mayoritas lembaga pemasaran atau pedagang perantara memiliki umur pada dengan rentang usia 32-40 tahun yaitu sebanyak 4 pedagang perantara (3 orang makaler, dan 1 orang tengkulak) atau 40%. Hal ini berarti semua responden lembaga pemasaran jagung mampu bekerja dengan baik didukung dengan fisik yang kuat pula. Tingkat pendidikan pedagang perantara mayoritas adalah SMA yaitu sebanyak 5 pedagang perantara (3 orang makelar, 1 orang tengkulak, dan 1 orang pedagang besar) atau 50%. Tingkat pendidikan diperlukan oleh lembaga pemasaran untuk mencari pasar, mengatur perniagaannya dan menentukan strategi pemasaran. Mayoritas pedagang perantara memiliki pengalaman berdagang antara 17-24 tahun yaitu sebanyak 5 pedagang perantara (3 orang makelar dan 2 orang tengkulak) atau 50%.Pengalaman berdagang ini menentukan penguasaan akan pasar baik dalam hal pemasarannya yaitu mencari pembeli maupun penjual serta penguasaan dalam penentuan harga.
34,88% I
41,86% II
III 23,26%
5.1 Pola Saluran Pemasaran
Kegiatan pendistribusian jagung dari petani ke konsumen memerlukan pedagang perantara atau disebut juga sebagai lembaga pemasaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pemasaran. Dari hasil penelitian terhadap 86 petani responden diketahui bahwa lembaga perantara yang terlibat adalah makelar, tengkulak, pedagang besar dengan konsumen akhir adalah pabrik pakan ternak (PPT) Pola saluran pemasaran yang terjadi di daerah penelitian adalah seperti gambar berikut ini.
Gambar 3. Pola Saluran Pemasaran Jagung Pipil di Kecamatan Patumbak
Tengkulak adalah pedagang yang berperan sebagai pengepul sekaligus pemasaran yang membeli jagung pipil dari petani dengan harga yang jauh di bawah harga
kemudian menjualnya kembali dengan mendapatkan upah atau komisi baik dari penjual maupun pembeli.
Berdasarkan gambar 5.1 di atas, diketahui bahwa ada 3 (tiga) saluran pemasaran jagung yang terbentuk di Kecamatan Patumbak yaitu :
1. Saluran Pemasaran I (Petani – Makelar – Pedagang Besar – PPT ).
Pada saluran pemasaran pertama (I), petani menjual hasil panennya berupa jagung kering yang telah dikemas dalam karung berukuran 6-70 kg. Pembelian dilakukan makelar dengan cara mendatangi petani di rumah petani sesuai kesepakatan harga yang telah ditetapkan. Pembayaran dilakukan secara tunai setelah jagung diterima. Terdapat 30 orang petani responden (34,88%) yang menjual hasil panennya langsung kepada 5 orang makelar. Oleh pihak makaler kemudian dijual kembali kepada pedagang besar (PB) dalam bentuk jagung pipilan kering sesuai persyaratan yang telah ditentukan oleh pedagang besar.
Kemudian pedagang besar (PB) memasok atau menjualnya kepada perusahaan makan ternak (PPT).
2. Saluran Pemasaran II (Petani – Pedagang Besar - PPT).
Pada saluran pemasaran ketiga (II), terdapat 36 orang petani responden (41,86%) yang menjual langsung hasil panennya berupa jagung kering kepada 2 pedagang besar. Dikarenakan produk akhir yang dipasarkan 2 orang pedagang besar pada konsumen Pabrik Pakan Ternak adalah dalam bentuk jagung kering pipil dengan kadar air 14-15%. Untuk memperoleh kadar air tersebut, jagung yang dibeli dari petani terlebih dahlu dilakukan penjemuran 2-3 hari.
3. Saluran Pemasaran III (Petani – Tengkulak – Pedagang Besar – PPT). Pada saluran pemasaran ketiga (III), 20 orang petani responden (23,26%) menjual
hasil panennya dalam bentuk jagung panen kering kepada 3 orang Tengkulak.
Oleh pihak Tengkulak langsung dipasarkan kepada pedagang besar (PB) untuk selanjutnya diolah dalam bentuk jagung pipilan kering dengan kadar 14-15% untuk kemudian dijual kembali atau dipasok kepada Pabrik Pakan Ternak (PPT).
5.2 Efisiensi Pemasaran
Tingkat efisiensi pemasaran diketahui dari setiap saluran pemasaran yang ada dengan menggunakan analisis margin, farmer share, dan efisiensi saluran pemasaran.
Analisis Margin Pemasaran , Farmer Share, dan Efisiensi Pemasaran
Hasil analisis marjin pemasaran yang dilakukan pada 3 (tiga) saluran pemasaran jagung pipil yang terbentuk di Kecamatan Patumbak disajikan pada tabel 12 berikut.
Tabel 13. Marjin dan Farmer Share Pemasaran Jagung pada Saluran I No. Lembaga Pemasaran Biaya / Harga
Margin Pemasaran Makelar 789 15.85
-Margin Biaya Pemasaran
* Biaya Pengemasan 13.33 6.08
* Biaya Transportasi 56 1.67
* Biaya Paket Pengolahan 150 0.26
Jumlah Biaya Pemasaran 219.33
-Margin Keuntungan 569.67 11.45
3 Pedagang Besar
-Harga Jual 4,977.00 100
Margin pemasaran PB 1,630.00 32.75
-MarginBiaya Pemasaran
* Biaya Pengemasan -
* Biaya Transportasi -
* Biaya Paket Pengolahan 100 2.01
Jumlah Biaya Pemasaran 100
-Margin Keuntungan 1,530.00 30.74
Total Margin Pemasaran 2,419.00
Sumber : Data Primer diolah, 2018
Berdasarkan hasil analisis pada tabel 13, terlihat bahwa marjin pemasaran yang terjadi mulai dari petani, makelar hingga pedagang besar yaitu sebesar Rp.2.419 per kilogram jagung pipil kering. Bagian keuntungan yang diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran juga bervariasi, dimana lembaga pemasaran terbesar terdapat pada lembaga pemasaran akhir yaitu pedagang besar sebesar Rp.1.530 per kilogram. Sedangkan share harga yang diterima tiap lembaga tersebar merata dimana petani mendapatkan farmer’s share sebesar 51,40%, makelar 15,85% dan pedagang besar 32,75%. Dengan demikian saluran pemasaran jagung pada saluran I dapat dikatakan efisien karena bagian yang diterima petani di atas 50% yaitu 51,40%.
Tabel 14. Marjin dan Farmer Share Pemasaran Jagung pada Saluran II
No. Lembaga Pemasaran Biaya / Harga
Margin pemasaran PB 2,364.00 46.76
-Margin Biaya pemasaran
* Biaya Pengemasan 13.33 0.26
* Biaya Transportasi 50 2.32
* Biaya Paket Pengolahan 150 6.35
Jumlah Biaya Pemasaran 213.33
-Margin Keuntungan 2,150.67 42.54
Total Margin Pemasaran 2,364.00 Sumber : Data Primer diolah, 2018
Tabel 14 di atas menunjukkan marjin pemasaran yang terjadi antara petani dengan pedagang besar yaitu sebesar Rp.2.364 per kilogram jagung pipil kering. Saluran pemasaran jagung pada saluran II ini lebih pendek, karena petani langsung menjualnya kepada pedagang besar. Farmer’s share yang diterima sebesar 53,24% sedangkan pedagang besar 46,76%. Saluran pemasaran jagung pada saluran II dapat dikatakan efisien karena bagian yang diterima petani yaitu 53,24 lebih besar dari 50%.
Tabel 15. Marjin dan Farmer Share Pemasaran Jagung pada Saluran III
No. Lembaga Pemasaran Biaya / Harga (Rp/kg) Share (%) 1 Petani
-Harga jual 2,445.00 48.8
2 Tengkulak
-Harga Beli 2,445.00
-Harga Jual 3,240.00 64.67
Margin Pemasaran Tengkulak 795 15.87
-Margin Biaya Pemasaran
* Biaya Pengemasan 13.33 19.71
* Biaya Transportasi 54.29 1.68
* Biaya Paket Pengolahan - -
Jumlah Biaya Pemasaran 67.62
-Margin Keuntungan 727.38 14.52
No. Lembaga Pemasaran Biaya / Harga (Rp/kg) Share (%)
3 Pedagang Besar
-Harga Beli 3,240.00 64.67
-Harga Jual 5,010.00 100
Margin pemasaran PB 1,770.00 35.33
-Margin Biaya Pemasaran
* Biaya Pengemasan -
* Biaya Transportasi -
* Biaya Paket Pengolahan 150 2.99
Jumlah Biaya Pemasaran 150
-Margin Keuntungan 1,620.00 32.34
Total Margin Pemasaran 2,565.00 Sumber : Data Primer diolah, 2018
Dari tabel 15 di atas menunjukkan total marjin pemasaran mulai dari petani, tengkulak hingga pedagang adalah sebesar Rp.2.565 per kilogram jagung pipil kering. Bagian keuntungan yang diterima oleh lembaga pemasaran bervariasi, dimana lembaga pemasaran terbesar terdapat pada lembaga pemasaran akhir yaitu pedagang besar sebesar Rp.1,620.00 per kilogram. Dalam saluran III ini farmer’s share yang diterima petani sebesar 48,80% dianggap rendah karena lebih kecil dari 50% sehingga pemasaran di saluran III ini termasuk belum efisien.
Tabel 16. Perbandingan Margin dan Farmer Share pada tiga saluran
NO KOMPONEN MARGIN Saluran
Sumber : Data primer diolah, 2018
Berdasarkan tabel 16 di atas dapat dilihat bahwa saluran II merupakan saluran yang lebih efisien dibanding saluran pemasaran lainnya. Hal ini terbukti dari margin pemasaran yang terjadi di saluran II yaitu Rp.2.364 per kilogram lebih kecil dibanding dengan margin pada saluran I (Rp.2.419) dan saluran III (Rp.2.565).
Demikian pula bagian harga yang diterima petani (farmer share) pada saluran II lebih tinggi yaitu rata-rata sebesar 53,24% dibanding saluran pemasaran I sebesar 51,40%, dan saluran III sebesar 48,80%. Tingginya bagian harga yang diterima petani dipengaruhi oleh tingginya harga jual jagung petani dan jumlah lembaga yang terlibat termasuk fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan pada tiap tingkatan lembaga pemasaran tersebut dalam satu saluran pemasaran. Dengan semakin banyaknya lembaga pemasaran jagung yang terlibat, maka akan membuat rantai pemasaran jagung akan semakin panjang dan pada akhirnya
marjin pemasaran akan semakin besar. Dengan demikian hipotesis 1 diterima yaitu saluran pemasaran yang lebih pendek lebih efisien dari saluran yang lebih panjang. Saluran pemasaran adalah saluran II yang paling efisien (saluran lebih pendek, margin pemasaran lebih kecil dan farmer share yang lebih besar).
Selanjutnya dari tabel 15 juga dapat diketahui bahwa saluran pemasaran II memiliki nilai EP yang lebih kecil yaitu 4,22% dibandingkan dengan saluran pemasaran I (6,42%) dan saluran III (4,34%). Artinya pada pola saluran II ini dapat dikatakan pemasarannya lebih efisien karena petani langsung menjual ke pedagang besar, sehingga biaya dan keuntungan untuk lembaga pemasaran lainnya bisa dinikmati oleh petani (farmer share) yang lebih besar. Hal ini sesuai pendapat Soekartawi (2002), apabila nilai EP suatu saluran pemasaran lebih kecil dari nilai EP saluran pemasaran lainnya, maka saluran pemasaran tersebut dikatakan memiliki efisiensi pemasaran yang lebih tinggi daripada saluran pemasaran lainnya (Soekartawi, 2002).
5.3 Perkembangan Harga Jagung
Perkembangan harga jagung digunakan untuk mengetahui dan meramalkan berapa besar kecenderungan rata-rata peningkatan harga jagung di Kecamatan Patumbak setiap triwulan. Perkembangan rata-rata harga jagung pipilan per-3 bulan pada tahun 2011 sampai 2016 di Kabupaten Deli Serdang dapat di lihat pada gambar berikut ini :
Gambar 4. Kurva Perkembangan Harga Jagung Pipil per-Tiga Bulan di Kabupaten Deli Serdang, Tahun 2011-2016
Dari gambar 4 dilihat bahwa harga jagung pipil di Kabupaten Deli Serdang setiap tahunnya berfluktuasi namun cenderung meningkat. Dapat disimpulkan bahwa permintaan jagung di Kabupaten Deli Serdang setiap tahunnya meningkat, dan petani tetap dapat mengembangkan usahatani jagungnya karna permintaan konsumen meningkat setiap tahunnya.
Untuk mengetahui dan meramalkan berapa besar kecenderungan rata-rata peningkatan harga jagung di Kabupaten Deli Serdang setiap 3 bulan maka dapat dilakukan dengan metode Tren Linier Harga dengan menggunakan alat SPSS diperoleh output sebagai berikut :
Model Summary and Parameter Estimates Dependent Variable: HARGA_JAGUNG_PIPIL
Equation
Model Summary Parameter Estimates
R Square F df1 df2 Sig. Constant b1
Linear .632 37.779 1 22 .000 2273.518 53.395
The independent variable is Sequence.
Dari output di atas didapat persamaan linier : Y = 2273,5 + 53,3X
Artinya bahwa setiap satu satuan waktu (3 bulanan) kecenderungan rata-rata kenaikan harga jagung di Kabupaten Deli Serdang sebesar Rp.53,3.- dengan nilai konstanta sebesar 2273,5. Maka, harga jagung di Kabupaten Deli Serdang setiap tahunnya cenderung meningkat. Signifikansi yang didapatkan adalah 0.000 berarti lebih kecil dari 0,05 itu berarti ada korelasi yang signifikan. Dengan demikian hipotesis 2 diterima harga jagung pipil pasar berfluktuasi namun cenderung naik.
5.4 Integrasi Pasar
Integrasi pasar digunakan untuk melihat tingkat hubungan antar pasar dimana perubahan harga di tingkat pasar tertentu akan ditransmisikan pada pasar lainnya yang diukur berdasarlam nilai koefisien korelasi jangka pendek dan jangka panjang.
Integrasi pasar jagung antara harga pasar lokal (petani) dan harga pasar acuan (pedagang besar) dianalisis dengan menerapkan model dari Ravallion (1986) dan Heytens (1986). Setelah dilakukan analisis regresi terhadap model tersebut (Lampiran 4), maka diperoleh nilai koefisien regresi sebagai berikut :
Tabel 17. Koefisien Regresi Integrasi Pasar
Pasar lokal Pasar Acuan Konstanta Variabel Bebas
Pit-1 Pt - Pt-1 Pt-1
Petani Pedagang besar 1143.852 0,197 0,305 0,201
Sumber : Data primer diolah, 2018
5.4.1 Integrasi Pasar Jangka Pendek
Integrasi pasar dalam jangka pendek adalah keterkaitan antar pasar lokal dengan pasar acuan yang diwakili oleh indek keterpaduan pasar. Integrasi pasar dalam pendek ditunjukkan oleh nilai IMC (Index Of Market Connection) yaitu
merupakan rasio dari harga pasar lokal pada waktu lalu (t-1) terhadap harga pasar acuan pada waktu lalu (t-1).
Dari perbandingan nilai koefisien regresi variabel harga jagung di tingkat petani pada waktu t-1 (0,197) dengan nilai koefisien di tingkat pedagang besar waktu t-1 (0,201) dapat diketahui nilai IMC sebesar 0,98. Menurut Timmer (1987) dalam Setyowati (2005), IMC dengan nilai kurang dari satu merefleksikan tingkat keterpaduan pasar dalam jangka pendek (short run integration) yang kuat. Nilai IMC yang diperoleh dalam penelitian ini (0,98) lebih kecil dari 1 (satu) sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat keterpaduan pasar jangka pendek jagung antara petani dengan pedagang besar adalah kuat. Hal ini berarti, pembentukan harga jagung pada petani saat ini sangat dipengaruhi oleh harga di pedagang besar pada waktu sebelumnya.
5.4.2 Integrasi Pasar Jangka Panjang
Integrasi pasar jangka panjang menunjukkan bagaimana perubahan harga berdasarkan waktu di pasar acuan (di tingkat pedagang) secara langsung diteruskan terhadap harga di pasar lokal (di tingkat petani), integrasi pasar jangka pendek diwakili oleh koefisien b2. Nilai dari koefisien b2 (Pt - Pt-1) adalah 0,305.
Nilai koefisien b2 dalam penelitian ini sebesar 0,305 atau mendekati nilai 1 (satu) sehingga disimpulkan integrasi pasar jagung dalam panjang antara petani dengan pedagang besar termasuk kuat. Artinya apabila terjadi selisih perubahan harga di tingkat pedagang besar sebesar Rp.100 per kilogram maka akan menyebabkan perubahan harga di tingkat petani sebesar Rp.30,5 per kilogram.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kedua pasar yakni pasar lokal di tingkat petani dan pasar acuan di tingkat pedagang besar terintegrasi dalam jangka
pendek maupun dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis dari penelitian ini yaitu bahwa pembentukan harga jagung pipil di Kecamatan Patumbak antara pasar lokal dan pasar acuan terintegrasi kuat, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang dapat diterima.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Ada 3 (tiga) saluran pemasaran jagung yang terbentuk di Kecamatan Patumbak yaitu Saluran Pemasaran I (Petani – Makelar – Pedagang Besar – PPT ), Saluran Pemasaran II (Petani – Pedagang Besar - PPT) dan Saluran Pemasaran III (Petani – Tengkulak – Pedagang Besar – PPT).
2. Saluran pemasaran adalah saluran II yang paling efisien (saluran lebih pendek, margin pemasaran lebih kecil dan farmer share yang lebih besar serta nilai EP yang lebih kecil).
3. Perkembangan harga jagung di Kabupaten Deli Serdang selama bulan pada tahun bulan Januari 2018 cenderung meningkat signifikan.
4. Pasar jagung pipil antara pasar lokal (petani) dan pasar acuan (pedagang besar) terintegrasi dalam jangka pendek dan jangka panjang.
6.2 Saran
1. Saran terhadap pemerintah
Agar pemerintah memfasilitasi pembentukan kelompok tani untuk mengefektifkan pengendalian harga dasar jagung
2. Saran terhadap petani
Untuk mengefisiensikan saluran pemasaran disarankan petani membentuk kelompok pemasaran bersama (KPB) sebagai pemasok jagung ke konsumen akhir.
3. Saran terhadap peneliti selanjutnya
Agar peneliti melanjutkan peneitian pemasaran jagung dengan memasukkan variable kualitas produk dalam model penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Asmarantaka, R.W. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian. Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor
________________. 2012. Pemasaran Agribisnis (Agrimarketing). Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Badan Pusat Statistik. 2017. Sumatera Utara Dalam Angka.
_________________. 2016. Deli Serdang Dalam Angka.
_________________. 2017. Kecamatan Patumbak Dalam Angka.
Budiman, S.P. Hartyanto. Sukses Bertanam Jagung Komoditas Pertanian Yang Menjanjikan. Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
Dimas Kharisma Ramadhani. 2013. Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung (Zea mays) di Kabupaten Grobogan (Studi Kasus di Kecamatan Geyer). Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2011. Database Jagung. Direktorat Budidaya Serealia. Kementerian Pertanian. Jakarta.
_________________________________. 2016. Database Jagung. Direktorat Budidaya Serealia. Kementerian Pertanian. Jakarta.
Ika Novita Sari. 2004. Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Kotler dan Armstrong. 2008. Dasar-dasar Pemasaran, Jilid 2. Edisi Ketigabelas, Penerbit Indeks Gramedia, Jakarta.
Kotler dan Armstrong. 2003. Dasar-dasar Pemasaran, Jilid 1. Edisi Kesembilan,.
Penerbit Indeks Gramedia, Jakarta.
___________________. 2004. Prinsip-prinsip Pemasaran Jilid 2. Edisi Ketujuh.
Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Kotler dan Susanto, A.B, 2001. Manajemen Pemasaran di Indonesia, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Edisi Pertama, Jilid II, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Mardalis, 2008. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Bumi Aksara.
Jakarta.
Nur Widiastuti. 2013. Saluran dan Marjin Pemasaran Jagung Di Kabupaten Grobogan. SEPA : Vol. 9 No. 2 Februari 2013.
Prawitasari, Yati S. 2010. Analisis SWOT Sebagai Dasar Perumusan Strategi Pemasaran Berdaya Saing. Universitas Diponegoro. Semarang.
Rahmanta. 2016. Analisis Pemasaran Jagung di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
QE Journal Vol.05 - No. 04 Desember 2016.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Sudiyono. 2004. Pemasaran Pertanian. Cetakan Ketiga, Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Bandung.
Tangendjaja. et al. 2005. Analisis Ekonomi Permintaan Jagung untuk Pakan.
Dalam Ekonomi Jagung Indonesia. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.
Lampiran 1 : Tabel Karakteristik Responden (PETANI) No.Urut Resp Umur Pendidikan Lama
Berusahatani
No. Urut
No.Urut Resp Umur Pendidikan Lama
Lampiran 2 :Analisis Statistik Karakteristik Responden (PETANI) Frequency Table
Umur
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 23 s/d 31 thn 8 9.3 9.3 9.3
32 s/d 40 thn 12 14.0 14.0 23.3
41 s/d 50 thn 53 61.6 61.6 84.9
51 s/d 59thn 13 15.1 15.1 100.0
Total 86 100.0 100.0
Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid SD 7 8.1 8.1 8.1
SMP 47 54.7 54.7 62.8
SMA 32 37.2 37.2 100.0
Total 86 100.0 100.0
Lama_Berusaha
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1 - 5 Tahun 13 15.1 15.1 15.1
6-10 tahun 42 48.8 48.8 64.0
11-15 tahun 31 36.0 36.0 100.0
Total 86 100.0 100.0
Jumlah_tanggungan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0 -3 orang 58 67.4 67.4 67.4
> 3 oran 28 32.6 32.6 100.0
Total- 86 100.0 100.0
Luas_Lahan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0,04 - 0,12 ha 51 59.3 59.3 59.3
0,16 - 0,4 ha 15 17.4 17.4 76.7
0,6 - 0,8 ha 16 18.6 18.6 95.3
1 - 2 ha 4 4.7 4.7 100.0
Total 86 100.0 100.0
Produksi_Jagung
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0,3 - 1 ton 56 65.1 65.1 65.1
0,3 - 1 ton 24 27.9 27.9 93.0
6 - 15 ton 6 7.0 7.0 100.0
Total 86 100.0 100.0
Lampiran 3 : Harga Jagung Pipilan per-Tiga Bulan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2011-2016
Tahun Triwulan Harga (triwulan)
2011 Triwulan I 2,515
Triwulan II 2,400
Triwulan III 2,320
Triwulan IV 2,250
2012 Triwulan I 2,638
Triwulan II 2,450
Triwulan III 2,450
Triwulan IV 2,713
2013 Triwulan I 3,333
Triwulan II 2,400
Triwulan III 2,366
Triwulan IV 2,500
2014 Triwulan I 3,429
Triwulan II 3,330
Triwulan III 3,530
Triwulan IV 3,580
2015 Triwulan I 3,212
Triwulan II 3,150
Triwulan III 3,150
Triwulan IV 3,438
2016 Triwulan I 3,329
Triwulan II 3,300
Triwulan III 3,400
Triwulan IV 3,400
Lampiran 4 : Output Analisis Trend Liner Perkembangan Harga Jagung Tahun 2011-2016 di Kabupaten Deli Serdang.
Model Summary and Parameter Estimates Dependent Variable: HARGA_JAGUNG_PIPIL
Equation
Model Summary Parameter Estimates
R Square F df1 df2 Sig. Constant b1
Linear .632 37.779 1 22 .000 2273.518 53.395
The independent variable is Sequence.
Lampiran 5 : Harga Jagung Pipil di Saluran I (Petani - Makelar – Pedagang Besar- PPT)
Lampiran 6 :Harga Jagung Pipil di Saluran II (Petani- Pedagang Besar - PPT)
Lampiran 7 : Harga Jagung Pipil di Saluran III (Petani- Tengkulak - Pedagang Besar - PPT)
Lampiran 8 : Output analisis integrasi pasar jagung antara petani (pasarlokal) dengan Pedagang besar (pasaracuan) di Kecamatan Patumbak.
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .425a .180 .103 82.778
a. Predictors: (Constant), HJpedagangbesar_t_1, HJpetani_t_1, SelisihHJpedagabesart_HJbpt_t_1
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
B Std. Error Beta