• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6. Batasan Operasional Penelitian

Batasan operasional digunakan untuk menjelaskan setiap variabel yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Hal ini diterapkan untuk membatasi ruang lingkup pengertian yang dimaksud dalam variabel-variabel pada penelitian, yaitu:

1. Penyerapan Tenaga Kerja adalah banyaknya jumlah pekerja sektor pariwisata dalam angka yang diestimasi dalam jumlah pekerja pada lapangan pekerjaan utama bagian transportasi, pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum pada tahun 2010-2019 (dalam satuan jiwa) di Kabupaten Manggarai Barat. Data jumlah pekerja sektor pariwisata diperoleh dari Badan Pusat Statistik Manggarai Barat.

2. Peraturan Daerah Kepariwisataan

Perda kepariwisataan adalah peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk mengatur sistem kepariwisataan di Kabupaten Manggarai Barat. Data dalam penelitian ini menggambarkan perbandingan keadaan pariwisata sebelum dan sesudah adanya perda kepariwisataan di Kabupaten Manggarai Barat.

3. Jumlah wisatawan adalah angka yang menunjukan banyaknya pengunjung pariwisata di kabupaten Manggarai Barat dalam satuan jiwa pada tahun 2010-2019.

Data jumlah wisatawan ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Manggarai Barat.

4. Tingkat upah adalah angka yang menunjukkan banyaknya upah minimum regional di Kabupaten Manggarai Barat dalam satuan Rupiah pada tahun 2010-2019. Data tingkat upah diperoleh dari Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur.

5. Indeks pembangunan manusia di Manggarai barat di dapat dari data indeks pembangunan manusia berasal dari data Badan Pusat Statistik Manggarai Barat dalam satuan persen pada tahun 2010-1019.

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

4.1. Gambaran Geografis di Kabupaten Manggarai Barat

Kabupaten Manggarai Barat merupakan kabupaten yang terletak di wilayah bagian barat Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Manggarai Barat berbatasan secara langsung dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dipisahkan oleh selat Sape. Kabupaten Manggarai Barat terletak di antara 080 14’ – 090 00’ Lintang Selatan (LS) dan 1190 21’–

1200 20’ Bujur Timur (BT).

Keadaan topografi Kabupaten Manggarai Barat bervariasi berdasarkan bentuk relief, kemiringan lereng dan ketinggian dari permukaan laut. Ketinggian wilayah Kabupaten Manggarai Barat menunjukkan ketinggian yang bervariasi yakni kelas ketinggian kurang dari 100 m dpl sebanyak 23 %, 100 – 500 m dpl sebanyak 47 %, 500 – 1000 m dpl sebanyak 25 % dan lebih dari 100 m dpl sebanyak 3 %. Lebih dari 75 % ketinggian di atas 100 m dpl, kemiringan lerengnya bervariasi antara 0-2 %, 2-15 %, 15-40 % dan di atas 40 %. Namun secara umum wilayah Kabupaten Manggarai Barat memiliki topografi berbukit-bukit hingga pegunungan.

Kabupaten Manggarai Barat memiliki batas-batas yaitu bagian utara berbatasan dengan laut Flores, bagian selatan dengan laut Sawu, bagian barat dengan selat Sape, dan bagian timur dengan kabupaten Manggarai. Kabupaten Manggarai Barat memiliki luas daratan mencapai 2.947,50 km2, yang terdiri dari daratan Flores dan pulau-pulau besar

administrasi kabupaten Manggarai Barat terdiri dari 12 Kecamatan yakni kecamatan Komodo, Boleng, Sano Nggoang, Mbeliling, Lembor, Welak, Lembor Selatan, Kuwus, Ndoso, Macang Pacar, Kuwus Barat, dan Pacar.

Gambar 4.1

Peta Kabupaten Manggarai Barat

Kabupaten Manggarai Barat beriklim tropis. Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Kabupaten Manggarai Barat dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin berasal dari Asia dan Samudera Pasifik yang menyebabkan terjadinya musim hujan.

Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Walaupun demikian, mengingat Manggarai

Barat dan NTT umumnya dekat dengan Australia arus angin mengandung uap air dari Asia dan Samudera Pasifik sampai di wilayah Manggarai Barat kandungan airnya sudah berkurang yang mengakibatkan hari hujan di Manggarai Barat lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah yang lebih dekat dengan Asia.

Hal ini menjadikan Manggarai Barat sebagai wilayah yang tergolong kering di mana hanya 4 bulan (Januari sampai dengan Maret dan Desember) yang keadaannya relatif basah dan 8 bulan sisanya relatif kering.Besarnya curah hujan tahunan rata-rata sekitar 1500 mm/tahun. Curah hujan tertinggi terdapat di pegunungan yang mempunyai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut, sedangkan curah hujan pada daerah-daerah lainnya relatif rendah.

Secara umum iklimnya bertipe tropic kering/semi arid dengan curah hujan yang tidak merata.

4.2. Kondisi penduduk di Kabupaten Manggarai Barat

Penduduk Kabupaten Manggarai Barat berdasarkan data agregat kependudukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tahun 2020 adalah sebanyak 264.437 jiwa, yang terdiri dari 133.330 laki-laki dan 131.107 perempuan dan tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat.

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2020

NO KECAMATAN LAKI – LAKI PEREMPUAN %

9 Lembor Selatan 12.531 9,4 12.431 9,5 24.962 9,4

10 Mbeliling 7.160 5,4 7.176 5,5 14.336 5,4

11 Pacar 8.668 6,5 8.589 6,6 17.257 6,5

12 Kuwus Barat 5.519 4,1 5.507 4,2 11.026 4,2

TOTAL 133.330 100 131.107 100 264.437 100

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat. (2021)

Jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai sampai tahun 2020 berdasarkan umur dan jenis kelamin telah dicatat dalam tabel berikut. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa persentase penduduk berjenis kelamin laki-laki di Kabupaten Manggarai Barat lebih besar dibandingkan perempuan.

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Umur LAKI –

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat (2021)

Jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai sampai tahun 2020 berdasarkan Agama dan jenis kelamin telah dicatat dalam tabel berikut. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa penduduk di Kabupaten Manggarai Barat mayoritas beragama Katolik, dan paling sedikit beragama Khonghucu. Jika dilihat dari jenis kelamin, jumlah persentase penduduk laki-laki yang beragama Katolik lebih banyak daripada penduduk perempuan.

Tabel 4.3

Tabel Jumlah Penduduk Menurut Agama dan Jenis Kelamin

AGAMA LAKI – LAKI PEREMPUAN L + P

∑ % ∑ % ∑ %

Islam 26.809 20,1 26.166 20 52.975 20

Kristen 882 0,7 815 0,6 1.697 0.6

Katolik 105.509 79,1 104.003 79,3 209.512 79,2

Hindu 118 0,1 114 0,1 232 0,1

Budha 10 0 8 0 18 0

Khonghucu 2 0 0 0 2 0

Lainnya 0 0 1 0 1 0

Total 133.330 100 131.107 100 264.437 100

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat (2021)

Jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai sampai tahun 2020 berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis kelamin telah dicatat dalam tabel berikut. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa persentase penduduk yang lulusan SD lebih besar dari tingkat pendidikan lainnya di Kabupaten Manggarai Barat, yaitu sebanyak 85.560 jiwa. Jika dilihat dari jenis kelamin, persentase penduduk perempuan yang lulusan SD lebih banyak dari penduduk laki- laki.

Tabel 4.4

Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin

PENDIDIKAN LAKI-LAKI PEREMPUAN Jumlah

Belum Sekolah 14.401 13.499 27.900

Belum Tamat 42.024 39.714 81.738

SD 41.042 44.518 85.560

SLTP 10.661 10.866 21.572

SLTA 15.462 13.107 28.569

D1 645 625 1.270

D3 1.161 1.616 2.777

S1 5.200 4.272 9.472

S2 119 26 145

S3 9 3 12

Tidak Sekolah 2.606 2.861 5.467

Total 133.330 100 131.107

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat (2021)

Jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai sampai tahun 2020 berdasarkan status perkawinan dan jenis kelamin telah dicatat dalam tabel berikut. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa persentase penduduk berstatus belum kawin besar dari status penduduk lainnya di Kabupaten Manggarai Barat. Jika dilihat dari jenis kelamin, persentase status belum kawin penduduk laki-laki lebih besar daripada penduduk perempuan.

Tabel 4.5

Jumlah Penduduk Menurut Status Perkawinan dan Jenis Kelamin

STATUS KAWIN

LAKI – LAKI PEREMPUAN L + P

∑ ∑ % ∑ % %

Belum Kawin 77.705 70.589 53,8 148.294 56,1 58,3

Kawin 54.882 55.923 42,7 110.805 41,9 41,2

Cerai Hidup 80 254 0,2 334 0,1 0,1

Cerai Mati 663 4.341 3,3 5.004 1,9 0,5

Total 133.330 131.107 100 264.437 100 100

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat (2021)

Jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai sampai tahun 2020 berdasarkan mobilitas penduduk yang dilihat dari data migrasi dalam 12 kecamatan telah dicatat dalam tabel berikut. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa terdapat 1690 orang yang migrasi masuk di tahun 2020. Jumlah migrasi terbanyak adalah di kecamatan Komodo yaitu sejumlah 790 orang.

Tabel 4.6

MOBILITAS PENDUDUK

Migrasi Masuk tahun 2020

NO KECAMATAN Migrasi masuk

Tahun 2020

1 Macang Pacar 76

2 Kuwus 75

3 Lembor 136

4 Sano Nggoang 63

5 Komodo 790

6 Boleng 55

7 Welak 117

8 Ndoso 96

9 Lembor Selatan 117

10 Mbeliling 72

11 Pacar 53

12 Kuwus Barat 40

TOTAL 1.690

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat (2021)

Jumlah penduduk di Kabupaten Manggarai sampai tahun 2020 berdasarkan migrasi keluar penduduk dari 12 Kecamatan telah dicatat dalam tabel berikut. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa jumlah penduduk yang bermigrasi keluar sebanyak 1935 orang.

Dari 12 kecamatan, jumlah penduduk yang paling banyak melakukan migrasi keluar adalah dari kecamatan Komodo yaitu sebanyak 646 orang.

Tabel 4.7

Tabel Migrasi Keluar Penduduk Per Kecamatan Tahun 2020 NO KECAMATAN Migrasi Keluar

1 Macang Pacar 102

Sumber: Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Manggarai Barat (2021)

4.3. Potensi Wisata di Kabupaten Manggarai Barat

Potensi pariwisata di destinasi pariwisata Labuan Bajo meliputi potensi fisik dan nonfisik. Dimana potensi fisik yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berwujud sehingga dapat disaksikan langsung sebagai daya tarik wisata, sedangkan potensi non fisik yang dimaksud adalah segala sesuatu yang tidak berwujud namun dapat berpengaruh positif dalam mendukung pengembangan pariwisata di destinasi pariwisata Labuan Bajo.

1. Potensi Fisik

a. Potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk menjadi daya tarik wisata. Sebagai destinasi wisata berbasis alam, Labuan Bajo memiliki potensi wisata yang sangat banyak. Potensi wisata yang ada ini, menyebar di beberapa gugusan pulau yang berada di sekitar Taman Nasional Komodo, dan beberapa di antaranya masih satu daratan dengan kota Labuan Bajo. Selama bertahun-tahun, wilayah potensial ini

dikunjungi wisatawan karena inisiatif dari para guide untuk menambah pengalaman petualangan tamunya, atau berkunjung hanya karena permintaan wisatawan. Namun sama sekali tidak memberikan manfaat ekonomi baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah karena manajemennya belum ada. Berikut merupakan matrik potensi wisata di destinasi wisata Labuan Bajo.

Tabel 4. 8

Potensi Wisata Manggarai Barat No Nama potensi

wisata Keunikan/daya tarik Jarak/cara tempuh dari Labuan Bajo 1 Pulau bidadari Pantai pasir putih, dan

7 mil/j taman laut

2 Pulau Sture taman laut 9 mil/jalur laut

3 Wae Cicu Pantai pasir putih 3km/ darat

4 Wae Rana Pantai pasir putih 2 km/darat

5 Bukit Binongko Panorama, sunset, padang savana 1,5 km/ darat

6 Pulau Sabolo Taman laut 10 mil/laut

7 Pulau Seraya kecil Taman laut 10 mil/laut

8 Batu Gosok Pantai pasir putih 10 mil/ laut

9 Batu Susun Gua alam 3 km/darat

10 Klumpang Pantai pasir putih, tempat budidaya

Mutiara 5 km/darat

11 Tanjung rangko Taman laut 4 mil/laut

12 Taro sitangga Pantai pasir putih 3,5 mil/laut 13 Pulau ular Pantai pasir putih dan terdapat

beberapa spesies ular 5 mil/laut 14 Pulau burung Pantai pasir putih 4,5 mil/laut 15 Pantai Mentjerite Pantai pasir putih 4,5 mil/laut

16 Pantai pede Pantai pasir putih 1 km/darat

17 Puncak pramuka Padang savana, pantai pasir putih,

dan panorama sunset 0,7 mil /laut 18 Pantai gorontalo Pantai Panjang 6 km/darat

19 Waraloka Situs megalitik Kurang lebih 6 mil/laut

20 Lemes Situs megalitik Kurang lebih 6 mil/laut

21 Kompo nepa Situs megalitik Kurang lebih 6 mil/laut

22 Pulau Pungu Taman laut 7,9 mil/ laut

23 Pulau Kanawa Pantai pasir putih dan taman Laut Kurang lebih 6 mil/laut

24 Pulau Sitonda Taman laut Kurang lebih 6 mil/laut

25 Golo Mori Panorama alam dan sunset point 10 km/darat

26 Danau dolat Danau 15km/darat

Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat (2021)

b. Aksesibilitas menuju destinasi pariwisata Labuan Bajo

Akasesibilitas menuju Labuan Bajo tergolong baik dan cukup menunjang kunjungan wisatawan. Pilihan transportasi menuju Labuan Bajo sama seperti destinasi lainya di Indonesia. Wisatawan bisa mengakses Labuan Bajo melalui jalur udara atau jalur laut. Akses ini didukung oleh prasarana seperti pelabuhan kapal dan bandara udara yang bagus dan beroperasi normal setiap harinya. Sehingga sangat mendukung dalam mobilitas wisatawan baik menuju Labuan Bajo maupun wisatawan yang pulang dari Labuan Bajo.

c. Amenitas yang ada di destinasi pariwisata Labuan Bajo.

Sebuah destinasi akan menjadi nyaman untuk dikunjungi apabila ketersediaan fasilitas wisata seperti akomodasi untuk penginapan mudah dijangkau. Untuk Labuan Bajo fasilitas pariwisata berupa akomodasi, restoran dan lain sebagainya sudah ada dengan beragam kelas. Kemudian fasilitas lainya yang menyatu dengan kegiatan umum seperti tempat ibadah dan perbankkan juga sudah ada. Hal ini turut mendukung kegiatan pariwisata dan dirasa cukup mengakomodir semua kebutuhan wisatawan.

2. Potensi Non Fisik

Potensi non fisik adalah segala sesuatu yang tidak berwujud sebagai atraksi wisata namun mendukung pengembangan pariwisata di destinasi pariwisata Labuan Bajo. Hal ini menjadi penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari potensi fisik berupa yaitu daya tarik wisata ataupun infrastruktur penunjangnya.

a. Citra Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia.

Citra Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia merupakan hal positif yang mendukung pengembangan pariwisata. Hal ini tidak terlepas dari dinobatkanya Varanus Komodoensis sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sejak penetapan

itu wisatawan mancanegara beramai-ramai mengunjungi Labuan Bajo. Hal ini turut mengundang perhatian sejumlah public figur tersohor yang berasal dari kalangan pesepakbola, pembalap, dan artis Hollywood. Semuanya ini merupakan hal positif yang turut mendongkrak citra dan popularitas Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia.

b. Keramahtamahan penduduk lokal dalam menjamu wisatawan.

Hospitalitas merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam pengembangan sektor jasa pariwisata. Bentuk sederhana dari hospitalitas adalah keramahan dalam menerima wisatawan, dan mendukung dengan menciptakan situasi yang kondusif terhadap keberadaan wisatawan. Masyarakat Labuan Bajo secara keseluruhan terlihat mendukung keberadaan wisatawan karena selama ini belum ada tindakan kriminal yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat lokal sebagai bentuk protes terhadap keberadaan wisatawan.

c. Tren kunjungan yang meningkat setiap tahun Citra positif Labuan Bajo sebagai destinasi wisata dunia turut mendongkrak kunjungan wisatawan setiap tahunya. Jika dilihat dari kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dalam kurun waktu tiga tahun

wisatawan mancanegara, tetapi juga dari wisatawan domestik. Kenyataan ini juga mematahkan pandangan bahwa pariwisata Labuan Bajo itu sangat mahal. Jadi harga untuk setiap destinasi dimanapun sangat bergantung pada aspek pelayanan dan fasilitas yang didapatkan saat berwisata.

d. Religiusitas masyarakat lokal Mayoritas penduduk lokal Labuan Bajo merupakan pemeluk agama katolik. Iman serta sikap religiusitas masyarakat turut menambah citra Labuan Bajo sebagai destinasi yang nyaman untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Di Labuan Bajo sejauh ini belum ada intervensi berlebihan dari lembaga agama (agama katolik) mengenai praktik pariwisata. Misalnya atraksi wisata atau akomodasi wisata yang ditambah dengan embel-embel agama. Sehingga kebijakan lembaga agama juga tidak bersinggungan dengan pariwisata. Dengan kata lain antara praktik pariwisata dengan kehidupan sosial keagamaan masyarakat lokal masih berjalan beriringan.

e. Keamanan dan kenyamanan Keamanan dan kenyamanan merupakan faktor yang penting untuk dijaga dalam pengembangan sebuah destinasi. Daerah yang terlibat konflik secara terus menerus pasti tidak akan pernah menjadi pilihan untuk dikunjungi (kecuali wisatawan minat khusus). Keamanan dan kenyamanan di Labuan Bajo masih terjaga dengan sangat baik. Pengamanan ketat di setiap jalur masuk wisatawan sebagai upaya meminimalisir tindakan kriminal giat dilakukan oleh pihak berwenang. Tindakan pencurian juga masih jarang terjadi.

f. Semangat masyarakat (generasi muda) untuk mendukung kegiatan pariwisata sebagai dinamika sosial. Pembangunan aksesibilitas serta akomodasi pariwisata yang cukup masif di Labuan Bajo menyemangati masyarakat untuk memahami pariwisata sebagai dinamika sosial baru. Pariwisata yang dulunya hanya digeluti oleh beberapa kalangan saja turut membuka pikiran masyarakat (generasi muda) untuk menyiapkan

diri agar bisa mengambil bagian di dalamnya. Berdirinya berbagai tempat kursus bahasa asing di Labuan Bajo tentunya berdasarkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sektor pariwisata sebagai industri yang bisa mendatangkan keuntungan ekonomi. Sehingga untuk menjadi bagian dari industri ini prasyarat yang harus dipenuhi juga harus disiapkan. Sekolah pariwisata yang dulunya sepi peminat menjadi ramai bahkan jumlahnya bertambah setiap tahun.

4.4. Kebijakan Dan Pengembangan Wisata di Kabupaten Manggarai Barat

Program peraturan daerah dalam meningkatkan kesempatan kerja di Kabupaten Manggarai Barat adalah dengan meningkatkan usaha ekonomi kreatif.

RSPD Mabar sebagai salah satu media informasi milik pemerintah daerah menyampaikan bahwa Kepala Dinas Pengembangan Ekonomi Kreatif Pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Manggarai Barat bekerjasama dengan Kepala Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Manggarai Barat untuk melaksanakan program pengembangan ekonomi kreatif. Usaha ekonomi kreatif yang disarankan untuk dikembangkan adalah seperti pembuatan dan penjualan kain tenun asli daerah, makanan khas daerah, aksesoris khas daerah kepada turis-turis yang datang ke labuan bajo, maupun kepada penduduk asli setempat yang membutuhkan. Dengan adanya program ini, tentunya dapat membuka lapangan pekerjaan yang banyak bagi penduduk di Kabupaten Manggarai Barat.

Selain ekonomi kreatif, pemerintah daerah kabupaten manggarai barat juga merencanakan pengembangan pariwisata melalui peningkatan investasi pariwisata Kabupaten Manggarai Barat. Dalam peningkatan investasi ini, sekda kabupaten Manggarai Barat menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti regulasi yang mendukung percepatan investasi namun tetap memperhatikan

kaidah teknis peraturan yang berlaku, transparansi, pelayanan yang terpadu, serta penyediaan tenaga kerja yang berkualitas. Percepatan investasi tidak semata untuk meningkatkan pendapatan daerah tetapi juga untuk membantu penyerapan tenaga kerja lokal.

Pemerintah pusat juga sedang melaksanakan program kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) di kabupaten Manggarai Barat. Anggaran pengembangan KSPN Kabupaten Manggarai Barat sampai tahun 2020 adalah Rp.

1,3 triliun. Anggaran 1,3 triliun ini digunakan untuk penataan sejumlah kawasan destinasi pariwisata sebanyak Rp. 67,7 miliar diantaranya Pantai Loh Buaya dan Pulau Rinca. Anggaran lainnya sebanyak Rp. 420,1 miliar digunakan untuk melakukan penanganan ruas jalan dalam kota, penataan trotoar dan drainase (pedestrian), perbaikan geometrik jalan, pelebaran dan preservasi serta pembangunan jalan baru. Selanjutnya bidang pemukiman sebesar Rp.646,3 miliar untuk Penataan Kawasan Pantai Marina, Bukit Pramuka dan kawasan Puncak Waringin. Rp.174,5 miliar digunakan untuk pembangunan baru rumah swadaya pariwisata sebanyak 315 unit di Kabupaten Manggarai Barat.

Selain itu, pemerintah daerah kabupaten Manggarai Barat juga memiliki 12 kawasan strategis pariwisata daerah (KSPD) seperti KSPD Komodo, KSPD Situs Warloka dan sekitarnya, KSPD Liang Panas, KSPD Torong Boleng, KSPD Mbeliling, KSPD Sano Nggoang, KSPD Watu Panggal-Ndaring dan sekitarnya, KSPD Istana Ular dan sekitarnya, KSPD Mberenang, KSPD Cunca Polo, KSPD Pacar Pu’u. KSPD Kuburan Tua Nggerang dan sekitarnya, KSPD Watu Timbang Raung dan sekitarnya. Dengan adanya KSPD ini, pemerintah daerah kabupaten Manggarai Barat menetapkan 55 desa wisata agar pemerintah desa juga ikut terlibat

aktif dalam pembangunan pariwisata. Hal ini bertujuan agar wisatawan tidak hanya fokus destinasi taman nasional komodo, pulau komodo, dan pulau rinca saja. Perihal anggarannya, pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp.12 miliar pada 2019 lalu. Dari dana Rp. 12 miliar tersebut, sebanyak Rp. 6,7 miliar sudah dialokasikan untuk pembangunan dan penataan desa tematik.

Namun, dalam upaya pengembangan pariwisata ini terjadi ketimpangan relasi kuasa antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dominasi pemerintah pusat terlampau kuat dalam menentukan kebijakan pembangunan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat. Jumlah APDB Manggarai Barat yang berjumlah Rp.1 triliun tentu tidak cukup untuk mendongkrak pembangunan pariwisata apalagi sumber daya manusia birokrasi yang tidak memadai. Padahal keberhasilan pembangunan juga ditentukan oleh kesanggupan demokrasi baik secara anggaran maupun sumber daya manusia sebagai penggerak utama pembangunan, tak hanya itu tidak tersambungnya agenda kerja representasi di level DPRD, yang ditopang oleh tidak terkonsolidasi nya segenap elemen pelaku wisata (Guide, Biro perjalanan, kapal wisata, homestay, desa wisata, petani peternak) sebagai kelompok asosiasional yang berbasis kepentingan pun semakin membuat pembangunan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat berjalan tanpa orientasi yang jelas dan tidak terukur.

Keadaan tersebut dinilai bahwa pemerintah daerah tidak sanggup mengelola pariwisata di daerahnya sendiri, sehingga pemerintah pusat pun menghadirkan Badan Otorita Pariwisata (BOP) yang langsung terhubung dengan kementerian untuk membantu pembangunan pariwisata. Perkembangan pariwisata juga ditandai

dengan banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Manggarai Barat.

Tabel 4.9

Jumlah wisatawan di Kabupaten Manggarai Barat tahun 2010-2019

Tahun Jumlah wisatawan

2010 32.980

2011 38.274

2012 37.465

2013 31.018

2014 77.395

2015 71.681

2016 91.601

2017 134.181

2018 179.081

2019 220,125

Sumber: BPS Manggarai Barat (2021)

Dengan adanya jumlah wisatawan yang banyak baik wisatawan asing maupun domestik, para pengusaha atau investor pun membuka banyak jenis usaha wisata seperti hotel, restoran, dll. Sistem kerja yang diterapkan oleh para pengusaha ini dengan sistem kontrak. Jadi para pengusaha enggan menambah pekerja dalam waktu yang sudah ditentukan walaupun jumlah wisatawan terus meningkat. Kecuali jika ada pekerja yang mengundurkan diri atau dipecat, barulah perusahaan mencari penggantinya.

Tingkat upah juga menjadi salah satu pertimbangan bagi para pengusaha atau perusahaan

Tabel 4.10

Tingkat upah minimum regional kabupaten manggarai barat tahun 2010-2019

Tahun Tingkat upah

2010 850.000

2011 850.000

2012 925.000

2013 1.010.000

2014 1.010.000

2015 1.250.000

2016 1.425.000

2017 1.525.000

2018 1.660.000

2019 1.795.000

Sumber: BPS Manggarai Barat (2021)

Menurut data tingkat UMR Kabupaten Manggarai Barat diatas, diketahui bahwa terjadi peningkatan setiap tahun nya selama 10 tahun. Selain beberapa hal di atas, pemerintah daerah juga melakukan peningkatan sumber daya manusia yang diukur dari indeks pembangunan manusia. Pemerintah aktif melakukan berbagai upaya seperti bekerjasama dengan perguruan tinggi, menyiapkan lahan untuk pembangunan politeknik pariwisata negeri, melakukan kegiatan pelatihan, mengadakan sertifikasi, membentuk desa-desa wisata, melakukan pendampingan, penguatan sanggar-sanggar budaya dan masih banyak lagi. Hal ini dapat dibuktikan dengan indeks pembangunan manusia yang

Tabel 4.11

Indeks pembangunan manusia Kabupaten Manggarai Barat tahun 2010-2019

Tahun Indeks pembangunan manusia

2010 57,08

2011 57,75

2012 58,13

2013 59,02

2014 59,64

2014 60,04

2016 60,63

2017 61,65

2018 62,58

2019 63,50

Sumber: BPS Manggarai Barat (2021)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah gambaran umum tentang data yang akan digunakan dalam penelitian ini yang dilihat dari besar nilai minimum, nilai maksimum, mean, median, dan

Statistik deskriptif adalah gambaran umum tentang data yang akan digunakan dalam penelitian ini yang dilihat dari besar nilai minimum, nilai maksimum, mean, median, dan

Dokumen terkait