• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEOR

D. Batasan Usia Pernikahan Menurut UU No 1 Tahun 1974

1. Sejarah Lahirnya UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974

Pada jaman sebelum penjajahan Belanda, Islam datang ke Indonesia selalu ada orang-orang tertentu yang ahli dalam bidang agama Islam yang di percaya oleh masyarakat Islam, dan di serahi tugas mengurus masjid dan perkawinan. Artinya, selalu ada orang yang di percaya untuk menyelesaikan persengketaan yang muncul di kalangan muslim. Penyelesaian sengketa ini dalam bentuk hakam, karena itu lembaga pertama yang muncul di Indonesia adalah lembaga Tahkim. Dari lembaga Tahkim kemudian diikuti lembaga ahl al-hill wa al-„aqd dalam bentuk peradilan adat, dimana para hakim di angkat oleh rapat marga, negeri, dan semacamnya. Setelah terbentunya Islam di Nusantara, lembaga ini berubah menjadi Peradilan Swapraja, yang kemudian berubah menjadi Peradilan Agama. (Nasution, Khoerudin. 2002:38). Di Pulau Jawa, hakim-hakim Islam sudah ada di setiap kabupaten sejak abad ke 16, dimana tugas Pengadilan Agama diselenggarakan oleh Penghulu, yaitu petugas kemesjidan setempat, Sidang biasanya berlangsung di masjid-masjid yang

kemudian terkenal dengan sebutan “Serambi Masjid”. ( Teba,

Sudirman. 1993:30).

Pada masa penjajahan Belanda, hukum kawin yang berlaku adalah Compedium Freijer, yaitu kitab hukum yang berisi aturan- aturan Hukum Perkawinan dan Hukum Waris menurut Islam.

21

Kitab ini di tetapkan pada tanggal 25 Mei 1760 untuk dipakai oleh Pengadilan Persatuan Kompeni Belanda di Hindia Timur (VOC). Atas usul Residen Cirebon, Mr. P.C. Hasselaar (1757-1765) di buatlah kitab Tjirebonshe Rechtsboek. Sementara untuk Landraad (sekarang Pengadilan Negeri) di Semarang tahun 1750 di buat Compendium tersendiri. Keberadaan dan berlakunya Compendium di perkuat dengan sepucuk surat VOC pada tahun 1808, yang isinya memerintahkan agar penghulu Islam di biarkan mengurus sendiri perkara-perkara perkawinan dan warisan. ( Sosroatmodjo, Arso. 1978: 12).

Berdasar pada Ind.Stbl. No. 55, pada tanggal 3 Agustus 1828, Compendium Freijer diperbarui sebagian, kemudian di cabut secara berangsur-angsur pada abad ke 19. Sedangkan bagian terakhir, yaitu mengenai warisan, baru di cabut pada tanggal 17 Februari 1913 dengan Kominklink Besluit. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Hukum Perkawinan Islam yang tertulis dan cukup dengan menumpang pada pasal 131 ayat (2) sub b Indische Staatsregelling yang merupakan kelanjutan dari pasal 75 redaksi lama Regellings Reglement tahun 1854. (Nasution, Khoerudin. 2002:40).

Pada masa kekuasaan Belanda, perkawinan diatur dalam beberapa peraturan menurut golongannya, yaitu:

a. Bagi orang orang Eropa berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek).

22

b. Bagi orang-orang Tionghoa secara umum, juga berlaku

Burgelijk Wetboek (BW) dengan sedikit pengecualian, yakni hal-hal yang berhubungan dengan pencatatan jiwa dan acara sebelum perkawinan.

c. Bagi orang Arab dan Timur Asing bukan Tionghoa berlaku, hukum adat mereka.

d. Bagi orang Indonesia asli berlaku hukum adat mereka, dan untuk orang Kristen berlaku Undang-undang Perkawinan Kristen Jawa, Minahasa, dan Ambon berdasar Stbl. No. 74 Th 1933.

e. Bagi orang yang tidak termasuk ke dalam empat golongan tersebut berlaku Peraturan Perkawinan Campuran. (Sosroatmodjo, Arso. 1978:15-17).

Karena itu dapat di simpulkan sebelum datangnya Belanda ke Indonesia, hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum Islam. Kemudian dengan kedatangannya ke Indonesia, pemberlakuan Hukum Islam berkurang sedikit demi sedikit yang akhirnya hanya di berlakukan untuk kasus-kasus yang sangat terbatas.

Undang-undang pertama yang pertama lahir setelah kemerdekaan adalah UU No. 22 Tahun 1946. Undang-undang ini seharusnya berlaku untuk seluruh Indonesia, tetapi karena keadaan belum memungkinkan baru diberlakukan untuk Jawa dan Madura. Kemudian di berlakukan di seluruh Indonesia pada tahun 1954,

23

dengan di undangkannya UU No. 32 Tahun 1954. (Nasution, Khoeruddin. 2002:50).

UU No 22 Tahun 1946 hanya mengatur tentang pencatatan perkawinan, talak dan rujuk, yang berarti hanya menyangkut hukum acara bukan materi hukum perkawinan. Padahal masyarakat Indonesia telah lama menginginkan adanya undang-undang yang mengatur perkawinan. Pada Tahun 1950, Pemerintah Indonesia membetuk sebuah panitia Penyelidik Peraturan dan Hukum Perkawinan, Talak dan Rujuk, dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Agama No B/2/4299, tanggal 1 Oktober 1950.

Panitia ini bertugas meneliti dan meninjau kembali semua peraturan mengenai perkawinan serta menyusun RUU yang sesuai dengan perkembangan zaman. Panitia ini di Ketuai oleh Mr. Teuku Mohammad Hasan. Beberapa tahun setelah mengalami perubahan dan perkembangan baru, panitia berhasil merumuskan sebuah rancangan undang undang (RUU). Namun, rancangan yang pernah di ajukan ke DPR oleh pemerintah tidak dapat menjadi UU, karena DPR ketika itu menjadi beku setalah adanya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Kemudian pada tanggal 1 April 1960 di bentuk panitia baru yang di ketuai oleh Mr. M. Moeh. Noer Poerwosoetjipto. (Nasution, Khoeruddin. 2002:51).

Sejak Tahun 1960 sampai dengan tahun 1963 terdapat tiga kali pertemuan penting dari organisasi-organisasi yang juga

24

membicarakan masalah perkawinan dan urgensi lahirnya perundang-undangan yaitu:

1) Musyawarah Nasional Kesejahteraan Keluarga yang di adakan oleh Departemen Sosial pada Tahun 1960.

2) Konferensi Badan Penasehat Perkawinan dan Penasehat Perceraian (BP4) pusat yang di selenggarakan Departemen Agama tahun 1962.

3) Seminar Hukum Nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LPHN) dan Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (PERSAHI) pada tahun 1963. (Saleh, Wantjik. 1987: 1-2)

Tahun 1967 dan 1968 pemerintah menyampaikan dua buah RUU kepada DPR Gotong Royong, yaitu:

a) RUU tentang Pokok-pokok Perkawinan Umat Islam.

b) RUU tentang Ketentuan Pokok Perkawinan.

Akan tetapi tidak mendapat persetujuan dari DPRGR berdasarkan keputusan 5 Januari 1968. Alasannya karena ada salah satu fraksi yang menolak dan dua fraksi yang abstain, meskipun sejumlah tiga belas fraksi dapat menerimanya. (Sosroatmodjo, Arso. 1978:10).

25

Tanggal 31 Juli 1973 pemerintah menyiapkan sebuah RUU baru dengan No. R. 02/PU/VII/1973 tentang perkawinan kepada DPR , yang terdiri atas 15 bab dan 73 pasal. RUU ini mempunyai tiga tujuan, yaitu:

a. Memberi kepastian hukum bagi masalah-masalah perkawinan, sebab sebelum adanya UU Perkawinan hanya bersifat judge made law.

b. Melindungi hak-hak kaum wanita dan sekaligus memenuhi keinginan dan harapan kaum wanita. c. Menciptkan UU yang sesuai dengan tuntutan

zaman.(Nasution, Khoeruddin. 2002:53).

Setelah mengalami perubahan atas usul amandemen yang masuk dalam Panitia Kerja, pada tanggal 22 Desember 1973 RUU tersebut disampaikan pada Sidang Paripurna DPR untuk disahkan menjadi UU. Akhirnya, RUU tersebut disahkan oleh DPR dan pada tanggal 2 Januari 1974 diundangkan sebagai Undang-undang No 1 Tahun 1974, terdiri dari 14 (empat belas) bab dan dibagi dalam 67 (enam puluh tujuh) pasal. (Sosroatmodjo, Arso. 1978:34)

2. Usia Perkawinan menurut UU No 1 Tahun 1974

26

a. Perkawinan hanya di izinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

b. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain, yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.

c. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini, berlaku juga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang di maksud dalam pasal 6 ayat (6).

Ketentuan batasan umur ini di dasarkan pada pertimbangan kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan. Ini sejalan dengan prinsip yang diletakkan di UU perkawinan, bahwa calon suami istri harus telah masak jiwa raga nya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. Untuk itu harus di cegah adanya perkawinan antara calon suami dan istri yang masih di bawah umur. (Sudarsono, 2005:7).

27

Alasan lain di dalam undang-undang diatur mengenai batasan usia pernikahan adalah di khawatirkan apabila tidak di atur mengenai batasan umur minimal seseorang untuk menikah, maka akan terjadi jumlah peledakan penduduk. Batas umur yang lebih rendah untuk seorang wanita melangsungkan pernikahan, mengakibatkan laju kelahiran lebih tinggi jika di bandingkan dengan batas umur yang lebih tinggi. Walaupun sudah terdapat program Keluarga Berencana pada zaman sekarang ini, namun apabila tidak di atur mengenai batasan minimal usia seseorang menikah dikhawatirkan Indonesia akan mengalami padat penduduk. (Supramono, Gatot. 1998:17).

Namun meskipun telah di atur mengenai batas minimal untuk seorang untuk menikah, undang-undang seperti memperbolehkan adanya penyimpangan terhadap aturan tersebut melalui pasal 7 ayat (2) UU No 1 Tahun 1974 yang

berbunyi: “Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta Dispensasi kepada Pengadilan dan Pejabat lain, yang di tunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun

wanita”, sayangnya pasal tersebut tidak di sertai dengan alasan

untuk mengajukan dispensasi tersebut.

Undang-undang seperti tidak konsisten. Di satu sisi , pasal 6 ayat (2) menyebutkan bahwa untuk melangsungkan perkawinan bagi seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua

28

puluh satu) tahun harus mendapat kan izin dari kedua orang tua, di sisi lain dalam pasal 7 ayat (1) menyebut bahwa perkawinan hanya di ijinkan apabila pihak laki-laki telah mencapai usia 19 (sembilan belas) tahun, dan pihak wanita berusia 16 (enam belas) tahun. Hal yang menjadikan perbedaan adalah, jika belum berusia 21 tahun yang dibutuhkan adalah izin dari orang tua, sedangkan yang belum mencapai usia 19 tahun dan 16 tahun yang diperlukan izin dari pengadilan.

Dokumen terkait