A. KONSEP ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF 1. KEHAMILAN
3. BAYI BARU LAHIR (BBL) DAN NEONATUS a. Konsep Dasar
1) Pengertian
Bayi baru lahir (Neonatus) adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran, berusia 0-28 hari. BBL memerlukan penyesuaian fisiologis berupa maturasi, adaptasi (menyesuaikan diri dari kehidupan intauterin ke kehidupan ektrauterin) dan toleransi bagi BBL untuk dapat hidup dengan baik (Rahardjo dan Marmi, 2015).
Menurut Dep.Kes. RI (2005) dikutip Rahardjo dan Marmi (2015) bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
Menurut M. Sholeh Kosim dikutip Rahardjo dan Marmi (2015) Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.
2) Perubahan fisiologis bayi baru lahir setelah hamil a) Termoregulasi
Termoregulasi menurut Johariyah dan Ningrum (2012) sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih trendah dari kandungan dari dalan kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja
dalam suhu kamar 250C maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konduksi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/KgBB/menit, berikut adalah penjelasan mengenai:
(1) Konveksi
Hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara disekeliling bayi, misalnya BBL diletakkan dekat pintu atau jendela terbuka.
(2) Konduksi
Pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misalnya popok atau celana basah tidak langsung diganti.
(3) Radiasi
Panas tubuh bayi memancar ke lingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misalnya BBL diletakkan ditempat dingin.
(4) Evaporasi
Cairan atau air ketuban yang membasahi kulit bayi dan menguap, misalnya bayi baru lahir tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.
b) Sistem pernafasan
Interaksi antara sistem pernapasan, kardiovaskuler dan usunan saraf pusat mrnimbulkan pernapasan yang
teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi system harus berfungsi secara normal (Johariyah dan Ningrum, 2012).
Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk: (1) Mengeluarkan cairan dalam paru.
(2) Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
c) Sistem pencernaan
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghiap dan menelan. Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbata. Hubungan antara ekopagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonates. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas, kurang dari 30 cc untuk seorang bayi cukup bulan. Kapasita lambung ini akan bertambah secara lambat beramaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.
Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya
kolon. Pada bayi barun lahir kurang efisien dalam mempertahankan air dibanding dengan orang dewasa, sehingga menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.
d) Sistem Kardisovaskuler dan Darah
Sistem kardiovaskuler aliran darah dari plasenta berhenti pada tali pusat di klem tindakan ini menyebabkan suplay oksigen ke plasenta menjadi tidak ada dan menyebabkan serangkaian reaksi selanjutnya.
Sirkulasi janin memiliki karakteristik sirkulasi bertekanan rendah. Karena paru-paru adalah organ tertutup yang berisi cairan, maka paru-paru memerlukan aliran darah yang minimal. Sebagian besar darah janin yang teroksigenasi melalui paru-paru mengalir melalui lubang antara atrium kanan dan kiri yang disebut dengan foramen ovale. Darah yang kaya akan oksigen ini kemudian secara istimewa mengalir ke otak melalui duktus arteriosus.
Perubahan pada darah menurut Walyani dan Purwoastuti (2016), yaitu :
(1) Kadar hemoglobin (Hb)
Bayi dilahirkan dengan kadar Hb yang tinggi. Konsentrasi Hb normal dengan rentan 13,7-20 gr%. Hb yang dominan pada bayi adalah hemoglobin F yang
secara bertahap akan mengalami penurunan selama 1 bulan. Hb bayi memiliki daya ikat (afinitas) yang tinggi terhadap oksigen, hal ini merupakan efek yang menguntungkan bagi bayi. Selama beberapa hari kehidupan, kadar Hb akan mengalami peningkatan sedangkan volume plasma menurun. Akibat penurunan volume plasma tersebut, maka kadar hematokrit (Ht) mengalami peningkatan.
Kadar Hb selanjutnya akan mengalami penurunan secara terus-menerus selama 7-9 minggu. Kadar Hb bayi usia 2 bulan normal adalah 12 gr%.
(2) Sel darah merah
Sel darah merah bayi baru lahir memiliki usia yang sangat singkat (80 hari) jika dibandingkan dengan orang dewasa (120 hari). Pergantian sel yang sangat cepat ini akan menghasilkan lebih banyak sampah metabolik, termasuk bilirubin yang harus dimetabolisme. Kadar bilirubin ynag berlebihan ini menyebabkan ikterus fisiologis yang terlihat pada bayi baru lahir, oleh karena itu ditemukan hitung retikulosit yang tinggi pada bayi baru lahir, hal ini mencerminkan adanya pembentukan sel darah merah dalam jumlah yang tinggi.
(3) Sel darah putih
Jumlah sel darah putih rata-rata pada bayi baru lahir memiliki rentang mulai dari 10000-30000/mm2. peningkatan lebih lanjut dapat terjadi pada bayi baru lahir normal selama 24 jam pertama kehidupan. Periode menangis yang lama juga dapat menyebabkan hitung sel darah putih meningkat.
e) Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak, bayi baru lahir memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Setelah tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir, seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir glukosa darah akan turun dalam waktu cepat 1-2 jam (Sulistyaati dan Nugrahaeny, 2013).
Menurut Sulistyawati dan Nugrahaeny (2013) Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu: (1) Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus
didorong untuk diberi ASI secepat mungkin setelah lahir)
(2) Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis) (3) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama
Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenolisis), hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen terutama dalam hati selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang mengalami hipotermia pada saat lahir akan mengalami hipoksia, maka ia akan menggunakan persediaan glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan hangat. Perhatikan bahwa keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua persediaan digunanakan pada jam pertama, maka otak bayi dalam keadaan beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan, lewat bulan, dan yang mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim serta distress janin merupakan resiko utama karena simpanan energi berkurang atau digunakan sebelum lahir. Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi kejang-kejang halus, sianosis, apnea, menangis lemah, latergi, lunglai dan menolak makanan. Akibat jangka panjang hipoglikemia adalah kerusakan yang meluas diseluruh sel-sel otak, bidan
harus selalu ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya (Sulistyaati dan Nugrahaeny, 2013).
f) Sistem Ginjal
Bayi baru lahir cukup bulan memiliki beberapa defisit struktural dan fungsional pada sistem ginjal. Banyak dari kejadian defisit tersebut akan membaik pada bulan pertama kehidupan dan merupakan satu-satunya masalah untuk bayi baru lahir yang sakit atau mengalami stress. Keterbatasan fungsi ginjal menjadi konsekuensi khusus jika bayi baru lahir memerlukan cairan intravena atau obat-obatan yang meningkatkan kemungkinan kelebihan cairan (Sulistyaati dan Nugrahaeny, 2013).
Ginjal bayi baru lahir menunjukan aliran penurunan kecepatan filtrasi glomerulus, kondisi ini mudah menyebabkan retensi cairan dan intoksikasi air. Fungsi tubulus tidak matur sehingga dapat menyebabkan kehilangan natrium dalam jumlah besar dan ketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak dapat mengonsentrasikankan urine dengan baik, tercemin dari berat jenis urine (1,004) dan osmolalitas urine yang rendah. Semua keterbatasan ginjal ini lebih buruk pada bayi kurang bulan (Sulistyaati dan Nugrahaeny, 2013).
Bayi baru lahir mengekskresikan sedikit urine pada 48 jam pertama kehidupan, yaitu hanya 30-60 ml. Normalnya dalam urine tidak terdapat protein atau darah, debris sel yang banyak dapat mengindikasikan adanya cedera atau iritasi dalam sistem ginjal. Bidan harus ingat bahwa adanya masa abdomen yang ditemukan pada pemerikasaan fisik seringkali adalah ginjal dan dapat mencerminkan adanya tumor, pembesaran, atau penyimpangan didalam ginjal (Sulistyawati dan Nugrahaeny, 2013).
3) Asuhan bayi baru lahir dalam 2 jam pertama a) Penilaian Awal pada bayi segera setelah lahir
Penilaian awal bayi baru lahir dilaksanakan segera setelah (menit pertama) dengan menilai 2 indikator kesejahteraan bayi yaitu pernafasan frekuensi denyut jantung bayi. Alasan kenapa hanya 2 aspek ini yang dinilai karena pada menit pertama bidan berpacu dengan waktu dalam melakukan pertolongan bayi dan ibunya, sehingga 2 aspek penilaian ini sudah sangat mewakili kondisi umum bayi baru lahir. (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
Kata APGAR yaitu Apperance (warna kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace (respon reflek), Activity (tonus otot), and Respiration (pernapasan) (Walyani dan Purwoastuti, 2016). Penilaian ini digunakan mulai 5 menit
pertama sampai 10 menit hasil pengamatan masing-masing aspek dituliskan dalam skala skor 0-2.
Tabel 1.3 Skala pengamatan APGAR skor aspek pengamatan
bayi baru lahir
Skor 0 1 2 Apperance/warna kulit Seluruh tubuh bayi berwarna kebiruan atau coklat Warna kulit tubuh normal, tetapi warna tangan dan kaki kebiruan Warna kulit seluruh tubuh normal Pulse/nadi Denyut jantung tidak ada Denyut jantung <100x/menit Dengut jantung >100/menit Grimace/respon reflek Tidak ada respon terhadap stimulasi Wajah meringis saat di stimulasi Meringis atau menarik atau batuk atau bersin saat stimulasi Activity/ tonus otot Lemah atau
tidak ada gerakan Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan Bergerak aktif dan spontan Respiratory/ pernapasan Tidak pernapas atau bernapasan lambat atau tidak teratur Menangis lemah atau terdengar seperti merintih Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur
Penilaian APGAR 5 menit pertama dilakukan saat kala III persalinan dengan menepatkan bayi baru lahir diatas perut pasien dan handuk kering yang hangat (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
Selanjutnya, hasil pengamatan bayi baru lahir berdasarkan kriteria diatas dituliskan dalam tabel APGAR score seperti dibawah ini
Tabel 1.4 Apgar Score
Aspek pengamatan 5 menit pertama 10 menit pertama
A=Apperance/warna kulit P=Pulse/denyut
nadi/menit)
G= Grimace /tonus otot A= Activity/ Gerak bayi R=Respiratory/
Pernapasan bayi Jumlah skor
Sumber : Walyani dan Purwoastuti (2016)
Hasil dijumlahkan ke bawah untuk menentukan penatalaksanaan bayi baru lahir dengan tepat, hasil penilaian pada 5 menit pertama merupakan patokan dalam penentuan penanganan segera setelah lahir (Walyani dan Purwoastuti, 2001).
Tabel 1.5 Penanganan bayi baru lahir Nilai APGAR 5 menit
pertama
Penanganan
0-3 a) Tempatkan ditempat hangat dengan lampu sebagai sumber penghangat b) Pemberian oksigen c) Resusitasi d) Stimulasi e) Rujuk
4-6 a) Tempatkan dalam tempat yang hangat
b) Pemberian oksigen c) Stimulasi taktil
7-10 Dilakukan penatalaksanaan sesuai bayi normal
Sumber : Walyani dan Purwoastuti (2016).
b) Pemotongan tali pusat
Pemotongan dan perkiraan tali pusat menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu dan bayi. Pemotongan sampai denyut nadi tali pusat terhenti dapat dilakukan pada bayi normal (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
Pembahasan mengenai tali pusat berkaitan dengan kapan waktu yang tepat untuk mengeklem atau menjepit tali pusat
atau diketahui ada 2 perbedaan mengenai hal ini dengan rasionalisasi dari masing-masing pendapat tersebut (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
(1) Penjepit tali pusat setalah bayi lahir
Praktik ini umumnya didukung oleh komunitas obstetrik, namun tidak lazim digunakan dibeberapa negara. Para pendukung praktik ini mengkhawatirkan adanya efek samping pada bayi jika penjepitan tali pusat ditunda seperti adanya gawat pernapasan, polisitemia, sindrom hiperviskositas, dan hiperbilirubinemia. Penjepitan dan pemotongan tali pusat dilakukan dengan segera jika keadaan bayi gawat dan membutuhkan tindakan resusitasi (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
(2) Penundaaan penjepitan tali pusat
Menurut Walyani dan Purwoastuti (2016) penundaan penjepitan tali pusat peningkatan volume darah menguntungkan dan mendukung proses fisiologis alami pada transisi kehidupan ekstrauterus. Beberapa keuntungan penundaan penjepitan tali pusat antara lain: (a) Berlanjutnya bolus/ aliran darah teroksigenasi
(b) Volume yang besar meningkatkan perfusi kapiler paru-paru
(c) Pencapaian oksigenasi adekuat yang lebih cepat membuat penutupan struktur janin seperti duktus arteriosus.
Untuk mendukung transfusi fisiologis ini, maka pada 1-3 menit pertama kehidupan letakan bayi diatas perut pasien dalam keadaan tali pusat masih utuh. Posisi ini akan meningkatkan aliran darah dalam jumlah sedaang ke bayi baru lahir tanpa kemungkinan bahaya dari dorongan dan bolus darah yang banyak. Setelah 3 menit, sebagian besar aliran darah dari tali pusat telah masuk kedalam tubuh bayi baru lahir (Walyani dan Purwoastuti, 2016). Walaupun aliran darah mungkin terbalik yaitu dari bayi ke plasenta, situasi ini kemungkinan besar tidak akan terjadi karena tali pusat akan mengalami spasme dengan cepat pada suhu di lingkungan luas uterus (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
Menurut Walyani dan Purwoastuti (2016) Setelah 3 menit bayi berada di perut pasien, lanjutkan prosedur pemotongan tali pusat sebagai berikut:
(a) Klem tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2/3 cm dari pangkal pusat bayi (tinggalkanlah kira-kira 1 cm diantara 2 klem tersebut).
(b) Potonglah tali pusat diantara 2 klem sambil melindungi perut bayi dengan tangan kiri penolong (c) Pertahankan kebersihan pada saat pemotongan tali
pusat, ganti sarung tangan jika ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusat dengan menggunakan gunting steril atau DTT
(d) Ikatlah tali pusat dengan kuat atau gunakan penjepit khusus tali pusat.
(e) Periksa tali pusat setiap 15 menit atau apabila masih terjadi perdarahan lakukan pengikatan sekali lagi dengan ikatan lebih kuat.
(f) Pastikan benar bahwa tidak ada perdarahan tali pusat. Perdarahan 30 ml dari bayi baru lahir setara dengan 600 ml pada orang dewasa.
(g) Jangan mengoleskan salep atau zat apapun ke tali pusat. Hindari juga pembungkusan tali pusat. Tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit. (3) Mengikat tali pusat
Setalah dipotong, tali pusat diikat menggunakan benang dengan kuat. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, pengikat tali pusat saat ini dilakukan dengan menggunakan penjepit untuk satu kali pakai sampai dengan tali pusat lepas. Penjepit ini biasanya terbuat dari plastik dan sudah dalam kemasan steril dari pabrik. Pengikatan dilakukan dijarak 2,5 cm dari umbilikus (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
c) Resusitasi
Tujuan resusitasi adalah intervensi tepat waktu untuk mengembalikan efek-efek biokimia asfiksia sehingga mencegah kerusakan otak dan korban yang akibatnya akan ditanggung sepanjang hidup (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
Menurut Walyani dan Purwoastuti (2016) Sebelum bidan memutuskan untuk melakukan resusitasi, perlu adanya identifikasi dari kondisi bayi yang didasarkan pada beberapa hal berikut:
T : Trauma A : Asfiksia janin M: Medikasi internal M : Malformasi S : Sepsis
S : Syok
Berdasarkan kemungkinan, adanya faktor-faktor ini, maka bidan seharusnya melakukan persiapan yang maksimal terhadap kelahiran bayi antara lain tempat yang kondusif untuk melakukan resusitasi, peratalatan dan obat-obatan yang selalu dalam kondisi siap pakai. Jika hasil pemeriksaan sejak proses kehamilan sampai dengan persalinan bidan memprediksi kondisi janin baik namun ternyata saat persalinan bayi memerlukan resusitasi, maka lakukanlah resusitasi ditempat bidan, sambil dilakukan resusitasi rujuklah bayi ke RS.
Pertolongan bayi akan lebih cepat jika bidan sudah menghubungi RS untuk menjemput bayi, bahkan akan lebih baik lagi jika bidan sudah menghubungi tim penolong neonatus di RS tersebut sambil menjelaskan riwayat kehamilan dan persalinannya (Walyani dan Purwoastuti, 2016).
(1) Teknik resusitasi bayi baru lahir yang efektif
Teknik membuat pernapasan yang adekuat menurut Walyani dan Purwoastuti (2016) adalah:
(a) Penghisapan lendir
Beberapa BBL tidak segera dapat melakukan pernapasan secara spontan karena tidak dapat
mengeluarkan lendir sendiri, maka bidan harus melakukan penghisapan lendir. Penghisapan lendir dimulai dari mulut kemudian dilanjutkan ke hidung alat penghisap lendir yang digunakan adalah suction dengan selang yang lembut. Penghisapan lendir delay tidak dianjurkan karena saat digunakan, tangan bidan akan terpajan cairan dari tubuh bayi. Cairan taua lendir kebanyakan berada di daerah orofaring bayi.
(b) Posisi yang benar
Setiap bayi dengan gangguan pernapasan spontan sebaiknya ditempatkan dalam posisi tidur terlentang dengan posisi leher sedikit ekstensi. Tindakan ini membantu meminimalkan penyempitan trakea dan memaksimalkan aliran udara. Apabila oksiput bayi sangat bengkak, letakkan gulungan kain setinggi 1-2 cm dibawah bahu bayi untuk mempertahankan jalan nafas agar sedikit hiperekstensi.
(c) Stimulasi taktil
Sambil melakukan evaluasi usaha nafas bayi atau bidan melakukan stimulasi taktil untuk merangsang nafas bayi. Apabila bayi apnea
memberikan respon terhadap stimulasi taktil berarti bayi berada dalam periode apnea primer.
(d) Pemberian oksigen
Apabila setelah stimulasi taktil bayi dapat bernafas dengan teratur dan spontan namun warna kulit bayi masih kehitaman, maka dapat diberikan oksigen 100% yang mengalir dengan bebas. Untuk memberikan oksigen dalam aliran bebas ini dan dapat menggunakan selang oksigen yang dihubungkan dengan masker wajah atau bag anastesi yang ditempatkan didekat wajah bayi. Warna kulit bayi yang kemerahan mengindikasikan adanya peningkatan kondisi bayi, dan pemberian oksigen dapat dikurangi secara bertahap.
(e) Pemberian ventilasi tekanan positif (vtp)
Apabila tidak ada pernafasan teratur dan spontan atau jika warna kulit bayi tetap kehitaman, maka bidan harus mulai tindakan pemberian ventilasi tekanan positif dengan menggunakan bag dan masker resusitasi serta sumber oksigen dengan volume 5-10 liter/menit (Sulistyawati dan Nugrahaeny, 2013).
d) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Inisiasi menyusui dini menurut Sulistyawati dan Nugrahaeny (2013) langkah ini disebut dengan inisiasi menyusu dini (IMD). Beberapa penelitian membuktikan bahwa IMD membawa banyak sekali keuntungan bagi ibu dan bayi :
(1) Mendekatkan hubungan batin ibu dan bayi, karena pada IMD terjadi komunikasi batin secara sangat pribadi dan sensitiv
(2) Bayi akan mengenal ibunya lebih dini sehingga akan memperlancar proses laktasi
(3) Suhu tubuh bayi stabil karena hipotermi telah dikoreksi panas ibunya
(4) Reflek oksitosin inu akan berfungsi secara maksimal (5) Mempercepat produksi ASI, karena sudah mendapat
rangsangan isapan dari bayi lebih awal
Menurut Sulistyawati dan Nugrahaeny (2013) prosedur dan gambaran proses IMD yaitu:
(1) Tempatkan bayi diatas perut ibunya dalam 2 jam pertama tanpa pembatas kain diantara keduanya (skin to skin contact), lau selimuti ibu dan bayi dengan selimut hangat. Posisikan bayi dengan keadaan tengkurap.
(2) Setelah bayi stabil dan mulai beradaptasi dengan lingkungan luar uterus, ia akan mulai mencari puting susu ibunya.
(3) Hembusan angin dan panas tubuh ibu akan memancarkan bau payudara ibu, secara insting bayi akan mencari sumber bau tersebut
(4) dalam beberapa menit bayi akan merangkak ke atas dan mencari serta merangsang puting susu ibunya, selanjutnya ia akan mulai menghisap
(5) selama periode ini tangan bayi akan memassase payudara ibu dan selama itu pula reflek pelepasan hormon oksitrosin ibu akan terjadi.
(6) Selama prosedur ini bidan tidak boleh meninggalkan ibu dan bayi sendirian. Tahap ini sangat penting karena bayi dalam kondisi siaga penuh. Bidan harus menunda untuk memandikan bayi, melakukan pemeriksaan fisik maupun prosedur lain.
4) Teori evidence base pada bayi baru lahir dan neonates.
1) Penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni, Dini Kurniawati dan Hanny Rasni pada tahun 2018 menunjukkan bahwa pijat bayi mampu meningkatkan bounding attachment bayi baru lahir secara efektif sehingga perkembangan bayi lebih optimal.
a. Dokumentasi asuhan kebidanan bayi baru lahir di dokumentasikan dalam bentuk SOAP
S : Subyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis
1) Identitas Bayi a) Nama
Ditanyakan untuk mengenal bayi. b) Jenis Kelamin
Untuk memberikan informasi pada ibu dan keluarga serta memfokuskan saat pemeriksaan genetalia.
c) Anak ke-
Untuk mengkaji adanya kemungkinan sibling rivalry. 2) Identitas Orangtua
a) Nama
Untuk mengenal ibu dan suami. b) Umur
Usia orangtua mempengaruhi kemampuannya dalam mengasuh dan merawat bayinya.
c) Suku/Bangsa
Asal daerah atau bangsa seorang wanita berpengaruh terhadap pola pikir mengenai tenaga kesehatan, pola nutrisi dan adat istiadat yang dianut.
d) Agama
Untuk mengetahui keyakinan orangtua sehingga dapat menuntun anaknya sesuai dengan keyakinannya sejak lahir. e) Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat intelektual orangtua yang dapat mempengaruhi kemampuan dan kebiasaan orangtua dalam mengasuh, merawat dan memenuhi kebutuhan bayinya. f) Pekerjaan
Status ekonomi seseorang dapat mempengaruhi pencapaian status gizi (Hidayat dan Uliyah, 2008). Hal ini dapat dikaitkan dengan pemenuhan nutrisi bagi bayinya. Orangtua dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi cenderung akan memberikan susu formula pada bayinya.
g) Alamat
Bertujuan untuk mempermudah tenaga kesehatan dalam melakukan follow up terhadap perkembangan bayi.
3) Data Kesehatan
a) Riwayat Kehamilan
Untuk mengetahui beberapa kejadian atau komplikasi yang terjadi saat mengandung bayi yang baru saja dilahirkan. Sehingga dapat dilakukan skrining test dengan tepat dan segera.
b) Riwayat Persalinan
Untuk menentukan tindakan segera yang dilakukan pada bayi baru lahir.
O : Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laborarorium dan uji diagnosis lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan.
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum: Baik
b) Tanda-tanda Vital: Pernapasan normal adalah antara 30-50 kali per menit, dihitung ketika bayi dalam posisi tenang dan tidak ada tanda-tanda distress pernapasan. Bayi baru lahir memiliki frekuensi denyut jantung 110-160 denyut per menit dengan rata-rata kira-kira 130 denyut per menit.