a. Pengertian
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir pada usia kehamilan genap 37-41 minggu dengan presentasi belakang kepala atau letak sungsang yang melewati vagina tanpa memakai alat. Neonatus adalah bayi baru lahir yang menyesuaikan diri dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan diluar uterus.
Ciri-ciri bayi baru lahir normal adalah 1) Berat badan 2.500-4.000 gram 2) Panjang badan 48-52 cm 3) Lingkar dada 30-38 cm 4) Lingkar kepala 33-35 cm
5) Frekuensi jantung 120-160 kali/menit 6) Pernafasan 40-60 kali/menit
7) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup 8) Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna
9) Kuku agak panjang dan lemas
10) Genetalia pada perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora dan pada laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada 11) Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12) Refleks moro atau gerak memeluk jika dikagetkan sudah baik 13) Refleks grasp atau mengengam sudah baik
14) Eliminasi baik meconium keluar dalam 24 jam pertama, meconium berwarna hitam kecoklatan (Tando Naomy, 2018) b. Perubahan fisiologis bayi segera setelah lahir
1) Termogulasi
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka sendiri, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungannya. Sehingga pada saat bayi meninggalkan lingkungan Rahim ibu yang sangat hangat bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit sehingga mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme mengigil merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa mengigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat yang terdapat diseluruh tubuh bayi, dan mereka mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya udara dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C suhu normal neonates adalah 36,50 C- 37,50 C (Ningrum Ema dan Johariyah, 2012)
2) System pernafasan
Selama dalam Rahim ibu janin mendapat oksigen dari pertukaran gas mill plasenta. Setelah bayi lahir pertukaran gas melalui paru-paru bayi. Rangsangan gas melalui paru-paru-paru-paru untuk gerakan pernafasan pertama.
a) Tekanan mekanik dari toraks pada saat melewati jalan lahir b) Menurun kadar pH oksigen dan meningkat kadar pH CO2nya. c) Rangsangan dingin didaerah muka dapat merangsang
permukaan gerakan pinafasa
d) Pernafasan pertama pada bayi baru lahir normalnya dalam waktu 30 detik setelah persalinan. Dimana tekanan pada rongga dada bayi melalui jalan lahir mengakibatkan cairan paru-paru kehilangan sepertiga dari jumlah cairan tersebut. Sehingga cairan yang hilang diganti dengan udara. Paru-paru mengembang menyebabkan rongga dada troboli pada bentuk
semula jumlah cairan paru-paru pada bayi normalnya 80-100 museum lampung (Walyani Elisabeth, 2015).
3) System pencernaan
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek muntah dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerrna makanan (selain usus) masih terbatas. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas yaitu kurang dari 30 cc untuk seorang bayi baru lahir cukup bulan, dan kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersama dengan pertumbuhanya (Walyani dan Purwoastuti, 2015).
Bayi baru lahir biasanya harus memulai untuk memasukkan, mencerna dan mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana plasenta telah melakukan fungsinya. Saat lahir kapasitas lambung bayi sekitar 6ml/kg atau rata-rata sekitar 50-60cc tetapi segera bertambah sampai 90 ml selama beberapa hari pertama kehidupan. Lambung akan kosong dalam tiga jam untuk pemasukan makanan dan kosong sempurna dalam dua jam sampai empat jam. Spingter antara esophagus dan lambung pada neonatus masih immature, mengalami relaksasi sehingga dapat menyebabkan regurgitasi makanan segera setelah diberikan. Regurgitasi juga dapat terjadi karena control persarafan pada
lambung belum sempurna. Bayi baru lahir mempunyai usus yang lebih panjang dalam ukurannya terhadap besar bayinya dan jika dibandingkan dengan orang dewasa. Keadaan ini menyebabkan area permukaan untuk absorbs lebih luas.
4) System kardiovaskuler dan darah
Oksigenasi yang memadai merupakan factor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Pengerutan pembuluh ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan, yang memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan aliran darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi limfe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar Rahim
(Ningrum Ema dan Johariyah, 2012). 5) Metabolisme glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada
saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat satu-dua jam. Penurunan gula darah dilakukan dengan tiga cara :
a) Melalui penggunaan ASI bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir.
b) Melalui penggunaan cadangan glikogen
c) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen. Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Sehingga bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen terutama dalam hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam Rahim (Ningrum Ema dan Johariyah, 2012).
6) System ginjal
Bayi baru lahir cukup bulan memilki defisit structural dan fungsional pada system ginjal. Banyak dari kejadian defisit tersebut akan membalik pada bulan pertama kehidupan dan merupakan satu-satunya masalah untuk bayi baru lahir yang sakit atau mengalami stress. Keterbatasan fungsi ginjal menjadi konsekuensi khusus jika bayi baru lahir memerlukan cairan
intravena atau obat-obatan yang meningkatkan kemungkinan kelebihan cairan (Sulistyawati dan Mugrahaeny, 2013).
Ginjal bayi baru lahir menunjukkan aliran penurunan kecepatan filtrasi glomelurus, kondisi ini mudah menyebabkan retensi cairan dan introksikasi air. Fungsi tubulus tidak matur sehingga dapat menyebabkan kehilangan natrium dalam jumlah besar dan ketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak dapat mengonsentrasikan urine dengan baik, tercermin dari berat jenis urine (1,004) dan osmolalitas urine yang rendah. Semua keterbatasan ginjal ini lebih buruk pada bayi kurang bulan (Sulistyawati dan Nugrahaeny, 2013).
Bayi baru lahir mengekresikan sedikit urine pada 48 jam pertama kehidupan. Yaitu hanya 30-60 ml. normalnya dalam urine tidak terdapat protein atau darah, debris sel yang banyak dapat mengindikasikan adanya cedera atau iritasi dalam system ginjal. Bidan harus ingat bahwa adanya masa abdomen yang ditemukan pada pemeriksaan fisik seringkali adalah ginjal dan dapat mencerminkan adanya tumor, pembesaran atau penyimpanan di dalam ginjal (Sulistyawati dan Nugrahaeny, 2013).
c. asuhan bayi baru lahir dalam dua jam pertama : 1) penilaian awal pada bayi segera setelah lahir
sebelum bayi lahir, perlengkapan dikamar bersalin harus diperiksa apakah sudah siap, apakah semua alat sudah lengkap
dan apakah tidak ada yang macet. Perlengkapan yang diperlukan dikamar bersalin, yaitu sebagai berikut.
a) Meja tempat bayi yang lengkap dengan lampu 60 watt b) Tabung oksigen dengan alat pemberi oksigen pada bayi c) Untuk menjaga kemungkinan terjadinya asfiksia, perlu
menyediakan alat resusitasi.
d) Alat pemotongan dan pengikat tali pusat dan obat antiseptic serta kain kasa steril untuk merawat tali pusat
e) Tanda pengenal bayi yang sama dengan ibu f) Tempat tidur bayi, pakaian bayi dan thermometer.
g) Dan lain-lain seperti kain kasa, baju steril, dan obat antiseptic, yang akan dipakai untuk menolong persalinan.
Setelah bayi lahir, bayi segera dikeringkan dibungkus dengan handuk kering, dan diletakkan di dada ibu untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Penilaian klinis bayi normal segera sesudah lahir bertujuan untuk mengetahui derajat vitalitas dan mengukur reaksi bayi terhadap tindakan resusitasi. Derajat vitalitas bayi adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat ensensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi, seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks primitive menghisap dan mencari putting susu. Pada saat kelahiran, apabila bayi gagal menunjukkan reaksi vital, akan terjadi penurunan denyut jantung secara cepat, tubuh
menjadi biru atau pucat., dan refleks melemah sampai menghilang. Jika tidak ditangani secara cepat, tepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan mungkin menyebabkan kematian (Tando Naomy, 2018) 2) pemotongan tali pusat
pemotongan tali pusat menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu dan bayi. Waktu pemotongan tali pusat bergantung pada pengalaman seorang bidan. Pemotongan sampai denyut nadi tali pusat terhenti dapat dilakukan pada bayi normal, sedangkan pada bayi gawat perlu dilakukan pemotongan tali pusat secepat mungkin agar dapat dilakukan resusitasi sebaik-baiknya. Bahaya yang ditakutkan adalah bahaya terjadinya infeksi. Untuk menghindari infeksi tali pusat yang dapat menyebabkan sepsis dan meningitis, gunting tali pusat harus benar-benar steril. Selanjutnya tali pusat di rawat dalam keadaan steril atau bersih dan kering (Tando Naomy, 2018)
3) Resusitasi (bila perlu)
Hal yang mendasari dilaksanakannya resusitasi pada bayi adalah terjadinya asfiksia. Tiga kondisi patologis yang menyebabkan asfiksia yaitu kurangnya oksigenasi, retensi karbon dioksida yang berlebih, dan asidosis metabolic (Walyani dan Purwastuti, 2015). Tujuan resusitasi adalah intervensi tepat waktu untuk mengembalikan efek-efek biokimia asfiksia sehingga mencegah
kerusakan otak dan organ yang akibatnya akan ditanggung sepanjang hidupnya (Walyani dan Purwastuti, 2015).
a) Sebelum memutuskan untuk melakukan resusitasi perlu adanya identifikasi dari kondisi bayi yang didasarkan pada beberapa hal berikut : T : Trauuma U : Asfiksia janin M : Medikasi internal M : Malformasi S : Sepsis S : Syok
b) Teknik resusitasi bayi baru lahir yang efektif menurut Dewi, (2010) antara lain
(2) Penghisapan lender
Beberapa BBL tidak segera melakukan pernapasan secara spontan karena tidak dapat mengeluarkan lendir sendiri maka bidan harus melakukan penghisapan lendir.Penghisapan lendir dimulai dari mulut kemudian dilanjutkan ke hidung. Alat penghisap lendir yang digunakan adalah suction dengan selang yang lembut (Walyani dan Purwastuti, 2015).
(3) Posisi yang benar
Setiap bayi dengan gangguan pernapasan spontan sebaiknya ditempatkan dalam posisi tidur terlentang dengan posisi leher
sedikit ekstensi. Tindakan ini membantu meminimalkan penyempitan trakea dan memaksimalkan aliran udara. Apabila oksiput bayi sangat bengkak, letakkan gulungan kain setinggi 1-2 cm dibawah bahu bayi untuk mempertahankan jalan nafas agar sedikit hiperekstensi (Walyani dan Purwastuti, 2015).
(4) Stimulasi taktil
Sambil melakukan evaluasi usaha nafas bayi, bidan melakukan stimulasi taktil untuk merangsang nafas bayi. Apabila bayi abnea memberikan respons terhadap stimulasi taktil, berarti bayi berada dalam periode abnea primer (Walyani dan Purwastuti, 2015). (5) Pemberian oksigen
Apabila setelah stimulasi taktil bayi dapat bernafas dengan teratur dan spontan namun warna kulit bayi masih kehitaman maka dapat diberikan oksigen 100% yang mengalir dengan bebas. Untuk memberikan oksigen dalam aliran bebas ini bidan dapat menggunakan selang oksigen yang dihubungkan dengan masker wajah atau bag anastesi yang ditempatkan didekat wajah bayi. Warna kulit bayi yang kemerahan mengindikasikan adanya peningkatan kondisi bayi dan pemberian oksigen dapat dikurangi secara bertahap (Walyani dan Purwastuti, 2015).
4) Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Inisiasi Menyusu Dini adalah proses membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir. Hal ini merupakan kodrat dan
anugrah darri tuhan yang sudah disusun untuk kita, melakukannya juga tidak sulit, hanya memerlukan waktu sekitar satu hingga dua jam (Nuraisiah dkk, 2014)
Langkah Inisiasi Menyusu Dini dalam asuhan bayi baru lahir menurut Kementerian Kesehatan RI, 2010) antara lain
a) Langkah 1
Lahirkan, lakukan penilaian pada bayi, keringkan dan letakkan diatas perut bawah ibu.
b) Langkah 2
Lakukan kontak kulit ibu dengan kulit bayi selama paling sedikit 1 jam.
c) Langkah 3
Biarkan bayi mencari dan menemukan puting susu dan anjurkan ibu dan keluarga untuk tidak mengintruksi menyusu, misalnya memindahkan payudara satu ke payudara yang lain. Bila bayi harus dipindah sebelum 1 jam usahakan ibu dan bayi dipindahkan bersamaan dengan mempertahankan kontak kulit ibu dan bayi. Jika bayi belum menemukan puting dalam 1 jam posisikan bayi lebih dekat dengan puting ibu. Biarkan kontak kulit dengan kulit selama 30-60 menit berikutnya. Jika bayi belum menemukan puting dalam waktu 2 jam pindahkan ibu keruang pemulihan dengan bayi tetap didada ibu, lanjutkan perawatan neonatal esensial lainnya (menimbang,
memberi vitamin K, dan salep mata) dan kemudian kembalikan bayi pada ibu untuk menyusu. Rangsangan hisapan bayi pada putting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan hormone prolaktin. Prolaktin akan mempengaruhi kelenjar ASI untuk memproduksi ASI dialveoli. Semakin sering bayi menghisap putting susu maka akan semakin banyak prolaktin dan ASI yang diproduksi. Penerapan inisiasi menyusui dini (IMD) akan memberikan dampak positif bagi bayi. Antara lain menjalin atau memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi melalui kolostrum, merangsang kontraksi uterus dan lain sebagiannya. Melihat begitu unggulnya ASI maka sangat disayangkan bahwa di Indonesia pada kenyataannya penggunaan ASI belum seperti yang dianjurkan. Pemberian ASI yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
(a) ASI ekslusif selama 6 bulan karena ASI dapat memenuhi 100% kebutuhan bayi
(b) Dari 6 sampai 12 bulan ASI masih merupakan makanan utama bayi. Karena dapat memenuhi 60-79% kebutuhan bayi dan perlu ditambahkan makanan pendamping ASI berupa makanan lumat sampai lunak sesuai dengan usia bayi.
(c) Diatas 12 bulan ASI saja hanya memenuhi sekitar 30% kebutuhan bayi dan makanan padat sudah menjadi makanan utama. Namun, ASI tetap dianjurkan pemberiaannya sampai paling kurang 2 tahun untuk manfaat lainnya.
d. Teori evidence base pada bayi baru lahir dan neonates Menurut sri wahyuni,dkk 2018 :
Yang berjudul Pengaruh Pijat Bayi Terhadap Bounding Attachment di Ruang Dahlia RSD Dr. Soebandi Jember, bayi baru lahir akan mengalami masa yang paling dinamis dari seluruh siklus kehidupannya. Dari keadaan yang sangat bergantung selama dalam rahim ibu menjadi mandiri ketika dia sudah berada di luar rahim. Proses ini kita kenal dengan proses transisi dan dapat berlangsung selama beberapa minggu untuk sistem organ tertentu. Salah satu cara untuk menguatkan proses adaptasi bayi baru lahir adalah dengan cara menguatkan bounding attachment, karena dengan bounding attachment hubungan psikologis ibu dan bayi menjadi lebih intens serta membantu bayi dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru. Bounding attachment adalah sebuah interaksi yang nyata antara orang tua dan bayi yang dimulai sejak usia kehamilan memasuki kala IV dan ikatan ini akan semakin kuat ketika bayi sudah dilahirkan. Interaksi ini meliputi fisik, emosi dan sensori dimana interaksi yang terus menerus antara orang tua dan bayi akan membentuk suatu
ikatan batin yang kuat diantara keduanya. Bounding attachment berperan penting dalam memberikan kehangatan dan kenyamanan pada bayi. Bayi akan merasa diperhatikan, dicintai dan dipercayai serta dapat menumbuhkan sikap sosial, sehingga bayi dapat merasa aman dan berani untuk melakukan eksplorasi.
Hasil penelitian diketahui bahwa umur ibu postpartum di Ruang Dahlia RSD dr. Soebandi kelompok kelompok kontrol memiliki rata-rata 28,3 tahun, sedangkan kelompok perlakuan yang diberikan pijat bayi memiliki rata-rata 27,1 tahun. Pada kelompok kontrol umur termuda adalah 17 tahun dan umur tertua adalah 45 tahun, sedangkan pada kelompok perlakuan umur termuda adalah 18 tahun dan umur tertua adalah 40 tahun. Responden dengan usia muda menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada keluarga. Usia 20-30 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang perempuan untuk melahirkan seorang anak. Usia ini merupakan periode yang optimal bagi seorang ibu untuk merawat bayinya.
(6)Dokumentasi asuhan kebidanan bayi baru lahir
Menurut Wildan dan Hidayat (2008), laporan asuhan kebidanan didokumentasikan dalam bentuk SOAP :
a. S (Subjective)
Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesa (wawancara) yang merupakan ungkapan langsung
1. Ibu mengatakan anaknya berjenis kelamin...dan saat lahir menangis kuat
2. Ibu mengatakan senang atas kelahiran anaknya (Wildan dan Hidayat, 2008).
b. O (Objective)
Data ini didapatkan dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik.
Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis, HR : 124x/menit, respirasi 48x/menit, suhu : 37ºC, berat badan : 3100 g, panjang badan : 29cm, lingkar kepala : 30 cm,lingkar dada : 30cm (Wildan dan Hidayat, 2008).
c. A (Assessment)
Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan meliputi diagnosis, antisipasi diagnosa atau masalah potensial perlu ada tidaknya tindakan segera By.Ny.X umur X jam berjenis kelamin x normal (Wildan dan Hidayat, 2008).
d. P (Planning)
Merupakan rencana dari tindakan yang aan diberikan termasuk asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium serta konseling untuk tindak lanjut
1) Memberitahu ibu keadaan bayinya sehat dan normal 2) Memberikan salep mata pada bayi
4) Membungkus tali pusat dengan kassa steril
5) Menjaga kehangatan bayi dengan dibedong dan dihangatkan dibawah lampu penghangat
6) Memberitahu ibu untuk menjaga kebersihan bayi dengan cara mengganti popok dan pakaian bayi jika bayi basah.
Menjelaskan kepada ibu tentang ASI eksklusif yaitu bayi yang hanya diberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman apapun (Wildan dan Hidayat, 2008).
D. Nifas
1. Konsep dasar a. Pengertian
Masa nifas diartikan sebagai periode pemulihan segera setelah lahirnya bayi dan plasenta serta mencerminkan keadaan fisiologi ibu, terutama system reproduksi kembali mendekati keadaan sebelum hamil, periode ini berlangsung enam minggu atau berakhir saat kembalinya kesuburan
(Marliandiani Yeti dan Ningrum, 2015)
Masa nifas puerperium adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau kurang lebih 40 hari (fitri,2017).
1) Perubahan sistem reproduksi
Selama masa nifas alat-alat reproduksi internal maupun eksternal berangsur-angsur kembali ke keadaan sebelum hamil. Perubahan keseluruhan alat genetalia ini disebut involusi. Pada masa ini terjadi juga perubahan penting lainnya, perubahan-perubahan yang terjadi antara lain sebagai berikut :
a) Uterus
Segera setelah plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus maka dimulailah masa nifas. Oksitosin yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis posterior menginduksi kontraksi miometrium yang saling berkaitan dan kuat. Rongga uterus telah kosong, maka uterus secara keseluruhan berkontraksi ke arah bawah dan dinding uterus kembali menyatu satu sama lain, dan ukuran uterus secara bertahap kembali seperti sebelum hamil (Marliandiani dan Ningrum, 2015) Menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015) proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
(1) Iskemia myometrium
Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi uterus yang terus-menerus setelah pengeluaran
plasenta sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
(2) Atrofi jaringan
Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon estrogen saat pelepasan plasenta
(3) Autolisis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya sepuluk kali panjang sebelum hamil dan lebarnya lima kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron.
(4) Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi perdarahan.
b) Lokhea
Lokhea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lokhea mengandung darah dan sisa jaringan
desidua yang nekrotik dari dalam uterus.Lokhea mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokhea berbau amis atau anyir dengan volume yang berbeda-beda pada setiap wanita. Lokhea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lokhea mempunyai perubahan warna dan volume karena adanya proses involusi
(Sulistyawati, 2015).
Menurut Sulistyawati, 2015 lokhea dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warna dan waktu keluarnya :
(1) Lokhea rubra / merah
Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.
(2) Lokhea sanguinolenta
Lokhea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
(3) Lokhea serosa
Lokhea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14
(4) Lokhea alba / putih
Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum.
2) Perubahan pada serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks