Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dengan berat lahir antara 2500-4000 gram (Sondakh, 2013)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu (cukup bulan) dan dengan berat badanya 2.500-4.000 gram (Dewi, 2014)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dengan berat lahir antara 2500-4000 gram (Sondakh, 2013)
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan aterm yaitu 37-42 minggu dengan berat lahir antara 2500 sampai 4000 gram
Neonatus adalah individu yang baru saja mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Selain itu, neonatus adalah individu yang sedang bertumbuh.
b. BBL Normal
Dikatakan bayi baru lahir normal jika termasuk dalam kriteria sebagai berikut menurut (Sondakh, 2013)
1) Berat badan lahir bayi antara 2500-4000 2) Panjang badan bayi 48-50 cm
3) Lingkar dada bayi 32-34 cm 4) Lingkar kepala bayi 33-35 cm
5) Bunyi jantung dalam menit pertama 180 x/menit, kemudian turun sampai 140-120 kali/menit pada saat banyi berumur 30 menit. 6) Pernapasan cepat pada menit-menit pertama kita-kita 80 kali/menit
disertai pernapasan cuping hidung, retraksi suprastelnal dan interkostal, serta rintihan hanya berlangsung 10-15 menit.
7) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan dilapisi verniks caseosa.
8) Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala telah baik. 9) Kuku telah agak panjang dan lemas.
Genetalia : testis sudah turun (pada bayi laki-laki) dan labia mayora telah menutupi labia mayora(pada bayi perempuan).
10) Refleks hisap, menelan dan moro telah terbentuk.
11) Eliminasi, urin, dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam pertama. Mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan dan lengket
c. Adaptasi Bayi Baru Lahir
a) Sistem pernafasan
Pernafasan pertama pada bayi baru lahir normal terjadi dalam waktu 30 menit pertama sesudah lahir (Dewi, 2014)
Setelah bayi lahir, paru akan berkembang yang akan mengakibatkan tekanan arteriol dalam paru menurun yang dikuti dengan menurunnya tekanan pada jantung kanan. Kondisi ini akan menyebabkan tekanan jantung kiri lebih besar dibandingkan dengan tekanan jantung kanan, dan hal tersebutlah yang membuat foramen ovale secara fungsional menutup. Hal ini terjadi pada jam pertama setelah kelahiran.
Aliran darah paru pada hari pertama kehidupan adalah 4 – 5 liter per menit/ . Aliran darah siastolik pada hari pertama rendah yaitu 1,96 liter/meit/ dan bertambah pada hari kedua dan ketiga 3, 54 liter/ karena penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah pada waktu lahir dipengaruhi oleh jumlah darah yang melalui transfusi plasenta yang pada jam – jam pertama sedikit menurun, untuk emudian naik lagi menjadi konatan kira – kira 85/40 mmHg (Dewi, 2014)
c) Adaptasi kardiovaskuler
Menurut (Sondakh, 2013) adaptasi kardiovaskuler pada bayi baru lahir diantaranya :
a) Denyut nadi saat bagun berkisar antara 120 – 160 x/menit b) dan nadi saat bayi tertidur berkisar 100 x/menit.
c) Rata – rata tekanan darah pada bayi 80/46 mmHg. d) Nilai hematologi normal pada bayi.
Pada saat berkembangnya paru – paru pada alveoli akan terjadi peningkatan tekanan pada oksigen, sedangkan tekanan karbondioksida akan mengalami penurunan, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan retensi pembuluh darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru – paru dan ductus arteriosus terturup dan setelah tali pusat dipotong, aliran darah dari plasenta terhenti dan foramen ovale tertutup.
d) Suhu tubuh
Empat kemungkinan mekanisme yng dapat menyebabkan yang dapat menyebabkan bayi baru lahir kehilangan panas tubuhnya :
a) Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yng kontk langsung deengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi k objek lain melalui kontak langsung). Contoh : konduksi bisa terjadi ketika menimbang bayi tanpa alas timbangan, memegang bayi saat tangan dingin, dan menggunakan stetoskop dingin untuk pemeriksaan BBL.
b) Konveksi
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak. Contoh : konveksi dapat terjadi ketika
membiarkan atau menempatkan BBL dekat jendela, atau membiarkan BBL diruangan yang terpasang kipas angin. c) Radiasi
Panas dipancarkan dari BBL keluar tubuhnya kelingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai suhu berbeda). Contoh : membiarkan BBL dalam ruangan ber AC tanpa diberikan pemanas, mebiarkan BBL dalam keadaan telanjang atau menidurkan BBL berdekatan dengan ruangan yang dingin (dekat tembok). d) Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan yang bergantung pada kecepatan dan kelembapan udara (perpindahan panas dengan cara mengubah cairan menjadi uap). Apabila BBL dibiarkan dalam suhu kamar 25 C, maka bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi yang besarnya 200 kg/BB. Agar dapat mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi, maka lakukan hal berikut :
(1) Keringkan bayi secara seksama.
(2) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat.
(3) Tutup bagian kepala bayi.
(5) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
(6) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat (Dewi, Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita, 2014)
e) Metabolisme
Luas permukaan tubuh neonatus relatif lebih uas dari tubuh orang dewasa, sehingga metabolisme basal per kg berat badan akan lebih besar. Oleh karena itulah, BBL harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sehingga energi dapat diperoleh dari metabolisme karbohidrat dan lemak.
Pada jam – jam pertama kehidupan, energi didapatkan dari perubahan karbohidrat. Pada hari ke dua, energi berasal dari pembakaran lemak. Setelah mendapat susu, sekitar di hari keenam energi diperoleh dari lemak dan karbohidrat yang masing – masing sebesar 60 dan 40% (Dewi, 2014)
f) Keseimbangan air dan fungsi ginjal
Tubuh BBL mengandung relatif banyak air. Kadar natrium juga relatif lebih besar dibandingkan dengan kalium karena ruangan ekstraseluler yang luas. Fungsi ginjal beelum sempurna karena :
(1) Jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa. (2) Ketidakseimbangan luas permukaan golemrulus dan
(3) Renal blood flow relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa.
g) Imunoglobin
Bayi baru lahir tidak memiliki sel plasma pada sumsum tulang juga tidak memiliki lamina propia ilium dan apendiks. Plasenta merupakan sawar, sehingga fetus bebas dari antigen dan stres imunologis. Pada BBL hanya terdapat gamaglobulin G, sehingga imunoglobin dari ibu dapat berpindah melalui plasenta karena berat molekulnya kecil. Akan tetapi, bila da infeksi yang dapat melalui plasenta (lues, toksoplasma, herpes simpleks, dan lain - lain) reaksi imunologis dapat terjadi dengan pembentukan sel plasma serta antibodi gama A, G, dan M (Dewi, 2014)
h) Traktus digestivus
Trakus digestivus relatif lebih berat dan lebih panjang dibandingkan dengan orang dewasa. Pada neonatus, traktus digestivus mengandung zat berwarna hitam kehijauan yang terdiri atas mukopolisakarida atau disebut juga dengan mekonium. Pengeluaran mekonium biasanya pada 10 jam pertama kehidupan dan dalam 4 hari setelah kelahiran biasanya feses sudah berbentuk dan berwarna biasa. Enzim dalam traktus digestivus biasanya sudah terdapa pada neonatus, kecuali enzim emilase pancreas (Dewi, 2014)
i) Hati
Segra setelah lahir, hati menunjukan perubahan kimia dan morfologis yang berupa kenaikan kadar protein dan penurunan kadar lemak serta glikogen. Enzim hati belum aktif benar pada waktu bayi baru lahir, daya detoksifikasi hati pada neonatus juga belum sempurna, contohnya pemeberian obat kloramfenikel dengan dosis lebih dari 50 mg/kg BB/ hari dapat menimbulkan
grey baby syndrome (Dewi, 2014)
j) Keseimbangan asam basa
Tingkat keasaman (pH) darah pada wakatu lahir umumnya rendah karena glikolisis anaerobik. Namun, dalam waktu 24 jam, neonatus telah mengompensasi asidosis ini (Dewi, 2014)
d. Penatalaksanaan BBL
Menurut (Cuningham,2017) bahwa penatalaksanaan pada bayi baru lahir diantaranya adalah :
1) Profilaksis Infeksi Mata a) Infeksi Gonokopus
Dimasa lalu, kebutaan sering terjadi pada anak yang menngidap oftalmia gonokokus neonatorum yang terkena saat melintasi jalan lahir yang terinfeksi. Berbagai anti mikroba lainnya juga telah terbukti efektif dan profilaksis oftlmia gonokokus nneonatorum sekarang diwajibkan untuk semua neonatus .
b) Infeksi Clamidia
Profilaksis yang adekuat untuk neonatus terhada konjungtifitis clamidia bersifat kompleks. Dari 12-25% neonatus yang dilahirkan pervaginam pada ibu dengan infeksi clamidia aktif akan beresiko mengalamai konjungtifitis.
c) Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi rutin pada semua BBL terhada hepatitis B sebelum pulang dari rumah sakit sudah dianjurkan sejak tahun 1991. Vaksin bebas thimerosal ini tidak terbukti meningkatkan jumlah episode demam. Evaluasi sepsis, atau gejala sisa neurologis yang merugikan.
d) Vitamin K
Suntikan ini dilakukan untuk mencegah penyakit hemorogic bergantung vitamin K pada BBL. Pemberin dosis tunggal Vit K 0,5-1 mg IM dalam waktu 1 jam setelah lahir.
e. Perawatan rutin neonates
Menurut (Cuningham,2017) bahwa perawatan rutin neonatus adalah :
1) Perawatan kulit
Setelah pelahiran, kelebihan verniks, darah, dan mekonium, harus dibersihkan dengan lembut.Sisa verniks mudah diserap dan hilang spenuhnya dalam waktu 24 jam. Mand pertama harus ditunda sampai suhu neonatus stabil.
2) Tali pusar
Infeksi tali pusat yang serius kadang terjadi. Organisme yang kemungkinan besar mengganggu adalah stapilococusarieus escersia coli, dan streptokokus grup B. Karena tunggal tali pusat dalam beberapa kasus seperti itu kemungkinan tidak menunjukan tanda infeksi luar, maka diagnosis aan sulit ditegaskan. Tindakan penceghan aseptik yang ketat harus diamati dalam peraawatan langsung tali pusat.
3) Pemberian makanan
Pemberian ASI ekslusif disarankan sampai 6 bulan. Dibanyak rumah sakit,bayi muli menyusu di rumah bersalin. Sebagian besar bayi baru lahir tumbuh dengan baik jika diberi makan pada intrval etiap 2 hingga 4 jam. BBL yang kurang bulan atau dengan hambatan pertumbuhan memerlukan pemberian makanan pada interval yang lebih pendek.Dalam banyak contoh,interval 3 jam sudah cukup. Jeda pada setiap pemberian makanan yang tepat bergantung pada beberapa faktor, seperti kuantitas ASI, kesiapan payudara untuk mengeluarkan ASI, dan kenginan kuat untuk menyusui bayi.
4) Kehilangan Berat badan awal
Karena sebgian besar nenonatus sebenarnya hanya menerima sedikit nutrisi pada 3 atau 4 hari pertama kehidupan,
mereka emakin kehilangan berat badan sampai pemberian ASI lancar aau diberikan makanan lainnya. Bayi kurang bulan relatif lebih banyak kehilangan berat badan dan proses pemulihan berat badannya lebih lambat dari pada bayi aterm. Bayi yang kecil untuk usia kehamilan namun sehat mendapatkan berat badannya kembali lebih cepat ketika disusui dibandingkan dengan yang lahir kurang bulan.
5) Tinja dan Urin
Untuk 2 atau 3 hari pertama setelah lahir, kolon berisi mekonium lunak berwarna hijau kecoklatan. Mekonium terdiri dari sel sel epitel deskuamasi dari traktus intestinal, mukus, sel sel epidermis, dan lanugo yang tertelan bersama cairan amnion. Warna yang khas dihasilkan dari pigmen empedu. Selama janin hidup dan beberapa jam stelah lahir, isi usus steril, tetapi bakteri dengan cepat berkolonisasi di usus besar.
Tinja mekonium ditemukan pada 90 % BBL dalam 24 jam pertama, da sebagian besar sisanya dalam waktu 36 jam. Pengeluaran tinja pertama pada BBL biasanya terjadi segera setelah lahir, tetapi tidak mungkin sampai hari kedua. Keluarnya mekonium dan urin menunjukan patensi saluran pencernaan dan kemih. Kegegelan BBL untuk BAB dan berkemih setelah waktu tersebut menunjukan adanya defk kongenital, seperti impperforata anus atau imperforata katup uretra. Setelah hari ketiga atau
keempat, sebagai konsekuensi mencerna susu, mekonium digantikan oleh feses homogen kuning terang dengan konsistensi mirip dengan slai kacang.
6) Ikterus Neonatorum
Antara hari kedua dan ke-5 kehidupan, sekitar sepertig dari neonatus mengalami ikterik fisiologis pada BBL (penyakit kuning) tingkat bilirubin serum saat lahir biasanya 1,8 – 2,8 per dl . Angka ini makin meningkat selama beberapa hari berikutnya tetapi sangat berfriasi pada setiap individu. Diantara hari ketiga ke empat, bilirubin pada bayi baru lahir umumnya melebihi 5 mg/dl yaitu kadar dimana pnyakit kuning biasnya terlihat. Sebagian besar bilirubin bebas, yaitu takterkonjuguasi. Dalam hati, bilirubin terikat atu terkonjugasi dengan asam glukuronik dan diekskresi kedalam empedu. Pada hati yang imatur, bilirubin yang terkonjugasi dengan asam glukuronik menjadi lebih sedikit sehingga ekskresi didalam empedu berkurang.
Tatalaksanan standar dan noninfasif pada bayi penderita adalah dengan fototerapi. Dengn cara ini, bayi mnghadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu yang dapat diserp molekul bilirubun. Akibatnya, bilirubin takterkonjugasi pada kulit diubah menjadi stereo isomer larut air, yang kemudian dieksresi kedalam empedu.
7) Rawat Gabung
Model perawatan ini menempatkan bayi bayi baru lahir diruangan yang sama dengan ibu, bukan ditempatkan perawata khusus bayi. Disebut rawat gabung (Romiing in)
f. Pemeriksaan fisik BBL
Menurut (Cuningham,2017) pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir adalah pada pendekatan dasar dalam melakukan pemeriksaan selama pemeriksaan BBL, bidan menggunakan 4 teknik dasar pmeriksaan fisik :
1) Inpeksi 2) Palpasi 3) Auskultasi 4) Perkusi
Pemeriksaan yang lengkap menggunakan tiga jenis evaluasi: 1) Pemerikaan antropomorfik
2) Evaluasi sistem organ 3) Evaluasi neurologis
Pemeriksan fisik pada BBL dirancang untuk menapis adanya variasi dan malforasi fisik serta keseluruhan status kesehatan BBL. Ada banyak perbedaan diantara komponen pemeriksaan fisik untuk orang dewasa dan bayi bru lahir. Juga ada banyak variasi minor pada fisik dan perilaku BBL yang dianggap normal.
4) Pengukuran Antropomorfik
Bidan bertanggungjawab mengukur panjang dan lingkar dada serta lngkar kepala bayi. Badan BBL memiliki penampilan yang unik. Normalnya, lingkar kepala leih besar dari pada lingkar daa, abdomen buncit, dan tonus fleksi. Pengukuran harus dilakukan dengan cara standar. Panjang BBL paling akurat dikaji jika kepala BBL terletak rata terhadap permukaan yang keras. Kedua tungkai diluruskan dn kerta dimeja pemeriksaan diberi tanda. Setelah BBL dipindahkan, bidan kemudin dapat mengukur panjang bayi dalam satuan cm.
Lingkar kepala BBL diukur dari oksiput dan mengelilingi kepala tepat diatas alis mata. Ukuran ini dapat berubah pada minggu pertama kehidupan setelah pembengkakan pada kepala berkurang. Lingkar dada diukur dibawh ketiak dan melewati garis puting. Berat bayi harus dikaji diatas timbangan dengan alas dintara bayi baru lahir dan timbangan.Timbangan tersebur harus dikalibrasi untuk menyertakan berat alas. Tindakan itu dapat mencegah kehilangan panas dan infeksi akibat kontaminasi silang.
g. Reflek
Tabel 1.1 Reflek yang normal dan yang tidak normal
Reflek Respon Normal Respon Abnormal
Rooting dan menghisap
BBL menolehkan kepala kearah stimulus, membuka mulut, dan mulai menghisap bila pipi, bibir, atau sudut mulut bayi disentuh dengan jari atau puting
Respon yang kemah atau tidak ada respon terjadi pada prematuritas, penurunan atau cedera neurologis, atau depresi sistem syaraf pusat
Menelan BBL menelan berordinasi dengan menghisap bila cairaan ditaruh dibelakang lidah
Muntah, batuk atau regurgitasi cairan dapat terjadi kemungkinan berhubungan dengan sianosis skunder karena prematuritas, defisit neurologis, atau cidera terutama terlihat setelah larinoskopi
Ekstrusi BBL menjulurkan lidah keluar bila ujung lidah di sentuh dengan jari atau puting
Ekstrusi lidah secara kontinu atau menjulurkan lidah yang berulang ulang terjadi pada kelainan sistem syaraf pusat dan kejang
Moro Ekstensi simestris bilateral dan abduksi seluruh ekstremtas, dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf C diikuti dengan abduksi ekstremitas dan kembali ke fleksi rileks jika posisi bayi berubah tiba tiba atau jika bayi diletakan terlentang pada permukaan yang datar Ckdmjsdlo.w2d
Respon asimetris terlihat cedera saraf perifer (pleksus brakialis) atau faktur klafikula atau fraktur fraktur tulang panjang lengan atau kaki
Merangkak Bayi akan berusaha untuk merangkak kedepan engan kedua tangan dan kaki bila diletakan telungkup pada permukaan datar
Respon asimetris terlihat pada cedera sistem saraf pusat dan gangguan neurologis
Reflek tonik leher atau fencing
Ekstremitas pada satu sisi dimana saat kepala ditolehkan akan ekstensi, dan ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bila kepala bayi di tolehkan kesatu sisi selagi beristirahat
Respon persiste setelah bulan keempat dapat menandakan cedera neurologis. Respon menetap tampak pada cedera SSP dan gangguan neurologis
Terkejut Bayi melakukan abduksi dan fleksi seluruh ekstremitas dan dapat mulai menangis bila mendapat gerakan mendadak atau suara keras
Tidak ada respon dapat menandakan defisit neurologis atau cedera. Tidak adanya respon secara lengkap dan konsisten terhadap bunyi keras dapat menandakan ketulian. Respon dapat menjadi tidak ada atau berkurang selama tidur malam
Ekstensi Silang Kaki bayi yang berlawanan akan fleksi dan kemudian ekstensi dengan cepat seolah olah
Respon yang lemah atau tidka ada respon yang terlihat pada cedera syaraf perifer atau fraktur tulang
stimulus ke kaki yang lain bila diletakan terlentang, bayi akan mengekstensikan satu kaki sebagai respon terhadap stimulusterhadap telapak kaki
panjang
Glabellar “blink” Bayi akan berkedip bila dilakukan empat atau lima ketuk pertama pada batang hidung saat mata terbuka
Terus berkedip dan gagal untuk berkedip menandakan adanya kemungkinan gangguan neurologis
Palmar grasp Jari bayi akan melekuk disekeliling benda dan menggenggamnya seketika bila jari diletakan ditangan bayi
Respon ini berkurang terjadi pada prematuritas. Tidak ada respon yang terjadi pada defisit neurologis yang berat
Babinsky Jari jari kaki bayi akan hiperekstensi dan terpisah seperti kipas dari dorsofleksi ibu jari kaki bila satu sisi kaki digosok dari tumit keatas melintasi bantalan kaki
Tidak ada respon yang terjadi pada defisit SSP
Sumber: Sondkh, 2013
h. Komplikasi BBL
Menurut (Sondakh, 2013) ada komplikasi bayi baru lahir seperti: 1) Asfiksia
menyatakan bahwa asfiksia adalah suatu keadaan bayi saat lahir yang mengalami gangguan pertukaran gas dan transpor oksigen, sehingga penderita kekuranagn persediaan oksigen dan kesulitan dalam mengeluarkan karbondioksida.
a) Tanda Gejala
Beberapa tanda gejala yang dapat muncul pada asfiksia neonatorum adalah
(1) Tidak ada pernafasan atau apnea (pernafasan lambat kurang dari 30 kali per menit). Apnea terbagi menjadi dua yaitu (2) Apnea primer : pernafasan cepat, denyut nadi menurun dan
(3) Apnea skunder : apabila asfiksia berlanjut, bayi menunjukan pernafasan megap megap yang dalam denyut jantung terus menerus, terlihat lemah (pasif dan pernafasan makin lama makin menurun).
(4) Pernafasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (perlekukan dada)
(5) Tangisan lemah
(6) Warna kulit pucat dan biru (7) Tonus otot lemah atau terkulai
(8) Denyut jantung tidak ada atau perlahan (kurang dari 100 kali per menit). (Sondakh, 2013)
b) Etiologi
Aliran darah ibu ke bayi dapat dipengaruhi oleh keadaan ibu. Jika aliran oksigen ke janin berkurang, akan mengakibatkan gawat janin. Hal ini dapat menyebabkan asfiksia pada BBL. Akan tetapi bayi dapat mengalami asfiksia tanpa didahului tanda gawat janin. Yang dimaksud gawat janin disini adalah banyak hal yang menyebabkan bayi tidak bernafas saat lahir. Sering kali hal ini terjadi ketika bayi sebelumnya mengalami gawat janin. Akibat gawat janin , bayi tidak menerima oksigen yang cukup. Gawat janin adalah reaksi janin pada kondisi dimana terjadi ketidakcukupan oksigen. Gawat janin dapat diketahui dengan hal hal berikut:
(1) Frekuensi bunyi jantung janin kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali per menit
(2) Berkurangnya gerakan janin (janin normal bergerak lebih dari 10 kali per hari)
(3) Adanya air ketuban yang tercampur dengan mekonium atau berwarna kehijauan (pada bayi dengan presentasi kepala ). (Sondakh, 2013)
c) Patofisiologi
Bayi bayi yang mengalami proses asfiksia lebih jauh berada dalam tahap apnea skunder. Apnea skunder dapat dengan cepat menyebabkan kematian jika bayi tidak benar benar didukung oleh pernafasan buatan , dan bila diperlukan, dilakukan kompresi jantung. Warna bayi berubah dari biru ke putih karena BBL menutup sirkulasi perifer sebagai upaya memaksimalkan aliran darah ke organ organ seperti jantung, ginjal, dan adrenal.
Dalam praktek menentukan tingkat asfiksia bayi dilakukan dengan penilaian skor APGAR biasanya dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap dan 5 menit setelah bayi lahir. Patokan klinis dimulai dengan :
(1) Menghitung frekuensi jantung (2) Melihat usaha bernafas (3) Menilai tonus otot
(4) Menilai reflek rangsangan (5) Memperlihat warna kulit
Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR sebagai berikut :
(1) Asfiksi berat dengan nilai APGAR 0-3
(2) Asfiksia ringan dan sedang dengan nilai APGAR 4-6 (3) Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9 (4) Bayi norrmal dengan nilai APGAR 10. (Sondakh, 2013)
Menurut (Cunningham, Leveno, Bloom, Hauth, Rouse, Spong, 2017) bahwa Sistem penilaian ini adalah alat klinis yang berguna untuk mengidentifikasikan neonatus yang membutuhkan resisutasi serta menilai efektifitas setiap tindakan resusitasi.
i. Penatalaksanaan penyakit bayi
Menurut (Sondakh, 2013) bahwa ada beberapa tahap penatalaksanaan asfiksia yaitu :
1) Tahap 1 : Langkah awal
Langkah awal diselesaikan dalam waktu 30 detik. Bagi sebagian besar bayi baru lahir , 5 langkah awal dibawah ini cukup untuk merangsang bayi bernafas spontan dan teratur
a) Menjaga bayi tetp hangat b) Mengatur posisi bayi c) Mengisap lendir
d) Mengeringkan dan merangsang bayi
e) Mengatur kembali posisi kepala bayi dan selimut bayi f) Melakukan penilaian bayi
2) Tahap 2 : ventilasi
Ventilasi adalah tahapan tindakan resisutasi untuk memasukan sejumlah volume udara kedalam paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernafas spontan dan teratur . dan langlah langkahventilasi adalah :
a) Pasang sungkup b) Ventilasi dua kali
(1) Lakukan dengan tekanan 30 cm air (2) Lihat apakah dada bayi mengembang c) Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
(1) Lakukan dengan tekanan 20 cm air , sampai bayi menangis dan bernafas.
(2) Pastikan dada mengembang , setelah 30 detik lakukan penilaian, jika bayi mulai menangis hentikan secara bertahap.
(3) Jika megap megap dan tidak bisa bernafas lakukan :
d) Ventilasi setiap 30 detik , hentikan dan lakukan penilaian ulang nafas
(1) Lanjutkan ventilasi setiap 20 kali dalam 30 detik
(2) Hentikan ventilasi dan lakukan penilaian apakah bayi