• Tidak ada hasil yang ditemukan

BDM Berdasarkan pada Tabel 4 didapatkan rata-rata jumlah eritrosit pada

HASIL DAN PEMBAHASAN

BDM Berdasarkan pada Tabel 4 didapatkan rata-rata jumlah eritrosit pada

L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 BDM Berdasarkan pada Tabel 4 didapatkan rata-rata jumlah eritrosit pada Labrador Retriever sangat rendah/jauh di bawah kisaran normal (nilai normal eritrosit pada anjing: 5.6-8.7 jt/mm3, Foster et al. 2007). Hampir semua anjing ras Labrador Retriever tersebut memiliki nilai eritrosit di bawah kisaran normal anjing pada umumnya dan hanya satu anjing yang memiliki nilai eritrosit masih dalam kisaran normal. Penurunan jumlah eritrosit hingga di bawah kisaran normal merupakan eritrositopenia, biasanya terlihat pada kebanyakan tipe anemia (Pflanzer 1995). Rendahnya jumlah eritrosit yang mengakibatkan anemia, pada anjing dapat disebabkan oleh hilangnya darah secara berlebihan (hemorhagi) atau penghancuran eritrosit (hemolisis) ataupun rendahnya produksi eritrosit (Meyer et al. 1992). Faktor lain yang dapat mempengaruhi jumlah eritrosit adalah faktor nutrisi. Defisiensi vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan kegagalan pematangan eritrosit dalam proses eritropoiesis, hal tersebut mengakibatkan rendahnya jumlah eritrosit dalam darah (Guyton dan Hall 1997).

Tidak ada satupun Labrador Retriever yang memiliki jumlah eritrosit sangat tinggi. Dalam keadaan tertentu, apabila jumlah eritrosit mengalami peningkatan di atas kisaran normal anjing pada umumnya, hal ini dapat dikatakan polisitemia. Terdapat tiga tipe polisitemia, yaitu pseudopolisitemia, erithremia, dan eritrositosis (Pflanzer 1995).

Gambar 15. Grafik rata-rata jumlah eritrosit (BDM) pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

0 5 10 15 20 (g% ) L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 Hb Hemoglobin

Hemoglobin (Hb) merupakan pigmen eritrosit yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi yang mengandung besi. Protein hemoglobin adalah globin, sedangkan warna merah disebabkan oleh warna heme (Guyton 1997). Hemoglobin bisa melakukan transpor oksigen dan karbondioksida secara simultan. Ketika hemoglobin penuh/jenuh dengan oksigen, akan memberikan warna merah pada darah. Dan ketika hemoglobin melepaskan oksigen (hemoglobin direduksi), warna darah berubah menjadi keungu-unguan (pucat). Fungsi utama dari hemoglobin adalah memungkinkan eritrosit untuk mengirim oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, dan mengirim karbondioksida dari jaringan tubuh menuju paru-paru. Hemoglobin juga memiliki peranan penting sebagai buffer kimia dalam pertahanan tubuh terhadap perubahan pH (Pflanzer 1995).

Berdasarkan data Tabel 4 diketahui bahwa semua Labrador Retriever memiliki nilai hemoglobin berada di bawah kisaran normal (kisaran normal nilai Hb pada anjing: 12.0-18.0 gr/mm3, Swenson 1984). Nilai hemoglobin yang rendah atau berada di bawah kisaran normal dapat menandakan bahwa tubuh mengalami anemia. Anemia adalah suatu keadaan dimana hewan mengalami defisiensi jumlah eritrosit dan atau jumlah hemoglobin (Reece 2006). Selain dapat dilihat dari jumlah eritrosit dan jumlah hemoglobin yang rendah, pada gejala anemia dapat dilakukan diagnosa melalui pemeriksaan fisik seperti warna pink pucat pada ginggiva dan konjungtiva, serta anjing memiliki stamina yang kurang baik atau lemah (Lienden 2007).

Gambar 16. Grafik rata-rata kadar hemoglobin (Hb) pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

0 10 20 30 40 (% ) L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 PCV Hematokrit (PCV)

Proporsi hubungan sel dengan plasma yang menjadi ukuran secara klinis dapat ditentukan dengan hematokrit (Reece 2006). Hematokrit adalah suatu ukuran yang mewakili volume eritrosit di dalam 100 ml darah, sehingga dilaporkan dalam bentuk persentase (Schalm 1975). PCV merupakan gambaran darah yang paling berguna untuk mencirikan kondisi tubuh yang abnormal (Reece 2006). Jumlah PCV meningkat pada berbagai tipe polisitemia, pada beberapa kasus mendekati 70%, sedangkan pada beberapa tipe anemia, dapat turun sampai 25% (Pflanzer 1995).

Dapat dilihat pada Tabel 4 bahwa semua Labrador Retriever memiliki nilai PCV yang rendah atau di bawah kisaran normal (kisaran normal nilai PCV pada anjing: 37.0-55.0%, Swenson 1984). Rendahnya nilai hematokrit dapat menggambarkan kondisi anemia (Duncan dan Prase 1977).

PCV dapat meningkat karena adanya rasa senang pada anjing. Rasa senang pada anjing dapat meningkatkan 9-10% PCV dengan nilai berubah dari 42% sampai 53%. Dalam rasa senang, epinefrin menyebabkan kontraksi limpa. PCV mendekati tiga kali lipat konsentrasi hemoglobin dalam g/dl (Swenson 1984).

Gambar 17. Grafik rata-rata nilai hematokrit (PCV) pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

Tabel 5. Data rata-rata indeks eritrosit (MCV, MCH dan MCHC) pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

No Nama MCV (fl) MCH (pg) MCHC (g%) 1. Danger (L1)/♂ 56.7 ± 1.76 16.7 ± 0.42 29.5 ± 0.14 2. Lala (L2)/♀ 76.2 ± 4.66 21.6 ± 7.21 29.7 ± 4.94 3. Lui (L3)/♂ 55.9 ± 18.73 20.2 ± 0.28 34.6 ± 4.87 4. Vero (L4)/♂ 54.8 ± 7.73 20.8 ± 7.99 32.1 ± 2.19 5. Lady (L5)/♀ 49.9 ± 19.72 20.5 ± 1.20 30.1 ± 0.84 6. Hunter (L6)/♂ 66.9 ± 6.57 20.3 ± 2.54 28.8 ± 0.64 7. Dunkin (L7)/♂ 67.4 ± 0.70 20.2 ± 3.88 29.0 ± 4.38 X 61.1 ± 9.23 21.9 ± 5.91 30.5 ± 2.09

Kisaran normal pada

anjing secara umum 59-69 20-24 30-35

Keterangan: X = rata-rata ± standar deviasi; L1-7 = Labrador 1-7

Kisaran normal pada anjing secara umum menurutSwenson (1984) Mean Corpuscular Volume (MCV)

MCV, MCH, MCHC biasa digunakan untuk mendeteksi abnormalitas ukuran, bentuk, dan warna. Dengan melihat secara morfologi dapat digambarkan beberapa kondisi tertentu. Normositik (normal bentuk dan ukuran), normokromik (normal pada warna), mikrositik (lebih kecil dari normal), makrositik (lebih besar dari normal), hipokromik (lebih pucat dari normal), hiperkromik (lebih terang dari normal), anisositosis (variasi dalam ukuran), poikilositosis (variasi dalam bentuk). Kondisi yang paling baik adalah normositik dan normokromik (Pflanzer 1995).

MCV mengacu pada ukuran sel dan MCV hanya merepresentasikan ukuran rata-rata eritrosit (Nordenson 2006). Berdasarkan Tabel 5, dapat diketahui bahwa sebanyak ±40% Labrador Retriever memilki nilai MCV lebih rendah dari kisaran normal dan ±15% Labrador Retriever memiliki nilai MCV yang sangat tinggi (kisaran normal nilai MCV pada anjing: 59-69 fl, Swenson 1984). Kondisi yang dapat menyebabkan nilai MCV rendah adalah defisiensi zat besi (anemia tipe mikrositik) (Swenson 1984). Adapun kondisi yang menyebabkan nilai MCV meningkat, diantaranya adalah defisiensi asam folat yang dapat terjadi karena diet yang buruk dan kebuntingan, serta defisiensi vitamin B12 (Nordenson 2006).

0 2 4 6 8 1 0 (j t/ m m 3 ) L 1 L 2 L 3 L 4 L 5 L 6 L 7 B D M 0 20 40 60 80 (f l) L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 MCV 0 5 10 15 20 25 30 (pg) L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 M C H

Gambar 18. Grafik rata-rata nilai MCV pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)

MCH berdasarkan pada perhitungan dari jumlah berat hemoglobin di dalam nilai rata-rata dari eritrosit (Ravel 1984). Dari data pada Tabel 5 diatas diketahui bahwa hanya satu anjing (±15%) Labrador Retriever memiliki nilai MCH yang lebih rendah dari kisaran normal (kisaran normal MCH pada anjing: 20-24 pg, Swenson 1984) dan ±85% Labrador Retriever memiliki nilai MCH yang masih berada di kisaran normal. MCH dipengaruhi oleh ukuran eritrosit, sebuah eritrosit besar dengan isi hemoglobin normal akan mengandung berat hemoglobin yang lebih besar dibandingkan eritrosit yang berukuran lebih kecil dengan isi hemoglobin normal (Ravel1984). MCH bergantung pada jumlah hemoglobin dalam hubungannya dengan ukuran sel, sebuah sel hipokromik memiliki berat hemoglobin yang lebih kecil dibandingkan dengan sel normokromik dari ukuran yang sama. Secara umum, MCH meningkat dalam keadaan makrositosis dan menurun dalam keadaan mikrositosis dan hipokromia, namun dapat terjadi adanya variasi karena dua faktor, yaitu ukuran sel dan konsentrasi hemoglobin yang saling mempengaruhi (Nordenson 2006).

Gambar 19. Grafik rata-rata nilai MCH pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

0 5 10 15 20 25 30 35 (g% ) L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 MCHC Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)

Menurut Anonimg (2007), MCHC merupakan ukuran konsentrasi Hb dalam volume 100 cc sel darah merah. MCHC bergantung pada jumlah hemoglobin pada volume dari eritrosit (Swenson 1984). Dari data pada Tabel 5 diketahui bahwa sebanyak ±55% Labrador Retriever memiliki nilai MCHC di bawah kisaran normal dan ±45% yang memiliki nilai MCHC masih berada di kisaran normal (kisaran normal nilai MCHC pada anjing: 30-35 g%, Swenson 1984). Nilai MCHC yang rendah menunjukkan bahwa darah anjing tersebut mengalami keadaan hipokromik. Adapun kondisi yang dapat menyebabkan rendahnya nilai MCHC adalah defisiensi zat besi kronis, sideroblastik anemia dan anemia dari penyakit kronis (Nordenson 2006). Tidak ditemukan anjing yang memiliki nilai MCHC di atas kisaran normal. Beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi nilai MCHC menjadi meningkat adalah merokok berat dan intravascular hemolisis (Ravel 1984).

Gambar 20. Grafik rata-rata nilai MCHC pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

Tabel 6. Data rata-rata jumlah total leukosit/Butir Darah Putih (BDP) dan diferensiasi leukosit pada anjing pelacak ras Labrador Retriever

Keterangan: X = rata-rata ± standar deviasi; L1-7 = Labrador 1-7

(Sumber (a),(b),(c),(e): Foster 2007, (d): Jain 1993, (f): Swenson 1984)

Leukosit

Jumlah leukosit pada umumnya dipengaruhi oleh jumlah neutrofil ataupun limfosit dalam sirkulasi darah, karena dua tipe leukosit tersebut jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan leukosit tipe lain (Kelly 1984). Leukosit sebenarnya tidak berwarna putih, terlihat translusent atau tidak berwarna karena tidak memiliki pigmen warna seperti eritrosit. Leukosit dibagi menjadi dua yaitu granulosit yang terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, yang diproduksi di sumsum tulang. Serta agranulosit yang tediri dari limfosit dan monosit, beberapa diproduksi di jaringan limfatik dan beberapa di sumsum tulang. Leukosit memerangi substansi asing yang masuk ke dalam tubuh. Dalam melakukan fungsi utama ini mereka dapat berfagositosis, mengeluarkan racun, melepaskan enzim dan substansi penting lainnya serta memproduksi antibodi (Pflanzer 1995).

Berdasarkan data pada Tabel 6 diketahui bahwa semua Labrador Retriever memiliki jumlah leukosit yang berada dalam kisaran normal (kisaran normal jumlah leukosit pada anjing: 6.0-17 x103/mm3, Foster et al. 2007). Bila jumlah leukosit rendah atau dapat juga disebut leukopenia pada anjing dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksius seperti canine para influenza, canine kennel cough, dan canine distemper (Anonimb 2006). Leukopenia juga dapat ditemukan bersamaan dengan endotoksin bakterial, keadaan septisemia dan toksemia (Swenson 1984). Pada beberapa laporan terbaru, alkohol juga dapat mengakibatkan leukopenia (Pflanzer 1995). Sebaliknya leukosit dapat meningkat

L N M E B 1 Danger (L1)/♂ 11.2 ± 1.27 5.88 ± 0.36 4.87 ± 1.74 0.11 ± 0.14 0.36 ± 0.11 0 2 Lala (L2)/♀ 12.0 ± 2.47 8.28 ± 1.71 3.00 ± 0.05 0.0 ± 0.0 0.12 ± 0.14 0 3 Lui (L3)/♂ 6.10 ± 1.76 2.89 ± 2.25 3.01 ± 0.36 0.0 ± 0.0 0.18 ± 0.17 0 4 Vero (L4)/♂ 8.0 ± 3.67 2.92 ± 0.19 4.68 ± 3.67 0.0 ± 0.0 0.40 ± 0.37 0 5 Lady (L5)/♀ 14.2 ± 0.84 8.73 ± 2.78 6.67 ± 5.41 0.0 ± 0.0 0.35 ± 0.52 0 6 Hunter (L6)/♂ 10.4 ± 2.33 5.56 ± 1.60 4.78 ± 3.86 0.0 ± 0.0 0.05 ± 0.08 0 7 Dunkin (L7)/♂ 8.0 ± 0.56 1.56 ± 0.84 6.16 ± 1.68 0.24 ± 0.21 0.08 ± 0.01 0 X 10.0 ± 2.78 5.11 ± 1.39 4.73 ± 2.39 0.05 ± 0.05 0.22 ± 0.2 0 Kisaran normal pada

disebabkan oleh latihan fisik yang keras, keadaan stres akut, dan rasa sakit (Anonima 2006).

Limfosit

Limfosit memiliki peranan penting dalam pertahanan tubuh dengan menghasilkan antibodi (Swenson 1984). Limfosit adalah sel motil yang aktif tetapi jarang memperlihatkan fagositosis. Beberapa fungsi limfosit dalam sistem pertahanan tubuh adalah mensintesis dan melepaskan molekul antibodi (Pflanzer 1995).

Dari data pada Tabel 6 diketahui bahwa sebanyak empat ekor (±55%) Labrador Retriever memiliki jumlah limfosit yang berada di atas kisaran normal dan tiga ekor masih berada dalam kisaran normal (kisaran normal jumlah limfosit pada anjing: 0.53-4.8 x103/mm3, Foster et al. 2007). Tingginya jumlah limfosit dalam darah dapat juga disebut dengan limfositosis (Anonima 2006). Selain infeksi viral, limfositosis dapat disebabkan oleh fisiologis (epinefrin), dan limfositik leukimia (Anonima 2006).

Neutrofil

Neutrofil merupakan sel leukosit dengan mobilitas tinggi sehingga menjadi sel pertama yang sampai ke jaringan penghasil substansi kimia yang bersifat kemotaksis (Martini et al.1992). Neutrofil bersifat sangat motil dan sel yang aktif berfagositosis, memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh melawan invasi bakteri (Pflanzer 1995).

Semua Labrador Retriever memiliki jumlah neutrofil yang berada dalam kisaran normal (kisaran normal jumlah neutrofil pada anjing: 3-12 x103/mm3, Foster et al. 2007). Apabila didapatkan keadaan dengan jumlah neutrofil yang rendah (neutropenia), dapat disebabkan oleh infeksi baik oleh bakteri (septisemia) maupun beberapa jenis virus, obat-obatan penginduksi neutropenia, dan kondisi yang berkaitan dengan pansitopenia (anemia aplastik dan anemia megaoblastik). Sedangkan tingginya jumlah neutrofil (neutrofilia) dapat terjadi karena infeksi bakteri dan kondisi yang berkaitan dengan nekrosis jaringan ekstensif seperti luka bakar, trauma, pembedahan dan neoplasia (Anonima 2006).

Fungsi monosit adalah mengawasi daerah infeksi dan memfagositosis bakteri, benda asing dan sel-sel mati. Selain itu, monosit mengikuti neutrofil masuk ke daerah infeksi membentuk garis pertahanan kedua yang secara kuantitatif lebih penting (Ganong 1995). Monosit aktif dalam bergerak dan fagositosis dan memegang peranan dalam menghancurkan bakteri serta membersihkan sel debris pada area jaringan yang rusak (Pflanzer 1995).

Diketahui dari data pada Tabel 6 bahwa semua anjing pelacak ras Labrador Retriever memiliki jumlah monosit yang masih berada dalam kisaran normal, kisaran normal nilai monosit pada anjing secara umum: 0-0.85 x103/mm3 (Jain 1993). Jumlah monosit pada tubuh anjing dapat menjadi tinggi (monositosis) akibat infeksi bakteri (Anonima 2006).

Eosinofil

Eosinofil berperan sebagai sel fagosit tapi bukan terhadap bakteri atau runtuhan-runtuhan sel, namun terhadap komponen asing yang telah beraksi dengan antibodi (Martini et al.1992). Eosinofil kurang bersifat motil dibandingkan neutrofil dan tidak begitu aktif dalam melakukan fagositosis. Sitoplasma granul pada eosinofil memiliki enzim oksidase, peroksidase dan fosfatase, mengindikasikan bahwa fungsi utama dari eosinofil adalah detoksifikasi protein asing dan substansi lainnya (Pflanzer 1995).

Pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa semua Labrador Retriever memiliki jumlah eosinofil dalam kisaran normal, kisaran normal nilai eosinofil pada anjing: 0-1.9 x103/mm3 (Foster et al. 2007). Eosinofil dalam tubuh dapat berjumlah tinggi, keadaan ini disebut juga eosinofilia yang dapat diakibatkan oleh infestasi parasit maupun kondisi alergi (Anonima 2006). Sebaliknya jumlah eosinofil yang rendah (keadaan ini disebut juga sebagai eosinopenia) yang dapat disebabkan oleh stres yang dipicu oleh pemberian kortikosteroid (Anonima 2006).

Basofil

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa semua anjing dalam kelompok anjing pelacak ras Labrador Retriever memiliki jumlah basofil sebanyak 0%. Hal ini normal pada anjing karena memang basofil hanya berada dalam peredaran darah tepi dalam jumlah yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali (Swenson 1984). Dalam peredaran darah tepi basofil dikenal sebagai sel mast.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 (r ib u /m m 3 ) L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 BDP L N M E B

Fungsi utama basofil adalah untuk melepaskan histamin pada area jaringan yang rusak untuk meningkatkan aliran darah dan memfasilitasi perbaikan jaringan (Pflanzer 1995).

Gambar 21. Grafik rata-rata jumlah total leukosit/Butir Darah Putih(BDP) dan diferensiasi leukosit anjing pelacak ras Labrador Retriever (ribu/mm3)

Berdasarkan data yang diperoleh, secara umum nilai gambaran darah pada anjing pelacak ras Labrador Retriever berada dibawah kisaran normal anjing (umum), mungkin hal ini terjadi karena infestasi caplak yang mempengaruhi nilai darah, dimana caplak dapat merupakan vektor suatu penyakit. Nilai MCV yang cukup jauh diatas kisaran normal dan nilai MCHC yang berada cukup jauh di bawah kisaran normal, terdapat pada anjing (L2) atau Lala yang menandakan bahwa anjing tersebut mengalami keadaan anemia makrositik hipokromik yang dapat disebabkan karena defisiensi vitamin B12 ataupun asam folat dan defisiensi zat besi. Hal ini dapat disebabkan karena asupan jumlah nutrisi yang dikandung pada pakan kurang mencukupi dan kondisi lingkungan yang kurang kondusif. Nilai MCV pada anjing (L5) atau Lady yang berada jauh di bawah kisaran normal yang menandakan bahwa anjing tersebut mengalami anemia mikrositik, yang dapat disebabkan karena defisiensi zat besi. Anjing (L1) atau Danger memiliki nilai MCH rendah karena hal ini terjadi mengikuti nilai MCHC-nya yang juga rendah (nilai MCHC rendah dapat terjadi seperti dijelaskan diatas).

Beberapa kendala yang ditemukan adalah kurangnya data riwayat status kesehatan anjing, mobilisasi anjing, waktu/jarak menuju ke laboratorium, dan kondisi lingkungan serta kondisi fisik/kesehatan anjing ras Labrador Retriever maupun keadaan stres yang dihadapi anjing pada Subdit Satwa POLRI ketika pengambilan darah berlangsung.

Kepentingan pemeriksaan darah anjing pada umumnya juga sangat berkaitan dengan kasus penyakit tertentu. Salah satu contohnya hipotiroidisme, yang sangat sering terjadi pada anjing. Hipotiroidisme pada anjing diklasifikasikan sebagai hipotiroidisme primer, sekunder, atau tertier, tergantung dari penyebabnya yang terjadi misalnya di kelenjar thiroid, kelenjar pituitari atau hipothalamus. Peranan kelenjar pituitari dan hipothalamus yang memiliki kontrol terhadap tingkatan hormon tiroid melalui sekresi dari TSH dan TRH (Anonimh 2007). Tiroid penting untuk pematangan sel, termasuk eritrosit, bila terganggu maka eritropoiesis akan terganggu dan mengakibatkan anemia.

Dokumen terkait