• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

C. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah (BPHTB) adalah pajak yang yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.

Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.

Hak atas tanah dan bangunan adalah hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan, beserta bangunan di atasnya. Sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku lainnya.

2. Prinsip-prinsip yang diatur dalam Undang-Undang BPHTB Prinsip-prinsip yang diatur dalam Undang-Undang adalah :

a. Pemenuhan kewajiban BPHTB adalah berdasarkar system Self Assessment.

b. Besarnya tarif ditetapkan sebesar 5 % dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak.

c. Adanya sanksi bagi Wajib Pajak maupun pejabat-pejabat umum yang melanggar ketentuan atau tidak melaksanakan kewajibannya menurut Undang-undang yang berlaku.

d. Hasil Penerimaan BPHTB sebagian besar diserahkan kepada Pemerintah Daerah, untuk meningkatkan pendapatan daerah.

e. Semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan diluar ketentuan ini tidak diperkenankan. Berdasarkan prinsip di atas, pemenuhan kewajiban Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan

Bangunan adalah menggunakan sistem Self Assesment yaitu sistem pemungutan dimana Wajib Pajak harus menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan jumlah pajak yang terutang. Aparat Pajak (fiskus) hanya bertugas melakukan penyuluhan dan pengawasan untuk mengetahui kepatuhan Wajib Pajak.

3. Objek dan Subjek BPHTB Objek dan subjek BPHTB adalah:

a. Objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.

Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan meliputi : 1) Pemindahan hak karena :

a). Jual beli

b). Tukar menukar c). Hibah

d). Hibah wasiat e). Waris

f). Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan g). Penunjukan pembeli dalam lelang

h). Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap

i). Penggabungan Usaha j). Peleburan Usaha k). Pemekaran Usaha l). Hadiah

2) Pemberian hak baru karena : a). Kelanjutan pelepasan hak b). Di luar pelepasan hak

b. Tidak termasuk Objek pajak. Objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB yaitu:

1) Perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik.

2) Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau pelaksananaan pembangunan guna kepentingan umum.

3) Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau pelaksananaan pembangunan guna kepentingan umum.

4) Badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri.

5) Orang pribadi atau badan karena konversi hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama.

6) Karena wakaf.

7) Untuk digunakan kepentingan ibadah.

c. Subjek Pajak

Yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. Subjek Pajak sebagaimana tersebut diatas yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi Wajib Pajak menurut Undang-Undang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

4. Hak Atas Tanah

Hak atas tanah adalah :

1. Hak milik, adalah hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah.

2. Hak guna usaha, adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku.

3. Hak guna bangunan, adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan.

4. Hak pakai, adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Hak milik atas satuan rumah, adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah

bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan.

6. Hak pengelolaan, adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain, berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.

5. Dasar Pengenaan BPHTB

Dasar Pengenaan Pajak adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dalam hal;

a. Jual beli adalah harga transaksi;

b. Tukar-menukar adalah nilai pasar;

c. Hibah adalah nilai pasar;

d. Hibah wasiat adalah nilai pasar;

e. Waris adalah nilai pasar;

f. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar;

g. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar;

h. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar;

i. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar;

j. Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar;

k. Penggabungan usaha adalah nilai pasar;

l. Peleburan usaha adalah nilai pasar;

m. Pemekaran usaha adalah nilai pasar n. Hadiah adalah nilai pasar;

o. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam Risalah Lelang; Apabila NPOP dalam hal a s/d n tidak diketahui atau lebih rendah dari pada NJOP PBB yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan pajak yang dipakai adalah NJOP PBB.

Nilai Pasar yang dimaksud adalah harga rata-rata dari transaksi jual beli secara wajar yang terjadi di sekitar letak tanah dan atau bangunan.

6. Pengenaan BPHTB

a. Pengenaan BPHTB karena waris dan Hibah Wasiat BPHTB yang terutang atas perolehan hak karena waris dan hibah wasiat adalah sebesar 50% dari BPHTB yang seharusnya terutang.

b. Pengenaan BPHTB karena pemberian Hak Pengelolaan. Besarnya BPHTB karena pemberian Hak Pengelolaan adalah sebagai berikut:

1) 0% (nol persen) dan BPHTB yang seharusnya terutang terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pemerintah Daerah Propinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/kota, Lembaga Pemerintah lainnya,

dan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas);

2) 50% (lima puluh persen) dari BPHTB yang seharusnya terutang dalam hal penerima Hak Pengelolaan selain dimaksud diatas.

7. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak

Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ditetapkan secara regional paling banyak;

a. .Rp. 49.000.000 (empat puluh sembilan juta rupiah) dalam hal perolehan hak Rumah Sederhanan Sehat (RSH) dan Rumah Susun Sederhana;

b. Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dalam hal perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam dalam rangka program peningkatan sertifikasi tanah untuk memperkuat penjaminan kredit bagi usaha Mikro dan kecil;

c. Rp.300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dalam hal perolehan hak karena waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah termasuk istri/suami;

d. Paling banyak Rp.60.000.000 (enam puluh juta rupiah) dalam hal selain a, b dan c.

Saat terutang Pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan untuk:

1. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 2. tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta 3. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta

4. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan

5. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta

6. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta

7. lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang

8. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap

9. hibah wasiat adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan

10. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak

11. pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya surat keputusan pemberian hak 12. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan

ditandatanganinya akta

13. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta

14. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta

15. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta

Tempat Pajak Terutang adalah di wilayah Kabupaten, Kota, atau Propinsi yang meliputi letak tanah dan bangunan.

Pembayaran pajak dilakukan dengan cara wajib pajak membayar pajak yang terutang dengan tidak mendasarkan pada adanya surat ketetapan pajak. Pajak terutang dibayar ke negara melalui Kantor Pos/Bank BUMN/BUMD atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri dengan Surat Setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (SSB).

Cara Penghitungan BPHTB yaitu Besarnya BPHTB terutang adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) dikalikan tarif 5 % (lima persen).

Secara matematis adalah;

Contoh:

1. Pada tanggal 28 Juli 2006, Tuan“S” mendaftarkan warisan berupa tanah dan bangunan yang terletak di Kota “BB” dengan NJOP PBB Rp. 400.000.000,00. NPOPTKP untuk perolehan hak karena waris untuk Kota “BB” ditetapkan sebesar Rp. 300.000.000,00. Besarnya NPOPKP adalah Rp. 400.000.000,00 dikurangi Rp. 300.000.000,00

BPHTB = 5 % X (NPOP – NPOPTKP)

sama dengan Rp. 100.000.000,00, maka perolehan hak tersebut terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

BPHTB = 50% x 5 % x (Rp. 400 – Rp. 300) juta

= 50% x 5 % x ( Rp. 100) juta

= Rp. 2,5 juta.

Jadi Besarnya nilai BPHTB yang harus dibayar oleh Tuan S adalah Rp. 2.500.000.

D. Hambatan Pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan Cara mengatasinya

1. Hambatan pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

Dalam pelaksanaan pemungutan terhadap Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan tidak selamanya berjalan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam pelaksanaan pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan tersebut juga terdapat beberapa kendala yang dihadapi. Antara lain, yaitu :

a. Kendala yang berhubungan dengan wajib pajak lebih disebabkan oleh kekurang tahuan dari para wajib pajak tersebut terhadap aturan hukum yang berlaku, terutama di bidang Pajak. Di tambah lagi dengan system self assessment dari Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, dimana wajib pajak diberikan kewenangan untuk menghitung dan membayar sendiri jumlah Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan

Bangunan yang harus dibayarkannya. Dengan kekurang tahuan tersebut, maka wajib pajak tentunya akan mengalami kesulitan untuk mengurus sendiri hal tersebut.

b. Kendala yang berhubungan perhitungan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Untuk kendala yang berhubungan perhitungan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, sebagian besar lebih disebabkan oleh ketidaktahuan dari wajib pajak tentang cara perhitungan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena dalam kenyataannya terdapat kelebihan dari jumlah yang seharusnya disetorkan. Tidak jarang pula dari perhitungan yang dilakukan banyak setoran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dibayarkan kurang dari yang seharusnya karena adanya kesalahan dalam melakukan perhitungan terhadap Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

2. Cara mengatasi kendala pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

Para pegawai pajak seharusnya lebih mensosialisasikan tentang berbagai macam Pajak yang ada, sehingga para wajib pajak mengetahuinya secara baik. Dalam hal wajib pajak masih belum mengetahui tentang Pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) Atas Perolehan serta tata cara perhitungan dan sebagainya, maka wajib pajak dapat saja meminta bantuan dari pegawai pajak untuk membantu menghitung Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB). Atas

Perolehan Hak yang harus dibayarkan, sehingga dalam melakukan perhitungan tidak ada kesalahan seperti kelebihan atau kekurangan pembayaran dari Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) Atas Perolehan Hak yang dibayarkan. Selain itu, kantor pajak dapat saja menyediakan sarana yang lebih mudah dalam menghitung Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) atas perolehan Hak , misalnya dengan membuat program komputer untuk menghitung Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) atas Perolehan Hak sehingga wajib pajak tidak perlu harus menghitung sendiri Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) atas Perolehan Hak yang harus dibayarkan.

Dengan adanya penyelesaian ini, maka semua pihak yang masih atau sedang mengalami kendala sama seperti di atas, dapat memakai penyelesaian yang diuraikan dalam sub bab ini. Selain itu dengan telah adanya penyelesaian ini semoga pemungutan terhadap Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga penerimaan Negara juga meningkat..

E. Kerangka Pikir

Gambar 1 Kerangka pikir

F. Hipotesis

Berdasarkan tujuan dari penelitian, harga jual beli tanah berpengaruh terhadap Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan pada Badan

Pertanahan Nasional dalam kegiatan pelayanan penerbitan sertifikat tanah.

Badan Pertanahan Nasional (BPN)

(X1)

Harga Jual Beli Tanah

BPHTB

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi yang dipilih adalah Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Gowa yang terletak pada Jln. Andi Mallombasang No. 65 sungguminasa dan PPAT sebagai instansi yang terkait dan terlibat langsung dalam proses pendaftaran tanah tersebut. Waktu penelitian diperkirakan memakan waktu kurang lebih selama dua bulan pada bulan april sampai bulan juni.

B. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan proposal ini penulis akan mengadakan penelitian dengan mengumpulkan data sebagai berikut :

1. Penelitian pustaka (Library Research) adalah penelitian yang dilakukan dengan mempelajari buku-buku literatur yang erat hubungannya dengan penulisan proposal ini.

2. Penelitian Lapangan (field research) yaitu pengumpulan data lapangan penulis melakukan penelitian secara langsung pada Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Gowa guna mendapatkan data yang lengkap sesuai dengan kebutuhan penulisan proposal ini.

29

C. Jenis dan Sumber data 1. Jenis Data

a. Data kualitatif, yaitu daya yang diperoleh dari hasil Instansi baik dalam bentuk infomrasi secara lisan maupun secara tertulis.

b. Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari Instansi yang diteliti dalam bentuk angka-angka dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah data Primer, digali melalui : 1) Metode wawancara (interview) yang dilakukan dengan pihak-pihak yang terkait didalamnya, yakni dari pihak kantor pertanahan Kabupaten Gowa. Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab secara lisan yang bersifat bebas terpimpin dan dialog sistematis.

2) Dokumen yaitu pengumpulan data dengan jalan mengadakan pencatatan langsung mengenai data yang berupa dokumen ataupun mengutip keterangan-keterangan yang dibutuhkan yang ada di Kantor Pertanahan Gowa.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah seluruh objek atau seluruh gejala atau seluruh unit yang akan diteliti. Oleh karena populasi biasanya sangat besar dan luas, maka tidak mungkin untuk meneliti seluruh populasi tersebut tetapi cukup diambil

sebagian saja untuk diteliti sebagai sampel yang memberikan gambaran tentang objek penelitian secara tepat dan benar. Pada Populasi dalam penelitian ini adalah menyangkut data penerimaan BPHTB dalam kegiatan peralihan Hak tanah selama 5 (lima) tahun terakhir berturut-turut untuk mengetahui perkembangan dan penurunan BPHTB pada Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Gowa.

2. Sampel

Tekhnik pengambilan sampel yang dilakukan adalah Purpose Sampling yaitu metode pengambilan sampel yang ditentukan berdasarkan tujuan tertentu dengan melihat pada persyaratan-persyaratan antara lain:

didasarkan pada ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu yang merupakan ciri-ciri utama dari obyek yang diteliti dan penentuan karakteristik populasi yang dilakukan dengan teliti melalui studi pendahuluan. Dalam penelitian ini yang ditetapkan sebagai sampel penelitian adalah Kepala seksi Kantor pertanahan Nasional.

E. Metode Analisis

Untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, maka metode analisis yang digunakan adalah :

1. Korelasi

Analisa korelasi bertujuan untuk mengemukakan ada atau tidaknya hubungan diantara variabel yang diteliti, dan apabila terdapat hubungan maka dapat diketahui seberapa erat hubungan tersebut.

Sedangkan rumus yang digunakan untuk menghitung hubungan antara variabel X dan Y adalah rumus Pearson korelasi yaitu:

xy rxy=

 x2. y2 Dan Rumus :

N∑XY – (∑X) (∑Y)

rxy =

√ [ N∑X2– (X)2] [N∑Y2 - (Y)2]

Koefisien korelasi nilai r menunjukan hubungan antara variabel independen Harga jual beli tanah (X ) dengan variabel dependen BPHTB (Y).

Penggunaan rumus ini dipakai peneliti karena :

- Tidak usah mencari ( X - X ) dan (Y - Y ) yang berarti menambah langkah

- Hasil pengurangan ( X - X ) dan (Y - Y ) pada umumnya merupakan bilangan pecahan sehingga walaupun merupakan bilangan kecil, tetapi dituliskan dalam pecahan desimal yang terdiri dari dua sampai empat angka dibelakang koma.

- Rumus ini dapat langsung dihitung dengan kalkulator

- Jika harus menggunakan tabel, hanya membuat 5 kolom nilai yang terdiri dari X, Y, X2, Y2 dan XY.

Untuk dapat memberikan interprestasi terhadap hasil koefisien korelasi, maka dapat digunakan pedoman menurut Sugiyono yang dijelaskan melalui tabel dibawah ini :

Tabel 1 Pedoman Untuk Memberikan Interprestasi Terhadap koefisien korelasi

Koefesien determinasi merupakan alat analisa yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh antara variabel independen harga jual tanah (X) dengan variabel dependen BPHTB (Y). Dengan rumus :

KD= r2x 100 %.

3. Regresi

Analisa regresi digunakan untuk mengetahui bagaimana variabel dependen atau kriteria dapat diprediksikan melalui variabel independent atau prediktor, secara individual.

Korelasi dan regresi keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Setiap regresi pasti ada korelasinya, tetapi korelasi belum tentu dilanjutkan dengan regresi. Korelasi yang tidak dilanjutkan dengan regresi adalah korelasi diantara dua variabel yang tidak mempunyai hubungan.

Dampak dari analisis regresi juga dapat digunakan untuk memutuskan apakah naik atau menurunnya variabel dependen yang dapat dilakukan melalui menaikan dan menurunkan keadaan variabel independen, atau untuk meningkatkan keadaan variabel dependen dapat dilakukan dengan meningkatkan variabel independen dan atau sebaliknya.

Regresi didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal antara variabel independent dengan variabel dependen. Adapun persamaan umum regresi adalah :

Y = a + b (x) Keterangan :

Y = Subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan a = harga Y bila X = 0 (harga konstan)

b = Angka arah atau koefisien regresi

X = Subyek pada variabel yang mempunyai nilai tertentu

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

A. Gambaran Umum Badan Pertanahan Nasional (BPN) 1. Sejarah Instansi

Badan Pertanahan Nasional (BPN) merupakan Instansi yang berada di bawah naungan Departemen Dalam Negeri. Di tingkat I bernama Direktorat Agraria, Tingkat Kabupaten / Kotamadya bernama Dinas Agraria.

Sejak dikeluarkannya Keputusan Kepala Presiden RI No 26 Tahun 1988, maka Direktorat Agraria dirubah namanya menjadi BPN yang dipimpin oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Dasar huhukum Lembaga ini telah beberapa kali mengalami perubahan, dan yang terakhir dikeluarkan adalah Peraturan Presiden No 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. Sebagai perpanjangan tangan dari Badan Pertanahan Nasional Pusat maka terdapatlah Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi serta Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten / Kota, yang tersebar di berbagai daerah termasuk di Kabupaten Gowa yaitu Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Gowa di Jl. A. Mallombassang No. 65.

Struktur Bagian Kantor Pertanahan Nasional terdiri atas 1. Bagian Tata Usaha

a. Sub bagian Kepegawaian b. Sub bagian Keuangan

c. Sub bagian Umum dan Informasi.

35

2. Bidang Survey, Pengukuran dan Pemetaan a. Seksi Pengukuran dan Pemetaan Dasar b. Seksi Pemetaan Tematik

c. Seksi Pengukuran Bidang d. Seksi Survei Potensi Tanah

3. Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah a. Seksi Penetapan Hak Tanah Perorangan b. Seksi Penetapan Tanah Badan Hukum c. Seksi Pengaturan Tanah Pemerintah

d. Seksi Pendaftaran, peralihan, Pembebanan Hak dan PPAT 4. Bidang Pengaturan dan Penataan Tanah

a. Seksi Penatagnaan Tanah

b. Seksi Pengawasan Kawasan Tertentu c. Seksi Landreform

d. Seksi Konsolidasi Tanah

5. Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat a. Seksi Pengendalian Pertanahan

b. Seksi Pemberdayaan Masyarakat 6. Bidang Pengkajian

a. Seksi Pengkajiandan penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan

b. Seksi Pengkajian dan Penanganan Perkara Pertanahan

Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggunga jawab kepada Presiden dan dipimpin oleh Kepala. Sesuai dengan Pepres No. 10 Tahun 2006, BPN memiliki pedoman kerja, yang disebut dengan 11 Agenda Pedoman Kerja Badan Pertanahan Nasional, antara lain :

1. Membangun kepercayan masyarakat pada Badan Pertanahan Nasional

2. Meningkatkan pelayanan dan pelaksanaan pendaftaran tanah serta sertifikasi tanah secara menyeluruh diseluruh Indonesia.

3. Memastikan penguatan hak-hak atas tanah

4. Menyelesaikan persoalan-persoalan pertanahan di daerah-daerah korban bencana alam dan daerah-daerah konflik di seluru tanah air.

5. Menangani dan menyelesaikan perkara, masalah, sengketa, dan konflik pertanahan di seluruh Indonesian secara sistematis.

6. Membangun Sistim Informasi dan Manajemen Pertanahan Nasioanl (SIMTANAS) dan Sistim Pengaman Dokumen Pertanahan di Seluruh Indonesia

7. Menangani masalah KKN serta meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat

8. Membangun database penguasaan dan pemilikan tanah skala besar 9. Melaksanakan secar konsisten semua peraturan perundang-undangan

pertanahan yang telah ditetapkan

10. Menata kelembagaan Pertanahan Nasional

11. Mengembangkan dan memperbaharui politik, hukum dan kebijakan pertanahan

B. Visi & Misi Instansi

Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas, melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral, oleh karena itu Badan Pertanahan Nasional memiliki Visi dan Misi, yaitu:

a. Visi

Menjadi lembaga yang mampu mewujudkan tanah dan pertanahan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, serta keadilan dan berkelanjutan sistim kemasyarakatan, Kebangsaan dan Kenegaraan Republik Indonesia.

b. Misi

Mengembangkan dan menyelenggarakan politik dan kebijakan

Mengembangkan dan menyelenggarakan politik dan kebijakan

Dokumen terkait