Olle Törnquist (Universitas Oslo) Nicolaas Warouw (Universitas Gadjah Mada)
S
aat ini ‘menilai demokrasi’ agaknya telah menjadi ‘industri’yang mirip dengan pengukuran tingkat pembangunan ekonomi di sejumlah negara-negara dunia. Sebuah lembaga dengan reputasi tinggi yang berbasis di Stockholm, yaitu International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) menggolongkan enam kerangka penilaian demokrasi (Beetham, et.al., 2008).
Kerangka pertama berfokus pada seberapa besarnya upaya penegakan hak asasi manusia secara komprehensif. Hal ini terutama banyak dilakukan oleh Amerika Serikat dan organisasi-organisasi serta institusi seperti Amnesty dan Freedom House. Kerangka yang kedua menempatkan prioritasnya pada tatapemerintahan, termasuk pemilu, tetapi terutama pada upaya penegakan hukum (rule of law) dan akuntabilitas. Studi-studi semacam ini seringkali disponsori oleh lembaga pemerintah, lembaga-lembaga bantuan dan koleganya seperti Indonesian Partnership for Governance Reform, dalam rangka mengevaluasi dukungan mereka terhadap pembangunan kelembagaan.
Kerangka ketiga merujuk pada ‘indeks demokrasi’ yang dilakukan oleh para peneliti yang mengaitkan hak-hak demokratis dan pemilu dengan ‘faktor-faktor independen’ seperti pembangunan dan konfl ik. Keempat, terdapat pula model audit demokrasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah, sebagian akademisi serta organisasi-organisasi kemasyarakatan di negara-negara Utara untuk menemukan dan meletakkan dasar bagi diskusi publik menyangkut kekuatan dan kelemahan berbagai dimensi demokrasi.
Kerangka yang kelima adalah penilaian atas kondisi ekonomi dan sosial yang dilakukan oleh pemerintah dan organisasi-organisasi internasional untuk mengevaluasi capaian (outcome) demokrasi dan untuk memberi dukungan terhadap upaya-upaya peningkatan kondisi struktural. Yang keenam adalah kerangka yang dikembangkan sendiri oleh IDEA. Kerangka ini telah diterapkan oleh para kolega pemerintah, lembaga-lembaga internasional, termasuk LSM dan sebagian akademisi.
Tujuannya mirip dengan kerangka audit demokrasi di negara-negara demokrasi-lama (di Utara) tetapi dengan ambisi untuk memfasilitasi penerapannya di negara-negara Selatan. Fokus utama kerangka ini adalah melakukan penilaian atas kualitas institusi-institusi demokrasi melalui serangkaian panel ahli serta berbagai indikator, selain melalui survei-survei opini dan sikap publik. Ke dalam kategori ini kita juga bisa memasukkan penilaian-penilaian yang dilakukan oleh sejumlah asosiasi dan akademisi mengenai kualitas demokratis masyarakat sipil dan gerakan sosial, serta mengenai ‘modal sosial’ yaitu menyangkut situasi kepercayaan antar-personal yang dapat mendorong lahirnya aksi kolektif.
Sungguh menarik bahwa kerangka alternatif yang kami gunakan dalam riset partisipatoris untuk memajukan demokrasi ini belum dikenal.
Kerangka ini mendasarkan diri atas survei yang dilakukan terhadap para aktivis-sekaligus-ahli yang telah berpengalaman. Fokus perhatiannya terletak pada pemahaman identitas politik masyarakat, penilaian atas standar berbagai institusi demokrasi, serta bagaimana kehendak dan kapasitas aktor-aktor pro-demokrasi untuk memanfaatkan dan memajukan infrastruktur demokrasi. Kerangka ini telah dikembangkan melalui kerja sama aktivis dan akademisi yang memiliki kemampuan untuk merefl eksikan berbagai kasus menonjol di Indonesia sejak 2002 dan telah terbukti sebagai kerangka yang memadai untuk menganalisis demokrasi.
Kami mengetahui pada dasarnya aktivis pro-demokrasi tidak merasa puas bekerja dengan berbagai kerangka yang mencerminkan nilai-nilai, kepentingan politik dan prioritas pembangunan dari
organisasi-organisasi donor maupun kolega-kolega dekatnya. Namun sesunguhnya tidak ada yang salah jika donor berkepentingan untuk mengevaluasi dukungan mereka terhadap demokrasi (dan pada kenyataannya banyak kelompok pro-demokrasi bersandar pada program tersebut). Lagipula mereka, patron-patron politik asing yang mendukung demokrasi, harus dapat mengidentifi kasi dan mendorong perkembangan demokrasi sebagaimana layaknya seorang partner. Begitulah dasar hubungan internasional. Para akademisi yang terlibat pun harus menguji dan terus-menerus mengembangkan teori-teori dan rekomendasi mereka.
Walau bagaimanapun, para aktivis pro-demokrasi Indonesia tetap mengharapkan dan membutuhkan sebuah instrumen yang bisa digunakan untuk mengevaluasi masalah yang mereka hadapi, pilihan-pilihan yang ada serta argumentasinya. Sebab pada kenyataannya, mereka mengalami kebingungan dan saling berbeda pendapat. Mereka juga ingin mengetahui hingga sejauh mana teori dan rekomendasi yang berbeda-beda itu masuk akal atau tidak, bukan atas dasar argumentasi yang disukai donor atau akademisi dan aktivis tertentu saja.
Kelompok pro-demokrasi juga benar-benar membutuhkan data dan informasi yang dapat diandalkan. Padahal, setelah dekade otoritarianisme, riset-riset kritis yang dilakukan secara akademis masih saja lemah. Studi-studi kasus yang ada pun sifatnya tersebar dan sepotong-sepotong. Mereka juga sangat terganggu oleh sebagian besar penilaian yang mengandalkan deskripsi-deskripsi yang statis tentang kualitas berbagai peraturan dan regulasi tanpa menaruh perhatian terhadap dinamika relasi kekuasaan di antara berbagai aktor.
Karena itu para aktivis pro-demokrasi berharap para akademisi yang peduli terhadap situasi demokrasi agar mempertimbangkan juga pandangan-pandangan para aktivis di lapangan yang menegakkan demokrasi di Indonesia dan membandingkannya dengan berbagai pengalaman di negara-negara lain. Sebab, upaya para aktivis selama bertahun-tahun untuk menegakkan demokrasi kebanyakan justru dinilai melalui cara-cara penilaian yang dibuat sendiri oleh para elit dan pakar akademisi. Padahal para elit dan akademisi itu banyak yang tidak peduli dengan upaya-upaya para aktivis di lapangan, atau bahkan bukan tidak mungkin berdiri pada posisi yang berlawanan.
Persoalan lain adalah kecenderungan para pakar asing untuk memperkenalkan perspektif elitis dari lembaga-lembaga donor tentang bagaimana merekayasa (crafting) demokrasi dan membangun konsensus di antara aktor-aktor berkuasa. Pengalaman dan pandangan kelompok-kelompok pro-demokrasi di Indonesia dan di berbagai tempat lainnya justru diabaikan. Sayangnya para aktivis itu tidak cukup punya waktu
untuk menuliskan cerita-cerita dan temuan-temuan mereka sendiri.
Maka akhirnya sebagian aktivis pro-demokrasi bertekad untuk tidak hanya menulis laporan dan berbicara di seminar mengenai temuan-temuan di lapangan, akan tetapi mereka ingin menyusun sendiri rekomendasi-rekomendasi untuk aksi dan menyatukan upaya-upaya untuk mengimplementasikannya.
Karena itu, dalam rangka mengembangkan sebuah kerangka alternatif, kami menggabungkan beberapa kerangka arus-utama (mainstream) yang secara teoretis paling meyakinkan dan fl eksibel, kemudian kami tambahkan dengan kebutuhan-kebutuhan eksplisit itu.
Hal ini kami lakukan khususnya terhadap beberapa gagasan tentang audit demokrasi dan kerangka konseptual yang dikembangkan IDEA International. Meskipun begitu, kami tetap berupaya agar kerangka alternatif semacam itu harus bisa diimplementasikan sesegera mungkin (sebab pilihan-pilihan demokratis semakin memudar) dan tanpa memerlukan akses terhadap pendanaan yang besar (karena hal itu akan mendorong berbagai tindakan kompromis).
Defi nisi dan Variabel-variabel Dasar
Serupa dengan beberapa metode audit demokrasi dan kerangka IDEA yang menjadi arus-utama, salah satu titik tolak yang krusial adalah:
pemisahan antara tujuan (aims) dan cara (means) demokrasi. Pemisahan semacam ini memungkinkan untuk melihat sampai sejauh mana cara-cara demokrasi dapat mendukung tujuan-tujuan demokrasi. Apalagi, sebagaimana diungkapkan secara meyakinkan oleh David Beetham, perbedaan pendapat tentang demokrasi terutama berkaitan dengan cara, sementara terdapat kesepakatan umum terhadap tujuan demokrasi, yaitu kontrol rakyat atas urusan publik atas dasar kesetaraan politik (Beetham, 1999).
Maka, kita pertama-tama harus mempertanyakan ‘rakyat’ (demos) yang mana yang dapat mengontrol kekuasaan. Siapakah warga negara?
Apakah demos didasarkan atas, misalnya, agama atau etnis atau identitas politik? Karena tidak dapat mendiskusikan secara detil bagaimana identitas-identitas semacam itu dibentuk, kita harus bisa mendiskusikan jika dan bagaimana identitas-identitas itu dapat dikombinasikan, khususnya dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia.
Kedua, kita juga perlu bertanya, apa saja yang menjadi urusan publik yang harus dikontrol oleh rakyat dan apa yang bisa dianggap sebagai urusan privat yang diurus di dalam keluarga, kelompok, pasar atau oleh komunitas-komunitas etnis dan agama. Sekali lagi, analisis mendalam tentang konstruksi urusan publik juga merupakan hal yang
tak mungkin. Akan tetapi kita harus menganalisis substansi demokrasi dengan memisah-misahkan mana yang termasuk urusan publik, dan mana yang bukan.
Ketiga, apa yang dimaksud dengan ‘kontrol’ dan ‘kesetaraan politik’ dan bagaimana kedua hal itu dapat dicapai? Menurut Beetham et.al. (2002) hal-hal berikut ini termasuk sebagai unsur intrinsik: hak dan kemampuan untuk untuk berpartisipasi dan diterima sebagai perwakilan rakyat dan eksekutif; dua lembaga yang pada gilirannya harus mewakili opini-opini utama masyarakatnya dan komposisi sosial dari masyarakat, responsif terhadap kepentingan dan pendapat rakyat, dan akuntabel terhadap rakyat atas apa yang mereka lakukan – yang kesemuanya itu membutuhkan transparansi dan solidaritas. Di samping itu, sementara prinsip-prinsip ini meniscayakan hak asasi manusia (termasuk hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi, sosial dan budaya), penentuan dan penegakan hak asasi manusia ini pada gilirannya juga membutuhkan penerapan prinisp-prinsip demokrasi.
Lalu, perangkat apa saja yang diperlukan untuk memungkinkan dan mendorong pembentukan demos dan penentuan urusan publik secara demokratis serta prinsip-prinsip yang disebut di atas agar dapat meningkatkan kontrol rakyat dan menciptakan kesetaraan politik? Kerangka yang dikembangkan IDEA dan lembaga-lembaga audit demokrasi lainnya berfokus pada institusi demokratis dan nilai-nilai yang terkait dengannya yang ada di tengah-tengah masyarakat.
Meskipun pandangan semacam itu sesuai dengan standar dalam ilmu politik mengenai demokrasi dan pembangunan demokrasi, termasuk dengan pandangan sebagian besar donor, tetapi itu semua tidaklah cukup bagi aktivis pro-demokrasi di Indonesia.
Kaum demokrat Indonesia berkeinginan untuk dapat mengevaluasi teori-teori dan argumentasi yang lebih luas mengenai perangkat-perangkat yang dibutuhkan dalam rangka mendiskusikan apa yang kelihatannya paling tepat untuk Indonesia. Mereka merasa perlu melakukan lebih jauh dari sekadar menilai aturan-aturan dan regulasi yang baku dan ingin beranjak ke perspektif yang dinamis.
Jadi, mereka ingin benar-benar memikirkan berbagai kemungkinan perubahan dengan tetap menyertakan institusi informal serta relasi kekuasaan di antara berbagai aktor politik, kekuatan ekonomi politik, asosiasi sipil dan gerakan-gerakan sosial. Pada akhirnya, jelas tidak bermanfaat untuk hanya sampai pada sebuah penilaian secara ’nasional’
di dalam sebuah negara yang kekuasaan despotik-nya yang terpusat telah dihancurkan dan politik menjadi sangat terlokalisasi. Pendefi nisian atas demos dan urusan publik memerlukan beberapa indikator tambahan.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa kita perlu melampaui perspektif-perspektif yang telah ada sebelumnya dengan mempertimbangkan tiga perangkat dasar demokrasi.
Perangkat Dasar Demokrasi: Institusi, Kehendak dan Kapasitas
Ciri terpenting yang pertama dari perangkat demokratis tentu saja adalah kelaziman perhatian terhadap standar sejumlah institusi demokratis yang berkaitan dengan: (a) konstitusionalisme (kewarganegaraan, hukum dan hak); (b) kedaulatan rakyat (pemilu, representasi politik, serta daya-tanggap dan akuntabilitas tatapemerintahan publik); dan (c) partisipasi warga negara (melalui berbagai asosiasi, media, dunia akademis dan partisipasi langsung).
Namun, berbeda dengan kerangka penilaian lainnya, kita tidak hanya perlu untuk menilai institusi formal, tetapi juga institusi-institusi informal. Begitu pula, kita harus menambahkan penilaian tentang kinerja dengan menyertakan berbagai pertanyaan spesifi k mengenai sebaran geografi s (spread) dan cakupan substansial (substance) dari berbagai institusi itu (yaitu seberapa banyak urusan yang dicakup institusi demokratis dan seberapa banyak yang diprivatisasikan). Seraya melakukan penambahan beberapa hal itu, kerangka yang dikembangkan Demos ini menyandarkan diri pada kerangka IDEA yang telah lazim diterima dan memiliki daftar yang sangat panjang. Namun, inilah titik awal untuk melakukan revisi yang dibutuhkan dan penyederahanaan.
Lihat detilnya pada Boks 2.1.
Perangkat-perangkat itu valid secara universal. Secara teoretis, semuanya berakar dari upaya untuk menjawab pertanyaan mengenai perangkat-perangkat apa saja yang dibutuhkan untuk memajukan tujuan-tujuan demokrasi secara umum yang juga sama validnya.
Berbagai peraturan dan regulasi yang spesifi k tentu saja bervariasi sesuai konteks. Karena itu, hal yang paling utama adalah menilai sampai sejauh mana aturan-aturan dan regulasi formal dan informal itu dapat mendukung fondasi institusional demokrasi. Di luar dimensi-dimensi fundamental menyangkut identitas politik dan kewargaan, kita kemudian membangun indeks tentang kualitas institusi demokrasi.
Dari standar 100 poin indeks, pembobotan terhadap institusi formal dan institusi informal ditentukan 70 berbanding 30. Sementara terhadap kinerja, sebaran geografi s dan cakupan substansi diberi bobot masing-masing 50, 25 dan 25. Upaya untuk memberi bobot terhadap institusi intrinsik (yang biasanya dilakukan oleh banyak pakar) sengaja dihindari agar terdapat diskusi yang jernih di antara berbagai teori.
Boks 2.1. Institusi-institusi dasar demokrasi
Sampai seberapa jauh institusi-institusi dasar demokrasi ini efektif, tersebar luas, dan inklusif (mencakup persoalan-persoalan vital di tengah masyarakat)?
Aspek institusional demokrasi yang tidak digunakan untuk menghitung indeks demokrasi:
Masyarakat (demos): identifi kasi berbasis politik/kewarganegaraan, etnis atau keagamaan;
serta keterlibatan masyarakat dalam persoalan-persoalan publik.
Aspek-aspek institusional demokrasi yang digunakan untuk menghitung indeks demokrasi:
1. Kesetaraan warga negara
2. Dukungan terhadap hukum internasional menyangkut hak asasi manusia 3. Kepatuhan pejabat pemerintah dan pejabat publik terhadap hukum (rule of law) 4. Kesetaraan di hadapan hukum (Akses yang setara dan aman terhadap keadilan,
Integritas dan inpendensi lembaga peradilan) 5. Kebebasan dari kekerasan fi sik dan rasa takut atasnya 6. Kebebasan berbicara, berkumpul dan berorganisasi
7. Kebebasan mendirikan dan menjalankan kegiatan-jegiatan serikat pekerja
8. Kebebasan beragama dan berkeyakinan, menggunakan bahasa dan melestarikan kebudayaan
9. Kesetaraan dan emansipasi gender 10. Perlindungan terhadap hak-hak anak
11. Hak untuk mendapatkan pekerjaan, memperoleh jaminan sosial, dan kebutuhan dasar lainnya
12. Hak untuk mendapatkan pendidikan dasar, termasuk tentang hak-hak dan kewajiban warga negara
13. Tatakelola perusahaan yang baik (good corporate governance) 14. Pemilu yang bebas dan adil di tingkat pusat, regional, dan lokal
15. Kebebasan mendirikan partai di tingkal lokal dan nasional (termasuk peluang bagi para calon independen), merekrut anggota, dan berkampanye untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan
16. Kemampuan partai politik dan atau para kandidat untuk merefl eksikan isu-isu vital dan kepentingan publik
17. Pencegahan penyalahgunaan sentimen, simbol dan doktrin etnis dan agama oleh partai politik dan atau para kandidat
18. Independensi partai politik dan para kandidat dalam pemilu dari politik uang dan kepentingan yang terselubung
19. Partai berdasarkan kontrol anggota, respon dan tanggungjawab partai dan para kandidatnya kepada konstituen
20. Kemampuan partai dan para kandidat untuk membentuk dan menjalankan pemerintahan 21. Desentralisasi pemerintahan secara demokratis menyangkut segala hal tanpa campur
tangan pemerintah pusat
22. Transparansi dan akuntabilitas pemerintah hasil pemilihan dan birokrasi pada semua tingkatan
23. Transparansi dan pertanggungjawaban militer dan polisi terhadap pemerintah hasil pemilihan yang terpilih dan terhadap publik
24. Kapasitas pemerintah untuk memberantas kelompok-kelompok paramiliter, preman, dan kejahatan yang terorganisir
25. Independensi pemerintah dari pihak asing (kecuali berkenaan dengan konvensi PBB dan hukum internasional lainnya)
26. Independensi pemerintah dari kelompok kepentingan yang kuat dan adanya kapasitas untuk menghapuskan korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan
27. Kebebasan pers, dunia seni, dan dunia akademis
28. Akses publik terhadap berbagai pandangan dalam media, seni, dan dunia akademis, dan kemampuan media, seni, dan dunia akademis untuk merefl eksikannya
29. Partisipasi warga negara di dalam organisasi masyarakat yang independen
30. Transparansi, pertanggungjawaban dan praktek demokratis dalam organisasi-organisasi masyarakat
31. Akses dan partisipasi yang luas dari semua kelompok sosial – termasuk perempuan – terhadap kehidupan publik
32. Partisipasi langsung (Terbukanya akses masyarakat terhadap layanan publik, para pejabat dan wakil politik serta dalam pembuatan dan kebijakan publik
Hal yang kedua adalah perspektif yang dinamis menyangkut bagaimana aktor-aktor utama berhubungan dengan institusi yang lebih-kurang demokratis. Ada dua langkah penting di sini. Pertama adalah identifi kasi aktor-aktor utama. Tak semua aktor bisa disertakan dalam penilaian. Karena terjadi lokalisasi politik, yang diutamakan adalah aktor-aktor yang berada di tingkat provinsi. Yang diidentifi kasi adalah aktor-aktor yang berpengaruh kuat dan aktor-aktor alternatif.
Dalam kerangka penilaian yang alternatif, informan lokal diminta untuk mengidentifi kasi tiga aktor yang paling berpengaruh dan tiga aktor alternatif terpenting dalam konteksnya masing-masing. Tentu saja ada banyak persoalan dalam pengidentifi kasian aktor-aktor utama ini, tetapi persoalan terpentingnya justru terlatak pada identifi kasi dan kualitas informan. Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai hal ini nanti.
Langkah yang kedua adalah upaya untuk meneliti bagaimana aktor-aktor tersebut berhubungan dengan institusi demokratis. Apakah institusi-institusi demokratis yang ada dimanfaatkan oleh mereka? Sampai pada tingkat mana demokrasi dianggap menjadi ‘satu-satunya pilihan’
(the only game in town)? Atau lebih tepatnya – dengan memerhatikan masing-masing institusi: apakah para aktor memanfaatkan dan memajukan institusi itu? Atau apakah mereka hanya memanfaatkannya?
Atau mereka memanfaatkan dan menyalahgunakannya atau bahkan mengabaikannya? Semakin rendah respon terhadap pertanyaan itu berarti bahwa demokrasi tidaklah bermakna karena standar institusi menjadi terlalu rendah dan/atau kapasitas aktor untuk memanfaatkan dan memajukannya (kita akan kembali pada tema ini di bagian berikut) tidaklah memadai. Kondisi-kondisi negatif di luar masalah ini sengaja diabaikan, tetapi bukan karena tidak penting melainkan karena kita menggunakan asumsi tentang syarat-syarat minimum demokrasi.
Kerangka alternatif ini membantah argumentasi bahwa demokrasi mensyaratkan terpenuhinya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, kesetaraan, modernisasi, budaya demokrasi dan sebagainya.
Kerangka alternatif ini ‘hanya’ membutuhkan institusi-institusi demokrasi bermakna yang memadai sebagaimana terdaftar di atas dan kapasitas yang memadai dari para aktor untuk memanfaatkan dan memajukan berbagai institusi tersebut (hal ini akan kita diskusikan lebih mendetil pada bagian selanjutnya). Karena kondisi-kondisi ini telah ada, maka para aktor dapat memanfaatkan demokrasi yang sedang tumbuh ini untuk memajukan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya selain hal-hal lainnya. Sudah barang tentu, institusi peradilan yang mapan, modernisasi ekonomi dan kesetaraan ekonomi dan sosial menyumbang nilai yang tinggi terhadap indeks demokrasi. Akan tetapi jika hak-hak, kesetaraan, modernisasi dan budaya demokrasi dimasukkan sebagai kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk demokrasi, maka unsur-unsur tersebut harus diciptakan oleh perangkat-perangkat non-demokratis. Hal ini tidaklah dibutuhkan. Sudah terdapat bukti bahwa kondisi itu bisa dicapai melalui demokrasi yang berkembang secara terus-menerus. Demokrasi memiliki tingkatan-tingkatan; dan demokrasi adalah sebuah proses.
Karena itu, argumen bahwa ada kebutuhan untuk melakukan
‘pentahapan demokrasi’ (sequence democracy) dengan menyediakan institusi-institusi yang diperlukan terlebih dahulu sebelum menerapkan kedaulatan rakyat (e.g. Mansfi eld and Snyder, 2005) dan tesis lama yang dilansir Samuel Huntington (1965) bahwa institusi-institusi yang kuat harus ada untuk mencegah perlawanan rakyat terhadap modernisasi adalah gagasan yang terbantahkan. Sebagaimana diketahui, argumentasi yang terakhir itu digunakan untuk melegitimasi penghancuran gerakan rakyat pada tahun 1965/1966 dan lahir serta berdirinya rezim Orde Baru.
Bantahan yang sama berlaku untuk sejumlah tesis lainnya. Salah satunya adalah bahwa ada keharusan terlebih dahulu untuk mencapai pembangunan ekonomi hingga derajat tertentu; gagasan lainnya adalah pandangan dari kaum ekstrem kiri bahwa kesetaraan dan ketimpangan relasi kuasa harus diciptakan terlebih dahulu melalui cara-cara yang kurang-lebih bersifat revolusioner sebelum mencapai ‘demokrasi rakyat’. Memang benar bahwa nasib dari negara-negara yang mengalami gelombang ketiga demokrasi bergantung pada pembangunan institusi yang bersifat top-down dan kompromi di kalangan elit kadangkala terasa menyedihkan. Namun, karena memang cara-cara non-demokratis untuk memadaikan kondisi-kondisi struktural tidaklah dibutuhkan, maka persoalan yang sebenarnya sangat mendesak adalah politik demokratisasi yang spesifi k dan konkret macam apa yang dipilih oleh para aktor dan pendukungnya di luar negeri.
Jika pemikiran ini dapat diterima, kritik yang berkembang terhadap demokrasi liberal yang mengutamakan upaya menjiplak prosedur-prosedur demokrasi atas dasar kesepakatan-kesepakatan di antara para aktor dominan tidak sepenuhnya benar. Yang harus diperhatikan benar ‘hanyalah’ bahwa prioritas harus diletakkan pada pembangunan institusi-institusi yang dapat membuka kesempatan untuk memperbesar kapasitas masyarakat biasa agar dapat memajukan insititusi lainnya untuk mencapai kesetaraan politik dan menjalankan kontrol rakyat terhadap kekuasaan. Apabila kecenderungan utama saat ini lebih berpihak pada demokrasi liberal, maka sebenarnya hal ini mengarah kepada gagasan sosial-demokrasi.
Perangkat ketiga demokrasi adalah adanya kemampuan, bukan semata-mata kehendak, para aktor untuk memajukan infrastruktur kelembagaan. Sudah dengan sendirinya kerangka penilaian alternatif ini mempertimbangkan pula sejumlah faktor kunci yang berkaitan dengan kekuasaan, sumberdaya dan gerakan. Akan tetapi, hal ini hanya berhasil apabila faktor-faktor semacam itu dianggap penting agar dapat kapasitas rakyat untuk bertindak sebagai warganegara yang demokratis di dalam masyarakat sipil maupun masyarakat politik. Karena itu, kami mengombinasikan tiga pendekatan analisis: pertama berfokus pada institusi, kedua berkaitan dengan aktor, dan ketiga berhubungan dengan kekuasaan dalam aksi kolektif.
Menilai kapasitas politik aktor jelas jauh lebih rumit daripada melakukan penilaian terhadap institusi demokratis saja. Berbagai studi dan teori-teori terdahulu tentang kekuasaan politik, gerakan dan aktor-aktor lainnya menunjuk ada lima kelompok parameter. Hal ini sudah banyak dibahas secara detil (Törnquist, 2002; Harriss et.al., 2004;
Törnquist, 2008; Törnquist et.al., 2009). Variabel pertama melihat apakah
Törnquist, 2008; Törnquist et.al., 2009). Variabel pertama melihat apakah