SEJARAH AKORDION DAN KEBERADAANNYA DALAM MUSIK MELAYU
3.1 Sejarah Akordion
3.1.3 Beberapa Jenis Akordion
a. Akordion Tombol Kromatis (Chromatic Buttons Accordion)
Sebuah akordion tombol kromatis adalah jenis akordion yang berbentuk tombol dimana baris-baris tombol sebelah kanan tersebut diatur secara kromatis. Mereka terdiri dari tiga sampai lima (beberapa akordion Serbia memiliki 6) baris secara diagonal. Setiap baris dapat memainkan nada kromatis secara berturut-turut. Akordion jenis ini kebanyakan populer di Eropa dan di Rusia. Di Rusia, alat musik ini biasanya disebut “bayan”.
Gambar 3.2:
Akordion Tombol Kromatik
Sumber: www.wikipedia.com
b. Akordion Tombol Diatonis
Akordion ini adalah jenis akordion tombol dimana keyboard sebelah kana hanya memiliki nada-nada pada tangganada diatonic dan bass sebelah kiri biasanya berisi akord utama pada alat musik ini Akordion jenis ini hanya memiliki beberapa tombol dan biasanya tidak bisa dimainkan secara aksidental. Biasanya akordion ini hanya dapat dimainkan pada musik rakyat atau musik klasik yang tidak memiliki tehnik aksidental atau perubahan tanda kunci.
Gambar 3.3:
Akordion Tombol Diatonis
Sumber: www.wikipedia.com c. Akordion Piano
Tangan kanan pada akordion piano ini dimainkan sama dengan cara memainkan piano, yaitu dengan tehnik penjarian yang sama. Semua jari dapat dimainkan, termasuk ibu jari pada tuts akordion ini. Pada ukuran standard, jarak
keyboard dimulai dari nada “F” dibawah “C” tengah, sampai nada “A”ketiga diatas
Gambar 3.4: Akordion Piano
Sumber: www.wikipedia.com
Gambar 3.5:
Keyboard pada Akordion Piano
Sumber: www.wikipedia.com 3.2 Akordion Dalam Musik Melayu
Masyarakat Melayu mendiami wilayah kultural yang sangat luas dan bukan ditarik berdasar genealogis saja. Di antaranya berada di Sian Selatan, Malaysia Barat, Singapura, Brunei dan di Malaysia Timur, serta di Indonesia. Di Indonesia mereka
menjangkau wilayah sepanjang pesisir timur Sumatera dari Temiang (Aceh Timur), pesisir Sumatera Utara, Provinsi Riau, dan pesisir Jambi serta di Kalimantan Barat. Karena wilayahnya yang berada pada jalur lalu lintas ramai yaitu Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu, maka masyarakat Melayu paling banyak mendapat pengaruh bangsa-bangsa lain, seperti Cina, Siam, Arab, India Selatan, Persia, Portugis dan dari suku-suku yang bertetangga seperti Batak, Jawa dan lain-lain. Pengaruh bangsa-bangsa lain tersebut sangat mempengaruhi kesenian Melayu, seperti alat musik, lagu-lagu dan tarian Melayu.
Beberapa di antara masyarakat Melayu mengelompokkan musik Melayu ke dalam 3 bagian, seperti musik asli, musik tradisional, dan musik modern. Musik modern merupakan musik yang menggunakan alat-alat musik Barat meskipun dimainkan dengan lagu Melayu asli dan begitu juga dengan tari yang mengiringinya.
Budaya Melayu telah banyak mengalami perubahan melalui proses akulturasi dan aimilasi dengan peradaban Hindu, Islam, dan Barat. Terutama setelah datangnya pengaruh Barat, kebudayaan Melayu dengan pesatnya di Istana mulai lemah. Sedangkan budaya dari kalangan rakyat biasa berbeda dengan peradaban di Istana (kraton), namun peradaban Istana mempunyai hubungan dengan budaya populer yang berkembang di kalangan rakyat, keduanya saling mempengaruhi terutama di pertemuan di Bandar-bandar. Orang Melayu tidak menerima unsur dari luar secara keseluruhan, tetapi disesuaikan dengan kehendak masyarakat setempat.
Budaya Barat masuk ke dalam kehidupan etnik Melayu sejak Portugis menaklukkan Melaka tahun 1511. Sejak saat itu, masyarakat Melayu mengadopsi
berbagai unsur kebudayaan Barat, seperti alat musik akordion, saksofon, drum trup set, gitar akustik, ukulele, dan alat musik elektronik (keyboard, piano elektrik, gitar elektrik, biola elektrik dan lainnya). Budamenuntut ilmu dari ya Barat pada saat ini menjadi begitu kuat pengaruhnya di seluruh dunia, terutama di bidang sains dan teknologi. Oleh sebab itu oleh masyarakat rumpun Melayu menuntut ilmu dan teknologi dari budaya Barat menjadi tantangan tersendiri untuk memajukan budayanya (Goldsworthy 1979).
Musik Melayu juga dapat digolongkan sebagai musik akulturasi. Koentjaraningrat menyatakan bahwa akulturasi merupakan proses sosial yang timbul bila suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Penyesuaian diri budaya asing yang dikawinkan dengan unsur budaya lokal ini akan membentuk pembauran budaya dan diterima oleh masyarakat pendukungnya secara tidak sadar menjadi musik tradisi budaya setempat (Ben Ambo 2009). Kenyataan ini dapat dilihat pada pemakaian instrumen musik Barat yang terdapat pada musik Melayu. Kehadiran biola, akordion, gitar, merupakan produk instrumen budaya asing yang berbaur dengan kesenian Melayu. Pembauran lain dapat juga dilihat dari pemakaian tangga nada pada lagu Melayu dengan menggunakan sistem tangga nada diatonic yang merupakan produk budaya Barat.
Kehadiran alat musik Barat selalu kita temukan dalam pertunjukan musik Melayu. Alat musik yang paling umum digunakan, yaitu biola, dan keyboard.
Sedangkan akordion tidak selalu ada karena pemain akordion tidak begitu banyak dan juga karena alas an ekonomi, tetapi bunyinya digantikan oleh alat musik keyboard. Grup musik yang memiliki pemain akordion biasanya lebih mahal dan dipakai untuk acara kalangan menengah keatas.
Akordion dan biola bukan merupakan alat musik melodis pertama yang tersebar pada kebudayaan Melayu. Sebelum adanya akordion, masyarakat Melayu menggunakan harmonium yang merupakan alat musik India. Tehnik permainan harmonium yang cukup rumit dan mengharuskan pemain duduk, membuat pemusik Melayu lebih memilih akordion. Hal tersebut dikarenakan akordion lebih sederhana dan mudah dibawa karena akordion dapat dimainkan dengan posisi berdiri atau sambil berjalan. Oleh sebab itu, sampai saat ini akordion lebih sering ditemui dalam pertunjukan musik Melayu dibandingkan dengan alat musik harmonium. Bahkan harmonium hampir tidak pernah dipakai dalam musik Melayu.